[Write Your Mythology] HELENA

irish-nct-helena

|   HELENA   |

|   Hansol (as Zeus) x Sejeong (as Helena)  |

|  Myth  x  Mystery  |  Vignette  |  PG-17  |

|  story by IRISH  |

currently appear: Zeus—the great Lord

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Ada cerita salah yang selama ini selalu dipercaya orang-orang. Zeus, adalah salah satunya. Mungkin, semua orang mengenal Zeus sebagai dewa agung yang memiliki banyak wanita di sisinya. Kadang, kisah percintaan Zeus malah terdengar agak tidak masuk akal.

Mulai dari pernikahannya dengan Hera—adiknya sendiri—sampai kisah mengenai bagaimana ia merebut beberapa pasangan dari dewa lainnya yang bahkan, dikatakan masih ada hubungan darah dengannya.

Mungkin juga, orang-orang berpikir jika Zeus adalah seorang dewa dengan hasrat seksual yang tinggi hingga ia bisa bersikap seperti itu. Tapi sebenarnya, selalu ada alasan di balik sikap seseorang.

Begitu pula dengan Zeus.

Semua itu, sebenarnya dimulai dari seorang wanita bernama Helena.

Memang, tidak banyak orang tahu tentang Helena. Karena dia hanya salah satu saudara yang dimiliki Rea—ibunda Zeus—dan tanpa sadar telah mengisi kekosongan yang ada di hati Zeus ketika ia diharuskan oleh Kronos untuk menjadi seorang dewa yang memimpin langit.

Tidak.

Zeus sesungguhnya tak pernah haus kekuasaan. Ia tidak pernah keberatan untuk memberikan kekuasaannya pada Poseidon, atau Hades, tapi kenangan yang Helena—wanita yang sebenarnya berusia delapan puluh tahun lebih tua daripada Zeus tapi tak pernah menua—tinggalkan di hidup Zeus, telah mengubahnya.

“Aku tidak hidup untuk sekedar menerima cinta. Untuk apa mencintai seseorang jika ia tidak punya apa-apa?”

Zeus masih ingat ucapan Helena satu itu. Kalimat yang Helena ucapkan kala ia menolak perasaan Zeus terhadapnya beberapa puluh tahun lalu. Zeus terlalu muda, katanya, dan tidak juga punya kekuasaan.

Ya, Zeus ingat saat itu ia memang menolak kekuasaan yang Kronos berikan padanya. Sebelum kemudian ucapan Helena membuat Zeus justru bersikap sebaliknya. Ia menginginkan semua kekuasaan itu, melebihi apapun.

Pribadi Zeus pun telah berubah. Ia tidak lagi jadi seorang dewa muda murah hati yang mengutamakan saudaranya. Semua harus jadi miliknya, itu yang Zeus inginkan kala itu.

Termasuk saat ia diharuskan untuk memiliki seorang pasangan. Penolakan Helena didapatkannya untuk kedua kali, alasannya kali ini adalah karena Zeus belum cukup berkuasa terhadap langit.

“Kau rupanya hanya seorang wanita yang haus kekuasaan.” Zeus berkata kala itu, ketika ia dengar Helena mengutarakan penolakan kedua kali terhadap dirinya.

“Kau bahkan belum cukup kuat untuk menggulingkan kekuasaan Kronos. Kau pikir kau pantas untuk memiliki seorang wanita sepertiku di sisimu?” balasan itu Helena berikan padanya.

“Aku bisa mengalahkan ayahku, Helena. Asal kau ada di sisiku.” Zeus akhirnya mengalah. Sungguh, ia sudah menginginkan Helena sepanjang hidupnya. Bagi Zeus, Helena lebih berarti daripada Rea.

Jika Rea, melahirkannya untuk sekedar melanjutkan keturunan karena Kronos sudah mulai tua dan tidak lagi sanggup membuat seisi langit bertekuk lutut padanya, maka Helena telah menjadi pelita dalam kehidupan Zeus sejak pertama kali ia terlahir.

