[Write Your Mythology] Regna Terrae

1484233612638

Regna Terrae

A story about NCT’s Lee Jeno and OC Charlotte Douma (mentioned IOI’s Somi Douma)

Vignette | Myth and Greek, Horror, Supranatural | PG-15

Mythological Gods and Creatures : Samael

I only own the plot and OCs.

.

“Jarang ada kematian yang membuatku sesenang ini.”

.

Malam ini hujan.

Senada dengan rintik air menghujam bumi, likuid merah pekat mengalir perlahan dari goresan cutter. Aroma anyirnya memenuhi ruangan nan sempit. Charlotte meringis. Kendati sakit, dia tetap melanjutkan syarat terakhir ritual: persembahan darah.

Menelan ludah, Charlotte kembali melukis garis demi garis dengan darah. Lilin-lilin sudah terpasang sejak tadi di tempat yang ditentukan. Kegelapan malam didukung absennya sang dewi malam melengkapi suasana.

Tidak ada salahnya memanggil musuh malaikat, pikir Charlotte. Toh, ‘malaikat’ pula yang menyeret keluarga si gadis ke dasar neraka.

Ketika selesai, Charlotte bangkit dari posisi. Dia berdiri di tengah lingkaran yang penyok di sana-sini, hasil gambaran tangannya. Gambar bintang enam sisi ada di dalam lingkaran tersebut dengan warna yang tak kalah merah dari bingkainya. Charlotte tersenyum puas melihat hasil kerjanya.

Gadis itu lantas menyulut api untuk menyalakan lilin-lilin di tiap ujung bintang. Sembari melakukan itu, mulutnya berkomat-kamit menggumamkan mantra.

Lilin terakhir menyala tepat saat Charlotte menyelesaikan pemujaannya. Dia mengisap darah yang masih mengalir. Memejamkan mata, dia menikmati rasa besi dingin hingga masuk ke kerongkongan.

Jadi ini sensasi ajal mendekat yang dirasakan keluarganya?

Terlalu banyak darah menghiasi kejadian itu, bahkan di memori Charlotte. Bibir pucat adiknya bahkan menjadi semerah apel ketika Charlotte menemui Somi Douma untuk terakhir kali. Pasti si bungsu malang tersedak darahnya sendiri sebelum meregang nyawa.

Saat matanya terbuka, Charlotte membayangkan eksistensi sosok seram seperti yang dia lihat di film horor Hollywood. Dalam rekaannya, Charlotte akan menjerit. Lalu makhluk itu, seperti apa pun wujudnya, akan tertawa hingga memecahkan gendang telinga Charlotte.

Satu, dua.

Hingga hitungan ketiga belas, tidak ada yang terjadi. Kehadiran makhluk astral yang diidam-idamkan tak kunjung muncul.

“Sialan,” desis Charlotte. Sudah pasti artikel yang dia pakai sebagai kiblat untuk ritual ini tidak lebih dari sekadar isapan jempol seorang maniak misteri. Pasalnya, gadis itu yakin benar sudah melakukan semua langkah dalam ritual, plus mengucapkan mantera sefasih mungkin.

Charlotte menubrukkan diri ke dinding. Pandangannya mendadak berkunang-kunang. Kemungkinan, gambar sialan itu menghabiskan stok darahnya.

Ngilu di sisa lukanya makin menjadi. Walau pendarahan sudah berhenti, rasa sakit tidak mau hilang begitu saja.

Mau tak mau, Charlotte menunduk. Luka ini tak boleh meninggalkan bekas, atau akan dia tutupi serapat mungkin. Dia tidak ingin seisi kelas heboh menyatakan simpati palsu atas goresan besar berdarah di lengan kanannya.

“KYA!”

Teriakan Charlotte lolos begitu saja. Irisnya membulat, mulutnya membentuk oval sempurna. Pecahan kaca, entah dari mana, tiba-tiba menancap di lokasi lukanya.

