[Ficlet] Rascally

project-26-15

Rascally

[2nd] Project 26

By : Febby Fatma

Drama, Romance, Friendship, Family, Hurt/Comfort

PG-13

Cast :

Nakamoto Yuta (NCT)

Nikaido Ran (OC)

Disclaimer : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini. Semuanya murni hasil pemikiran saya. Mohon tidak copy-paste atau memplagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat membaca~

0o0o0o0o0

Bukan hanya sekali dua kali Ran melihat Yuta berkelahi melawan kakak kelas di sekolah. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak luka yang Yuta dapat dari perkelahian melawan preman di daerah tempat tinggal mereka. Tapi Yuta tidak pernah jera. Hampir tidak pernah mendengarkan omongan Ran untuk berhenti membuat masalah.

Ran bukannya ingin ikut campur masalah lelaki—ia sama sekali tidak mengerti tentang itu dan memilih untuk tidak pernah mengerti juga, tapi Ran tidak bisa diam sama setiap kali menlihat Yuta pulang babak belur. Tidak bisa diam saja setiap kali mendengar ibunya Yuta marah—sampai menangis—hanya karena ingin Yuta berhenti jadi berandal.

“Memang apa kerennya berandal itu?”

“Memangnya siapa yang berandal?”

“Kau. Nakamoto Yuta.”

Ran menunjuk Yuta.

Yuta memang bukan laki-laki yang kasar di mata Ran, tapi dia mendapat perhatian lebih dari teman-teman yang lain karena kebiasaan berkelahinya itu. Menurut mereka Yuta menyeramkan. Dekat dengan Yuta akan menimbulkan sebuah masalah. Yah, walau tetap saja ada yang menggilai Yuta karena alasan itu; keren, pemberani, atau manly, kurang lebih seperti itu.

Ran mengakui kalau Yuta pemberani dan keren, tapi manly itu sebuah kata yang sepertinya tidak pantas untuk Yuta saat ini. Masih terlalu dini untuk mengatakan Yuta seperti itu. Hobinya masih berkelahi dan lelaki yang manly tidak punya hobi seperti itu—menurut Ran.

Lagi pula anak laki-laki yang tidak mau mendengarkan omongan ibunya mana pantas mendapat pujian manly.

“Yuta, jangan berkelahi lagi.”

“Berisik. Kau seperti ibuku saja.”

“Ibumu benar, kau harusnya lebih sayang pada tubuhmu. Kan sayang kalau babak belur terus.”

“Jangan menceramahiku.”

Ran hanya teman masa kecil yang—kebetulan—selalu menempel pada Yuta. Menjadi beban bagi Yuta dan menjadi pengawas Yuta. Walau nyatanya Ran tidak begitu berhasil mengawasi Yuta.

“Aku mengatakan itu karena aku perduli padamu, bukan karena ingin menceramahimu.”

“Terseralah.”

“Yuta~!”

“Aku tidak suka perempuan cerewet. Lebih baik kau enyah dari hadapanku.”

Ran membelo, barusan Yuta mengusirnya. Untuk pertama kali seumur hidup Ran ada orang yang memerintahnya untuk enyah. Dadanya linu bukan main karena perkataan Yuta. Setelah menggebrak meja kantin yang mereka tempati Ran berteriak.

“YUTA BODOH!”

Lalu meninggalkan Yuta sendiri di sana. Perduli setan dengan pandangan orang-orang, Ran tidak bisa menahan amarah dan rasa sakit sudah diperlakukan seperti itu oleh Yuta.

“O—oi, Ran. Tunggu—”

Kalau orang lain yang mengatakannya Ran pikir tidak akan sesakit ini. Tapi ini Yuta, Nakamoto Yuta yang baru saja mengusirnya. Teman masa kecilnya, laki-laki yang selalu melindunginya, laki-laki yang ia sukai.

Ran tahu, ia cerewet. Bukan hanya sekali dua kali Yuta mengatakan itu. Akira, kakaknya juga sering mengatakan itu, tapi tidak pernah Ran merasa salah bersikap seperti itu. Begitulah caranya menunjukan keperdulian, begitulah caranya menunjukan perhatian. Tapi Yuta justru memerintahnya untuk menghilang. Yuta justru menganggap dirinya perempuan yang mengangganggu.

