[Vignette-Mix] LOL Things on Long Trip

ltolt

LOL Things on Long Trip

a special b’day fic from nctffi staff

fic by: angelaranee; ayshry; Berly; Febby Fatma

| Length: ±800wc | Rating: PG |

 Genre: AU, Comedy, Fluff, Romance, slice of Hurt/Comfort.

Rules : no plagiarism !

.

.

[1]

Sama sekali tidak lucu. Seorang bintang besar yang sedang naik daun harus membawa sepeda tua yang bannya bocor itu sama sekali tidak lucu. Lagi pula Doyoung tidak ingat kalau ada jadwal seperti ini di liburannya. Sudah begitu Yuta dan Taeyong yang tadi pergi bersamanya justru menghilang entah kemana.

Doyoung sama sekali tidak takut tersesat. Ponselnya punya fasilitas GPS yang bisa digunakan untuk menuntun jalan pulang, dia justru takut kalau Yuta dan Taeyong yang tersesat, atau mungkin diculik penggemar fanatik mereka.

“Akan aku ingat ini. Haram hukumnya pergi hanya dengan Yuta hyung dan Taeyong hyung.” Doyoung mengangguk angguk sendiri sambil berjalan menteng sepeda tua yang kalau Doyoung tidak salah ingat namanya Ontel. Entah apa arti nama itu, Doyoung tidak perduli, tapi yang namanya sepeda tua biarpun terawat juga tetap saja tua. Baru diajak jalan beberapa kilometer sudah membuat masalah untuknya.

Sedang suntuk-suntuknya memikirkan sepeda tua yang ia bawa sebuah pesan masuk membuatnya makin senewen. Bunyinya begini, “Doyoung-ah, kami sudah pulang lebih dulu. Tadi Yuta sempat tidak enak badan, kau pulang sendiri bisakan?”

Hampir Doyoung buang ponselnya saking kesal membaca pesan itu. Tapi GPS adalah hal terpenting, nanti saja. “Nanti akan aku buang ponsel Yuta hyung!”

Sebenarnya hari ini Doyoung tidak berniat untuk pergi kemana-mana, Yuta dan Taeyong yang mengajaknya keluar dengan alasan ingin menikmati waktu bebas yang mereka dapat selama menunggu jawal rehearsal untuk konser SMTOWN besok sore. Doyoung terpaksa ikut karena yang meminta adalah dua hyung-nya, sisa yang lain memilih untuk istirahat.

Terpaksa Doyoung menghubungi manajernya, berharap untuk mendapat bantuan atau sekedar simpatik. Barang kali berminat untuk menjemput Doyoung.

“Halo, hyung ban sepeda yang aku bawa kempes, aku harus bagaimana?”

“Ya isi anginnya. Begitu saja tidak tahu.”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Dimana aku harus mengisi anginnya?”

“Kau bawa ponsel?”

“Ini sedang aku gunakan untuk menelponmu.”

“Oh ya, maaf-maaf. Kalau begitu cari saja caranya di internet.”

“Kau sama sekali tidak membantuku.”

“Kalau begitu jangan telepon aku.”

Dan panggilan Doyoung putus tanpa pamit. Menyebalkan juga kalau disaat genting seperti ini justru dipermainkan. Sekali mencoba untuk menelepon seseorang. Kali ini orang yang baru saja memberi kabar meninggalkannya. Lee Taeyong.

“Halo, hyung ban sepeda yang aku bawa kempes, aku harus bagaimana?”

“Ya isi anginnya. Begitu saja tidak tahu.”

Doyoung menatap layar ponselnya heran, kenapa bisa jawaban dua orang itu sama persis disaat seperti ini.

“Masalahnya aku tidak tahu harus mengisi anginnya dimana. Lagi pula aku tidak bisa berbahasa inggris, apalagi Indonesia.”

“Tanyakan saja pada internet, dia tahu segalanya. Sepedamu itukan sepeda tua siapa yang tahu kalau internet punya solusi lain.”

Kali ini bukan Doyoung yang memutus panggilannya sepihak, melainkan Taeyong.

Menuruti perkataan Taeyong akhirnya Doyoung mempertanyakan cara untuk menyelesaikan permasalahannya dengan sepeda ontel ‘tua’ pada internet. Tapi bodohnya dia karena mengikuti saran Taeyong; ia merasa jadi orang paling bodoh.

“Yang namanya ban kempes satu-satunya solusi ya hanya isi angin. Kenapa pula aku percaya pada Taeyong hyung. Bodohnya aku.”

Benar-benar tidak lucu. Seorang Doyoung membawa sepeda tua yang bannya kempes itu tidak lucu. Lebih tidak lucu lagi karena tidak ada satupun orang disekitar yang berniat membantunya dalam kondisi seperti ini. Bahkan tidak ada satupun orang yang mengenalinya saat ini. Entah mengapa Doyoung jadi merindukan kehadiran penggemar yang riuh – dan bukannya jalan padat yang riuh. Setidaknya Doyoung yakin penggemarnya tidak akan membiarkan ia menenteng sepeda ontel kempes seperti sekarang.

