[Write Your Mythology] For Life

8310

For Life

© LDS, 2016

NCT Mark & EXO Xiumin

Myth, Sci-fi, Friendship, AU, Vignette, Teen and Up

prompt: Fairy

.

Sejak 2011, peri salju telah muncul beberapa kali di langit Seoul menjelang pergantian tahun. Sebagian besar hal tentang mereka masih misteri, tetapi satu yang pasti: mereka menyukai kembang api. Karenanya, banyak orang berusaha menarik para peri dengan berlomba-lomba menyalakan kembang api terindah di malam tahun baru.

***

Dari kejauhan, enam anak yang melayang-layang dalam pakaian putih longgar itu tampak menyerupai peri musim dingin. Orang awam boleh menerjemahkan demikian. Tak banyak yang tahu komponen mikroskopis kompleks penyusun ‘kawan-kawan kecil Sinterklas’ ini—barangkali memang lebih baik dirahasiakan dari publik.

Setelah makan malam, sekelompok neoculture langsung keluar lewat jendela, tak mau repot-repot menggapai pintu sebab mereka bisa terbang ke cabang-cabang pohon sakura gundul di samping laboratorium, bersiap untuk menikmati pesta kembang api menjelang tahun baru. Yang termuda melayang paling akhir sambil membawa semangkuk berondong jagung, masih meletup-letup dalam wadah. Tangan si bungsu membara, memancarkan energi hasil reaksi sel-sel spesialnya yang disebut elektrosel, mematangkan berondong jagung dalam mangkuk. Parahnya, begitu sampai di puncak, para neoculture yang lebih tua lebih dulu menyikat penganannya. Si bungsu kontan cemberut, tetapi salah seorang kakaknya berbaik hati menyuapinya beberapa butir berondong jagung rasa karamel dan senyumnya merekah lagi.

“Coba Kak Mark ada di sini ….”

“Iya, para peneliti kan sudah memanen jaringan unipoten yang ditanam padanya minggu lalu. Apa tubuhnya akan digunakan untuk kultur stem cell lagi?”

“Mungkin, soalnya dia dibawa ke laboratorium tengah yang ada fasilitas diferensiasinya. Biasanya setelah sel dibiakkan satu-dua minggu, para peneliti akan mengubah sel-sel totipoten itu jadi unipoten.”

“Terserah, deh. Aku kangen Kak Mark ….”

Aku juga kangen kau, Jaemin.

Orang yang dibicarakan para neoculture menjawab tanpa suara dari satu sudut tersembunyi di halaman laboratorium. Tangannya mengepal, memendam keinginan untuk bangkit dari kursi rodanya dan terbang menuju adik-adiknya. Dia dilarang banyak bergerak atau bagian tubuhnya akan rontok layaknya remah kue Natal, maka meski batinnya menjerit, sang neoculture usang hanya bisa mengusap sekali lagi darah yang memerahkan kulitnya. Apoptosis membuat kulitnya banyak bercelah, terus melebar dan mengucurkan cairan kental berbau besi, hasil akhirnya nanti adalah sejumlah besar massa protein sisa tanpa wujud.

Singkatnya, Mark kini tengah menghabiskan waktu sebelum jadi gumpalan darah-lendir yang akan dibuang di tempat sampah khusus biohazard.

Neoculture yang sebentar lagi mati mestinya tinggal dalam ruang isolasi supaya tubuhnya tidak terkontaminasi, sehingga jika sel tubuhnya telah tamat semua, yang tersisa hanya debris protein steril, bukan nanah. Akan tetapi, Mark bersikeras pada para peneliti untuk membawanya ke halaman, menikmati tahun barunya yang terakhir bersama kawan-kawannya biar tidak benar-benar dekat mereka. Entah atas pertimbangan apa, Profesor Xiumin yang mengurus Mark dari kecil memberinya izin keluar, bahkan bersedia mendorong kursi roda Mark ke halaman.

“Mereka pasti akan bikin heboh lagi di koran.”

“Lalu?” tanya Mark cuek. “Hei, kasa kering lagi, dong.”

