[Ficlet-Mix] Take A New Step

1f821307224bc95a1ca59ef4f08927d01

Take A New Step

Written by AirlyAeri/AirlyAi © 20170124

Starring by Kim Doyoung [NCT’s] – Emerald Lee [OC] – Qian Kun [NCT’s]

Genre : AU, Romance, Hurt/Comfort | Rating : General | Length : Ficlet-Mix

Back sound : EXO’s Chen & Chanyeol – If We Love Again

Previous : Stay On Last Step

***

“Berhentilah untuk tetap diam di langkah terakhirmu.”

.

 [1] Emma

Emerald Lee memfokuskan dirinya pada laptopnya ketika perpustakaan kampus begitu ramai. Matanya yang sayu kini agak cekung lantaran kurang tidur dan nyatanya ia sama sekali tak peduli. Kegiatan yang telah ia lakukan selama dua minggu terakhir setelah keluar dari klinik adalah kembali belajar dan bekerja paruh waktu—seperti biasanya. Kenyataannya, pada akhirnya Emma tak bisa mengalihkan seluruh pikirannya pada satu hal.

“Emma, hentikan ini.”

Pandangan Emma teralihkan pada sosok Kun yang kini sudah duduk di sampingnya setelah tangan kokohnya segera menutup laptopnya tanpa aba-aba. Secangkir kopi panas yang awalnya tergeletak di atas meja juga langsung digeserkan jauh-jauh dari Emma.

Lalu lelaki itu berkata, “Kau belum pulih sepenuhnya dan jangan forsir dirimu seperti orang gila. Deadline sudah berakhir dan sekarang sudah memasuki minggu tenang ujian, jadi istirahatlah. Kau sudah minta izin pada atasanmu untuk mengambil cuti beberapa hari?”

“Aku sehat, Kun. Tidak apa-apa.”

Kun mendengus. Jelas tahu bahwa orang di hadapannya sedang miring otaknya. “Matamu kurang tidur, Em.”

“Aku baik-baik saja.”

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kim Doyoung menyakitimu?”

Kini manik mata Emma tanpa sengaja terkunci rapat dalam kelamnya manik mata Kun. Membuat lelaki itu segera menangkap rasa kecemasan bercampur rasa perih dalam benak Emma.

Gadis itu terluka hatinya.

“Tidak,” ujar Emma dengan nada bergetar. Kemudian ia menunduk seraya bangkit dari duduknya untuk membereskan semua barangnya di atas meja. “Lebih baik aku pulang saja. Sampai jumpa.”

Kun hanya diam mengamati gerak-gerik Emma yang bersiap pergi. Padahal ia juga tahu bahwa gadis itu sedang berbohong.

Berbohong padanya dan pada dirinya sendiri.

***

[2] Doyoung

“Kau melukai Emma?”

Doyoung yang sibuk berkutat dengan gelas kopinya selama sepuluh menit terakhir duduk berhadapan dengan Qian Kun, akhirnya mendongak dan menatap Kun dengan tatapan yang tak terdefinisikan.

“Bukankah begitu jika kau melihat keadaan Emma sekarang?”

Pertanyaan Doyoung bagi Kun memang terdengar ambigu, tetapi bagi Doyoung itu bukan apa-apa jika mendengar pertanyaan awal yang diajukan oleh Kun. Tanpa bertanya mengenai bagaimana keadaan Emma pada lelaki di hadapannya juga sudah jelas bahwa gadis itu terluka. Terluka karena dirinya.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya?”

Kali ini, Doyoung mendengar nada Kun melemah. Jelas sekali menuntut akan penjelasan pada dirinya. Membuat Doyoung merasa miris pada dirinya sendiri lantaran merasa kalah telak dengan Kun.

“Hubungan kami telah berakhir,” ucap Doyoung dengan nada lirih. “Aku sekarang benar-benar terlihat pengecut ‘kan?”

“Kenapa?”

“Apakah pertanyaanmu perlu dijawab? Sepertinya simpan saja pertanyaan itu, atau lebih baik tujukan pertanyaan itu pada dirimu sendiri.”

Nyatanya Doyoung memang mengatakan hal itu bersungguh-sungguh. Bukan maksud untuk menyalahkan siapapun, tetapi bagi orang yang mengerti situasi ini juga sudah pasti tidak akan bertanya kenapa. Meski yang bertanya adalah seseorang berstatus teman yang dirasa begitu melindungi kekasihnya dulu.

