[Chaptered] Introvert Squad (7화)

introvert-cyjh

“Introvert Squad” by Mingi Kumiko

 NCT Taeyong & Jaehyun, Gugudan Sejeong, and DIA Chaeyeon (also mentioned : VICTON Byungchan & GFriend Yuju) bromance, friendship, school life, romance  PG-13 

“Tak ada salahnya, kok, menyukai seseorang karena mereka mengerti keadaan kita. Kenapa kau harus ragu dengan perasaanmu sendiri?

Previous Chapter
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6A | 6B

“Akhir-akhir ini kau bertingkah sedikit aneh…” celetuk Taeyong di sela usahanya memfokuskan pandang ke arah ring basket dan bersiap melakukan shooting. Berhubung hari ini dirinya memiliki waktu senggang, jadi ia menyetujui ajakan Jaehyun bermain basket di sekitaran komplek rumahnya.

“Aneh apanya, sih?” balas pemuda yang tengah terduduk lesu karena telah kehilangan banyak tenaga setelah bermain basket itu.

“Kau jadi lebih hiperaktif dan sedikit, hmekspresif?”

“Dalam hal apa?”

DASH!

Taeyong berhasil memasukkan bola ke dalam ring. “Mungkin kau tak merasakannya. Tapi percayalah, sebagai orang yang paling mengerti dirimu, aku merasakan perbedaan antara kau yang dulu dengan kau akhir-akhir ini.”

“Bahasamu terlalu sulit ditelaah,” balas Jaehyun tak acuh. Ia lantas berdiri, hendak berjalan menuju toko swalayan untuk membeli minuman.

“Kau titip minuman tidak?” tanya Jaehyun pada pria yang tak kunjung jemu melemparkan bola ke ring.

“Tolong susu full cream yang low fat and high calcium.”

“Oke!”

Jaehyun menghentikan langkah saat Taeyong mendadak berteriak, “Kau…, jangan membeli minuman soda! Dan jangan pula mengambil minuman kalengan yang diletakkan di refrigerator. Tak baik untuk kesehatan.”

Arasseoyo, Nyonya Lee…”

Pria berbalut kaus longgar berwarna cerah itu akhirnya kembali dengan membawa sebuah kantung plastik di tangannya. Setelah menyadari kedatangan Jaehyun, pemuda itu pun menghentikan kesibukannya bermain bola basket seorang diri.

Nih…,” Jaehyun menyodorkan sekotak susu UHT kepada Taeyong.

“Terima kasih,”

Keduanya duduk di atas lapangan yang tak beralas. Menikmati minuman dingin mereka masing-masing dengan disirami lembutnya mentari senja.

“Oh iya, Jae… aku selalu lupa mengatakan sebuah hal penting ini.” celetuk Taeyong yang membuat Jaehyun langsung menoleh.

“Mau bilang apa?”

“Terima kasih, ya, karena sudah menjadi orang yang paling berjasa dalam usahaku mendekati Sejeong. Harusnya dari awal kau bilang saja kalau tiga ratus ribu won itu uangmu.”

“Ah, ketahuan juga…”

“Aku tahu tiga ratus ribu won itu tidak sedikit. Akan aku kembalikan, tapi tunggu tabunganku cukup dulu.”

“Hei…, aku tak membutuhkan itu! Anggap saja kalau aku hanya ingin menyalurkan dana untuk bakti sosial. Dan aku juga tak mengharapkan imbalan apapun. Tidak usah dipikirkan.”

“Kau membuatku ingin menangis.”

“Jangan jadi melankolis begitu, Taeyong…”

“Ayolah, katakan… apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?” Taeyong mendesak pria yang sedang asyik menyeruput minuman yogurt-nya.

Jaehyun menutup botol yang isinya telah raib itu kemudian bergeming sejenak. Ini kesempatan bagus. Bukan maksud hatinya untuk memanfaatkan teman dan pamrih atas kebaikan yang telah ia lakukan. Tapi kalian dengar sendiri, kan, kalau Taeyong sendiri yang malah meminta Jaehyun melakukan suatu hal demi dirinya?

