[Ficlet-Mix] Bloody Valentine

bv

Bloody Valentine

A fiction by Angela Ranee; Angelina Triaf; Cho Hana

[NCT] Jung Jaehyun

Genre: Crime, Creepy | Duration: 3 Ficlets | Rating: PG-15

~~~

[1]

Kantor kepolisian Gangnam sedang sibuk malam itu. Aparat kepolisian baru saja membekuk seorang pria yang tertangkap basah sedang mencuri di salah satu minimarket setempat. Seminggu sebelumnya, pria muda tersebut memang sudah masuk di dalam daftar pencarian orang lantaran kepolisian menerima banyak laporan pencurian yang sudah ia lakukan.

“Nama?”

“Jung Jaehyun.”

“Usia?”

“Dua puluh.”

“Pekerjaan?”

“Mahasiswa dan pencuri paruh waktu.”

Pria berseragam polisi yang duduk di hadapan Jung Jaehyun mengangkat wajah, melempar tatapan aneh kepadanya. “Apa yang kau maksud dengan pencuri paruh waktu?”

“Seperti yang kau tahu,” Jaehyun menggaruk kepalanya dengan santai. “Akhir-akhir ini aku selalu mencuri setiap malam.”

Pria ini tidak waras, batin sang polisi sementara jemarinya menari-nari dengan lincah di tuts keyboard laptopnya. “Berdasarkan laporan yang kami terima, kau diketahui telah mencuri dari toko ke toko di kawasan Gangnam.”

“Iya, aku tahu.”

“Barang-barang yang kau curi, antara lain adalah bunga dan cokelat.”

“Iya.”

“Bisa tolong jelaskan apa motivasimu melakukan semua tindakan tersebut?”

Well…” Jaehyun menepuk tangannya satu kali. “…I just simply hate Valentine’s Day.

***

Alarm pencuri itu meraung-raung memekakkan telinga, diiringi dengan teriak histeris para pegawai minimarket yang berhamburan keluar, beberapa berusaha mengejar sang pembuat ulah namun tidak berhasil. Sejujurnya, sejak awal mereka sudah menaruh curiga pada pria berpakaian serba hitam yang menyambangi minimarket tersebut dua puluh menit sebelumnya. Benar saja, tanpa tedeng aling-aling, ia berlari keluar dengan cokelat berbagai macam merek di tangannya, tentu saja tanpa membayar sepeser uang pun pada petugas kasir.

Seluruh pejalan kaki yang berada di sekitar minimarket tampak kebingungan. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri, belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang tengah terjadi. Beberapa yang sudah paham bahwa baru saja terjadi pencurian lantas mengamankan barang berharga masing-masing.

Jaehyun tidak berhenti berlari, sekalipun kakinya mulai terasa pegal dan paru-parunya nyaris meledak. Tidak sengaja ia jatuhkan beberapa batang cokelat dalam usaha kaburnya tetapi ia peduli setan, yang ia harus lakukan sekarang adalah terus berlari, mengikuti kemana pun kakinya mengajak ia pergi.

“Hei, berhenti!” hardik sebuah suara berat, kira-kira beberapa puluh meter di belakang punggungnya. Tentu saja hardikan tersebut tidak cukup untuk membuat Jaehyun berhenti maupun sekadar menengok ke belakang. Suara itu tidak berhenti menghardiknya, diiringi suara derap kaki yang nyaris mengimbangi langkah Jaehyun, hingga akhirnya sang pemilik suara berhasil menubruknya dan membekuknya dalam hitungan detik.

“Keparat!” umpat pemilik suara itu lagi. “Akhirnya aku berhasil mendapatkanmu, ikut aku sekarang!”

***

“Aku benci hari Valentine, karena sedari kecil aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk merayakannya,” ucap Jaehyun. “Tidak ada satu pun dari teman-temanku yang mau memberikanku cokelat atau bunga di hari Valentine.”

“Apakah kau tahu apa alasannya?” petugas di hadapan Jaehyun kembali bertanya.

“Mereka bilang aku pencuri, jadi aku tidak pantas mendapatkannya.”

“Jadi kau memang sudah memiliki kebiasaan buruk itu sejak kecil?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu apakah ini buruk atau tidak,” Jaehyun mengendikkan bahu. “Semua orang bilang aku memiliki kleptomania, tapi istilah itu terasa begitu asing dan rumit di telingaku.”

“Kleptomania?”

“Jujur saja, aku lebih suka menyebutnya dengan ‘mengambil apa saja yang kau inginkan tidak peduli kapan dan di mana’.”

Petugas kepolisian itu berhenti mengetik, lantas mengangkat wajah dan menatap lurus ke arah Jaehyun. “Sepertinya saya sudah mendapatkan cukup data dari Anda, Tuan Jung,” ucapnya. “Tapi saya harap Anda tetap tinggal di sini, sementara saya akan menghubungi atasan saya untuk menanyakan keputusan apa yang harus kami lakukan selanjutnya.”

Jaehyun hanya menjawab dengan anggukan. Petugas itu menutup laptopnya, beranjak dari bangku tempat ia duduk sebelumnya, kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu keluar ruang interogasi. Belum sempat tangannya menyentuh daun pintu, Jaehyun berdeham cukup kencang.

Officer, sepertinya kau melupakan sesuatu.”

Ia menoleh, melotot tatkala menyadari apa yang tengah berada di tangan Jaehyun sekarang. “Benda ini terlihat begitu menarik di saku pistolmu, jadi aku mengambilnya. Sebentar, bagaimana cara menggunakannya? Apakah aku harus menarik pelatuknya seperti ini…”

“Tuan Jung, kumohon segera letakkan senjata api tersebut atau Anda akan mendapat lebih banyak masalah—“

“…kemudian melepaskannya seperti ini?”

Bang!

Selanjutnya hanya ada sunyi, hingga suara Jaehyun kembali mengudara dengan nada bingung, ”Oh, Officer, katanya kau mau menemui atasanmu? Mengapa sekarang kau malah berbaring di lantai?”