“Jakarta itu cukup mengerikan rupanya. Akan aku ingat-ingat untuk tidak pergi tanpa pemandu wisata di kota ini.”

_ _ _

[2]

“Saya menemukan kamu terdampar di pinggiran Pantai Baron, saya kira kamu sudah meninggal, tapi ternyata saya masih menemukan tanda-tanda kamu masih bernapas, makanya saya bawa saja kamu kemari. Saya pikir ada, ya, orang gila seperti kamu yang nekat berenang di sana. Kamu ini orang asing, alien yang terdampar, atau memang sudah satu darah turunan dengan makluk bernama ikan duyung? Orang kami atau touris saja tidak ada yang berani berenang hingga ke tengah laut di daerah Pantai Selatan Jawa. ”

Ocehan panjang lebar dengan aksen asing milik seorang gadis, yang entah apa artinya—aku tidak mengerti ia berbicara apa—terkuar menerjang telinga kala tak lama aku telah membuka kedua mata. Entahlah apa yang terjadi, yang jelas ini bukan tempatku, rumah yang terbentuk dari kayu-kayu dan jerami ini, aku tidak begitu mengenalnya, bahkan, lingkungan sekitar yang kurasa adalah atmosfer hutan, sama sekali tak biasa kutemui. Wajah gadis yang sedari tadi mengoceh pun tampak sangat asing di pandangan.

Kupegangi kepalaku yang terasa sangat-sangat pusing, ia menyadari aku kesakitan, lantas menghampiri, “Kamu ndak apa-apa?” katanya.

Aku harus merespons bahasanya seperti apa? Bahasa yang ia gunakan benar-benar tidak kumengerti.

Are you alright?” ulangnya lagi.

Aku menangkap suaranya, lantas aku pun ternyata mengerti dengan bahasa yang ia gunakan kali ini, “You can speak English?” kataku spontan.

Just a little.”

Then, please, use this language to speak with me.”

“Siapa kamu, nyuruh-nyuruh saya seenak ndas-mu?”

I don’t need merchandise, Miss, I need to remember who am I? Why I’m here? And, you aren’t a rebel government, right?

Gadis itu mendecih, memasang ekspresi datar, sedatar alis tebal sinchan saat memandangiku. Bukannya berterimakasih karena sudah ditolong, tapi malah kurang ajar, mungkin begitulah yang saat ini ada di dalam pikirannya.

Whatever, Sir….”

Where am I?”

“Baron Beach, Yogyakarta-Indonesia.”

.

.

.

Sudah sedari seminggu lalu aku terjebak di tempat ini, tapi hingga sekarang, belum ada klu yang dapat aku temukan di dalam otak tentang ingatanku mengenai identitasku. Kata ‘dukun beranak’ di sekitar daerah ini, aku tengah mengalami penyakit anemia : hilang ingatan. ‘Dukun beranak’ itu memangnya dokter macam apa, sih, di negara ini? Kata Ambarsari—gadis java yang menemukanku terdampar itu, ‘dukun beranak’ adalah salah satu jenis dokter juga di Indonesia. Tapi kata Ambarsari lagi, anemia adalah penyakit kurang darah, bukannya hilang ingatan, aku jadi ragu…. Lalu ia berinisiatif akan membawaku ke Kota Yogyakarta untuk diperiksa lebih lanjut di rumah sakit sungguhan.

Banyak hal baru yang aku temukan, selain perahu-perahu nelayan yang dijangkarkan di pantai ini—perahu yang salah satunya sedang aku duduki sekarang. Dari permainan asing yang sering anak-anak sekitar mainkan di kala sore hari, ‘ancak-ancak alis’, ‘udan barat’, masih banyak lagi dan yang kuingat hanyalah dua nama permainan itu—yang rasanya dulu sewaktu kecil aku pun pernah memainkannya, tapi aku tidak ingat di mana dan kapan? Kemudian… bahasa, aksen penduduk sekitar, lagu yang mereka dengarkan juga baru kali ini rasanya aku dengarkan. Kata Ambarsari itu namanya lagu Keroncong Jawa dan Dangdut. Semilir angin menerpa lembut tubuhku yang berbalut kaus dan celana pendek polos, meneduhkan sedikit rasa gelisah akan kebingungan tentang identitasku saat ini.

“Mas Doyok!”

Sebuah teriakan membuyarkan semua lamunanku, kenapa di saat iris ini sedang dimanja oleh panorama pantai senja ada saja yang datang mengganggu.

“Mas Doyok… saya mencari kamu kemana-mana. Saya kira kamu tenggelam lagi, menjadi ikan duyung dan tidak akan kembali.”

“Saya ada di sini, tidak kemana-mana, saya bukan ikan, saya sedang lihat sunset.”