Hm, baiklah… aku punya satu permintaan.” kata Jaehyun.

“Apa?”

“Sepertinya aku sedang merasakan perasaan yang tidak wajar, kau bisa membantuku mengidentifikasi apa yang sedang kurasakan?”

***

Hari Senin datang lagi, itu artinya rutinitas mendengarkan penjelasan dan mengerjakan tugas dari guru harus kembali dijalani. Suasana gaduh sedang terjadi di ruang 217, karena guru yang mengajar berhalangan hadir dan hanya memberikan tugas untuk dikerjakan.

Setelah melihat kertas yang berisi serentetan soal itu, Jaehyun pun berdiri dan berjalan menghampiri bangku yang berjarak sepuluh langkah dari posisinya saat ini.

“Aku boleh mengerjakan tugas ini bersamamu, tidak?” tanya Jaehyun setelah ia sampai di bangku tujuannya. Yang merasa diajak bicara oleh Pemuda Jung itu pun lantas mendongak.

“Aku sedikit payah dalam urusan hitung-menghitung.” imbuhnya. Chaeyeon—selaku lawan bicara—pun kemudian mengulum seulas senyum, “Tapi kalau kau mau membahasnya bersama, duduklah di sebelahku.”

“Tentu, tidak masalah.”

Jaehyun pun tersenyum lebar dengan penuh kelegaan. Perlahan ia menggeser bangku kosong di dekatnya agar dapat duduk di dekat Chaeyeon. Belum sempat mereka mulai mengerjakan soal nomor 1, tiba-tiba ada seorang murid yang berjalan menghampiri mereka.

“Chaeyeon-a, kau sudah dapat kelompok untuk tugas desain visual belum?” itu suara Yuju, murid yang beberapa hari yang lalu sempat tidak masuk sekolah karena sakit.

“Sudah,” jawab Chaeyeon singkat.

Mwo? Kau satu kelompok dengan siapa?”

“Aku satu kelompok dengan Jaehyun, kami bahkan sudah menyelesaikan videonya.” ujar Chaeyeon seraya mengarahkan ibu jarinya ke lengan Jaehyun.

“Kau berkelompok dengan pria sombong ini? Yang benar saja!” sentak Yuju, jari telunjuknya menuding pria yang masih duduk dengan paha terkatup erat karena gugup. Jaehyun sontak terkejut karena diperlalukan seperti itu oleh Yuju. Ia tak salah dengar, kan? Tadi Yuju mengatainya pria sombong.

Eum… kenapa kau bilang kalau aku sombong?” Jaehyun dengan ragu membuka mulut.

“Yuju, sudahlah… jangan buat keributan karena masalah sepele.” Chaeyeon berusaha menenangkan gadis semampai yang kini berhasil membuat seisi kelas terfokus padanya.

“Dia memang sombong, Chaeyeon-a! Masa kau tidak tahu, sih? Semua murid, kan, sudah kesal dengan sifatnya yang selalu menutup diri dan seolah tak membutuhkan siapapun. Dia cuma mau berteman dengan anak dari kelas 3 – 2 itu.” oceh gadis Choi itu langsung membuat Jaehyun bungkam seribu bahasa. Jantungnya bagai tersayat sembiri mendengar ucapan tajam yang dilontarkan Yuju barusan.

Jaehyun pun langsung mengedarkan pandangan nanar ke seluruh penjuru kelas. Dapat tertangkap oleh sepasang maniknya, ekspresi aneh yang tersirat di wajah teman-temannya. Meskipun terdengar menyakitkan, nampaknya ucapan Yuju benar. Semua teman di kelas menganggapnya sombong karena ia jarang melakukan interaksi dengan mereka.

“Cukup, Yuju-ya…” hardik Byungchan—selaku ketua kelas—coba menenangkan keributan yang terjadi di sela jam pelajaran matematika yang sedang kosong itu.

“Habisnya aku sudah kesal sama dia!” decak Yuju.

