[Write Your Mythology] Finding Illustration

photogrid_1483598023470

Finding Illustration

©2017 || difanfanxiu99

[NCT FFI 1st Anniversary Event] – Write Your Mythology

Starring by [NCT] Zhong Chenle (ft. [NCT] Huang Renjun)

Genre : Myth, School life, || Sub Genre : Science-Fiction || Myth Creature : Garuda

Leght :  Vignette (1250+ > 2000 words) || Rate : General

.

.

.

.

.

.

.

Suasana kelam nan sunyi menyelimuti ruang yang telah dihuni beberapa manusia di dalamnya. Dengan seseorang pria paruh baya yang diperkirakan telah berkepala lima lebih setengah-kurang lebih-, yang terlihat sedang mengoceh layaknya seorang ibu mendongengkan anaknya di saat malam hari hendak tidur. Sedangkan 40 manusia kecil atau mungkin sedang-yang bisa dibilang muda, atau bahasa manusia disebut remaja beranjak dewasa yang mencari jati diri-mereka semua melakukan suatu hal yang hampir sama satu dengan satu lainnya, yaitu suatu kegiatan yang tentu bukan memperhatikan pria paruh baya tukang mendongeng tadi, -setidaknya itu julukkan yang sering diserukan oleh beberapa manusia sedang di ruang itu-.

Kelas 1-3, yang saat ini sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan bidang studi Sejarah. Dengan Kim Saem, yang semenjak setelah 3 menit bel pergantian jam pelajaran ke-5 sudah memulai aksi mendongengnya.

Sesosok manusia sedang yang duduk tepat dipojok kiri ruang dekat jendela yang telah sukses terbius dengan alunan indah kalimat-kalimat yang dilontarkan si pria tua paruh baya di depan kelas.

Sebenarnya tidak hanya dia. Ada sosok manusia sedang yang lain. Tidak lain tidak bukan ia adalah teman si manusia sedang pojok kiri. Tepat samping kanannya sesosok manusia sedang lainnya penghuni kelas 1-3 yang memiliki rupa sedikit lebih baik daripada manusia sedang pojok kiri tadi. Zhong Chenle dan Huang Renjun,  si manusia sedang pojok kiri dan manusia sedang samping si pojok kiri.

Ahh lupakan tentang Huang Renjun. Mari fokus pada sosok manusia sedang yang diketahui bernama Zhong Chenle. Seorang manusia sedang, ah baiklah mari sebut saja anak. Karena ia belum genap 16 tahun juga. Jadi masih pantas disebut anak meskipun dia telah memasuki SMA.

Zhong Chenle seorang anak keturunan Chinese,  yang mengikuti jejak orang tuanya yang pindah ke negeri ginseng ini. Sebenarnya bukan mengikuti jejak. Tapi mau tidak mau,  harus ikut dan menyesuaikan diri lagi di negeri ginseng itu.

Anak remaja yang beranjak dewasa sedang mencari jati dirinya. Chenle yang sudah merasa bahwa dirinya tertarik dengan ilmu sosial atau ilmu umum. Karena semenjak sekolah dasar, Chenle lebih mudah menghafal nama atau jenis manusia purba yang telah ditemukan dan diteliti dari pada harus bergelut dengan sejuta rumus matematika ataupun fisika atau lagi penyusun rantai makanan di sawah. Chenle bisa rumus matematika, itupun hanya rumus sederhana dan tidak rumit. Rumus luas bangun datar dan volume bangun ruang, contohnya.

Sejak Chenle memutuskan jika dia berbakat dalam ilmu sosial atau umum-menurutnya- Chenle memilih program jurusan yang ada di SMA-nya, tentu menjurus dengan bakatnya. Lalu ia dijatuhkan pada kelas 1-3 dan dipertemukan sesosok remaja yang tidak jauh berbeda dengannya.

Huang Renjun yang memiliki rupa sedikit lebih baik dari pada Chenle-oke ini menurut Chenle-. Sebenarnya Renjun itu jauh lebih tampan dari pada Zhong Chenle. Chenle saja yang tidak mau kalah. Renjun remaja keturunan Chinese juga.