Ya… setidaknya aku sedikit-sedikit sudah mengerti dengan bahasa dan aksen sehari-hari yang sering Ambarsari gunakan di lingkungan sekitar. Lagipula, sepertinya bahasaku lebih terdengar kaku. Entah kenapa juga dia akhir-akhir ini jadi sering memanggilku dengan panggilang ‘Mas Doyok’. Tadinya aku memberitahunya, kalau aku telah mengingat sedikit tentang klu namaku yang berawalan dari ‘Do…’, namun aku tidak mengingat semua penggal namaku, alhasil mentang-mentang nama awalanku adalah ‘Do’ ia langsung saja memanggilku dengan panggilan ‘Doyok/Mas Doyok’.

What do you want?” Aku bertanya.

We have to go this evening to Yogyakarta City, to find the big hospital.”

Why I should obey and trust you?”

“Kamu mau sembuh ndak? Kalau kamu mau tinggal di sini selamanya, sih, ndak masalah bagi saya, saya malah enak, ada yang bantu-bantu berburu ikan di lautan. Tapi saya terlalu kasihan sama kamu yang gelisah untuk mengingat memori identitasmu. Lalu kenapa kamu tidak percaya saya kalau yang menolong kamu selama ini adalah saya?”

If the problem is just about fisherman life, it doesn’t matter, Ambarsari, I enjoy it ‘cause… I love… I….” Aku merasakan… gugup menyambangi perasaanku, detak jantungku bergemelutuk merdu… lihatlah, Ambarsari bersama senyuman manisnya sore ini terlihat cantik sekali, “I lov… shit CRAAAB!”

Crab??? You love crab?” Ambarsari melebarkan kedua matanya tidak percaya dengan pernyataanku. Wajahku terasa panas karena malu ditertawai banyak anak-anak kecil di pantai ketika aku menggoyang-goyangkan kakiku yang kesakitan, berharap kepiting yang menjadi musuhku sejak awal di pantai ini tidak akan menggangguku lagi.

“O, yaampun kepiting!” teriak Ambarsari ikut panik saat menyadari kakiku tengah dicapit seekor kepiting.

Ya… setidaknya kepiting bisa membuat kebersamaanku dengan Ambarsari menjadi lebih terasa lama. Aku suka saat aku bersama Ambarsari, aku suka senyumannya, aku suka rambut hitam ikal sepunggungnya yang tergerai, aku suka kedua mata cokelat gelapnya, hidungnya yang mungil, kulit cokelatnya yang eksotis, tapi apakah bila ingatanku sudah kembali pulih, aku akan masih ingin tetap ada di sini bersamanya?

.

.

.

Di sinilah aku sekarang, tetap bersama si gadis cantik yang masih terasa asing dari pandanganku, bernama Ambarsari. Gadis sederhana yang membela-bela tuk menyembuhkanku, padahal yang kutahu, penghasilan sehari-harinya hanyalah dari berburu ikan bersama para nelayan lain di laut. Sayangnya di sini, tak ada pemandangan laut lagi, yang kulihat hanyalah lampu-lampu kota, kereta kuda, dan… kereta orang…?

“Ini namanya Jl.Malioboro dekat alun-alun kota, saya mau menyambangi satu rumah saudara saya dulu di sekitar sini, kamu tunggu di sini ya, Mas Doyok, baru nanti kita ke Rumah Sakit Umum.”

Aku mengangguk menyetujuinya. Sembari menikmati udara sore di sekitar jalanan kota. Namun tak lama setelah punggung Ambarsari menjauh dari pandangan, ada yang tengah mengalami kegentingan—terburu-buru di depanku. Kutebak itu adalah seorang suami yang sedang panik membawa istrinya yang sedang hamil besar ke sebuah kereta orang yang entah milik siapa—kalau kata Ambarsari kereta itu bernama becak. Karena merasa tak ada orang lain di sekitar kami—dan aku cukup merasa simpati terhadap mereka, saat bapak-bapak itu memanggilku, aku langsung saja menghampiri mereka.

“Bisa tolong bantu kendarakan becak ini, Mas?”

“Mas? Mas Doyok…?” tanyaku kebingungan.

“Oh, namamu Mas Doyok? Iya bisa bantu tolong goes becak-nya ke Rumah Sakit Umum, Mas, tolong ini istriku ingin mbrojoli bayiku, piro wae totale tak bayarke ongkosne wis?!”

Aku mengangguk saja tanpa mengerti apa yang ia bicarakan?

Namun kala dirinya dan sang istri telah duduk di bangku penumpang kereta orang, aku baru mengerti bahwa aku disuruh mengendarai kereta orang itu segera untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Wah, baru kali ini aku disuruh mengendarai kereta orang, dan rasanya sangat berat, mereka kira aku ini seekor kuda apa ya?! Seenak jidat saja menyuruhku begini. Tapi karena aku kasihan mendengar rintihan sang istri dari si bapak-bapak itu yang bunyinya; “Pak-e, iki pentolan kepalane wis metu. Saya ndak tahan lagi, arrgghh.”

Hah? Apa? Pentolan kepalane? Ya pada akhirnya aku usahakan untuk tetap membantu mereka meski kakiku merasakan pegal luar biasa.

