[Write Your Mythology] On That Fateful Night

win-young

On That Fateful Night

by ANee

Doyoung | Winwin

Myth | Crime | Friendship

PG-17

Ankou

.

.

Orang-orang bilang hidup ini sulit direka, dan sekarang Ankou tahu mengapa kalimat itu jarang bisa dibantah. Takdir  berbicara, menyampaikan sedikit demi sedikit kisah hidupnya yang sebenarnya ia sendiri tidak peduli. Toh, meski statusnya adalah pangeran, ia tidak akan pernah bisa memenuhi permintaan sang ibu untuk naik tahta jadi seorang raja yang penuh adikuasa.

Teman terbaiknya ialah hutan, sebab alam tidak pernah protes apa pun kedudukannya saat ini. Mereka tidak pernah menolak Ankou, sama sekali beda dari keluarganya yang haus akan kekuasaan. Namun ternyata dari tempat kegemarannyalah, Ankou mendapati hidupnya berbalik 360 derajat.

Tidak menyangka Sang Kematian akan memerhatikannya sedemikian rupa dan tanpa janji mengajaknya berduel dalam berburu. Bodohnya, sang pangeran menyanggupi dan hasil akhir menunjukkan bahwa ia kalah telak. Sesuai perjanjian, yang menang mendapat hadiah menentukan nasib yang kalah, dan Ankou harus puas menjadi budak Sang Kematian seumur hidupnya.

Entah bagaimana justru senang yang lebih dominan ia rasakan, sebab istana bukan lagi tempat singgahnya serta tahta bukan lagi jadi bebannya.

Sang pangeran menjelma peri kejam pembawa kematian yang harus mengumpulkan jiwa-jiwa manusia yang telah mati dari seluruh penjuru dunia. Dan seolah menjadi budak Sang Kematian belumlah cukup, Ankou diberkahi kutukan lain; ia selalu tahu seperti apa kenangan yang terekam dalam memori korbannya seperti pada seseorang yang hendak ia datangi malam ini.

.

Malam hari, ketika angin dingin menyelimuti tiap inci kota, dan derai tawa rendah dari dua pemuda begitu jelas mengalir bersama udara di jalanan yang lengang. Asap putih menguar dari mulut keduanya, kebahagian jelas tergambar di sana, tapi di balik itu tidak ada yang benar-benar tahu seberapa besar kadar kegirangan mereka. Tidak akan pernah ada, sebab nyatanya kesenangan itu justru acap kali dibarengi oleh kejaran-kejaran orang yang mengulas ekspresi sebaliknya.

“Wah, lari setelah makan membuat perutku tidak jadi kenyang,” ujar lelaki bermahkota hitam selepas pijakan mereka tiga kali lebih lambat dari sebelumnya.

“Apa kita harus masuk ke satu kedai lagi, dan cari cara kabur yang lebih sempurna?” Penawaran yang tidak buruk—menurut keduanya—diajukan oleh lelaki bermahkota oranye, tapi segera ditolak dengan lambaian tangan di muka dada. Napas mereka masih tarik ulur.

“Sepertinya ini akan jadi yang terakhir, Young. Aku lelah jika harus menandingi atlet lari maraton setiap hari.”

Namanya Winwin, dan ia memutuskan untuk mendaratkan bokong pada permukaan aspal, diikuti oleh sang teman yang tidak lain adalah Doyoung. Dua pemuda itu memiliki tinggi badan nyaris sama, sedikit lebih tinggi Doyoung dan ia memakai jaket parka, sedangkan Winwin dipeluk jaket kulitnya, celana mereka sama-sama belel. Seperti hari-hari sebelumnya, paling tidak sekali mereka makan di tempat makan yang tanpa penjagaan serta menawarkan harga terjangkau.

Alasan pertama, agar mudah untuk kabur tanpa keluar uang. Alasan kedua, kalau tertangkap, mereka tidak harus merogoh kocek terlalu dalam.

“Hei, lalu kau akan minta kartu kredit pada ayahmu yang hobi makan uang rakyat itu?” olok si lelaki jaket parka yang—jelas—sudah tahu latar belakang keluarga sang karib. Mereka berteman bukan secara kebetulan, dan nasib yang serupa ialah tali penyambungnya. Iya, ayah keduanya sama-sama pejabat negara dan sama-sama menyalahgunakan wewenang. Menjadi liar dan tidak suka diatur menjadi opsi mereka dalam melampiaskan ketidakberpihakan mereka terhadap jalan rusak keluarganya.

