[Write Your Mythology] OANNES

irish-nct-oannes

|   OANNES   |

|   Jaehyun (as Oannes)  x  Chaeyeon   |

|  Myth  x  Sci-Fi  |  Vignette  |  Teen  |

|  story by IRISH  |

currently appear: Oannes—God of the sea

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Curah hujan tinggi di pertengahan bulan ini agaknya jadi sedikit mengganggu aktivitas sebagian orang. Seperti Chaeyeon, contohnya. Seharusnya, di jam delapan seperti ini ia harus hadir di tengah kelas Professor Kim yang mengajar Sastra. Tapi ia justru terjebak di depan sebuah laboratorium yang ada di dekat halte bus.

Mudah saja bagi Chaeyeon sebenarnya, ia hanya perlu berlari sedikit dari laboratorium tersebut dan sampailah ia di halte bus yang akan membawanya menuju universitas.

Tapi menyeberangi jalan bukanlah perkara mudah di tengah hujan angin seperti ini. Chaeyeon bahkan harus beberapa kali membenarkan kemeja birunya lantaran lapisan tipis yang melindungi tubuhnya tersebut tertiup angin.

Kini, alih-alih terlarut dalam penantian yang tampak tidak berujung, Chaeyeon justru memilih untuk memperhatikan sekitarnya. Ia ingat, dulu ayahnya pernah bekerja di laboratorium yang jadi naungannya sekarang.

Meski sudah beberapa tahun berlalu, tapi Chaeyeon sedikit-sedikit masih ingat tentang isi laboratorium ini. Ia bahkan masih ingat password pintu masuk laboratorium ini.

Diam-diam Chaeyeon tersenyum. Masih begitu jelas dalam ingatannya tentang keadaannya beberapa tahun silam saat berkeras pada sang ayah untuk jadi seorang scientist tapi sekarang ia justru memilih jurusan sastra.

Ya, namanya juga anak-anak. Cita-cita mereka selalu berubah tiap waktu, bukan?

Kali ini, atensi Chaeyeon bersarang pada sebuah celah kecil yang tersisa dari dua buah tirai penutup jendela raksasa yang ada di bagian depan laboratorium. Jelas bisa dilihatnya beberapa pantulan warna biru terang dari dalam laboratorium yang menggelitik rasa penasaran Chaeyeon.

Ia mungkin sudah menenggelamkan keinginan untuk jadi seorang scientist karena beberapa alasan yang salah satunya adalah karena kepandaian Chaeyeon tak sampai pada titik sempurna.

Tapi setidaknya ia masih jadi Chaeyeon yang begitu ingin tahu.

Selidik punya selidik, Chaeyeon rupanya sedari tadi mengawasi juga keberadaan guards yang biasanya berjaga di depan pintu masuk. Mungkin, karena hujan yang deras seperti ini mereka memilih untuk menghangatkan tubuh di ruang kecil yang ada di sudut terjauh laboratorium.

Iseng, Chaeyeon menggerakkan jemari pucatnya yang kedinginan ke arah layar hitam di dekat gagang pintu. Meski sedikit ragu, tapi toh Chaeyeon mencoba peruntungan juga.

Dimasukkannya sederet angka familiar yang pernah ayahnya ajarkan dulu. Sebuah bunyi pip lirih jadi pertanda kalau angka yang Chaeyeon hafalkan masih menjadi password masuk gedung tersebut.

Lekas, Chaeyeon mengukir langkah dengan hati-hati. Segera, kehangatan menyambut Chaeyeon kala ia masuk ke dalam laboratorium tersebut. Bukan hanya karena kenangan yang dulu sempat tercipta, tapi juga karena suhu penghangat ruangan yang mendominasi.

Chaeyeon bahkan tidak harus menggigil kedinginan lagi seperti tadi.

Langkah pasti Chaeyeon ambil saat ia menapakkan kaki di tengah koridor. Mengabaikan fakta bahwa sekarang CCTV di tiap sudut laboratorium tengah merekamnya, Chaeyeon justru mengambil langkah lebih yakin saat ia akan berbelok ke arah lorong dengan angka tujuh di atasnya.