Holobis kuntul baris!

Entahlah kekuatan apa yang merasukiku hingga diri ini mampu membawa kereta orang—kendaraan khas di negara ini—dalam jarak yang cukup jauh. Aku mendapatkan lima lembar uang Indonesia berwarna merah dari si bapak-bapak tadi—yang entahlah bernilai berapa?

Lalu soal kalimat yang menurutku adalah mantra unik khas dari daerah ini “Holobis kuntul baris”, itu aku dapatkan dari Ambarsari, omong-omong, dan sering digunakan olehnya pun para nelayan lain kala mereka akan berburu ikan di malam hari. Katanya, sih, biar dapat kekuatan selama perburuan ikan berlangsung di lautan, agar mereka bisa sekuat tentara Spanyol yang datang ke Pantai Baron dalam sejarahnya di zaman dulu.

“Mas Doyok!” Suara merdu itu kembali terdengar dalam telingaku, Ambarsari ada di tempat ini, kok, bisa?

 “Tadi saya lihat Mas Doyok sedang mbawa becak mendadak, ngangkut suami-istri yang sedang genting, jadi saya ikut susul pakai kendaraan becak lagi, takut kamu kesasar. Mas Doyok ndak apa-apa?!”

I’m ok.” Aku memandang wajah cantik itu semampuku, “I got money for you, by the way.”

“WAH? Your face is turn blue! Duh, ayok mumpung sudah sampai di rumah sakit, kita langsung periksa ingatan dan kondisimu!”

No, we don’t need to go. I’ve remembered eveything about my identity.” Dengan susah payah terengah-engah aku berbicara padanya.

What do you mean?”

My name is Doyoung Kim, a new artist from South Korea, I’m on  a long trip in Hawaii, and when I tried to surf, I fell because of the big waves hit me, then I don’t remember anything else after that. When I woke up again, I met you in Indonesia, does that make sense?”

“Jatuh di perairan Hawaii lalu terdampar di Pantai Selatan Indonesia? Itu benar-benar tidak masuk akal, Mas.”

I can remeber all of my memory because I overheard K-pop song from my country is played on the edge of a music store in Malioboro Street. That’s my song with my friends, NCT‘U’-7thsense. Otakku pun mulai bekerja berselingan dengan kakiku yang terus menggoes kereta orang ini di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.”

“Kereta orang… becak maksudmu?”

“Ya, I mean, becak.”

Ambarsari terpaku, “Jadi… sekarang kamu sudah mengingat semuanya, ya, Mas Doyok….”

Aku terdiam sejemang, lantaran menyadari wajah Ambarsari yang tampaknya sedang bersedih.

“Eh, maaf, maksud saya Mas Doyoung Kim,” ulangnya.

“Eh, Honestly, I like for being Mas Doyok, Ambarsari. Saya bisa melihat sunset, merasakan sering dicapit kepiting, minum air kelapa dan makan ikan hasil tangkapan, bermain ancak-ancak alis bersama anak-anak pantai di setiap sorenya, di Korea Selatan tidak ada permainan seperti ancak-ancak alis, dan aku menyukainya. Di sana juga ada daerah pedesaan nelayan, namanya daerah Busan, kamu harus main ke sana kapan-kapan. Dan pengalaman menakjubkan lain yang baru aku rasakan lagi adalah, mengendarai becak, capek sekali rasanya.”

Gadis itu terkekeh pelan menyimak semua perkataanku, “Jadi, sekarang apa rencanamu Mas Doyoung Kim? Saya rasa, saya bukanlah lagi orang yang harus Mas Doyoung ikuti dan percaya lagi, karena kamu sudah mendapatkan ingatanmu kembali.”

“Rencanaku selanjutnya adalah… hmm… bagaimana caranya supaya aku mendapatkan uang yang banyak, lalu aku bisa kembali ke Korea Selatan dengan selamat, atau, mungkin lebih baik aku memilih untuk terus tinggal bersamamu di desa nelayan Pantai Baron dan memulai hidup baruku di negara ini bersamamu? Menurutmu, jalan cerita yang mana yang lebih menarik untuk akhir dari cerita ini?”

Pipi Ambarsari merona redup, sudut bibirnya terangkat manis ketika mendengar ocehanku, lantas ia memandangi wajahku kembali.

“Saya rasa, kamu harus jadi tukang becak, Mas, supaya bisa dapat uang yang banyak dan bisa kembali ke Korea Selatan. Satu kali narik, bayarannya Rp 500.000, bisa cepat kaya kamu Mas,” katanya dengan senyuman lebar sembari mengangkat 5 lembar uang Indonesia yang baru kudapat.

“Atau, kamu bisa ternak kepiting yang banyak di pantai nanti, selain harga kepiting yang mahal di pasaran, kamu ‘kan suka sekali sama kepiting, benar?” lanjutnya berkata dengan suara lugu, sedangkan aku mulai mengernyitkan dahiku karena mendengar kepiting lagi.

