[Ficlet-Mix] Two Shades of Him

poster_jyani1

Two Shades of Him

A fiction by babyneukdae_61; IRISH; Joongie; shiana; thehunlulu

[NCT] Johnny Seo

Genre: College-life, Comedy, Crack, Fluff, Friendship, Marriage-life, Romance, Slice of Life | Duration: 5 Ficlets | Rating: PG-15

~~~

[1]

In Wendy’s Eyes…

Pernah kudengar, kalau kehidupan itu bisa dinikmati layaknya dalam dunia dongeng yang ada di film-film yang kutonton saat masih kecil. Well, Mom adalah salah seorang yang ingin aku hidup seperti di dalam negeri dongeng, agaknya. Sampai-sampai ia memberiku nama Wendy, agar aku bisa bertemu dengan Peter Pan yang tepat dalam hidupku.

Dan ya, hal itu juga yang sedang kuburu. Lebih tepatnya, aku menemukan sosok seorang Peter Pan—pangeran impianku—saat aku mulai mendengarkan radio dua tahun lalu.

Namanya adalah Johnny, seorang pria bersuara seksi yang mengisi tiap malam sabtu di stasiun radio favoritku. Kami juga saling berbalas pesan dan telepon sejak enam bulan lalu—saat aku memberanikan diri mengirim sebuah e-mail ke stasiun radio dengan harapan pesanku akan dibaca oleh Johnny.

Aku tahu, sebagai seorang pangeran impian tentu saja Johnny harus bersikap gagah berani dan menjaga imej. Dan aku paham benar bagaimana Johnny tidak pernah berusaha mengatakan hal-hal memalukan saat kami tengah berbalas pesan atau bertelepon ria.

Seperti malam ini contohnya, kesibukan Johnny membuat kami tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan melalui telepon setiap harinya. Tapi kupikir, mendengar suara Johnny selama beberapa menit saja sudah jadi pelepas rindu.

Ah… sudahkah aku katakan kalau aku merasa bahwa cintaku pada Johnny adalah sebuah cinta sepihak yang tidak pernah diketahuinya?

“Wendy?”

Suara Johnny di seberang sana membuyarkan lamunanku. Kami tengah sibuk membicarakan perihal dunia bekerja yang sama-sama aku dan Johnny hadapi—Johnny dan pekerjaannya di radio, aku dan pekerjaanku di butik—ketika tiba-tiba saja pikiranku melayang pada kenangan tentang bagaimana aku dulu bertemu dengan Johnny.

“Ah, ya, maaf. Aku sering melamun akhir-akhir ini.” kudengar Johnny tertawa pelan mendengar ucapanku. Ah, tawa maskulinnya bahkan membuat jantungku berdegup begitu kencang saat ini.

“Ya, memang kau sering melamun. Sedang banyak masalah, hmm?” kudengar Johnny bertanya dengan menaruh banyak perhatian di tiap kata yang ia lontarkan.

Lagi-lagi, kutemukan jantungku melompat tidak karuan hanya karena mendengar suaranya. Cara Johnny bicara padaku selalu membuatku berpikir Johnny adalah sosok pria dewasa yang bisa melindungi pasangannya.

Ah, lengkap sudah pengharapanku pada Johnny sekarang. Aku tak ingin membayangkan bagaimana sempurnanya dia secara fisik, karena sekali lagi, kupikir keadaan fisik seseorang tak akan berpengaruh pada perasaan, bukan?

“Hanya beberapa masalah kecil saja, tidak usah khawatir.” segera kujawab kekhawatiran Johnny dengan sebuah kalimat menenangkan.

“Ah… baiklah. Um, apa kau punya waktu luang akhir pekan ini?” pertanyaan berikutnya Johnny utarakan. Hal yang seketika membuat jantungku sejenak lupa bagaimana cara untuk berdetak.

“Y-Ya. Aku tidak ada pekerjaan ekstra minggu ini, memangnya kenapa?” duh, memangnya kenapa? Sudah jelas alasannya, Wendy.

Dia—

“Aku ingin bertemu denganmu, Wendy.”

~

Kalau boleh, ingin rasanya aku kembali ke hari kemarin saja, atau kemarinnya lagi, atau kemarin lagi. Pasalnya, sekarang aku tidak bisa duduk diam di kursi café lantaran menunggu kedatangan Johnny.

Kuputuskan untuk bertemu dengannya di café yang ada di dekat butik, iseng-iseng akan kubawa dia berjalan-jalan ke tempat kerjaku nanti jika konversasi kami berjalan lancar di pertemuan pertama ini.

Jam sudah menunjukkan angka empat, sudah terlambat satu jam memang, tapi sekali lagi, demi Johnny aku rela menunggu.

“Kau Wendy?” tiba-tiba saja sebuah tanya menyapa.

Segera kutolehkan pandang, dan hampir saja bola mataku melompat keluar dari persinggahan saat melihat seorang pemuda berpenampilan nyentrik berdiri di sebelahku—tolong! Dia mengenakan sweater berwarna merah muda dan celana jeans ketat senada juga rambut cokelat terang yang satu sisinya dibiarkan panjang menjuntai ke sisi wajah.

“J-Johnny?” tanpa sadar bibirku berucap.

Dengan segera, dia memamerkan sebuah senyum—hal kedua yang membuatku terkejut bukan kepalang karena melihat deretan giginya dilapisi oleh kawat gigi berwarna merah muda.

“Ah, kau benar-benar Wendy.” dia menggumam sebelum kemudian duduk di kursi kosong yang ada di hadapanku dengan santai.

“Aku Johnny.” sekon kemudian dia berucap, memamerkan senyum—yang di mataku terlihat sebagai senyum paling konyol—sementara dia pamerkan jemari panjangnya ke depan wajahku.

Demi Tuhan, apa aku sudah buta karena melihat kuku-kukunya dicat berwarna merah muda? Johnny ini makhluk apa, sih?

“Wendy.” kataku, ragu-ragu menjabat tangannya, sementara dia menggerak-gerakkan kepalanya pelan, seolah ia tengah mendengarkan senandung dari dunia lain yang tidak kuketahui.

Sesegera mungkin kutarik tanganku, takut jika aku mungkin terkena efek samping aneh karena terlalu lama berkontak kulit dengannya.

Bayangkan saja, penampilan nyentriknya sudah menarik perhatian orang-orang yang ada di café, dan sekarang kuyakini orang-orang juga memperhatikanku.

Tenang, Wendy, tenang.

“Umm, kau benar-benar Johnny?” tanpa sadar aku bertanya juga.

Ia, menatapku dengan ekspresi murung yang dibuat-buat, sementara jemari kanannya bergerak merapikan anak rambut yang menjuntai di sisi wajahnya dengan hati-hati seolah anak rambutnya bisa terluka kapan saja.

“Hmm, ya. Memangnya kenapa? Bukankah suaraku terdengar sama?” ya, suara Johnny jelas sama persis seperti yang kudengar setiap kali aku mendengarkan radio, atau bertelepon dengannya.

Tapi kemana perginya gaya bicara manly yang selalu kudengar? Mengapa sekarang tiap kalimat yang Johnny ucapkan terdengar begitu manja dan menjijikkan?

“Tidak, aku hanya memastikan saja. Oh, aku sudah lebih dulu memesan mocchacino. Kau boleh pesan juga, Johnny.” alih-alih berfokus pada penampilan mengejutkan seorang Johnny, aku akhirnya berusaha berpikir positif dan mengalihkan pikiranku.

“Oh, ya Tuhan!” baru saja aku berharap Johnny segera memesan sesuatu dari menu, dia sudah lebih dulu memekik tertahan.

“Ada apa?” tanyaku kemudian.

“Lihat, di sana. Bartender pria itu seksi sekali, bukan? Oh, my. Dadaku bergemuruh hanya karena melihat wajahnya. Luar biasa.”

Oh, Tuhan. Kemana perginya Johnny yang selama ini ada dalam ekspektasiku sebagai seorang Peter Pan?