Zeus adalah si jenius yang tidak melupakan satu detil kecil pun dari hidupnya. Ia ingat tiap detil suara Helena yang sejak kecil selalu menyapa rungunya tiap waktu. Helena yang menyenandungkan melodi lembut pengantar tidur, Helena yang berbisik demi menghapus ketakutan yang ada di benak Zeus.

Ia juga ingat hangatnya sentuhan Helena kala kulit seputih susunya menyentuh permukaan kulit Zeus. Zeus bahkan masih ingat aroma manis memikat yang bisa ia hirup dari surai keemasan milik Helena—yang sangat berbeda dengan Rea.

Helena adalah wujud kesempurnaan dalam pandangan Zeus. Ia adalah wanita yang telah menunjukkan pada Zeus tentang kasih sayang, dia juga yang telah membuat Zeus tumbuh menjadi seorang yang senantiasa bijaksana.

Bisa dikatakan, Helena adalah alasan di balik semua kesempurnaan Zeus sekarang. Tapi mungkin bagi Helena, Zeus tidak lebih dari seorang anak kecil yang menganggapnya ibu.

“Jika aku bisa membuat seisi langit tunduk padaku, apa kau bersedia untuk selamanya berada di sisiku, Helena?”

“Helena?” wanita berparas sempurna itu mengulang ucapan Zeus dengan nada sarkatis. Selama ini, Zeus tak pernah menyebut namanya. Tidak, Zeus bahkan tak perlu menyebut nama Helena untuk mendapatkan perhatian dari wanita itu.

Nyatanya, Helena sebenarnya sama kesepiannya dengan Zeus. Helena adalah seorang wanita yang tak pernah menikah, tidak juga punya seorang pria yang ia cintai. Lebih dari separuh hidupnya sudah ia habiskan bersama Zeus tanpa hubungan berarti.

Setidaknya, Helena menganggapnya begitu. Karena sekali lagi, bagi Zeus, Helena adalah segalanya.

“Mengapa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu? Kalau di kemudian hari aku berhasil menjejakkan kakiku di atas kekuasaan Kronos, bukankah kau tidak lebih dari seorang yang juga harus tunduk padaku?”

Perkataan Zeus sekarang membuat hati Helena mencelos. Memang, ia bukanlah keturunan dewa, bukan pula wanita berbakat yang lantas memikat hati salah seorang keturunan dewa untuk memilikinya.

Lebih tepatnya, Zeus adalah pria pertama yang telah mengikrarkan diri untuk mencintai Helena dan begitu menginginkan wanita itu. Tapi mengapa Helena justru berulang kali menolak Zeus?

“Kau benar, cepat atau lambat aku akan jadi salah seorang yang juga tunduk terhadapmu. Tapi bisakah kau buktikan jika kemungkinan itu benar adanya? Usiaku sudah menua, meski tubuhku tidak menua, Zeus. Dan aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu dan harapan konyol itu.”

Zeus mendengus, dipandanginya Helena dari ujung kaki sampai ujung kepala sebelum ia memejamkan kedua netranya. Jika ia tidak ingat wanita di hadapannya adalah bukti dari rasa ‘cinta’ yang orang katakan tidak pernah dimilik Zeus, mungkin sudah ia renggut nyawa wanita ini karena ucapannya terhadap Zeus barusan.

Tapi sekali lagi, wanita yang baru saja berucap adalah Helena. Dia adalah kelemahan Zeus, segalanya bagi Zeus. Dan melukai Helena merupakan sebuah dosa tidak tertebus yang tak boleh siapapun lakukan.

Jangankan sesama keturunan dewa, serangga yang membuat Helena terluka saja akan mendapatkan luapan amarah dari Zeus. Tiap inci dari Helena agaknya telah berubah menjadi candu yang Zeus inginkan sekarang.

