[Write Your Mythology] The Last Wishes

the-last-wishes-ohclaren

The Last Wishes by ohclaren

[NCT-Dream] Lee Jeno

genre myth adventure wizard rated teens length vignette

:::::

Rembulan terlihat memayungi malam, dengan sedikit awan yang melintas juga kerlip samar bintang-bintang di tengah rimbunnya pepohonan hutan. Jeno lebih menyukai suara berisik dari burung hantu atau lolongan kaum werewolf daripada keheningan yang menegangkan seperti ini.

Setiap inderanya menegang, waspada terhadap setiap gerakan yang bisa dia lihat dengan pendar hijau dari tongkatnya. Dia jadi jauh lebih waspada setelah insiden bertemu vampire gila di seberang sungai, beruntung Jaemin membekalinya dengan banyak kutukan ampuh sebelum berangkat.

Memang tidak banyak yang bisa Penyihir di tahun pertama seperti Jeno lakukan, terlebih menghadapi dunia di luar Southnern—desanya—yang penuh dengan mahluk aneh dimana hanya pernah Jeno jamah lewat buku-buku di perpustakaan sekolah.

Southnern adalah salah satu desa kecil yang menjadi rumah untuk kaum penyihir seperti Jeno, disana kau mungkin bisa melihat beberapa werewolf, peri hutan, kurcaci bahkan goblin sekalipun di pasar tepat di tengah desa. Bisa dikatakan Southnern adalah desa ideal yang digunakan sebagai percontohan atas keterbukaan antar ras.

Sayangnya hal itu tidak bisa dibanggakan dengan lama, pasca serangan besar-besaran dari kaum vampire di Flake yang menjadi titik balik munculnya wabah aneh di desa. Nyaris semua penduduk kini menderita penyakit kulit aneh, sekujur tubuh mereka dipenuhi oleh bercak merah yang akan melepuh jika terkena sinar matahari sedikit saja. Mereka nyaris hidup layaknya kaum vampire yang lemah terhadap sinar matahari.

Tidak jelas bagaimana wabah ini bisa menyebar, yang jelas satu-satunya tempat aman yang bisa digunakan sebagai tempat penduduk Southnern berlindung adalah gedung sekolah. Sekolah juga dialih fungsikan menjadi markas bagi para tentara penyihir yang mengantisipasi serangan dari kaum vampire.

Para tetua telah mengirim orang untuk meminta bantuan pada desa setempat, sayangnya berita bahwa Southnern telah terinfeksi wabah telah menyebar dengan cepat membuat Southnern menjadi desa yang terisolasi, siap menjadi mangsa kaum vampire dari Flake.

Jeno tidak pernah menyesal bergabung dalam tim penyelamat bersama teman-teman sekolah lainnya yang tidak—ah, belum—terinfeksi wabah yang bahkan para tetua belum temukan obatnya. Tim penyelamat adalah tim yang dibentuk untuk membawa pulang kembali Penyihir Kuku Kuning pulang ke Southnern. Konon, Penyihir Kuku Kuning bisa membuat ramuan pembalik waktu dan pengabul permintaan. Dia adalah penyihir gila paling tersohor di negeri ini.

Sebenarnya tim ini adalah tim rekaan Jaemin karena para orang dewasa tak kunjung menemukan solusi untuk masalah sebesar ini.

“Kau gila? Keluar dari Southnern? Ayahku bisa saja akan memenggal kepalaku atau—”

“Menyihirmu jadi katak?”

Kun mendelik galak pada Jisung yang memotong kalimatnya.

“Dengar, hanya kita anak-anak yang tidak terinfeksi bukan? Ini kesempatan kita untuk meminta bantuan. Aku yakin Penyihir Kuku Kuning akan membantu kita.”

“Apa kau ingin meminta ramuan pengabul permintaan padanya?”

Jaemin menganggukkan kepalanya atas pertanyaan dari Jeno tadi.

“Kita juga bisa meminta permintaan lain padanya.”

Apa yang baru saja dicetuskan Jaemin tadi membuat keenam kepala beda warna itu saling menoleh satu sama lain, dan bayangan bahwa dia bisa mengajak kencan seniornya Im Nayeon sudah menari-nari di benak Jeno.

:::::

Sayangnya, mereka lupa satu fakta bahwa untuk menemui Penyihir Kuku Kuning tidak semudah seperti cerita orang dan jauh lebih sulit dari cerita orang. Dari kabar yang beredar bahwa kau bisa menemui Penyihir Kuku Kuning di kaki gunung Blue East, dan perlu dicatat juga bahwa untuk mencapai gunung Blue East mereka harus melewati perjalanan yang panjang termasuk melewati Hutan Kematian—tempat paling horor yang pernah diceritakan dalam sejarah.

Ini jelas bukan petualangan penuh tawa dan makanan manis di ransel kulit mereka, bermodal tekad yang kuat kelima penyihir itu akhirnya melangkah keluar dari Southnern tanpa sepengetahuan orang lain.

