[Write Your Mythology] TERLAMBAT

terlambat

TERLAMBAT

ninegust©2017

[NCT’s] Jung Jaehyun & OC’s –AU, Surrealism, Thriller, Fantasy/Vignette/General

Mythology Creatures and God:

SAMAEL

.

.i own the plot!.

.

Kenapa dunia terlihat begitu tidak adil? Kenapa aku harus diciptakan seperti ini? Aku jenuh. Segalanya yang ada di dunia ini terlihat mengesankan padahal tidak. Ini semua menyeramkan. Lagi – lagi aku, selalu aku, dan aku lagi yang mengindahkan kemauannya. Dan itu belum sempat berpaling haluan, atau mungkin tidak akan pernah.

Aku tanpa dirinya bukanlah apa – apa, tapi dia tanpa diriku masihlah sosok yang sempurna. Iri, dengki, sentimen? Tidak juga, akulah yang menyimpan berbagai idiosinkrasi yang di berikan ‘Sang Atasan’ padanya. Aku hanya lelah, lelah dengan belenggu yang mengekangku selama ini. Sering kali aku mengalah –oh, setiap kali malah. Dia yang mengendalikan aku, dan itu membuatku jemu.

Setiap kali ia melahirkan masalah, aku turut di seret ke dalamnya, aku lah yang kerap kali berjerih payah merampungkannya, aku lah yang menjadi penghantar rasa antipati tiap kali ia merasa tertekan. Dan aku penat dengan semuanya, jika aku diberi kesempatan untuk berubah wujud pastilah aku meminta untuk berubah menjadi manusia dengan maksud memberinya pelajaran tentu saja.

Hidup di tengah hiruk pikuk kota bersama manusia-manusia bertopeng manis tentu bukan pilihan yang baik, apalagi hidup dengan menyamar menjadi salah satu golongan itu. Cukup sekali, dan tak lagi-lagi aku sepakat dibawanya ketempat ini, bahkan derajatku sampai disetarakan semacam ini. Ya, kami disini, bersembunyi layaknya bunglon yang merubah warna tubuh tiap kali bersinggah di tempat asing.

Tempat itu bernama Bumi. Tempat dimana manusia saling berbondong – bondong mencari kesenangan, Tempat dimana manusia cari – mencari harta yang sekiranya dapat memuaskan keinginan, Tempat dimana manusia berfoya – foya mengharapkan kebahagiaan yang tak ada habisnya, Tempat dimana manusia lupa diri; bahwa sesungguhnya ada yang memerhatikannya dari atas sana. Menunggu mereka menyadari, bahwa kehidupan hanya sebatas memejamkan mata.

Sungguh mimpi buruk bagi orang – orang yang menyadari; betapa kelam, betapa suram, betapa hitam, betapa kejam dunia ini. Mereka seolah termakan oleh tipu daya dunia, mereka lupa dengan berbagai nasihat yang sudah diucapkan para leluhurnya. Tentang kematian yang pasti akan bertandang menghampiri jiwa – jiwa yang bernyawa.

Ya, kurang lebih seburuk itulah keadaan dunia. Gelap. Namun tak segelap tempat tinggalku yang ada di atas sana. Kalau dunia suram maka tempat tinggalku lebih, begitulah mendeskripsikannya. Aku takut? Tidak juga, umm keseharianku sudah kelewat hitam, jadi aku tidak terlalu kaget dengan hal – hal seperti itu.

Terlebih lagi ada dia yang menghiasi hari-hariku, bisa dibayangkan bagaimana rasanya menjadi aku ‘kan? Menjadi gila adalah salah satu resikonya, namun aku tak bisa. Emosi saja tidak aku miliki, bagaimana aku bisa menjadi gila?

Berbeda denganku, Dia hampir mendekati kata sempurna –oh, atau mungkin sudah, karena dia memiliki aku sebagai pelengkapnya. Dia itu kelam sekaligus berkilau dalam satu waktu. Dia pandai dalam menyembunyikan segala hal, beberapa kalimat rumpang yang terdengar mengerikan bisa ia rombak menjadi sepenggal kata manis yang melelehkan hati setiap insan. Dia merupakan pendengar yang baik, dia penurut juga pembangkang. Yang jelas, dia spesial.

