[Write Your Mythology] Pater Meus

patermeus

Pater Meus –Shaekiran

Renjun/Greek/Medical/Family/Angst/T/Oneshot/Zeus

 

Langit kemerahan, tanda mentari kini telah lelah dan hendak kembali ke peraduannya. Malam telah menanti, namun nampaknya kumpulan pemuda muda itu tak jua menghiraukan suasana sekitar yang mulai mecekam pekat.

“Hei, Demigod palsu!” Seorang diantara kumpulan pemuda berpakaian semerah darah di lapangan berucap sambil terkikik kecil, hingga kini seorang yang merasa dipanggil berhenti melangkah kemudian menoleh.

“Kenapa kau memanggilku, huh?” tanya pemuda yang menoleh itu, Huang Renjun namanya.  Ketua perkumpulan itu -Mark namanya- maju sambil menegakkan kepala angkuh.

“Hanya menyapa seorang yang tak pantas disini, memangnya kenapa? Masalah buatmu si bodoh disleksia? Cih, penyakitan saja masih sok!” Mark meludah dan tawa dari kumpulannya pun muncul ke permukaan.

“Sudah bodoh, penyakitan, tak tau diuntung, dan kau mengaku adalah Putra Dewa Zeus? Dasar pembual besar!” merasa belum puas, Mark lantas mendorongnya hingga Renjun jatuh terduduk di tanah.

“Zeus pasti kecewa punya putra yang tak bisa dibanggakan sepertimu, apa kau sadar itu Huang Renjun?” Mark tertawa miring, sementara Renjun kini mengepalkan tangannya dalam diam.

“Apa kau sudah selesai Mark?” Renjun berdiri dari posisi jatuhnya, menepuk sedikit bokongnya yang kotor sambil menatap tak kalah remeh pada pemuda yang sedari tadi membully-nya.

Mwo? Apa katamu tadi? Mark? Cih, aku ini seniormu bodoh, mana sopan santunmu?!” hardik Mark marah dengan tatapan nyalang.

“Ah, senior? Maksudmu senior yang punya ibu pelacur dan secara tak sengaja hamil karena bertemu Dewa Hades yang mabuk di klub malam?” Bagaikan kalimatnya tak ada yang salah, Renjun berucap penuh percaya diri-tak peduli meski kini wajah Mark sudah merah padam sakin malunya.

“Lalu bagaimana dengan ibumu, eoh? Kau pikir dulu kenapa Zeus bisa punya putra tak berguna sepertimu jika tidak dari ibumu yang sama bodohnya denganmu itu, eoh? Masih tidak sadar juga kenapa Zeus tidak mau menemuimu? Kau itu bencana dan Zeus menyesal punya putra seper-“

Brughhh!

Sebuah pukulan telak bersarang di wajah Mark dalam hitungan detik hingga ia tersungkur ke tanah. Seketika, suasana yang tadinya marak tiba-tiba berubah menjadi hening.

“Sudah selesai bicaranya Mark?” Renjun seakan tak punya takut. Mark yang bibirnya robek itu  pun berdiri sambil terkekeh.

“Kau pikir bagaimana?” tanyanya, dan sebuah pukulan balik bersarang pada Renjun.

Ukhh!” Renjun menyerngit saat tendangan Mark yang sudah seperti kesetanan mendarat di ulu hatinya. Bagaimanapun juga, Renjun yang masih tingkat satu itu tak akan mungkin bisa mengalahkan Mark yang sudah tingkat empat, belum lagi kumpulan teman Mark sudah ikut mengeroyoknya.

Renjun tersungkur ke tanah dengan luka lebam di sekujur tubuh, sementara para senior itu tetap memukulinya bagai binatang. Tak ada yang peduli dengan nasib Renjun. Perlahan, penghilatan Renjun berubah gelap, hingga beberapa detik kemudian berubah hitam sepenuhnya.

Renjun terbangun di kamar asramanya sendiri. Pemandangan karton putih berisi huruf dengan ukuran besar yang sengaja ia tempel di langit-langit kamar –karton yang dulu disarankan dokter padanya untuk terapi penyembuhan disleksia– menyambutnya seperti biasa.

Renjun lantas berusaha duduk meski kini rasa sakit menggerogoti tubuhnya seketika. Renjun memandangi tubuhnya yang kini sudah berbalut perban, tubuh yang dipenuhi lebam dan bekas luka itu dengan miris.

