[Oneshot] Fall Into The Darkness

wp-1486537132219.png

Fall Into The Darkness

By Lollilachan

Adventure, Fantasy, Friendship, AU | [NCT’s] Mark; Kun; Ten, [OC] Jung Haerin | PG-13

“Pernahkah kau mengetahui mengapa dunia ini tidak selamanya terang karena cahaya yang gemilang? Atau… kegelapan yang tak berujung?”

-o0o-

Seorang wanita paruh baya meraih gulungan perkamen tua yang sudah kusam. Ia membuka perlahan dan bersandar pada dinding di dekat anaknya terbaring menunggunya. Gadis kecil itu menggumam sambil menunggu ibunya membacakan rangkaian kalimat dari perkamen yang seperti tenggelam dalam lumpur lantaran warnanya yang tidak begitu cerah. “Dongeng!” seru anak perempuan itu dengan piyama sederhana berwarna hitam.

-o0o-

Di langit-langit, sebanyak belasan pelita menggantung tanpa tali dan membentuk lapisan kabut tipis yang memudarkan corak garis-garis melengkung yang seharusnya sedang menjadi pusat perhatian di bagian atas bangunan. Namun semuanya mendadak padam dan nyaris tidak menyisakan sinar sepeser pun.

Tidak ada secercah cahaya yang sanggup menembus puluhan lapis batu bata yang bertembok tinggi pada sisi mereka. Selepas pandangan mereka, hanya ada bingkisan kegelapan yang menunggu menelan korban bayangan selanjutnya.

Mark mendesah frustrasi, sekiranya dalam otak laki-laki itu, mereka sudah menemukan tiga puluh satu gulungan perkamen tanpa berniat menyentuh, apalagi membukanya. Berkali-kali ia berbalik badan dan menatap wajah-wajah putus asa dari dua temannya, tetap tidak menjawab apa pun yang sejak tadi ia tanyakan.

Endapan lumpur yang berwarna coklat tua semakin menenggelamkan kaki-kaki mereka, dan di antara tiga manusia itu, hanya Mark yang berusaha menjerit dan suaranya hanya di dengar telinganya sendiri.

“Jung Haerin, gadis itu pasti sudah kabur dan membawa seluruh aset kerajaan,” celetuk Mark mengangkat satu persatu kakinya untuk dapat melangkah dengan tenang. Tetapi tidak ada hasil yang ia capai, cipratan demi cipratan lumpur yang semakin kental dan pekat telah mencapai batas betisnya. “Aset apanya?! Dia hanya izin untuk keluar selama semalam, dan ternyata hilang melenyap dalam sepi. Dia bahkan tak memakan sesendok pun sarapan kemarin, jelas aku mengkhawatirkannya.”

Sekarang, Ten memimpin barisan. Perlahan cahaya mulai terlihat walau mereka tidak yakin betul bahwa itu berasal dari matahari. Entah sejak kapan, lumpur sialan itu sudah habis tak bersisa tanpa meninggalkan bekas setitik pun di kaki ketiganya. Mark sempat bergumam lagi, tapi setelah melihat kakinya bersih dan seputih salju –bahkan lebih putih dari itu- ia urung melakukannya.

Dalam diam, Ten memikirkan semua yang mereka lalui di lorong kegelapan. Mark hanya ingin bersumpah, ia ingin kabur dari dua manusia patung yang hanya diciptakan untuk membatu. Sementara bagi Ten, di dalam susunan otaknya hanya memikirkan segala kepraktisan: cara keluar dari istana ini tanpa harus lewat lorong yang tadi, melihat cahaya matahari tanpa berjemur di bawahnya, atau makan tanpa menggunakan mulut.

“Aku tahu!”

“Katakan sebelum kita membusuk di sini,” timpal Mark menuntut ucapan Ten selanjutnya. Kun ikut antusias setelah melihat –untuk pertama kalinya- Mark dapat se-serius itu saat berbicara pada orang lain.