Kalau saja menganggap orang tidak ada itu mudah sudah sejak dulu Ran menjauhi Yuta. Karena memang awal-awal pertemanan keduanya dimulai dari Yuta yang begitu tertarik bermain dengan gadis tetangga yang baru pindah. Rasa kasihan mungkin. Tapi Ran menerima pertemanan yang Yuta tawarkan karena Ran pikir ia bisa balik memberi Yuta hal yang hanya Ran yang bisa memberinya. Seperti Yuta yang melindunginya dan mengajaknya bermain.

Ran ingin melakukan itu.

Walau hanya dengan mengingatkan Yuta untuk berhenti berkelahi. Ran ingin bisa memberikan sedikit pengaruh pada diri Yuta.

Dan yang ia dapat justru … diusir.

“Sudahlah, Ran. Nakamoto-kun pasti tidak sengaja mengatakannya.”

“Tapi itu sangat keterlaluan, Chiyo. Dia mengusirku! Dia lebih suka berkelahi dari pada aku.”

“Tidak mungkin seperti itu. Nakamoto-kun pasti lebih menyukaimu.”

“Buktinya dia tidak mau berhenti berkelahi sekalipun aku yang meminta.”

“Mungkin Nakamoto-kun hanya sedang dalam mood yang buruk, lain kali dia pasti akan minta maaf padamu.”

Di luar hujan deras. Ran tidak langsung pulang walau sudah membawa payung, dia tidak ingin bertemu Yuta di jalan pulang dan sengaja menghabiskan waktu lebih lama di kelas bersama teman sekelasnya. Sedikit berbagi cerita tentang pertengkaran kecil antara dirinya dan Yuta tadi lebih baik dari pada berpapasan dengan orang yang siang tadi memerintahnya untuk enyah.

Begini-begini Ran cukup pendendam. Sekalipun itu Yuta. Dan karena itu adalah Yuta.

BRAK!!

Pintu kelas di geser kasar. Sosok gadis dari kelas sebelah yang sangat Ran kenali mendekat.

“Ran, Yuta sedang berkelahi lagi.”

“Hah?”

“Tadi di jalan pulang aku lihat dia dicegat beberapa orang menyeramkan, dibawa ke lapangan dekat sungai.”

Tanpa aba-aba Ran membawa tasnya. “Terima kasih informasinya, Yuzuki. Aku pulang duluan.” Kemudian berlari secepet yang ia bisa untuk menghampiri Yuta. Payung yang ia gunakan tidak terlalu memberi efek karena sebagian besar seragamnya tetap basah tertimpa hujan.

Sampai di tempat yang temannya katakan Ran bisa melihat dengan jelas Yuta yang tiduran di tanah, meringkuk tertimpa hujan.

Dan karena itu adalah Yuta, sekalipun Ran mendendam tidak akan pernah bisa Ran mengabaikan keadaan Yuta yang seperti itu. Perlahan Ran mendekatinya, tidak ingin begitu mencolok. Memberikan payungnya menutupi sebagian besar tubuh Yuta dan membiarkan tubuhnya basah tertimpa hujan.

Hal lain yang Ran ketahui, Yuta tidak selalu menang dalam perkelahiannya—terbilang sering kalah. Makanya Ran ingin Yuta berhenti berkelahi dan menyakiti dirinya sendiri.

“Apa yang kau lakukan?” Ran berjongkok di dekatnya. Membiarkan Yuta bangun. “Ayo pulang. Kau bisa sakit kalau tidur di bawah hujan.”

Sambil membawa payung untuk menutupi mereka yang sudah basah kuyup Ran memapah Yuta. Dari pada bersusah payah membuat Yuta berdiri dan mau berjalan Ran lebih suka menyeret paksa Yuta untuk pulang dengannya.

“Huuh~ untung kau masih baik-baik saja. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padaku.” Hanya itu keluhan yang Ran ucapkan setelah meninggalkan lapangan. Ran tidak mau banyak bicara, Ran hanya ingin Yuta mengerti kalau ia perduli pada Yuta, ingin Yuta lebih menjaga diri untuk dirinya juga, hanya itu.

“Ran, maaf untuk yang tadi.”

0o0o0o0o0o0o0

[1] Image Pic : HoneyWorks — ウルフMV Character

[2] Inspirasinya dateng dari MV itu sendiri walau sebenernya arti lagunya nggak sama kaya jalan cerita. Tapi suka aja bikin Yuta jadi anak nakal yang takluk oleh kebaikan gadis keras kepala. Jadi inget seseorang~

[3] Segitu aja dariku. Febby Pamit~~

 

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s