[Write Your Mythology] Yellow Balloon Ride

yellow balloon ride

NCT’s Mark & SRG’s Koeun Myth, Adventure, Fantasy General Vignette

“Selamat datang dunia impian. Tempat yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang menghargai mimpi masa kecilnya.”

.

.

Sore ini terasa begitu melelahkan untukku. Bagaimana tidak, kejuaraan basket tingkat provinsi tinggal dua hari lagi, Jaehyun sunbae—pelatih tim basket sekolahku—bersi keras menggembleng kami berlatih tanpa henti.

Segera kuselempangkan tas yang sedari tadi ada di pangkuan untuk bersiap turun ketika bis telah berhenti di kawasan Jamwon-dong. Tak kupedulikan rasa nyeri pada pangkal betis yang terus mengganggu seiring dengan langkah menuju ke rumah.

Dengan iseng aku menoleh ke kanan. Tanpa sadar aku telah mencapai separuh perjalanan dan melewati taman komplek perumahan yang sedang ramai. Tiba-tiba seorang anak kecil menabrakku. Untungnya refleks tubuhku kebetulan sedang bagus, jadi aku bisa menahannya agar tidak jatuh.

“Kalau lari lihat-lihat, dong!” aku berdecak kesal. Tak ada respons dari bocah yang baru saja kuomeli itu. Karena heran, aku pun menatapnya. Seketika mataku terbeliak tatkala melihat ekspresi wajah anak itu. Bibirnya mengerucut, serta matanya berkaca-kaca seolah siap menangis. Karena kepalanya mendongak, aku pun jadi ikut menengadahkan kepalaku untuk melihat ke arah yang sama. Sebuah balon kuning tengah terbang di langit dan semakin lama semakin kecil hingga tak lagi dapat dijangkau mata.

Dengan cepat aku menarik konklusi bahwa balon itu adalah penyebab bocah itu memasang raut demikian. Saat ia terjatuh karena berlarian, balon itu terlepas dari genggamannya dan terbang. Sial, aku jadi mendadak merasa bersalah.

Seketika pikiranku disambangi oleh sebuah kenangan. Impian-impian konyol yang aku buat di masa kecil. Aku menyeringai tipis, merasakan betapa cepatnya aku bertumbuh hingga membuatku lupa dengan mimpi-mimpi itu. Aku tidak tahu pasti, sih, apa yang dipikirkan oleh anak yang baru saja kutabrak itu. Namun melalui kesedihannya, aku seperti diperlihatkan oleh refleksi diriku sendiri di masa kecil.

Semakin dalam usahaku mengingat mimpi-mimpi itu, entah mengapa kepalaku jadi terasa berat. Pandanganku pun mulai memburam dan seketika…

Semuanya gelap.

+++

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang masih terasa berat. Yang pertama kali kulihat adalah langit yang membentang dengan warna jingga dan nila serta dihamburi kilauan putih seperti salju. Aku kembali memejamkan mata, mungkin aku belum sepenuhnya sadar sampai-sampai otakku menangkap pemandangan seaneh itu.

Saat aku kembali membuka mata, warna langit yang kulihat tetaplah sama. Dan aku juga baru menyadari bahwa kini aku tengah berbaring di atas rerumputan. Aku pun segera bangkit. Dan pada saat itu pula sepasang manikku dihadapkan oleh hamparan sabana yang amat luas. Tak hanya itu, bahkan ada gunung es yang mengelilingi tempat di mana aku berada sekarang.

Ini aneh. Tempat ini bukan sekadar asing, melainkan sungguh tidak biasa. Aku ingat terakhir kali sebelum aku secara tiba-tiba hilang kesadaran, aku masih berada di sekitar komplek perumahanku. Lantas, bagaimana bisa aku sampai di sebuah tempat yang laksana negeri dongeng ini? Atau jangan-jangan… aku sedang bermimpi? Pasti tidak. Aku yakin tubuhku telah bersatu dengan jiwaku kali ini.