Ingatan Chaeyeon segera berputar, tentang ayahnya yang selalu sibuk di laboratorium dan bahkan terkadang Chaeyeon pikir tak pernah menganggapnya ada. Sebenarnya, dulu ia sering menyelinap diam-diam ke laboratorium dan membuat ayahnya marah.

Sayang, sekarang ayahnya tak lagi ada untuk bersikap seperti itu.

Beberapa tahun silam, pria itu menghilang begitu saja di tengah sebuah bencana. Ada yang bilang jika ia diculik oleh oknum-oknum tertentu yang bekerja di bidang politik.

Tapi Chaeyeon tidak percaya itu. Ia tahu ayahnya adalah orang baik yang kehidupannya tidak mungkin direnggut dengan cara yang tidak adil.

“Kau.” langkah Chaeyeon terhenti saat ia sampai di depan sebuah tabung kaca. Di dalamnya, tengah mengambang seorang pria di tengah likuid biru, dengan mata tertutup dan tubuh tidak terbalut kain.

Bukan, bukan tubuh pemuda itu yang menjadi perhatian Chaeyeon, melainkan tubuh bagian bawahnya yang dibalut oleh sisik berwarna biru laut lah yang membuat Chaeyeon terpana.

“Karena kau… Ayahku menghilang.” Chaeyeon menggumam.

Sekon kemudian, ingatan si gadis kembali berlari membawanya pada kenangan beberapa tahun silam.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Chaeyeon’s Eyes…

Ya! Jung Chaeyeon!”

Aku menoleh, dan terkesiap melihat beberapa orang pria bertubuh besar sekarang berdiri di ujung jalan. Tatapan mereka tertuju padaku. Ugh. Sial.

Aku dengan segera berlari menjauh, mengikuti alur acak yang kurasa akan membuat mereka kesulitan mengikutiku. Aku berlari cepat menyusuri jalanan kecil, bahkan jalanan yang hanya bisa kulewati dengan tubuh menyamping.

Mereka cukup kesulitan mengejarku dengan tubuh sebesar itu tentu saja, tapi itu tak berlangsung lama.

Mereka kembali mengejarku, dan membuatku harus mengambil jalan lain untuk menyelamatkan diri. Pasar. Aku berlari ke pasar yang masih sangat ramai dipagi hari seperti ini, menyelipkan tubuhku diantara orang-orang yang memenuhi jalanan sempit pasar.

Tentu saja untuk kedua kalinya aku membuat mereka kesulitan mengejarku.

Aku mulai kehabisan nafas saat mereka terus mengejarku walaupun aku sudah berlari cukup jauh. Aku akhirnya berlari ke sebuah belokan jalan besar dibelakang kebun binatang. Tatapanku tertuju pada pintu gbesar yang ada di sana.

Benar. Bangunan baru kebun binatang yang belum dibuka. Aku dengan cepat menyelipkan diriku disebuah celah kecil yang ada di sebelah pintu, dan masuk ke dalam bangunan itu.

Aku menyandarkan tubuhku di tembok, netraku berusaha beradaptasi dengan kegelapan di dalam ruangan tempatku sekarang berada. Aku sedikit terkesiap mendengar suara percikan air didekatku. Suaranya seperti seseorang tengah berenang didalam kolam. Memangnya ada kolam di dalam sini?

Aku melangkahkan kakiku pelan mencari sumber suara. Aku memicingkan mataku, melangkah pelan melewati tirai hitam tebal di dekatku.

Tidak betah dengan kegelapan yang membutakanku, aku akhirnya mengeluarkan ponsel mengarahkan cahaya minimnya ke sekitarku. Seketika, aku sadar bahwa aku berdiri di tengah lorong akuarium raksasa yang melingkar, celah kecil tadi kurasa adalah pintu masuknya.

Dengan penasaran aku mendekati kaca raksasa itu, menatap cahaya terang samar biru menenangkannya. Benar-benar seperti lautan. Ikan-ikan kecil berenang cepat di dalamnya.