Jadi, kemanakah cerita ini akan bermuara? Andai saja aku benar-benar adalah darah keturunan dari ikan duyung ataupun siren, aku pasti akan memilih berakhir menjadi manusia seutuhnya dan memulai hidupku yang baru bersama gadis lugu bernama Ambarsari—yang mungkin dia adalah saudara Amber yang tertukar—di desa nelayan Pantai Baron. Tapi bila aku adalah seorang artis pendatang baru dari Korea Selatan, apakah takdir akan semudah itu berbelok dan berubah? Who knows?

_ _ _

[3]

Doyoung adalah pria paling romantis di dunia. Well, setidaknya bagi dirinya sendiri dan (mungkin, bisa jadi, siapa tahu) bagi kekasihnya tercinta, Shin.

Beberapa bulan terakhir Doyoung telah memikirkan hal ini matang-matang: ia ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama Shin. Keduanya telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih sejak hari-hari pertama mereka sebagai mahasiswa baru, dan Doyoung rasa kini dirinya sudah siap untuk menjadi pendamping hidup bagi Shin. Ia sudah cukup mapan di pekerjaannya, sudah mengantongi restu dari kedua orangtua Shin, dan ia suka anak kecil (serta tidak sabar untuk memiliki satu atau dua yang merupakan hasil perpaduan dari dirinya dan Shin).

Kemudian, Doyoung mulai berpikir keras akan bagaimana ia hendak melamar Shin. Tentu saja Doyoung tidak akan melakukannya di tengah jalan dengan puluhan lilin yang membentuk simbol hati mengelilingi keduanya. Tidak, Doyoung bukan tipe orang yang suka menyita fasilitas publik untuk kepentingan yang tidak penting-penting amat. Doyoung juga tidak berpikir kalau ia bakal melakukan sedikit kejahilan sebelum melamar Shin, pura-pura memutuskan hubungan atau selingkuh, misalnya. Ia tidak akan tega melihat air mata yang mengalir membasahi pipi gadisnya. Oh, bagaimana dengan melamar di restoran mewah atau kafe vintage? Terlalu mainstream, sepertinya. Doyoung tidak suka sesuatu yang biasa-biasa saja.

Maka dari itu, muncullah sebuah ide gila di dalam kepala Doyoung, yaitu membawa Shin ke salah satu negara di benua Eropa untuk melamarnya. Bukan, negara itu bukan Perancis, Italia, atau Inggris. Doyoung memilih Polandia sebagai destinasinya kali ini. Dan dengan Polandia, yang ia maksud bukan membawa Shin ke kota-kota yang menjadi daya tarik utama negara tersebut, seperti Krakow atau Warsaw. Pilihan Doyoung jatuh pada Sungai Dunajec, sungai yang mengalir di sepanjang pegunungan Pieniny, bagian selatan Polandia hingga ke bagian utara Slovakia.

Dan siang hari itu, keduanya tengah mengambang di tengah Sungai Dunajec, di atas sebuah rakit kayu, tanpa pemandu wisata maupun pendayung rakit yang ahli. Ya, dengan kepercayaan diri yang melambung melebihi tinggi badannya sendiri, Doyoung menolak halus tawaran sang pendayung rakit untuk mendampingi keduanya dalam river trip di Sungai Dunajec. Doyoung jelas tidak bisa membiarkan orang lain mengusik jalannya rencana melamar Shin, itu akan mengurangi kadar keromantisannya.

“Jujur saja, Doyoung,” Shin memecah keheningan setelah begitu lama terdiam lantaran ia terlalu sibuk mengendalikan detak jantungnya sendiri. Shin tahu Doyoung tidak pernah mendayung rakit atau perahu apa pun jenisnya. Doyoung jelas tidak tahu-menahu soal sungai, rakit, dan segala hal yang berhubungan dengan keduanya. Berada di atas rakit yang berada di bawah kendali Doyoung jelas bukan sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata oleh Shin.

“Aku sama sekali tidak tahu apa tujuanmu mengajakku liburan ke sini,” ucap Shin. “Well, bukannya aku tidak suka. Tempat ini keren. Hanya saja, ini memakan begitu banyak biaya, dan—“

“Tidak apa-apa,” potong Doyoung sembari mengumbar senyum. “Aku hanya ingin membuatmu merasa bahagia.”

“Oh, well,” Shin manggut-manggut dengan dahi sedikit berkerut. “Terima kasih, kalau begitu.”

“Kau pernah naik rakit sebelumnya?” tanya Doyoung sembari terus mendayung pelan rakit kayunya.

“Belum,” Shin menggeleng. “Ini pertama kalinya buatku.”

“Begitu juga denganku.”

“Dan kau sudah berani mendayung rakitmu sendiri?”

“Oh, kau meragukan aku, ya? I am jack of all trades, Shin. Aku termasuk tipe orang yang mudah mempelajari dan menguasai sebuah subyek.”

