[Write Your Mythology] I Take You

nm

I Take You

Burgerborn

Lee Taeyong ft. Kim Bona (WJSN) // horror, myth // PG15 //

“Take me from your light,”

“No, you don’t deserve it”

            “Jadi siapa namamu tadi?”

            “Kim Bona,.. Bona.”  Gadis bersurai pirang lurus itu menyingkirkan butiran-butiran salju yang mengotori bahunya. Manik cokelatnya menelusuri sejenak pemuda berkulit pucat di sampingnya.

            “Bona..” pemuda itu mengulangi kembali nama si gadis. “Aku Lee Tae-“

            “Aku tahu.” Melihat aura yang ‘cukup’ mengintimidasi dari si gadis, pemuda itu mendengus, kemudian memutuskan untuk mengekor di belakang punggung Bona.

            Salju masih menutupi jalan, dan langit kian mengelabu. Namun gadis dalam balutan hoodie abu-abu itu masih memaksakan kakinya berjalan. “Kau akan kemana setelah ini?”

            Rajutan langkah Taeyong terhenti. Manik kelamnya berputar-putar sejenak. “Kota tak lagi indah untuk di tempati.” “Tepat. Semonoton susu putih tanpa gula, kan?” duga Bona dengan sarkatis kemudian mematahkan ranting-ranting cemara.

            “Ceritakan tentang dirimu,”

            “Apa?”

            “Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku.”

            Taeyong kembali mencebik. “Tidak ada yang menarik dariku.”

            “Bohong.” Buktinya kau punya wajah tampan dan aura lumayan.

            “Tidak udah banyak bertele-tele, sekarang kita akan kemana?” Taeyong memutar kepalanya, namun cemara-cemara dan pinus-pinus itu membatasi jarak pandangnya. “Tempat yang jauh dari kota.” Bisik Bona perlahan, kemudian berjinjit, memastikan tidak ada siapapun di sekitar.

            “Kau tahu? Sebaiknya tidak usah kembali ke kota. Disana butuh kemunafikan, dan lebih dari kata membosankan,” Taeyong hendak mengangguk setuju, namun tangan sedingin es itu menariknya mendekat. “Ayo.”

            “Kemana?”

            “Menjawab pertanyaanmu.”

.

.

            Burung gagak hitam. Dan juga seekor rusa sehat sedang melangkah pelan menyusuri salju. Desember yang indah, sebentar lagi akan menjadi berdarah. “Kau tidak suka?” Taeyong melirik Bona yang baru saja menariknya ke balik semak-semak berlapiskan butir-butir salju. “Suka apa?”

            “Arah jam 12, Tuan.” Taeyong menilik, kemudian tanpa aba-aba terlebih dahulu, sesuatu bergejolak hebat di seluruh organnya. Sensasi aneh yang menjalar tanpa permisi, membuatnya meloncat dan menerkam, mencabik tak ubahnya monster dan mengigit, mengunyah, menelan dengan suka hati tanpa perlu peduli manik obsidiannya yang sekilas berubah sewarna api neraka yang menyala. Kemudian, dalam beberapa menit, ia terduduk, terlarut dalam keterkejutannya, di depan tulang-belulang dan kepala rusa yang terpenggal serta warna merah segar menodai salju putih. Kontras.

            Yang Taeyong tahu, ia tidak merasa mual, hanya sedikit tidak bisa menalarisir kejadian. Lututnya menghantam tanah bersalju, beriringan dengan warna api neraka di maniknya kembali berubah normal. Bona bertepuk tangan dengan senyum manis yang  Taeyong tahu hanyalah topeng di balik iblis. Gadis itu membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Taeyong, meraih dagu pemuda itu.

            “Kau sudah pintar, Taeyongie~” di acaknya surai kelam itu seraya menyeka darah di sudut bibir si pemuda Lee. “Tidakkah ini indah? Kau punya keluarga baru.” Bona berbisik mendekat, “Yaitu aku.”

.

.

            Langit biru bersih bukan jaminan kebahagiaan, jabatan dan kecerdasan juga bukan jaminan kebahagiaan. Bagaimana bisa kau terus bisa hidup dengan kemonotonan kota yang orang-orangnya hanya peduli akan kesuksesan diri masing-masing, bagaimana bisa kau terus tersenyum sementara orang-orang di sekitarmu hanya melihatmu sebagai murid SMA biasa? Kalau boleh jujur, Taeyong bosan.