Jeno tahu bahwa ini akan jadi perjalanan yang berat, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa akan ada pertumpahan darah di dalamnya.

Derasnya arus sungai yang membatasi Southnern dengan dunia luar, harus membuat Jeno terpisah dengan dua rekannya, Kun dan Jisung. Jeno tak pernah tahu bagaimana nasib keduanya. Yang bisa dia lakukan saat itu hanyalah menahan tubuh seniornya, Taeyong untuk turut melompat menyelamatkan tubuh Kun dan Jisung dari buaya besar yang siap mengoyak mereka dengan senang hati.

Hei, bocah apa sebenarnya rencanamu ha?!”

Kali ini Jeno ataupun Yuta tak bisa mencegah Taeyong untuk menarik kerah jubah Jaemin dan membiarkan pria berambut merah itu meluapkan amarahnya, setelah akhirnya mereka tiba di tepian.

“Mereka mati menjadi santapan buaya, kau tahu itu?!”

“Ini bukan waktunya untuk kita bertengkar, waktu kita tidak banyak.” Jeno mencoba menengahi keduanya, karena dia tahu seniornya yang satu lagi tidak pandai dalam meredam amarah seseorang. Jaemin sendiri tidak berkomentar apapun, dan Jeno juga tahu bahwa rekannya itu sangat tertekan.

Tapi tekanan yang lebih berat muncul dalam bentuk yang lain, tepatnya ketika akhirnya memasuki Hutan Kematian setelah sebelumnya mati-matian melawan sekumpulan werewolf liar. Taeyong dan Yuta sangat berperan banyak mengingat mereka adalah Penyihir di tahun terakhir yang sebentar lagi lulus.

Hei, bocah-bocah…”

Taeyong menoleh ke arah Jeno dan Jaemin yang berlindung di balik punggungnya, Jeno ingin menangis saat itu juga ketika sadar bahwa Taeyong telah kehilangan setengah dari wajahnya akibat cakar tajam para werewolf.

“Apapun yang tersisa dari tubuh kami berdua,”

“Tidaak!!” Jaemin berteriak bersamaan dengan pertahanan yang dibuat Yuta, membuat Yuta kini harus bergumul dengan sekitar lima werewolf.

“Kalian harus membawanya pulang—entah itu jari atau rambutku.” dan Taeyong pun mulai merapal mantra, merangsek maju membantu Yuta.

“Cepatlah pergi sebelum aku sendiri yang menyihir kalian jadi katak, he?” Yuta masih sempat membuat ancaman pada dua adik kelasnya itu.

Jeno menahan airmatanya, dan menarik  Jaemin yang masih berteriak memanggil nama keduanya. Jeno sama sekali tak berani menoleh ke belakang, dia terlalu takut untuk melihat apa yang terjadi. Pengecut? Ya, dia memang pengecut. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah berlari dan terus berlari.

:::::

“Pengecut.”

Jeno menghentikan tungkainya yang berlari dan menoleh ke arah Jaemin di belakangnya yang baru bisa angkat bicara. Anak itu terlihat begitu menyedihkan dengan jubah koyak yang penuh warna merah dari darah.

“Apa maksudmu?”

Jaemin mendengus, menghambur menghajar wajah Jeno, membuat Jeno terguling karenanya. Pukulan demi pukulan tanpa tenaga terus diterima Jeno dengan pasrah, dibiarkannya rekannya itu membuang semua sesalnya disini.

“JANGAN BERCANDA! KAU ADALAH PENGECUT YANG MENINGGALKAN TEMAN-TEMANMU, KAU TAHU ITU?!” teriak Jaemin kalap masih terus mengirim pukulan ke wajah Jeno dengan tangannya yang penuh luka.

“KALAU BEGITU KEMBALILAH! BUKANKAH INI SEMUA IDEMU, HA?!” balas Jeno tak kalah kerasnya, bagaimanapun dia sudah lelah dengan semua tragedi ini.

Napas keduanya tersengal, setelah berlari dan berteriak seperti ini. Untuk beberapa saat hanya terdengar riak air sungai di seberang mereka, Jeno tak tahu apa yang tengah Jaemin pikirkan dengan tatapan seperti itu padanya.

“Pergilah. Kau bisa pergi karena aku yang akan menyelamatkan teman-temanku.”

“Kau gila? Kita sudah setengah jalan lagi.”

“Coba dengar siapa yang baru saja bicara, Tuan Jeno yang rasional kau bisa pergi sekarang.”

Habis kesabarannya, Jeno membalik keadaan dengan membanting tubuh Jaemin dan menahan pergerakan tongkatnya.

“Bukankah kau merencanakan ini demi desa? Tapi apa yang sekarang kau pikirkan, ha?! Kau pikir kematian mereka adalah hal yang sia-sia?!”

“Mereka tidak mati!”