Xiumin menyemprot tangannya dengan antiseptik sebelum memasang kasa untuk menampung darah dari luka Mark.

“Irene sih, mengapa membuat tradisi menonton kembang api tahun baru segala? Kalian bisa terekspos ke khalayak kalau terus begini.”

“Ini bukan salah Kak Irene, tetapi salah kalian!” hardik Mark. “Keluar beberapa jam saja tidak sebanding dengan 365 hari kami terkurung dalam laboratorium!”

Sempat terbelalak lantaran tidak menyangka Mark akan membentak, Xiumin kembali menatap nanar media kultur selnya yang akan kedaluwarsa itu. Mark sedang rentan, jiwanya gampang terguncang, yang mana dimaklumi sang profesor sebab ia tahu apa pemicunya.

“Kau takut mati.”

Sebagaimana kebanyakan laki-laki, Mark benci mengakui kelemahannya. Rekam jejaknya sebagai neoculture berprestasi—ia termasuk media tanam yang sering dipakai membiakkan beragam jaringan unipoten dan paling tahan terhadap reaksi elektrosel—menyebabkan gengsinya makin besar, apalagi sekarang, ia menjadi kakak tertua di asrama neoculture. Adik-adiknya selalu menganggapnya kakak yang bertanggung jawab, lucu, dan gampang dikerjai, maka menunjukkan sisi-sisi negatif akan menghancurkan ekspektasi mereka.

Omong-omong, panutan Mark untuk menjadi kakak adalah seorang neoculture juga, bernama Taeyong, yang suatu hari dipanggil ke laboratorium tengah dan belum kembali lagi selama bertahun-tahun. Kemungkinan besar apa yang Taeyong alami adalah apa yang Mark alami kini. Mark ingat dulu punya banyak kakak, tetapi semuanya juga menghilang seperti Taeyong. Bahkan Irene—yang hanya pernah Mark dengar namanya—bisa jadi lenyap dengan cara yang sama.

Sialan.

“Siapa yang senang saat mendadak diberitahu akan mati tanpa ada tanda maupun peringatan sebelumnya? Kalian tidak bilang sel-sel tubuh kami diprogram untuk apoptosis di usia tujuh belas!”

“Di atas usia tujuh belas, tubuh kalian tidak akan kondusif lagi untuk pertumbuhan stem cell dan sisa-sisa energi elektrosel akan menggerogoti kalian, jadi untuk apa melanjutkan hidup? Setelah kami mengatakan itu, kalian jelas akan mencoba kabur, padahal di luar sana, tidak ada kehidupan untuk kalian.”

“Persetan! Itu lebih baik daripada tidak dimanusiakan olehmu di sini!” Api amarah di mata Mark yang biasanya jernih entah bagaimana mengagumkan Xiumin. “Andai tidak dijadikan media tanam sel modifikasi, aku pasti masih bisa meraih apa yang seharusnya diraih anak-anak seusiaku, menikmati hidup seperti mereka yang normal! Kak Irene dan Kak Taeyong pasti bisa bertemu Haechan, Jaemin, dan yang lainnya! Andai saja … Andai saja ….”

Andai Mark masih bisa terbang ke dahan dan berkumpul dengan kawan-kawan perinya, andai ia masih bisa memainkan gitar dan bernyanyi seperti biasa, andai mereka dipisahkan dalam keadaan siap berpisah ….

Selanjutnya, Mark menunduk. Isaknya samar, mati-matian ia berusaha meredam. Bersama itu, gumpal-gumpal kasa yang menutup lukanya tidak mampu menahan semburan darah, sehingga cairan anyir itu muncrat ke mana-mana, membasahi ubin dan kursi roda. Tubuh Mark makin cepat hancur karena tersentak-sentak selama menangis, tetapi Xiumin tidak melakukan apa-apa. Irene dan Taeyong dulu begitu juga, kok.