Bahkan aku melihat jelas ikan-ikan predator lainnya tengah berusaha mencari mangsa. Apa sekarang sebuah lautan lepas dipindahkan ke kebun binatang kami?

Aku melangkahkan kakiku menyusuri akuarium raksasa itu, aku tahu aku tak akan bisa masuk ke tempat ini dengan gratis jika Ia sudah dibuka nanti. Tentu saja seorang yeoja putus sekolah yang hidup terluntang-lantung sepertiku tak akan punya uang untuk membayar tiket luar biasa mahal disini.

Langkahku terhenti saat melihat bagian akuarium yang tampak kosong. Maksudku, hampir seluruh akuarium ini dipenuhi oleh ikan dimana pun kecuali di tempat ini.

Aku mendekatkan diriku ke kaca, memperhatikan air keruh itu dengan seksama. Mataku membulat saat menemukan siluet yang bergerak pelan dikejauhan, tapi ia tampak bergeming di tempatnya.

Aku baru saja akan melangkah lebih dekat ke akuarium itu saat mendengar suara tawa dibelakangku.

Ha ha! Ternyata kau disini!”

Refleks aku berbalik, dan terpaku saat pria-pria bertubuh tambun itu sudah berdiri tak jauh di belakangku.

“Kau mati sekarang bocah nakal!”

Akh!”

Aku terlalu lambat bereaksi saat salah satu dari mereka nyatanya sudah mencekikku, mendesakku ke tembok kaca dibelakangku.

“Kau sudah terlalu lama bermain-main dengan kami.”

“H-Hey! Apa itu didepanmu!?”

Pria yang mencekikku tiba-tiba saja melepaskan cekalannya. Kurasa ada ikan buas yang muncul di belakangku dan membuat mereka terkejut. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Segera kubawa tungkaiku untuk berlari menjauh dari mereka, membuat diriku kembali menjadi kejaran. Dengan cepat aku berlar menaiki tangga melingkar panjang yang ada di ujung lorong, tapi nyatanya aku baru saja melakukan hal bodoh.

Tangga melingkar itu berujung pada bagian atas akuarium yang ada di bawah. Perutku bergolak saat melihat bagian atas akuarium yang terbuka. Dengan sebuah jalan kecil yang hanya bisa dilewati dua orang. Suara percikan air yang kudengar berasal dari aliran air yang masuk ke dalam akuarium raksasa itu.

“Kau mau berlari kemana lagi huh!?”

Aku berbalik. Menatap pri yang sekarang berdiri disatu-satunya jalan turunku dari tempat ini.

“Aku akan membayar semuanya, tolong beri aku waktu ahjussi!” ucapku akhirnya.

“Waktu? Aku sudah terlalu banyak membuangnya untukmu bocah kecil.”

Aku melangkah mundur saat mereka melangkah mendekatiku.

“Cepatlah kemari selagi aku masih bersikap baik padamu.”

Mendatangi mereka sementara ditangan mereka sekarang ada balok kayu yang kapan saja bisa mereka pukulkan padaku?

“Aku sungguh akan membayarnya.” ucapku lagi.

“Dengan apa huh? Lebih baik kau ikut aku sekarang, jadi aku bisa menjual ginjalmu supaya kau melunasi hutangmu!”

Aku melangkah menjauhi mereka, tatapanku tertuju pada lautan buatan di bawahku. Bulu kudukku meremang saat membayangkan ikan hiu besar yang akan merobek kulitku jika aku terjatuh ke da—

BUGK!

BYUURR!

Aku memejamkan mataku saat merasakan sesuatu yang keras memukul bahuku. Lenganku mati rasa. Dan aku tak bisa bernafas—lebih tepatnya, aku tak sempat mengambil nafas, aku sungguh tidak menduga aku akan benar-benar terjatuh ke dalam akuarium ini.

Beberapa detik aku berusaha beradaptasi dengan keadaan mengerikan yang sekarang kuhadapi. Tenang, Jung Chaeyeon. Kau hanya sedang terjebak dalam lautan buatan dengan semua jenis ikan ada di dalamnya.

