[Write Your Mythology] Good Actor

co3

Judul: Good Actor

Author: littlecheonsasss

Cast(s): Taeyong, Ten

Genre(s): Myth & Greek, Adventure

Rating: PG 15+

Myth. Creatures n God: werewolf

Taeyong tahu, ada yang aneh dengan lelaki itu. Ia bukanlah manusai normal, Taeyong meyakininya. Ada sesuatu yang lain.. dari orang yang duduk dihadapannya ini. Entah dapat pikiran darimana, sejak pertama bertemu dengannya, Ten sudah mempunyai firasat tidak nyaman dengan lelaki ini.

Merasa diperhatikan, Ten Chittaphon pun mengalihkan pandangannya dari makanan didepannya ke arah Taeyong. Pandangan mereka bertemu, lalu Ten memberikan senyuman pada Taeyong. Taeyong langsung membuang muka. Namun, Ten tak ambil pusing. Ia sudah maklum dengan sifat Taeyong yang seperti itu.

Ten pun mengabaikan Taeyong dan berbincang hangat bersama teman-teman mereka. Tawa kawanan itu mengudara ketika Johnny melontarkan lelucon yang membuat perut terkocok. Taeyong tidak ikut tertawa. Lagi, Taeyong memandangi gerak-gerik Ten, matanya menyipit curiga pada lelaki itu. Api unggun yang menjadi pembatas antara tubuhnya dan Ten seakan ikut ciut melihat tatapan Taeyong.

“Taeyong, bisakah kau tolong ambilkan air dari air terjun?” Seorang lelaki menghampirinya, ia membawa ember dan menyodorkannya pada Ten.

“Ya, tentu Taeil.” Taeyong mengambil ember dari tangan Taeil. Ia pun bangkit dan mengambil senter di dekatnya, bersiap berjalan menuju air terjun.

“Taeyong, bagaimana bila aku menemanimu?” Sebuah pertanyaan menginterupsi langkah Ten. Ia menoleh ke belakang. Lelaki itu tahu persis siapa yang memanggilnya, rekan seregunya yang tak disukainya, Ten Chittaphon.

“Tidak usah, biar aku sendiri.” Jawab Taeyong ketus. Ia pun melangkahkan kakinya secepat mungkin meninggalkan kumpulan orang di api unggun itu.

Ten pun secepat mungkin berdiri dan mengejar Taeyong yang semakin menjauh. Menyadari ada orang di sebelahnya, Taeyong pun menoleh lalu berdecih pelan. Ten hanya pura-pura tuli dan tersenyum seperti yang biasa ia lakukan.

Mereka berdua melewati tenda-tenda yang kosong, karena hampir semuanya berkumpul di api unggun. Keduanya hanya terdiam selama perjalanan, enggan membuka percakapan. Sampai akhirnya Ten pun buka suara, “Taeyong, apa kau percaya dengan makhluk seperti werewolf?”

Taeyong melirik ke arah Ten setelah pertanyaan itu. Ia diam sejenak, lalu menjawab, “Lalu, karena kau bertanya seperti itu, apakah artinya kau adalah seorang werewolf?”

“Ya, kau benar. Aku memang werewolf.”

Setelah itu, keduanya kembali hening. Suara deru air terjun yang sudah agak dekat pun mulai terdengar. Ten kali ini berhenti berjalan, lalu menatap Taeyong terang-terangan, tidak melirik lagi. “Wah, baru kali ini ada orang yang tidak bereaksi sedikitpun setelah kukatakan itu,” lalu ia melanjutkan, “jadi, kau percaya atau tidak?”

Taeyong pun ikut berhenti berjalan. Ia balas menatap Ten, di manik mata, dengan tatapan yang sungguh tidak enak dilihat. “Aku sudah tahu, semenjak pertama bertemu, aku yakin ada sesuatu yang lain darimu. Dan ternyata aku benar, jadi anggap saja aku percaya.”

“Ah.. jadi kau sudah tahu? Hebat juga kau,” Balas Ten dengan santai.

