[Write Your Mythology] Fox And The Lonely Wolf

fatlw

Fox And The Lonely Wolf

Storyline by Joongie © 2017

Johnny Seo X Grey Lee || Myth, Medical || PG – 17 || Werewolf

Vignette (2000 words)

Aku penasaran soal lelaki serigala itu. Seandainya sempat kutatap matanya, ingin sekali kubisikkan, “Jadilah milikku dan milikilah aku, Mr. Werewolf….”

Kisahku bermula ketika aku berhasrat abadi bersamanya….

.

21 Juni 1923

Caesar Handerson meninggal minggu lalu, karena penyakit tuberkulosis. Grey menyaksikan jenazahnya disemayamkan di pekuburan belakang gereja sambil mencengkeram saputangan rendanya erat-erat. Pendeta berkata, Caesar telah tenang dalam keabadian surga, kemudian dengan vokal timbrenya mengundang semua untuk menundukkan kepala dan melantunkan doa.

Setelahnya, tanah disekop menimbun peti jenazah Caesar yang malang. Mrs. Handerson mulai tersedu-sedu, meratapi nasib putranya yang meninggal muda. Desas-desus berembus, bahwasanya dada Caesar berlubang dan jantungnya hilang. Ulah manusia serigala, praduga orang-orang. Namun, Mr. Handerson dan istrinya tidak mengizinkan siapa pun menyibak peti mati anaknya.

“Nyonya, saya turut berduka dan menyesal untuk Caesar.” Grey melirik pusara Caesar yang ditutupi bertangkai-tangkai seruni, lalu mengusap lengan Mrs. Handerson.

“Tidak apa-apa, Nona. Kami tahu kau sudah berupaya sebagai dokter,” sahut Mr. Handerson mewakili istrinya yang terguncang.

“Seandainya kita punya transportasi yang memadai untuk mentransfer Caesar ke kota, mungkin lain ceritanya. Klinik kita cuma punya obat-obatan yang payah,” kata Grey, menusuk dirinya sendiri sebagai satu-satunya dokter di desa terpencil itu.

Grey pun tahu, bila tuberkulosis bukan pembunuh Caesar. Putra mandor itu memang mengidap tuberkulosis, namun belum terjadi infeksi aktif. Grey tersenyum kecut, menyusupkan tangan mungilnya ke saku mantel sewaktu pelayat bergunjing soal serigala.

“Ini pasti ulahnya. Harusnya sejak dulu kita bunuh saja serigala jadi-jadian yang tinggal di gua dalam gunung itu! Lihat kan, sekarang korban jadi berjatuhan.”

Percakapan dua wanita berumur itu bagai mengorek memori Grey. Sewaktu ia menjelajahi hutan di timur gunung—area yang disebut-sebut angker. Dikatakan bila wilayah itu mutlak milik sang Serigala. Kala itu Grey kehabisan analgesik, sedangkan Bibi Arabella yang punya riwayat hipertensi membutuhkannya setelah terjatuh saat menggembala.

Maka Grey berburu pakis lady fern yang juga punya efek diuretik. Bisa dipergunakan untuk meredakan nyeri sekaligus jadi terapi hipertensi Bibi Arabella. Namun ketika Grey memenuhi keranjang dengan relung pakis, ia mendengar langkah kaki, pelan dan stabil bergerak ke arahnya.

Grey bersembunyi di balik batu, mengintip gerangan pemilik bayangan samar itu. Sweter lusuh berlobang di sana-sini. Kaki bertelanjang. Rambut terurai kusut. Dan yang paling menakjubkan, lengan berbulu dengan kuku-kuku meruncing. Tetapi, sensasi kuriositas malah merayap buas di jangat Grey, sebuas makhluk yang dibuntutinya.

Darah menitik-nitik dari bopongannya, bau anyir menguar kencang. Rusa cilik tak berdaya itu meringkuk, pasrah jikalau ajalnya sampai. Jantung Grey mengentak-entak, langkahnya hati-hati lantaran sangat ingin menyaksikan aksi mangsa-memangsa. Sudah pastilah yang dibuntutinya adalah manusia serigala yang digunjingkan penduduk. Grey penasaran tentang kuku-kuku yang akan mengoyak perut rusa dalam sekali tancap atau bagaimana dia mengunyah leher rusa sampai meledakkan darah.

Dia berhenti, membaringkan rusa di batu berlumut dengan membelakangi pandangan Grey. Adrenalin Grey menggelegak, matanya terbeliak lantaran pekikan pedih rusa terdengar, kakinya terjulur kejang. Dan… prasangka Grey dijungkirbalikkan, rusa itu tetap hidup! Alih-alih menyantap, laki-laki itu berjongkok, melekatkan ramuan herba pada luka ranjau si rusa dengan kelembutan.