            Ia bosan dengan seragam ini, rumah ini, orangtua ini, dan kota- bahkan kehidupan ini. Ia bosan dengan pujian teman-teman dan gurunya bahkan orang asing atas kerupawanan wajahnya dan ketajaman otaknya. Bagaimana rasanya berbuat dosa? Taeyong ingin tahu. Bagaimana dengan langit yang sekelam bola mata dan rambutnya, bagaimana dengan kedinginan membalut serta kesunyian idaman seperti yang telah di impi-impikan Taeyong?

            Intinya, Taeyong mencari kesuraman dari cahaya. Ia tak peduli wajah malaikatnya yang hanya akan menjadi topeng dari iblis sebentar lagi.

            Ahh.. lihatlah jurang juram dibawah sana. Kegelapan berkabut yang terlihat menyenangkan. Tak harus ada kata ‘bosan’ dibawah sana.

            “Hei tunggu! Dasar pemuda bodoh!”

            Taeyong tak dapat menalarisir dengan cepat apa yang terjadi dengannya, karena ia merasakan tubuhnya yang hampir terengkuh kematian di bawah sana serasa dibawa kembali ke tempat terang, merasakan sesuatu yang terasa ngilu di lehernya.

            Gadis itu mengangkat kepalanya, mengusap sudut bibirnya yang tadinya ternodai oleh darah dari leher Taeyong.

            “Kau sudah kugigit.”

            “Aku?”

            “Iya, kau.”

            Taeyong mengerjapkan matanya, mengarahkan netranya ke seluruh arah. Dia masih berada di dekat jurang. Dan belum mati.

.

.

            Dalam sekejap, dunia monoton itu berubah semenyenangkan game di dunia nyata. Meloncati satu persatu tiang listrik, menghujamkan ribuan panah kearah para maakhluk hutan dan melahapnya sesuka hati, dan ia bisa melangkahkan kaki dengan bahagia menatap bulan sempurna tanpa perlu di hadang rasa kantuk.

            Taeyong menyukai dunia barunya, dimana dirinya merasa bebas dengan kegelapan membungkusnya dimana sesungguhnya ia berada di tengah-tengah cahaya. Mungkin papilla lidahnya tidak seakrab dulu dengan kentang goreng dan bigmac favoritnya, tapi dia mendapatkan yang lebih ‘lezat’ dari itu.

            Taeyong tak perlu repot-repot berhadapan dengan lembaran-lembaran buku panduannya dan mengerang frustasi. Ia tak perlu berlari-lari ke apotik ketika tangan mulusnya tergores luka yang dalam, semua akan kembali sempurna. Dunia yang naïf ini, seolah-olah seperti menjadi milik Taeyong dan Bona- mereka berdua.

            “Apa kau tidak rindu dengan karbohidrat dan protein?”

            Taeyong mencabut panah yang baru saja menancap di punggung si rusa. “Kalaupun iya, aku tidak memerlukannya lagi,”

            Bona tertawa, kemudian duduk kembali. “Kau tahu? Aku sangat menyukai manusia, apalagi yang terlalu naïf sepertimu,” kekehnya dengan nada meremehkan. Taeyong membisu, ia tetap sibuk dengan kayu-kayu bakar meski dalam hati ia mengumpat sejadi-jadinya.

            “Jurang itu tidak ada hal menarik selain bebatuan. Kau belum pernah di ajari ya?” Taeyong benar-benar kesal sekarang. Apakah ada yang bisa membuat astral di hadapannya ini berhenti mengoceh dan mengoarkan kritikan-kritikan kental akan intimidasi yang selalu sukses membuat Taeyong merasa seperti anak bayi.

            “Aku tidak suka jika kau terlalu banyak berbicara.”

            Ada yang tertukar dari imej mereka di waktu ini.

            “Salju putih,” Bona berkemam, menopang dagunya sementara manik karamelnya menyusuri butiran-butiran yang masih turun menumpuki jalanan. “Karmaku menggigitnya.”

.

.

            Taeyong dan Bona- siapapun yang melihat mereka akan berpikiran sama, terutama jika kau seorang lansia. Apa yang dilakukan dua orang remaja di hari menjelang malam di musim dingin dengan karung besar berisi ‘sesuatu’?

            “Aku dulu pernah mempunyai masa kecil yang aneh. Ketika ayahku sedang memunggungiku di ruang kerjanya, aku bermain-main di loteng. Setelah itu, ketika ia berbalik, aku menjerit karena matanya merah. Aku lari ke lantai bawah untuk menjumpai ibuku dan aku juga menjerit karena ibuku sama saja dengan Ayahku. Ketika aku terbangun, ibuku berkata bahwa aku demam, mungkinlah kala itu aku bermimpi. Tapi ketika di sekolah, tiba-tiba sekelas panik karena aku tiba-tiba menerjang kelinci di belakang sekolah. Aku memasuki ruang hukuman, namun ketika pulang, ibuku tersenyum, menyibak rambutku lalu berkata, ‘Lihatlah! Dia sudah menjadi seperti kita!’” Bona meluruskan kakinya. Dia terus-terusan tak bisa membiarkan bibirnya irit berbicara.

