[Chaptered] Introvert Squad (8화)

jhtysj

“Introvert Squad” by Mingi Kumiko

 NCT Taeyong & Jaehyun, Gugudan Sejeong, and DIA Chaeyeon (also mentioned : SVT DK & GFriend Yuju) 

bromance, friendship, school life, romance  PG-13 

Previous Chapter
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6A | 6B | 7

Apa seperti ini rasanya bergaduh membicarakan hal tak jelas bersama teman-teman? Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan setelah sekian lama berkutat dengan dirinya sendiri di dalam kelas, berinteraksi seperlunya. Ternyata mengasyikkan juga.

.

.

Entah mengapa degupan jantung yang mengiringi langkah Jaehyun menuju kelas terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Apa mungkin karena peristiwa yang terjadi di jam pelajaran matematika kemarin? Namun Jaehyun tak memiliki pilihan lain, ia tetap harus memasuki kelas agar dapat mengikuti pelajaran—yang sebenarnya tak seberapa ia inginkan, namun apa yang bisa ia lakukan kalau itu sudah jadi kewajiban? Apapun yang terjadi nanti ia tak mau memikirkannya dulu.

“Se, selamat pagi…” ucapnya dengan suara yang tergugu-gugu. Seketika seluruh atensi penghuni kelas pun teralihkan padanya.

“Kau sudah datang, Jae?” sambut Byungchan.

Ne….” Jaehyun berusaha bersikap sewajar mungkin guna menutupi rasa gugupnya. Seketika ia berpikir, hal semacam ini, kan, harusnya dapat dengan mudah ia atasi. Tapi mengapa jatuhnya jadi begitu canggung?

“Kau bisa duduk di sini, Jae…” ucap Seokmin seraya menepuk-nepuk bangku di sebelahnya, menunjukkan tempat di mana Jaehyun boleh duduk.

“Oke…” tandas Jaehyun singkat.

“Permisi, ya…” ucap Pemuda Jung itu sambil menarik kursinya, namun belum sempat ia menduduki kursi tersebut, matanya menangkap sesosok Yuju yang ternyata ada di belakang Seokmin. Jaehyun tidak kesal dengan Yuju, sungguh tidak. Namun ia tak tahu mengapa jantungnya langsung berdegup saat mengingat sorot tajam itu tak sama sekali berubah saat ia melihatnya hari ini.

Hm, mungkin aku bisa cari tempat duduk lain…” Jaehyun coba mendorong kursi yang ia tarik ke tempat semula.

“Duduk saja di situ, tidak usah sungkan karena aku ada di sini.” celetukan itu sontak membuatnya menoleh ke empunya suara, siapa lagi kalau bukan Choi Yu Ju.

Entah Yuju yang memang pandai menebak isi hati seseorang, atau mungkin hanya gelagat Jaehyun saja yang terlalu kentara hingga Yuju mesti repot-repot menegurnya untuk tetap duduk di situ.

“Juga, aku minta maaf masalah kemarin… mungkin aku terlalu kasar.” imbuh Gadis itu seraya mengubah posisi tangannya menjadi bersedekap di atas meja.

“Tidak hanya kasar, kau juga sangat menyeramkan, Nona Choi…” sahut Seokmin yang langsung disambut oleh tepukan keras Yuju di pundaknya.

Aish, apo!” yang barusan menerima serangan pun berdecak protes.

Hm, mungkin memang harusnya ada orang sepertimu agar aku bisa mengubah sifatku. Terima kasih, Yuju-ya… kalau kemarin kau tidak marah-marah, mungkin masalah ini tidak akan pernah selesai.” ujar Jaehyun.

“Jangan memujinya berlebihan, nanti dia bisa salah tingkah!” cibir Seokmin menanggapi ujaran Jaehyun.

YAK! Kau dendam, ya, padaku?!” Yuju memekik tertahan karena sedari tadi Seokmin terus menyela konversasinya dengan Jaehyun.

Apa seperti ini rasanya bergaduh membicarakan hal tak jelas bersama teman-teman? Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan setelah sekian lama berkutat dengan dirinya sendiri di dalam kelas, berinteraksi seperlunya. Ternyata mengasyikkan juga.

.