“Halo, sudah selesaikah bergolak dengan batinnya?” sebuah suara yang terdengar serak-serak basah menelusup telingaku, dan nampaknya pertanyaan itu ditujukan untukku. Aku lantas berbalik—karena kuyakin sumber suara itu berasal dari belakang.

Seketika kudapati sesosok gadis bersurai panjang tengah berdiri sembari menyilakan tangan di depan dada. Badannya lumayan tinggi serta surai hitam legamnya amat mencolok. Serius, kalau dia adalah murid di sekolahku, bisa-bisa keindahan rambutnya akan menjadi sorotan banyak mata. Oke, aku tidak akan berpendapat terlalu jauh tentang gadis yang tak kuketahui dari mana juntrungannya ini. Namun sepertinya aku perlu tahu tentang dirinya—dan tempat aneh ini tentunya.

“Selamat datang di dunia impian. Tempat yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang menghargai mimpi masa kecilnya.” ucap gadis itu tiba-tiba. Aku sontak berjengit, gadis ini ngomong apa, sih?

Sungguh berbeda dari rencana awalku yang ingin menanyakan segala kuriositas mengenai tempat aneh ini. Yang ada sekarang pikiranku malah diselimuti perasaan kalut. Setelah menelaah perkataannya baik-baik, apa artinya… aku sedang tidak berada di duniaku sendiri? Maksudku… apakah aku jauh dari Seoul?

“Mark-ssi, kenapa kau berekspresi seperti itu?” heran gadis itu. Uh-oh… apa wajahku terlihat secemas itu?

“Bagaimana bisa aku sampai ke sini? Tadi kan aku ada di—”

“Ingatanmu tentang mimpimu di masa kecil-lah yang membawamu ke mari.” sahutnya sebelum aku selesai merampungkan kalimat. Ternyata dia gadis yang tidak sopan. Eits, bukankah barusan dia menyebut namaku?

“Kok, kau bisa tahu namaku, sih?”

Bukannya langsung menjawab, gadis itu malah sibuk merogoh kantungnya. Seperti sedang mencari sesuatu. Aku cuma memandanginya dengan air muka heran. Sampai akhirnya ia selesai dan menemukan apa yang sedari tadi ia cari. Ternyata itu adalah sebuah buku. Setelah mendapatkannya, ia pun membukanya dan mencari sebuah halaman yang berisi sesuatu yang ia cari.

“Semuanya sudah tertulis di sini.” katanya sembari menyodorkan halaman yang berada di pertengahan buku kepadaku. Aku menatapnya dengan saksama. Betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa ada fotoku di situ, lengkap dengan nama, tanggal lahir, dan tempatku tinggal.

“Ini maksudnya apa?” tanyaku bingung.

“Buku ini merupakan jurnal harianku. Setiap hari akan ada pembaruan otomatis mengenai siapa yang akan dibawa untuk mengarungi samudra mimpi.”

Aku lantas bergeming. Mengarungi samudra mimpi? Apa lagi, tuh?

“Oh, ya ampun… aku lupa kalau mimpimu adalah terbang melintasi angkasa dengan balon warna kuning. Jadi kali ini, kita tidak lewat samudra.” ujarnya lagi. Seketika aku tersentak. Perkataannya barusan seperti sebuah detail kecil yang memberiku celah besar untuk memecahkan segala rasa penasaran yang sedari tadi mondar-mandir di kepalaku.

Ini semua pasti karena aku melihat balon kuning yang tadi lepas dari genggaman anak itu—membuatku seketika teringat mimpi konyol yang pernah kupikirkan waktu kecil. Bagiku, balon warna kuning selalu memberikan sekelebat memori yang indah. Dengan hati yang gembira aku terbang melintasi langit, menembus awan-awan kumulus, serta menyapa sekawanan burung yang tengah berbagi langit sebagai lahan bermain.

“Bagaimana, sudah siap mewujudkan mimpi?” tanya gadis itu.

“Boleh kutahu namamu?” entah ide dari mana hingga terlintas di benakku untuk bertanya seperti itu. Tapi wajar, kan? Setidaknya aku perlu tahu karena sebentar lagi dia akan jadi pemanduku untuk menyusuri mimpi masa kecilku—kalau tidak salah, sih, begitu.

