[Write Your Mythology] Revenge

img_79281

Judul               : Revenge

Author             : Clovwen

 Cast                : Winwin, Xoa (OC)

Genre              : Myth, Medical

Rating             : PG-15

Mythological Creatures & God.

.

Bangunan yang terkenal dengan warna putih dan bau alkohol serta obat-obatan medis lainnya. Bagunan tempat bekerjanya seorang dokter muda asal China, dokter berbakat yang sama sekali tidak diakui di daerah asalnya. Bangunan itu adalah sebuah rumah sakit cabang di daerah Busan, Korea Selatan.

Dokter yang bernama lengkap Dong Sicheng itu dibuang pekerjaannya, keluarga Dong Sicheng sebagian besar duduk di bangku jabatan negeri. Menjadi dokter adalah pekerjaan rendah di mata keluarganya, tapi dokter yang kerap disapa Winwin itu punya sudut pandangan yang berbeda dengan keluarganya.

Pagi hari di musim gugur, Winwin menyeruput kopi hitam bersama salah satu rekan kerjanya, Jung Jaehyun, di kafetaria rumah sakit yang tidak terlalu luas. Atensi lelaki itu tertuju pada buku yang berada di atas meja. Mermaid, kata yang tertulis di sampul buku berwarna merah darah. Winwin mulai membuka halaman buku itu.

“Bukankah sedikit aneh jika seorang dokter membaca hal yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah sampai sekarang? Mermaid itu tidak ada. Kau membuang waktumu saja, Dokter Dong.” Ujar Jaehyun yang gemas dengan bacaan rekannya, ia memiliki pemikiran kritis jadi wajar saja ia berkata seperti itu.

“Jika mermaid tidak ada lantas mengapa di berbagai belahan dunia ada kisah mengenai makhluk setengah ikan itu? Kau harus lebih berpikir secara rasional, Dokter Jung.” Sahut Winwin dengan sengit, netra lelaki bersurai hitam itu tidak menatap Jaehyun. “Kau merusak pagiku.” Imbuh Winwin yang membuat Jaehyun memutuskan untuk pergi.

Winwin membiarkan Jaehyun pergi kemudian menghela napasnya. Lelaki itu kembali menyeruput kopi yang beberapa menit lalu ia abaikan, netranya beralih menatap langit mendung. Tanpa alasan, Winwin mengosongkan pikirannya. Tenggelam dalam lamunan namun hal itu berlangsung singkat, dering ponsel membuyarkannya.

Dalam hitungan detik, lelaki itu segera merogoh saku kemejanya. Membuka pesan yang masuk seraya membacanya. Raut wajahnya berubah. Tanpa menghabiskan secangkir kopi miliknya, Winwin segera menyambar jubah putih miliknya. Jubah kebanggaannya selama ini.

Winwin berlari di koridor yang tidak terlalu ramai, lelaki itu berlari sembari mengenakan jubah putihnya. Winwin menuju pintu masuk khusus untuk pasien yang datang dengan ambulans. Dia datang tepat waktu. Seorang perempuan terbaring lemas, Winwin serta perawat yang ada segera mendorong ambulance stretcher menuju UGD.

Sebelum sampai di ruangan, tangan Winwin menyentuh telapak tangan gadis yang ditemukan di pantai tanpa sengaja. Sangat tebal dan bersisik serta basah. Otaknya berkerja, memutar kembali pengetahuan yang ia dapat selama di perguruan. Psoriasis.

“Perawat Yang, siapkan methotrexate, sintesis retinoid, dan siklosporin.” Ujar Winwin sembari menoleh kepada Perawat Yang yang berada di sisinya, anggukan pelan diterima. Perawat Yang berlari memisahkan diri dari rombongan.

Gadis bersurai hijau itu segera ditangani setelah pulmotor terpasang sempurna, Perawat Yang sudah membawa obat yang Winwin minta. Kecepatan tangan Winwin dalam menangani setiap pasiennya memang patut diacungi jempol.

“Biarkan dia istirahat.” Ujar Winwin sembari memasukkan kedua tangannya ke saku jubah. “Psoriasis adalah penyakit yang tidak menular, jadi jangan tunjukkan ekspresi jijik kalian seperti sekarang. Jika kalian melakukan hal itu, dia akan merasa stress. Stress akan mempengaruhi psoriasis yang ia derita.” Ujar Winwin sebelum berpamitan.

Winwin memiringkan kepalanya sejenak seraya menatap gadis itu dari kejauhan, ia mengendikkan bahunya sebelum benar-benar pergi dari UGD. Namun lelaki itu segera kembali, bertemu dengan perawat yang menjaga UGD.

“Tolong jaga pasien penderita psioriasis itu dengan baik, jika sudah sadar bawa dia ke ruang rawat inap.” Winwin segera pamit, langkah pemuda itu menuju sebuah ruangan yang hanya untukknya. Setelah mengeser pintu, Winwin segera menjatuhkan tulang duduknya ke sebuah sofa yang berada di sudut ruangan.

“Aku seperti mengenalnya. Dia…” Winwin memejamkan mata sembari menegadah, keningnya berkerut. “Aku tidak bisa mengingatnya dengan baik, aku pernah bertemu dengannya. Aku yakin itu.” Winwin menghela napas perlahan sembari membuka matanya.

–++–

Winwin sudah merawat gadis itu selama satu minggu, gadis itu sudah sadar pada hari keempat sejak gadis bernama Xoa itu dirawat. Setiap pagi –jika cerah– mereka akan berjalan-jalan di sekitar danau dekat rumah sakit untuk terapi.