Dengan kesamaan yang sama-sama keturunan Chinese, Chenle dan Renjun menjalani hari-hari mereka menjadi pasangan sejoli yang disebut sahabat sehati selamanya.

Kembali pada suasana sunyi dalam kelas 1-3. Kim Saem yang masih setia mendongeng sambil fokus memperhatikan deretan huruf yang tertera pada setiap halaman buku di depannya. Tiba-tiba Kim Saem tertarik untuk mendongak sejenak memastikan 40 manusia sedang di hadapannya mendengarkan baik apa yang telah ia jelaskan-karena bagi Kim Saem dia sedang mengajar bukan mendongeng-.

Kedua manik yang telah rabun disambung dengan kacamata plus-nya menangkap sebuah objek yang menurutnya menarik.

“Jadi bagaimana menurutmu tuan muda Zhong?” tatapannya menatap lurus pemuda Zhong itu.

“Y-ya  s-saem? ” ucapnya gagap. Bagaimana tidak disaat sedang asyik akan menyeberangi jembatan menuju alam mimpinya yang baru setengah jalan tiba-tiba dikagetkan dengan namanya yang terpanggil lalu mendapat sorot mata yang bisa dibilang ambigu dan aneh.

“Bagaimana menurutmu tentang mitologi yang telah saya jelaskan?”

Hening sejenak,

Chenle masih bingung dan belum seutuhnya sadar dengan situasinya.

“Eung… ee.. ee, m-maaf s-saem. Saya tidak tahu, ” jawabnya dengan menampakkan rentetan gigi rapi nya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan jari telunjuknya.

Ahh, jadi sepertinya saya telah bercerita terlalu panjang sehingga membuat Zhong Chenle terlarut dalam suasana, sampai-sampai ia tidak bisa menerima apa yang telah saya sampaikan.” ujar Kim saem yang diikuti smirk gagal (tidak terlihat seperti smirk) karena wajahnya terlalu banyak kerutan, ah maklum sudah berumur beliau.

Chenle walau ia tidak paham tentang kode-kode huruf dan angka atau simbol dalam kimia ataupun fisika. Tapi Chenle tanggap dengan apa yang telah diucapkan Kim saem dengan smirk yang kentara gagalnya.

Dalam batin Chenle berkata, Pasti ada sesuatu. Dia sangat yakin akan hal itu.

“Setelah pulang sekolah, segeralah menuju perpustakaan. Anda belajar disana mempelajari tentang salah satu mitologi yang terkenal yang telah saya sebut tadi. Saya ingin kamu pelajari tentang mitologi hindu garuda. Besok anda maju ke depan dan presentasikan apa yang telah anda pahami. “

Tebakkan batin Chenle tepat. Benarkan. Pasti ada apa-apanya. Tepat saat Chenle hendak menjawab kembali perintah Kim Saem,  bel pergantian jam terakhir bebunyi, lalu Kim Saem mengucapkan salam sampai jumpa dan meninggalkan kelas.

Ahh baiklah,  tidak apa. Setelah jam terakhir Chenle akan pergi ke perpustakaan. Toh ia belajar, jadi tidak ada ruginya.

***

 

***

 

“Huang Renjun! ” merasa dirinya terpanggil, sesosok manusia sedang itu memutar lehernya mencari seseorang yang menyerukan namanya. Siapa lagi kalau bukan manusia sedang pojok kiri,  Zhong Chenle. “Ada apa? ” jawab Renjun.

“Temani aku belajar di perpustakaan, ya,” sambil memasang raut wajah cutie setengah memelas berharap Renjun bisa luluh akan rayuannya.

“Tidak bisa, hari ini aku sudah ada janji dengan Lami untuk menemaninya, jadi aku pergi dulu. Selamat belajar Zhong Chenle! Fighting! ” balas Renju dengan tangannya yang mengepal lalu mengangkatnya memberi semangat pada Chenle, sembari mengumbar senyum yang melelehkan kaum gadis terlebih lagi ABG yang masih labil. Sambil ia melangkah menjauhi tempat keberadaan Chenle.

Sial

Chenle ditolak Renjun.

