[Write Your Mythology] Scientist Mermaid

scientist-mermaid

A story by Mingi Kumiko

Starring NCT’s Jaehyun, DIA’s Chaeyeon, & WJSN’s Xiao

| Medical, Romance, Myth | PG-17 | Vignette |

Bagaimana, ya, kabarnya sekarang? Apakah dia sudah sepenuhnya melupakanku? Apakah hatinya telah kembali terisi oleh seseorang setelah kepergianku?

.
.

Aku paling menyukai sore hari. Karena pada saat itu, langit sedang indah-indahnya. Tak hanya biru laiknya siang, namun matamu akan dimanjakan dengan gradasi warna jingga, kemewahan warna ungu  yang berhamburan, serta cerahnya warna kuning yang berpendar sedikit demi sedikit menyapu gumpalan awan putih.

Saat tubuhku telah sampai di permukaan laut, kedua manikku langsung menangkap sosok yang tengah menyandarkan punggungnya di batu karang. Surai panjangnya mulai kering, menandakan ia sudah cukup lama melakukan aktivitas itu. Aku segera menghampirinya, barangkali dia seseorang yang aku kenal.

Aku menilik tiap jengkal parasnya saat jarak kami sudah lumayan dekat. Sepertinya ia teramat larut akan lamunan hingga tak menyadari presensiku yang kian mendekat. Wajahnya sendu serta matanya menyiratkan pandangan hampa.

“Hai, sendirian saja?” aku memberanikan diri untuk menyapa, meski ini adalah kali pertamaku bertemu dengannya. Gadis itu sontak tergugah lamunannya lantas memutar wajahnya untuk menoleh ke arahku.

“Chaeyeon eonnie…” ia dengan lirih memenggalkan namaku. Seketika aku terkejut, bagaimana bisa?

“Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku ragu sekaligus sedikit berupaya menjaga nada bicara agar tetap terdengar sopan.

Gadis itu mengangkat sebelah tangannya dan dijulurkan ke arahku, “Perkenalkan, aku Xiao… aku banyak mendengar cerita tentang Eonnie. Itu sebabnya aku tahu namamu.”

Aku menorehkan senyum seraya menjabat juluran tangannya, “Hai, Xiao… salam kenal.”

“Ngomong-ngomong… dari mana kau mendengar cerita tentangku? Dan… tentang apa? Ugh, kau membuatku merasa jadi orang tersohor, hehehe.” timpalku dengan tawa renyah. Xiao tak melakukan hal yang sama, agaknya ia masih merasa canggung padaku.

Eonnie sangat terkenal karena ramuan yang Eonnie buat. Berhari-hari aku mencarimu untuk menanyakan tentang hal itu. Dan sepertinya Neptunus benar-benar tengah berpihak padaku. Aku sangat bersyukur.” Ocehnya dengan sangat antusias.

Aku balas manggut-manggut seolah paham. Setelah sekian lama menjalani hidup dengan menyusuri lautan untuk sekadar mencari zooplankton dan menyelamatkan manusia tenggelam—bila memang ada—akhirnya ada seseorang yang megungkit tentang ramuanku. Sekaligus membawaku pada kenangan indah yang tak akan pernah aku lupakan.

Senyuman yang menghanyutkan bagai langit sore, serta tutur lembut yang membuat hati berdesir laiknya ombak pantai. Sudah dua tahun berlalu dan aku masih mengingat tiap jemang dari kenangan yang telah kuukir bersamanya.

Bagaimana, ya, kabarnya sekarang? Apakah dia sudah sepenuhnya melupakanku? Apakah hatinya telah kembali terisi oleh seseorang setelah kepergianku?

“Jaehyunie, lepaskan… geli, tahu!” omelku sembari mendorong perutnya dengan lenganku. Bagaimana aku tidak marah kalau dia terus saja menginterupsi aktivitasku memasak sarapan untuk kami berdua?

“Tapi aku rindu padamu…” bisikan manjanya berembus lembut di telingaku. Aku diam-diam tersipu malu dan pipiku bersemu merah. Meskipun aku masih heran, sih. Bisa-bisanya dia mengatakan rindu padahal jelas-jelas kami tinggal seatap—yang otomatis membuatnya bisa melihatku setiap hari.

“Mandimu cuma butuh waktu sepuluh menit, masa sudah membuat rindu?” tanyaku. Berusaha tak goyah dengan ribuan kalimat manis yang ia ucapkan. Seorang gadis memang seharusnya sok jual mahal, ‘kan?

“Kau pakai mantra apa, sih, sampai-sampai membuatku selalu rindu?” Jaehyun kembali melontarkan rayuan mautnya. Namun bukannya tersipu, aku malah ingin muntah.