“Dan apa yang akan kau berikan padaku jika ucapanku terbukti?” Zeus menantang. Di dalam benaknya telah ada puluhan rencana sempurna yang bisa ia gunakan secepatnya untuk merebut tahta Kronos dan membuktikan pada Helena jika ia layak disebut sebagai seorang dewa agung.

Senyum sempurna Helena pasang di paras sempurnanya. Sepersekian sekon, membuat Zeus terpana lantaran mendapati dirinya kembali terbuai akibat kesempurnaan pesona seorang Helena.

“Kau bisa memiliki diriku seutuhnya, Zeus.”

“Apa itu sebuah janji?” senyum menantang lagi-lagi Zeus pamerkan.

Sebagai jawaban, Helena mengangguk pelan.

“Ya, sampai dunia ini berakhir, kau akan memilikiku.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau masih juga berusaha membantunya?”

Helena, menghela nafas panjang kala mendengar pertanyaan yang baru saja diutarakan saudarinya, Rea.

“Waktuku tidak banyak lagi, Rea. Setidaknya aku harus melihatnya benar-benar menjadi seorang dewa yang agung.” vokal Helena terdengar, wanita itu menatap pantulan dirinya di cermin—yang telah terlihat menyedihkan.

“Kau bisa saja mengungkapkan perasaanmu padanya, Helena.” lagi-lagi Rea berkata.

Gelengan pelan Helena berikan sebagai jawaban.

“Tidak semudah itu, Rea. Kehidupanku akan serta-merta direnggut ketika Sang Pencipta tahu bagaimana perasaanku pada Zeus. Apa kau sudah lupa alasan yang membuatku terlahir ke dunia ini?” Helena mengingatkan Rea pada alasan konyol yang hampir seratus tahun lalu didengarnya sebagai alasan tentang mengapa Helena terlahir.

“Ya. Aku ingat, kau terlahir untuk membuat Zeus menjadi dewa yang pantas memimpin dan melindungi dunia ini.”

“Jika Zeus telah menjadi seorang dewa yang sesungguhnya, aku bisa mengakhiri hidupku yang terkutuk ini, Rea. Aku sudah lelah, hidup selama berpuluh tahun tanpa pernah bertambah tua. Aku benci melihat bagaimana kau menua sementara aku tidak. Aku benci melihat saudara-saudara kita mati saat aku bahkan tak bisa mengalaminya.”

Helena berkata dengan nada muram. Meski kehidupan para dewa dikatakan sebagai kehidupan yang abadi, sesungguhnya kehidupan semacam itu tidak akan pernah terjadi pada orang-orang seperti Helena dan keluarganya.

Masing-masing dari mereka, terlahir dengan sebuah takdir yang menyertai kehidupan juga kematian mereka nantinya.

Rea, terlahir sebagai dewa karena ia ditakdirkan untuk menjadi pasangan dari Kronos—sang dewa—dan melahirkan keturunan dewa lainnya. Lea—saudari mereka, terlahir dengan takdir untuk mengacaukan kehidupan di langit dan kemudian mati dengan tragis.

Dan Helena lahir dengan membawa takdir atas salah satu dewa agung, yaitu Zeus. Ia terlahir untuk membuat Zeus menjadi seorang dewa yang pantas. Itu juga alasan yang membuat Rea membiarkan Zeus untuk tumbuh bersama Helena, karena dipikirnya cara itu akan memudahkan Helena untuk menyelesaikan takdirnya.

“Jangan khawatir, Rea. Tidak akan lama lagi, aku akan menyusul Lea di Eden.”

Mendengar ucapan yakin Helena sekarang, Rea akhirnya bisa menyunggingkan sebuah senyum muram.

“Aku juga, Helena. Tidak lama lagi aku juga akan mengikuti jejakmu.”