Bola mata Charlotte menjelajah seisi ruangan dalam kecepatan penuh. Memindai semua peralatan berbahan kaca yang mungkin ia pecahkan tanpa disadari.

Cerminnya utuh. Jendelanya sehat walafiat. Ponselnya pun tergeletak manis di nakas dekat ranjang, tidak bergerak.

Charlotte putus asa. Dia berusaha menyentuh pecahan kaca untuk mencabut benda tajam itu, tapi suara petir menggelegar tiba-tiba, membuatnya menggores telapak tangan kiri dengan benda yang sama.

Napas Charlotte makin memburu. Timing-nya untuk menarik dan membuang oksigen tidak teratur, seiring dengan upayanya menjauh dari lingkaran setan. Lilin-lilin mati mendadak ketika kilat menyambar.

“AAAH!” Charlotte menjerit sekali lagi pada udara kosong.

Sementara, malam bertambah gelap bagi Charlotte. Seolah gejala anemia, ngilu yang ditinggalkan luka, dan kunang-kunang jahanam itu tidak cukup. Kali ini, pening singgah di kepalanya. Seperti dihantam palu berkali-kali. Charlotte berteriak, merengek entah pada siapa.

Kalau pun Tuhan ada, pasti Dia sedang tertawa melihat polah si dara.

“Ckck. Apa itu? Mengecewakan.”

Alih-alih melihat sosok iblis merah penuh darah seperti ekspektasinya, Charlotte malah menatap punggung seorang pemuda. Spontannya menyeret diri dengan kedua kaki menuju pojok ruang, menghindari sosok asing itu.

Charlotte berusaha mengumpulkan keping-keping kesadaran. Ketika bercak kuning dalam penglihatannya berkurang, dia menemukan siluet seorang pemuda. Dengan latar belakang langit tak berbulan, sosok itu tampak seperti manusia biasa. Pengecualian untuk sepasang sayap hitam yang menghias punggung tegapnya.

“Padahal kupikir kau mengharapkan sesuatu yang lebih seram.” Pemuda itu mengalihkan pandang ke kanan, tepat di mana cermin seluruh badan milik Charlotte terpasang. “Dengan penampilanku, kupikir aku gagal memenuhi harapanmu. Tapi ternyata kau pengecut juga.”

Mata Charlotte berkilat penuh harap. Dia sudah melantukan pujian untuk si penghuni neraka, jadi tak ada salahnya jika minta pertolongan sekarang.

“Tolong aku. Kumohon.”

Pemuda itu bergeming. Dia berjalan melewati lingkaran setan. Sekarang, darah Charlotte sudah mulai mengering, menghasilkan warna kehitaman yang memuakkan.

Dia beringsut mendekati Charlotte. Tidak memedulikan benda yang terjatuh karena sambaran sayapnya. Membuat Charlotte menyerah karena tak ada jalan untuk kabur lagi.

“Bagaimana kalau kenalan dahulu?” Dia berjongkok, menyamakan tinggi dengan Charlotte. Kemudian senyumnya mengembang, terlalu lebar hingga matanya berubah bentuk menjadi sepasang bulan sabit. Damn. Dia sangat manis. “Aku Lee Jeno.”

Charlotte melongo. Suaranya hanya cukup untuk satu rintihan pelan. Belum lagi, dia harus menahan ngilu di kedua tangan akibat serpih kaca misterius.

“Kau yang melakukan ini?!” Charlotte mengangkat lengan kanannya hati-hati. Bahkan dengan keadaan fisik yang lemah, dia mampu melihat refleksi kebahagiaan dari manik kelam Jeno ketika makhluk itu melihat benda yang menancap di tangan. Seperti menatap istana kaca saja. “Kalau itu kau, bisa cepat lepas ini dan tolong aku?!”

Jeno mengedikkan bahu. Ia membuang muka dari paras Charlotte. “Jangan asal menuduh, dong. Hanya iblis rendahan yang melakukan hal semacam itu.Lagipula aku tidak memperkirakan kalau kau memanggilku hanya untuk minta tolong.”