Dengan penuh wibawa, Byungchan berjalan ke muka kelas dan berdiri di belakang podium yang biasa digunakan para guru saat tengah memberikan intruksi pada murid-murid.

“Mohon dengan sangat untuk tenang.” ucap Byungchan yang langsung disanggupi para anak buah-nya.

“Kita harus segera selesaikan masalah ini bagaimanapun caranya. Aku sempat membicarakan ini pada wali kelas kita, namun karena beliau hampir tak pernah punya waktu untuk menggubrisnya, jadi maaf kalau aku mengambil langkah yang gegabah.” Byungchan mulai berujar.

“Aku tahu sekali kalau kalian sering membicarakan Jung Jae Hyun di belakang karena kalian tidak suka dengan sifat penyendirinya. Dan kurasa dia harus tahu tentang apa yang selama ini kalian rasakan.” imbuh Pemuda Choi tersebut.

“Kurasa kalian tak perlu terus-menerus memberinya tatapan tajam dan membicarakannya di belakang. Apa kau setuju kalau kita meluruskan masalah ini sekarang juga, Jaehyun-a?”

Jaehyun benci jadi pusat perhatian. Dan sekarang apa yang ia dapat malah lebih buruk dari itu. Sungguh sial. Namun kalau ia tak berbuat apa-apa, urusannya akan malah semakin panjang. Dan…, bukannya akan bagus kalau ia segera menjernihkan pandangan kawan-kawannya mengenai perangainya?

Pria bersurai kecoklatan itu akhirnya berdiri ke depan kelas dan menyandingkan dirinya di sebelah Byungchan.

“Semuanya, aku minta maaf…, mungkin sikapku yang tak mau peduli membuat kalian kesal. Aku sangat menyesal.” ucap Jaehyun dengan menunduk dan merendahkan dirinya.

“Tidak! Kau tak perlu sampai semenyesal itu, Jae. Justru seharusnya kamilah yang memahami keadaanmu.” sahut Chaeyeon yang membuat seisi kelas langsung memutar kepala untuk menatapnya.

“Aku tahu penyebab sifatmu yang suka menyendiri itu karena kau jauh dari orang tuamu. Sejak kecil kau jadi terbiasa melakukan semua hal sendirian dan tak tahu bagaimana caranya bersosialisasi.”

Chaeyeon kemudian membalikkan badan untuk menghadap teman-temannya yang sedang terlongo karena penuturannya. “Jadi kalian tidak boleh seenaknya mengatai dia sombong!”

.

.

“Jaehyunie!” panik Taeyong yang baru saja datang ke kelas Jaehyun. Ia tak mempedulikan napasnya yang tersengal setelah berlari tunggang-langgang demi segera menemui sahabatnya itu.

“Kau baik-baik saja? Kudengar di kelasmu terjadi keributan dan mereka semua membombardirmu?”

“Kau tahu dari mana?” tanya Jaehyun.

“Aku tak sengaja mendengar percakapan teman-temanmu di kantin. Ya! Aku tanya, apa kau baik-baik saja?”

“Kita bahas sambil berjalan ke halte saja, yuk?”

Hm, baiklah…” Taeyong menuruti permintaan sahabatnya itu.

“Sebentar, apa kau tidak menunggu Sejeong terlebih dahulu?” tanya Jaehyun.

“Tidak, dia sedang ada kumpul dengan tim kesehatan.”

Bukannya langsung pulang, keduanya malah mampir ke kedai tteokpokki di pinggir jalan terlebih dahulu.

“Jadi ada murid yang membelamu waktu kau meminta maaf pada teman-temanmu?” tanya Taeyong dengan mulut yang terasa panas akibat tteokpokki yang terlalu pedas.

“Ya, begitulah… dia gadis yang kemarin kuceritakan.”

 

“Sepertinya aku sedang merasakan perasaan yang tidak wajar, kau bisa membantuku mengidentifikasi apa yang sedang kurasakan?” tandas Jaehyun yang langsung membuat Taeyong tertoleh dengan mata terbelalak.