“Tabib Serigala?” gumam Grey, lekas berderap ke kamarnya, mengeluarkan jurnal kumal dari nakas—milik si lelaki yang dijatuhkannya ketika menyadari keberadaan Grey. “Di sini tertulis, Johnny Seo. Namanya, kah?”

.

70% dirinya didominasi keingintahuan besar.

—000—

Berbekal tekad serta ransel rajut, Grey bergegas memasuki hutan ketika Arabella Heinz tiba-tiba menyambarnya. “Mau ke mana, Grey?” tanyanya sambil memeluk kaleng susu, dari balik badan berisinya menyembul Luciasi mungil bergigi ompong.

Grey tersenyum kikuk, melepas keterkejutannya dan menjawab, “Memetik beberapa herba di hutan. Paman Jim, gastritisnya kambuh dan antasida di klinik tidak mempan.”

Dear, apa tidak bisa ditunda?” Arabella beralih menggenggam tangan Grey, rautnya mendadak tidak tenang. “Maksudku, malam ini purnama dan manusia serigala itu akan mencari mangsa. Tinggallah di rumah dan kunci pintu rapat-rapat. Hutan tidaklah aman.”

“Aku khawatir Paman Jim bisa sesak napas kalau asam lambungnya sampai naik. Aku janji akan segera pulang, Bi.” Grey bersikeras, meloloskan jemarinya yang disambut kecemasan Arabella.

“Ini, bawalah.” Arabella menyerah, mengalungkan salib pada Grey lantas menepuk-nepuk pipi kemerahannya. “Tuhan akan melindungimu, Dear.”

Grey meninggalkan peternakan keluarga Heinz, menyusuri jalan setapak curam terkepung belantara. Suara cicitan tupai serta patukan burung sesekali terdengar dan pepohonan hijau menciptakan kanopi raksasa di atas kepala. Rimba lembap itu berbau lempung, lebih-lebih setelah rinai turun. Ia terus bergerak menuju timur, menginjak dedaunan busuk dengan pretensi berapi-api.

Grey mengamati gua kelam di hadapannya sambil menstabilkan napas. Persetan soal cerita yang dikarang warga, Grey malah terkagum-kagum sewaktu mendekat dan menemukan serabut akar yang menggantung di stalaktit bak tirai. Ini sarang yang indah, senandikanya seraya menerobos masuk dan mendadak berfirasat ia tidak sendirian.

Grrrr….

Suaranya menggeram waspada dan sepasang mata birunya menyala-nyala di kegelapan. Lalu Grey melihat sesosok siluet dan berupaya merapat, namun dia gesit menarik diri. Grey menyalakan pemantik, menyaksikan Johnny terpojok di sudut gua. Wuussh! Johnny menyentak Grey, lenyap ketika api padam.

“Sial!” Grey lekas menyusul kepergiannya, kemudian mendengar bunyi wus-wus dari kaki yang berderap cepat mempermainkannya. Ia berbalik, tidak ada siapa-siapa.

Johnny kembali muncul, melesat cepat dari balik pohon dedalu menuju puncak tebing. Grey mengikutinya menaiki bukit berbatu, beberapa kali tergelincir sampai terengah-engah. “Aku terlalu tua untuk main kejar-kejaran begini,” gerutunya.

“Johnny!” Sewaktu Johnny akan melompati tebing dengan kepasrahan Grey mengimbau. Lelaki itu membeku, berbalik sambil membeliakkan mata. Ekspresinya menggambarkan pertanyaan bagaimana-kau-bisa-mengetahuinya.

Grey mengulum senyum menyoroti Johnny. Karismanya memikat dan misterius. Perawakannya luwes juga berotot, kulitnya pucat dan taringnya mencuat tajam. Matanya sebiru alexandrite, jernih juga berkilau. Grey mendekat, tapi mendadak meringis karena luka di betisnya berdenyut.

“Pergi!” Johnny menggeram, lubang hidungnya kembang kempismabuk oleh aroma darah. Tetapi Grey bersibodoh, ia nekat walau refleksi serigala terus muncul di wajah Johnny. “Kuperingatkan kau, Nona!”

“Tidak usah berlagak buas. Aku tahu kau manusiawi,” timpa Grey santai, mengeluarkan kasa beralkohol dari ranselnya dan menempelkannya di betis guna meredam bau darah. “Aku melihatmu mengobati rusa yang terjerat ranjau. Aku juga tahu kalau kau cuma berburu waktu purnama saja, karena pada saat-saat itu kau akan haus darah.”

