[Write Your Mythology] The Lost Pendant

co1

Judul: The Lost Pendant

Author: Süsse Blossom

Starring:

Moon Taeil

Kim Shinyeong

Moon Jong In

Genre: Myth, Mystery

Rating: PG-15

Mythological Creatures & God:  Werewolf

.

Disebuah sisi lain dunia, sebuah kegiatan berjalan dengan sempurna seperti biasanya. Namun jika dilihat lebih dekat, dunia ini bukanlah dunia yang sering kau lihat. Dunia yang gelap namun nyaman bagi para penghuninya. Penghuni dunia ini adalah sosok makhluk yang kejam dan haus darah bernama weregod, dimana sosok tersebut akan menunjukkan jati dirinya saat bulan purnama muncul dengan terangnya. Weregods adalah sosok yang biasa dikenal dengan werewolf, namun weregods memiliki kekuatan lebih hebat. Kau benar-benar tak akan bisa menemukannya. Tak ada dimanapun. Hanya satu dunia yang memilikinya, The Weregods Palace.

                Moon Jong In, seorang pemimpin The Weregods Palace yang dikenal begitu kuat dan berkuasa, yang  dipuja-puja oleh rakyatnya kini nampak gelisah. Meski ketenangan tetap menghiasi wajahnya, gestur tubuhnya yang bergerak kesana-kemari tidak dapat berbohong. Ia sedang memikirkan sesuatu, sebuah tugas yang berat.

“Moon Taeil, kemarilah!” Dengan pemikiran yang matang, ia memanggil keturunan pertamanya dari dewi weregod, Jung ChaeKyung.

“Ada apa memanggilku, ayah?” Moon Taeil menghampiri ayahnya dengan wajah yang tenang dan datar.

Moon Taeil, sosok weregod berwajah tampan dan tenang. Begitupula dengan kepribadiannya. Namun siapa yang sangka, dengan wajah tenangnya ia bisa menjadi sangat menakutkan dan mematikan bagi seseorang yang mengancamnya.

“Kemarilah, aku punya tugas untukmu.” Moon Taeil berjalan semakin dekat menghampiri sang ayah yang sedang berdiri sambil menggenggam tangannya dibelakang tubuhnya. Moon Taeil bukanlah seorang yang terburu-buru seperti adiknya, Moon Taejoon, jadi ia tidak tergesa-gesa bertanya pada ayahnya perihal tugas yang hendak diberikan padanya. Tapi pasti, Moon Taeil dapat menyelesaikannya.

“Kau tahu ruangan yang berada disana?” tanya Moon Jong In sambil menunjuk ke sebuah pintu kayu yang terkunci dengan rantai besi. Taeil memperhatikan ruangan tersebut dengan seksama.

“Ya, ayah. Ada apa dengan ruangan itu?” tanya Taeil. Sang ayah menghela napas cukup panjang sebelum kembali berbicara.

“Ruangan ini, kau tahu, ruangan yang tak pernah dibuka. Didalam ruangan ini, terdapat tiga buah cincin berlian. Cincin tersebut bukanlah cincin biasa, benda tersebut dapat membuat keabadian bagi pemakainya. Dan juga kekuatan yang membuatmu tak dapat dikalahkan oleh makhluk apapun. Namun sayangnya, kita kehilangan kunci untuk ruangan ini. Seseorang membawanya ke dunia lain.” Jelas Moon Jong In.

“Bagaimana bisa ayah? Bagaimana ia bisa membawa kunci tersebut?” ujar Taeil. Ia terlihat marah, namun ia dapat mengendalikannya.

“Lima ribu tahun yang lalu, aku memiliki orang kepercayaan. Ia bernama Kim Hyunsik. Ia adalah sosok yang begitu tangguh dan patuh padaku. Ia dapat menghabisi ribuan pasukan musuh dengan tangannya sendiri. Maka dari itu, kuserahkan kunci itu padanya agar tak seorangpun dapat mencurinya. Sampai suatu ketika ia turun ke dunia lain dan jatuh cinta kepada makhluk bernama manusia. Ia meminta izin padaku agar aku mau menikahkannya dengan makhluk itu. Aku benar-benar tidak setuju dengan apa yang ia katakan dan melarangnya menikah dengan makhluk itu. Namun, di suatu masa aku tak menyadarinya, ia melarikan diri dan menikah dengan makhluk itu.” Jelas Moon Jong In.

Taeil bergidik jijik. Hubungan antara weregods dan manusia menurutnya memang tidak pantas dilakukan. Manusia hanyalah makhluk lemah dan menjijikan yang hanya bisa memanfaatkan air mata mereka sebagai perlawanan dan pembelaan diri, tidak pantas jika bersanding dengan makhluk kuat dan memiliki kekuatan yang istimewa seperti weregods.