.

“Sejeong-a!” seru Taeyong dengan riang pada seorang gadis yang tengah duduk sendirian di depan ruang kesehatan. Dahi lelaki itu mengernyit karena sapaannya barusan tak dihiraukan oleh Sejeong. Buru-buru ia mengambil langkah untuk menghampirinya.

“Pantas saja ia tidak dengar, ternyata sedang melamun.” gumam Taeyong. Ia pun kemudian coba menepuk pundak gadis itu dengan pelan hingga gadis itu mendongakkan kepala.

“Hei, Tae!” seru Sejeong setelah menyadari eksistensi pria berkulit mulus itu.

“Sedang melamunkan apa?” tanya Taeyong yang lantas mengambil posisi duduk di sebelah Sejeong.

“Entahlah, hanya sedang menghayati alunan musik.”

“Boleh aku mendengarnya juga?” tanya Taeyong.

“Tidak bisa, Taeyong…” jawaban Sejeong membuat Taeyong kecewa.

“Ah, kau pelit sekali!” pemuda itu pun mengambil satu bilah sisi headset dari telinga Sejeong secara paksa dan menempelkannya ke telinganya sendiri.

“Kenapa tidak terdengar musiknya?” heran Taeyong sambil melepas kembali headset tersebut.

“Kan aku sudah bilang tidak bisa, headset-ku mati sebelah.”

“Tapi kenapa tadi saat kupanggil kau tidak dengar?”

“Suaramu kan memang sangat lirih kalau sedang bicara, mungkin kau kurang keras saat memanggilku.”

“Benarkah? Kenapa aku tidak pernah menyadari itu?” gumam Taeyong. Benar juga, lagi pula ini baru pertama kali untuknya menyapa seseorang dari jarak yang jauh. Dia, kan, memang kalem dan tak terbiasa berbicara keras-keras.

“Mana aku tahu?” Sejeong mengedikkan bahu sambil memasang ekspresi tak acuh.

Hening kembali menyelimuti karena Sejeong agaknya tak seberapa memiliki topik untuk dibicarakan. Akhirnya Taeyong lah satu-satunya pihak yang susah payah berpikir tentang obrolan untuk mencairkan suasana.

“Apa kau sering menekuk headset-mu?” celetuk Taeyong.

“Entahlah, aku tidak seberapa ingat. Baru rusak tadi pagi, sepertinya karena tidak sengaja tertarik ritsleting tasnya Chungha. Sayang banget, padahal ini benda kesayanganku.”

“Sini, biar kulihat…” Taeyong menjulurkan tangannya.

“Untuk apa?” tanya Sejeong. Meskipun tak seberapa yakin ia tetap melepaskan headset-nya untuk diberikan pada Taeyong.

“Mungkin masih bisa diperbaiki.”

“Aku hampir tidak pernah lihat orang memperbaiki headset. Biasanya kalau rusak beli baru lagi.”

“Kau bilang ini benda kesayanganmu?”

“Iya juga, sih… tapi memangnya kau bisa memperbaikinya?”

“Akan kucoba perbaiki di ruang Joseph ssaem…”

“Kenapa kau bawa ke sana?” heran Sejeong.

“Biasanya beliau membawa perkakas sederhana, siapa tahu aku boleh meminjamnya untuk memperbaiki headset ini.”

“Kalau begitu aku ikut.” Sejeong lantas beranjak dari bangku panjang yang ia duduki, mengambil langkah menuju ruang sarana bersama Taeyong.

Sesampainya di ruang kecil yang tak jauh dari ruang kesehatan, keduanya pun celingukan saat mendapati suasana ruangan yang lengang.

“Joseph ssaem… apakah Anda ada di dalam?” ucap Taeyong.

“Oi, aku di sini! Masuklah,” seketika terdengar sahutan suara berat yang menggema dari balik lemari. Segera Taeyong mengajak Sejeong untuk menghampiri Kepala Kurikulum SMA Monzen tersebut.

Ssaem, apakah aku boleh meminjam beberapa peralatan bengkelmu?” tanya Taeyong pada pria paruh baya yang sedang sibuk menggulung kabel roll itu.

“Oke, tapi jangan lupa menulis barang apa saja yang kau pinjam di buku inventaris.”