Jeno meremas rambutnya yang sudah kusut, sepertinya dia dan Jaemin memang harus berpisah disini. Persetan dengan semuanya, dia sudah setengah jalan dan dia tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan teman-temannya. Kenapa Jaemin tidak bisa mengerti?

:::::

Hei, tampan kau mencari apa?”

“Tampan? Penampilan lusuh sepertinya kau bilang tampan?”

“Tampan, kau tidak membawa teman? Sendirian?”

“Kenapa kau menganggunya, sih?”

“Kenapa kau mengangguku, sih?”

“Dia bahkan tidak mau melihatmu.”

“Kau pasti seorang penyihir, oeh? Kau mencari apa?”

“Hutan ini sangat berbahaya bahkan untuk seorang penyihir, kau tahu itu?”

Hei, hei, hei, hei, hei, hei, hei,”

Aish! Berhentilah mengikutiku, peri hutan bodoh!” Jeno tidak tahan dan akhirnya mengibas-ngibaskan tongkatnya di atas kepala untuk mengusir dua peri hutan yang mengikutinya sejak berpisah jalan dengan Jaemin.

Hihihihi, dia sangat lucu sangat marah bukan?”

“Aku tetap tidak menyukainya.”

“Apa kalian tahu Penyihir Kuku Ku—”

“Noo…Jenoo…”

Jeno menajamkan indera pendengarannya, dan seolah mengerti kedua peri hutan itu turut bungkam demi mendengar sayup-sayup suara dari kejauhan.

:::::

Ohh…dia sekarat.”

“Apa dia akan mati?”

“Pasti.”

Vampire itu menghisap habis darahnya.”

“Menjauhlah darinya, Tampan. Kau bisa digigit olehnya.”

Iyy…perlu waktu lima jam sebelum anak ini jadi vampire, kau pernah belajar tidak sih?”

“Bisa diam kalian berdua?!” Jeno menginterupsi ocehan dua peri hutan di atas kepalanya. Dia terlambat, terlambat menyelamatkan Jaemin.

Seperti yang terlihat, Jaemin sekarat, tubuhnya nyaris hanya berselimut kulit yang tipis. Napasnya terdengar putus-putus dalam dekapan Jeno. Jeno menggelengkan kepalanya, meminta Jaemin untuk berhenti berusaha bicara padanya dalam keadaan seperti ini.

“Aku akan kembali. Aku pasti akan kembali.” Jeno bertekad, membaringkan tubuh lemah Jaemin di dedaunan yang paling empuk. Jeno mengayunkan tongkatnya dengan cepat membangun tenda kecil untuk Jaemin.

“Aku harus pergi menemui Penyihir Kuku Kuning.”

Waoo…”

“Penyihir Kuku Kuning dia bilang.”

“Aku butuh bantuan kalian untuk menjaga temanku, kalian bersedia?”

“Tentu saja—”

“Tidak!”

“Iya!”

Jeno menggeleng-gelengkan kepalanya, sulit mempercayai dua peri hutan ini untuk menjaga Jaemin dari serangan vampire atau mahluk liar lainnya di dalam hutan, tapi dia tidak punya pilihan lain. Mungkin saat ini hanya dia satu-satunya harapan yang dimiliki oleh desanya.

“Hati-hati, Tampan!”

“Semoga kau mati dimakan serigala!”

“Jangan dengarkan dia!”

“Panggilah namanya di bawah pohon lingkar merah, maka dia akan muncul.”

Ah, kali ini kau boleh mendengarkannya.”

::::

Kukunya tidak kuning seperti namanya, dan dia tidak terlihat tua untuk seorang penyihir yang hidup lebih dari ratusan tahun, dia masih terlihat muda seperti Ibu Jeno.

“Perlu waktu ratusan tahun untukku membuat ramuan permohonan, kau tahu?”

Jeno hanya meringis, setengahnya karena rasa sakit pada lengannya yang terluka akibat perjalanan gila ini, setengahnya lagi karena dia gatal ingin mengganti namanya menjadi Penyihir Gigi Kuning—karena giginya memang kuning.

“Tanduk semut air, embun dari khayangan…itu baru sedikit dari bahan yang sulit kau temukan untuk membuat ramuan permohonan ini, kau tahu?”

Lagi-lagi Jeno hanya meringis, setengah tidak percaya bahwa akhirnya dia berhasil menemui Peyihir Kuku Kuning di gubuknya yang terasa sangat hangat bagi tubuh letih Jeno, setengahnya lagi karena rasa sakit pada lengannya semakin menjadi-jadi.

“Dua permintaan untuk satu orang, kau tahu?”

Jeno menganggukkan kepalanya, dan dia sudah menyusunnya dengan sangat baik di kepalanya.

Satu, menghentikan wabah di desa.

Dua, menghidupkan kembali teman-temannya.

Tunggu dulu bagaimana kencan dengan Nayeon?

“Boleh aku mendapat tiga?”

:::::

The end

::::

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s