[Write Your Mythology] ISABEL

irish-nct-isabel

|   ISABEL   |

|  Haechan  x  Eunha (as Isabel)   |

|  Myth  x  Horror  |  Vignette  |  Teen  |

|  story by IRISH  |

currently appear: Fairy—knights in the darkness

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Eunha pernah mendengar larangan dari orang-orang tua di desanya, sebuah cerita pengantar tidur yang belasan tahun lalu membuat Eunha justru tidak bisa tidur nyenyak. Konon katanya, jika seseorang berkeliaran di luar rumah saat larut malam tiba, mereka akan bertemu dengan mereka.

Tidak, bukannya sekarang Eunha sedang bertemu dengan sosok yang bagaimana bentuknya pun tidak pernah ia ketahui itu. melainkan, Eunha sekarang sedang terjebak dalam sebuah dilema yang memaksanya untuk berkeliaran di luar rumah saat malam tiba.

Sebuah boikot tengah terjadi di desanya. Pimpinannya, adalah tetua desa yang tidak bisa menerima fakta bahwa ia sudah terlalu renta untuk memimpin puluhan orang di desa tersebut tapi juga tidak punya keturunan untuk meneruskan kepemimpinannya.

Lebih tepatnya, ia tidak punya seorang putra untuk menggantikannya.

Eunha, adalah putri dari pemimpin tersebut. Dia adalah putri satu-satunya yang selama hampir dua puluh tahun ini telah disembunyikan keberadaannya. Kini, sang ayah bahkan sudah tidak punya pilihan lain selain menjadikan Eunha sebagai pemimpin.

Sah saja bagi Eunha untuk menerima tawaran tersebut, tapi sayang ia sekarang tidak sedang dalam keadaan yang memungkinkannya untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

“Mengapa kau melakukan ini padaku?” sebuah tanya terucap dari bibir Eunha, manik kelamnya menatap tepat ke arah sosok pemuda—sebaya dengannya—yang sekarang berdiri di dekat jendela.

Senja tadi, Eunha yakin ia tengah terlelap di atas ranjang, mengistirahatkan pikiran sebelum malam nanti menghadapi dunia yang sesungguhnya. Tapi satu jam yang lalu, ia terbangun di ruang gelap yang tak dikenalinya.

“Aku menyelamatkanmu, Isabel.” suara itu terdengar sebagai jawaban, sementara Eunha masih tidak bisa melihat jelas wajah lawan bicaranya.

Ingatkan Eunha tentang bagaimana dia sekarang terikat di sebuah kursi tua, tidak mampu bergerak dan bahkan tidak ada celah baginya untuk menyelamatkan diri. Pengapnya udara di ruangan tempatnya sekarang berada semakin membuat Eunha berada dalam tekanan.

Ia takut.

“Apa yang kau lakukan? Aku tidak seharusnya ada di sini.” berkeras, Eunha memaksa dirinya untuk menjadi lebih berani. Berharap jika saja sosok tak dikenal yang sekarang ada di hadapannya bisa berbaik hati menunjukkan identitas.

“Sudah seharusnya kau ada di sini.” sahutan itu menjadi jawaban bagi Eunha.

“Apa maksudmu?”

Sosok itu, meninggalkan sejenak pandangannya—yang melihat pencarian terhadap gadis yang tengah bersama dengannya sekarang—untuk mengawasi ekspresi Eunha sebelum ia memberi sebuah tawa kecil.

“Mereka sudah memberikanmu padaku.”

Memberikan siapa pada siapa? Eunha tahu, ia sekarang patut bertanya-tanya pada keadaannya. Tapi lambat laun, Eunha bisa mengerti apa yang sekarang tengah terjadi.

Sudah jelas, seisi desa tidak menginginkan kehadirannya. Sudah selama belasan turunan keluarganya memimpin desa. Dan disembunyikannya Eunha selama hampir dua puluh tahun adalah sebuah pertanda bagi kebanyakan orang—yang tidak tahu soal Eunha—bahwa kepemimpinan di desa akan segera terguling, berganti dengan era baru yang mereka inginkan.

Mungkin, ada beberapa oknum yang tahu tentang kelahiran Eunha—meski Eunha sendiri tidak yakin sebab ibunya telah meninggal saat melahirkannya—dan dulu, Eunha juga telah dianggap mati bersama ibunya.