Aku membuka mataku, dan dengan cepat berenang menuju ke permukaan. Paru-paruku terbakar karena membutuhkan udara. Aku bisa jadi perenang yang baik jika saja aku sudah menarik nafas sebelum tercebur ke dalam akuarium ini.

Aku mulai kesulitan bernafas dan lengan kiriku bahkan tak bisa kugerakkan dengan baik karena pukulan yang kuterima tadi.

Tubuhku perlahan tenggelam ke dasar akuarium setinggi belasan meter ini, sementara paru-paruku mulai terisi air. Pandanganku mulai kabur, dan seluruh tubuhku benar-benar sudah pasrah.

Samar-samar, dari dasar akuarium ini aku melihat siluet gelap berenang mendekatiku. Predator atau semacamnya? Entahlah. Aku sudah tak bisa—

—Siapa dia?

Tatapanku membulat saat dengan cukup sadar melihat seorang pemuda mendekatiku. Lengannya menarik kedua bahuku dan dengan mudah ia berenang ke permukaan.

Apa ia menyelamatkanku?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Uhuk! Uhuk!”

Aku berusaha menarik nafas, memasukkan udara sebanyak mungkin ke dalam paru-paruku. Aku mendapati diriku terbaring di jalan kecil tempatku berdiri tadi. Seluruh tubuhku basah kuyup. Itu artinya aku benar-benar tenggelam.

Aku terkesiap mendengar suara percikan air di dekatku. Dengan cepat aku menatap sekitar. Tak ada seorang pun di sini. Lalu, siapa yang tadi menyelamatkanku?

Tunggu… ingatlah Chaeyeon… ingatlah.

Tadi… ada seorang pemuda berenang dari dasar akuarium ini dan—tidak. Dia berenang dari dasar akuarium. Sungguh. Tapi ia seorang manusia. Benar.

Aku memeriksa seluruh tubuhku. Dan sadar bahwa seseorang pasti benar-benar menyelamatkanku. Tapi… siapa dia?

Aku menggeleng cepat. Aku pasti berhalusinasi. Tidak. Aku tidak berhalusinasi. Jika seseorang tidak menyelamatkanku lalu bagaimana aku bisa ada di sini?

Dengan penuh pertanyaan di benakku, aku berdiri, dan melangkah pelan. Tapi bodohnya aku limbung dan kali ini dengan sigap aku menghisap udara sebanyak mungkin sebelum aku pasrah saat tubuhku harus kembali masuk ke dalam a—

—seseorang menangkapku. Seseorang menangkap tubuhku tepat sebelum aku terjatuh ke dalam akuarium raksasa ini lagi.

Aku menoleh. Dan terkesiap saat benar-benar melihat seorang pemuda sekarang tengah mencekal lenganku. Ia… ia ada didalam air!

Tubuh ini pasrah saat ia menjatuhkan pelan tubuhku di lantai basah tadi. Kami saling beradu pandangan sebentar sebelum ia kembali… ke dalam air!

Aku mulai menghitung, sepuluh detik… dua puluh detik…

Sial.

Ini tidak mungkin.

Tidak ada seorang pun yang dengan masuk akal bisa bertahan di dalam air lebih dari satu menit. Memangnya ia perenang internasional? Apa juga yang dilakukan perenang profesional di dalam akuarium yang belum dibuka, berenang bersama ikan-ikan? Sungguh tidak mungkin.

Tapi tunggu. Jika pemuda itu bukan perenang internasional, lalu… siapa dia? Kenapa ia bertahan didalam air lebih dari satu menit? Lagipula… orang kurang kerjaan mana yang menghabiskan waktu di tempat ini? Kecuali aku yang berlari dari kejaran renternir tentu saja.

Dengan penuh rasa penasaran aku menurunkan kakiku ke dalam air, dan setelah menarik nafas cukup panjang, aku menceburkan diriku ke dalam akuarium.

Aku berenang cukup dalam, tatapanku berkeliling tempat raksasa itu, mencari keberadaannya. Tapi aku hanya melihat ikan-ikan sejauh mataku memandang. Ugh. Sial.

