[Write Your Mythology] Netherworld

co0

Judul : Netherworld

Author : day202

Cast : Nakamoto Yuta, Ten

Main Genre : Greek

Sub-genre : Mystery

Rating : General

Gods : Hermes

“Jika suatu saat kau bertemu dengan seorang laki-laki dengan sepasang alas kaki yang bersayap, maka itu berarti ada dua kemungkinan. Pertama, para dewa di dunia atas sedang berusaha menyelamatkanmu. Atau sebaliknya, Hades menginginkamu mengunjungi istananya di Netherworld.”

.

Yuta tidak tahu kemana pemuda asing yang baru dikenalnya 20 menit lalu ini membawanya pergi. Pemuda itu bilang, ia akan mengantarkan Yuta menuju teman-temannya. Maklum saja, pemuda Jepang itu baru saja terpisah dari rombongan saat mendaki gunung Vesuvius sejak subuh tadi.

Tapi seingatnya ia tak melewati jalan ini barusan.

“Ten, kau akan membawaku kemana?” Yuta bertanya heran sambil memandangi sekelilingnya. Dia tak tahu dari mana datangnya perasaan asing itu. Yuta merasakan suatu kejanggalan ketika melewati jalan setapak yang disekelilingnya dipenuhi oleh pohon-pohon tinggi menjulang. “Aku rasa, kita salah jalan.”

“Tenanglah. Aku sangat mengenali daerah ini. Sudah kukatakan bukan, aku ini seorang pemandu wisata yang bekerja di Napoli sudah hampir 4 tahun. Kau percaya saja padaku.” Ten yang semula berjalan didepan melambatkan jalannya dan mensejajarkan langkahnya dengan Yuta.  Pemuda asing itu masih tetap memasang senyum yang tak pernah hilang dari wajah mungilnya. “Aku pasti akan mengantarkanmu, Yuta.”

Yuta hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan Ten. Dia selalu berusaha berpikir positif. Ten pastilah pemuda yang baik. Yuta tahu Ten tak akan mencelakai dirinya. Dan Yuta percaya jika Ten pasti akan mengantarkannya dengan selamat.

“Ten, apa kita masih harus berjalan lebih jauh lagi? Kenapa disepanjang jalan yang kulihat hanya pepohonan? Tidak ada sama sekali kulihat manusia disekitar sini. Jangankan manusia, lalatpun rasanya tak ada.”

Yuta tiba-tiba merasakan tubuhnya meremang. Dan entah dari mana, perasaan takut merangkak dan mulai menelusup dalam jiwanya. Tepat ketika mereka berhenti dipinggir sebuah sungai yang terlihat berarus tenang.

Sejak kapan ada sungai disekitaran gunung Vesuvius?

“Ayo. Kita harus segera menyeberangi sungai ini. Sebentar lagi sampan Kharon akan tiba. Dia yang akan mengantarkan kita ke seberang sana.” Ten menunjuk ke seberang sungai dan Yuta dapat melihat keadaan diseberang sana. Yang benar saja? Tempat itu terlihat gelap dan tak berpenghuni. Apa benar Ten akan mengantarkannya menuju teman-temannya?

“Kau yakin?” Dan Yuta hanya mendapat anggukan meyakinkan dari Ten sebagai respon dari pertanyaannya. Tidak sampai 10 menit, seseorang yang bernama Kharon itu muncul dengan sebuah sampan yang ia dayung sendiri.

“Kalian ingin menyeberangi sungai?” Kharon menepikan sampan itu tepat dihadapan dua pemuda didepannya. Ten masih saja tersenyum meskipun Yuta kini mulai merasakan perasaan aneh melihat sosok laki-laki didepannya.

Dia tampak normal layaknya manusia, memang. Tapi entahlah, Yuta merasakan suatu aura aneh yang sama sekali tidak dikenalnya. Pandangannya tegas, bahkan cenderung terlihat seperti seorang pemarah. Badannya tegap dengan kulit sedikit gelap.

“Bisakah kau mengantarkan kami keseberang sana dengan sampanmu itu, Kharon?” Ten benar-benar pemberani. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa dengan tenang bertanya pada laki-laki itu dengan wajah polos? Jika itu dirinya, Yuta tak akan pernah mau berdekatan dengan Kharon-Kharon itu. Menatap matanya saja rasanya sangat menyeramkan.

“Tentu. Asalkan kalian membawa imbalan untukku.”