“Aku memanggilmu?” Otomatis, Charlotte melirik lingkaran setan beserta lilin mati di sudut tengah kamarnya. “Kau ini iblis?”

Lagi-lagi, Jeno tidak memberi respon memuaskan. Dia bahkan membalikkan badan untuk memunggungi Charlotte. Di tengah keheningan malam, Charlotte sanggup mendengar suara detak jantungnya sendiri.

“Aku bukan salah satu dari makhluk yang kau panggil. Mereka itu sampah, rendah, menjijikkan. Aku lebih tinggi dari itu.” Jeno bergidik, lalu mengangguk-angguk. Seperti puas dengan perkataannya sendiri.

Si pemuda kembali memusatkan atensi ke cermin. Mengelus wajahnya lantas tersenyum bangga. “Aku tertarik padamu, karena itu aku berkunjung. Walau aku tahu kau mengharapkan sesuatu seperti ini.”

“ARGH! Sialan! Dasar iblis!”

Dalam kecepatan suara, Jeno muncul di depan mata Charlotte. Fitur wajah sempurnanya hilang, diganti dengan wajah setengah terbakar serta otak yang menyembul dari sela tengkorak remuk. Darah mengalir hingga mulut, membuat Charlotte menelan ludah lagi. Teringat akan rasa pahit logam yang sempat mampir di lidah.

Charlotte mual. Kendati horor adalah genre favoritnya dan Somi, tapi ini berbeda. Yang membuat lambungnya makin melilit, wajah itu tidak asing.

“Eh? Takut pada ayahmu?”

Charlotte mengeluarkan umpatan lagi. Jeno tertawa. Parasnya berangsur-angsur berubah seperti semula.

Charlotte meludah. Berharap dengan itu, semua rasa sakit serta mual dapat ia keluarkan.

“Kalau bukan iblis, lalu kau ini siapa?”

“Lee Jeno. Bukannya aku sudah bilang?”

“Demi Tuhan!” desak Charlotte. Ia menggigit bibir, berusaha menahan sakit yang bertalu-talu menghujam raga. “Kalau tidak berminat membantuku, pergilah!”

Tanpa dinyana, Jeno tergelak. Saking gelinya, dia sampai harus melipat sayap hitam bak burung gagak untuk jatuh berguling-guling.

“Barusan kau bilang apa? Tuhan? Masih mengharap kasih-Nya, padahal kau sudah terang-terangan berkhianat? Dasar tidak tahu malu!”

Charlotte tertohok. Dia yang normal tidak akan mau kalah dalam perdebatan, tapi energinya sudah terkuras habis.

“Aku Samael, kalau kau mau tahu,” celetuk Jeno tiba-tiba. Kedua bibir makhluk itu terangkat. Charlotte kini mengerti. Semakin dia menderita, maka senyum Jeno akan bertambah lebar.

“Samael?” Charlotte meringis. “Berandal yang tersenyum saat orang lain sekarat, maksudmu?”

Sepintas, Charlotte melihat kilat kemarahan di ekspresi Jeno. Hal itu tidak berlangsung lama karena dia seperti mendapat serangan jantung tiba-tiba.

Charlotte tergeletak. Napasnya mulai terputus.

“Malaikat kematian tidak selalu bergembira saat menarik jiwa seseorang. Aku tidak tersenyum sama sekali saat melihat jasad ibumu remuk dilindas truk.”

Charlotte memejamkan mata. Dia tidak mau memori buruk itu diulik lagi. Baru dua bulan sejak kecelakaan maut yang merenggut keluarga Charlotte secara paksa. Dan semenjak itu, Charlotte bukan sosok di masa lalu lagi.

Tawanya pudar. Presensinya seperti hantu: antara ada dan tiada.