“Bukankah kita sebenarnya sama saja dengan mereka? Pencuri.” Winwin mengedikkan bahu, tidak merasa terbebani oleh predikat yang ia sandang sendiri. Sebenarnya ia sadar jika yang dilakukannya bersama Doyoung selama tiga tahun ini tidak benar, tapi lagi-lagi manusia akan bosan tanpa melakukan satu pun dosa.

“Skala kita lebih kecil dan ingat, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” tangkis Doyoung sembari mengeluarkan bungkus rokok dari saku, menyulutnya, dan membagi satu untuk teman di sebelah yang menunduk lesu.

“Sudahlah. Aku bosan berdebat.”

Kalimat Winwin sudah final dan keduanya dibentengi diam dalam nikmatnya membakar tembakau masing-masing.

Tidak melulu malam itu kejam, toh dari sudut pandang Doyoung justru saat seperti ini, pemilik kedai yang pernah mengejar mereka selalu gagal menangih bayaran. Gelap ialah teman yang diam-diam membantu seseorang seperti dirinya, yang tidak peduli ia bejat atau berhati mulia. Gudang-gudang serta bangunan tertelantarkan yang tampak angkuh pun tidak segan menyembunyikan figurnya dari hujan yang datangnya selalu mengeroyok. Hanya malam, iya, hanya gelapnya malam yang mau menjadi teman sebelum akhirnya Winwin memutuskan menyewa sebuah apatemen dengan uang tabungannya.

Sekarang, ia jarang tidur di luar, dan hari ini mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka.

“Young, bagaimana jika Ankou tiba-tiba datang?”

Si pemuda berjaket parka menoleh ngeri sambil membuang batang rokok yang tembakaunya sudah lesap. Pasalnya ia tahu siapa yang dimaksud oleh karibnya. Tadi di kedai tempat mereka makan gratis, orang-orang membicarakan eksistensi sesosok peri kejam bernama Ankou. Mulai dari asal mula sampai kabar bahwa sang peri tidak hanya berkeliaran di negeri asalnya.

Ia tidak begitu percaya, tapi membayangkan wujud yang katanya selalu diselubungi jubah hitam dan wajahnya tidak nampak sama sekali itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Dan barusan rekannya tanpa ragu menelurkan kalimat tanya yang berkaitan dengan peri yang kabarnya sempat berduel dengan Sang Kematian tersebut. Itu hanya mitos, iya, tapi banyak yang percaya dan sekarang entah kenapa ia ikut takut kalau-kalau hidupnya digariskan bertemu sang peri.

“Kita kabur dengan pesawat. Kudengar ia hanya mengendarai kereta kuda,” kelakarnya membuat lelaki bersurai jelaga tertawa dalam durasi kurang dari dua detik, namun cukup membuat udara bercampur asap nikotin.

“Omong-omong, bukankah menyebut namanya bisa membawa sial ya? Termasuk membawa ia menemui kita.”

“Benarkah?”

“Aku tidak tanggung jawab jika hari ini benar-benar jadi hari terakhirmu, Win.”

“Dasar teman tipis kau!”

Apartemen mereka jauh dari sini dan jalanan dengan pemukiman sepi—ini nyaris tengah malam—membuat keduanya betah menghabiskan malam berdua hanya dengan saling bertukar kata dan kelakar. Dingin sebenarnya, sebab musim salju belum berakhir, tapi hidup bergaul dengan malam dalam hitungan tahun memberi mereka impak kurang peka pada hawa dingin—tepatnya tak acuh.

Awalnya begitu, sebelum lelaki bersurai oranye memeluk tubuhnya sendiri dan bergumam, “Kenapa tiba-tiba dingin sekali? Mau ada badai ya?”

“Belum pernah aku merasa sedingin ini selama besamamu,” timpal pemuda jaket kulit seolah Doyoung adalah kekasihnya.

Bukan main, memang hawa tiba-tiba berubah sedingin kutub utara dengan suhu terendahnya. Winwin dan Doyoung saling tukar pandangan, bukan dalam rangka menjadikan suasana lebih romantis, melainkan berbagi kekhawatiran yang identik.

Ankou.

Benarkah di zaman serba modern seperti sekarang akan ada makhluk seperti itu? Datang menjemput ajal salah satu dari mereka atau bahkan kedua-duanya? Yang benar saja, bulu lengan mereka terasa berdiri serempak.