Aku bahkan melihat ikan hiu itu sekarang—ikan hiu itu tidak sedang berenang ke arahku bukan?

Aku menggerakkan kakiku berlawanan dengan air, membuatku mundur menjauh dari hiu yang sekarang berenang mendekat.

Aku terhenti saat tubuhku menabrak sesuatu. Bahkan kurasakan lengan seseorang sekarang dengan lembut menyentuh lenganku. Aku berbalik, dan tatapanku bertemu dengan sepasang mata kelam milik seorang pemuda.

Dia.

Benar-benar dia. Yang tadi menyelamatkanku.

Aku menatapnya dengan seksama, dan kualihkan pandanganku saat sadar ia tak mengenakan pakaian bagian atas. Tapi saat kualihkan pandanganku, aku mendapati bahwa ia…

Ia…

Ia bukan manusia.

Aku memandangnya lagi, tubuh bagian atasnya memang seorang manusia. Ia seorang pemuda dengan paras sempurna. Tapi dibagian bawah tubuhnya. Ia… seorang ikan. Seorang? Atau seekor?

Sisik berwarna biru kehijauan terang ada disana dan bukannya kaki. Ekor mengkilap berwarna senada juga bergerak pelan. Apa ia orang gila yang tengah dengan iseng memakai kostum didalam akuarium ini?

Masa bodoh.

Aku mulai kehabisan nafas. Dadaku kembali terbakar karena paru-paruku membutuhkan udara. Aku menutup hidung dan mulutku agar aku tak menghirup air dengan sengaja, dan aku bergerak untuk berenang ke permukaan.

Tapi ia menghentikanku. Maksudku, ia menahan lenganku. Dan dengan bodohnya tubuh ini tak bisa menolak!

Jantungku melompat tak karuan saat ia menarik lenganku yang kugunakan untuk menutupi mulut dan hidungku, kedua tangannya sekarang bergerak memegang wajahku.

Aku mulai tak mengerti jantung ini berdegup tak karuan karena kekurangan oksigen atau karena terlalu lama menatap wajah sempurna pemuda ini.

Aku terkesiap saat ia menarik wajahku, dan… dan… menciumku.

Tidak. Dia tidak menciumku. Dia hanya… meniupkan udara ke dalam mulutku. Apa dia sedang berusaha memberiku nafas bantuan atau semacamnya? Bagaimana bisa?

Aku menatapnya, sungguh berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tak sedang berada di kematian karena melihat hal tak masuk akal. Perlahan aku menggerakkan lenganku untuk menyentuh wajahnya.

Nyata. Sungguh nyata. Aku merasakan kulitnya walaupun didalam air seperti ini. Ia menatap tangan kananku yang ada dipipinya, sebelum ia kembali menatapku.

Mata berwarna kelamnya sungguh membuatku merasa tak peduli bahwa aku sekarang sedang ada didalam air bersama seorang… manusia dengan tubuh bagian bawah seperti ikan.

Aku mengalihkan tanganku, dan menatap tubuh bagian bawahnya. Dengan ragu aku menggerakkan tanganku menyentuh sisik berkilau itu, berharap bahwa benda itu hanya imitasi buatan manusia, tapi aku salah.

Ia nyata. Tubuhnya bukanlah kostum.

Aku kembali menatapnya, dan perlahan, sudut bibir pemuda itu melengkung membentuk senyuman. Apa ia sedang tersenyum!?

Aku menyernyit saat paru-paruku kembali terbakar. Dan dengan cepat aku melepaskan cekalannya, berenang ke permukaan.

Uhuk! Uhuk uhuk!”

Aku menghirup udara sebanyak mungkin. Tubuhku masih ada di dalam air, hanya saja sekarang aku bisa bernafas dengan bebas.

Aku menoleh saat mendengar percikan air didekatku, dan aku mendapati pemuda itu ada disebelahku. Dengan tenang tubuhnya mengambang. Aku memandang ke dalam air, dan sungguh melihat tubuh separuh ikannya.

“Kau… siapa?”

Ia bergeming, dan terus menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan.