~~~

[2]

Semua orang pasti begitu familiar dengan tanggal empat belas yang jatuh di bulan Februari. Ya, hari itu dinobatkan sebagai hari kasih sayang sedunia. Entah apa alasannya—padahal menurut desas-desus yang beredar, tanggal empat belas Februari adalah hari dimana seorang Uskup bernama Valentine dieksekusi mati karena kelancangannya melanggar perintah Kaisar Romawi Claudius II. Lalu kenapa hari kematian seseorang itu dijadikan hari kasih sayang? Namun, daripada kita memusingkan berbagai teori tentang hari Valentine, bukankah kita lebih baik fokus pada lakon utama dalam cerita ini?

Jung Jaehyun. Dia adalah lakon utama dalam cerita ini. Ia membenci hari Valentine. Bukan karena ia tak mendapat coklat atau hadiah seperti siswa lain sebayanya yang sangat populer di sekolah, namun karena tak ada satu pun yang mengingat perihal hari kelahirannya. Ya, tepat pada tanggal empat belas Februari pemuda dengan senyum misterius itu berulang tahun.

“Kenapa semua orang selalu sibuk hari ini?”

Krek.

Jaehyun mematahkan tangan sebelah kanan hingga terputus dari tubuhnya.

“Kenapa semua orang terlalu heboh pergi ke toko coklat? Apa yang mereka dapatkan dari sana?”

Krek.

Kini giliran tangan sebelah kiri yang ia eksekusi.

“Kak, hentikan. Kumohon hentikan.”

Seorang gadis kecil dengan rambut bob-nya yang lucu itu menangis—memohon agar sang kakak menghentikan aksi mengerikannya. Jaehyun mengalihkan atensinya pada gadis itu. Seulas senyum misterius terukir di wajahnya.

“Eunha-ya, tidak apa-apa. Jangan takut,” Jaehyun berusaha menenangkan sang adik, namun Eunha sudah terlanjur diselimuti dengan rasa takut. Ia hanya bisa bersembunyi di balik meja sambil menyaksikan aksi heroik sang kakak yang membuatnya semakin terisak.

“Hentikan saja semuanya, Kak. Kenapa kakak melakukan ini? Apa kakak marah pada seseorang?” Eunha bertanya sambil berusaha menyeka air matanya sendiri.

Jaehyun semakin memperlebar senyumnya lalu tanpa aba-aba mencongkel sepasang biji mata berwarna hitam—membuat sang adik lekas membungkam mulutnya sendiri agar tak berteriak. Kini lantai rumah mereka sudah dipenuhi dengan noda kemerahan khas darah. Membuat Eunha hampir saja muntah saat bau anyir itu mulai merebak.

“Maafkan kakak, Eunha-ya. Kau pasti takut melihatku sekarang bukan?” Jaehyun menghela napas panjang lalu menampilkan raut wajah tak bersalah—yang nampak ribuan kali lebih menyeramkan daripada wajah seorang psikopat. “Kakak hanya sedang kesal. Semua orang sibuk membeli coklat dan hadiah untuk kekasih dan teman mereka masing-masing, tapi kenapa tidak ada satu pun yang mengucapkan selamat ulang tahun pada kakak? Kakak merasa sangat sedih, Eunha-ya.”
“Kakak,” Pelan-pelan Eunha meringkuk keluar dari bawah meja. Ia menghampiri Jaehyun lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang. Untuk sesaat diabaikannya rasa jijik pada darah yang tergenang di bawah kakinya. “Jangan sedih, Kak. Semua orang mungkin melupakan kakak, tapi tidak denganku. Bukankah tadi malam—tepat pada jam dua belas—Eunha sudah mengucapkan selamat ulang tahun pada kakak?”

