[Ficlet] Ada Hantu di Kamar

1842ab315e2fc149236b68a9997866e8

Angelina Triaf ©2017 Present

Ada Hantu di Kamar

Lee Taeyong (NCT) & Park Cheonsa (OC) | Comedy, Fluff | G | Ficlet

0o0

Tak ada asap jika tak ada Cheonsa di dapur―begitulah hukum fisika yang terdapat di sini. Karena seratus persen yakin jika aku yang membuat teh, maka airnya tidak akan jadi semendidih itu ketika berada di atas kompor.

Did you just playing with that boiling water or what, Cheon? Put your phone on the table and pour the water into the cup immediately.”

Sifat menyebalkannya muncul ke permukaan. Lihatlah wajah tak acuhnya itu, hanya menatapku sembari mengedipkan kedua matanya berulang kali dan bertingkah polos. Pasti setelah ini ia hanya akan berkata―

What?”

―benar, ‘kan? Lalu selang beberapa detik, akan terdengar teriakan―

“Kyaaaaa, Kak Taeyong!”

Tepat sekali.

Ia langsung berlari ke arahku, namun sayangnya diriku telah lebih dulu menghampiri kompor lalu mematikannya. Suara rajukannya mulai terdengar, tapi kuabaikan begitu saja dan lanjut membuat teh yang belum sempat ia kerjakan. Kuambil satu cangkir lagi dari lemari dapur tak lupa menyendokkan gulanya juga. Cheonsa masih dengan celotehannya, dan aku harus segera menyelesaikan hal ini sebelum kelepasan tertawa karena ia sangatlah lucu.

“Pergi meninggalkanku dua bulan dan begini saat bertemu? Dasar om-om jahat. Cheon mau nangis di kamar kalau begitu―IH LEPAS!”

“Jangan nangis terus nanti tambah jelek.”

“BIARIN JELEK, CHEON MAU TELEPONAN SAMA KAK JAE SAJA IH LEPAS JANGAN PELUK-PELUK.”

“Sssttt … jangan teriak, bisa?”

Dasar anak ini, memang harus dilakban mulutnya supaya diam. Diabaikan merajuk tapi waktu dipeluk maunya lepas, perempuan itu makanannya apa, sih, sampai jadi begitu?

Salah besar kalau aku melonggarkan kedua lenganku, karena anak itu langsung mengambil kesempatan dan kabur menuju kamarnya. Karena malas meladeni pertengkaran konyol nantinya, lebih baik kukejar sekarang juga.

“Cheon, cepat buka pintunya sebelum―”

Bruk!

“KAK, ADA HANTU DI KAMAR!”

Tahu-tahu ia sudah kembali ke dalam pelukanku, memendam wajahnya dan geleng-geleng kepala seperti orang ketakutan. “Mana ada hantu siang-siang begini, Cheon.”

“Itu … di atas kasur!”

Eh? Kasur? Bisa jadi ….

Sepertinya seru kalau sekali-kali mengerjain Cheonsa, hahaha.

“Makanya, jangan suka teriak-teriak, jangan sering ngambek, jangan―eh? Jangan nangis, sayang … iya nanti Kakak usir hantunya. Sudah, ya?”

Kini ia hanya menganggukkan kepalanya, memelukku semakin erat. Aku hanya bisa tertawa dan mengusap rambutnya untuk mencairkan suasana. Ternyata ia takut sungguhan.

“Lebih baik Cheon tidur dulu di kamar Kakak, nanti pas bangun hantunya sudah pergi kuusir.”

“Tapi temani ….” katanya, suaranya teredam di dadaku.

Ya ampun, ia jadi seribu kali lebih menggemaskan saat ketakutan. “Iya, hahaha. Sini Kakak gendong,” ucapku, segera mengambil kedua kakinya lalu menggendongnya. “Duh, dasar bayi. Lihat tuh, kalau nangis pipinya makin―”

“JANGAN BAWA-BAWA PIPI―”

Peraturan nomor satu menjinakkan Cheonsa adalah; kalau dia terus teriak dan tak mau berhenti, cium saja, nanti juga diam sendiri.

Oh iya, ingatkan aku untuk menambahkan satu catatan kecil, yaitu jangan pernah bawa pulang oleh-oleh boneka teru-teru bozu human size lagi saat ada proyek di Jepang, karena akan dikira hantu olehnya.

FIN

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s