“Oke, terdengar bagus, tapi… pernahkah kau berpikir bagaimana jadinya jika sesuatu yang buruk terjadi?” tanya Shin. “Maksudku, seperti… rakit ini terbalik, atau ada buaya yang tiba-tiba muncul ke permukaan, atau kau mendayung terlalu jauh hingga kita sudah sampai di Slovakia…”

Please, kau benar-benar pesimis,” decak Doyoung.

“Aku tidak pesimis, Doyoung. Hanya saja kita harus tahu apa yang akan kita lakukan bila sesuatu yang buruk terjadi, bukan?” ujar Shin.

“Sesuatu yang buruk itu tidak akan terjadi,” sahut Doyoung, kakinya melangkah mendekati Shin, membuat rakitnya bergoyang-goyang di atas permukaan air. Pemuda itu menyejajarkan pandangannya dengan Shin, lantas menyentuh salah satu pipi gadisnya. “Kau bisa percaya aku, ‘kan?”

Shin terdiam sejenak. “Tentu saja bisa,” ia mengangguk. Tapi dalam saat-saat seperti ini, jujur saja, aku agak ragu denganmu.

“Aku harap kau bisa selalu mempercayaiku,” ucap Doyoung lagi. “Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa selalu kau andalkan.”

“O… ke?” Shin meringis canggung. Demi Poseidon, kenapa lagi pacarnya itu? Kenapa ia mendadak melankolis di saat mereka tengah terombang-ambing di Sungai Dunajec?

“Aku tahu, aku bukanlah seorang pria yang sempurna,” lanjut Doyoung. “Tapi demi dirimu, Shin, aku rela menghabiskan sisa waktuku untuk belajar menjadi yang terbaik bagimu.”

“Oh, bagus,” Shin mengangguk sembari tertawa garing. “Itu terdengar manis dan— ASTAGA, DOYOUNG!”

Shin tidak bisa menahan pekikannya ketika Doyoung berlutut di hadapannya, meletakkan dayung di atas rakit, lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam dari saku celananya. “Ya Tuhan, Doyoung, apa yang kau lakukan?!”

“Aku ingin menjadi pelabuhan terakhir bagi hatimu,” Doyoung berucap, sembari membuka kotak tersebut di hadapan Shin. “Maukah kau menemaniku hingga akhir hayatku, Shin?”

Perempuan berambut sebahu itu masih menahan napas, hingga akhirnya ia menyadari apa yang sedang terjadi. Doyoung melamarnya. Hell, pemuda paling konyol sekaligus (katanya) paling romantis di dunia itu memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya. Dan ia melakukannya di atas sebuah rakit kayu, di tengah Sungai Dunajec, di siang bolong (karena sejujurnya Doyoung tidak berani mengambil resiko menaiki rakit di malam hari). Ini benar-benar gila sekaligus manis!

“Maukah kau menikah denganku?” Doyoung kembali melontar tanya, membuyarkan lamunan singkat Shin.

Dengan dwimanik yang mulai berkaca-kaca, wanita itu mengangguk pasti, membisikkan kata,”aku bersedia”, yang beberapa detik kemudian mulai ia teriakkan hingga menarik atensi para turis lainnya yang juga tengah menikmati river trip di Sungai Dunajec. Melihat pemandangan yang tidak kalah indah dengan panorama pegunungan Pieniny tersebut tentu saja membuat puluhan wisatawan dari segala penjuru dunia itu mulai bertepuk tangan dan bersorak-sorai riuh-rendah. Doyoung mengulum senyum seraya menyematkan cincin keperakan di jari manis tangan kiri Shin, lantas kembali berdiri untuk mendekap erat gadisnya.

Pemuda itu benar-benar bahagia hingga ia lupa bahwa ia tengah berada di atas rakit. Sepertinya Doyoung berdiri dengan terlalu bersemangat hingga membuat rakitnya bergoyang-goyang heboh, serta dirinya sendiri kehilangan keseimbangan dan memilih untuk menyerah kepada gravitasi.

Dalam hitungan sepersekian sekon, tubuh kurus Doyoung sudah terjun bebas ke Sungai Dunajec, diiringi teriakan kaget Shin serta jeritan panik para turis lainnya.

“DOYOUNG! Astaga, Doyoung, kau baik-baik saja? Sudah kuperingatkan untuk berhati-hati, tapi kau benar-benar keras kepala!” omelan Shin tidak bisa lagi ia bendung. Dengan sedikit kepayahan, Doyoung berusaha menggapai rakitnya. Mendapatkan beban karena dijadikan tumpuan oleh Doyoung yang berusaha naik kembali ke rakit, benda tersebut kembali bergoyang, membuat Shin memekik histeris untuk kesekian kalinya.

“Jangan lakukan itu!” jerit Shin.

“Apa yang kau maksud “jangan lakukan itu”?!” protes Doyoung yang mulai kedinginan.

“Jangan berusaha naik ke rakit! Kau bisa bikin rakitnya terbalik dan aku ikut jatuh ke dalam sungai, tahu!”

“Lalu kau mau aku berada di sini terus? Kau pikir aku ikan duyung?”

