[Write Your Mythology] The Death

j

The Death

Story by Ayumi-Chan | Staring with Na Jaemin of NCT | Myth, Medical, little bit Fantasy | Rate for PG-15 | Mythological creatures: Samael | Jaehyun as Samael

Suport cast:

Mark of NCT, Haechan a.k.a Donghyuck of NCT,

Kim Doyoung of NCT, Jaehyun of NCT

Summary:

Jaemin tidak akan membiarkan kematian menghampiri orang-orang terdekatnya lagi.

All those cast are not mine and this Fanfiction is pure by mind. Last But not least, please don’t be plagiators and siders!

.

.

.

Rumah sakit. Ya sebuah rumah sakit yang terletak jauh dari perkotaan—lebih tepatnya terletak didaerah terpencil. Jaemin yang baru saja datang untuk ditugaskan disini bersama kedua temannya—Mark dan Haechan—pun lupa nama daerah yang ditempatinya kali ini. Terlalu rumit untuk mengucapkannya, begitu pikir Jaemin. Mereka bertiga tak peduli akan ditempatkan dimana kali ini, bagi mereka yang terpenting adalah mereka ingin cepat-cepat selesai dari tugas-tugas untuk menjadi seorang dokter sungguhan.

Maka nyatanya yang Jaemin kira ditempatkan di daerah terpencil merupakan hal termudah, untuk kali ini tidak. Sebelum mereka bertugas mereka harus memilih salah satu makhluk didaerah tersebut untuk dijadikan partner dalam menjalankan tugasnya. Jaemin sedikit bingung mengapa mereka yang ditugaskan disana diharuskan mencari partner sebuah makhluk dari sana oleh ketua timnya.

Lalu ketua tim Jaemin memperlihatkan sebuah makhluk yang menjadi partnernya, maka keluarlah dari tubuh ketua tim Jaemin yang bernama Kim Doyoung itu seorang wanita cantik, tapi tak lama sesuatu mengejutkan Jaemin. Tubuh –setangah dari tubuhnya tepatnya—berubah menjadi ular.

“Me-medusa?” Hanya itu yang bisa Jaemin keluarkan setelah melihat wanita itu. Ya, Medusa. Seorang wanita cantik yang dirubah setangah tubuhnya oleh Dewi Athena. Betapa sempurnanya Medusa, pantas saja Doyoung memilihnya.

“Iya memang Medusa, tapi aku beri dia nama, yaitu Ji Hyesoo.” Lalu ketua tim Jaemin, Kim Doyoung menatap semua juniornya—termasuk Jaemin—secara bergantian, “Nah, kali ini giliran kalian yang harus mencari partner,” Doyoung menghela nafas sejenak, “Baiklah. Aku akan memberi kalian 1 × 24 jam untuk mencari partner kalian selama bertugas di Rumah Sakit ini.”

~oOo~

Setelah kemarin Jaemin mendengar penjelasan dari Ketua Timnya yang bernama Kim Doyoung, ia berhasil menemukan partnernya. Mengejutkannya, Jaemin menemukan partner yang adalah seorang malaikat maut dan yang Jaemin beri nama Jaehyun. Sebenarnya, Jaemin tak ingin mendapat partner seperti Jaehyun, tapi mau bagaimana lagi, Jaemin terlanjur malas untuk mencari partner lain.

Sekitar pukul sepuluh pagi, Jaemin baru saja menyelesaikan satu Operasi pasien cancer. Wajah lelahnya sangat terlihat, mengingat tadi pagi ia belum sarapan sama sekali, tapi sebelum mencari sesuatu untuk memberi makan cacing diperut Jaemin yang sejak tadi terus bersuara, ia akan terlebih dahulu mencari partner ia disini. Setidaknya Jaehyun juga harus membantu majikannya bukan?

“Dokter Jaemin!!” Baru saja ia akan melangkah menghampiri Jaehyun si malaikat maut yang sudah ada dihadapannya, tapi sebuah suara dari belakang Jaemin, membuatnya terhenti. Lalu Jaemin menoleh kebelakang, mendapati Haechan dengan air muka yang sangat khawatir ditambah dengan masih memakai pakaian untuk operasi dan kedua tangannya berlumuran darah.

“Ada apa, Haechan?” Jaemin buru-buru menghampiri Haechan yang sudah sangat tak karuan.

“Ma-Mark,” Haechan sampai berucap dengan terbata-bata dan menunjuk entah kemana. Jaemin memberikan tepukan pada bahu kanannya, mencoba memberi ketenangan. “Se-sepertinya Mark, mengalami Tension Pneumotorax.