“Kau sudah bangun?” sebuah suara bariton nampak menyapa pendengaran Renjun.

“Chanyeol hyung?” Renjun nampak sedikit bertanya, kurang mengenali sosok yang tengah menyapanya itu karena pandangannya yang berkunang-kunang, mungkin efek karena Mark cs tadi tidak sungkan-sungkan memukul kepalanya.

“Ya, ini aku. Chanyeol.” jawab pemuda itu dari kejauhan, lalu dengan beberapa langkah mendekat ke tempar tidur Renjun dan duduk di sisi tepinya.

Gwenchana?” tanya pemuda yang nampaknya berusia pertengahan 20 tahunan itu dengan raut khawatir. Ia menyentuh dahi Renjun yang diperban, namun malah cicitan kesakitan yang keluar dari bibir Renjun.

“Akh, itu sakit hyung,” spontannya, dan Chanyeol seketika menjauhkan jemarinya dari tubuh Renjun. “Maaf, aku tak sengaja.” Katanya, dan Renjun hanya balas tersenyum tipis.

Ya, kenapa kau bisa seperti ini? Kau terlihat menyedihkan karena mencari masalah dengan kakak tingkatmu.” Chanyeol bertanya penasaran, namun hanya bibir kecut milik Renjun yang ia terima sebagai balasan.

No comment,” lirih Renjun sambil memposisikan dirinya agar terlentang di tempat tidur.

“Apa ini semua karena ayahmu?”

“Ah, atau ibumu? Mereka mengejekmu ‘kan?”

“Atau mereka mengejekmu yang bodoh di eksakta?” Chanyeol masih gesit bertanya meski Renjun nampaknya enggan menjawab, karena kini ia malah memutar posisi tidurnya agar membelakangi Chanyeol.

“Diamlah hyung, kau membuatku tidak bisa tidur.” ucap Renjun sedikit kesal namun Chanyeol tidak peduli. “Ani, kau tidak boleh tidur sebelum menjawab pertanyaanku. Dewa Zeus bilang kalau-“

“Berhenti mengatakan apapun yang berhubungan dengan Zeus padaku hyung, berhenti berpura-pura kalau dewa yang katanya ayahku itu mengkhawatirkanku. Aku sudah bosan.” sinis Renjun. Meski demikian, Chanyeol tau Renjun tengah terisak dibalik selimut tebalnya itu.

“Kau istirahat saja kalau kau memang tidak mau menceritakannya padaku. Maaf karena mengganggumu Jun-ah, semoga kau mimpi indah.” Chanyeol beranjak dari duduknya, mengelus kepala Renjun singkat, kemudian berbalik menuju arah pintu-

Grep!

Chanyeol tersentak. Kini pergelangan tangannya sudah ditahan oleh Renjun yang ntah kapan sudah dalam posisi duduk. Mata Renjun memerah, sisa air matanya pun masih menggenang di pelupuk.

“Aku akan menceritakannya, jadi tolong temani aku sebentar lagi hyung,” pintanya dan cepat Chanyeol mengangguk.

“Asal kau tidak menyuruhku membacakan dongeng sebelum tidur saja,” kelakar Chanyeol, hingga kini sebuah pukulan ringan bersarang di bahu pemuda itu.

Ya! Aku bukan anak kecil hyung!”

Renjun masih ingat dengan jelas bagaimana awal mulanya ia bertemu dengan Chanyeol- pemuda yang kini duduk di pinggir ranjang dan dengan setia mendengar semua ceritanya. Harus Renjun akui Chanyeol adalah pendengar yang baik, sosok hyung ideal yang akan selalu ada sebagai tempatnya bersandar dan mengadu. Seperti sekarang saat Chanyeol dengan serius mendengar cerita Renjun tentang bagaimana pemuda Huang itu dihina sebagai seorang penyakitan disleksia yang tidak pantas menjadi putra Zeus.

“Berani sekali mereka menghinamu, mereka patut dihukum!”  pekik Chanyeol menggebu-gebu saat Renjun selesai dengan ceritanya mengenai penyakit disleksia– suatu gangguan perkembangan baca-tulis yang ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar serta memahami pelajaran meskipun si penderita dalam keadaan normal atau IQ di atas rata-rata.