~~~

[2]

Tidak lazim kiranya kehidupan ini jika Johnny Seo—atau panggil saja Om Johnny—tidak melaksanakan ritualnya pada pagi hari. Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika sosok pemuda Seo tersebut telah merangkap dua pekerjaan sekaligus, yaitu—

“John! John! Kambingmu lepas dari kandang!”

—menjadi pawang kambing pada pagi hari, alih-alih momong sang istri yang tengah hamil muda.

Johnny mencebik, ditatapnya paras Berlian—sang istri yang jelita—sembari menggamit cangkul di atas bahunya. Well, Johnny tahu, bahkan sangat tahu jika sang istri yang sedang hamil muda itu masih sering mual-mual di dalam rumah. Oh, jangan pernah berkonklusi jika rewelnya Berlian dikarenakan ia tengah berbadan dua. Itu salah besar, omong-omong. Maka dari itu, pagi ini Berlian mencari cara agar badannya sedikit terasa enak dengan cara duduk di beranda rumah, menemani sang suami yang hendak pergi mencangkul kuburan—ralat, maksudnya adalah ladang warisan ayahnya.

“John! Sudah kubilang ‘kan, taruh duru cangkulmu dan lari kejar kambing itu! Kalau terlindas mobil bagaimana?! Kau mau—AKH PERUTKU!”

Mendengar rintihan yang berakhir pada teriakan Berlian, Johnny sekonyong-konyong membalikkan badan. Kakinya yang semula hendak melangkah guna mengejar kambing yang sudah raib keluar pagar kini beralih untuk menghampiri Berlian.

Berusaha menjelaskan, Johnny tahu segala cekcok yang berusaha diutarakannya tak mampu menenangkan Berlian. Wanita itu kini bersimpuh sambil menarik-narik kemeja bagian bawah Johnny. Beruntungnya, entah Johnny yang terlalu peka atau memang jiwa kebapakannya muncul secara alami, pemuda itu lekas-lekas mengelus perut Berlian.

“Wah, anak kita mulai menendang-nendang, Sayang ….” ujar Johnny singkat ketika tangannya terulur, merasakan pergerakan sang bayi di dalam rahim Berlian.

“Sudah, jangan sok peduli, kau John! Cepat urus saja kambing itu lalu nanti malam—“

“Mengurusmu. Baiklah, akan kulakukan jika itu permintaanmu, Sayang.” Johnny berceletuk ria tanpa menyadari air muka Berlian yang mulai masam, menyiapkan ancang-ancang untuk—

PLAK!

ups, pipi Johnny jadi bersemu merah, deh!

Kemudian tanpa merajuk ataupun ngambek lantaran tepukan keras—sebut saja demikian—Berlian, Johnny segera bangkit setelah membopong sang istri masuk ke dalam rumah.

“Sudah ya, aku mau pergi ke ladang dulu lalu menemui Yuta untuk nego masalah hewan ternak yang hendak kita impor dari Jepang. Pokoknya kau di rumah saja, manjakan anak kita yang sudah pandai membuat ibunya kesakitan, hehehe.”