Taeyong tidak menjawab lagi, lalu melanjutkan langkah kakinya. Suara deru air terjun pun terdengar semakin deras. Mereka sudah dekat, tinggal perlu melewati jalan yang sedikit menanjak untuk sampai ke tempat tujuan mereka.

Lelaki berdarah Kore itu semakin mempercepat langkahnya, tidak mau lebih lama bersama Ten. Bersama dengan lelaki yang mengaku werewolf itu membuatnya tidak nyaman. Bagaimanapun juga, ia adalah manusia biasa. Apa jadinya bila Ten berkata jujur? Dan lagi, malam ini adalah bulan purnama. Oh, sungguh kebetulan.

Ia sudah berada di tepi air terjun, lalu mewadahi air yang mengalir deras ke bawah. Lelaki itu berdiri sangat dekat dengan bibir air terjun, mungkin bila ia jatuh ke bawah, habis sudah riwayatnya.

“Mengapa panitia kemah tidak menyiapkan air di dekat perkemahan, ya? Bukankah merepotkan harus mengambil air dari air terjun yang cukup jauh dari perkemahan? Apalagi, tempat ini pasti sangat berbahaya,” Ten bertanya entah pada siapa. Tangannya diangkat ke atas, lalu dilipat dan diletakkan di tengkuknya.

Taeyong merasa kesal sendiri. Kalau Ten merasa mengambil air ke air terjun itu merepotkan, mengapa ia mengekori dirinya? Namun, ia terlalu malas bicara. Apalagi pada makhluk yang berada di belakangnya sekitar tiga langkah itu.

Ia lalu berdiri, bersiap kembali ke arah perkemahan. Namun, Ten memanggilnya, “Taeyong,” Orang yang dipanggil hanya diam, sambil menoleh ke arah Ten. Menunggu lanjutan dari perkataannya, “kau berdiri tepat di bibir tebing, bodoh.”

Tepat setelah perkataan Ten, Taeyong pun tergelincir ke bawah. Kejadian itu terjadi sangat cepat, tanpa bisa ia cegah. Badannya terempas ke bawah, menubruk tanah gelap di bawahnya. Lalu, hal terakhir yang dilihatnya adalah bulan purnama yang mulai menampakkan dirinya

——^o^——

Pria itu membuka matanya perlahan, matanya serasa berkunang-kunang. Dimana ia? Ah, ia tadi terjatuh dari tebing di dekat air terjun, yang tingginya lebih dari seperempat kilometer. Jam berapa sekarang? Sudah berapa lama dirinya tak sadarkan diri? Banyak pertanyaan yang terbesit di pikiran Lee Tae Yong.

Entah mengapa, ada keyakinan dalam dirinya, bahwa Ten adalah salah satu penyebab dari jatuhnya ia. Mungkin saja ia menggunakan kekuatan werewolf nya untuk membuat sirinya jatuh. Tunggu,apakah werewolf punya kekuatan sihir? Taeyong pun tidak tahu, ia hanya pernah membaca tentang werewolf dalam sekali lalu, setelah itu tak dibacanya lagi.

Di tempat itu sangat gelap, hanya cahaya bulan yang ada disana. Apa yang dapat diterangi oleh cahaya bulan? Tidak ada. Ia pun menyusuri tanah, meraba-raba bila saja ada senternya disana. Seingatnya, saat ia jatuh, ia sedang memegang ember dan senter. Karena itu bajunya sekarang lembab, pasti tadi air di embernya tumpah.

Dapat! Ia sungguh beruntung, setidaknya senternya ikut jatuh bersamanya, dan masih mempunyai daya untuk hidup, walaupun sudah redup. Ia pun menjulurkan senternya, melihat keadaan di sekitarnya.

Kedua alis itu bertaut, tempat ini sama sekali asing. Tentu saja, ia tidak pernah kesini. Tapi bukan itu poinnya, ia harusnya jatuh di sekitar air terjun, kan? Namun, disini bahkan tidak ada tanda-tanda adanya mata air. Hanya pepohonan lebat yang yang menghalangi pandangan di mana-mana.