Johnny bergeming, mengawasi lewat mata bundarnya. Greysi lancangkesusahan mengikat ujung perban. Johnny gemas. Ia beringsut ingin meraih perban, namun urung karena anyir darah membuat liurnya menetes. Naluri memangsanya meledak-ledak, ia laparbukan, haus darah tepatnya.

Darah… darah… DARAH!

Mata Johnny berubah merah, menyalak ganas. Ia menerkam Grey sampai terjungkal di bawah kuasanya. Membayangkan legit daging perawan membasahi mulut Johnny. Tidak, isyarat Grey kala mengusap pipinya nan berselubung bulu dan gelenyar ganjil merasukinya. Sentuhan yang sedingin dan sehalus salju itu menghipnotisnya.

“Kalau kau memangsaku, siapa lagi yang akan jadi temanmu?”

“Te… man?” Iris Johnny melebar sejinak kucing.

“Tidak mau berteman denganku?” ulang Grey, lancang menjabat tangan Johnny dalam kealpaannya. “Kalau mau, aturannya teman tidak boleh makan teman. Setuju?”

Johnny bangkit, menjauh dengan tatapan yang berbedapedih dalam kebiruan maniknya. “Harusnya kau takut, atau setidaknya jijik padaku,” ungkapnya tersekat.

“Aku tidak punya alasan merasa takut,” tekan Grey, menyodorkan jurnal dari ransel. “Sajak-sajak kesepian di dalamnya, serta seluruh pengetahuan yang kau tulis membuatku seakan bisa memahamimu. Kau butuh teman.”

“Kembalilah ke desa,” kilah Johnny, menyambar jurnalnya lantas berlalu.

“Pergi tanpa berterima kasih itu tidak sopan. Kurasa kau diajarkan saat jadi manusia, kan?” Langkah Johnny menggantung, ia menengok kepada Grey yang tersenyum cerdik.

“Apa maumu?”

“Sepertinya kau tahu banyak soal tanaman obat di hutan ini. Di kantongmu itu racikan herba, kan?” Grey menunjuk buntalan goni di pinggang Johnny.

“Kau menginginkannya?”

Grey menggeleng. “Bantu aku mencari herba untuk pasien-pasienku di desa. Bisa, kan? Aku terlalu malas menyibak belukar,” akunya berterus terang.

.

Gigih dan menggetarkan, mutlak tercermin darinya.

—000—

Grey mengamati Johnny mengorek-ngorek akar goldenseal dengan kuku-kukunya yang hitam, sementara tangannya menggenggam licorice untuk Jim. “Kau bukan siluman serigala murni, kan?” cetusnya memecah senyap.

“Menurutmu?”

“Kau bisa berkomunikasi dengan manusia dan bertampang cendekiawan. Kurasa tebakanku benar.” Grey tersenyum mafhum, memilah akar yang diberikan Johnny. “Apa kau dulunya dokter? Atau alkemis?”

“Tinggal ginseng Siberia dan ginkgo biloba saja, kan?” Johnny tak mengindahkan keingintahuan Grey, ia beranjak lantas menyibak semakjalur rahasiamenuju ladang herba kepunyaannya.

Grey terkesima, apotek hidup itu lebih mirip taman romantis di samping air terjun. “Semua ini kau yang tanam?” Matanya berkilau-kilau memandang Johnny.

“Ya,” sahutnya seraya mengorek gingseng.

“Kutanya lagi, apa dulunya kau orang medis?”

“Aku mahasiswa kedokteran.”

“Lalu bagaimana kau bisa berakhir begini?”

Johnny terpaku, memandang intens iris kelabu Grey. “Tragedi saat kami melakukan ekspedisi di hutan ini dan bersesumbar soal serigala. Siluman serigala yang berang muncul, meluluhlantakkan tenda kami dan sialnya….”

“Lanjutkan,” pinta Grey, mengikuti Johnny duduk di pohon tumbang.

“Aku tertangkap. Saat itu kupikir akan mati,” ucapnya, mengenang sakit hebat di bahunya. “Dia tidak memangsaku, melainkan mengubahku jadi Lycan. Mengutukku dalam kehidupan soliter yang menyedihkan. Bahkan rekanku sengaja menganggapku tewas setelah tahu keadaanku.”

“Kau pasti sangat kesepian, sekarang kau punya aku… Johnny.” Grey simpatik, mengusap wajah Johnny nan tertekuk murung.