“Apa kau masih punya takdir lain untuk diselesaikan?” tanya Helena kemudian, tahu jika masing-masing dari mereka akan tahu takdir apa yang diciptakan bersama kelahiran mereka tanpa harus menunggu pertanda dari Sang Pencipta, atau semacamnya.

Rea, tertunduk sejenak sebelum ia menatap Helena dengan mata berkaca-kaca.

“Aku masih harus melahirkan seorang dewi lagi, yang kelak akan menjadi pasangan dari Zeus karena kau meninggalkannya, Helena.”

Sekon itu juga Helena merasa hatinya telah diremukkan oleh Sang Pencipta.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Helena merintih kesakitan, tubuhnya sudah hancur di dalam, pikirnya. Senja kemarin, Zeus berhasil merebut tahta Kronos, membuat dewa berusia ratusan tahun itu kini bisa beristirahat di kediamannya bersama sang istri, Rea.

Usaha yang selama dua pekan ini dilakukan Zeus untuk merebut tahta sang ayah dengan cara yang bersih juga agaknya telah membuat Zeus menjadi pemimpin agung yang sesungguhnya. Dan ya, Helena merasa senang sekaligus sedih di waktu yang bersamaan.

“Dewa memanggilmu, Helena.” suara menggelegar dari seorang prajurit perang kepercayaan Zeus terdengar dari luar pembaringan Helena.

Meski keadaannya sekarang bisa dikatakan begitu menyedihkan, tapi Helena tak mungkin menghindar dari Zeus. Ia pernah melihat bagaimana Zeus meluapkan amarahnya—belasan tahun lalu saat mendapati Helena tengah dicemooh oleh keturunan dewa lainnya—dan sekarang Helena tidak tahu, Zeus telah tumbuh menjadi sosok seperti apa.

“Siapkan ruangan untuk kami berdua.” vokal Helena berusaha terdengar tegas, ia tengah menahan kesakitan, karena kehidupannya tengah direnggut.

Gemetar, Helena berusaha beranjak dari pembaringan, mengenakan sulaman sutra terindah yang ia miliki sebelum dengan tertatih-tatih Helena membawa dirinya keluar dari pembaringan.

Kesakitan makin mendera Helena saat ia mendekati pintu raksasa yang sekarang menjadi pembatas antara dirinya dan Zeus. Helena tahu, waktunya hampir tiba. Setidaknya ia ingin terlihat sempurna di saat-saat terakhirnya menghadap sang dewa yang mencintainya.

Sekuat tenaga, Helena berusaha berjalan dengan tegap. Menyembunyikan semua kesakitan yang menyerbu dan mencabiknya dari dalam.

“Kupikir kau melupakan janjimu, Helena.”

Bisa Helena rasakan bagaimana dadanya bergemuruh kala mendengar vokal sempurna itu masuk ke dalam rungunya. Melihat bagaimana gagahnya Zeus sekarang diam-diam membuat nyali Helena ciut, ia tak sanggup untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal pada Zeus.

“Kulihat kau sudah berkuasa sekarang, Zeus.” Helena berucap, dieratkannya kain putih yang membalut tubuh mungilnya kala sakit lagi-lagi mendera, ia tak ingin memamerkan ekspresi sakit sekecil apapun di hadapan Zeus.

“Bukankah sudah waktunya bagimu untuk menepati janji?” tanya Zeus, mempersilahkan wanitanya untuk singgah di permadani sempurna yang telah ia siapkan.

Ingin, Helena sungguh ingin menginjakkan kaki di atas permadani tersebut, tapi ia tidak bisa. Ia tidak ditakdirkan untuk menikmati semua keindahan ini. Ia bahkan tidak seharusnya masih hidup ketika Zeus naik ke atas tahtanya.

“Kupikir, aku tak bisa menepati janjiku.” rahang Zeus terkatup rapat saat mendengar ucapan Helena.

“Apa maksudmu? Kau sedang mempermainkan seorang dewa? Seorang sepertimu?” tanya Zeus dengan nada meninggi.