“Maksudnya…, kau sedang jatuh cinta?” Taeyong coba menerka.

“Aku enggak tahu bagaimana jelasnya. Mangkannya aku minta kau membantuku mengidentifikasi perasaanku.”

“Bagaimana bisa? Yang merasakan, kan, kau! Bukannya aku.” Taeyong menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Berarti kau gagal menjadi orang yang paling mengerti aku.” tandas Jaehyun ketus.

“Ya ampun, Jae…, kenapa kau jadi gampang ngambek seperti perempuan begini, sih?” lagi-lagi Taeyong dibuat menggerutu karena Jaehyun kembali menunjukkan sifat kekanakannya.

“Itu karena kau terlalu sering memperlakukan aku seperti perempuan! Kau selalu berlebihan mengkhawatirkanku.”

“Kok, jadi menyalahkan aku?”

“Kenapa sekarang kita malah bertengkar, sih?”

“Oh, iya, ya…, maaf. Oke, oke, coba ceritakan tentang gadis yang berhasil membuatmu tertarik itu.”

 

Jaehyun pun mulai menjelaskan tentang gadis bernama lengkap Jung Chae Yeon itu. Kemudian ia menggambarkan ciri-ciri umum yang dimiliki gadis tersebut; tubuhnya ramping dan gigi depannya sedikit terbelah. Memiliki kebiasaan menarik hidung saat sedang tertawa (perlu diketahui kalau hal inilah yang membuat bayang-bayangnya tak mudah hilang dari pikiran seorang Jung Jae Hyun).

“Tak ada salahnya, kok, menyukai seseorang karena mereka mengerti keadaan kita. Kenapa kau harus ragu dengan perasaanmu sendiri? Jujur saja pada hatimu, terimalah kenyataan kalau kau mulai jatuh cinta padanya. Tak perlu takut, kau hanya harus bersikap sepeti biasa dan membuat orang yang kau sukai nyaman berada di dekatmu.” titah Taeyong seraya menepuk-nepuk pundak Jaehyun.

“Jadi itu yang kaurasakan saat pertama kali menyukai Sejeong?”

“Kurang lebih begitu…, untuk pemuda dengan sifat aneh seperti kita berdua, sih, jangan terlalu muluk-muluk. Beda halnya dengan mereka yang punya keberanian untuk menunjukkan perasaannya secara terang-terangan.”

“Bukannya lebih baik hanya memperlihatkan pucuk kecil dari betapa besar perasaan itu di bagian dalam?”

“Kau benar, Jae…” tandas Taeyong menyetujui celetukan Jaehyun.

Embusan napas kasar dari mulut mendominasi perjalanan Taeyong dan Jaehyun menuju halte. “Bodoh, kenapa kau malah pesan level 5, sih? Pedasnya sungguh tidak sopan!” Jaehyun merutuki kecerobohan Taeyong yang asal memilih level.

“Apakah itu penting sekarang? Lanjutkan saja ceritamu tentang kejadian barusan!” Taeyong yang biasanya bersikap sangat kalem dalam menanggapi segala tingkah polah Jaehyun pun jadi berubah ketus karena tteokpokki yang mereka pesan memang terlalu pedas.

“Dia bilang kalau seharusnya merekalah yang mengerti keadaanku. Ya ampun, aku serasa mau terbang saat dia membelaku habis-habisan.”

“Terus…, sekarang teman-teman sekelasmu bagaimana?”

“Perubahan yang terjadi tak seberapa signifikan, sih. Tapi setidaknya mereka sudah menganggap keberadaanku. Mereka menyapaku saat mau pulang.”

“Maka dari itu kau juga harus perlahan mengubah sikapmu,”

“Akan kucoba sedikit demi sedikit.”

“Aku berharap yang terbaik untukmu, Jae…”

~ TBC ~

Maksud hati ini ingin bergaya dengan sok bikin konflik (karena sepertinya hampir di semua ffku, ceritanya selalu adem ayem tanpa masalah), namun apa daya kalo hasilnya fail dan enggak jadi serumit sinetron /slapped

Thank you untuk yang sudah menyempatkan waktunya buat membaca ini. Jangan lupa komen ya… please, karena itu sangat penting untuk diriku.