Dulu aku tak betul-betul mengenali wajahnya, sebab seringkali ia bersembunyi di balik tudung hitam lusuhnya itu. Hanya senyuman licik yang acap kali aku lihat di balik pakaian sehari-harinya. Tapi sejak beberapa waktu lalu, saat ‘Sang Atasan’ membebas tugaskan keluarganya dan mengirimnya kesini, dia menjadi sedikit terbuka.

Sangat terbuka malah, lihat saja kali ini aku dibawa bersamanya –lagi– ke tengah-tengah kota Soul? Seol? –Apalah itu namanya, aku tak begitu paham, yang jelas ini terlalu ramai dan–

“HEI JAEHYUN! SEBELAH SINI!”

–berisik.

Dia tersenyum merekah, dilewatinya beberapa manusia dengan susah payah demi bersua dengan gadis cantik yang –belum pernah aku temui sebelumnya– ada beberapa kaki dari tempatnya tadi. Belum sampai tiga puluh detik, dirinya sudah sampai dihadapan sang gadis.

“Menunggu lama?” Tanyanya,

Cih, apa-apaan dia berlagak sok manis di depan gadis ini, pencitraan sekali! Andai saja aku bisa mengungkapkan sepenggal kalimat itu, huh.

Baru kali ini aku melihatnya seperti itu, melihatnya begitu berbinar dengan semburat merah yang mulai mendominasi wajah pualamnya. Dia terlihat begitu bahagia.

“Tidak juga”

Kata itu mengudara seiring dengan anggukan pelan dari pemuda ini, sejemang kemudian hening mengambil alih. Benar – benar pemuda kasmaran yang payah! Getaran kecanggungan itu bisa aku rasakan, apalagi saat ini aku menempel dekat dengan nadinya, meski jantungnya tak berdetak tetap saja aku tahu dia sedang gugup saat ini.

“Oh, cantiknya!”

Gadis itu menggenggam pergelangan si pemuda, lalu memperhatikanku lamat – lamat, tangannya mengelus tubuhku pelan, bibirnya meloloskan kalimat pujian saat maniknya menangkap keberadaanku yang tengah mendekap kulit pualam itu. Pertama kali dan satu-satunya, aku dipuji dalam riwayat hidupku. Meski aku sebenarnya tak berharap begitu.

“A –ah iya, pemberian orang tuaku” Ujarnya,

Sejak kapan aku merupakan barang yang diberikan orang tuanya? Yang benar saja, dasar pembohong! Ugh, lagi-lagi aku hanya bisa mengumpat.

“Ah begitu ya, umm Jaehyun, kenapa kita tidak kesana saja? Setengah jam lagi akan ada pesta kembang api, kau tidak akan melewatkannya ya ‘kan?”

Gadis itu menautkan jemarinya pada Jaehyun –ah sebenarnya, aku benci menyebutnya seperti itu– lalu, mereka berdua mengambil seribu langkah menjauh dari tempat yang dijanjikan acuan untuk bertemu tadi. Tanpa melepas tautannya, gadis itu melangkah dengan pasti melewati jajaran pertokoan yang mulai tutup seiring waktu berjalan. Tanpa ada rasa keingintahuan, Jaehyun justru mengikuti kemana gadis itu membawanya pergi. Seakan, kebahagiaan akan terus muncul jika ia bersamanya.

“Ini akan jadi tahun baru terbaik, percayalah!” Gadis itu berseru riang setelah kedua tungkainya berhenti tepat di depan bangunan tua minim penerangan jauh dari keramaian. Aku bahkan tak sadar kalau gadis itu telah membawa kita sejauh ini.

“Tempat apa ini, Jooseul –a?” Jaehyun mulai buka suara,

“Entahlah, aku baru menemukannya seminggu yang lalu, ayo!”

Lagi – lagi gadis itu menyambar tangan Jaehyun kuat, membuatku sedikit terguncang, ah untung aku tidak seperti manusia, kalau iya maka bisa dipastikan aku mual saat ini juga. Diriku benar – benar meragukannya, entah kenapa sejak pertama bertemu dia seperti –entahlah, mungkin aku hanya berdelusi saja.