“Oh, ya ampun… maaf. Namaku Koeun, peri pemandumu untuk perjalanan kali ini.” ia lantas membungkuk sesaat padaku.

“Oke, Koeun… mohon bantuannya.” balasku dan melakukan hal yang sama dengan apa yang barusan ia lakukan. Duhai, entah aku saja atau dia juga yang merasakan atmosfir kecanggungan sedang menyelimuti kami.

“Eh, Koeun… aku boleh bertanya, kan?” celetukku untuk memecah bungkam di perjalanan kami—yang entah akan ke mana, hanya Koeun yang tahu. Meskipun kami berjalanan beriringan, namun hanya suara derapan langkah kaki yang terdengar. Mangkannya aku tidak suka dan memilih untuk mengajaknya bicara.

Si empunya nama pun menoleh, “Tentu, tanyakan saja.”

“Kau seorang peri, kan? Tapi, kok, tidak bersayap? Dan… penampilanmu seperti manusia biasa.” sebuah pertanyaan tidak berbobot lolos begitu saja dari kerongkonganku. Tanpa kuduga wajah Koeun berubah menjadi aneh—susah didefinisikan. Uh-oh, apakah dia marah?

“Jadi kau mau ditemani dengan wujud seperti itu?” raut menegangkan Koeun mulai pudar. Sekarang jadi tak seberapa menakutkan seperti tadi. Perlahan aku tahu bahwa dia bukanlah peri yang lucu dan menggemaskan seperti Tinkerbell. Cukup mencengangkan mengetahui fakta bahwa ada juga peri yang seperti Koeun. Tidak lovely dan tersenyum setiap saat, tapi tidak buruk juga. Dia kelihatan mempesona dengan bersikap apa adanya.

“Sori, aku enggak bermaksud mencibir atau apa. Hanya… berbeda saja dengan peri di buku cerita.”

“Kupikir manusia bakalan senang kalau ditemani dengan seseorang yang terlihat seumuran dengan mereka. Jadi aku mengubah wujudku seperti ini.” jelas Koeun yang langsung kusambut dengan decakan kagum—serius, aku tidak sedang bersandiwara.

“Kau bisa berubah jadi apapun yang kau mau? Wow! Tapi, seperti apa wujud aslimu?” aku coba mengemudikan arah pembicaraan ini menjadi lebih seru untuk disimak.

“Tidak ada. Peri dunia impian memiliki wujud seperti gas. Bisa berubah-ubah kapan saja sesuai kehendak.”

Niatku menyodori Koeun lebih banyak pertanyaan tentang dirinya dan dunia ini tertunda saat kami sampai di ujung taman. Aku pun sontak terlongo saat melihat sebuah balon warna kuning raksasa sudah ada di hadapan kami.

“Ayo kita ke atas. Pegang tanganku, Mark.”

Tanpa pikir panjang, aku langsung menjamah kelima ruas jari milik Koeun. Sebenarnya aku mau tanya kenapa dia tidak memakai serbuk peri untuk membuatku bisa terbang. Tapi rasanya tidak perlu. Habis, Koeun galak.

Beberapa jenak kemudian, kurasakan kakiku yang perlahan-lahan terangkat dan semakin lama kami semakin dekat dengan puncak balon itu.

“Wah, bagus sekali! Sayapmu seputih susu.” Aku kembali berdecak kagum saat sayap milik Koeun perlahan muncul dan mengelepak seperti kupu-kupu. Gadis itu cuma balas terkekeh. Oh ya ampun, dia tersenyum—meski tipis. Dia terlihat manis dengan matanya yang membentuk bulan sabit saat sedang terkekeh seperti itu.

Kami pun sampai di puncak balonnya. Kondisinya sungguh lengang. Kupikir akan ada camilan atau apa, kek, begitu. Agar pengunjung dunia impian lebih betah menikmati perjalanan mereka.

“Duduklah, Mark.” kata Koeun. Menuruti ucapannya, aku pun segera menempelkan bokongku dan menyilakan kakiku.