“Haerin pergi saat malam tiba, dia selalu menghilang saat kegelapan mulai mengerubungi istana. Seakan-akan, dia adalah bayangan dalam gulita. Haerin tidak pernah makan malam di luar kamar, dia membekap diri dengan berbagai impian gilanya melihat para bintang bergandengan tangan dengan bulan, dan… setelah itu dia hanya akan terlihat esok pagi dalam keadaan kelelahan.” Sepanjang kalimat yang Ten ucapkan, Mark melongo heran tanpa berkeinginan mencerna ucapan teman seperjuangannya. Tidak ada yang dapat ia simpulkan, hanya saja ia terlalu fokus dengan tampang datar dari Ten yang sudah menjadi image-nya sejak lahir, mungkin.

“Jadi… kegelapan dan Haerin punya hubungan erat?” Kun menanggapi.

“Ya, kita tidak bisa mencarinya di bawah sinar bulan atau lampu penerangan saat malam hari. Terpaksa, jalan terbaik mencarinya di dalam kegelapan…”

“Kupikir itu ide yang sangat konyol. Jelaskan, bagaimana seorang putri bersedia berkeliaran di luar istana saat malam hari hanya karena kegemarannya pada bintang? Atau… merelakan sebongkah daging gurih hanya untuk terpejam dalam kegelapan? Itu tidak masuk akal,” satu-satunya penolakan mentah-mentah hanya datang dari laki-laki yang sejak tadi gelisah dengan pencarian gila ini –Mark.

“Jadi, apa kau bisa jelaskan juga padaku mengapa kau dilahirkan untuk ikut campur dalam urusan istana? Sementara kesabaranmu hanya sedangkal ini? Sangat disayangkan,” Kun berpaling ke arah Mark dengan tatapan mengerikan. Selama mereka bekerja bersama-sama, Mark baru melihat pandangan yang sedemikian rupa dari Kun, tajamnya melebihi samurai yang disimpan dalam etalase kaca di istana.

“Asal kau tahu saja, hidupmu itu menyedihkan sekali.” Ten mengakhiri percakapan dengan kalimat menyakitkan dan langsung mencelos hati di penerima sindiran. “Ya-ya, aku kalah. Kalian puas?”

Mereka berjalan lurus ke depan dan masih diselimuti kegelapan. Tiba-tiba tanpa menyadari apa yang tengah berada di hadapan ketiganya, dinding yang sama dengan sisian lorong juga menutup jalur mereka. Jelas semua itu sudah menjungkirbalikkan segalanya yang mereka yakini. “Lihat, kita sekarang benar-benar tidak punya akses masuk selain kembali ke lorong sempit penuh lumpur.”

Kun yang lebih dulu menabrak dinding hanya bisa meraba dengan ragu-ragu beberapa jangkauan di sekitarnya. “Lorong tidak selamanya punya rute dengan jalan yang terus menerus lurus, ada kalanya berbelok. Ternyata kegelapan bisa membolak-balikkan otakmu juga, ya?” Kun terkekeh pelan, dilihatnya kilatan mata Mark menahan emosi dan malu yang bersatu padu.

Tiga pasang mata milik mereka langsung menitikfokuskan pada sebuah batu seukuran tubuh mereka dengan tulisan yang mungkin hanya bisa dibaca oleh si penulis. Berkat kejelian mata Mark yang sempat diragukan kebenarannya, Kun dan Ten akhirnya mengizinkan anak itu untuk membaca tulisan dengan spasi tak karuan.

Seperti mengeja semasa pertama masuk sekolah, Mark berkali-kali mengubah sudut pandangnya saat membaca tulisan itu, untuk mendapatkan posisi yang pas agar dapat membaca dengan khidmat, begitu katanya.

“Pilar-pilar yang kau lihat di depan, serupa wajah-wajah para kekaisaran besar yang mati tanpa dituntut sebagai penguasa yang otoriter.

Pilar-pilar yang kau lihat di depan, portal neraka yang tidak pernah dibayangkan sesakit apa goresan kecil di ujung jarimu.