Renjun berucap sambil mengingat bagaimana ia dihina di sekolah manusia biasa hingga ia akhirnya memilih putus sekolah dan mendekam di panti asuhan sejak ibunya pergi ke surga. Keadaan sebelum ia dijemput ke sekolah Demigod – sekolah khusus keturunan setengah Dewa-  oleh Chanyeol beberapa bulan yan lalu. Namun meski sudah ada di tempat yang katanya agung ini pun, Renjun masih mendapat perlakuan yang sama-bahkan lebih parah karena fakta bahwa ia adalah putra Zeus, Raja segala Dewa yang bahkan tidak pernah menemui putranya sekalipun. Putra yang tak dianggap, begitu mereka menyebut Renjun selama ini.

Lebih lanjut, Renjun lanjut menceritakan bagaimana pertengkarannya dengan Mark – kakak tingkatnya yang tukang bully itu. Bermula dari disleksia, hinaan dan ejekan karena penyakit yang membuat Renjun buta huruf dan menjadi yang terbodoh di kelas, saling menghina ibu, juga  tentang bagaiman Mark menghina Renjun yang tidak diakui oleh Dewa Zeus.

“Perlahan, aku merasa ucapan Mark ada betulnya juga hyung. Mungkin Zeus tidak menginginkanku sebagai putranya,” lirih Renjun menutup kisah pilunya. Chanyeol langsung menggeleng tak setuju.

“Kau bodoh kalau percaya mempercayai si Mark itu. Aku sangat mengenal Zeus, dan Zeus tidak pernah menyesal punya putra tampan sepertimu,” tentang Chanyeol, dan sebuah tawa miris bergelora dari mulut Renjun setelahnya.

“Apa aku tampan? Hyung melucu saja, jangan menghiburku seperti ini,” mendengarnya Chanyeol menepuk kepala Renjun segera.

 “Kenapa? Karena kau takut tidak bisa membenciku yang berhubungan dengan Zeus ini?” dan sebuah anggukan pelan Renjun berikan sebagai jawaban pada Chanyeol yang mencelos, tak pelak mengingatkannya kembali tentang bagaimana bocah 16 tahun di depannya ini sangat membenci ayahnya sendiri-pengakuan Renjun ketika ia berontak saat Chanyeol yang adalah pengawal Zeus membawa Renjun ke sekolah Demigod.

“Ibuku bilang ia mencintai ayahku. Kau harus tau bagaimana bosannya aku karena ibu selalu bercerita tentang sapaan ramah ayahku di pagi hari yang membuatnya semangat kuliah. Katanya, ayah dulu menjadi tetangganya saat ia kuliah di Universitas Seoul-tetangga yang misterius. Padahal ibuku datang jauh-jauh dari China untuk belajar, tapi tetangganya yang bajingan itu malah menggoda ibuku,” Renjun bicara meluap-luap, membuat Chanyeol kini tertawa perlahan.

“Tapi kalau tidak ada si bajingan itu maka kau tidak akan ada di sini sekarang,” potong Chanyeol dan Renjun malah balik menatapnya nyalang. “Lebih baik begitu saja, lebih baik kalau aku ini tidak lahir ke dunia.” jawabnya yang seketika membuat badan Chanyeol kaku.

“Karena aku ibu berhenti kuliah dan harus kerja serabutan hingga tengah malam. Keluarganya di China mengusir ibu karena hamil di luar nikah, sedangkan ayah lari ntah kemana. Si Zeus bejat itu tidak bertanggung jawab atas ibuku. Bahkan setelah ibuku meninggal dibunuh makhluk raksasa Cyclops yang kuyakin ada hubungannya dengan Zeus pun, ia tidak kunjung datang. Aku sendirian di bumi, dihina, dibully, putus sekolah, dan bahkan penyakit sialan ini pun semua karenanya!” Ntah karena larut suasana, suara Renjun perlahan naik satu oktaf. Bahkan kini sudut matanya mulai basah.

“Aku selalu bertekad ketika aku menemukan Zeus, aku akan membunuhnya. Aku akan meyumpahserapahinya dan aku akan mengutuknya. Persetan kalau dia itu Dewa atau apa, pokoknya aku membencinya!”

“Dan kau, aku juga membencimu Park Chanyeol-ssi, aku benci karena kau ini suruhan Zeus. Aku benci semua tentang Zeus tanpa terkecuali.”

“Kau masih akan membunuh, mengutuk dan menyumpahserapahi ayahmu kalau bertemu nanti?” Chanyeol bertanya pelan, sementara kini Renjun menatapnya yakin. “Ya, aku akan melakukan itu semua kalau aku bertemu Zeus.”