Tapi bagaimana Eunha bisa menerima keadaan yang dihadapinya sekarang? Ia bahkan tidak tahu dengan siapa dia berhadapan sekarang. Meski pemuda yang sedari tadi bersama dengannya ini tampak seusiaan dengannya, tapi Eunha tidak tahu apa yang mungkin terjadi padanya.

Bagaimana jika ia dibunuh? Atau disekap selama berhari-hari? Bagaimana nasib ayahnya yang sudah sakit-sakitan nanti? Bagaimana nasib desa mereka yang bahkan tidak bisa dikontrol. Bagaimana nasib Eunha?

“Siapa yang membayarmu? Apa kekayaannya melebihi keluargaku?” sempat Eunha memutuskan untuk menjadi congkak. Ia tidak ingin terlihat lemah dalam kondisi tidak menguntungkan ini.

Meski ia tidak bisa bergerak, setidaknya mulut Eunha bisa melawan.

“Kau pikir kekayaan itu bisa mempengaruhiku, Nona?” sosok itu balik bertanya. Diketuk-ketukkannya jemari di kaca jendela berteralis besi yang jadi pembatas antara Eunha dengan dunia luar sementara dibiarkannya Eunha menunggu.

“Sebut saja, mereka membayarku dengan sebuah nyawa. Bagaimana? Apa kekayaan keluargamu bisa menebusnya?” pertanyaan itu membungkam Eunha.

Sudah jelas, ia sudah jelas tahu nyawa siapa yang jadi bayarannya. Tanpa Eunha harus berpikir keras, ia juga tahu apa yang akan terjadi kemudian. Kematian ayahnya, kehancuran hidup Eunha, dan dendam yang mungkin akan dibawanya kemudian hari.

Lantas, Eunha mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia muak dengan semua keegoisan yang sudah membuatnya terkurung dalam sangkar selama dua puluh tahun. Ia lebih muak lagi pada orang-orang yang berlagak baik tapi nyatanya berkelakar buruk. Seperti misalnya saja, keluarga ayahnya yang tahu tentang Eunha.

Meski Eunha sudah berpura-pura menjadi Isabel—pembantu di rumah megah tersebut—tapi tetap saja, ia yakin seseorang mengenalinya.

“Mengapa kau melakukannya? Apa keluargamu punya masalah dengan keluargaku? Berhenti bersikap pengecut dan hadapi aku sekarang. Apa kau menghindariku dengan terus menatap jendela seperti itu?” kembali Eunha meneriakkan tantangan.

Ia tak ingin kalah mutlak. Kekalahan bukan jadi hal wajar bagi Eunha, terutama saat ini. Ia tak ingin kalah dari pemuda tidak dikenal itu. Eunha pikir, ia punya sebuah kehidupan yang patut diperjuangkan. Dan itulah yang sekarang tengah Eunha lakukan.

Memperjuangkan hidupnya.

Helaan nafas panjang terdengar sebagai jawaban bagi Eunha awalnya. Sebelum kemudian pemuda itu merajut langkah mendekati Eunha, membuat si gadis menyipitkan matanya demi melihat dengan lebih jelas.

“Kau ingin melihat wajahku, bukankah begitu?” pertanyaan itu terdengar sepersekian sekon sebelum cahaya menyilaukan tiba-tiba saja memenuhi pandangan Eunha.

Sebuah lampu berwarna jingga menyala di tengah ruang tempat Eunha sekarang terkurung. Dihadapannya, telah berdiri seorang pemuda dengan pakaian serba hitam, menatap dengan sepasang netra tanpa ekspresi yang diam-diam membuat Eunha bergidik ngeri.

Ia yakin tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya. Dan dari pandang sekilas Eunha, dilihatnya pemuda itu juga tidak membawa senjata apapun. Setidaknya Eunha tidak harus merasa begitu takut.

“Siapa kau?” tanya Eunha.

Pemuda itu tersenyum. “Aku adalah seseorang yang menciptakanmu dua puluh tahun lalu, Isabel.”

“A-Apa?” Eunha berucap tidak mengerti.

Pemuda itu, menatap Eunha sejenak sebelum bibirnya lagi-lagi membuka.