Selama sepuluh menit, Mark membiarkan emosi menyiramnya sampai basah kuyup. Ia tidak akan bertemu teman-temannya lagi. Xiumin tidak sanggup menyembuhkan lukanya, yang di luar ataupun yang di dalam, mungkin juga tidak ambil pusing akan penderitaannya. Membayangkan kakak-kakaknya yang mati perlahan dalam keadaan sendirian meremukkan kalbu Mark lebih dan lebih lagi. Air matanya tumpah bersama darah, deras menguras tenaga hingga ia terkulai, tersengal-sengal di atas kursi roda. Barulah Mark menyadari perubahan pada beberapa bagian tubuhnya.

Satu mata Mark tidak lagi berfungsi. Salah satu lengannya putus akibat kehilangan jaringan penahan, sementara lengan yang masih menempel mulai kebas. Mark tidak merasakan perutnya hingga ke bawah. Ia tidak bisa menunduk pula karena lehernya kaku, beku.

Ini saatnya. Xiumin memungut tangan Mark yang putus, meletakkannya di pangkuan si bocah malang, dan bersiap mendorong Mark balik ke ruang isolasi ketika didengarnya rintihan Mark, diikuti sebuah gumaman.

“Hidup …. Aku mau hidup ….”

“Kau tidak bisa. Tingkat apoptosis di tubuhmu hampir maksimal dan itu irreversibel.”

Apa? Apoptosis? Irreversibel? Sulit sekali Mark memahami kata-kata itu. Orang di depannya ini suka menggunakan istilah aneh—hah? Orang di depannya ini memangnya siapa? Taeyong bukan, ya? Yang dulu pernah membacakannya kisah peri?

Peri …

“… bisa hidup kalau orang-orang percaya pada mereka.”

Xiumin menaikkan alis. Mark tersenyum tipis, lama-lama tertawa macam orang sinting.

“Aku bisa hidup. Aku percaya peri. Aku peri, jadi aku bisa hidup! AKU BISA HIDUP!”

Tapi buat Xiumin, eksklamasi ini tidak berarti apa pun selain deplesi neurotransmiter di beberapa sinapsis neuron lobus frontal. Mudahnya, sindroma sekarat.

Bodohnya Xiumin adalah dia lupa bahwa bocah yang diserang sindroma sekarat ini neoculture dengan sisa energi elektrosel lima persen. Energi segitu cukup untuk Mark terbang, menyusul adik-adiknya di dahan. Sebelah tangannya jatuh lagi, menggelinding ke halaman, kasa-kasa merah tercecer di sekitar tangan itu.

“HEI, KALIAN SEMUA KANGEN AKU, KAN?”

Masa bodoh dengan Xiumin yang berlari-lari sambil mengumpat di bawahnya. Cuek saja dengan tatapan girang kawan-kawannya yang kontan berubah horor ketika melihat raganya tak utuh. Meski mustahil, Mark merasa tangannya terulur dan dalam bayangannya, salah satu dari para peri di dahan menyambut telapaknya. Kesadaran Mark terus turun, turun … tetapi ia ingat tersenyum.

Selain gema harapannya sendiri untuk bertahan sampai tahun depan, rungu Mark tidak menangkap apa-apa lagi.

***

“Apa kalian percaya Kak Mark bisa hidup kembali?”

“Percaya!”

“Aku percaya!”

***

Deg.

Jantung. Memompa. Menendang-nendang dinding dada. Hangat. Utuh. Hidup.

Mark membuka mata. Linglung ia, tak mampu memproses sekian banyak berkas cahaya dan gambaran ruang yang kabur. Kata pertama yang tercetus dalam benaknya adalah laboratorium.

Namun, kata tersebut segera digeser oleh sejumlah besar sengatan listrik di sekujur tubuh saat ia menemukan sosok yang sangat dikenalnya, anak lelaki bermuka bodoh yang sekarang tampak makin bodoh karena memasang muka sembab.

“KAK MAAARK!!!”

Melengking, tetapi menyenangkan. Kata berikutnya yang muncul di kepala Mark adalah …

“… Haechan?”