Jangan mengejek, tapi memang benar delusiku ini tinggi.

Keduanya menaikki satu persatu anak tangga, disusul dengan ocehan riang yang keluar dari bibir Jooseul, Jaehyun tersenyum meski tidak benar – benar jelas namun aku dapat melihatnya, dia kelewat senang detik ini.

Aku rasa itu efek karena dia terlalu lama menyendiri, jadi begitulah. Dengan hal kecil saja, dia sudah bahagia sendiri bagai pendongeng yang berhasil masuk ke negeri peri.

Tepukan pelan dipundaknya menyadarkan Jaehyun, sesaat ia membeku, kemudian memfokuskan atensinya pada sang gadis yang kini sudah lebih dulu mengambil langkah untuk menyusuri atap gedung. Entah sudah terhitung berapa kali Jaehyun tersenyum lagi tanpa ia sadari; seolah-olah senyumannya itu akan meluluhkan hati sang gadis yang kini menatap takjub kearah langit.

“Yaa, kira – kira beberapa menit lagi sampai kembang api itu mulai, hmm sembari menunggu bagaimana kalau kita bermain – main sebentar?”

“Bermain?”

Jaehyun mengangkat satu alisnya, dibalas dengan anggukan mantap dari sang gadis, “Ya, bermain” lantas Jooseul –gadis itu– tersenyum asimetris sejemang kemudian ia mendekatkan diri, “Kau sebagai Samael, dan aku sebagai–”

Akh!”

Jaehyun mundur beberapa langkah kala tahu-tahu saja sang gadis melancarkan satu serangan kearah perutnya, manik pemuda itu terlihat gelisah, aku bisa merasakan ada ketakutan yang menyerang di dalam dirinya, padahal acap kali ia akan membusungkan dada dan melawan bukannya bungkam lalu mundur seolah kalah. Sialan! Sudah kuduga gadis ini bukanlah gadis biasa! Ah, bodoh!

“–Uriel”

Gadis yang tadinya terlihat menawan dengan surai kecokelatan, berubah menjadi hitam legam sewarna langit malam, matanya tampak berapi – api, sejurus kemudian sayap berwarna keemasan muncul di balik punggungnya, oh sungguh keadaan yang tidak bagus! Dan jangan lupakan tentang pedang berapi yang –entah sejak kapan– telah ia genggam di tangan kanannya. Ia tersenyum lagi.

“Tunjukkan tongkat kematianmu, wahai tuan Samael, ayo kita lihat manakah yang lebih kuat, cahayaku atau kegelapanmu?”

“Joo –jooseul?”

Aku tidak boleh diam.

Beberapa cahaya muncuat selaras dengan berubahnya wujudku, Jaehyun –tidak, maksudku Samael menggenggam tubuhku tanpa permisi. Bersamaan dengan itu suara kepakan sayap pelan muncul tepat di balik tubuh pemuda ini. Samael tersenyum miring, lantas menggulingkan pandangannya kearahku.

“Kau yang memulainya duluan, jangan salahkan aku jika temanku ini menyukaimu, Jooseul –oh, ataukah aku harus memanggilmu dengan sebutan, Uriel, hm?”

Ya, mari kita mulai petarungan ini, kawanku.

-fin-

Pertama-tama tia mau ngucapin:

SELAMAT ULANG TAHUN NCTFFI!!, semoga kedepannya lebih maju lagi!

Samael adalah Samael adalah makhluk mitologi kuno yang digambarkan sebagai manusia bersayap hitam. Samael adalah sosok malaikat yang bersifat jahat dan juga baik karena ia merupakan malaikat yang bekerja di bawah Tuhan namun memiliki tugas sebagai malaikat kematian.

Maaf, udah menistakan Jaehyun disini:’) percayalah ini bikinnya ngebut waktu liburan /gananya/ pokoknya makasih yang udah sempetin baca fic-absurd ini, sekali lagi,

SELAMAT ULANG TAHUN NCTFFI!

-salam hangat, tia ❤

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s