[Write Your Mythology] HAECHARES

co2

HAECHARES

By Gigi_Gummy

Lee Donghyuck/Haechan, Ny Lee (Ibu Haechan), dll

Greek, Suspense, Family

PG 17

ARES

.

.

.

“Aku ingin pindah!” Pintaku

“Ada apa lagi?” Ada nada jengah pada kalimatnya.

“Mereka meledekku,” Mulaiku

“Bukankah sudah biasanya seperti itu?” Potong Ibuku

“Aku belum selesai. Dengarkan dulu,”

Aku menyeka ingus yang akan mengganggu kisahku, “Mereka meledekku, empat hari berturut-turut. Parahnya, mereka meledekku dengan kalimat-kalimat yang begitu aku benci. Ibu tahu bukan yang mana?”

Aku menunggu reaksi Ibu, menunggu apakah Ibu sepenuhnya mengerti terhadap ucapanku –dengan suara super sumbang–. Sekaligus beristirahat sejenak. Karena sungguh, flu membuatku harus mengeluarkan banyak energi hanya untuk berbicara.

Yeah, Ibu tahu,”

“Mengapa kau tidak membalasnya? Bukankah biasanya kau akan meladeni mereka hingga kalian semua masuk ruang konseling dan mengharuskan Ibu datang ke sekolah?”

“Jika saja flu tidak menahanku, aku mungkin sudah membalas mereka!”

Terjadi kesunyian setelahnya. Sepertinya Ibuku sedang menimang-nimang keputusannya. Dan aku juga membiarkannya saja, denyutan sakit mendadak menyerang kepalaku.

“Astaga, ini belum sampai triwulan pertama Donghyuck! Kau sudah dua kali pindah sekolah, dan akan jadi yang ketiga kalinya jika Ibu mengabulkannya.”

Aku memperhatikannya, bagaimana genggaman tangan Ibu pada kemudi menguat lalu kembali melemah saat Ibu menghela napas panjang.

“Ibu tidak bermaksud untuk memarahimu ataupun menuntutmu, apalagi sekarang kau sedang sakit. Tapi, tidak bisakah kau bertahan sebentar saja? Demi Tuhan, kau baru pindah sekolah sebelas hari yang lalu!”

Aku menghela napas berat, “Ibu mengatakannya karena Ibu tidak merasakan semua beban yang kurasakan. Saat pertama masuk, mereka semua tersenyum padaku. Tidak ada yang tidak menyapaku. Tapi seminggu kemudian, saat desas-desus itu merebak –yang entah dari mana datangnya. Semua tak lagi sama,”

Ibu menatapku, sejenak kami saling pandang sebelum fokus Ibu kembali ke jalanan.

“Mengapa Ibu tak pernah memberitahuku? Ibu selalu meyimpannya dariku, seolah-olah aku tak berhak tahu siapa Ayahku sendiri,”

“Jadi apa semua ini tetap salahku jika aku tak bisa menjawab pertanyaan ‘Siapakah Ayahmu’ yang terus digaungkan oleh mereka?!”

“Kau punya Ayah, kau harus percaya itu!” Genggaman Ibu pada kemudi kembali mengerat.

“Ibu terus mengatakannya berulang kali tapi tidak memberitahukan siapa Ayahku! Mengapa Ibu tak berkata jujur saja?! Meski aku hanya anak hubungan gelap,  aku juga bisa menerimanya. Tapi tidak dengan merahasiakan semuanya!”

“JAGA BICARAMU!” Ibu berteriak, “Kau bukan hasil kecelakaan, Donghyuck! Kau sungguh punya Ay-“

“LALU SIAPA AYAHKU?!”

.

.

‘Setelah proyek Ibu selesai, kau akan pindah. Tidak lama, mungkin seminggu lagi’

Saat jam makan malam, Ibu mendatangi kamarku untuk membawa semangkuk sup panas dan mengatakan hal itu. Ibu juga berkata bahwa secepatnya ia harus kembali. Oleh karena itu, Nenek akan mengunjungiku di pagi hari untuk mengurusku –karena aku sedang sakit. Dan terakhir, Ibu berkata bahwa ia tak lagi memaksaku untuk bersekolah disana.

Lamunanku tentang kejadian semalam terhenti saat kudengar suara ketukan dari luar, itu pasti Nenek.

Dengan sempoyongan aku bangun dari ranjang, memakai syal lalu dengan perlahan berjalan ke arah pintu. Saat berjalan, semuanya terasa berputar. Bahkan aku harus berpegangan pada dinding untuk menjaga keseimbangan.

“Pagi, Haechan”

Suaranya sangat pelan, menyerupai bisikan.