Pilar-pilar yang kau lihat di depan sebangsa dengan kegelapan”

“Kau yakin begitu kata-katanya?” Ten agak meragu saat harapannya begitu korosif diwujudkan di sini. Awalnya ia berpikiran: tulisan itu bukan sesuatu yang penting untuk dibaca. Namun setelah ada lubang kecil di langit-langit, terlihat sepasang pilar yang tinggi dan besar. Mengawal sebuah pintu berwarna keperakan, Ten yakin harapannya kandas di tengah jalan.

Perjalanan mencari Haerin tidak semudah mencari kunci dalam rendaman air yang jernih. Sebenarnya Tn. Jung sudah memberi informasi tentang Haerin pada awal masa kerja mereka. Haerin adalah gadis pendiam, dia suka tidur larut malam, waktu luangnya ia pergunakan untuk menulis naskah dalam gulungan perkamen, warna kesukaannya adalah warna campuran dengan proporsi pekat: entah itu warna hitam dan cokelat yang bersatu padu, atau hijau tua yang ikut bergabung dalam kumpulan warna lainnya.

“Kita memang tidak tahu ada apa di dalam pintu itu, tapi intuisiku berkata bahwa Haerin ada di sana,” suara Kun yang mulai bernada pasrah terdengar samar dalam keheningan. Mulanya ia berniat hanya melirih, tetapi justru ikut terdengar di telinga dua pengawal lain yang berprofesi sama dengannya.

Pendapat Kun ditanggapi dengan gumaman semangat dari Mark, “Betapa bodohnya aku sekarang!” Ia mengeluarkan lipatan papirus yang agak berantakan dari sakunya. “Aku membawa denah, Tn. Jung memberinya sewaktu kita akan berangkat tadi.”

“Kau terlambat, bahkan sekarang kita tidak tahu di mana arah utara, timur, selatan, dan barat! Jika saja kita tersesat, kau yang bertanggung jawab–”

“Pintunya terbuka!” kata Mark sekaligus memotong ucapan Ten yang sedang meluapkan emosinya yang sedang meledak hebat. Bagai bara api yang dimuntahkan gunung-gunung dan menghujam dataran tanpa ampun.

Pilar-pilar yang kau lihat di depan sebangsa dengan kegelapan, analoginya terkesan pas dengan keadaan,” gumam Kun menjinjit seperti sedang mengendap ke depan pintu perak yang diapit sepasang pilar tinggi dan kokoh. “Mungkin ‘analogi’ yang kau katakan tidak berguna, jelas ini memang kenyataan. Bangsanya kegelapan,” Mark menggeser paksa tubuh Kun ke samping untuk membiarkannya maju lebih dulu.

“Hei, apa kalian lihat apa yang terjadi di sana? Mataku tidak berfungsi dengan baik.”

“Tidak berfungsi apanya! Ini gelap, aku tidak melihat wajah konyolmu sekarang.”

“Ya! Pasti kau! Kun, jangan tinjak kakiku! Aku sudah merawatnya dengan baik!”

“Aku tidak menginjak kakimu, bodoh!”

“Jangan tarik bajuku seperti ini!”

“Kau menabrakku, Mark!”

“Bisakah kalian diam…”

“Ini sulit sekali!”

“Sekarang Tn. Jung memberikan denah yang tidak berguna saat gelap seperti ini.”

“Pakai denah atau tidak, pasti kita tetap akan tersesat.”

Percakapan itu terus berlangsung hingga lengkingan Mark memecahkan gendang telinga mereka semua saat dia menabrak tembok atau merasakan kakinya seperti dipelintir kuat-kuat oleh kaki-kaki Ten dan Kun yang rasanya sedang memakai high heels.

Setelah berjuang mati-matian, tiba-tiba hamparan taman dengan berbagai bunga menyambut mereka. Dan… ruangan penuh sesak dan kegelapan tadi lenyap begitu saja. “Aku mengerti tentang bagian: pilar-pilar yang kau lihat di depan, serupa wajah-wajah para kekaisaran besar yang mati tanpa dituntut sebagai penguasa yang otoriter. Analogi yang sebenarnya. Kita keluar dari ruangan itu tanpa merasakan kembali apa yang terjadi di sana, dan ya… persis dengan makna kata para kekaisaran yang mati tanpa dituntut dan seakan telah dilupakan…”

“Kun, hentikan seluk-beluk ucapanmu yang membelit di otakku.”