Tak apa,  lebih baik sendiri supaya lebih konsentrasi. -pikir Chenle-

***

 

***

 

Chenle berkutat dengan sebuah buku tebal bertuliskan “Mythology” pada halaman covernya. Buku itu sudah lama tidak dibuka. Terlihat dari aromanya. Tak lupa juga setumpuk buku serupa yang dengan sumber berbeda penulis berbeda yang turut menemani Chenle yang telah setia menunggu sampai Chenle membelainya lembar demi lembar.

Apa semua buku tebal itu akan dibaca Chenle? Hah, tentu jawabannya TIDAK. Lalu untuk apa setumpuk buku tebal itu diambilnya? Jawabannya untuk dicari gambarnya. Gampar apa? Tentu saja gambar makhluk mitologi yang sedang ia cari.

Makhluk Garuda.

Gila!

Bukan, tapi memang sebenarnya Chenle sudah paham tentang apa itu mitologi dan ia juga paham beberapa mitologi yang terkenal. Salah satunya ya Garuda.

Karena memang Chenle sudah tertarik dengan pengetahuan sosial atau umum sejak dulu sekali. Karena memang Chenle yang memiliki sifat ingin tahu yang berlebih atau trend nya disebut dengan “kepo”.

Berawal mula Chenle yang menonton sebuah anime Jepang yang entah apa judulnya tapi ada tokohnya yang digambarkan setengah burung setengah manusia disebut karura (sebutan garuda di Jepang). Maka dari itulah Chenle mulai mencari tahu. Sampai akhirnya ia benar-benar tahu.

Lalu mengapa saat ditanya Kim Saem ia tidak bisa menjawab?

Itu karena Chenle belum genap tingkat kesadarannya yang terkejut dan terbangun dalam posisinya yang masih perjalanan menuju alam mimpi.

Lalu-lagi- apa alasannya ia mencari gambarnya jikalau memang dia sudah paham tentang garuda? Itu karena memang Chenle selama ini belum menemukan sebuah gambar atau ilustrasi yang menggambarkan seekor garuda yang jelas-menurutnya. Paling-paling ia cuma menemukan yang biasa-biasa saja, atau ya anime tontonannya waktu kecil itu. Gambar atau ilustrasi yang telah ia temukan tidak sesuai ekspetasinya.

Omong omong mitogi Garuda,

Seperti yang Chenle tahu, Garuda adalah salah satu mitologi hindu. Diceritakan dalam buku Mahabarata dan Purana dari India.

Ia juga pernah membaca jika Garuda itu makhluk mitos yang digambarkan sebagai burung perkasa, Setia kawan, dan berani.

Konon katanya Garuda adalah rajanya burung -burung.

Musuh bebuyutannya ular.

Kereta kencana milik Dewa Wisnu untuk pergi kemanapun.

Bahkan dalam buku pun diceritakan jika Garuda juga memiliki keluarga. Memiliki istri dan anak. Memiliki orang tua. -dalam dongeng Mahabarata-

Karena memang dasarnya Chenle anak remaja yang masih mencari jati diri dan jiwa antusiasmenya sangat tinggi. Ia berandai-andai bisa melihat garuda.

Terlihat bodoh memang.

Karena sudah jelas Garuda itu hanya sebuah mitos.

Tapi tergantung keyakinan sih. Tapi jika kamu bertanya pada ilmuan, atau bahkan seorang ahli pun. Akan menjawab itu tidak mungkin.

Chenle sudah beberapa kali membayangkan ia bisa bejumpa dengan seekor Garuda. Bisa melihat langsung sinar terang bak api dari sayapnya. Bisa menyaksikan langsung terbang cepatnya juga melihat bagaimana gagahnya Garuda itu. Melihat rupa Garuda yang konon diceritakan memiliki wajah putih. Tubuh emas-nya, tangan dan kakinya seperti layaknya yang dimiliki manusia. Memiliki kepala, ekor, dan paruh seperti burung Elang.

Sungguh Chenle ingin melihatnya.

Maka dari itu Chenle berusaha mencari sebuah ilustrasi gambar Garuda yang sekiranya bisa memuaskan rasa penasaran yang sangat membuncak.