Helena tahu benar, ia tengah berhadapan dengan seorang dewa sekarang. Tapi di mata Helena, Zeus tetaplah seorang bayi yang puluhan tahun lalu ditimangnya penuh sayang, dibesarkannya penuh kasih hingga ia bisa merebut tahta sang ayah tanpa pertumpahan darah.

Tanpa sadar, senyum muncul menghiasi paras Helena.

“Aku tidak pantas untuk bersanding denganmu di sana, Zeus. Kau adalah seorang dewa, dan aku seorang budak. Kehadiranku di sini semata-mata hanya karena Rea menjadi—”

“—Aku tidak peduli, Helena. Aku mencintaimu. Bagiku, itu sudah cukup menjadi alasan bagimu untuk pantas berada di sisiku. Apa lagi yang kau inginkan? Aku sudah menjadi seorang dewa agung sekarang, semua orang telah berlutut padaku, bahkan ayahandaku sendiri. Apa lagi yang kau ingin dariku?” Zeus memotong, rupanya ia sudah cukup lama memendam amarah akibat tekanan yang Helena paksakan untuk tumbuh bersamanya.

“Bukan kau yang salah, Zeus. Tapi aku.” ucap Helena.

“Apa? Mengapa? Karena kau adalah saudara dari ibuku?” tanya Zeus.

Gelengan pelan Helena berikan sebagai jawaban.

“Aku tidak terlahir untuk memilikimu, Zeus. Kau mungkin menginginkanku, mencintaiku, seolah tidak ada wanita lain yang pantas untuk bersanding denganmu. Tapi bersama dengan seorang dewa bukanlah takdirku. Bukankah sudah kukatakan padamu, waktuku tidak akan lama lagi.”

Zeus terdiam, dipandanginya Helena yang sekarang menatap dengan tangis yang hampir pecah. Memang, Zeus sadar jika Helena tidak lagi seperti dulu. Ia tidak lagi bisa banyak menghabiskan waktu bersama Zeus, lelah, alasannya.

“Aku bisa membuatmu hidup abadi, Helena.” akhirnya Zeus berkata, sebagai seorang dewa, ia memang menggenggam kehidupan semua orang, begitu pula dengan kehidupan Helena.

Ketidak abadian, dipikir Zeus sebagai alasan yang membuat Helena enggan bersamanya. Tentu, Zeus tidak tahu kutukan apa yang telah terlahir bersama Helena.

“Aku mati, Zeus. Kau tak boleh bersamaku, aku adalah seorang wanita yang terlahir untuk membuatmu menjadi seorang dewa agung. Tidakkah kau mengerti? Aku mencintaimu, tapi aku tak boleh memilikimu.”

Tatapan Zeus kini membulat saat mendengar pengakuan Helena.

“Kau… mencintaiku?” ulangnya.

“Ya, aku mencintaimu karena aku memang ditakdirkan untuk mencintaimu. Sejak kau lahir di dunia ini, aku sudah tahu jika aku akan ditakdirkan untuk mencintaimu. Tapi aku tidak boleh mencintaimu, Zeus. Aku… aku terlahir untuk membuatmu menjadi seorang dewa. Dan setelah takdirku selesai, aku akan mati.”

Masih berkeras dalam ketidak percayaan, Zeus akhirnya mendengus kesal.

“Katakan saja jika kau ingin mengingkari janjimu dan—”

Ucapan Zeus terhenti ketika Helena tiba-tiba saja melepaskan helai kain yang menutupi tubuhnya. Kini, Zeus terperangah. Dilihatnya tubuh indah yang sejak dulu ia inginkan, tubuh yang tiap sentuhannya telah berhasil membuai Zeus hingga membuatnya bisa sampai di tahta setinggi ini.

Tapi bukan tubuh indah lah yang kini membuai netra Zeus, melainkan sebuah kehancuran. Seluruh tubuh Helena membiru, seolah bagian dari tubuhnya telah hancur di dalam.