Jaemin sempat terdiam ketika mendengar Mark sudah terkena tension pneumotorax. “La-lalu kenapa baru memanggilku sekarang?” Tanya Jaemin yang langsung berlari menuju Ruang Operasi Mark.

“Tadi-tadikan kau masih mengopreasi pasien, jadi manabisa aku memanggil kau begitu saja.” Haechan mengikuti berlari dibelakang Jaemin.

Mark memang sudah memiliki penyakit pneumotorax traumatik dari sejak lama karena sesuatu terjadi padanya, dahulu pernah menjalani satu kali Operasi, namun entah mengapa sepertinya dulu ia di Operasi ada yang tak beres. Dan kali ini ia mengalami tension pneumotorax.

Kemudian saat Jaemin akan masuk kesebuah ruangan untuk mengganti pakaiannya, partner Jaemin tiba-tiba saja muncul dan membawakan satu bungkus roti lengkap dengan sebotol air mineral.

“Setidaknya kau harus makan ini dulu,” Jaehyun, lelaki bersayap hitam namun tak terlihat itu menyodorkan yang ia bawa, “Ini untuk memfokuskan fikiranmu nanti saat Operasi, Jaemin.” Katanya.

“Tidak ada waktu untuk itu, kau tahu?” Jaemin menolak, dan kembali berbalik mengambil baju yang akan ia kenakan.

“Lihat. Kau bahkan memakai baju untuk Operasimu terbalik,” partner Jaemin berkata dengan datar.

“Baiklah.” Akhirnya Jaemin menyerah untuk menuruti partner nya. Ia tak tahu kenapa ia sampai memakai baju Operasi terbalik, padahal dirasa tadi ketika ia mengambil tidak terbalik sama sekali. Jaemin memakan rotinya dengan lahap—karena lapar juga ditambah Mark harus segera ditangani.

Kurang dari lima menit, Jaemin berhasil menghabiskan sebungkus roti dan setengah botol air mineralnya. “Cha. Baiklah aku akan masuk kesana.” Kata Jaemin yang sudah lengkap memakai pakaian Operasinya.

Memasuki Ruang Operasi, Jaemin mendapati Haechan yang sudah lemas juga para Asisten Haechan yang membantu jalannya Operasi terlihat melepaskan semua alat-alat yang menempel pada tubuh Mark. Jaemin buru-buru menghampiri Haechan yang wajahnya sudah dibanjiri dengan keringat.

“Ja-jaemin, Ma-mark tadi sudah mengalami komplikasi juga,” Ucapnya dengan sedikit bergetar, “Tadi, ketika aku menunggumu yang tak kunjung datang, aku mencoba yang aku bisa untuk menanganinya, ta-tapi aku memang tidak lebih ahli darimu tentang ini. Aku membunuhnya, Jaemin…” Haechan berkata dengan putus asa.

“Tidak mungkin.” Jaemin menghampiri Mark yang sudah tak sadarkan diri, yang bahkan roh nya sudah entah kemana. Mengingat itu, Jaemin tiba-tiba saja teringat dengan partner nya yang seorang malaikat maut. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, ini pasti ada hubungannya dengan Jaemin tadi yang tadi diberikan sebungkus roti dan sebotol air mineral, pikir Jaemin.

~oOo~

Dengan berjalan tak sabaran, Jaemin menuju ruangannya untuk menemui partner nya. Pasti Jaehyun sudah tahu jika Mark memang akan meninggal dunia tadi. Membuka pintu ruangannya dengan kasar dan mendapati Jaehyun tengah duduk sambil menyesap sebotol wiski.

“Kau pasti sudah tahu kan?” Seoloroh Jaemin. Lelaki bersayap hitam itu memperlihatkan sayapnya lalu tersenyum miring pada Jaemin, “Sudah kuduga, malaikat maut memang kejam. Padahal jika saja kau tak menahanku untuk memakan sebungkus roti, bisa saja Mark akan selamat oleh pertolonganku.” Jaemin menyimpan kedua tangannya didepan dadanya.

Jaehyun berdecih, “Sombong sekali ternyata majikanku yang satu ini,” ia juga mengikuti posisi Jaemin yang sedang berdiri dan bersedekap, “Ia ada yang menolong atau tidak, ia akan tetap mati, karena sudah waktunya.” Jelas Jaehyun dengan sinis.