Imbalan apa? Yuta tak tahu menahu masalah imbalan. Lagipula dia sama sekali tidak memiliki uang. Entah bagaimana, dompetnya tiba-tiba hilang saat perjalanan. Dan Yuta terlalu panik untuk dapat menemukan dompet itu ketika tahu ternyata dirinya justru terpisah dari teman-temannya.

“Tenang saja. Kami sudah membawa imbalan untukmu.” Ten melirik Yuta yang menatapnya dengan pandangan heran. Dia menyadari jika pemuda Jepang itu menggelengkan kepalanya pelan. Seolah mengisyaratkan bahwa dirinya sama sekali tidak membawa benda berharga apapun yang bisa ditukarkan sebagai balas jasa kepada Kharon itu.

Tapi Ten tak peduli. Justru ditariknya tangan Yuta yang terlihat enggan menaiki sampan kayu itu. Dan membisikan pada pemuda itu bahwa dirinya membawa uang lebih untuk membayar Kharon. Mau tak mau Yuta menuruti perintah ten. Daripada dia ditinggalkan sendiri ditengah gunung, kan?

Sampan itu bergerak perlahan. Tidak ada pembicaraan sama sekali ketika mereka secara pelan melintasi sungai itu dan menyeberanginya. Saking sunyinya, Yuta bahkan bisa mendengar suara lolongan serigala ditengah hutan itu. Pukul berapa sekarang? Kenapa bisa ada lolongan serigala di siang hari seperti ini?

Pemuda Jepang itu kemudian memeriksa pergelangan tangan kirinya yang ditempeli sebuah jam antik yang dibelinya beberapa waktu lalu. Jarum jam tepat menunjukan angka satu. Ini artinya sudah hampir 5 jam dirinya terpisah dari rombongan.

Mungkin sekitar 15 atau 20 menit, mereka akhirnya sampai keseberang sungai. Perlahan Yuta turun dari sampan itu. Diikuti oleh Ten. Namun sayang sekali, Ten sedikit terpeleset sehingga sepatu yang digunakannya basah oleh air sungai.

“Kau baik-baik saja, Ten?” Yuta meraih tangan pemuda kecil itu. Menariknya menuju tepian sungai yang lebih tinggi. Sehingga kedua kaki pemuda itu bisa dikeluarkan dari air.

“Aku baik-baik saja. Hanya sepatuku yang basah.”

“Kalau begitu lepaskan sepatumu. Seingatku dalam ransel ini masih ada sepasang sepatu yang kubawa. Mungkin kau mau memakainya.”

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja dengan sepatu ini.”

“Tapi bagaimana jika kau sakit? Memakai sepatu basah seharian itu tidak baik.”

“Sepatu ini tak akan pernah bisa menyakitiku. Percayalah.” Ten tersenyum. Dan entah mengapa, Yuta merasa jika senyum pemuda itu terasa sedikit janggal. Tapi sekali lagi, Yuta tak peduli. Mungkin itu hanya perasaannya saja.

“Sesuai janji kalian, sekarang aku meminta bayaran. Aku sudah mengantarkan kalian hingga keseberang sungai.” Kharon menengadahkan tangan kanannya. Seolah meminta uang pada dua pemuda itu. Ten mengangguk dan mengambil dua keeping uang dari saku celananya. Yuta sendiri tidak tahu uang apa yang diberikan Ten pada Kharon. Yang jelas Yuta tak pernah sekalipun melihat uang seperti itu. “Terima kasih. Sekarang aku harus kembali menjalankan tugasku.”

Kharon mendayung sampannya perlahan. Meninggalkan dua pemuda itu yang menatap kepergiannya sampai sosoknya menghilang di hulu sungai.

“Uang apa yang kau berikan pada Kharon?”

Obolos

“Apa itu?”

“Uang yang kami gunakan di sini.” Yuta tidak berniat lagi bertanya pada Ten sekalipun pemuda itu penasaran luar biasa. Itu karena Ten sudah mulai berjalan didepannya. Melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda.

“Ten…” Yuta berseru memanggil pemuda yang lebih pendek darinya itu. “Apakah Kharon hanya mendapatkan uang dari jasa antar ke seberang sungai saja? Apa dia tak mengambil pekerjaan sambilan? Kupikir uang dari mendayung sampannya itu tidaklah cukup. Maksudku, berapa banyak manusia yang melewati sungai itu? Pasti sedikit, ah atau mungkin malah tidak ada sama sekali.”