“Menjijikan ayah. Bagaimana kau bisa mempercayai orang seperti itu? Dan bagaimana dengan kunci itu? Apakah dia membuangnya?” tanya Taeil.

“Cinta, anakku. Cintalah yang patut disalahkan atas pembangkangan itu. Kim Hyunsik menikah secara diam-diam karena ia tahu kita akan terus mencarinya. Dan sebelum kita menemuannya, ia memiliki keturunan dari makhluk itu dan memerintahkan istrinya untuk membawanya pergi sejauh mungkin dari dirinya. Dan sebelum menyuruh istri dan anaknya pergi, ia mengalungkan kunci itu di leher anaknya. Sehingga saat pasukan kita hendak membunuhnya, kunci itu tak lagi ada padanya dan membuat kita harus mencari kemana istrinya pergi.” Jelas Moon Jong In lagi.

 “Pasukan kita telah berhasil melacak dan menemukan istrinya, namun kita kehilangan jejak tentang anaknya. Namun sebelum pasukan kita membunuh istri dari Kim Hyunshik, ia menggumamkan nama yang kami yakin adalah nama dari anaknya.” Sambil menatap Taeil, Moon Jong In melanjutkan lagi penjelasannya.

“Siapakah nama anak itu, ayah?” tanya Taeil to the point.

“Kim Shinyeong.” Jawab Moon Jong In dengan singkat.

“Kim Shinyeong.. dimanakah ia berada, ayah? Dan- mengapa kau serahkan tugas ini padaku?” Taeil sedikit bingung. Mengapa ayahnya menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan ini. Padahal ia bisa saja mengerahkan pasukannya seperti apa yang telah ia lakukan pada Kim Hyunshik dan istrinya.

“Kau memiliki pengendalian diri yang begitu baik, anakku. Aku yakin, kau akan melaksanakan tugas ini dengan baik tanpa harus melibatkan perasaan, karena aura gadis ini begitu kuat.” Jelas Moon Jong In sambil memegang pundak anaknya, berharap bahwa Moon Taeil dapat melaksanakan tugas yang ia berikan dengan baik. Taeil tersenyum tipis, meyakinkan ayahnya bahwa ia pasti bisa.

“Percayalah padaku, ayah.”

                                                                                                ~~~….~~~

Seorang gadis berjalan pelan menuju gerbang yang baru saja dibuka dengan bertuliskan HanKyung University. Sambil memegang tas selempangnya, gadis cantik itu semakin masuk kedalam gedung kaca yang memiliki enam tingkat keatas.

Shinyeong semakin dekat dengan ruangan tercintanya, ruang musik. Namun samar-samar, ia mendengar suara piano melantun dengan indah. Semakin dekat dengan ruangan yang ia tuju, semakin terdengar jelas lantunan indah piano tersebut. Seharusnya tidak ada orang diruangan ini, karena Shinyeong selalu datang paling awal demi menikmati kesendiriannya di ruangan ini. Begitu sampai, Shinyeong membuka pintu ruangan, dan melihat seorang pria dengan jari-jari lihainya sedang memainkan piano dengan sangat indah. Tapi- siapa dia? Shinyeong belum pernah melihat pria itu sebelumnya.

Jeogiyo-” ujar Shinyeong dari depan pintu dengan singkat, namun dapat membuat pria itu menoleh kearahnya.

“A-aku tak pernah melihatmu sebelumnya.” Shinyeong memulai pembicaraan. Namun tanpa membalas perkataannya, pria itu berjalan kearah Shinyeong. Membuat Shinyeong bingung dan sedikit takut.

 Taeil POV

                Tanpa menghiraukan perkataannya, aku berjalan mendekatinya, meninggalkan tuts piano yang belum tuntas kumainkan. Ayah benar. Semakin dekat dengannya, semakin aneh rasanya. Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, namun apa itu? Aku tidak tahu. Yang jelas, kedatanganku ke tempat yang menyedihkan ini adalah mengambil kunci itu dari gadis ini. Kim Shinyeong.

                Kuperhatikan gadis ini dari atas sampai bawah, mencoba mengetahui darimana asal aura aneh gadis ini dan bagaimana cara agar menghilangkan aura itu. Mataku membulat ketika netraku menangkap sebuah kalung –lebih tepatnya liontin yang melingkar dilehernya. Itukah benda yang selama ini ayah cari? Sebuah kunci berwarna perak mengkilap dengan dua buah berlian di tubuh kunci itu. Gadis ini benar-benar gila! Bagaimana jika ada seseorang yang tahu dan mengambil kunci itu darinya? Oh, bodohnya aku. Siapa yang menginginkan benda itu selain aku.  Persetan dengan kegilaannya. Aku harus bisa mengambil benda itu tanpa gadis itu menyadarinya.