Rasa takut pun mulai menjalar ke dalam setiap inchi tubuhnya. Ini sungguh di luar kendalinya. Ia berada di tempat asing, yang ia tidak tahu kemana arah jalan kembali ke perkemahan, dengan hanya berbekal sebuah senter yang redup. Ingin rasanya ia menangis, namun, itu tidak akan membantu. Akhirnya, ia pun menyusuri jalan itu. Mengikuti kemana kakinya membawanya.

——^o^——

Ten mengacak rambutnya frustasi, kebingungan mencari Taeyong. Sebentar lagi, ia akan berubah wujud menjadi serigala. Dan.. bagaimana bila ia menemukan Taeyong setelah dirinya berubah? Bisa-bisa nyawa pemuda itu akan berakhir di tangannya.

Bulan semakin terang, tinggal menunggu waktu sampai dirinya berubah menjadi seekor serigala. Ia kembali mengacak rambutnya, bingung mengapa hal itu bisa terjadi. Setelah Taeyong jatuh tadi, matanya seperti tersembur sesuatu, lalu, setelah ia membuka matanya kembali, ia sudah berada di tempat lain, bukan di air terjun lagi.

Apakah.. perpindahan dimensi? Namun, siapa yang melakukannya? Seingatnya, ia tak berusaha melakukan perpindahan dimensi sampai saat ia berubah menjadi serigala. Mungkin ia hanya tak sengaja melakukannya saat melihat Taeyong jatuh tadi. Mungkin.

Sekarang, energinya tak cukup untuk melakukan perpindahan dimensi lagi. Ia harus makan sesuatu. Daging segar.

Tiba-tiba, ia merasa badannya bergetar. Sudah saatnya ia berubah menjadi serigala. Nafasnya memburu. Ia mengumpat. Wakrtunya benar-benar tidak pas. Ten pun dengan cepat melepas atasannya agar tidak koyak. Rambut-rambut pun tumbuh dengan cepat, menjalar ke tangan dan kakinya, wajahnya, lalu tubuhnya.

Ia sudah sepenuhnya menjadi serigala. Yang tak memikirkan apa pun selain ingin memakan makanan lezat.

Mata tajamnya terus mencari mangsa. Hidungnya pun ikut mengendus aroma daging lezat. Ten pun melesat dengan cepat ketika mencium bau darah, berasal dari arah tenggara tempatnya berdiri.

——^o^——

Taeyong memegangi lengannya, meringis kesakitan. Memang sepertinya malam itu adalah waktu sialnya. Ia terluka saat melewati pepohonan tadi. Tanpa melihat-lihat, langsung saja ia lewati kumpulan pohon itu, lalu lengannya tergores ranting pohon yang tajam.

Ia pun berinisiatif menggulung lengan bajunya setelah dirasa lukanya itu semakin perih. Dan benar saja, luka itu sudah menganga lebar dengan darah yang mengucur deras. Tubuhnya bergetar, ia perlahan mundur ke belakang. Pemuda itu takut dengan darah, sangat takut.

Ia pun bersandar pada sebuah pohon tua. Lalu memberanikan dirinya sendiri. Taeyong mengoyak bagian bawah bajunya, lalu mengikatnya ke lengan dengan luka menyeramkan itu berada.

Keningnya sedikit berkerut. Entah mengapa, instingnya memerintahkannya untuk lari dari tempat itu, sejauh mungkin yang ia bisa. Pemuda itu memandang ke seluruh area, memastikan tidak ada makhluk lain di sana. Memang tidak ada.

Setelah selesai mengikat bagian bajunya itu, Taeyong pun berdiri, membersihkan bajunya yang kotor, lalu berlari sejauh mungkin. Ia bahkan lupa dengan senter yang tadi diagung-agungkannya.

Wajahnya sudah memerah karena kelelahan, nafasnya sudah hampir habis, degub jantungnya sendiri tertangkap jelas oleh rungunya. Ia sudah kehabisan tenaga. Tubuhnya berkali-kali menabrak atau tersandung akar pohon. Namun, ia tak bisa berhenti berlari. Pikirannya jelas mengatakan, lari, atau mati.

——^o^——

Ten jelas melihat mangsa di depannya. Sementara dirinya –dalam wujud serigala—sedang bersembunyi di semak-semak, pria itu sedang membersihkan darah di lengannya, lalu berlari sejauh mungkin.

