[Ficlet] Haunted House

project-26-10

Hunted House

[2nd] Project 26

By : Febby Fatma

Drama, Romance, Friendship, Fluff

PG-13

Cast :

Nakamoto Yuta (NCT)

Nikaido Ran (OC)

Disclaimer : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini. Semuanya murni hasil pemikiran saya. Mohon tidak copy-paste atau memplagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat membaca~

————————

Punya ketakutan itu biasa, yang tidak biasa adalah menunjukannya di hadapan orang yang baru dikenalkan oleh temannya beberapa jam lalu.

Hari ini salah satu sahabat baik Ran ulang tahun, Ran diundang untuk ikut acara makan malam dan jalan-jalan untuk menggenapkan jumlah. Teman Ran yang ulang tahun itu baru saja dekat dengan seorang laki-laki dari kelas sebelah, dan dipertemuan kali ini laki-laki itu mengajak temannya, jelas sudah tugas Ran disini.

Untuk menjadi teman dari temannya laki-laki yang sedang dekat dengan teman Ran itu.

Hubungan yang tidak rumit, tapi merepotkan.

Ran kenal laki-laki yang berakhir terus ada di sampingnya ini. Namanya Nakamoto Yuta, seorang pemain sepak bola yang cukup terkenal di sekolah karena selain baik dalam permainan dia juga baik dalam berhubungan sosial dan cukup tampan. Ikkemen, begitu Ran menyebutnya.

“Kau baik-baik saja?”

“Um, kurasa. Aku punya sedikit masalah dengan penglihatanku saat gelap.”

“Oh, kalau begini bagaimana?” dia mengeluarkan ponselnya, menyalahkan flashlight untuk menerangi jalan di depan mereka.

“Terima kasih.”

“Kalau masih takut kau bisa memegangku.”

“Aku bukannya takut!”

“Hm, baiklah, untuk membantumu agar tidak salah pilih jalan.”

Dalam hati Ran mengutuk dirinya sendiri yang bersikap sok tegar saat ini. Kalau ada Akira, kakak laki-lakinya, Ran yakin dirinya sudah menangis sejadi-jadinya dan merengek untuk cepat dibawa keluar dari tempat terkutuk yang bisa manusia ciptakan. Lagi pula atas dasar apa orang-orang mengatakan kalau rumah hantu bisa mempererat hubungan cinta? Ran tidak paham konsep seperti itu!

Malu-malu Ran menjawab, “Kalau begitu aku terima tawaranmu.” Ujung jaket Yuta menjadi pilahan Ran untuk berpegangan. Ran hanya butuh pegangan untuk meyakinkan diri kalau dirinya tidak sedang ditinggal sendiri di tempat aneh, yang walau Ran tahu hanya tipuan, tetap saja menyemkan.

“Kau lucu, ya?”

“Kenapa memangnya? Mau menertawakanku?”

“Kalau boleh.”

Ran tidak menjawab dan Yuta dengan seenaknya mengartikan kalau dirinya diijinkan tertawa.

“Lagian kau aneh, kalau takut kenapa kau tidak menolak untuk ikut masuk tadi. Kan kita bisa menunggu mereka di luar saja.”

“Mana bisa aku biarkan Nao pergi sendiri dengan laki-laki macam Kento.”

“Apa salahnya? Kento bukan kriminal atau penjahat seksual, kok.”

“Bukan itu maksudku.”

“Kalau begitu apa masudmu?”

Ran tidak bisa menjawab.

Ah, Ran lupa kalau Yuta juga terkenal karena pernah memenangkan lomba debat antar sekolah. Mendebatnya sekarang sama saja dengan bunuh diri.

“Bilang saja kau ingin melakukan apa yang temanmu ingin lakukan.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Pura-pura ketakutan.”

“Aku bilang, aku tidak takut!”

Yuta melepas pegangan Ran di jaketnya. Mematikan flashlight dari ponselnya juga. Remang menyeramkan yang menjadi khas rumah hantu menyergap Ran saat itu juga. Dalam hati Ran mengutuk Yuta karena mempermaikannya seperti ini, tapi sisi lainnya menangis mengharapkan sebuah pertolongan mendatanginya.

“Kalau begitu kau bisa keluar sendiri. Kau punya ponsel, gunakan punyamu sendiri. Aku duluan.”

Suara langkah menjauh membuat Ran ingin berteriak, tapi Ran tidak bisa melakukan itu. Bergerak mengambil ponsel di saku almamaternya saja Ran tidak bisa. Rahangnya mengeras, gaginya terkantup kuat, kaki dan seluruh tubuhnya menegang. Walau benci mengakuinya Ran benar-benar takut kali ini.