“Terima kasih, ssaem…” Taeyong lantas berbalik dan segera mengambil peralatan yang hendak ia gunakan untuk memperbaiki headset—dengan Sejeong yang terus mengikutinya di belakang.

Ia memutar kenop multi tester hingga mencapai angka yang ia kehendaki dan mulai mendeteksi kabel mana yang putus.

“Ah, letak kerusakannya di sini.” serunya saat mendapati multi tester yang ia tempelkan dengan kabel headset itu mengeluarkan bunyi.

“Kenapa kau bisa tahu ilmu semacam itu?” tanya Sejeong yang sedari tadi cuma bisa terlongo saat melihat Taeyong berkonsentrasi menggunakan multi tester.

“Karena buku yang aku baca dua minggu yang lalu. Bagaimana, tidak percuma, kan, aku mengunjungi perpustakaan setiap Sabtu?”

“Kau keren sekali!” Sejeong mengacungkan kedua ibu jarinya pada Taeyong.

Gadis berambut sebahu itu tanpa henti menitikkan fokusnya pada pemuda yang tengah berkutat dengan beberapa peralatan elektro itu.

OMO! KENAPA KAU MALAH MEMOTONG HEADSET-KU? KAU MERUSAKNYA, TAE!” panik Sejeong kala mendapati Taeyong yang tanpa pikir panjang langsung memotong kabelnya dengan gunting.

“Merusak apanya, sih? Cara memperbaikinya memang harus dipotong dulu. Kemudian kabelnya dikelupas untuk menyambungkan tembaga yang sudah putus. Nanti disambung lagi dengan isolasi.” Taeyong berkelakar untuk meluruskan kesalahpahaman.

Jeongmalyo?” Sejeong langsung memasang raut kikuk. Bersusah payah menyembunyikan ekspresi malunya.

“Hahaha, kau sangat konyol ketika panik.” Taeyong menunjukkan deretan gigi putihnya untuk menertawai tingkah lucu Sejeong.

“Maaf, habis aku tidak tahu…”

“Mau kubantu?” tanya Sejeong saat melihat Taeyong kesulitan membakar solasi.

“Jangan, ini sangat panas. Nanti kau terluka.” tolaknya halus.

“Kau meremehkan aku, ya?” tukas Sejeong.

“Aku tidak bohong, kalornya sangat cepat menjalar. Mau coba?” tiba-tiba Taeyong menodongkan korek yang ia pegang ke arah Sejeong.

Hm, tidak usah, deh! Hehehe… habis aku tidak enak hati kalau cuma melihat tanpa membantu.”

“Tidak apa-apa, kok… itu lebih baik daripada terjadi apa-apa dengan tanganmu.” ucapan lembut Taeyong barusan membuat Sejeong terpaku. Lelaki di hadapannya itu benar-benar baik hati dan jantan.

Taeyong memberi sentuhan terakhir pada pekerjaannya dengan menempelkan beberapa helai solasi lagi agar lebih kencang dan rapi.

“Sudah selesai kuperbaiki. Cobalah,” Taeyong menyerahkan headset itu pada Sejeong. Gadis itu pun mengeluarkan ponsel dari saku almamaternya untuk memutar musik. Namun sebelum ia sempat menuju menu playlist, Taeyong sudah terlebih dahulu menengok ponsel Sejeong.

Wah, kau menggunakan foto saat kita pergi ke museum salju sebagai lockscreen!” ucap pemuda itu dengan raut gembira yang tak sanggup ia sembunyikan.

“Habisnya… aku kelihatan cantik di foto itu.” Sejeong beralibi.

“Kupikir karena kau suka jalan-jalan denganku, hahaha… peace, cuma bercanda, kok!” Taeyong menyengir kikuk dan hanya dibalas dengan seringaian tipis oleh Sejeong. Ia pun coba memasang kedua sisi headset di sepasang telinganya.

“Taeyong…” panggil Sejeong dengan intonasi rendah yang terdengar lemah setelah ia mencoba hasil kerja Taeyong barusan.