Jadi sekalian mau curhat juga, sebenarnya FF ini udah selesai. Cuma aku agak enggak PD dengan ending dan caraku mengeksekusinya menjadi cerita yang layak diakhiri. Maka dari itu aku butuh saran dari kalian sebagai bahan pertimbangan membuat ending. Atas partisipasinya, terima kasih banyak ^^

Advertisements

11 thoughts on “[Chaptered] Introvert Squad (7화)

  1. Huwaaaaa setelah sekian lama nunggu, akhirnya update juga kak Lel. Jadi pertama yang komen lagi ❤ /hug/

    Jujur ya kak, aku juga berasa aneh. Trus masalah perdebatan Yuju & Chaeyeon itu juga terlalu singkat dan-menurutku-agak maksa 😥 Jadinya gimanaaaa gitu ya, mending kalo konfliknya emang belum muncu ngga usah dimunculin dulu kak, jadi kesannya biar nggak maksa 🙂

    Dan lagi aku melting sama Jaehyun yang jadi alay gegara falling in love. Duh, dia tuh volos banget tau gak sih ❤ Jadi pengen nyubit saking gemesnya, ya kali deh Jaehyun masih pertama kali ngerasa yg kyak gituan, wajar aja lah ya 😀

    Pas Tae ngomong “Tolong susu full cream yang low fat and high calcium.” jadi mau ngakak, keinget iklan susu hilo masa :'D

    Ditunggu lanjutannya ya kak, jangan pesimis, ffnya kakak bagus kok. Masalah konflik mah belakangan, yang penting niat (halah –")

    Liked by 1 person

    • mbb banget banget, aku baru buka notif ampe bawah2 nemu komenanmu
      tuh kan maksa emang ya wkwkwk tapi juntrungannya tuh chae sama yuju kubikin sahabatan jadi aku ga mau konfliknya jadi panjang sampe mereka jambak2an, jangan duh jangan /APA SIH LEL
      okeee makasih ya saranmu, entar aku belajar lagi :3
      emang fix aku ini korban iklan hahahaha
      yeayyy makasih ya sudah mampir ^^

      Liked by 1 person

  2. Kok agak nyesek ya, aku jadi berkaca sama diri aku sendiri ka lel. Aku juga didiagnosis introvert, tapi bisa juga ekstrovert sma orang tertentu aja sih. Dan emang bener, kebanyakan orang anggep introvert itu kalo gak pemalu, ya sombong atau jutek. Padahal ya, gak semuanya kayak gitu. Khusus kasus introvert, mereka emang irit bicara. Dan sekalinya ngomong, belum tentu orang dengerin, makanya mendingan diem //malah curhat//
    dan sekali lagi, aku gak kuku sama bromancenya jaeyong, udah kayak pasutri.//entah kenapa komenku mendadak mellow gini.// dadahh….

    Like

    • Haloooo Amel long time no see :3
      Aku suka terharu pas ada yg bilang tulisanku mewakili kepribadian mereka. Aku sendiri pun kadang disangka jutek karena emang cuma senyum di kondisi tertentu ditambah tipe muka yg emang datar hahaha
      Iya, kadang kita cerita orang dengerin aslinya cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri
      Ehehhh tetep ya bromance jaeyong yg bikin baper wkwkwk
      Makasih ya udah baca dan komen 🙂

      Liked by 1 person

  3. Masalah pas yuju marah2 itu nyaris sama kasusnya dengan teman sekelas dulu.. Dia tuh pendiem dan rada mojok sendiri, apa2 sendiri, kerja kelompok gak mau diskusi trus pas deadline dia ngumpul atas namanya doang, kesannya tuh dia mau keluar kelompok tapi gk ngomong. Yah sombong gitu… Padahal menurutku kalo diajak ngomong dia kayak anak lainnya.
    Aku jadi ingat masa lalu gegara ff ini :v

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s