“Apa karena aku?”

Pertanyaan terakhir Kun dibiarkan menggantung oleh Doyoung. Ia tak ingin menjawabnya, sungguh. Bukan apa-apa, tetapi jika ia salah menjawab malah meninggalkan konklusi penuh kesalahpahaman. Jika boleh menyalahkan, maka Doyoung lebih memilih menyalahkan diri sendiri ketimbang menyalahkan orang lain.

Tapi, bolehkah Doyoung menyalahkan seseorang untuk saat ini saja?

***

[3] Point of Everything

Awalnya, Doyoung pikir ia akan kembali merenungi kesalahannya waktu lampau, kalau saja ia tidak melihat Emma yang kini sibuk menyesap ramyeon di dalam minimarket. Dengan jaket tebal yang membungkus kaus hitamnya dari angin musim dingin, gadis itu masih sempat menikmati makanan instan tersebut.

“Kau makan dengan baik ‘kan, Young?”

Doyoung mengulas senyum mendengar sepatah kalimat yang meluncur dari bibir Emma untuk pertama kalinya setelah sepuluh menit terakhir. Young. Bagaimana bisa cara Emma memanggil lelaki itu tetap sama setelah beberapa waktu terakhir ini?

“Ya.”

Terdengar lagi Emma yang menyesap mienya dengan lahap dan menghabiskan kuah yang berlumur keju leleh dan potongan sosis ayam. Membuat lelaki itu kembali mengulas senyum seraya beralih pandang ke arah colanya. Bahkan selera makan Emma masih sama, terutama ramyeon rasa kimchi campur keju dan sosisnya.

“Bagaimana kabarmu, Em?”

“Seperti yang kau lihat biasanya di kampus,” ujar Emma setelah selesai melahap habis kuah mienya juga. “Hm… kau tampak lebih kurus, Young. Benar ‘kan kau makan dengan baik?”

Apakah Doyoung masih boleh menerima rasa khawatir dari Emma?

“Ya,” ucap Doyoung singkat. “Aku hanya sibuk beberapa waktu belakangan ini. Tidak apa-apa.”

Emma hanya mengulas senyum, lalu menunduk.

“Berhentilah untuk tetap diam di langkah terakhirmu, Kim Doyoung.”

Doyoung menoleh ke arah Emma yang kini mendongakkan kepalanya, menahan rasa panas di balik sepasang maniknya. Membuat lelaki itu mengerut kening terkejut.

Apakah kesempatannya sudah sirna?

“Aku selalu bahagia bila bersamamu, aku selalu merasa bahwa kau adalah yang terakhir dalam hidupku, aku juga selalu berpikir suatu saat hubungan kau dan aku kemarin akan melebur menjadi kata ‘kita’,” tutur Emma. “Tetapi, untuk sekarang sepertinya sudah tidak mungkin lagi. Menyedihkan memang tapi mau bagaimana lagi. Aku juga tahu alasanmu memutuskanku waktu itu bukan karena kau terlalu takut untuk menyakitiku.”

Doyoung mau tak mau ikut menunduk. Emma sudah mengetahuinya?

“Qian Kun. Benar ‘kan?” ungkap Emma dengan seringai mirisnya. “Aku tahu, sejak awal kau begitu kesal padanya. Tetapi aku tak pernah menanggapinya, juga tidak berpikir bahwa hal ini akan menjadi inti permasalahannya. Kun memang sejak dulu melindungi dan menjagaku, makanya kadang kau merasa bahwa kau tak pernah bisa melindungiku seperti yang Kun lakukan padaku. Aku tahu ini pernyataan paling jahat.”

Sama sekali tidak jahat, memang kenyataan seperti itu. Doyoung membatin hal ini.

“Bagaimana ini? Kenyataannya kita sama-sama bodoh.”

Emma tertawa pahit dan satu titik airmata berhasil jauh dari genangan pelupuk matanya. “Kita sama-sama tidak bisa memahami perasaan masing-masing, kau yang terlalu memikirkan diriku dan aku yang hanya berpikir bahwa bila aku sudah bahagia maka kau juga akan bahagia tanpa memikirkan perasaanmu sesungguhnya. Dangkal sekali ya?”