“Tentu saja tidak! Sebaiknya kau menunggu bantuan dari pihak Taman Nasional Pieniny. Lagipula, Kim Doyoung, ikan duyung tidak hidup di perairan tawar. Kau tidak lulus pelajaran biologi Sekolah Dasar, ya?”

Doyoung menghela napas ketika melihat tiga orang pria Polandia berseragam pegawai Taman Nasional Pieniny menuju ke tempatnya berada menggunakan speedboat. Ia memejamkan mata erat-erat, tak kuasa menahan malu atas apa yang baru saja terjadi padanya.

Well, setidaknya ia berhasil melamar gadisnya, bukan?

_ _ _

[4]

Doyoung tak tahu menahu angin apa yang membuatnya langsung mengiyakan ajakan Ten—kawannya—untuk turut serta menjelajah. Well, awalnya Doyoung hanya berpikir jika Ten akan mengajaknya berkeliling tanpa arah di sekitar kota atau nongkrong di perempatan. Tetapi yang tampak di mata Doyoung kini sungguh bukan sesuatu yang bahkan sempat bertamu ke pikirannya.

“Ada apa, Bung?” Ten bertanya ketika melihat wajah Doyoung bengong.

“Kita akan pergi dengan menaiki benda itu?” Mengarahkan jari telunjuk pada sesuatu berwarna hitam berukuran besar, Doyoung masih terperangah kagum. Ini adalah kali pertama ia melihat benda itu dan kali pertama pula memikirkan bagaimana rasanya berada di dalam sana.

“O, ini? Ya! Tentu saja. Hei, apa aku belum pernah mengakatakan padamu jika aku memiliki kapal selam?”

“Kukira kau hanya membual selama ini ….”

“Astaga, sehina itukah aku?”

Doyoung tergelak, disusul Ten yang kini mendekati kapal selam yang terparkir di pinggiran jembatan lantas mulai membuka pintunya.

“Ayo masuk. Kau pasti tidak bisa membayangkan apa saja yang bisa kau lihat dari dalam sana. Pemandangan laut benar-benar indah, Bung! Kau tidak akan menyesalinya. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahun untukmu. O, apa perlu aku tangkapkan seekor dugong untuk kau pelihara?”

Doyoung mendengus. “Lebih baik tangkapkan duyung cantik seperti mbak Jun Ji Hyun untukku. Itu lebih berfaedah ketimbang memelihara dugong gembrot yang rakus.”

“Ck, dasar jomblo ngenes!” ketus Ten. “Ayo masuk!”

Pada akhirnya Doyoung mengikuti jejak Ten yang terlebih dahulu menelusupkan tubuh ke dalam kapal selam miliknya. Pemandangan di dalam kapal sungguh di luar prediksi. Di pikiran Doyoung sempat terbesit perihal isi kapal selam yang kacau-balau. Mengingat sang pemilik adalah Ten; seseorang yang cerobohnya luar biasa. Tapi ternyata di dalam lumayan juga, luas dan rapi. Tidak seperti sang pemilik yang selalu tampil urak-urakan. Setidaknya Doyong bisa sedikit tenang di perjalanan pertamanya menggunakan kapal selam.

“Oi, Ten! Kau benar-benar tahu cara menjalankannya?”

“Tenang, Bung! Kapal selam ini otomatis. Kau hanya perlu menekan tombol yang ini dan ….”

Ten sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan bunyi mesin menderu memenuhi rungu. Doyoung cengengesan. Ditambah Ten yang kini tertawa kencang.

“Jadi … sudah siap dengan penjelajahan di bawah laut, Kapten Doyoung?”

.

.

.

Dasar lautan sungguh indah. Doyoung tak lepas-lepasnya menatap keluar lewat jendela kaca. Terkadang decak kagum menguar begitu saja ketika ia menjumpai sesuatu yang asing namun menyenangkan, lalu Ten yang setia di sampingnya akan dengan senang hati menjawab setiap pertanyaat Doyoung yang berhubungan dengan laut bawah.

“Seharusnya aku lebih sering membawamu ke sini, ya?” Ten tertawa. “Kau bahkan terlihat lebih semangat ketimpang ponakan berumur lima tahun yang pernah kuajak menjelahi laut dengan kapal ini.”

“Anak kecil tak mengerti apa-apa, Bung! Mustahil mereka tahu-menahu dengan keindahan alam seperti ini. Paling tidak mereka hanya akan menanyakan di mana rumah para hiu dan mengatakan ingin berkenalan dengan salah satu kepala keluarga. Aku benar, bukan?”

Ten manggut-manggut. Melihat Doyoung yang benar-benar kesenangan, ada rasa bangga yang terselip di diri pemuda berkebangsaan Thailand itu. Ia memang sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari, demi memberikan kado terindah untuk sang karib. Dan pada akhirnya, ia berhasil menyuguhkan kado indah tersebut.

“Hei, Doyoung-a, aku ingin memeriksa mesin sebentar. Kau tunggu di sini, oke?”