“Tuhan akan mengubah takdir itu jika ada yang berusaha, dan itu aku.” Keukeuh Jaemin tak mau kalah.

“Hei, kau tak tahu aku disini diberi tugas atas titah Tuhan. Kau tak tahu apa-apa, Tuan majikan.” Begitu mengucapkan itu, Jaehyun langsung saja menghilang dari hadapan Jaemin. Jaemin sangat kesal sekali, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku kukunya putih.

“Dokter Haechan cepat turun kumohon!!”

“Ya, Haechan kau ini waras tidak sih? Cepat turun!!”

“Haechan turunlah!!!”

Terdengar teriakan dari luar yang memanggil Haechan turun. Jaemin langsung saja melihat kearah jendela dari lantai dua itu dan mendapati sudah banyak orang menyuruh Haechan turun. Jaemin berfikir lamat-lamat, memangnya Haechan ada dimana sampai-sampai banyak orang yang menyuruhnya untuk turun, bukankah ruangannya ada dilantai tiga dan mereka bisa datang keruangannya langsung jika mereka menyuruh Jaemin untuk turun.

“Tapi tunggu, tadi ada yang meneriakinya waras atau tidak,” Jaemin terus berfikir, “Ya Tuhan, dia akan bunuh diri dari lantai lima?” Jaemin bermonolog, kembali melihat kebawah melihat para perawat wanita yang terlihat terisak. Dugaan nya diperjelas saat Jaemin mengeluarkan kepalanya dari jendela dan melihat keatas, ada Haechan yang siap-siap akan melompat kebawah.

Jaemin kembali memasukan kepalanya lalu secara tiba-tiba Jaehyun ada dihadapannya yang tengah tersenyum jahat pada Jaemin, “Aku yakin kau pasti sudah mengetahui ini. Lihat saja aku tidak akan membiarkan kematian menghampiri Haechan, aku pasti bisa menyelamatkannya.” Kata Jaemin dengan yakin sambil menatap kedua bola mata Jaehyun.

Kemudian Jaemin langsung saja keluar dari ruangannya dengan cepat. Ia langsung berlari menuju lift yang menutup kemudian memencet tombol dengan tak sabaran, tapi lift tersebut tidak terbuka-buka. Dengan terburu-buru Jaemin langsung berlari menuju tangga darurat yang akan sampai ke lantai lima.

~oOo~

Seolah melihat partner nya berada dimana-mana, ketika Jaemin keluar dari pintu dan mendapati Jaehyun sedang duduk disebuah bangku dan terdiam melihat Haechan yang akan melompat dari sana—tentu saja Haechan tak bisa melihatnya karena Jaehyun memperlihatkan sayap hitamnya. Mendengar suara orang yang berlari, Jaehyun menoleh kearah Jaemin dengan menatapnya intens.

“Maafkan aku Mark. Aku sudah membunuhmu…” kata Haechan dengan putus asa, diikuti dengan isakan kecil.

Jaehyun tersenyum sinis pada Jaemin. Jaemin hanya bisa mengepalkan kedua tangannya kesal. “Hei, Haechan,” Jaemin menghampiri Haechan sambil mencoba untuk mencegah agar Haechan tak melompat dari sana, “Kau ini waras tidak sih?” Tanya Jaemin.

Haechan mendengar suara Jaemin semakin merasa sangat bersalah juga padanya, “Aku pantas mati juga, Jaemin. Aku sudah membunuhnya…”

“Kau tidak membunuhnya, tapi akulah yang membunuhnya. Kumohon turunlah,” Jaemin menarik kaki Haechank, tapi Haechan keras kepala, “Aku yang malah membiarkanmu menangani Mark seorang diri. Aku yang membunuhnya, Haechan.” Jaemin sedikit bergetar ketika mengucapkan itu.

Karena sulit untuk mencegahnya, mau tak mau Jaemin ikut naik keatas pagar itu. “Kau tidak bersalah, Jaemin.” Lihat bahkan ketika Jaemin sudah ikut naik kepagar saja ia masih keras kepala.

“Hei, dengar aku,” Jaemin memegangi kedua pundak kokoh Haechan dan ia menatap kedua mata Jaemin, “Kau tidak bersalah. Ini sudah takdir Tuhan untuk memanggil Mark. Aku juga sama bersalahnya denganmu. Jadi turunlah, oke?” Jaemin memberikan keyakinan pada Haechan.