“D-dia… Jung Haerin, kan?” suara Ten yang terkesan tidak pernah tergagap, menjadi berubah serak dan terbata saat menangkap sosok gadis bergaun hitam pekat dengan beberapa bantuan glitter mengilap berhamburan memantulkan sinar keemasan.

Kun, Mark, dan Ten tidak mengedipkan mata saat Haerin benar-benar berlari-larian tidak jauh di hadapan mereka. Gadis itu mengganti gaun putihnya dengan menukar warna cerah dengan kegelapan, khas sekali dengan kepribadiannya. Saat tidak sadar melirik ke samping, Haerin ikut terkejut saat melihat ketiga pengawalnya sedang memerhatikan dirinya.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Bagaimana kalian sampai? Siapa yang memberitahu kalian? Kapan kalian berdiri di sana? Mengapa kalian ke sini?” Belum sampai enam puluh menit mereka di sana, Haerin lebih dulu melontarkan jejalan pertanyaan bertubi-tubi yang bahkan tiga manusia yang berdiri keheranan di sana –para pengawalnya- tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan itu.

“Putri kegelapan… tidak salah lagi,”  Ten bergumam, menghiraukan kata-kata Haerin pada mereka. Ia menganalisis kulit Haerin yang sepucat mayat dan tidak sinkron dengan gaunnya. “A-apa yang kalian lihat?”

“Dia bahkan lebih cantik di bawah sinar seperti ini… yaah, kapan terakhir kali aku melihatmu sebahagia itu, Haerin?” Mark ikut melanglang buana dalam khayalannya. “PENGAWAL BOD–”

Kun terlalu gesit dalam ilmu perampokan yang pernah ia pelajari setahun belakang. Cara memasang ekspresi garang, membekap mulut seseorang dengan kecepatan cahaya, dan merampas jatah makan Mark. “Maafkan aku, tapi kami terpaksa melakukannya.”

“Akan kuadukan kalian pada…”

“Haerin ternyata… mulutmu tidak bisa diam, ya?” Mark ikut bergabung menyalahkan Haerin. “Kami ingin bertanya denganmu…” Ten terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang pas untuk diucapkan. “Kenapa harus kegelapan?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa ada negoisasi dengan perasaan Haerin, Ten langsung pada poin utama tanpa kalimat pengantar yang manis.

“Kalian hanya pengawal! Tidak pantas untuk tahu–”

“Jangan ajarkan kami untuk bertindak dengan kekerasan, Putri,” Kun menambahi. Situasi ini jelas menyudutkan Haerin, sisi kanan dan kirinya dihalangi oleh tubuh setinggi tiang listrik oleh Kun dan Mark, sementara di hadapannya terdapat wajah serius dari Ten. Haerin sudah bersandar pada tembok yang tidak begitu luas. Dia mencoba meneguk ludahnya sendiri, tetapi terasa seperti tercekat di tenggorokan.

“Kita harus membuat komitmen lebih dulu, bukankah itu yang kau pikirkan?” Mark yang cukup andal membaca ekspresi orang lain berusaha lebih dulu bertindak. “Kau takut orang-orang istana mengetahui alasanmu, kan? Lain kali, carilah pengawal yang terlampau dungu, sejatinya mereka tidak setampan dan secerdas diriku.”

“Mark!” Kun dan Ten melayangkan peringatan. “Bagaimana aku bicara dengan kondisi terpojok seperti ini,” rutuk Haerin menatap satu persatu wajah tiga pengawalnya yang tidak mencerminkan sebuah kesabaran. “Baiklah, kami akan merenggangkan sedikit jarak. Ingat, jika kau kabur, kami akan menggunakan kekerasan.”

Haerin berjalan ke tepi taman untuk duduk di kursi. Kebetulan, di sana hanya ada satu tempat peristirahatan, jadi hanya dia yang bisa duduk nyaman, sedangkan pengawalnya berdiri di setiap sisi. “Aku tidak ingat betul… malam purnama yang datang memorak-porandakan istana saat itu, tepat beberapa bulan sebelum kalian dipekerjakan oleh ayahku. Malam itu… badai mengamuk dan menghancurkan bagian belakang istana dengan ganas…” Haerin menarik napas dalam-dalam, menggali memorinya tentang asal kegelapan.