Author POV

“Hei! Apa kau mendengarku? Kau ini siapa?” Shinyeong memulai pembicaraan lagi, kali ini dengan nada setengah teriak. Bagaimana tidak? Pria ini sama sekali mengabaikan ucapannya dan malah menatapnya dari atas sampai bawah.

“Moon Taeil.” Sambil mengulurkan tangannya, ia membalas perkataan Shinyeong. Ternyata pria ini tidak gagu dan tuli, pikir Shinyeong. Shinyeong membalas uluran tangan Taeil dan menjabat tangannya.

“Astaga! Kau sakit? Tanganmu dingin sekali!” ujar Shinyeong dengan wajah paniknya, membuat Tail terheran-heran. Sakit? Telah ribuan tahun Taeil hidup dan tak pernah merasa sakit sedikitpun.

“Oh, tidak apa. Aku memang selalu seperti ini.” ujar Taeil sambil tersenyum. Diam-diam, ia mengetahui bagaimana cara mendapatkan kunci itu dengan mudah. Meskipun memerlukan waktu.

“Ah, benarkah? Kau aneh sekali.” ujar Shinyeong dengan polosnya.

“Kau kuliah disini? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.” Shinyeong memulai pembicaraan –lagi. Ia benar-benar penasaran dengan pria yang ada dihadapannya ini.

“Ah, tidak. Aku hanya ingin mengunjungi tempat ini, hanya disini aku dapat bermain piano dengan tenang.” Jawab Taeil, yang diikuti dengan anggukan Shinyeong yang begitu lugu. Seperti tidak menyadari sedikit kebohongan dari pria yang diajaknya bicara ini. Jika Shinyeong sedikit cermat, seharusnya ia menyadari tentang bagaimana cara pria ini masuk kedalam ruangan itu, padahal pintu gerbang baru saja dibuka saat ia datang dan mahasiswa yang sudah datang bisa dihitung dengan jari.

“Kau suka piano?” tanya Taeil tiba-tiba. Shinyeong menoleh kearah Taeil dan dengan cepat menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Taeil sudah tahu apa yang akan dijawab oleh Shinyeong, Taeil hanya berbasa-basi agar bisa lebih dekat dengan gadis ini.

“Sangat. Aku menyukainya sejak kecil.” ujar Shinyeong. Taeil hanya mengangguk.

“Ah, begitu. Hmm, kunci apa yang berada dikalungmu? Apakah kunci rumah? Mengapa kau menggantungkannya dilehermu?” tanya Taeil. Ia hanya ingin tahu, seberapa berartinya kunci itu baginya sehingga ia tahu bagaimana untuk mengambil kunci itu dengan lebih mudah.

“Entahlah, aku tidak tahu. Tapi yang jelas, ini pemberian orang tuaku.” Jelas Shinyeong singkat dan jujur. Ia memang tidak tahu arti dan guna kunci tersebut. Bagaimana tidak? Shinyeong adalah anak sebatang kara yang dititipkan di panti asuhan kecil. Penjaga panti asuhan itulah yang memberitahu asal kunci tersebut.

“Cantik.” Puji Taeil ambigu. Shinyeong mengangguk, ia memang menganggap kunci yang ia gunakan sebagai liontin kesayangannya itu begitu cantik. Tidak akan kau temukan kunci sebagus ini didunia ini.

“Ya, benar. Kunci ini memang cantik. Aku tak akan menukarnya dengan apapun, meski aku dapat membeli Korea dan segala isinya dengan kunci ini.” ujar Shinyeong sambil tersenyum kecil, sembari memegang dan memperhatikan kunci cantiknya.

“Tidak. Yang aku maksud adalah dirimu.” Shinyeong terkejut dengan ucapan Taeil. Gadis cantik itu membulatkan matanya dan menoleh kearah Taeil. Shinyeong akui, ia sering mendengar ucapan itu. Entah mengapa rasanya berbeda jika Taeil yang mengatakannya. Mungkin karena pria yang baru saja dikenalnya ini, begitu susah ditebak dan misterius. Mungkin juga karena terpana wajah tirus Taeil yang sempurna dengan rambut coklatnya yang begitu halus. Atau mungkin karena ada sesuatu yang lain?