“Itu sudah menjadi tugasnya. Sebenarnya banyak orang yang akan melewati sungai ini setiap harinya.”

“Benarkah? Tapi mengapa aku tak melihat satupun manusia selain kita?”

Tapi Ten sekali lagi hanya tersenyum pada Yuta. Menimbulkan tanda tanya besar dalam kepala pemuda Jepang itu. Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan pemuda itu?

Mereka terus berjalan membelah hutan belantara tersebut. Semakin jauh mereka melangkah semakin lebat pepohonan disana. Menyebabkan sulitnya cahaya matahari untuk masuk. Gelap sekali.

“Ten, tempat ini semakin gelap. Kau yakin lewat sini jalannya?” Ten hanya mengangguk sekali tanpa berniat menjawab pertanyaan Yuta. Yuta berdecak pelan. Ten mau membawanya kemana, sih?

Diujung hutan itu, Yuta bisa melihat sebuah rumah besar yang begitu indah. Dan hei, kenapa bisa ada rumah besar ditengah hutan gelap ini? Ini semakin tidak masuk akal. Sebenarnya Yuta sekarang ada dimana? Siapa sebenarnya Ten? Apakah Ten berniat untuk mencelakainya? Bagaimana ini?

Yuta harus pergi dari sini. Masalah dia akan tersesat kembali, itu urusan nanti. Yang jelas pemuda itu harus menjauh dari Ten. Dia tak boleh pergi. Dia harus kembali.

“Yuta, kau mau pergi kemana?” Ten berseru lantang ketika dilihatnya Yuta berlari kencang menjauhinya. Ten terus berteriak memanggil Yuta untuk kembali. Akan sangat berbahaya bagi pemuda itu jika nekat pergi dari dirinya.

Hah, yang seperti Yuta ini yang kadang membuat Ten malas.

Yuta berlari sekencang yang ia mampu. Nafasnya mulai tersengal dan kedua kakinya mulai melemah. Akhirnya, pemuda itu memutuskan diri untuk berhenti sejenak. Menumpu pada kedua lututnya, Yuta berusaha menghirup udara semaksimal mungkin.

“Hah…. aku berhasil kabur darinya. Hah…. Kenapa….tidak dari tadi…. Aku kabur.” Setelah dirasanya lebih nyaman, Yuta berdiri. Kini yang jadi masalah adalah, dia ada dibagian hutan disebelah mana? Kompas yang dibawanya sejak tadi sudah tidak berfungsi sama sekali.

Krak… krak… krak…

Yuta menatap sekelilingnya waspada. Ada suara ranting yang diinjak. Kemungkinan ada orang didekat sini. Mungkinkah ada manusia lain selain dirinya?

“Kenapa kau berlari seperti orang kesetanan?” Ten tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya dan menepuk pundaknya pelan.

“Kau…? Kenapa kau ada disini?” Yuta tersentak kaget. Ten? Sejak kapan dia bisa ada disebelahnya? Yuta bahkan tak mendengar langkah kaki lain selain dirinya barusan. Berarti seharusnya, Ten tidak mengejarnyakan? Tapi… tapi…?

“Kukatakan padamu. Ikuti aku jika kau tak ingin celaka, paham?”

“Siapa sebenarnya dirimu?” Alih-alih menjawab pertanyaan Ten, Yuta justru bertanya balik padanya dan melangkah menjauhinya.

“Kenapa kau terlihat takut padaku?” Ten terkekeh. Pemuda itu memajukan langkahnya seiring dengan Yuta yang memundurkan dirinya. “Aku Ten. Bukannya aku sudah memperkenalkan diri?”

“Kau bukan Ten. Kau bukan manusia.”

Ten tersenyum lebar mendengar perkataan Yuta.

“Jika aku bukan manusia, lalu apa?” Yuta hanya terdiam. Semakin menatap waspada kearah Ten. “Jangan berjalan mundur lagi. Jika kau tak ingin anjing-anjing itu memangsamu hidup-hidup.”

Yuta berbalik dan menemukan tiga ekor anjing hitam dan besar yang menatap buas kearahnya. Air liur mereka menetes seakan merasa sangat lapar dan siap menyantap siapapun saat ini juga.

“Jika mereka memakanku, maka mereka juga akan memakanmu.”