Belum genap tubuh Johnny menembus pagar, Berlian sudah berteriak sangat kencang sembari berusaha menyusul langkah sang suami.

“JOHNNY! PANTAS SAJA DI DALAM RUMAH AKU SELALU MUAL-MUAL! KAU BELUM MENYIRAM KLOSET, DASAR BAKUL KAMBING!!!”

Oh Tuhan. Sepertinya berdua bersama hewan ternak lebih menyenangkan daripada berdua di sisi Berlian.

***

“Jadi bagaimana? Kambing ini gemuk, lho Pak. Kalau sudah memasuki usia produktif biasanya bisa hamil empat anak sekaligus.”

Seiring penjelasan Yuta—agen ternak paling sukses seantero Asia—Johnny hanya bisa manggut-manggut. Ia hanya ingin cepat-cepat melunasi acara negosiasinya kemudian pulang ke rumah karena sudah rindu dengan Berlian.

“Baiklah Mas Yuta, saya ambil yang kualitasnya paling super, paling baik jika diambil susunya dan—oh, jangan lupa bonus kalkun untuk istri saya yang sedang ngidam, ya.”

“Baik Pak Johnny, semua sudah beres! Mau debit atau tunai?”

Oke, satu hal yang terlambat Johnny sadari; ternyata kantor peternakan milik Yuta sudah dilengkapi fitur yang bahkan bisa mengalahkan supermarket, yaitu mesin gesek untuk melakukan pembayaran non tunai. Satu lagi, ketika Johnny memeriksa kesehatan fisik calon kambingnya, sebelum mereka masuk ke dalam kandang, Yuta dengan canggihnya mendekatkan salah satu matanya pada mesin kecil yang tertempel pada pintu kandang.

Wow, bahkan Yuta melengkapi fitur retina agar pintu kandang terbuka. Begitu batin Johnny.

“Pakai debit saja, Mas Yut,” ujar Johnny sambil tersenyum.

***

“John! Yang benar dong kalau memandikan kambingnya! Lihat tuh, kotorannya nyiprat ke pakaianmu, tahu!”

“Ssttt … diam sedikit, dong Ber! Kau pikir momong kambing itu semudah momong dirim—“

BRUK!

“ASTAGA JOHN!”

Memang dasar Johnny, sudah tahu sang istri sedang hamil masih saja menyusahkan. Bayangkan, tubuh jangkungnya tiba-tiba terjengkang karena licinnya kotoran kambing di dalam kandang.

“Aduh … sakit, Ber ….” Johnny mengaduh, bokongnya sudah pasti mati rasa karena mencium tanah terlebih dahulu.

“Makannya! Kalau momong kambing itu yang benar! Lihat, pakaianmu penuh tahi kambing. Hiiiiiiii ….” Jujur saja, Berlian begitu bergidik saat Johnny bangkit dan mendekatinya, membuat wanita itu dilanda mual yang teramat sangat.

“Eh … Sayang … jangan mual tolong jangan mual!”

“Tidak bisa, John! Pergi! Pergi!” sergah Berlian sambil menutup hidungnya.

Sedangkan Johnny, calon bapak yang satu itu segera pergi ke kamar mandi guna membersihkan diri—dan selanjutnya bersiap-siap untuk momong istrinya, tentu saja.

MBEEEEK!

Oh lihatlah, bahkan kambing jantannya sangat durhaka karena telah menertawakan nasib sial Johnny.

***

“Berlian mau makan malam pakai apa?”

Akhirnya, setelah pagi sampai siang hari pemuda itu momong hewan ternak—yang agak laknat—miliknya, Johnny bisa menyisihkan waktunya untuk momong sang istri pada malam hari. Momong dalam hal positif, tentu saja.

Raut Berlian terlihat begitu bersemangat, senyumnya merekah sempurna. “Bagaimana kalau semur jengkol? Seperti masakan yang selalu kaucicipi saat kita mudik ke Indonesia.”

Johnny hanya bergidik, menautkan kedua alisnya maksimal. “Apa? Kenapa tidak yang lain saja? Seperti soto Lamongan atau nasi pecel? Oh, bakso Malang, mungkin?”

Oke, Johnny baru saja menyebutkan deretan makanan khas Indonesia favoritnya. Padahal sebenarnya Berlian paling suka lalapan, tapi sepertinya ia sedang tidak berselera kali ini.

“Kautahu ‘kan kalau anak kita ini benci mentimun? Setiap aku makan lalapan selalu saja mual-mual.” Berlian beralih, mengerling ke arah perutnya yang membuncit.

“Oh astaga! Kenapa makanan paling lezat seperti itu malah menjadi pantanganmu, Sayang?” Johnny mengulurkan tangannya, mengelus-elus perut sang istri dengan lembut.

“Tidak enak John kalau makan lalapan tidak pakai mentimun.”

Sosok Johnny kini memangkas jaraknya dengan Berlian, disusul rengkuhan jemari wanita tersebut pada milik sang suami yang masih mengelus-elus perutnya. “Ingat ya, kalau tidak suka makan mentimun nanti kau tidak bisa tampan seperti Papa, lho. Papa dulu waktu masih remaja gemar makan sayur dan minum susu. Kalau bisa anak Papa nanti kalau sudah besar rajin minum susu juga, agar bisa jadi pemain basket!”

Selanjutnya, perkataan Johnny yang terdengar sebagai bujukan motivasi itu berhasil membuat Berlian terkikik renyah. Bahkan pada saat seperti ini pun, sekesal apapun Berlian pada Johnny setiap pagi karena selingkuh dengan kambing-kambingnya, wanita itu tetap mencintai Johnny. Ada kalanya semua memiliki batas, dan ada kalanya pula semua jadi berkebalikan.