“Kau tahu, aku mungkin tak akan lama disini. Aku akan pergi dan tak akan kembali. Namun, aku ingin menghabiskan hariku yang singkat ini bersamamu, Kim Shinyeong.” Taeil berjalan mendekat kearah Shinyeong, hingga hanya tersisa beberapa sentimeter jarak antara keduanya. Shinyeong yang tidak pernah punya pengalaman dengan pria melangkah mundur demi memperlebar jarak mereka. Namun sebelum Shinyeong semakin jauh, Taeil meraih pinggang mungil gadis itu, menarik mendekap gadis itu dengannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Anehnya, Shinyeong tidak merasa keberatan dengan apa yang dilakukan pria yang baru dikenalnya beberapa menit lalu ini.

“Habiskan hari ini bersamaku, Kim Shinyeong.” Taeil memohon dengan tatapan yang iba, sembari menggengam tangan shinyeong dengan tangannya yang menganggur. Nafas Shinyeong tak beraturan, sedikit merasakan aura aneh pada pria ini.

“B-baiklah, Taeil-ssi.” jawab Shinyeong. Pria ini membuat kerja otaknya menjadi terbalik. Ia bahkan tak menyadari, darimana pria itu tahu namanya? Padahal Shinyeong belum sempat mengenalkan diri.

Taeil tersenyum, lalu melepaskan dekapannya pada Shinyeong. Kemudian, Taeil menarik tangan Shinyeong dan berlari menjauh dari ruangan itu. Shinyeong yang tak tahu apa-apa hanya pasrah, entah kemana pria itu akan membawanya.