Sendiri, Ran takut. Suara-suara aneh di dalam sana benar-benar membuatnya takut, reman-remang yang membutakan mata juga Ran takut. Tapi dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa, itu adalah yang paling Ran takutkan. Menjadi lemah dan menangis sendirian dalam keadaan seperti ini adalah hal yang paling membuat Ran takut.

“A—apa kau benar pergi?” suaranya bergetar, Ran tahu itu. “Seseorang, bisa datang padaku sekarang? … aku takut.” Air matanya sudah tidak tertahan lagi.

Ran takut.

Dia ketakutan.

Perlahan Ran mendengar suara langkah mendekatinya. Sebelum itu Ran mendengar suara teriakan Nao yang menggema di sepanjang koridor berliku ini. Perasaannya tidak enak.

“Yu—Yuta, apa kau disana?”

Tidak ada yang menjawab. Suara langkah itu juga semakin mendekat.

“Kumohon jangan bercanda.”

Ran jatuh terduduk. Tubuhnya lemas bukan main setelah kaku menahan ketakutannya tadi.

“Seseorang, kumohon tolong bawa keluar aku dari sini. Aku takut. Akira, Nao, atau siapapun. Tolong aku.” Ran sesegukan sambil menutup wajahnya. “Yuta, kumohon kembalilah.”

Cahaya terang menyinarinya disertai suara yang menjawab, “Aku sudah kembali.”

Laki-laki yang tadi menginggalkannya sendiri kini berjongkok di hadapnnya, cahaya flashlight yang tadi ia matikan kembali menyalah.

“Maaf sudah meninggalkanmu.”

Ran memeluknya. Menangis sambil memohon untuk tidak ditinggalkan sendiri lagi. Dia merengek ketakutan seperti pada kakaknya atau pada sahabatnya, padahal ini hari pertama Ran mengenal Nakamoto Yuta, tapi hari ini Ran tidak bisa tidak mempercayainya.

“Ayo kita keluar.”

Hal yang paling membuat Ran lega adalah Yuta menggenggam tangannya dan mengajaknya berlari menuju jalan keluar. Dia sama sekali tidak mengatakan apapun setelah itu, tapi Ran memaafkannya, Ran justru bersyukur karena Yuta sudah kembali menjemputnya.

———————

“Aku tidak tahu kalau kau benar-benar takut, maaf ya?”

“Aku sudah bilang, kalau aku—”

“Iya-iya, aku tahu. Kau tidak takut, kan?”

“Bagus kau paham.”

“…”

“Tapi syukurlah kau tidak menangis lagi.”

“Kenapa memang?”

“Entahlah, aku hanya tidak suka saja.”

“…”

“Kau boleh marah, tertawa, kesal, tersenyum, atau apalah asal jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya.”

“…”

————————

[1] Image Pic : Zutto mae Kara Suki Deshita Character

[2] Sebenernya sebagian besar dari cerita di atas itu nyata, aku sendiri yang ngalamin. Dan itu nggak bohong, kita bener-bener deket karena hal sesepele itu. But, tetap ada yang dikurangin dan ditambah-tambahin.

[3] Buat persembahan aja walau nggak ada hubungannya, Ifah Happy Birthday~ Hahaha maaf nggak ngasih apa-apa. Tapi semoga kamu suka. Semoga cepet nemu cowok macam Yuta dalam cerita ini, dan semoga selalu diberi berkah juga hidayah dari yang Maha Kuasa. Jadi makin dewasa dan lebih bisa menerima segala sesuatunya sebegai pembelajaan. Udah 19 tahun loh, udah waktunya untuk mulai beres-beres diri, biar nggak telat kaya yang pak Shofa bilang.

[4] Segitu aja dariku, Febby Pamit~~

Advertisements

One thought on “[Ficlet] Haunted House

  1. Pagi-pagi buka email langsung dapet notif dari NCTFFI kalo kak Febby apdet lagi. Langung deh kubuka :v *kemaruk*

    Btw, Jiyo sempet baca berulang pas bagian ‘Untuk menjadi teman dari temannya laki-laki yang sedang dekat dengan teman Ran itu.’ 😀 Biasalah, masih pagi otomatis otaknya lagi lemot hihihihi :v Jadi ini semacam takut masuk rumah hantu gitu? Duh Ran, sama kayak Jiyo :’) Kita sama2 penakut tapi sok tegar biar nggak diejek :v Si Yuta juga iseng, udah tahu Ran takut malah diringgal :’)

    Oh iya kak, Jiyo tadi nemu typo (lagi?) pas kata “Menyemkan”. Mungkin “Menyeramkan” ???

    Segitu dulu aja deh 😀 Byebye kak Febby ❤ Semengat nulisnya ❤ *lempar Yuta*

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s