“Jadi … kau mau ‘kan membuatkanku semur jengkol?”

Cup!

Johnny mendaratkan kecupannya pada bibir Berlian.

Everything for you, Baby!

~~~

[3]

“Kabur ke mana kau, Sial?” Johnny mengumpat, matanya awas menyisir sekitaran gang sempit yang cocoknya disebut sarang penyamun. Telunjuknya bersiaga, siap menarik pelatuk kapan saja buronan itu muncul dari celah-celah gelap, kendati napasnya tersengal-sengal.

Johnny merapatkan diri ke dinding, mengintai selintas bayangan yang meliuk-liuk. Dia mengendap-endap dalam gelap tanpa iringan timnya yang tertinggal jauh di belakang. Begitulah dirinya, spontan dan gesit seakan-akan punya nyawa cadangan. Dalam sentakan cepat, Johnny menembak tong bekas solar yang kontan meledak. Dari baliknya Jaeha—buronan kasus mutilasi dan perdagangan organ—terhempas ke luar dengan punggung merah terpanggang.

“Berhenti di sana atau peluruku akan melubangi kepalamu!” gertak Johnny, berderap sambil menodongkan pistol pada Jaeha yang menyeringai tanpa gentar. Alih-alih mengangkat tangan, lelaki itu malah memanfaatkan kealpaan Johnny untuk kembali melarikan diri. “KEMBALI KAU, SAMPAH!” Satu tembakan mengudara dalam kegelitaan malam.

Pelarian ini makin runyam, Jaeha yang diburu Johnny sampai ke jalan utama rupanya telah mempersiapkan mobil. Dari lalu-lalang kendaraan yang melintas, truk es balok jadi sasaran Johnny. Tanpa ba-bi-bu dia menghadang truk lantas memampang emblem polisi kepada sang supir, kemudian mengambil alih truk. Perundingan terhormat cuma buang-buang waktu dan situasi genting selalu bisa dimaklumi, pikirnya.

Jaeha melawan arus pun Johnny yang menyusul di belakang. Raungan klakson berbunyi dari kanan-kiri, protesan pada dua pengemudi gila yang saling menyalip tanpa memedulikan situasi. Adrenalin Johnny menggelegak, kesabarannya turut habis. Ketika pedal gas dipijak kuat-kuat, bumper truknya telak menghantam buntut mobil Jaeha sampai bunyi menyilukan dari dua besi yang beradu terdengar bising. Kaca truk Johnny berhamburan, keningnya berdarah-darah sementara Jaeha terimpit badan mobil setelah sempat terguling.

Johnny tersenyum puas, berderap menghampiri tubuh Jaeha yang menggelepar bak ayam potong. “Kalau sudah kuberi peringatan itu harusnya berhenti. Jangan buat repot begini, Brengsek,” tandasnya sembari menyeka darah yang menitik dari alisnya.

—o0o—

“Kau harusnya menangkapnya, bukan membunuhnya!” maki Detektif Nam, berkacak pinggang membendung geram di luar UGD. Pelipisnya berkedut, gigi-giginya bergemeretak tidak tenang memikirkan alasan apa yang akan dilontarkan pada atasan atas ulah Johnny. Apalagi zaman sekarang semua disangkut pautkan dengan HAM.

“Tapi dia tidak mati, Pak,” tekan Johnny, bahkan jidatnya yang hampir mengelupas saja diabaikan. Dia mendesah frustrasi, melirik Jaeha yang bersimbah darah sejenak lalu berkata, “Cuma… sekarat saja.”

Detektif Nam hanya berdiri kaku, sebelah tangan memijat pelipis, sementara lainnya mengisyaratkan Johnny enyah sebelum darahnya naik. Taeil yang sedari tadi cuma jadi penonton lantas bereaksi, merangkul pundak Johnny beranjak meninggalkan atasan mereka sebelum genderang perang ditabuh. Keras kepalanya Johnny bukan sesuatu yang berguna.

“Sudahlah, Johnny. Kita semua tahu, sampai pohon kesemek berbuah kelapa pun, Pak Nam tidak mungkin mengalah,” cuap Taeil sewaktu tapak sepatu mereka menyusuri aspal. “Kita ke apotek dulu, ya? Beli obat dan perban untuk jagoan Divisi Kriminal ini. Lalu singgah ke warung tenda sambil minum dan makan tteok. Yah, sekalian melepas penat.”

Sebelah alis Johnny terjungkit, selayang menilik kawannya dengan mimik ambigu. “Kau tahu, Tae? Sudah kemalaman untuk menjilat,” tukasnya hingga Taeil refleks meringis.

—o0o—

Hampir sebelas menit menenggelamkan diri dalam bathtub, Johnny bangkit menyesap oksigen kuat-kuat. Tubuhnya menguarkan aroma anggrek saat melangkah keluar sambil melilitkan handuk. “Sialan,” gumamnya, mengelus sudut bibir yang pecah juga memperhatikan robekan di anak rambut dalam cermin.

“Terlalu semangat sampai jadi begini,” vokalnya sembari beralih merapatkan gorden, memastikan setitik cahaya pun mustahil masuk. Kini dia menghadap cermin di meja, mengeluarkan kotak berpelitur lalu menyerakkan isinya dengan mata berkilauan.

Johnny merentangkan dompet kuas, memilih satu kemudian menuang krim kecokelatan ke punggung tangan. Foundation, perempuan biasa menyebutnya. Mengoreksi goresan jejas di parasnya melalui polesan-polesan halus. Dia menepuk-nepukkan spons bedak di pipi dengan telaten, mewarnai kelopak mata dengan eyeshadow lalu menarik garis lurus menggunakan eyeliner. Pamungkasnya, Johnny menggores sebatang lipstik merah menyala di bibir.

Sosok beringas berpotongan keras lantas menjelma kemayu. Johnny meraih wig pirang dari laci, melekatkannya di kepala dan mencari-cari lingerie tutul favoritnya. Paradoksal akan citranya memang. Beberapa orang memilih hidup seperti kaktus, tajam di luar namun lunak dalamnya. Demikian pula Johhny.

Jadi detektif bukan sesuatu yang dicita-citakannya semasa kecil. Ini cuma kamuflase, seolah-olah dia punya peran normal dalam bermasyarakat. Ada jiwa feminim dalam relung Johnny yang kian tumbuh di luar batas ketika menginjak masa pubertas. Sewaktu dia sadar bahwa macam rupa kosmetik lebih menarik ketimbang gundam atau tamiya rakitan.

Johnny selalu merasa bahwa dia seharusnya tak terlahir sebagai Johnny. Pemuda berdarah dingin, berhati perempuan. Sungguh dia muak berurusan dengan pistol dan akting pura-pura jantan yang selama ini dilakoninya. Tetapi putra seorang Jenderal tak semestinya jadi aib, seberapa besar pun keinginannya dipuji cantik.

Bukankah akan lebih baik bila sejak awal dia adalah Jenny?

Johnny kembali usai lingerie-nya melekat, memandangi pantulan parasnya di cermin sambil memperindah jari-jarinya yang lentik. Dia mengulas senyum lalu berujar, “Hello… Mrs. Seo. Long time no see.”