“Huang Renjun, mungkin karena ini Zeus belum menemuimu meski ia khawatir setengah mati-“ Chanyeol mengantung kalimatnya, sementara tangannya yang besar mengelus sayang rambut cokelat terang milik Renjun.

“Zeus takut, putranya terlalu membencinya sehingga tidak mau melihat rupanya yang menyedihkan.”

Waktu terus bergulir. Tak terasa sudah lewat seminggu sejak insiden pemukulan Renjun oleh seniornya yang kini dihukum skorsing. Luka Renjun sudah cukup membaik, dan kini ia kembali disibukkan dengan persekolahannya sebagai seorang setengah Dewa.

Namun pemuda Hwang itu bisa dibilang sial, karena saat Renjun kembali setelah absent sakit pihak sekolah ternyata tengah mengadakan acara pelantikan Demigod tahun pertama yang baru, yang secara tak langsung berarti Renjun harus ikut upacara melelahkan di aula Olympus.

“Ku dengar, Dewa Zeus yang akan melantik kita.”

Renjun yang sayup-sayup mendengar pembicaraan dua orang gadis di belakangnya hanya bisa terkekeh, antara senang atau sedih karena ada kemungkinan kalau sebentar lagi mungkin ia bisa melihat wajah orang yang katanya ayahnya itu.

Tak berselang lama, acara pun dimulai. Beberapa ikrar dan pembacaan teks yang Renjun tak ketahui namanya berlangsung dari panggung yang terletak beberapa meter di depannya. Namun, atensi Renjun -bahkan bisa dibilang atensi hampir separuh demigod tingkat satu di aula- harus teralih saat tiba-tiba saja seekor elang terbang bebas di atas kepala mereka.

Rasanya Renjun ingin berteriak saja saat secara tiba-tiba elang itu sudah terbang menukik dan hinggap di bahunya, namun suara yang muncul di pendengarannya seakan mencegah sekaligus menenangkan keterkagetannya.

“Jangan takut, elang ini milikmu. Periksa kakinya, dan kau akan mendapat jawaban dari semua pertanyaanmu selama ini.”

Meski bingung, tapi toh Renjun tetap melaksanakan perintah suara yang cukup familiar di pendengarannya itu. Hasilnya ia menemukan sebuah gulungan kertas terkait di kaki burung, dan tak menunggu lama bagi Renjun mengambil dan membuka penasaran kertas itu.

“Maaf karena kau punya seorang Zeus sebagai ayah, maaf karena tak bisa menjadi ayah yang kau harapkan. Setelah ini ayah ingin kita bertemu berdua, saling bercerita seperti biasanya dan ayah akan jelaskan semuanya dengan rinci padamu. Ayah mencintai ibumu, dan ayah juga sangat mencintaimu. Maaf karena datang sangat terlambat. Setelah ini, kau bebas membunuh ayah, menyumpahserapahi ataupun mengutuk ayah sesukamu. Tapi percayalah, ayah selalu mengkhawatirkanmu nak.”

Mata Renjun membulat ketika membaca tulisan dalam kertas itu. Pikirnya mulai bingung dan bertanya-tanya.  Namun atensinya kini harus teralih karena acara sudah sampai ke acara inti, dimana Dewa Zeus akan memberkati mereka para Demigod.

Secara serentak mereka semua kini menengadahkan kepala ke atas, menuju panggung lebih tinggi yang ada di balkon yang masih tertutup tirai. Secara perlahan, tirai merah dengan ukiran keemasan itu terbuka, menampakkan sosok berwibawa Zeus yang menggenggam tongkat petirnya dengan mata tegas dan seekor elang yang bertengger di pundaknya.

Renjun hanya bisa menganga, sosok yang tak pernah terpikirkan olehnya kini berdiri disana hingga membuatnya terkejut bukan main.

“Chanyeol hyung?” ia menggumam pelan, sementara sosok yang selama ini ia kenal sebagai Park Chanyeol itu menatapnya dari atas sambil tersenyum tipis.

“Tolong jangan panggil aku hyung lagi nak. Wajah ayah memang muda, tapi begini-begini ayah ini adalah ayahmu. Jadi, tolong belajar memanggilku appa setelah ini, arraseo?”

-FIN-

Advertisements

2 thoughts on “[Write Your Mythology] Pater Meus

  1. Wow, tak kusangka Chanyeol… hm… bagus.. hanya kurang panjang hehe, konfliknya kurang gitu hehe. Aku akan baca ff yang lainnya 😊

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s