 

Aku tak membalas dan kembali memotong lobak dan wortel. Sebenarnya aku sedikit kesulitan melakukan hal itu karena kedua tangan Jaehyun tak kunjung meyingkir dari area leherku—dia bergelayutan dengan sangat manja. Tidak ingat apa, kalau badanku jauh lebih kecil darinya?

 

“Aish, kau menyebalkan!” ia merutuk kesal, secara tiba-tiba menarik pinggangku dan membuat tubuhku berbalik. Alhasil kini kami pun saling berhadapan. Badan kami berhimpitan tanpa secelah pun jarak. Dua pasang obsidian kami bersirobok. Aku memasang raut terkejut, sedangkan siratnya begitu tajam di arahkan ke bola mataku.

“Aku belum mendapat jatah pagiku.” Katanya lirih. Mendengar itu, aku pun refleks menunduk. Ini memang bukan pertama kalinya kami berada di situasi menegangkan—namun meningkatkan gairah—seperti ini. Tapi meski begitu, debaran jantungku tak pernah berubah dari kali pertamaku berada di situasi ini.

 

Tanganku mulai berpindah—yang awalnya berada di depan dada sambil memainkan jemari—menuju area tengkuk Jaehyun. Kepalaku mulai menengadah saat gerakan pelan bibirnya secara liar bermain dengan rahang bawahku. Aku sedikit berjinjit untuk menyetarakan tinggi badan kami, begitu pula dengannya yang sedikit membungkuk agar posisi berciuman kami lebih nyaman.

 

Lima belas detik berlalu, dan Jaehyun mulai kehabisan seluruh pasokan oksigen di paru-parunya. Ia menghentikan pagutannya sesaat, setelah menarik napas, ia kembali meraup bibirku dari sisi berlawanan. Kurasakan tangannya yang sedikit nakal memainkan bajuku, kemudian menyentuh punggung. Saat itu aku menghentikannya. Aku mengatupkan bibirku yang semula membulat. Ia nampak terkejut, namun sebenarnya akulah yang harusnya memperlihatkan raut seperti itu. “Masih pagi, Tuan Jung.”

 

Wajahnya seakan terlipat, namun itu tak berlangsung lama. Jaehyun kemudian tersenyum, pertanda ia sudah cukup senang dengan apa yang barusan didapatkannya.

“Sekarang bisa, kan, duduk manis saja di ruang tengah selagi menunggu masakanku matang?” ucapku yang langsung dibalas anggukan patuh oleh Jaehyun.

“Masak yang enak, ya, sayang…” Jaehyun bertingkah usil dengan mengacak puncak kepalaku lantas melenggang pergi sesuai perintahku.

Setelah punggungnya tak lagi terlihat, saat itulah aku merasa semuanya sudah aman. Kristal bening dengan susah payah kutahan agar tak mencelos dari pelupuk. Aku mulai sesenggukan dalam usahaku merampungkan sup tahu yang sedang kumasak pagi itu.

Hingga kini aku masih menyesal karena menghentikan ciuman itu lebih dulu. Harusnya aku larut dalam pertautan bibir yang ia buat sampai Jaehyun sendiri yang memintanya berhenti. Karena itu adalah hari terakhirku berbagi cinta dan kasih sayang dengannya. Hari terakhir kami mengukir kenangan-kenangan indah bersama. Pagi itu aku memutuskan untuk kembali. Meski berat, aku sungguh tak bisa bertahan lebih lama lagi.

Jantungku mulai lemah. Sebenarnya keadaanku bisa saja tetap normal tanpa perlu merasakan denyutan yang sakitnya minta ampun itu dengan cara mengonsumsi minyak ikan yang penuh asam lemak omega-3. Tapi coba kau pikir, berapa juta tahun hukuman yang akan Neptunus timpakan padaku apabila di dalam tubuhku mengalir zat yang berasal dari kaum sebangsaku sendiri?

Ini memang konsekuensi dari menyalahi kodrat. Kau boleh mengataiku sebagai putri duyung yang tidak tahu diri karena telah berani naik ke daratan hanya demi mengejar cinta. Tapi aku sungguh tidak menyesal. Justru aku sangat bahagia karena perasaanku tak hanya kubiarkan mengambang seperti riak ombak. Meski dari awal tak akan ada akhir yang manis dari sebuah penentangan takdir, namun aku telah menyiapkan segenap hatiku untuk menerima kenyataan itu sejak jauh-jauh hari.

Aku membubuhkan statin, eszopiclone, zaplelon, dan zolpidem pada kaldu yang saat itu kurebus. Tak lupa kumasukkan propanolol sebagai penyedap terakhirnya. Mengaduk-aduknya hingga berbagai zat yang kudapatkan dari pasar gelap itu tercampur sempurna. Jangan pikir putri duyung tak akan bisa mengenali dunia manusia secara luas. Karena sekalinya mereka belajar, banyak sekali pengetahuan yang bisa diraup.