Aku mengernyit saat melihat wanita di hadapanku. Bukan, ini bukan Nenek. Nenek tidak akan berkunjung memakai baju zirah konyol seperti ini. Dan siapa tadi yang dipanggilnya? Haechan? Aku tidak mengenalnya.

“Maaf sebelumnya, tapi sepertinya anda salah rumah” Aku mengatakannya dengan suara sumbangku –yang masih belum hilang dan berniat untuk kembali menutup pintu. Flu-ku hari ini kian memburuk dan wanita ini telah mengacaukan waktu istirahatku yang berharga.

“Tidak, aku tidak salah rumah. Aku Bibimu, Haechan” Ia memelankan suaranya saat mengucapkan kata ‘Haechan’

Aku tersenyum maklum, “Nama saya Donghyuck”

“Ya benar, Donghyuck. Aku Bibimu. Bibi dari Ayahmu,”

Mataku membelalak, “A-Ayah?”

.

.

Untuk kesekian kalinya kuputar bola mataku sebal,

“Maaf saja, saya bukan seseorang yang mudah percaya pada orang lain.” Ujarku malas.

Setelah berdebat sengit di depan rumah dan menjadi tontonan warga, akhirnya aku mengalah dan membiarkannya masuk –karena aku sudah tidak tahan menanggung malu.

“Kau tak harus percaya padaku, nak! Cukup turuti saja perkataanku!” Teriakannya teredam oleh suara nyaring ketel air.

Dan sekarang aku menyesal telah membiarkannya masuk. Sedari tadi ia terus saja mengoceh dan menceritakan hal-hal konyol. Heol! Seharusnya tadi kudorong pergi saja wanita ini.

“Sungguh, kau harus bergerak cepat. Ini menyangkut hidup keluargamu. Jadi cepat cari Ibumu sebelum hal buruk menimpanya!” Sekali lagi ia berteriak.

Aku memijat kepalaku, “Ibuku hanya pergi untuk bekerja, oke? Dia seorang arkeolog jadi itu wajar kalau ia sering bepergian jauh. Aku juga tak perlu mencarinya, Ibuku adalah wanita dewasa yang bisa menjaga dirinya sendiri.”

Hah! Orang ini membuatku gila!

Sudah 3 jam wanita –yang mengaku sebagai Bibiku– ini menginvasi rumah. Ia tetap bersikukuh meyakinkanku bahwa aku adalah anak dari God of war, Ares. Aku dan Ibuku sedang dalam bahaya karena Afrodit –salah satu wanita ayah– yang entah karena apa merasa sakit hati dan berniat balas dendam pada kami.

Dan juga ia menyebutkan bahwa nama asliku adalah ‘Haechan’ sedangkan ‘Lee Donghyuck’ hanyalah nama samaran agar Afrodit tidak mengenaliku dan menyerangku.

Astaga, dongeng macam apa lagi ini?

Lagipula mengapa Nenek tak kunjung datang? Setidaknya jika Nenek di sini, Nenek bisa membantuku mengatasi wanita gila ini.

Ada apa dengan Nenek?

“Kau berpikir tentang Nenekmu?”

Ia datang dari arah dapur. Tadi ia mengaku ingin coklat panas, jadi kubiarkan saja ia membuat coklatnya sendiri. Aku terlalu malas untuk bangun dan membuatkannya.

Aku berkedip cepat, “Apa? Bagaimana…, bisa?”

“Hanya menebak,” Ia menyesap coklat panasnya, “Kau tadi berkata Nenekmu akan berkunjung, tapi sampai sekarang ia belum datang juga. Jadi aku bertanya saja.”

“Kau tak berpikir Nenekmu pikun, bukan?”

Tanpa sadar aku menggeleng, tentu saja tidak. Nenek tidak memiliki penyakit pikun. Nenek juga tidak memiliki kegiatan serius yang menyita banyak waktunya.

“Lantas apa yang menahannya?” Gumamku. Kuyakin pasti ada sesuatu.

“Kau tak ingin menghubungi Nenekm-”

Aku langsung menyambar jaketku dan keluar dari rumah.

Hey! Aku menyarankanmu untuk menghubunginya, bukan pergi ke rumahnya!”

Entah dorongan darimana, tapi firasatku mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Nenek.

“Itu beresiko! KEMBALI DONGHYUCK!!!”

Tak kupedulikan lagi teriakan wanita itu yang mencegahku untuk pergi, yang ada di pikiranku sekarang adalah cepat ke rumah Nenek. Bahkan, rasa pusing yang kurasakan kuacuhkan begitu saja. Beberapa kali badanku oleng dan hamper jatuh, sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap bertahan dan mencapai rumah Nenek.