~~~

[4]

Ketika menangkap perawakan familier yang membaur di keramaian pedestrian, aku lantas menegakkan punggung. Senyum asimetris terukir di bibir bahkan tanpa tanpa aku menyadarinya. Itulah dia. Seseorang yang kutunggu-tunggu; yang membuatku menelan harga diri dengan mencapai tempat yang kami setujui lebih dulu dibanding dirinya. O, ya, masa bodoh. Toh ini semua demi keselamatan yang menunjang umur-umurku selanjutnya. Aku masih ingin punya keturunan dan mempertahankan ketampanan mutlak yang diberikan Tuhan.

Suara pintu dibuka. Aku mengangkat pandangan.

Lelaki itu sudah masuk, ternyata. Kini ia tengah berjalan ke arah mejaku sambil sedikit mengangkat topi hitam yang dikenakan. Dasar sok misterius. Memangnya ia sehabis dari pemakaman, apa? Ada apa dengan kostum hitam-hitamnya itu? Sudah kubilang untuk tidak terlihat mencolok. Ck, aku lupa bagaimana ia memang sulit untuk diberi tahu. Siapa pun tidak ada yang bisa meretakkan kepala batunya. O, tunggu. Ada satu, sebongkah pengecualian besar. Seharusnya aku mengambil kursus dari orang itu demi menjinakkannya—tapi boro-boro, bertemu dengan orang itu berarti menumbalkan diriku sendiri untuk dihabisi.

What’s with this place?

Belum apa-apa, dia sudah mengomel.

Aku mengangkat bahu. “Kau setuju-setuju saja ketika kusebutkan dimana kita akan bertemu, jadi kenapa baru sekarang protesnya?”

“Aku tidak menyangka tempat yang kau maksud adalah tempat seperti ini,” katanya. Matanya mengembara berkeliling dengan cepat. Sempat aku menangkap ketidaksukaan yang besar saat pandangannya kembali padaku, namun kutebak ia hanya mengeluarkannya lewat helaan napas kasar. O, baguslah, aku tidak ingin mati konyol di sini. Banyak pasangan kekasih di meja-meja lain! Bayangkan jika— “Apa tugasnya?”

Aku memutar bola mata jengah. “Ayolah, kau bahkan belum mendaratkan bokong selama lima menit! Bagaimana kalau kita mengobrol dulu? Mungkin tentang cewek seksi yang kau temui perjalanan kemari?”

“Jangan bodoh,” sergahnya. Uh, seram. Iya, tentu saja aku sedang bersikap sarkastik. “Waktuku berharga—dan mengobrol denganmu tentang selain apa yang menjadi tugasmu tidak menarik minatku. Ada hal lain yang lebih penting.”

“Ya, ya, ya. Johnny tetaplah Johnny, ya kan?” aku mencibir. Tapi badanku lantas maju bersemangat untuk bertanya, “Apa dia masih ngambek denganmu?”

Alisnya sempat mengerut tidak paham. Barulah saat rautnya berubah masam, aku tahu ia sudah tahu apa yang kumaksud. “Bukan urusanmu.”

“Kau tidak seru, John. Ayolah, ceritakan sedikit bagaimana kau berbaikan dengannya.”

“Sudah kubilang bukan urusanmu.” Dagunya mengedik memerintah. “Jelaskan apa tugasku sekarang.”

“Bagaimana kalau kita bahas mengenai kostummu sekarang yang sangat menarik terlebih dahulu?”

I believe you don’t want to miss the next beautiful sunrise, right Mr. Nakamoto?”

Cengiranku memudar. Tapi bukan Nakamoto Yuta kalau tidak bisa mengatasinya. Ha.