“Mereka tak mungkin memakanku. Aku mengenal mereka dengan baik. Sekarang kau pilih, kembali bersamaku atau anjing-anjing itu siap menjadikanmu snack mereka selanjutnya.” Tetap dengan senyum lebarnya, Ten mengulurkan tangan kanannya pada Yuta.

Apa yang harus Yuta lakukan? Dia tak ingin dimakan oleh anjing-anjing itu. Tapi dia juga tak ingin kembali pada Ten. Bagaimana ini?

“Semua sekarang menjadi pilihanmu, Yuta. Aku mengikuti saja.” Menarik nafas dalam, akhirnya Yuta memilih menerima uluran tangan Ten. Yang disambut pemuda itu dengan senyum puas. “Pilihan yang tepat. Nah sekarang kalian, Kerberos. Kembalilah ke tempat kalian semula. Manusia ini sudah menjadi tanggung jawabku.”

Tiga anjing buas itu menurut dan akhirnya berbalik meninggalkan dua pemuda itu. Yuta takut-takut menatap kearah Ten yang mendengus kesal.

“Kadang manusia sepertimulah yang membuatku repot. Kau tahu itu?” Yuta hanya menggeleng. Dia tak paham sama sekali apa yang dikatakan oleh Ten. “Karena ini sudah waktunya dan kita masih sangat jauh dari tempat itu, maka mau tak mau kau harus ikut dengan caraku.”

Entah dari mana asalnya, angin berhembus dengan kencang. Menerbangkan guguran daun-daun yang ada ditanah. Kemudian kedua sepatu milik Ten bercahaya. Yuta sendiri tidak tahu apa itu, yang jelas setelahnya mereka terbang diangkasa dengan kecepatan penuh. Hanya dalam satu kedipan mata, Yuta dan Ten sudah berada di taman yang cantik dengan dua buah kolam besar ditengahnya.

“Kau minumlah mangkuk berisi air dari gadis itu.” Ten menunjuk kearah sesosok gadis yang menggunakan gaun yunani kuno. Gadis itu mengambil air dari kolam disebelah kiri dan mengangsurkannya pada Yuta. “Cepatlah, sebelum terlambat.”

“Apakah air ini akan membawaku kembali?”

“Kau tak bisa kembali. Tak akan pernah bisa kembali.” Ten mendekati Yuta lalu memaksa pemuda itu untuk meminum air tersebut. Yuta ingin sekali memberontak, tetapi entah kenapa seluruh persendiannya terasa begitu kaku. Sulit untuk digerakkan. “Anak pintar. Sepertinya kau kehausan sekali ya. Kau menghabiskannya dengan sekali teguk.”

“Siapa kau sebenarnya?” Yuta berteriak marah pada Ten. Pemuda itu berusaha memajukkan tubuhnya. Berniat untuk memukul wajah Ten dengan kepalan tangannya. Tapi tetap saja tak bisa.

“Aku Ten. Berapa kali harus kukatakan padamu?”

“Kau berbohong. Kau bukan Ten. Kau bukan manusia.”

“Aku Ten. Tapi aku memang bukan manusia.” Yuta menatap Ten yang kini seolah terbang dengan sepatunya –yang ternyata memiliki sepasang sayap– dengan pandangan mengabur. Kepalanya terasa pusing sekali. Dan perlahan Yuta mulai kehilangan kesadaran. “Aku adalah Hermes. Dan aku ditugaskan untuk membawamu kemari. Sekarang tugasku sudah selesai. Aku harus pergi. Dan oh ya, selamat ulang tahun Yuta.”

Yuta masih dapat mendengar suara Ten samar-samar. Ulang tahun? Ulang tahunnya, kan besok?

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Yuta menarik pergelangan tangan kirinya dan melihat jarum jam disana. Ternyata sudah menunjukan tepat pukul 00:00.

Selamat bertambah usia, Yuta. Atau justru sebaliknya? Selamat menutup usia, Yuta.

***

Suara elektrokardiograf berbunyi nyaring. Seluruh dokter didalam rung operasi itu berusaha menyelamatkan pasien yang berbaring diatas brangkarnya.

“Sudah tidak bisa. Pasien sudah meninggal. Suster, tolong rekam waktu kejadian meninggalnya.”

“Baik dokter. Pasien atas nama Nakamoto Yuta. Berkebangsaan Jepang yang ditemukan terjatuh didasar jurang gunung Vesuvius meninggal pada tanggal 26 Oktober pukul 00:00.”

fin.

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s