“NENEK!” Aku langsung masuk saja ke rumah Nenek.

Tak seperti biasanya, rumah Nenek terlihat kosong… dan sepi. Ada sesuatu yang ganjil. Aku tak tahu apa itu, tapi aku bisa merasakannya. Aku berjalan ke dalam rumah, meneliti setiap sudut-sudut rumah Nenek. Berusaha mencari Nenek.

“Nenek? Nenek dimana?”

Tubuhku meremang saat merasakan ada seseorang di belakangku. Dari bayangan yang kulihat di lantai, itu seperti Nenek, tapi aku tidak benar-benar yakin kalau itu Nenek. Karena Nenek…

“Nenek di sini, Haechan”

Tidak pernah memanggilku dengan sebutan ‘Haechan’

.

.

Ugh! Aku menatap ngeri sosok di hadapanku.

Tepat saat aku membalikkan badan, ia sudah mendoronku ke dinding dan mencekik leherku. Kuku-kuku tajamya menyayat kulit leherku, bahkan aku yakin salah satu kukunya telah menembus kulit leherku.

Sosok ini, ia memiliki rupa seperti Nenek. Tapi ia memiliki tatapan yang tajam dan bengis. Tubuhnya seputih mayat dan juga berlendir. Aku bergidik ngeri saat mersakan leherku basah karena lendir miliknya.

“Mudah untuk dijebak, sudah kuduga” Ia mendesis, seperti ular.

Tangannya semakin kencang mencekikku, leherku terasa perih dan aku tidak bisa bernapas.

“Akh!” Merintihpun aku tak sanggup

“Kau bodoh telah menyia-nyiakan Athena. Begitu bodoh, sampai tak mendengar teriakannya. Ia sudah susah payah turun untuk menemuimu, tapi kau justru sama sekali tak peduli dengan ucapannya.”

“Kurasa kau juga tak akan peduli jika nantinya Afrodit membuat Ibumu mati”

Aku menggeleng samar. Mana mungkin aku tidak peduli?!

Meski sering bertengkar dan berbeda pendapat dengan Ibu, aku benar-benar menyayanginya. Mana mungkin aku rela Ibu mati begitu saja?

Pandanganku mulai memburam. Aku tak percaya semua menjadi seperti ini. Jika saja aku mengetahuinya sejak awal, aku tak akan merajuk pada Ibu untuk pindah sekolah lagi, aku juga tidak akan membuat Ibu merasa marah dan kecewa padaku. Aku telah berbuat buruk pada Ibu selama ini. Aku tidak pernah membahagiakannya sekalipun. Aku benar-benar menyesal.

Seandainya juga tadi aku mempercayai semua dongeng –nyata– dari Bibi aneh itu. Mungkin aku tak berakhir seperti ini.

Tapi semua angan-angan itu tak ada gunanya, aku terlambat.

.

.

Aku tak pernah merasa sepusing ini sebelumnya. Badanku terasa pegal dan menggigil, bahkan aku tak bisa merasakan kedua kaki dan tanganku. Semua yang kulihat pun seakan terbalik. Semesta ini terbalik. Tunggu, terbalik?

Kukedipkan mataku, aku hanya memandang ngeri pemandangan di hadapanku saat menyadari semuanya. Bukan pandanganku yang terbalik. Bukan juga semesta yang terbalik. Akulah yang terbalik. Diikat secara terbalik.

Aku mencoba melepas tali yang mengikat kedua tanganku, namun ikatannya terlalu kencang. Aku tak bisa membukanya.

‘Donghyuck-ah’

Terdengar suara familiar memanggil namaku. Kuangkat kepalaku untuk melihat seseorang itu.

Disana, tepat sejajar dengan arah pandangku aku melihat Ibu. Kondisinya sangat kacau, kedua tangannya terikat pada tiang, lebam terlihat di pelipis dan tulang pipi Ibu, ditambah dengan sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah segar.

Ibu! Napasku tercekat, tidak ada suara yang keluar saat kucoba memanggil Ibu. Ada apa ini?

IBU! Kali ini pun tetap sama. Tenggorokanku sakit.

IBU!!! Hanya suara deritan pintu yang keluar. Sungguh! Ada apa ini?!

Tenggorokanku semakin sakit saat aku semakin keras mencoba memanggil Ibu. Apa aku tidak bisa berbicara lagi?!

“Tak perlu memaksanya. Ibu bisa mendengarmu tanpa harus bersuara.” Ibu tersenyum tipis.