Yang jelas, ia tidak keberatan.

~~~….~~~

Bulan sudah bersinar dengan terangnya, tak terasa matahari ternyata sudah terlelap sejak tiga jam lalu. Kini jam telah menunjukkan pukul sembilan malam.

Taeil dan Shinyeong. Mereka masih bersama. Sepertinya memang karena menikmati kebersamaan, namun jika kalian tanya, mereka tak akan mengakuinya.Tapi kalian pasti tahu jika melihat mereka berjalan berdampingan dengan tangan yang menggenggam satu sama lain, tanpa berbicara apa-apa, menikmati keheningan malam yang indah.

“Kau tahu, hari sudah malam. Dan aku belum menyentuh piano seharian ini. Aku memang seharusnya menyalahkanmu.” ujar Shinyeong tiba-tiba dengan tetap menatap kedepan. Taeil menoleh kearah Shinyeong, sepertinya memang sudah saatnya.

“Baiklah, aku akan menemanimu bermain piano, selama apapun yang kau inginkan.” kini Shinyeonglah yang menoleh ke arah Taeil, namun dengan tatapan terkejutnya yang polos. Taeil tetap dengan wajahnya yang datar, menunjukkan bahwa ia serius ingin menemani Shinyeong. Dan juga mengambil kunci itu secepatnya.

“Benarkah? Tapi- kau tahu, aku hanya bergurau. Piano hanya ada di HanKyung. Sekarang sudah pukul sembilan, tak mungkin kita kesana. Terlalu jauh.” ujar Shinyeong. Kau tahu, Shinyeong mungkin menganggapnya bercanda, namun tidak dengan Taeil. Tentu saja alasannya karena kunci itu. Atau mungkin memang ingin menemani gadis ini?

“Jarak bukan masalah untukku. Tutup matamu.” bukannya menutup matanya dengan segera, Shinyeong  justru malah mebulatkan matanya lebar-lebar, tak percaya dengan pria ini yang begitu serius. Berbeda dengan beberapa jam sebelumnya.Taeil membuang napas gusar, karena gadis berwajah polos ini tak kunjung menutup matanya. Akhirnya, Taeil menutup mata gadis itu dengan telapak tangannya. Dan dengan segera mendekap gadis itu supaya tertutup penuh dengan tubuhnya.

.

.

Tiba-tiba saja mereka sudah berada diruang awal tempat mereka pertama kali bertemu. Waktu tetap tidak berubah, hanya berselang sepersekian detik. Inilah kekuatan istimewa lain yang dimiliki Taeil. Semacam, teleportasi?

Taeil melepaskan dekapannya, dengan perlahan melepaskan telapak tangannya yang menutupi manik mata indah gadis itu. Shinyeong dengan perlahan membuka matanya, mengerjapkan matanya yang masih nampak buram. Hingga akhirnya ia tersadar sudah berada di ruang kesayangannya di HanKyung University. Shinyeong menganga tak percaya, bagaimana bisa pria ini membawanya kesini secepat itu?

“Astaga! Bagaimana bisa-” belum selesai berbicara, Taeil mengarahkan jari telunjuknya di bibir mungil gadis itu, mengisyaratkan agar Shinyeong tak pelu melanjutkan pembicaraannya.

“Malam sudah hampir habis. Aku ingin kau menghabiskan sisa malam ini untuk mendengarkanmu bermain piano.” ujar Taeil dengan nada dan wajahnya yang datar. Ia inggin segera mengambil kunci itu dari Shinyeong. Atau mungkin karena alasan lain?

Shinyeong mulai duduk di kursi yang berada tepat menghadap piano. Taeil pun juga ikut duduk di sebelah Shinyeong. Shinyeong mulai melantunkan tuts-tuts piano yang terlihat biasa itu menjadi alunan yang begitu menenangkan. Taeil mengakui keahlian Shinyeong yang satu ini. Ia juga mengakui bahwa ia sedikit terhanyut dengan permainan nada Shinyeong yang begitu murni. Sampai membuatnya tidak sadar, sudah dua jam lebih permainan piano berjalan. Shinyeong pun seperti itu, tak sadar karena ia begitu menikmati kala ia bersama piano.

TENG! TENG! TENG!

Keduanya menghentikan aktivitas mereka, mendengar suara denting keras dari jam raksasa milik HanKyung University. Jam itu memang selalu berdenting kala jam telah menunjukkan jam enam atau jam dua belas. Itu artinya, waktu telah menunjukkan tepat tengah malam.

Mungkin, ini saatnya.

Taeil berdiri dari duduknya. Kala bulan tepat berada ditengah bumi dengan bulatnya, sosok Taeil yang manis kini berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Tubuhknya kini dipenuhi bulu-bulu halus berwarna abu-abu, diikuti dengan kukunya yang meruncing dan sekuat gading gajah. Matanya kini semerah darah, diikuti taring setajam pisau. Shinyeong berdiri ketakutan. Terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sosok manis yang selama berjam-jam lalu menemaninya kini hilang digantikan dengan sosok menyeramkan seperti serigala.

Taeil berjalan dengan begitu cepat mendekati Shinyeong dan mendorongnya ke sudut ruangan. Kecepatannya yang secepat pesawat jet tak yang tentu saja tak dapat  ditandingi Shinyeong. Kedua tangan Taeil yang seperti cakar mencengkram pundak mungil gadis itu, supaya gadis itu tak kemana-mana. Shinyeong yang tak bisa apa-apa hanya bisa menangis.

“Kunci itu. Berikan padaku sekarang, nona. Aku bisa saja memakanmu dan merobek seluruh isi tubuhmu sebagai ancaman.” ancam Taeil dengan matanya yang lapar. Dengan tangannya yang bergetar karena isak tangisnya, Shinyeong melepaskan kalung dengan liontin kunci dari lehernya yang putih. Tak dapat lagi berpikir jernih dikala keadaannya yang seperti itu. Kemudian ia menyerahkannya begitu saja pada Taeil.

Setelah mendapatkannya, Taeil melepaskan cengkramannya pada Shinyeong dan membiarkan Shinyeong terjatuh di lantai begitu saja. Ia berjalan menSebelum ia pergi, ia memandangi Shinyeong yang tengah menagis dengan airmatanya bak air terjun, sebagai salam terakhirnya untuk Shinyeong. Entah mengapa, Taeil butuh beberapa menit agar ia bisa berpikir jernih dan dengan cepat meninggalkan Shinyeong.

Shinyeong hanya bisa menangis, dan kini ia tak tahu harus berbuat apa. Seorang pria yang ternyata telah berhasil membuka hatinya, ternyata adalah sesosok makhluk ganas yang ia ketahui adalah werewolf, sosok yang dapat melukainya kapan saja.

~~~….~~~

Tak butuh waktu yang lama bagi Taeil kembali ke dunianya. Kini ia telah berada didepan gerbang amat besar milik The Weregods Palace. Sebenarnya Taeil tak perlu berada disana, karena ia bisa saja langsung berteleportasi ke tempat ayahnya dan memberikan kunci itu secepatnya dan mendapatkan kekuasaannya. Namun, entah apa yang dirasakan Taeil saat ini. Melihat gadis itu menangis, Taeil merasa –kasihan? Namun rasa kasihan tidak sekalut ini, karena rasanya Taeil ingin sekali mendekap dan memohon ampun pada gadis itu secepatnya. Entahlah. Namun, perasaan yang ia pikir menjijikan kini menimpanya setelah beribu tahun lamanya. Ayahnya benar, perasaan cinta itu melemahkan dan berbahaya. Dan yang paling berbahaya adalah keraguan dan pikirannya saat ini.

Haruskah aku mengembalikan benda ini dan pergi kembali agar bisa selalu bersamanya?

fin.

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s