Ten beranjak, meninggalkan Doyoung yang masih mengagumi isi lautan. Tapi, baru beberapa langkah yang berjejak, sebuah guncangan membuat Ten jatuh terpental, sedangkan Doyoung kini telah menyatu dengan lantai kapal.

Raut Ten berubah panik. Suara deru mesin perlahan berhenti.

“Sepertinya kita ada sedikit masalah,” ucap Ten ragu-ragu. Mencoba berdiri demi memeriksa keadaan kapal, namun Ten menghentikan langkah ketika—

“ASTAGA! Kacanya pecah, Ten! Sepertinya kita menabrak karang!” Panik, Doyoung memekik kuat-kuat. Membuat Ten melayangkan tatap bingung padanya. “Apa yang harus kita lakukan?!”

Ten bergeming. Membiarkan dirinya tenang agar bisa memikirkan jalan keluar. Air mulai merembes dari pecahan kaca, membuat retakan menjadi lebih lebar dan terlihat menakutkan.

Doyoung membeku. Tatapnya hanya tertuju pada kaca yang semakin banyak retakannya. Ia pasrah, benar-benar tak dapat melakukan apa-apa dalam keadaan kritis begini. Sesungguhnya, Doyoung memang sedikit tak enak hati ketika memasuki kapal selam tersebut. Dan kejadian menakutkan benar-benar menimpa mereka. Lantas, apakah hidup Doyoung akan berakhir di tanggal yang sama dengan kelahirannya? Oh, ironis sekali.

Sekon berikutnya, derak kaca terdengar menakutkan. Doyoung menatap Ten untuk terakhir kalinya. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi beberapa saat lagi. Diam-diam memohon ampunan agar terbebas dari siksaan akhirat, Doyoung pun memejamkan matanya dan retakan kaca menjerit kuat-kuat. Semburan air yang dahsyat menyapa wajah dan Doyoung tak ingat apa-apa setelahnya.

.

.

.

BYUR!

“OI, KIM DOYOUNG! SAMPAI KAPAN KAU AKAN BERMESRAAN DENGAN KASUR, HUH?!”

Pekik kuat mengisi ruangan. Gelapagan, Doyoung membuka mata. Tubuhnya basah kuyup, di hadapannya berdiri seorang gadis dengan tatap garang dengan sebuah ember raksasa yang masih di genggaman.

“Kim Dayoung?” Doyoung mengerjap cepat-cepat. Ia alihkan pandang ke sekitar dan mendapati dirinya berada di kamar. Dan jangan lupakan kasurnya yang basah kuyup sekarang, Doyoung rasa, kakak kembarnya adalah penyebab kamarnya kebanjiran.

“Dasar kebo! Bukannya hari ini kau sudah berjanji akan menemaniku membuat kue, huh? Katamu kau ingin membuat kue sendiri di hari ulang tahun kita, tapi apa? Jam segini kau masih enak-enakan bergulung di selimut. Dasar Kim Doyoung menyebalkan! Sudah tua masih saja menyusahkan. Sudah, bangun sana. Jemur kasurmu lalu susul aku di dapur!” Dayong menghentakkan kakinya sebelum berlalu meninggalkan Doyoung yang masih melongo.

Desah lega menguar. Doyoung baru mendapat kembali kesadaran dan mengucap syukur banyak-banyak. Ternyata semuanya hanya mimpi buruk. Kapal selam dan kecelakaan yang merenggut nyawa. Untunglah. Setidaknya Doyoung masih bernapas dengan baik, meskipun harus menerima siraman air dingin seperti ini. Well, siraman air lebih baik daripada tenggelam di lautan luas, bukan?

.

fin

[Author’s Note]

Konon zaman dulu, ketika Armada Kerajaan Spanyol mulai berekspansi ke Negeri Timur dan menjelajahi samodera, ada serombongan kapal yang mendarat di pesisir pantai selatan Jawa, dengan menemukan sebuah celah diantara batu karang, maka rombongan itu mendarat, rombongan dipimpin oleh “Baron Skeber”. Nah tempat itu sekarang terkenal dengan nama “Pantai Baron” di Gunung Kidul, Kemudian rombongan menemui Penguasa Pulau Jawa yaitu Raja Mataram dengan membawa beberapa barang bawaan (sebagai oleh2 atau barter?).

Diantara rombongan ada seorang “Porter” yang sangat kuat, dan sanggup membawa beban berat melebihi yang lain, Namanya “Da Lopez”, dia berasal dari Paris, orang menyebutnya “Da Lopez count to de Paris”, tapi karena orang Jawa sulit menirukannya, maka diucapkan dengan logat Jawa jadi “Holobis Kuntul Baris”, sampai sekarang jika orang Jawa punya kegiatan/kerja yang mebutuhkan kekompakan dan kekuatan fisik, maka komado/aba-abanya : Holobis Kuntul Baris (biar kuat seperti Da Lopez maksudnya kali yaaa??).

Save

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette-Mix] LOL Things on Long Trip

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s