“Mari kita berangkat!” Koeun berseru sambil menepuk pelan sebuah sisi dari balon tersebut. Badanku bergeser sedikit karena terkejut dengan balon yang tiba-tiba saja bergerak.

“Kita akan ke mana?” tanyaku.

“Sebentar lagi kita akan menembus dimensi spektrum. Semua impian masa kecilmu akan tervisualisasikan di sana.” jelas Koeun yang kutanggapi dengan anggukan paham.

“Kau bisa menatap ke bawah sekarang.” segera kulakukan apa yang ia katakan. Dan sepersekon kemudian aku kembali dihadapkan dengan pemandangan yang membuatku berdecak kagum. Semuanya berwarna-warni. Aku melihat kolam renang, kemudian aku tertawa. Aku bahkan hampir lupa kalau dulu bercita-cita menjadi atlet renang. Ada pula rak kayu yang terpenuhi dengan buku. Dulunya aku juga sempat berpikir untuk menjadi penulis. Banyak sekali hal yang kulihat hingga rasanya akan terasa melelahkan jika kusebutkan satu per satu.

“Ada kapal pesiar juga. Apa dulu kau ingin jadi nahkoda?” celetuk Koeun. Pemandangan di bawah begitu menghipnotis hingga aku lupa akan eksistensinya.

“Tidak. Aku berharap bisa mengajak seluruh anggota keluargaku keliling dunia melalui jalur laut dengan kapal pesiar. Dengan begitu kami akan lebih lama menghabiskan waktu bersama, hahaha.”

“Kita akan segera sampai dan mendarat ke tempat semula.” ucap Koeun. Senyumku sontak terlipat. Waktu berlalu begitu cepat. Padahal aku masih ingin bernostalgia dengan mimpi-mimpi masa kecilku.

Aku kembali memegang tangan Koeun agar bisa turun. Dan sepertinya memperhatikan sayap indah milik Koeun saat sedang mengelepak jadi kesenangan tersendiri untukku. Sungguh, itu indah sekali.

“Jadi, setelah semuanya selesai, aku harus kembali ke duniaku?” tanyaku setelah tangan kami yang bergamit terlepas.

Eits, tentu tak semudah itu, dong!” jawab Koeun yang sontak membuat dahiku mengernyit.

“Kau harus ungkapkan apa yang telah kau dapatkan setelah menyusuri mimpi-mimpi masa kecilmu.” imbuhnya.

Kugaruk tengkukku yang tidak gatal. Ya ampun, Koeun benar-benar tak ada bedanya dengan guru kesastraanku yang selalu menyuruh para muridnya menuliskan amanat setelah kami membaca cerita pendek.

Eung… aku harus menghargai masa lalu?” jawabku asal. Dan sudah kuduga kalau raut Koeun akan berubah garang—dan itu seram sekali. “Jawab dengan benar atau kau enggak akan bisa pulang!”

Aku meneguk saliva mendengar frasa ketusnya. Oke, oke, ini tidak terlalu sulit jika aku menggunakan otakku untuk sedikit berpikir keras. Dan sebenarnya aku cukup tahu jawaban apa yang harus kuungkapkan. Tapi rasanya tidak terlalu buruk kalau aku sedikit mengulur waktu. Berhubung Koeun tak kunjung menelungkupkan sayapnya. Aku masih ingin melihatnya lebih lama lagi.

“Mimpi yang terukir di masa kecil bukanlah sebuah hal yang memalukan jika kau mengingatnya di kala dewasa. Mungkin selama kau bertumbuh, perlahan kau akan melupakannya. Namun suatu waktu kau perlu mengingatnya kembali untuk tahu betapa banyaknya kenangan indah serta harapan-harapan yang ingin kau wujudkan kelak. Saat kau terpuruk, kau hanya perlu mengingat masa kecilmu yang penuh dengan harapan. Ingatlah kembali betapa bahagianya hatimu saat kau membayangkan apa yang kau cita-citakan dapat menjadi kenyataan.”