Mataku memanas, aku menangis. Apa ini balasan karena aku membentak dan meneriaki Ibu? Aku sungguh menyesal, sebelumnya aku memakai suaraku untuk merajuk dan merengek ini-itu pada Ibu. Bahkan pada saat percakapan terakhir kami, aku menggunakan suaraku untuk membentaknya. Sikapku begitu buruk.

Hey, kenapa kau menangis, Donghyuck-ah?” Suara Ibu kembali terdengar.

Seandainya aku bisa, beribu kata maaf akan kuucapkan untuk Ibu. Penyesalanku begitu mendalam pada Ibu.

“Wah, sepertinya kalian sudah menyamankan diri disini.”

Seorang wanita cantik berjalan ke arah kami. Dari rupa wajah dan bentuk fisiknya, aku dapat menduga bahwa inilah Afrodit. Sang pelaku utama. Menurut perkataan Bibi waktu itu seperti itu.

“Bagaimana keadaanmu sayang?” Ia tersenyum lalu mengelus pipiku penuh kasih.

Aku mendengus, Bibi berkata padaku bahwa kata-kata Afrodit begitu manis tapi tidak dengan sikap aslinya.

“Ah, aku lupa. Kau tak bisa berbicara lagi.” Senyumnya berubah menjadi seringai.

Benar bukan?

Ia menamparku, membuat tubuhku bergoyang bak bandul. Aku hanya bisa memejamkan mataku, aku ingin marah dan meneriakinya sejujurnya. Namun kondisiku sekarang sangatlah tidak memungkinkan.

Ia berjalan kearah Ibu

“Kebetulan sekali kalian berdua sudah sadar jadi aku akan menjelaskan perubahan rencanaku. Karena aku merasa membakar kalian hidup-hidup bersamaan, itu tidaklah seru. Jadi kuputuskan untuk menggunakan keahlianku.“ Ia dengan enteng mengatakannya

“Aku akan membuat kalian berdua saling mencintai. Mencintai dalam arti sesungguhnya. Lalu ketika Ares mengetahui jika wanita yang ia mencintai menghianatinya maka ia akan menghukum kalian berdua. Aku akan menyaksikannya, jadi aku bisa membalaskan dendamku tanpa ikut campur tangan secara langsung. Bukankah lebih menarik seperti itu?” Kembali ia menunjukkan seringai menyebalkannya.

“Baiklah mari kita mulai!”

Setelahnya muncullah lelaki bersayap di belakang Ibu, lelaki itu mulai bersiap dengan anak panahnya. Aku menduga bahwa lelaki itu Eros, sang dewa cinta. Ia yang akan melakukan eksekusi dan memulai kisah buruk aku dan Ibu nanti.

Aku semakin ketakutan, aku sungguh tak mau mimpi buruk itu terjadi. Sungguh mengerikan.

Tidak kehilangan akal, aku mencoba menggerak-gerakkan badanku kekanan-kekiri berdoa bahwa ini akan membuat fokus bidikannya terganggu. Aku tersenyum cerah saat kurasa usahaku berhasil, lambat namun pasti tubuhku mulai bergerak. Tapi anehnya, ia sama sekali tak terganggu.

Ia mulai menarik tali busurnya. Dengan perasaan takut dan ngeri aku semakin beringas menggerak-gerakkan badan. Ayolah! Kumohon, jangan biarkan rencana itu terjadi. Eros melesakkan anak panahnya, aku hanya menunduk pasrah saat merasa semuanya akan berakhir.

TAK!

“Aw! Apa yang Ayah lakukan?!” Aku menjerit sebal.

Hey! Apa kau melupakan janjimu sendiri untuk sopan pada orangtuamu?!” Ayah melotot

Aku menciut, “Aih, menyeramkan sekali,”

“Aku hanya sedang mengingat-ingat kejadian setahun lalu saat Ayah dengan cerobohnya membiarkanku dan Ibu dalam bahaya.”

“Meski begitu, aku datang dan memukul Eros tepat waktu! Lagipula mengapa kau begitu cerewet saat suaramu telah kembali? Tahu begitu, aku tidak akan berusaha untuk mengembalikan suara cemprengmu itu!”

“Ayah!”

“Berhenti berteriak! Sekarang dimana Ibumu?”

“Selalu saja mencari Ibu,” Cibirku

“Ibu ada di dapur.” Ucapku malas.

“Memangnya untuk apa aku turun jika bukan untuk Ibumu?” Tanyanya sarkatis, lalu berlalu begitu saja.

Hah! Dasar Ares!!

fin.

Advertisements

One thought on “[Write Your Mythology] HAECHARES

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s