“Sebanyak puluhan meter di bagian belakang istana hancur, ayah tidak berniat merenovasinya lagi, jadi kupikir hanya akan ada bongkahan batu-batu di sana. Pada malam purnama kedua, bebatuan di sana lenyap tak bersisa. Nyaris disapu bersih. Kemudian, seseorang datang dengan keranjang tua yang dijinjingnya masuk ke istana. Ajaib, tidak ada yang menghalangi orang itu untuk masuk… kami semua menyadari adanya orang lain yang masuk ke dalam setelah dia menghilang di taman belakang yang sudah hancur karena badai. Pagar-pagar di sana juga tidak menandakan bahwa adanya penyusup, tidak ada yang rusak. Sampai sekarang, hanya aku yang meyakini bahwa dia tidak pernah keluar dari istana. Dia membuat koloni di sana, berupa kegelapan.” Haerin menghela napas lega setelah menceritakannya, kemudian menunduk sejenak, lalu melanjutkannya lagi.

“Malam-malam setelahnya, sosok itu datang ke dalam mimpiku dengan jubah hitam yang menutupi wajahnya. Dan aku tidak tahu bagaimana, pada malam itu aku terbangun di sini dan esoknya aku kembali ke istana dengan otomatis… semua terjadi begitu saja. Aku sangat heran, mengapa kalian bisa datang ke sini… apa juga dengan ‘otomatis’?”

“Tidak, kami melewati perjalanan panjang dan lorong sempit serta berlumpur.” Mark mengangguk cepat, matanya berkilat-kilat. “Aku tidak mau lewat sana lagi! Sudah cukup kakiku kalian remukkan seperti ini.”

“Ragaku disita di sini selama ada cahaya,” Haerin tersenyum tipis. “Aku bertanya-tanya, apakah ini konsekuensinya meremehkan kegelapan? Sudah cukup aku kehilangan puluhan perkamen berisi naskahku…”

Mark mengernyitkan dahinya, “Tiga puluh satu buah?”

Mendengar itu, Haerin mendongak menatap Mark penuh harap. “Ya, apa kau melihatnya?”

“Di lorong penuh lumpur!”

Haerin melebarkan matanya, “Siapa yang membawanya ke sana?” Ten menautkan sepasang alisnya, membentuk beberapa hipotesis yang menurutnya cocok disandingkan dengan situasi. “Apa isinya?”

Mulut Haerin terbuka setengah, “Kisahku… selama menjadi putri kegelapan.”

“Lalu jika naskah itu hilang?”

“Siapa pun yang membacanya… akan menjadi pewaris kegelapan. Begitu janjiku pada orang yang membuatku seperti ini. Intinya, perkamen itu penuh dengan kutukan. Jangan bilang kalau kalian membacanya.”

-o0o-

Wanita itu menggulung kembali perkamen yang berisi kisah Putri Kegelapan dan Tiga Pengawal. Ia lantas meletakkannya di dekat jendela yang terakses cahaya purnama. Sinarnya menjalar ke mana-mana, tidak jelas arah, tersebar, dan tidak teratur.

Bayangkan, bagaimana jika cahaya bulan hanya fokus pada satu titik, pasti akan terbentuk koloni kegelapan di wilayah lain. Kegelapan itu tidak berdiam pada posisinya, mereka menyebar… sehingga seluruh umat manusia dijadikan pewaris.

Itulah sebabnya malam identik dengan kegelapan. Ada seseorang yang menjaring cahaya bulan, membentuk bayangan di tengah-tengah daerah penuh sinar cemerlang, dan warna-warna kelam yang ada merupakan simbol keberadaannya. Dan teori itu digunakan manusia untuk meyakini bahwa pewaris kegelapan sedang bekerja di langit.

Agar dunia ini tidak selamanya terang benderang.

Fin

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Fall Into The Darkness

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s