Sumpah, setelah merampungkan kalimat, aku diam-diam telah merasa menemukan bakat terpendamku. Menjadi seorang pujangga yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk menulis beribu bait puisi—lupakan, aku cuma bercanda.

“Jawaban yang tepat, Mark.” Koeun menanggapi dengan wajah penuh penghargaan.

Ini kali keduaku melihat Koeun tersenyum. Namun senyuman yang ini jauh lebih terlihat manis.

“Saat kau mulai lelah, maka bayangkanlah kemenanganmu di pertandingan basket hingga semangat itu kembali mengalir dalam darahmu.” titahnya yang kubalas dengan anggukan patuh, siap!

“Sekarang pejamkan matamu, aku akan membawamu kembali ke duniamu.” ujarnya, namun kali ini tak segera kulakukan. Masih ada sebuah hal yang ingin kutanyakan sebelum aku benar-benar kembali.

“Koeun,”

“Iya?” si empunya nama memiringkan kepala.

“Kalau aku sudah kembali, adakah cara agar aku dapat menghubungimu? Ya… siapa tahu nanti aku mendadak rindu, hehehe.”

~ E N D ~

Maaf kalau cerita ini enggak jelas. Sebenarnya aku bingung sih cerita ini mau dieksekusi seperti apa. Akhirnya kugunakan saja lagu favoritku sebagai sumber inspirasi >///<

Makasih untuk yang sudah mau membaca sampai akhir. Jangan lupa tinggalkan komentar ya ^^

Advertisements

17 thoughts on “[Write Your Mythology] Yellow Balloon Ride

  1. wahhh aku langsung girang begitu ngecek notice dan liat cover nya ada MarkKoeun *shipper berjaya :3 wah tulisanmu memotivasi sekali ^^ senang bisa baca fanfic sebagus ini, mulai dari cast fav dan tentunya cerita yang unik ^^ fighting!!!

    Liked by 1 person

  2. “Ayo kita ke atas. Pegang tanganku, Mark.”

    ((pegang tanganku mark))

    lalu di-repeat sampe 100x koeun ngomong begitu……..

    waktu baca senyum2 sendiri mbalelkuh, entah kenapa atau emang don lagi mumet sama markjane atau mumetin mark yang kudu comeback lagi sama ensiti drim, ah entahlah…… yang jelas ini super duper ucul kyaaaaaaa…. rupanya dirimu berbakat jadi penulis dongeng 1001 malam ya mbalel? suasananya dapet banget apalagi pas dengerin lagunya itu chinagaboriiiiiiii lalalalalaaaaaa /slapped/ /lalu mendadak kangen mas yoochun/

    FIX MBALEL DAKU TERSENTUH FIX ENDINGNYA JUGA BEGITU SIYAAAALLLL, DON BAYANGIN BAGAIMANA MUKA MARK SEWAKTU DIA MENJELAJAHI MIMPI2NYA….. SAMBIL KEINGET PERCAKAPAN KITA WAKTU ITU MARK BE LIKE: “WES ALAH REK… SANTAI AE… AKU LOH GAPOPO, AKU LHO SENENG SENENG AE…..”

    /krik/

    Liked by 1 person

    • Baca juga dong yg scientist mermaid 🙂 /ENDORSE MULU LO LEL
      yeayy makasih jiyo udah baca dan komen :3
      Iya masih pegangan tangan doang kan koeun blm debut, entar kalo debut aku bikin NC /gak

      Liked by 1 person

      • Aku udah baca yg scientist mermaid, sumpah aku udah baca :’v Tapi cuma aku like HAHAHA. Habisnya aku spechlees baca itu, Jaehyun & Chaeyeon nakal banget. Aku dicampakkan :’v

        /ngilang lagi/

        Like

  3. MARK! BIASKU! HUHU ANYING (maaf lagi ingin berkata kasar)
    I like the way u described mark’s personality through his self-thinking bcs it contains of humor and slow-paced plot (although it isnt a chaptered ff) which is I like the most!
    DANNNNNN
    I ALWAYS LIKE A STORY WITH ANTI CLIMAX ENDING >////<

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s