“Kau bukan manusia?” tanyaku lagi

Mendengar pertanyaanku, tatapannya berubah, seolah aku mengatakan hal yang salah. Ia mendekatiku dengan perlahan, dan tubuh ini membeku, tak bisa menjauh darinya seolah aku percaya bahwa oa tak akan melukaiku atau membahayakanku.

Bukankah oa tadi menyelamatkan nyawaku?

“Terima kasih…” ucapku akhirnya

Ia tersenyum, membuatku tanpa sadar ikut tersenyum menatapnya.

“Kau sudah menyelamatkan nyawaku…”

Ia mendorongku pelan, membantuku untuk naik ke jalanan kecil tempat ia tadi menyelamatkanku. Aku duduk ditepi celah kecil itu, sementara Ia masih berada didalam air.

Aku sedikit tersentak saat ia tiba-tiba saja kembali hilang ke dalam air. Tanpa sadar aku kembali tersenyum. Makhluk apapun ia… aku sungguh tak mengerti bagaimana bisa kebun binatang ini menemukannya, atau darimana asalnya, tapi ia penyelamatku.

Aku harus mencari tahu makhluk apa dia.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Ingatan Chaeyeon kembali. Setelah selama beberapa sekon ia tenggelam dalam ingatan mengerikan yang sekuat tenaga berusaha dilupakannya karena tak kunjung memberi sebuah kejelasan.

Chaeyeon ingat benar, bagaimana bertahun-tahun lalu ia mengetahui makhluk itu sebagai seorang Oannesmermaid laki-laki—buatan, yang telah merenggut tahun-tahun kehidupan ayahnya.

Ya, ayah Chaeyeon adalah seorang scientist yang bekerja dalam pembuatan spesies Oannes dan Mermaid untuk ditampilkan di dalam kebun binatang buatan mereka. Sayang, sebuah ledakan terjadi di kebun binatang itu dan membuat banyak orang menghilang.

Ayah Chaeyeon, salah satunya. Meski gadis itu berpikir jika ayahnya mungkin diculik oleh sekelompok orang yang ingin menciptakan makhluk serupa dengan Oannes yang sekarang ada di hadapannya.

Sekarang, Oannes itu kembali ke tempat asalnya—laboratorium—sebab, kebun binatang kota telah ditutup semenjak kebakaran beberapa tahun silam itu.

Diam-diam, Chaeyeon memperhatikan paras rupawan di hadapannya itu, berpikir jika makhluk mekanik buatan itu benar-benar tengah tertidur. Dia tahu, makhluk itu hanya bagian dari legenda mitologi yang berusaha diciptakan untuk menjadi nyata, tapi mengapa Chaeyeon sekarang berpikir jika sosok di hadapannya mungkin saja benar-benar hidup?

Tentu, Chaeyeon ingat kalau dia sekarang tidak sendirian. Dan Oannes di hadapannya juga tak sendiri. Berturut-turut di tabung kaca serupa yang ada di sisi kanan Chaeyeon, ada beberapa sosok yang serupa. Laki-laki, dan perempuan. Sama rupawannya, dan memiliki sisik dengan warna-warna berbeda. Hal yang kemudian membuat Chaeyeon berpikir, jika ayahnya telah menghabiskan separuh hidup untuk menciptakan makhluk-makhluk ini.

“Kenapa kau melakukannya? Jika kau dan kawananmu yang lain memang benar-benar bisa berpikir selayaknya manusia, lantas mengapa kau menciptakan kehancuran di sana? Kau bahkan membuatku berpikir jika Ayahku telah terbunuh.”

Ya, Chaeyeon ingat. Ledakan yang ada di kebun binatang awalnya terjadi karena pecahnya akuarium raksasa yang dipenuhi oleh Oannes dan mermaid, disusul dengan kebakaran mengerikan dan akhirnya ledakan.

Yang tidak bisa Chaeyeon mengerti, bagaimana bisa semua makhluk buatan berpikir dan merencanakan hal seperti—

“Aku tidak membunuhnya.”

—itu.