“Dua puluh tahun lalu, sepasang suami-istri datang ke hutan dan mengelilinginya. Memohon pada semua penjaga hutan untuk memberi mereka seorang keturunan. Sayang, keduanya sama-sama tidak punya kondisi yang masuk akal untuk bisa memiliki seorang bayi.

“Sebagai penjaga yang baik, aku menciptakan keajaiban bagi mereka. Kuberi mereka sebuah benih yang kubesarkan selama empat musim, benih tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku, dan kupesankan pada mereka untuk menyayangi benih itu dengan setulus hati mereka.

“Tapi, saat benih itu terlahir sebagai seorang bayi perempuan, mereka mengutuknya. Mengatakan bahwa mereka tak menginginkan bayi perempuan, dan bahkan, mereka mencoba untuk membunuh benih tersebut.

“Kau tahu, apa yang aku sedang bicarakan bukan?” pemuda itu menghentikan penuturannya, menatap ke arah Eunha seolah menunggu reaksi dari si gadis.

“Kau mau mengatkan kalau benih itu adalah aku?” tebaknya membuat si pemuda tersenyum simpul dan mengangguk.

Ada kerinduan mendalam yang sebenarnya tampak dari sorot mata mengerikan si pemuda. Meski ia sekarang terlihat bagai seorang pembunuh dan bahkan membuat Eunha merasa takut hanya karena melihatnya berdiri, tapi ada luka tak kasat mata yang sebenarnya terlihat.

“Kemudian, aku menyelamatkan benih itu satu kali, saat ia baru saja lahir dan berusha di bunuh. Sayang, istri dari pria tua serakah itu mati karena ulahnya. Ia kemudian membesarkan benih itu seperti sampah. Tidak menganggapnya ada, dan bahkan mempekerjakannya bagai seorang pesuruh.

“Pernah aku menyelamatkan benih itu satu kali lagi, saat ia berusaha bunuh diri tujuh tahun lalu lantaran tidak ingin menghadapi kehidupannya. Dan malam ini, untuk ketiga kalinya aku menyelamatkan benih itu.

“Kau tahu alasannya kali ini? Aku menyelamatkannya karena tidak seorang pun di tempat ini selain aku, menginginkannya untuk hidup.”

Mendengar ucapan pemuda itu, Eunha tersentak. Bibirnya terbuka hendak mengucapkan beberapa kata tapi semua frasa justru tersangkut di tenggorokannya. Tak ada paksaan dalam suara pemuda itu, tidak juga ia terdengar seolah bercanda.

Eunha tak ingin percaya, tapi ia juga tak tahu apa akibatnya jika tidak percaya.

“Apa… Ayah juga menginginkan kematianku?” pertanyaan itu berhasil tercetus dari bibir Eunha. Meski ia begitu menyayangi sosok pria tua keji yang kerapkali memukulnya tersebut, ada sebersit rasa kecewa menyambangi Eunha ketika didengarnya tentang sang ayah yang tidak menginginkan eksistensinya lagi.

Perlahan, ketakutan justru makin mendesak Eunha. Meski pemuda di depannya tak lagi mengucap kata apapun, Eunha justru ingin menangis karena takut. Ia tak ingin mati. Sudah dua puluh tahun ia dianggap mati tapi ia tak pernah benar-benar ingin mati.

Ia juga tak ingin terus hidup dalam kungkungan. Sudah selayaknya Eunha hidup seperti orang-orang lainnya yang menikmati kehidupan mereka dengan bahagia. Eunha juga ingin bahagia.

“Kau adalah ciptaanku, Eunha. Kau adalah sebuah bibit cantik yang kubesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang sebelum manusia merenggutmu dan membuatmu terkoyak di sana-sini.” pemuda itu kembali berucap, kembali dilangkahkannya kaki mendekati Eunha.

Lengannya kini dengan lembut menyentuh bahu Eunha, membagi ketenangan tak alami yang membuat hati Eunha makin goyah.

“Bagi seorang fairy sepertiku, kehilangan benih tercantiknya adalah sebuah duka. Tidakkah kau ingin kembali padaku, Eunha?”

“Mengapa?” tanya itu Eunha utarakan, “Mengapa aku harus kembali padamu?”

Pemuda itu menjawabnya dengan sebuah senyum tipis.