“JAEMIN JUGA DI SINI, KAAAK!!!” Suara melengking dan muka sembab lainnya menyusul, membatasi jarak pandang Mark. Dekapan hangat kemudian diperolehnya dari kedua sisi, terasa geli hingga ia terkekeh sembari menggeliat lemah. Sepasang lengan pucat memeluk pinggangnya dari belakang, isaknya lirih malu-malu … ah, Jeno. Tahu-tahu saja, Mark menggapai-gapai, mencari peri mungil tukang masak berondong jagung—dan mendesah lega ketika telapaknya ditangkup sepasang tangan. Si empunya tangan menampakkan diri dengan tangis tertahan: Jisung. Dua beban lagi mendorong Haechan dan Jaemin dari belakang, ingin memeluk Mark tapi tidak sampai … pastilah Renjun dan Chenle.

Di ujung penglihatannya, dapat Mark temukan Xiumin bersandar ke dinding seraya bersedekap.

“Mengapa tidak bilang kalau Kakak sakit? Profesor Xiumin mengatakan soal disfungsi karena kau terlalu sering digunakan ….”

Disfungsi? Tidak, Jeno! Apoptosis dan disfungsi konotasinya berbeda! Disfungsi merupakan perubahan dapat balik, sedangkan apoptosis bersifat progresif dan berujung pada kematian.

“Untung Profesor memutar kembali proses degradasi selnya. Selain itu, Profesor menormalkanmu dengan menghilangkan seluruh elektroselularitas dalam tubuhmu, hehe.”

“Tapi kata Profesor, kami harus merahasiakan ini dari laboratorium tengah …. Makanya Kakak sekarang ada di klinik Dokter Suho, bukan di laboratorium ….”

Informasi penting yang Renjun dan Jisung berikan Mark olah dengan segera, mengaitkannya dengan kejadian sebelum ini. Baik, Mark ingat dirinya sekarat akibat kematian sel terprogram, tetapi Xiumin memutar kembali proses degradasi selnya sampai ia bugar kembali, entah bagaimana mekanismenya. Energi elektrosel dalam tubuh Mark dihabiskan—yang menjelaskan mengapa tubuhnya terasa ringan dan bebas. Ini bisa jadi adalah temuan baru yang tidak ingin Xiumin bagi dulu dengan para peneliti di laboratorium pusat, karenanya ia melakukan pembalikan kondisi ini secara diam-diam di klinik salah satu dokter anak yang bekerja untuk laboratorium.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Xiumin masih berbohong juga tentang kematian terprogram ini dan menyamarkannya dalam kata ‘disfungsi’? Teknologi apa yang mencegah kematiannya dan untuk apa diciptakan? Mengapa pula Xiumin mengaplikasikan teknologi ini padanya jika pria itu tidak pernah peduli pada nasib neoculture?

“Kan aku sudah bilang, kalian para remaja lebih susah dikekang dari kuda liar. Memberitahu soal itu pada kalian berarti aku tidak berotak, melepaskan kuda liar yang sudah susah-payah dikekang. Itu jawaban pertanyaan pertama.

“Dua, namanya canceling. Sekuensnya rumit, intinya aku membalikkan rantai reaksi apoptosismu sebelum nyawamu melayang. Tujuannya? Back-up, kalau-kalau ada neoculture yang tidak bisa mengontrol energi elektroselnya dan harus dikembalikan ke pengaturan awal. Laboratorium tidak akan suka bila mengetahui ada teknologi untuk menetralkan elektrosel, jadi sementara aku akan menyimpannya dahulu.

“Yang ketiga, aku melakukannya karena … kau percaya kau bisa hidup sampai akhir dan tidak menyerah semudah Irene atau Taeyong.”

Mark mengerjap.

Sesederhana itukah?

“Kau bukan tipe orang yang mendahulukan kepentingan orang lain. Hidupku dan proyek besar ini, jelas sekali perbandingan nilainya, bukan?”

“Jangan banyak tanya.” Xiumin menekankan ujung telunjuknya ke dahi Mark. “Manfaatkan saja kesempatan ini selagi kau kusembunyikan dari laboratorium tengah. Mereka tahunya kau sudah mati, maka dari sinilah hidup barumu dimulai.”