“Xoa, aku mimpi hal aneh lagi tadi malam.” Ujar Winwin memulai pembicaraan, memecahkan keheningan yang  kerap melanda jika mereka berjalan bersama. Winwin menatap iris biru milik Xoa. “Aku bermimpi jika kau berusaha menyakiti seseorang yang berenang di laut, seorang wanita cantik.”

“Aku juga sering bermimpi seperti itu, setiap malamnya hingga aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.” Xoa tersenyum dengan sendu tanpa menatap manik milik Winwin. “Aku merasa jika aku ini bukanlah orang yang baik.”

“Xoa, apa aku boleh mengatakan sesuatu tentang penyakitmu?” Tanya Winwin yang mendahului langkah Xoa seraya berhenti, lelaki itu berbalik menatap pasiennya itu. “Sebenarnya psoriasis adalah penyakit yang tidak akan bertahan lama jika pengobatan dilakukan dengan baik. Kau sudah mendapatkan pengobatan terbaik, tapi tidak ada kemajuan.”

“Aku tahu tentang hal itu. Semua rumah sakit tidak sanggup merawatku, keluargaku sangat frustasi karena hal itu.” Xoa tersenyum sembari menahan cairan bening keluar dari matanya. “Beberapa peramal yang dibayar oleh keluarga berkata bahwa aku telah dikutuk oleh Dewi Atargatis.”

“Dewi Atargatis? Dia adalah awal mulanya kemunculan mermaid di bumi, jadi kau dikutuk oleh mermaid?” Xoa mengangguk pelan.

“Menurut peramal, dahulu aku adalah salah satu penguasa di daratan barat. Karena itu iris mataku berwarna biru, iris biru ini adalah tanda kutukan yang diberikan oleh mermaid karena perbuatan di masa lalu yaitu, menangkap Dewi Atargatis lalu menyiksanya.”

“Lebih baik kita duduk di sana.” Ujar Winwin yang fokusnya tertuju pada sebuah bangku di tepian danau, mereka biasa duduk di sana jika merasa lelah. Xoa mengangguk pelan untuk menerima tawaran Winwin.

“Apa kutukan itu karena dendammu?” Xoa mengangguk pelang. “Dia membunuh orang yang kau cintai, orang itu adalah gembala yang dicintai Dewi Atargatis. Apa aku salah?”

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Apa kau ingin sembuh dan hidup seperti gadis di luar sana?” Xoa kembali mengangguk. “Sebelum itu, aku ingin bertanya. Apa motivasimu untuk sembuh dan apa tujuanmu jika kau sudah sembuh?”

“Aku mencintai seseorang. Aku merasa tak pantas bersamanya karena kondisiku sekarang karena itu aku ingin sekali sembuh dari penyakit kutukan ini sedangkan tujuanku adalah bisa berada di sampingnya hingga akhir hayat.”

“Baiklah. Bagaimana jika kita berjalan-jalan ke pantai? Aku ingin memperlihatkan keajaiban.”

Mereka berjalan di pantai, Winwin berniat membawa gadis itu ke kumpulan karang yang menyembul. Xoa sedikit kesulitan saat memanjat karang tersebut, netranya membola. Netranya segera beralih menatap lelaki yang berdiri di sampingnya.

Mer–” Manusia dengan tubuh bawah seperti ikan salmon itu tersenyum menatap Xoa sembari duduk di karang yang lebih jauh dari tempat Xoa berdiri, gadis itu bergetar.

“Xoa, maafkan aku.” Ujar Winwin sembari menatap gadis itu. “Aku tidak akan membiarkan orang yang telah melukai mereka terus hidup dan bahagia dengan orang yang dicintainya. Dan hanya ini yang bisa menyembuhkanmu.” Atensi gadis itu tersita oleh Winwin.

“Kau harus mati di tangan mereka, itulah cara melepaskan kutukanmu.” Winwin menatap tajam gadis di sampingnya, iris matanya nampak berkilau. Seperti ada kekuatan magic yang telah menyihirnya.

“Tap–” Ucapan Xoa belum berhasil mengatakan satu kata namun Winwin segera menyela.

“Walau kau menyakitinya di masa lalu, tapi dendam tetaplah dendam. Kutukan itu sama sekali tidak memuaskan mereka. Kau harus mati, Xoa!” Ujar Winwin sembari menarik salah satu sudut bibirnya, Winwin mendorong Xoa dengan keras.

Mermaid mulai bernyanyi. Nyanyian itu mengandung kekuatan mistis. Xoa terpesona olehnya hingga kakinya melangkah tanpa ada komando dari otaknya. Winwin tersenyum puas, namun dia bukanlah Winwin yang sebenarnya.

Sebelum lelaki itu tiba di Korea Selatan, kapal yang ia tumpangi tenggelam karena badai besar yang tidak diprediksi sebelumnya. Winwin berhasil selamat karena seekor mermaid menyelamatkannya, namun dengan kekuatan mistis yang terkandung dalam nyanyian yang didengar Winwin waktu itu membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya.

Winwin telah dirasuki. Seorang mermaid dikatakan tidak bisa berbicara seperti layaknya manusia oleh karena itu, mermaid memanfaatkan Winwin untuk mencari reinkarnasi gadis penyiksa Dewi Atargatis agar dendam kaum mermaid terbalas dengan sempurna.

Xoa, gadis yang merupakan target kaum mermaid menemui ajalnya ketika bisa bertemu dengan orang yang tidak jijik dengan keadaannya, Winwin, ketika ia merasakan indahnya jatuh cinta kepada lawan jenis. Gadis itu tenggelam.

Saat itu pula, Winwin kehilangan kesadaran. Lelaki itu tergeletak lemas di atas karang. Mermaid yang masih duduk di atas karang tersenyum lalu kembali ke laut. Beruntung sekali, Winwin tidak menjadi korban mermaid setelah Xoa. Mermaid membiarkannya tetap hidup.

END

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s