“Semua penduduk desa ini datang ke hutan dan mengharapkan kematianmu. Sebagai seorang pelindung, menjagamu adalah tugasku. Terutama, karena sejak dulu kau adalah milikku.

“Selama dua puluh tahun aku kehilanganmu. Bukankah kau menginginkan sebuah kehidupan yang layak? Aku akan memberikannya untukmu.”

Eunha tak lagi bisa berpikir jernih. Keinginannya untuk hidup bahagia terlampau besar, agaknya. Karena toh, ia tak pernah benar-benar merasakan kebahagiaan saat ia bersama dengan sang ayah.

Ia juga tak pernah mengalami kebahagiaan yang orang-orang selama ini bicarakan di luar sana. Kesepian lah yang menjadi sahabat Eunha selama ini. Lantas, untuk apa ia berkeinginan untuk bertahan jika tak ada lagi yang mengharapkannya?

“Apa aku bisa bahagia?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Eunha pada akhirnya. Sementara si pemuda mengukir senyum meyakinkan, seolah berusaha menjawab pertanyaan Eunha tanpa ia harus mengatakan apa-apa.

Memahami maksud senyum si pemuda, Eunha akhirnya menghembuskan nafas panjang. Ia sudah begitu pasrah menghadapi kehidupan, agaknya.

“Kemana kau akan membawaku?”

Lengan si pemuda kini bergerak menyentuh tali tambang yang sejak tadi mengukung Eunha sebagai intimidasi. Dengan mudahnya, tali tersebut terlepas seolah sedari tadi ia tidaklah berguna.

Kemudian, dengan lembut pemuda itu membantu Eunha berdiri. Tentu ia sudah tahu jawaban apa yang Eunha berikan atas tawarannya tadi.

“Ke tempat yang akan kau sukai, Isabel.” ucapnya, entah mengapa sedari tadi tidak menyebut nama Eunha seolah ia lebih menyukai nama Isabel.

Perlahan, dibimbingnya langkah Eunha mendekati pintu cokelat tua kecil yang ada di sana. Tanpa keraguan, Eunha agaknya juga mengerti kemana pemuda itu akan membawanya.

Baru saja Eunha hendak membalik tubuh untuk bertanya tentang apa yang harus ia lakukan pada pintu tersebut, ia sudah dikejutkan oleh rasa sakit yang menusuk dadanya.

Sebilah kayu kini telah menancap di dada Eunha, membuat tatapan si gadis berubah tak percaya sementara tawa pelan didengarnya dari belakang tubuh. Ia bahkan tak sempat berkata apapun saat rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang, diikuti dengan hilangnya kesadaran Eunha kemudian.

“Sudah saatnya kau kembali menjadi sebuah benih, Isabel. Ketahuilah, kalau tempat paling tepat untukmu, adalah bersamaku di dalam hutan gelap yang menyesatkan manusia dan membuat mereka semakin terjerumus.”

— FIN —

IRISH’s Notes:

Sesungguhnya, awal ngetik Isabel ini terpikir sebuah genre romens, terus berubah jadi family-sad gitu, terus pada akhirnya nembus pembunuhan gajelas… ini fanfiksi macam apa… Haechan kubuat jadi berbentuk apa… YA AMPUN AKU KOK NGEBUAT FAIRY JADI MAKHLUK ENGGAK JELAS GINI SIH. HUHUHU.

TBH JANGAN SALFOK SAMA KATA BENIH…

Advertisements

5 thoughts on “[Write Your Mythology] ISABEL

  1. Biasanya echan yg cempreng jadi sedikit bicara bigini jadi gimana gitu….

    Ff buatan irish emang selalu bagus gak pernah ketebak ending …

    Di tunggu yaaa ff nct lainnya ♡♡♡

    Semoga selalu ada ide dan ssemangat selalu nulisnyaaa💖💖💖💖

    Like

  2. ECHAAAAN
    IRISH APA YG KAMU LAKUKAN PD CABE RAWITKU
    dan hrs bgt sama eunha ya kan. Lumayan cocok aih mbak eunha utk karakter cewek teraniaya hahaha. Idenya keren dan irish sekali ya, bukan cerita irish kalo ga ada yg mati :p
    Keep writing!

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s