Profesor Xiumin sungguh misterius. Mulutnya terkunci rapat, tetapi tindakannya kerap kali tidak terduga dan, yang sekarang, sekaligus menyentuh sisi terlembut Mark. Buncah-buncah emosi kembali mengisi dada Mark biar adik-adik tersayangnya sudah berada di luar kamar periksa. Xiumin sendiri hampir mencapai kenop pintu ketika Mark bangkit, melayang dari ranjangnya, dan memeluk Xiumin dari belakang.

Tuhan, punggung Xiumin tidak pernah terasa begini bersahabat. Mark menyunggingkan senyum di balik punggung itu dan membisikkan tiga kata …

“Terima kasih banyak.”

… yang selama sekian detik sanggup melukiskan kurva di bibir sang peneliti senior.

***

Pada malam menuju 2016 silam, tujuh peri salju terpancing keluar oleh kembang api, jumlahnya lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Pada malam menuju 2017, anehnya, tidak ada satu pun peri salju di langit Seoul, walaupun pesta kembang api dilangsungkan di berbagai tempat. Apakah peri salju masih menyukai kembang api? Belum ada orang yang dapat memastikannya hingga malam menuju 2018 tiba.

TAMAT

  1. unipoten: ‘berpotensi satu’, sel-sel jenis ini telah memiliki satu fungsi yang jelas.
  2. stem cell: sel yang belum berdiferensiasi.
  3. diferensiasi: proses yang mengerucutkan banyak potensi sel menjadi hanya satu.
  4. totipoten: ‘berpotensi banyak’, sel-sel jenis ini merupakan sel dasar yang bisa menjadi sel apa pun tergantung ke mana diferensiasinya mengarahkan.
  5. apoptosis: kematian sel terprogram.
  6. deplesi neurotransmiter: habisnya penghantar kimiawi sinyal saraf
  7. sinapsis neuron: celah antara satu sel saraf dengan sel saraf lain
  8. lobus frontal: otak bagian depan
Advertisements

5 thoughts on “[Write Your Mythology] For Life

  1. Yang makanan sehari-harinya sci-fi HUHU, ini mah piece of cake ya kak XD
    Kebayang wajah dedek gemes ensiti dream yang jadi peri gitu ya, apalagi dek jisung yaampun. dan waktu bayangin mark itu bawaanya baper :’) keinget dia terus sibuk sama tiga unitnya ensiti, kaya ga ada istirahatnya.
    Awalnya kupikir kenapa xiumin kok kesannya ga peduli gitu. apalagi pas disebutin kalo irene sama taeyong (edisi leader ini yah) juga berakhir meninggal, ah nge-angst juga boleh lah. dan deskripsi keadaan mark nya itu detil sekali, badannya pada protol ya :’) tapi tetep happy ending suka lah 😀
    Keep writing kak~

    Like

  2. Kak liana, otakku belum nyampe liat istilah2 elite macem itu. Yg aku aku tahu cuma biohazard. Ehehee
    Btw, ikutan sedih pas mark divonis mati. Tpi untungnya endingnya happy. 😀

    Like

  3. menggelinding aku baca ini. my otp hyung-dongsaeng favorit,,
    aq emang ga paham maksud2 bahasa ilmiahmu Li, tapi aku masih bisa menikmatinya. ya intinya pas jelasin kondisi mark kesimpulannya dia sekarat.
    anak2 dream unyu bnget, bayangin mereka jadi peri kayak anak2 di fil peterpan gitu, bisa terbang melayang-layang. apalagi pas mark ngomong peri bisa hidup klo org2 percaya, mirip kek filmnya. “I do believed fairy!”

    hah, smpet salfok ngebayangin muka dek haechan yang mewek. deskripsimu soal ekspresi bodohnya itu bikin ngakak.

    Like

  4. kakliii sejatinya aku telah membaca ff ini sejak lama tapi baru sempet komen sekarang
    subhanallah sekali ff ini bikin aku pening dengan istilah baru, ya karena sci-fi itu not my cup of tea ehehh
    tapi ini keren sangaaatt aku jadi termotivasi belajar lagi untuk bikin ff sebagus ini :3

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s