Ten pun langsung mengejarnya. Tentu saja! Ada mangsa yang jelas terlihat tak berdaya, lalu, apa yang ditunggunya? Ia berlari tanpa mencoba mengeluarkan suara yang nyaring, bila ia ketahuan, semakin jauhlah daging segar itu dari jangkauannya.

Ia semakin dekat dengan Taeyong, semakin dekat, semakin dekat, dan..BUG!! Taeyong menghantam kepala serigala kelaparan itu dengan batu. Namun, Ten tidak goyah. Darah di kelanaya sudah mengucur. Ia pun berdiri tegap, membuktikan bahwa Taeyong tak berdaya di hadapannya. Tingginya saat itu sekitar dua meter, membuat nyali Taeyong semakin ciut.

Dengan cepat, Ten mencakar lengan ten yang satu lagi, lalu wajah, dan perutnya. Taeyong tak bisa berteriak, suaranya tak bisa keluar. Dengan sisa kekuatannya, ia menendang bagian bawah Ten yang tidak terlindungi, lalu setelah Ten sedikit lengah ia pun berlari secepat yang ia bisa. Beruntung kakinya tak diserang oleh serigala itu.

Namun, dengan darah di segala bagian tubuhnya itu, Taeyong tidak bisa menghindar dari Ten. Ia pun bersandar pada pohon, dan menutup matanya. Luka di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa takutnya pada kematian. Dan ia mencoba pasrah. Mungkin memang saat itulah akhir dari hidupnya.

Ten semakin dekat, Taeyong hanya memandanginya dengan tatapan lemah. Ia sudah siap untuk mati. Lagipula, ia memang  tidak diperlukan di dunianya. Ten mendekat perlahan, deru nafas panasnya dapat dirasakan oleh Taeyong. Ia sudah berada di depan Taeyong, bersiap untuk menerkamnya ketika ia tersadar, bahwa yang berada di depannya adalah Taeyong, teman yang membencinya.

Tubuhnya yang besar itu pun perlahan kembali ke bentuk asalnya. Ia membuka mata, menatap Taeyong yang menutup matanya, dengan tangan penuh darah yang melindungi tubuhnya sendiri.

“Taeyong..?” Ten membulatkan mata. Dengan segera, ia mendekati Taeyong, melihat luka di sekujur tubuh Taeyong yang merupakan perbuatannya. Ia merasa bersalah, tentu saja. Taeyong hanya tersenyum sinis, lalu ambruk setelah itu.

——^o^——

Ten pun mencari makanan yang bia ia dapat di hutan. Matahari mulai terbit, membuatnya semakin mudah untuk mencari makanan. Setidaknya, ia harus punya cukup tenanga untuk mengembalikan Taeyong dan dirinya ke dimensi mereka.

Ia pun memakan dua ekor rusa gemuk dengan rakus. Setelah itu, ia memikul pundak Taeyong, dan kembali ke dimensi mereka. Luka di tubuh  Taeyong belum mengering, membuat badan Ten pun ikut terkena darah.

Ketika Taeyong tersadar, dirinya sudah berada di dalam tenda regu mereka. Ia melihat Taeyong, dan anggota regu lainnya yang memandanginya khawatir.

“TAEYONG!!” Mereka berkata serempak setelah melihat Taeyong bangun.

 Taeil pun langsung menanggil petugas kesehatan di luar tenda. Lalu Taeyong pun diperiksa dan akhirnya dilarang beraktivitas selama dua minggu.

“Taeyong, bagaimana bisa kau terjatuh? Untung saja Ten menemukanmu, kalau tidak..” Ucapan Johnny berhenti.

“Kalau tidak..?” tanya Taeyong dengan suara lemah.

“Kau sudah habis dimangsa serigala,” sambung Doyoung.

Taeyong melirik tajam pada Ten. Ten hanya membalasnya dengan senyuman. Ia pun mendekatkan dirinya ke arah Taeyong, berpura-pura memberikan air, dan berbisik,“Bagaimana? Bukankah aku pandai berakting?”

FIN

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s