Sedari tadi Chenle sibuk menyibakkan lembar demi lembar buku yang telah ia ambil. Dengan telaten jemarinya lihai membalik balik setiap halaman. Mencari eksistensi sebuah gambar.

Sebenarnya mudah saja untuk mencari ilustrasi Garuda saja. Hei,  kita ini hidup di zaman modern. Hanya perlu mengetikkannya di sebuah kolom pada search engine lalu klik enter. Sudah. Semua akan muncul. Tidak perlu repot repot dan ribet seperti Chenle.

Tapi Chenle? Ohh entahlah apa yang dipikirkannya. Mungkin Chenle tidak bisa menggunakan search engine. Bukan tidak bisa, tapi belum pandai.

Chenle masih polos,  bung.

Ia tidak mau berurusan dengan internet jika dia masih ada cara lain untuk memperoleh informasi. Karena internet berbahaya untuk Chenle yang masih remaja ABG yang masih labil.

Biarkan saja dia. Lama-lama ia akan lelah. Lalu menyerah. Kemudian pasrah. Mungkin ia ditakdirkan hanya menonton anime yang menggambarkan Garuda saja.

Juga sudah jelas bukan, sebenarnya Chenle sudah paham akan BAB mitologi. Mitologi Garuda. Jadi untuk materi presentasinya besok ia sudah tidak perlu pusing memikirkannya. Hanya saja ia masih belum menemukan ilustrasi yang ia harapkan.

Tapi omong-omong. Sebenarnya Chenle pun dari tadi masih memikirkan sesuatu yang tidak kunjung mendapat jawaban.

Sebuah pertanyaan simpel, tapi jawabannya entah.

Sedari tadi otak Chenle bekerja memikirkan, Mythology itu masuk dalam ilmu pengetahuan apa? Ah maksudnya masuk dalam mata pelajaran apa? Karena nyatanya dalam pejalajaran Bahasa Inggris pun mempelajari tentang Mythology dalam BAB narative text.

Ahh entahlah,

Chenle pusing.

Sangat.

Baru juga beberapa hari masuk sekolah setelah beberapa minggu libur sekolah. Ia langsung mendapat tugas.

Itupun gara-gara ia sendiri yang asyik menikmati perjalanan menuju mimpinya dari pada memperhatikan Kim Saem berdongeng. Karena percayalah jika kalian ada di kelas Chenle saat itu, pasti kalian juga akan melakukan hal sejenis dengan Chenle. Karena mimpi lebih menarik dari pada aksi pembacaan dongeng Kim Saem. Siapa tahu dalam mimpi bisa bertemu nuna cantik dan oppa tampan.

Sial memang mengerjakan tugas sendiri tanpa teman menemani. Tapi bagaimana lagi? Itu sebuah kewajiban setiap siswa bukan? Mengerjakan tugas yang telah diberikan seorang guru?

Chenle masih terus membuka halaman demi halaman. Matanya melotot memperhatikan setiap ada gambar pada halaman yang ia buka.

Chenle tak berhenti mencari sebuah gambar yang jelas akan sosok garuda itu.

Karena sosok Chenle belum menyerah. Akan menyerah entah berapa lama saat kemudian. Tak akan lama lagi Chenle akan menyerah, kok. Karena Chenle itu bukan tipikal orang yang betah belajar. Apalagi yang ia cari tak kunjung ia dapatkan.

Juga karena sebentar lagi-

“Nak, sampai kapan kau akan terus disini bersama buku-buku itu.-

perpustakaan ditutup.

“Cepat bereskan dan belajar di rumah, atau kau akan aku kunci tinggalkan disini sendiri? ” tutur seseorang berkumis tebal dengan raut wajah mengintimidasi sekaligus jahil mengusik ketenangan Chenle dengan kawan-kawannya -buku-buku-.

Akhirnya Chenle bangkit dan merapihkan buku-bukunya.

Ia tidak mau terkurung dikunci di dalam sebuah perpustakaan horror ini.

Juga, sebenarnya ia risih dengan kumis si penjaga perpustakaan yang sangat lebat.

Karena itu sangat menggelikan menurut Chenle.

fin.

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s