Tangan Jeno terulur, mencekik Charlotte. Sentuhannya lembut, tapi tenaga Charlotte sudah habis. Gadis itu tidak bisa melakukan apa pun selain menendang-nendang dengan percuma. Persis orang gila yang mengemis nyawa.

“Charlotte Douma, kau tahu kenapa aku kemari menggantikan mereka yang kau panggil?” tanya Jeno lembut. Wajah mereka begitu dekat hingga Jeno mampu merasakan embusan udara Charlotte. Sedang si dara menggeleng lemah, megap-megap minta dikasihani.

Jeno menambah kekuatan. Charlotte makin tak keruan. Bola matanya berlarian ke sana ke mari dalam sudut tidak beraturan. Rona wajahnya raib sudah.

“Untuk mengambil nyawamu, Sayang!” seru Jeno, lalu tertawa puas.

Seluruh tubuh Charlotte melemas. Dia menarik kata-kata tentang kenikmatan di kala ajal mendekat. Sensasi darah yang masih membekas di mulutnya itu lezat luar biasa, antara perpaduan penderitaan dan keindahan tiada dua. Sedang sakit yang ia tanggung saat ini berbeda. Rasanya membuat kau ingin menyobek kulitmu dan mengeluarkan organ dalam lantas mencabik-cabik hal tersebut dengan liar.

“Kau membuatku menikmati pekerjaanku setelah sekian lama.” Jeno kembali berucap. Setengah pandangan Charlotte sudah tertutup kabut hitam, tidak fokus pada apa pun yang mampu dia rekam.

“Terima kasih, ya.”

Pandangan Jeno melembut, seiring dengan kendurnya cekikan pada leher Charlotte. Charlotte yakin badannya masih menggantung di udara. Meski matanya terpejam, dia bisa merasakan kehangatan tubuh Jeno mendekap miliknya.

“Buka matamu,” perintah Jeno. Nadanya menenangkan, sejuk. Charlotte melihat iris kelam Jeno berubah sewarna darah.

Sang Samael lalu melumat bibir Charlotte sekilas, tanpa mampu gadis itu tolak. Seringainya muncul kemudian, makin lebar seiring berkurangnya detik yang dimiliki Charlotte.

Ketika uap terakhir susah-payah diembuskan Charlotte dari sela bibirnya, seringaian Jeno lenyap. Mendadak semua hal tidak terasa asyik lagi. Melihat gadis itu kesakitan membangkitkan adrenalin Jeno. Bahkan melebihi pengalamannya selama beribu-ribu tahun menyaksikan korban tiang gantungan atau siksaan cat’s paws.

Jeno memiringkan kepala. Ia mengangkat tubuh Charlotte ke ranjang, menidurkan gadis itu seolah masih bernyawa. Dia tidak repot-repot mencabut pecahan kaca yang sengaja dia bawa dari surga kelima khusus untuk Charlotte.

Prang!

Cermin di pojok kamar pecah. Jeno memungut serpihan kaca, lalu menggenggamkan keping paling besar ke jari-jari Charlotte. Tidak mengaduh sedikit pun tatkala benda tajam itu ikut menusuk telapak tangannya.

Jeno memandangi karyanya dengan sempurna. Ini masterpiece yang sudah dia nantikan sejak lama. Senyumnya tersungging begitu lebar saat dia mengepak sayap, menyelesaikan tugas hari ini.

.

“Charlotte Douma. Mati 12 Januari 2017. Penyebab, bunuh diri.”

 

-end.

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih pada staff dari NCTFFI yang mengizinkan saya berpartisipasi dalam event ini. Kalian semua luar biasa ^^)b

Soal fiksi ini, sejujurnya saya nggak begitu puasㅠㅠ dan saya nggak yakin kalau ini horror karena tidak seram sama sekali:’) maafkan:’)

Sekian celotehan saya, terima kasih sudah baca, hehe. Let me know your thoughts about this story on comment box!

Advertisements

2 thoughts on “[Write Your Mythology] Regna Terrae

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s