“O, tentu saja. Aku yakin kau tahu lebih baik daripada siapapun.” Aku mengirup napas dalam-dalam, mengusir gugup. “Tahu H.O Inc.? Perusahaan yang memimpin teknologi di seluruh dunia. CEO-nya dikabarkan mempunyai sebuah affair, dan—“

I just need a name.

“Harry Hamilton. Umur 63. Punya dua anak, keduanya perempuan yang aku bersumpah seelok—“

Picture?

Aku merogoh ponsel dan memberikannya pada Johnny begitu layarnya penuh oleh suatu gambar. Johnny memperhatikannya sebentar, lalu meletakkannya kembali ke meja.

So, what’s next?

Aku merogoh saku lagi. Kali ini sebuah kunci mobil kuletakkan di tengah meja. Johnny menatap benda itu dan aku secara bergantian. Menanti penjelasan selanjutnya.

This night, at 8.15 he will have a short meeting in 56 Building. 49th floor, in the ballroom. As usual, you could use whatever method you wanted to. Pokoknya semua harus beres sebelum dini hari.”

Johnny merangkum kunci mobil di atas meja, menimang-nimangnya. “Bayaranku?”

“Heh, tumben kau bertanya soal itu?”

“Bukan urusanmu. Jadi?”

“Tenang saja, bayaranmu sudah dikirimkan ke rekening milikmu. Kau bisa mengeceknya nanti. Dan asal tahu saja, kali ini tidak main-main, kau bahkan bisa pergi ke mana pun kau mau dengan uang itu.”

Johnny mendengus. Terdengar menyebalkan sekali di telingaku. “And if I decline this job?”

Mataku sukses melebar. Ini bahkan lebih mengejutkan daripada mendapat tikus mati berlumur darah di dalam kardus yang tiba-tiba ada di depan rumahmu! Johnny kesurupan apa, sih?

Why would you do that? Apa kau sakit, John? Kepalamu habis tebentur? You don’t seem like yourself tonight.

“Hem. Tidak.”

“Apanya yang tidak?”

Bibir Johnny merapat. Pandangan dibuang ke luar jendela. Aku mengikuti tindakannya. Hiruk pikuk mulai bertambah, ternyata. Barangkali karena ini adalah awal dari akhir pekan. Banyak yang meluangkan waktu di luar—menciptakan memori-memori baru yang menyenangkan.

It’s her birthday,” Johnny menceletuk tiba-tiba dan meloloskan napas. “Today.”

Mau tidak mau aku melongo. “Hah?”

I guess you heard me fine.”

“Ya—maksudku—huh.” Perlahan aku mulai membaca situasi. “Then, you don’t want to do this because of that? Aw, man, kau bisa merayakannya ketika tugasmu selesai. Asal kau melakukannya dengan cepat dan rapi seperti biasanya.”

Not that simply.”

Pernyataan itu berarti mimpi buruk bagiku. Sudah kusebutkan tentang keselamatanku, belum? Ya, betul. Benar-benar. Kalau Johnny menolak untuk melakukan pekerjaan satu ini, maka habislah riwayatku. Dah, anak-anak imut yang mewarisi gen ketampananku. Dah, masa depan cemerlang!

And why is that?

Ada sekelebat emosi yang melintas pada rautnya. Membuatku terkejut karena Johnny jarang sekali menampakkan perasaan lewat apa pun. Keculi jika ia bersama sosok itu, tentu. Johnny seolah-olah bertransformasi menjadi matahari cerah di tiap pagi, ceria dan menghangatkan.

Johnny masih bungkam, tapi aku tak sabar. “So, that’s hard, isn’t it? To see her after you kill people?

Pandangannya turun, sepertinya menatap jalinan tangan di pangkuan.

Ini menyeramkan. Lebih seram dari menonton film hantu di hari Halloween.

But you’ve gone this far. Isn’t it too late, John? C’mon, if you are going to be like this, you should have quitted a long time ago.

We shouldn’t talk about this.

Ya. Benar.

But, i’m not sorry, i’m not going to take this job.

“Kau gila?!”

I want today to be just hers. No killing, no screaming.

“Tapi—”

“Bayarannya akan kukembalikan.”

“Tapi—”

“Dan kau tidak perlu—”

“Bagaimana dengan nyawaku, you brat!”

Johnny melebarkan mata, menatapku yang mengembangkempiskan hidung dengan tidak santai. Hei, nyawaku berada di ambang kemusnahan, mana sempat aku berpikir untuk jaga imej?

“Bukan urusanku,” ucapnya datar.

“Demi Tuhan…,” lirihku pilu. “Kau betulan tidak terantuk apa pun?”

Johnny mengedikkan bahu. Sialan.

Aku mendesah lemas. “It’s all about Lami, right? Alright. Alright. Leave, now. Karena dia adikmu dan dia cantik, meski aku belum ketemu dengannya, demi sempak spiderman, pergilah sekarang. Sebelum aku menghabisimu.”

Johnny baru akan membalas, namun terinterupsi oleh suara dering yang berasal dari dalam jaketnya. Ah, aku kenal dering itu. Dan ponsel jadul itu, yang sekarang menempel pada salah satu telinganya. Hanya ada satu nomor yang terdaftar di dalamnya: nomor milik Lami sang adik kesayangan.

Raut Johnny berubah cerah. Bukan kepura-puraan, hanya ketulusan.

“Hei, I’ll be back soon.” Senyum Johnny merekah. Nadanya lembut. “Mau titip sesuatu? Ah, itu? Tentu aku ingat tempatnya. Baiklah, kau tunggu saja di situ. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun sebelum aku menelepon lagi, oke?”