Jaehyun kembali menarik kurva senyumnya. Perlahan-lahan raut wajahnya mulai berubah normal kembali, “Ya, itu benar. Kau adalah orang pertama yang mengucapkan ulang tahun padaku dan mungkin juga akan menjadi satu-satunya.”

Eunha ikut menarik sudut bibirnya lalu tangan kecilnya mengusap pelan surai kecoklatan milik Jaehyun, “Kakak tidak perlu sedih. Masih ada Eunha di sini. Jika semua orang melupakan keberadaanmu,  ingat saja bahwa masih ada Eunha yang akan selalu mengingatmu.”

Senyum Jaehyun menjadi kian lebar. Lama manik mereka bersirobok sebelum akhirnya Jaehyun kembali membuka bibirnya yang terkatup, “Kau memang adik yang baik, Eunha-ya. Terima kasih sudah tetap berada di sisiku selama ini. Oh ya, karena hari ini hari ulang tahunku, bolehkah aku meminta hadiah padamu?”

“Hmm apa?” Eunha menatap Jaehyun dengan raut bingung.

“Carikan aku boneka yang baru. Kau lihat ‘kan? Boneka yang ini sudah rusak. Carikan aku boneka yang lebih besar lagi. Kali ini aku mau yang laki-laki. Cari yang usianya sebaya denganmu saja.”

Eunha kembali menarik garis senyumnya lalu mengangguk pelan, “Baiklah. Di sekolahku ada seorang murid pindahan dari Tiongkok. Namanya Winwin dan ia memiliki keterbelakangan mental. Kurasa aku bisa menjadikannya boneka untuk Kakak besok.”