Hening. Doyoung bahkan dapat melihat di balik kebisuan Emma setelah penuturannya ia menangis.

“Maafkan aku, Young. Dan lanjutkan langkahmu, kau tidak boleh menungguku lagi.”

“Apa kesempatanku sudah habis?” tanya Doyoung dengan suara parau.

“Tidak ada kesempatan di antara kita. Aku tidak boleh mengharapkanmu kembali dan kau tak boleh berharap lebih padaku. Ingat apa yang telah terjadi di antara kita, kenyataannya aku yang telah menyakitimu lantaran tak mengerti perasaanmu sesungguhnya.”

Beku.

Udara dingin entah mengapa semakin menjalar dan membungkus erat suasana di antara Emma dan Doyoung, membuat mereka kembali tenggelam dalam pikirannya masing-masing dan saling merenung. Apa lagi yang ingin diharapkan dari sepotong harapan samar yang perlahan sirna?

***

[4] On Winter Sky

Sepanjang perjalanan singkat dari minimarket, keheningan bercampur hawa dingin terus saja membelenggu suasana antara Emma dan Doyoung. Salju kembali turun, membuat mereka sama-sama memilih mengeratkan mantel dan syal.

“Aku harus pulang, Young. Sampai jumpa.”

Emma menoleh hendak pamit ke arah Doyoung yang membuat lelaki itu seketika menoleh. Gadis itu mengulas senyum kecilnya sebelum melangkah menjauhi lelaki itu.

“Emma.”

Emma kembali menoleh ke arah Doyoung yang masih berdiri di tempatnya, menatap si lelaki dengan pandangan bertanya.

“Jika ada secuil harapan samar terakhir di antara kita, bolehkah aku menaruh pengharapan di sana?” tanya Doyoung.

Emma tersenyum kecil. “Itu pilihanmu, tetapi kusarankan lebih baik taruhlah harapanmu pada hati yang lain. Aku tak mau kita jatuh ke lubang yang sama dan saling menyakiti lagi.”

“Kalau aku nakal dan tetap memilih untuk menaruh pengharapku di tempat yang sama, bagaimana?”

Gadis itu berpikir sejenak, lalu membalikan posisi tubuhnya agar menghadap penuh pada Kim Doyoung. Ia menarik napas panjang dan menghelakannya perlahan. “Aku tak suka melihatmu menunggu, aku benci menunggu. Jika itu pilihanmu, lebih baik simpan pengharapanmu dan saling belajar untuk mencintai seseorang yang lebih baik. Jika Tuhan memberitahu bahwa jalan terakhirmu adalah untukku, aku akan mempertimbangkannya lagi.”

Doyoung memandang Emma sebentar, lalu berujar, “Kalau begitu, tetaplah menjadi bahagia dalam arti sesungguhnya, Em. Aku akan selalu mendoakanmu.”

Emma terhenyak sebentar, membiarkan rasa panas kembali menjalari area kelopak matanya. Lalu mengangguk paham. “Ya, semoga kau juga bahagia dan semoga kau mendapatkan cinta yang lebih baik dari apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Ayo kita saling berteman dan berhenti saling menyakiti. Aku akan selalu berdoa untukmu.”

Perlahan Emma dan Doyoung saling berbalik dan melangkah pergi dengan perasaan yang berkecambuk dalam diri masing-masing. Saling berusaha mengerti bahwa mereka harus sama-sama belajar mengenai hati, cinta, dan kehidupan meski luka menoreh lebar di dalam benak. Bahwa selama hidup harus terus berjalan seiring dengan perjalanan masa, meski mereka sama-sama tahu bahwa airmata telah mengalir dalam pelupuk mata seiring langkah yang mereka ambil.

Mereka juga tahu bahwa langit musim dingin menjadi saksi segalanya. Saksi mengambil langkah baru dan berjanji akan saling belajar dalam hidup ini seraya menaruh kembali secuil pengharapan samar diam-diam dalam diri masing-masing.[]

-fin.


Galau amat yha hidup Emma sama Doyoung, heran ade. Heu. /ditabok/ btw, romansa drama Emma x Doyoung dilanjut ga nih atau mau mengambil langkah baru bersama Qian Kun? Ahay ahay, Emma banyak yang naksir, bisa kali bagi tipsnya biar Airly buruan dapet jodoh /ga/.