Chaeyeon tersentak kala sebuah suara didengarnya masuk ke dalam pendengaran. Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan, memastikan jika ia tidak sedang bersama orang lain di sana, sebelum gadis itu melempar pandang ke arah tabung di hadapannya dan terpaku.

Sosok yang sedari tadi diperhatikannya dalam diam sekarang tengah menatapnya.

“K-Kau…”

“Aku tidak membunuh siapapun, Chaeyeon.”

Lagi-lagi suara itu terdengar dalam pendengaran Chaeyeon, membuat si gadis untuk kedua kalinya menatap panik ke sekelilingnya.

“Aku juga bukan makhluk buatan seperti yang mereka bicarakan. Aku dan kawananku, tercipta karena keegoisan manusia.”

Sekon selanjutnya Chaeyeon tersentak. Segera gadis itu terhuyung mundur, tapi disadarinya, tak hanya pemuda di hadapannya yang kini tengah menerornya dengan pandangan, melainkan semua makhluk serupa yang ada di dalam tempat itu.

“Kami juga bukan ‘makhluk itu’ seperti yang selalu kau katakan tentang kami. Kami semua memiliki nama, bahkan aku.”

Sekuat tenaga, Chaeyeon berusaha mengumpulkan keberanian. Dia tidak sedang ada di dunia fantasi atau semacamnya untuk dapat percaya kalau suara yang sejak tadi didengarnya berasal dari Oannes yang ada di hadapannya saat makhluk itu bahkan tidak bergerak barang sedikit pun dan hanya menatap Chaeyeon dengan pandangan kosong.

Secara genetik, makhluk buatan seperti mereka dipikir Chaeyeon tak bisa berpikir, bahkan berperasaan. Tapi mengapa sekarang Chaeyeon justru merasakan sebuah kekecewaan dari perkataan sosok di hadapannya?

“Kalau kau tidak juga percaya, haruskah aku kembali menghancurkan tempat ini dan membuatmu tahu tentang apa yang sudah manusia perbuat pada kami?”

Sekon itu juga Chaeyeon tahu kalau dia sudah melibatkan diri pada sesuatu yang mengerikan.

— FIN —

IRISH’s Fingernotes:

Berhubung maksimal vignette jadi diriku enggak bisa menambah porsi cerita :v biarkan saja dia menjadi misteri seperti ini karena aku lebih suka kalo kalian menerka-nerka tentang apa yang terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi. YUK MARI BELAJAR JADI TUKANG NUJUM BERSAMA IRISH /kemudian disambit/.

Dan mianeyo (pake nadanya Seunghee CLC pas bilang ‘geumanhaeyo’ di lagu Hobgoblin ya) kalau Jaehyun enggak dominan di sini, WKWK. Jangan marah, mending sambit aja diriku secara virtual.

Btw, ane sadar kalau di beberapa cerita myth ini kubuat melodrama gitu, WKWK.

Advertisements

4 thoughts on “[Write Your Mythology] OANNES

  1. HWEEEEEE KAKRISHH!!!!!!!!! ARRGGHHH AKU LEMAH MEMBAYANGKAN KULIT MULUS DAN BISEP KEKAR MAS JAE TEREKSPOS MENGINGAT DIA ADALAH SEORANG MERMAID
    pas adegan Chaeyeon ngeliat akuarium raksasa tuh ya, aku langsung kepikiran video clipnya Ungu yang itu loh, yang modelnya sofia latjuba “kuingin kau tauuu diriku di sini menanti dirimu, meski kutunggu hingga ujung waktuku… dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya, dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja~” /MALAH NYANYI /DIDAMPRAT KAKRISH
    Oke mbak Chae jangan kecewa karena cita2 mbak sebagai scientist di sini enggak tercapai, karena aku udah bikin mbak jadi scientist di FFku /APAAN
    KYAAAAAA ITU TEMPELAN BIBIR YA AMPUN YA AMPUUUUNNN AKU LAGI2 DIBUAT LEMAH SUBHANALLAH >///<
    cukup kak segini saja komenan tidak bermutuku, maaf apabila menodai iris milik kak irish wkwkwkwk

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s