Sekeliling mereka berubah hening lima kali lipat dari sebelumnya dan dari kejauhan, Doyoung dapat menangkap suara tapal kuda yang menghentak-hentak, bahkan pecutan sang empunya. Ia menelan ludah susah payah, siapa yang berani mengirim lelucon pada anak pejabat seperti dirinya? Well, meski dunia sejatinya tidak tahu menahu soal identitas itu.

Seiring detik, suaranya semakin jelas dan menusuk. Bahkan Winwin di sebelahnya sudah menggigil sampai gemeletuk giginya beradu dalam pendengaran si lelaki jaket parka.

Manik Doyoung membola nyaris mirip burung hantu, dengan mulut yang terbuka ia mendorong tubuhnya sendiri ke belakang. Berdiri dan berharap tembok yang melekat di punggungnya bisa ditembus tanpa harus dirobohkan. Lelaki itu bahkan nyaris lupa pada sang karib yang masih membeku di tempatnya, seolah tersihir oleh sosok yang muncul dari kegelapan ujung jalan. Entah bagaimana, lampu di sana bisa seketika redup bersama hawa dingin yang mengepung barusan.

Sosok dengan kereta kuda sebagai tumpangan itu berjubah hitam dan Doyoung tidak bisa melihat wajahnya secara jelas. Ia terus memeluk tubuhnya sendiri sambil terpaku.

.

Ankou bisa melihat dua pemuda beda posisi di hadapannya saling mendekap tubuh masing-masing. Satu di antara mereka adalah calon korbannya, tapi ini tidak akan mudah jika salah satu dari mereka tak rela rekannya mati. Ini pertama kali sejak ratusan tahun yang lalu ia dibebani hukuman, korbannya selalu sendirian, dan yang satu ini cukup membuatnya lagi-lagi menghkhawatirkan nasib.

Dan masa lalu. Pemuda di hadapannya punya takdir yang membuatnya sedikit iba. Dari pancaran matanya, ia dapat menyaksikan seorang pemuda dengan masa depan tidak menentu, keluarga yang nyaris hancur, dan seorang ayah yang gemar makan uang terlarang. Ia ingin bebas dari statusnya, tapi di sisi lain, menjadi mantan anak hanya akan menambah dosa.

Ankou merasa melihat cerminan dirinya dulu, saat gelar pangeran masih melekat padanya. Kebebasan adalah asa terbesar, sama persis dengan apa yang ada dalam benak pemuda yang saat ini memeluk lututnya erat-erat. Ia ingin bebas, dan tidak sudi menempuh hidup identik dengan sang ayah yang tanpa malu mengelabuhi rakyat negaranya.

Ia mendekat, terus mendekat pada pemuda bersurai jelaga yang membeku di tempanya. Sementara, pemuda lain yang berdiri dipaku tembok, mengap-mengap seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Jangan mendekat!” teriak si pemuda berkepala oranye bercampur rasa takut.

Ankou tidak akan bicara apa pun, toh hanya bangsa peri yang mampu memahami tutur katanya.

“Kumohon … temanku tidak bermaksud menyebut nama Anda barusan. Kami hanya bercanda.” Pemuda itu unjuk gigi lagi, ketakutan masih menguasai, tapi rasa peduli terhadap teman lebih membuatnya berani. Padahal ia tengah berhadapan dengan sesosok peri yang bisa saja merenggut nyawanya dalam satu kedipan mata.

Ankou mendekatinya, dan ….

“Ambil saja nyawaku! Winwin lebih punya masa depan dibanding aku!”

Sang Kematian mengajarkannya satu hal, bahwa tegas adalah ciri khas seorang Ankou—peri pembawa kematian. Tidak boleh goyah dan tidak pantas takut pada apa pun. Maka, ketika ada permohonan semacam ini, tugas tetaplah tugas, ia tidak bisa memberikan belas kasih sekecil biji sawi pun.

Korbannya adalah Winwin dan temannya bukanlah tanggungan Ankou. Lantas prosesi penyerahan nyawa ia lakukan diiringi jerit pahit pemuda yang perlahan merosot; kehilangan tumpuan kakinya.

Lagi-lagi takdir bicara, tidak ada yang punya nasib sama persis dengannya. Nyawa manusia yang ia ambil malam ini punya kisah lain, punya keberuntungan yang dulu hingga sekarang tidak ia miliki. Sahabat. Itulah mengapa Ankou dikuasai iri hati dan cepat-cepat melayangkan nyawa korbannya, ia muak untuk mengingat dan meratapi kemalangan yang tidak ada ujungnya. Dan berencana segera memenuhi target nyawa yang selama ini dikumpulkannya, untuk menemaninya berpesta di Neraka.

—END—

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s