Zeus bahkan mengabaikan bagaimana ia tidak seharusnya melihat tubuh telanjang seseorang yang bahkan belum menjadi miliknya. Agaknya, Helena juga telah kehilangan rasa malu. Ia tidak lagi menghiraukan aturan yang harusnya ia jaga ketika berhadapan dengan seorang dewa.

Tidak, lebih tepatnya Helena tak lagi ingin peduli.

“Apa yang terjadi padamu, Helena?”

Senyum kecil Helena sunggingkan, sementara kini Zeus melangkah mendekatinya, merengkuh tubuh ringkih Helena sembari membalut tubuh itu kembali dengan kain sempurna yang tadi sempat menipu manik Zeus.

“Sudah waktunya bagiku untuk pergi, Zeus. Meski aku tidak bisa menepati janjiku, tapi aku akan sangat berterima kasih jika kau tetap mengingatku.”

Zeus terdiam. Belum pernah dalam hidupnya ia menduga jika kehidupan seseorang—terutama yang dicintainya—akan berakhir kala ia menggapai kekuasaan yang selama ini tidak pernah ia impikan.

Bahkan, sekarang Zeus telah mengingkan kekuasaan itu layaknya ia menginginkan wanita yang ada dalam dekapannya.

“Katakan jika kau mencintaiku, Helena.”

“Aku mencintaimu, meski aku tidak lagi ada, tapi cintaku akan tetap merengkuh dan melindungimu, Zeus. Maka, jika kau ingin kita tetap saling mencintai, jagalah tahta yang telah kau dapatkan seperti kau menjagaku.”

Kalimat itu adalah kalimat yang diberikan Helena sebagai ucapan perpisahan, sebenarnya. Tapi tidak ada yang pernah tahu pasti, apa sosok Helena benar-benar ada? Sebab, eksistensi Helena tak pernah dibuktikan. Mengapa? Tentu saja karena Rea juga tak pernah mengutarakan apapun yang membuktikan keberadaan Helena. Ia mati beberapa tahun setelah kepergian Helena. Meninggal setelah melahirkan si bungsu Hera.

Dan juga, jika dikatakan Zeus memang pernah mencintai seorang wanita bernama Helena, tidak patutlah ia mengatakan ungkapan cinta sepenuh hati pada Hera yang menjadi pasangannya.

Tapi, semua ketidak mungkinan itu terkikis saat seorang dewi terlahir sebagai keturunan dari Zeus. Helene, namanya. Dan dia disebut-sebut sebagai dewi kesayangan Zeus meski ia tidak secantik Aphrodite, tidak sepandai Artemis, dan tidak juga sekuat Athena.

Helene, begitu dikasihi oleh Zeus karena perkara yang tidak bisa dijelaskan. Ada yang berkata, jika paras Helene adalah paras Helena—wanita yang pertama kali dicintai Zeus—dan kelakarnya pun sama persis.

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana cerita sesungguhnya, karena Helene adalah seorang dewi yang eksistensinya disembunyikan.

Bisa jadi, semua legenda yang tak diingat para dewa dan dewi itu benar adanya. Bisa juga, semua itu hanya bualan mengenai percintaan Zeus yang diumbar pada khalayak.

Atau mungkin, Zeus menghapus ingatan semua orang—kecuali dirinya—tentang Helena?

— FIN —

IRISH’s Notes:

SEK TA, di akhir kubaru ngakak gegara ngebayangin wajah sok polosnya Hansol dan kelakuan sengkleknya Sejeong berperan melodrama macem ini, WKWKWKWKWK. Terus kungakak lagi gegara ini cerita endingnya sama sekali enggak ada jelas-jelasnya. Helena teh siapa… WKWKWKWKWKWK. Udahlah, hanya Zeus alias Hansol yang tahu jawabannya.

Advertisements

7 thoughts on “[Write Your Mythology] HELENA

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s