Selamat baca dan semoga suka. Review dinanti. Hehehehe #EdisiSetorMuka.

Sekian dan terima kasih! ^^

-Airly.

 

 

 

 

Advertisements

16 thoughts on “[Ficlet-Mix] Take A New Step

  1. Aiiiii
    Saya tim kunnnn
    Sebab ini terlalu galau saya lemah sama yg galau2 hahaha. Btw dialog2 Airly puitis sekalee ufufu aku kadang ragu kalau masukin vocab baru ke dialog soalnya takut ketinggian dan jadi kurang real kalau dipake ;-;
    Keep writing!

    Liked by 1 person

    • Kyaaa tim kun. Padahal niatnya mau lanjutin galaunya emma doyoung /plak.
      Adaw ini ga puitis kak aku soalnya kalo ngetik ga pernah mikir /digiles/
      Makasih ya kak udah baca dan ninggalin review :*

      Like

  2. Sudahlah……hentikan segala drama romansa ini. terlalu pelik untuk dihadapi, juga terlalu sakit untuk ditinggalkan…. Sementara don mau mikir2 dulu mau dibawa kemana hubungan emma doyoung ini, karena nyatanya saya sangat amat berharap ada titik cerah di antara mereka mba……..

    Apakah ini efek mendung atau emang don bacanya lagi mode galau galau manja gitu ya? Kok rasanya hati ini ikutan tersayat melihat interaksi emma doyoung…………….. biarkan kali ini dd komen waras kak, bodo amat lah pokoknya emma kudu balikan sama doyoung…. Harus, kudu, wajib………

    Kesampingkan kun, karena bisa saja rasa peduli pria itu hanya sebatas teman dekat, tanpa bisa melindungi emma dalam arti sesungguhnya, dalam artian saling mencintai…… Biarkan hubungan emma doyoung sepert ini, saling berharap walau akan berakhir palsu dan kefanaan semata.

    Wassalam,
    Donna yang mengharapkan kesirnaan sosok Kun dari kehidupan Emma.

    Sekian.

    Jjang thor daebak jinjja.

    Liked by 1 person

    • Don katakan ini komen apa ff drabble /plak/.
      Yha kamu dah mikir emma doyoung akhirnya ditarik ulur padahal kesian mereka sudah terlalu galau memikirkan bagaimana kisah selanjutnya. Titik cerahnya aku buat deh, tapi itu sisa kenangan masa lalu /ditabok/. Kun padahal tidak sejahat itu don, dia bukan orang macem begitu don…… Dan tolong biarkan mereka menatap masa depan baru tanpa menoreh luka harapan samar penuh kepalsuan semata. Sekian,
      Airly si penentu hidup emma doyoung kun di fanfiction.
      Terima kasih udah baca dan ninggalin review don….. Mwah :*

      Liked by 1 person

  3. KAKLYQUH KYAAAAAAAAAAA DD UDAH BACA DUND KEMAREN MAREN /sengaja diingetin lagi biar kamu gondok ehe he he/

    udah mba emma sama mas kun aja sana, biarkan mamas young berpaling pada dd milan yang ucul cem njel :3 tyda bole phpin orang kak dosa loh nanti simbah murka terus kamu dikutuk jadi jomblo 40 taun, mau?

    Liked by 1 person

    • IYA KAMU UDAH BACA SEBELUM DI POST, AIRLY SUDAH ANTISIPASI SEJAK AWAL KAK -___-
      Liat nanti aja kak, airly si penentu hidup emma doyoung kun di fanfiction bepum menentukan…..
      Makasih kak udah baca dan ninggalin review mwah :*

      Like

  4. Kun!!! Aku di tim Kun! Gak mau tau harus kun! Bener kata emma, doyoung gak boleh berharap banyak sama emma. Manusia punya batas waktu menunggu dan itu sakit banget….
    Oke, bergalau ria di ultah doyoung… /mojok di pinggiran bareng Ten/

    Liked by 1 person

  5. Kayaknya baca ceritanya ini sama dengerin lagu yang di cover chanyeol sama chen yang judulnya if i love again (다시 사랑한다면) cocok nih,, artinya dalem banget… btw ceritanya kereeeeennnn

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s