Tanpa kusadari, aku menopang dagu. Mengamati Johnny hingga bajingan itu menutup telepon. Air mukanya lantas berubah saat menatapku, sampai-sampai aku mundur ke sandaran kursi.

“Is this your first time?”

Sorotnya melempar tanya.

“Merayakan ulang tahun Lami.”

Segaris senyum masam darinya menjawab segalanya.

Aku mengembuskan napas. “Leave. Now.”

~~~

[5]

Seperti koin, ia memiliki 2 gambar yang berbeda

Banyak orang di kampus berkata bahwa Johnny adalah orang yang dingin, tidak murah senyum, seakan jika ia tersenyum sekali saja banyak energi yang terkuras. Mereka berkata pula bahwa pemuda Seo itu hemat bicara. Ekspresinya selalu datar, namun tetap terlihat tampan, dan itulah sebabnya banyak kaum Venus di kampus yang menggilainya.

Namun, Nayoung bukanlah bagian dari gadis-gadis itu. Bagi Nayoung, sifat diam dan dingin seorang Seo Johnny bukanlah hal yang harus dibanggakan. Apalagi diam yang lebih bersifat tidak suka berbincang dengan orang lain. Dia bahkan bersikap cuek terhadap apapun di sekitarnya. Itu adalah sifat yang sudah Nayoung lihat sejak 8 tahun yang lalu. Ia hampir mati bosan karena sifat sahabat kecilnya itu.

Ada beberapa pertanyaan yang masih berputar-putar di kepala Nayoung dan tak terjawab sampai sekarang, saat mereka berdua menginjak bangku kuliah.

Memangnya apa yang menarik dari ‘pria jutek’ itu?

Apakah tak ada ekspresi lain yang dapat ia tunjukkan, selain wajah datar itu?

Dan satu lagi.

Ke manakah Johnny Seo yang ceria seperti 5 tahun lalu?

Entahlah. Nayoung pun tak tahu.

Yang ia tahu adalah, sahabat kecilnya berubah total.

***

9 Februari 2017. Tanggal yang tertera di layar ponsel Nayoung dan ditandai oleh gadis itu, sebagai hari spesial. Hari ulang tahun Johnny, sahabatnya. Jatuh pada hari ini.

Tahun lalu, para gadis penggila Johnny akan menghampiri pemuda Seo itu di kafetaria, beberapa dari mereka mengucapkan secara langsung kepada Johnny, namun ada juga yang menempelkan sebuah sticky note berisikan ucapan selamat ulang tahun untuk pemuda itu, mungkin ia takut dan malu, namun ia ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Johnny. Ada juga yang menitipkan kado ulang tahun untuk pemuda itu kepada Nayoung. Seakan-akan gadis itu adalah seorang kurir.

Namun tahun ini berbeda. Tidak banyak yang berani mengucapkannya secara langsung, karena mereka tahu sikap cuek pemuda itu akan membuat mereka galau dan semacamnya. Sebagian besar dari mereka mengucapkan lewat pesan singkat. Bisa dibayangkan berapa banyak notifikasi yang masuk ke ponsel Johnny.

“Nayoung,” gadis Kim itu mengalihkan perhatiannya ketika mendengar namanya disebut. Ia pun mengalihkan pandangannya kepada sumber suara untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Oh, Johnny. Ada apa?” jawab Nayoung.

“Apakah kau ada kelas lain setelah ini?” tanyanya.

Nayoung menggeleng. “Tidak,” jawabnya.

“Kalau begitu kau bisa ikut aku ke suatu tempat?”

Nayoung tertegun. Tumben sekali. Biasanya di hari ulang tahunnya, ia bahkan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Langsung pulang, main game, atau mungkin tidur.

Namun ia tetap mengiyakan ajakan pemuda cuek di hadapannya itu.

***

“A-apa?” Nayoung membelalakkan matanya setelah melihat tempat apa yang hendak dikunjungi oleh Johnny sedari tadi.

Panti asuhan anak? Yang benar saja? Sejak kapan Johnny yang cuek mau ke tempat ini?

Johnny mengangguk pelan. “Jangan banyak tanya. Ayo ikut aku masuk,” ujarnya.

Johnny menghampiri petugas pengurus panti asuhan, dan tersenyum manis. Tunggu, sejak kapan Johnny dapat tersenyum? Apakah Nayoung salah lihat? Bahkan senyuman Johnny lebih manis daripada senyuman para ‘ahjussi rasa oppa’ kecintaan Nayoung.

“Kak Johnny!” terdengar suara cempreng khas anak kecil yang memanggil nama Johnny. Bocah laki-laki itu berlari kecil menghampiri Johnny.

“Kyaa, Hansung! Di sini kau rupanya,” ujar Johnny lalu menggendong anak bernama Hansung itu.

Nayoung yang melihat pemandangan itu hanya bisa terdiam keheranan sambil bertanya apa maksudnya semua ini.

Seorang pemuda cuek bernama Seo Johnny, bisa tersenyum dan peduli kepada anak kecil? Percayalah, Nayoung masih ingat jelas kejadian saat mereka masih di bangku sekolah. Dia menghindari acara kunjungan anak-anak panti asuhan, bahkan mencari-cari alasan untuk tidak disuruh ikut.