Kalau kau heran mengapa aku menambahkan bumbu-bumbu itu ke dalam masakanku, sebenarnya itu adalah obat yang katanya bisa menghilangkan ingatan manusia. Terutama propanolol. Meskipun tidak semua, namun itu lumayan ampuh untuk menghapus beberapa kenangan yang paling sering berkecamuk dalam pikiran. Obat ini dapat menaikkan level protein dalam otak untuk mempercepat hilangnya memori. Biasanya para dokter menggunakan propanolol untuk pasien yang ingin menghilangkan trauma atau phobia.

Jujur, aku pun tak yakin jika racikan obat penghilang ingatan ini dapat bekerja secara optimal. Dan jangan pula terbesit di otakmu bahwa ciuman adalah cara yang ampuh untuk menghapus segala kenangan tentang putri duyung di kepala manusia. Sungguh, itu hanyalah mitos! Kalau hal itu benar, sudah pasti ingatan Jaehyun tentangku akan terhapus sejak dulu. Hei, kami bahkan hampir berciuman setiap hari!

Namun selain aku bubuhkan obat-obatan, tentu saja aku merapalkan beberapa mantra agar kemungkinan berhasilnya lebih tinggi. Jaehyun terlihat senang saat aku menghidangkan sup itu untuknya. Ia berkali-kali bilang bahwa aku adalah wanita idaman yang sangat tepat untuk ia jadikan pasangan hidup. Dia memang begitu, kalau sudah kelewat senang, bicaranya bisa melantur.

Ramuan itu bekerja dengan baik. Tepat setelah suapan ketiga, ia perlahan oleng dan tertidur di atas meja makan. Aku lantas berdiri, sejenak kupandangi paras indahnya, memandangi tiap jengkal dari pahatan wajahnya yang sempurna. Air mataku kembali menetes—tanpa mempedulikan butir demi butir mutiara yang mulai jatuh dan bergelindingan di lantai. Perpisahan kami kutandai dengan sebuah ciuman lembutku di keningnya.

Eonnie… kenapa wajahmu terlihat sedih?” pertanyaan Xiao menggugah lamunanku tentang serpihan masa lalu itu.

“Apakah Eonnie juga pernah jatuh cinta pada manusia?”

Aku mengangguk sambil tersenyum, pandanganku mengarah pada bayanganku yang direfleksikan air lautan.

“Mengapa rasanya sungguh menyakitkan, ya, Eonnie?” Xiao mulai sesenggukan. Aku pun memeluknya, berusaha membuatnya tenang.

“Tidak apa, Xiao… setidaknya hal itu membuktikan bahwa gairah cinta kita tidak mati. Kau patut bersyukur.” ujarku seraya menepuk-nepuk pundaknya.

“Aku ingin dia melupakanku dan mencari cinta yang baru, meskipun aku tahu hatiku akan terluka.”

“Dulunya pun aku berpikiran sama. Karena tak pernah ada akhir yang bahagia untuk makhluk yang menyalahi kodratnya, Xiao…” kini giliranku yang melinangkan buliran kristal bening. Aku merasa hatiku tengah diiris sembilu. Harusnya aku menghalau bayang-bayang Jaehyun untuk kembali merangsek ke dalam pikiranku.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa jika dia benar-benar melupakanku, Eonnie…” suara Xiao mulai parau. Aku jelas memahami apa yang ia rasakan, aku jelas tahu betapa menyakitkan rasanya saat kau hendak dilupakan.

“Kau bisa lakukan banyak hal, Xiao. Tapi yang paling penting, kau harus mendoakan kebahagiaannya. Seperti aku sekarang.”

~ E N D ~

Iya tahu ini ga jelas buanget, maafin deh ya pokoknya. Namun apa mau dikata, sereceh inilah yang bisa aku persembahkan untuk memeriahkan event /serius ini lely lagi kecewa sama diri sendiri 😦

Advertisements

5 thoughts on “[Write Your Mythology] Scientist Mermaid

  1. Ngawur2 mbak chaeyeon itu kamu ngeracun mas jae pake obat darah tinggi *sumpah yg terpikir pertama olehku waktu baca propanolol itu obat darah tinggi bukan obat memori haha*
    Iya sih kalo dibanding cerita2 mu lainnya ini kurang terasa kamu mungkin Krn genre nya diluar kebiasaan ya, medical-myth. Kan susah tuh -.- gapapa, tapi ttp suka kok scene-nya jaeyeon di awal ih gemes XD
    Keep writing!

    Liked by 1 person

  2. Gak ada hubungan sih, tapi gara2 propanolol aku jadi inget metanol etanol propanol butanol gugus fungsi bla bla bla /kok curhat *salah lapak
    Adegan jaeyeon ku skip. Masih gak nyaman, mungkin beberapa hari lagi… Chaeyeon baper. Tapi susah bayangin chaeyeon yang badannya super super kecil, pairing sama jaehyun yang gede XD

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s