“Kenapa kau tidak takut padaku?” tanya Johnny, vokal maskulinnya bergetar.

Grey mengulas senyum. “Karena aku melihat masa depan di matamu.”

Napas Johnny tertahan, ia baru akan bereaksi ketika jeritan terdengar melengking. Grey bangkit mendengar suara yang jelas-jelas milik Lucia, berpencaran sampai akhirnya menemukan bocah itu terjerembap di bebatuan sungai. Lucia pastilah diam-diam membuntutinya.

“Astaga, Lucia Heinz!” serunya panik, bergegas menghampiri Lucia serta memeriksa kondisinya. Gadis kecil itu meraung, terpicing sambil meremas kakinya yang tertekuk.

“Sepertinya dislokasi,” kata Johnny ikut berjongkok meraba lutut Lucia. “Lakukan imobilisasi dulu, aku akan cari sesuatu untuk menyangga sendinya.”

Grey mengikuti instruksi lantas membaringkan Lucia di batu besar, ketika Johnny kembali secepat ia pergi. Diapitnya lutut mungil Lucia dengan potongan kayu, lalu mengikatnya kencang dengan serabut akar. Tetapi melihat Lucia meringkuk ketakutan akan perwujudannya yang serupa monster, Johnny mundur.

“Tidak apa-apa, kau melakukannya dengan baik,” bujuk Grey, meraih tangan Johnny yang berbululantaran malam semakin dekat, perubahan kian kentara.

Johnny berpaling. “Kembalilah ke desa. Sebentar lagi purnama muncul dan aku mungkin tidak bisa mengendalikan diri,” tegasnya, berlari meninggalkan Grey sebelum benar-benar jadi binatang.

Grey memandang kepergian Johnny dengan kecewa, kemudian membopong Lucia meninggalkan hutan. Badar menyingsing dalam kegelitaan malam, lolongan menggema mencekam rimba. Udara dingin menggigit dan angin berembus tak bersahabat. Dalam perjalanannya Grey mendengar suara putus asa Arabella mengimbau Lucia dan sekelebat cahaya oranye menyeruak dari kejauhan.

Itu sekelompok warga dengan obor menyala dalam genggaman mereka.

“Ya Tuhan, Lucia! Grey!” seru Arabella, berlari mendekap keduanya sambil tersedu-sedu. “Syukurlah… kalian selamat. Kupikir kalian

“Dimangsa serigala?” Grey menatap berkeliling, butuh jawaban. Sebelum seseorang menjelaskan, bunyi letusan senjata api disusul auman kesakitan menggidikkan pundaknya.

Jhonny….

Grey kontan berlari menuju asal suara dan menemukan Johnny tertembak peluru perak dalam wujud serigala. Kulitnya kasar diselubungi bulu lebat. Telinganya jadi lancip seperti anjing dengan gelambir yang menggantung di lehernya. Dan di sekelilingnya sekumpulan pria dewasa bersiap dengan senapan.

DOR!

“HENTIKAN!” pekik Grey. Di depan matanya Johnny terkapar, sekarat bersimbah darah. Ia berlutut merengkuh Johnny, menangis sewaktu matanya yang bersinar terang menyorot lemah.

“Apa yang kaulakukan? Untuk apa melindungi monster!” sergah Mr. Heinz, berupaya menarik bahu Grey agar menjauh, namun Grey menepis hingga dirinya terpental ke pepohonan. Itu bukan tenaga manusia.

Grey bangkit, tubuhnya dipendari cahaya sewaktu kesembilan ekornya merekah. Dalam sekali kibasan, angin berembus kencang meriuhkan hutan dengan bunyi pepohonan patah-mematah. Keduanya seketika lenyap tertelan api biru.

.

Dia yang mampu menyelamatkanku.

 

—000—

“Kau siluman rubah?” Johnny memandang kesembilan ekor Grey yang mengembang serupa kipas. “Bagaimana bisa….”

Greydalam wujud rubahbersimpuh di sisi serigala rapuh. “Kupikir akan memberitahumu bila saatnya tepat. Aku putri Gumiho dan berhutang maaf padamu atas segala tuduhan penduduk. Akulah yang memangsa jantung para pemuda.”

“Kau….”

“Dengar Johnny, aku akan menyerahkan manik kehidupanku asal kau menjadikanku pengantinmu. Sudah takdir seorang Gumiho membutuhkan cinta sejati, ketimbang menikahi manusia… aku lebih tertarik padamu. Serigala yang seumur hidupnya hanya mencintai satu betina dan bisa abadi bersamaku,” terangnya, kembali ke wujud manusia.