“Di mana teman-temanmu, Hansung?” tanya Johnny.

“Di dalam, kak. Mereka sudah menunggu Kakak. Ayo masuk ke dalam, Kak! Pacar Kak Johnny boleh diajak juga ke dalam,” jawab Hansung sambil menarik antusias tangan Johnny.

Nayoung mengikuti mereka berdua dari belakang. Sesaat Nayoung tertegun menyadari kalimat yang keluar dari mulut Hansung.

Pacar Kak Johnny katanya? Apa yang Johnny ajarkan kepada mereka?

Nayoung, Johnny dan Hansung sudah masuk ke dalam ruang bermain anak-anak panti asuhan itu. Hampir semua anak di ruangan itu melihat Johnny dan Nayoung dengan antusias.

“Kak Johnny, kakak cantik di sebelah Kakak, siapa Kak?” tanya seorang gadis kecil.

“Oh, ini pacar Kak Johnny. Namanya Im Nayoung,” jawab Johnny sambil memperkenalkan Nayoung kepada anak-anak itu.

“Dia adalah gadis yang cerdas, cantik, dan peduli pada orang lain. Kalau sudah besar, kalian pasti mau, kan, jadi seperti Kak Nayoung?” ujar Johnny.

“Tentu saja kami mau, Kak!”

“Belajarlah yang rajin kalau begitu. Bersikap sopan kepada siapapun. Pasang senyum termanis kalian. Dengan itulah kalian bisa menjadi seperti Kak Nayoung,” lanjutnya.

Anak-anak itu bermain bersama Johnny dan Nayoung. Nayoung memperhatikan raut wajah Johnny yang menunjukkan kegembiraan yang polos layaknya anak-anak itu.

Yah, setidaknya ia dapat melihat senyuman sahabatnya itu.

***

Nayoung meraih sekaleng coke dari tangan Johnny, lalu pemuda Seo itu duduk di sebelah Nayoung.

“John,” panggil Nayoung.

“Hm?”

“Apa kau sering bertemu anak-anak itu?”

Johnny menarik nafas dalam-dalam, bersiap untuk bercerita.

“Iya. Mereka sudah kuanggap adik-adikku sendiri. Aku menemukan kebahagiaan tersendiri setelah bertemu dengan mereka, sejak 3 tahun yang lalu. Nayoung, maaf bila aku tak cerita sebelumnya…”Johnny menggantungkan kalimatnya.

“Apa, Johnny?”

“Orangtuaku sudah berpisah. Aku teringat saat terakhir kali mereka bertengkar di depanku, bahkan mereka membentak dan memukulku. Aku ingat saat-saat itu. Karena itulah, aku cuek di depan banyak orang. Aku benci melihat sepasang kekasih yang terlihat mesra. Karena menurutku, untuk apa mesra saat pacaran, sementara saat berumah tangga pasangan itu tidak dapat bahu-membahu mengatasi masalah,” ujar Johnny.

Nayoung tertegun. Jadi, karena itulah ia menjadi apatis di depan banyak orang?

“Namun tidak setelah aku bertemu mereka. Bahkan, sebelum ulang tahunku, mereka memintaku membawa seorang kekasih. Mereka yang menyadarkanku bahwa tidak baik menutup diri, bahkan menutup diri kepada gadis yang benar-benar aku cintai selama ini”

Nayoung terkesiap ketika pemuda itu meraih tangannya.

“Itulah sebabnya aku memperkenalkanmu kepada mereka sebagai gadisku. Karena aku juga hendak mengungkapkan bahwa aku sudah memendam rasa padamu sejak lama. Maukah kau menjadi hadiah terindah bagiku tahun ini?”

Seketika satu koloni kupu-kupu terbang berputar di perut Nayoung.

“Aku akan selalu jadi hadiah terindahmu, koin,” ujar Nayoung.

“Tunggu. Koin?” tanya Johnny keheranan.

Nayoung tersenyum.

“Kau itu seperti koin. Punya 2 gambar yang berbeda di dua sisi yang berbeda. Dasar, two-faced Seo. Tapi aku suka lihat sisi dirimu yang satu ini.”

fin.

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet-Mix] Two Shades of Him

  1. 😂😂😂😂😂😂😂😂 TOLONG YA TOLONG ITU! KURASA KUTAU SIAPA YANG BUAT CERITA JONI DIKETAWAIN SAMA MBEK! SUBHANALLAH! MAU KETAWA SEMBARI NANGOSH BERKEPANJANGAN TAPI OTAK SEDANG DIRUNDUNG KEGELISAHAAN, YHA GIMANA, TEROSH MAU KOMEN NORMAL TAPI KOK YA RASANYA GAK BISA MENAHAN SENSASINYA, TERUS MAU GIMANA, MAU TIMPUKIN ORANG YANG BIKINNYA TAPI JAUH BANGET DI MALANG, YHA JADI GIMANA, MAU MENGUMPAT TAPI TIDAK INGIN BUAT KERIBUTAN, YHA MAU GIMANA? ADUH BIYUUNG~ TOLONGLAH YA JANGAN BUAT PEMILIK OC MACKENZIE LEE YANG BADHAY INI JADI SEMAKIN NISTA MBAK MBAK-KU! /DITIMPUKIN/
    IYA ITU SIAPAPUN YANG NULIS JONI x KAMBING, TUNGGU SAJA PEMBALASAN DARI OM…
    CAMKAN ITU.
    CAMKAN ITU.
    CAMKAN ITU.

    BTW HAPPY BIRHDAY JOHNNY SEO! ❤
    KEEP WRITING BUAT MBA-MBA YANG KECE BADHAY ULALA INI! SEMUA FFNYA LUAR BIASA! KU SAYANG KELYAN, KALIAN SO PRECIOUS ❤

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s