“Tidak-tidak,” Haechan menggeleng, “Kau tidak bersalah,” Haechan lalu berpaling dari Jaemin dan bersiap-siap untuk melompat.

“Ya!!!” Teriak Jaemin, “Baiklah. Aku tidak bersalah, dan kau yang bersalah.” Haechan terbengong melihat Jaemin mengucapkan itu. “Jadi, kau tidak boleh melompat dari sini. Iya, kau bersalah dan kau tidak boleh melompat dari sini.” Jaemin terus mengulangi kata itu. ia merasa bersalah juga sudah menuduhnya seperti itu.

“Baiklah, jika seperti itu.” tepat setelah berkata seperti itu, Haechan sudah melompat dari sana.

“Haechan~~~~” Jaemin berteriak sangat keras dan meraih-raih tangan Haechan kebawah. Jaemin marah, ia marah dengan dirinya yang tak bisa menyelamatkan Haechan dari kematiannya, ia juga marah karena ketika ia mengucapkan kata terakhir ia malah menyalahkan Haechan. Ia tahu, kalimat itu memang yang ingin didengar oleh Haechan, tapi sekali lagi, Jaemin tak ingin kalimat tadi sebagai kata perpisahan.

Dengan lemas, Jaemin turun dari pagar dan menatap kesal kearah Jaehyun, “Kau puas?” Tanya Jaemin, “Lihat saja nanti. Aku tidak akan membiarkan semua orang disini mati. Aku akan menyelamatkan mereka.” ucap Jaemin menggebu-gebu.

“Coba saja jika kau bisa,” balas Jaehyun dengan nada menantang.

Fin~

Author note:

Finally, bisa juga menyelesaikan cerita dengan genre yang berbeda xD maafkan untuk admin yang  jika memang ini kurang sesuai dan maafkan jika banyak kekurangan. Anyway, disini mereka semua seumuran yah ceritanya xD

Indeks:

Pneumotorax               : keadaan terdapatnya udara atau gas dalam cavum atau rongga pleura tersebut, maka akan menimbulkan penekanan terhadap paru-paru sehingga paru-paru tidak dapat mengembang dengan maksimal sebagaimana biasanya ketika bernafas.

Tension pneumotorax  : bisa juga disebut pneumotorax vintal, terjadi karena tekanan dalam rongga pleura meningkat sehingga paru-paru mengempis lebih hebat, mediastinum tergeser kesisi lain dan mempengaruhi aliran darah vena ke atrium kanan. Mediastinum terdorong kearah kontralateral dan diafragma tertekan kebawah sehingga menimbulkan rasa sakit. Keadaan ini mengakibatkan fungsi pernafasan sangat terganggu yang harus segera ditangani kalau tidak, maka akan berakibat fatal.

Kalian bisa juga baca lebih lanjut disini.

Advertisements

2 thoughts on “[Write Your Mythology] The Death

  1. Salam kenal, aku Liana 95line 🙂
    Wah kamu dpt subgenre yg berbahaya Krn rawan keliru hahaha tapi gpp, tdk sebanyak itu sih kelirunya walau kalau kasus Mark ini dipresentasikan akan muncul banyak pertanyaan
    Risetnya boleh lah, tapi ada bbrp bagian yg kupikir ga terlalu make sense like operasi tension pneumothorax itu bener2 ga bisa ditunda lho. Jaemin harusnya tdk duduk di situ dgn tenangnya walaupun jaehyun memaksa. Trs aku menemukan bbrp hal yg kurasa krg lazim pd penulisan. ‘Dioperasi’ misalnya. Kamu sering menulis ‘di Operasi’. Trs aku merasa ada tanda baca yg kelewat juga bbrp.
    Tapi aku sangat menghargai risetnya sekali lagi, krn riset medis itu sangat susah bagi org awam *pengalaman pribadi :p
    Maaf ya kalo ternyata kamu adlh kakakku tapi aku terlanjur pake aku-kamu ;-;
    Keep writing!

    Liked by 1 person

    • Haloo kak Liana^^ makasih yah udah mampir.
      dan akupun ngerasanya gitu kak ini sub genre yang ah aku pusing sendiri ngerjain ini 😦
      Makanya gk terlalu dipresentasikan lebih banyak krna emang ya gitu risetnya harus faham banget…
      Makasih loh sarannya, kak. Akan aku coba perbaiki tulisanku kedepannya hehe memang riset medis butuh nanya langsung sama dokternya biar jelas banget haha

      Anyway bukannya kamu kakakku :p
      Semangat^^

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s