Johnny memandang Grey. Begitu dalam. Menelusuri parasnya dengan jemari. Sesaat, suasana menjadi sunyi sebelum Johnny menyetujui dengan melirih, “Lagi pula kalau mati… aku tak tahu, surga ataukah neraka yang pantas untukku….”

Grey tersenyum, wajahnya seteduh rembulansesuatu yang baru disadari Johnny. Ia mengangkat kepala Johnny, lalu mengecupnya. Ketika bibir mereka bersentuhan, kesembilan ekor Grey merekah dan kekuatan manik kebiruannya berpindah ke tubuh Johnny. Menyentaknya selayang, lalu menghapuskan luka-luka di awaknya manakala gelombang jiwa mereka menjadi selaras dalam percikan biru kemerahan.

“Kita akan mulai kehidupan yang baru….”

.

Sekarang, di kehidupan modern ini, kami berbaur bersama kalian. Menjadi apa pun yang mungkin tidak pernah kalian bayangkan. Kami tetaplah ada. — Johnny Seo.

 

Fin

Advertisements

14 thoughts on “[Write Your Mythology] Fox And The Lonely Wolf

  1. KAK IKEEEeeewww … Jadian nyok?/ eh/ miapah… Amel kayak lg baca cerpen terjemahan. Karakternya cocok banget sama bang ojon. Ada diksi yg aku gak tahu artinya sih #otw cari kbbi. Tp itu krn ilmu amel masih cetek. Itu diksinya tak begal ya kak, kebelet pengin make yg kayak gitu juga. Dan itu grey bilang ‘karena aku melihat masa depan di matamu” . kak ikke bisa aja nih gombalannya. Kirain si grey kurang sesetrip, kurang kerjaan malah ngegombalin serigala jadi2an. Tahunya mbak grey siluman. Pokoknya selamat buat kak ikke yg juara satu. Ntar kalo dvdnya udah gak kepake. amel siap menampung. 😂 bye kak ikke.. 😊

    Liked by 1 person

    • Tapi ku maunya jadian ama Gong Yoo /plak/
      Hihi thank you dear, sebenarnya dibandingkan tulisanmu punyaku ini sangat sederhana ga menggebu-gebu dan penuh feel kek kamu, hukss aku iri sumpah :’c
      Hahahaha aku colong swetermu dulu ya xD

      Liked by 1 person

  2. Kaaaak Ikkee! I’m so in lovee with Johnny /salah/ with this story!!! Selamat menjadi bagian dari NCTFFI wkwk, sebagai sesama Johnny eaters kok ber merasa bangga ini XD
    Aku suka sama nama-nama karakter sama latar luarnya kak, seneng aja bacanya dan yup tentunya bikin penasaran terus! Rasanya kok ya pengen juga nemenin Johnny di gunung yang bikin perkebunan herbal hahaha so epic sekale! Keep writing! Semoga betah ya tinggal di NCTFFI! ^^

    Liked by 1 person

  3. Huwaaaaa
    Knp ff ini muncul ketika aku mulai ngebias Johnny kan semakin susah balik ke fandom asal ;-;
    Anyway, karakterisasi Johnny dan grey, termasuk latar belakang mereka, juga plot twist di blkg itu gila banget, kereeeen! Johnny memang cocok utk peran kyk gini XD dan yg paling penting vocabnya dong, kaya sekaliiii huwaaa banyak vocab baru yg kudpt di sini!
    Keep writing yaaa!

    Liked by 1 person

  4. woaahh gilaak keren banget idenya. tema medis bikin aku tambah kesemsem! beruntung banget johnny dapet karakter kek gini… dan entah kenapa aku malah keinget song joongki di bagian dy berpakaian lusuh (korban pilm)

    udah deh speechless baca ini… diksinya juga kaya… pembawaannya aku syuukaa! huwee kenapa ini fiksi cantik sekaliiii :-* keep writing yaa ditunggu fiksi medisnya lagi! ^^

    Like

  5. Omo Kak Ikke maaf aku baru sempet komen sekarang! Waktu itu aku yang ngejuriin naskah Kak Ikke and tbh I was sooo speechless bcs this one is pure gold! First, judulnya udah menarik. Aku suka both characters (Johnny dan Grey), aku juga suka plot dan keseluruhan ceritanya. Endingnya juga nendang dan omo I fall in love with your writing style, Kak! Anyway, (again) welcome to NCTFFI dan ditunggu karya-karya Kak Ikke selanjutnya ❤

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s