Ya, pada dasarnya Eunha memang harus mencarikan boneka untuk sang kakak—tanpa diminta sekalipun—karena jika tidak, maka dirinya sendirilah yang akan dijadikan sebagai pengganti boneka itu.

~~~

[3]

Valentine itu apa?

Pertanyaan sederhana semacam itu bisa dijawab dengan berjuta jabaran tak rasional jika terpaksa harus terlontar dari bibir Jaehyun.

Pasalnya, ia memiliki banyak kenangan di tanggal empat belas Februari tiap tahunnya. Seumur hidup, dimulai sejak ia berusia lima belas tahun.

.

Ketika usiaku lima belas tahun, selingkuhan ayah memberikan tiga kotak cokelat dengan variasi rasa dan warna yang menurut remaja seusiaku seperti surga. Sangat cantik dan kelihatan lezat, setiap kotak itu berisikan lima belas butir permen cokelat.

Esok hari tepat di tanggal empat belas Februari, semua teman sekelas memberikanku selamat dan beberapa dari mereka membawakanku hadiah ulang tahun. Awalnya senyum merekah tanpa bisa kucegah terus terpajang di wajahku, tapi sayangnya harus luntur begitu saja.

Di tanggal enam belas, pemakaman umum dipenuhi oleh nisan dengan nama-nama temanku, sedangkan tante yang memberiku cokelat sudah tak pernah lagi berkunjung ke rumah setelahnya.

.

Ketika usiaku enam belas tahun, ayah menitipkanku pada salah satu paman yang tinggal di Bucheon. Paman Jeon memiliki sebuah boneka teru-teru bozu super besar yang katanya hanya ia keluarkan setiap bulan Februari. Hari ini sudah pertengahan Februari. Paman bilang bahwa ayah telah mengiriminya uang untuk membelikanku kue ulang tahun dan hadiah.

Di rumah hanya tinggal aku berdua dengan si teru-teru bozu. Karena iseng, aku pun mengambil salah satu pisau daging dari dapur dan berencana untuk mengetahui apa isi dari kain putih pembungkus boneka itu. Bukan kapas atau kapuk yang kudapati, melainkan cairan merah yang keluar seperti air mancur, mengenai separuh wajahku. Uh, menjijikkan.

.

Ketika usiaku tujuh belas tahun, salah satu teman sekolah mengajakku untuk mencoba alkohol di rumahnya. Karena ayah pergi dinas dan aku bosan di rumah sendirian, akhirnya aku ikut saja walaupun sebenarnya tidak tertarik untuk minum. Bertepatan dengan Valentine, sepertinya ada beberapa orang temanku yang akan mengajak kekasihnya, mungkin juga mereka akan melakukan ‘itu’, aku tak terlalu peduli.

Tempat pesta gelap kami jatuh di kediaman mewah milik kakeknya Yoocheol yang sepi. Memang dasar mesum, baru saja minum tiga tegukan, semuanya meninggalkanku dan Ren berdua di ruang tengah, pergi dengan pacar masing-masing. Berhubung Ren masih ingin minum dan kepalaku sakit, jadi aku izin pulang duluan sebelum mabuk sungguhan dan tak bisa pulang.

Esoknya, lagi-lagi pemakaman umum dipenuhi dengan nama-nama temanku. Kata Ren, rumah Yoocheol dirampok malam itu, bertepatan saat aku sudah sampai rumah dan Ren baru saja berjalan pulang beberapa langkah dari sana, hingga terdengar suara tembakan brutal yang membuatnya langsung lari terbirit.

.

Ketika usiaku delapan belas tahun, anak kelas sebelah menyatakan cinta padaku. Namanya Shin, gadis yang cantik dan katanya baik. Karena tak ada salahnya memiliki kekasih, maka kuterima dan kami pun mulai menjalani hubungan.

Sayangnya, aku melihat Shin mencium pemuda lain di kelasnya seusai acara kenaikan kelas. Kalau tidak salah, pemuda itu salah satu senior kami yang baru saja lulus. Ingin tahu apa yang kulakukan setelahnya?

Memberikan cokelat Valentine pada Shin, dengan racun sama persis yang tante waktu itu berikan padaku.

.

Ketika usiaku sembilan belas tahun, ibu tiba-tiba pulang ke rumah saat ayah katanya akan lembur dan pulang tengah malam. Bukannya menyapa dan memelukku, ia justru sibuk menggeledah lemari pakaian di kamar ayah, mencari beberapa kotak perhiasan dan mungkin sertifikat rumah yang ayah simpan di sana.

Tanpa pikir panjang, aku segera mencari seprai putih baru di kamarku, membekap ibu dan membungkusnya lalu mengikat tepat di bagian leher. Seakan takdir, tak lama ayah pulang dan kaget mendapatiku yang sudah duduk di ruang tamu dengan sesuatu yang besar berbalut kain putih tergeletak di sampingku.

“Nak, apa itu?”

Kutusukkan pisau ke sembarang arah, sampai cairan merah keluar membasahi kain putih bersih itu. “Oh, ini? Boneka teru-teru bozu seperti milik Paman Jeon. Aku membuatnya sendiri.”

.

Ketika usiaku dua puluh tahun, salah satu kakak tingkat mengajakku berpesta di rumahnya. Lagi-lagi karena bosan sendirian di rumah, akhirnya aku ikut saja, toh ayah juga tidak akan pulang untuk tiga hari. Karena sudah legal untuk minum alkohol, maka aku minum lebih banyak dari saat pertama kali mencobanya.

Rasanya aneh, dan sensasi pusing di kepalaku berbeda dengan rasa mabuk. Sepertinya kakak itu mencampurkan sesuatu dalam minumanku.

“Jaehyun sayang? Sepertinya kau sudah mabuk. Ayo kuantar ke―”

Dor!

“Oh, maaf, Kak. Kepalaku pusing dan tanpa sadar mengeluarkan pistol ini dari belakang bajuku. Kau tidak apa-apa? Darahmu keluar banyak sekali.”

.

Saat ini, Jaehyun telah berusia dua puluh satu. Setiap tanggal empat belas Februari, bukannya merayakan hari ulang tahun apalagi Valentine, ia malah datang ke pemakaman umum. Bukan untuk berdoa, melainkan untuk menghitung seberapa luas lagi tanah kosong untuk mengubur mayat di sana.

Karena Jaehyun yakin bahwa hidupnya masih panjang, dan tak ada yang bisa menjamin bahwa tidak ada kejadian mengejutkan lagi yang akan ia alami nantinya.

Tanpa sengaja membunuh ayahnya sendiri, misal. Siapa yang tahu?

fin.

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet-Mix] Bloody Valentine

  1. Eunha – ya, jangan Winwin, kumohon. cari yang lain saja
    tega banget pake Winwin segala, yang lain yang lain
    .
    .
    .
    ini fanfict dapet banget feel saiko nya..
    genre paling favorit pokoknya

    Liked by 1 person

  2. Kopas komen yg atas… Sicheng….
    Btw idenya creepy bgt tapi suka, terutama yg ficlet ketiga ditulisnya dgn gaya tersirat gitu jadi rasanya lebih creepy hehe, Keep writing to you all!

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s