            Taeyong menggigit daging segarnya. “Aneh sekali, sampai-sampai aku sama sekali tidak tertawa.” Wajah datar itu berubah menjadi bara api, Bona mendengus. “Menyebalkan,”

            “Aku akan kebelakang.”

            Taeyong menyeret karungnya kemudian membuangnya jauh-jauh kedalam jurang. Dicucinya wajah dan tangan yang tadinya sempat ternodai bercak-bercak merah dari rusa.

            “Kim Bo- woaahh!”

            Tubuhnya terpeleset, tergelincir diatas tumpukan salju yang menutupi tanah, dimana di atasnya, kedua manik karamel itu berkilat merah, gadis bersurai pirang itu mengangkat pisaunya tinggi-tinggi.

            “Kau tahu, aku kadang penasaran dengan daging sejenisku.”

            Taeyong berguling menghindari hujaman pisau Bona yang kini menancap di salju. “Kau menginginkan..”

            “Jantungmu. Agar aku bisa hidup lebih abadi,” ini jelas bukan Kim Bona yang nyata, hanya saja, faktanya tidak begitu, Taeyong mencengkram erat kedua bahu gadis Kim itu. “BERHENTILAH!”

            “Kau menyuruhku berhenti? Kau!”

            Jlebbb…jlebb…

            Taeyong meringis, merasakan air mata perlahan menuruni pipinya. Merasakan hujaman tajam itu di perutnya. Di hadapannya, meski pandangannya sedikit kabur akan air mata di pelupuk, bisa dilihatnya Bona mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam, dimana tangan Taeyong baru saja menhujamkan satu pisau lain ke perut nya.

            Brukkk!!!

            “BONA!” Taeyong tidak memiliki akal sekarang, di raihnya gadis itu dan mencabut pisau yang ada di perutnya dan Bona, ketika merasakan darah segar mulai keluar dari mulutnya. “Bon..uhukkhh!”

            Beginilah mungkin akhir dari hidup Lee Tayeong, hidup yang selama ini ia anggap sebagai-

            “Pemuda bodoh!” Taeyong membuka matanya lebar, ketika menyadari jika perlahan rasa sakit di perutnya hilang dan berangsur-angsur seperti ia mendapatkan nyawanya kembali. Ia berusaha menahan umpatannya ketika menyadari bahwa organ tubuhnya sudah berbeda fungsi dengan yang dulu, dimana ia merasakan luka di perutnya perlahan menutup kembali. Dan disitulah ia lihat Bona, tertawa jahat dengan senyuman iblisnya yang rasanya ingin di cabik berkali-kali.

            “Brengsek kau!”

            “Mengerjaimu ternyata menyenangkan sekali!”

            “Sttt!!”

            Kedua kepala itu mendongak tatkala suara isakan langsung menjadi fokus rungu mereka. Seperti yang telah mereka duga, seorang gadis seusia, dengan rambut acak-acakan dan wajah sebodoh manusia kelewat naïf dengan rajutan langkah yang tertatih-tatih.

            “Tolong! Pa..pacarku! dia .. hiks,.. dia..”

            “Tenang nona, siapa namamu? Pacarmu? Kenapa?” Bona menampilkan sisi malaikatnya, yang dimana membuat Taeyong nyaris mengeluarkan segala sisa-sisa cernaan rusa di perutnya.

            “Serigala-serigala hutan itu- hiks!”

            Taeyong merangkul pundak si pendatang baru dengan tatapan penuh isyarat kearah Bona.

            “Kita akan menelepon polisi, tapi sebelumnya..”

            Bona menyibakkan rambut kecokelatan si gadis asing dengan senyuman miring.

            “Lehermu putih mulus,” bisiknya,

“Dan akan keren sekali kalau ada dua titik hitam bekas gigitan disini,”

-END-

Advertisements

One thought on “[Write Your Mythology] I Take You

  1. halo kaaakk ini ff yang aku juriin dan salah satu favoritkuuuu
    Taeyong x Bona kyaaaaa >///<
    aku ga ngerti kudu ngomong apa lagi karena itu super duper kereeennn endingnya juga ngena, gregettttt
    nice fic pokoknya!!!! ^^

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s