“Kenapa? Tidak berhasil? Aduh, maaf, ya… Padahal aku ingat betul caranya. Mungkin aku memang enggak berbakat dalam urusan semacam ini. Memperbaiki benda kecil saja enggak becus!” Taeyong buru-buru merutuki dirinya sendiri sebelum Sejeong memberitahu apa tujuannya memanggil pria itu. Wajahnya tertunduk muram karena terlalu kecewa.

“Satu sama! Kau jauh lebih konyol dariku ketika panik, hahaha…” seru Sejeong dan membentuk selengkung bulan sabit lucu di kedua matanya.

“Apa? Jadi kau mengerjaiku?” Pemuda itu sontak memasang raut terlongonya.

“Kekeke, hanya sedikit butuh hiburan.” Sejeong membentuk huruf V dengan  kedua jarinya.

Hul, kau benar-benar membuatku panik! Kalau begitu ayo kembali ke kelas.” tandas Taeyong mengingat jam istirahat akan segera berakhir.

Setelah mengembalikan peralatan yang mereka pinjam dan berpamitan pada Joseph Ssaem, mereka pun melangkahkan tungkai menuju kelas masing-masing. Berhubung arah menuju kelas mereka searah, jadi keduanya bisa berjalan beriringan.

“Terima kasih, ya, sudah memperbaiki benda kesayanganku. Kau sungguh berjasa!” ucap Sejeong sesampainya mereka di depan ruang kesehatan.

“Ah, bukan apa-apa, kok… aku juga senang bisa membantumu.” balas si pemuda Lee malu-malu menunjukkan reaksi tersipunya.

“Kalau begitu aku ke kelas dulu, ya?”

“Baiklah, hati-hati…”

“Eum, Taeyong…” celetuk Sejeong.

“Iya?”

Gadis Kim itu celingukan ke kanan dan kiri. Membuat Taeyong terheran-heran dengan tingkah anehnya. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar mereka—berhubung ruang kesehatan memang jarang sekali dikunjungi karena intensitas siswa tidak enak badan sangat sedikit—Sejeong mengambil beberapa langkah untuk mengikis distansinya dengan Taeyong.

Sebuah kecupan singkat Sejeong daratkan ke pipi tirus milik Taeyong. Yang mendapat perlakukan mengejutkan itu pun sontak membelalakkan mata.

“Aku pergi dulu!” Sejeong buru-buru melenggang pergi sambil tersenyum amat riang tanpa menghiraukan pemuda yang tengah mematung di depan ruang kesehatan itu.

~ TBC ~

Yeayy akhirnya bisa balik post chapter baru ^^ makasih untuk yang sudah mau baca, jangan lupa komen ya… mohon banget2 jangan jadi siders dong 😦 kita para penulis tuh butuh banget kritik dan saran dari kalian. Jadi meskipun separah apapun kekurangan yang dimiliki penulis, tolong kalian sampaikan aja. Kita enggak akan marah kok, berterima kasih banget malah 🙂

Advertisements

24 thoughts on “[Chaptered] Introvert Squad (8화)

  1. Hai. Aku baru aja nemu dan baca series ini. Dan dari apa yang udah aku baca dari chapter awal sampe chapter 8 ini, aku suka banget sama ide cerita dan penyampaiannya yang ringan.
    Cast yang diambil juga cocok banget. Disaat yang lain buat Taeyong dengan karakter badboy dan semacamnya, tapi disini dia jadi karakter yang malu malu gemesin gitu. Entah kenapa cocok banget. Aku suka 🙂
    Dan cast lainnya, Sejeong, Jaehyun, Chaeyon, dan yang paling baru Yuju DK (OTP PALING FAVORIT WKWK) itu juga cocok banget sama karakter mereka disini.

    Pokoknya, tetep semangat ya buat ngelanjutin series ini 🙂 Sorry komentarnya panjang banget hehe.

    Like

  2. Huaaaah akhirnya apdet juga chapter 8 (udah dari kemaren woy!) Entahlah, aku suka kangen sama ff ini, apalagi kalo inget kebegoan tiway kalo lagi deket sama cecans (halah -_-)

    Oke, pertama-tama aku mau jujur kalo chapter ini tuh banyak ‘manis-manisnya’. Aku gak bisa nahan senyum, mulai dari adegannya Jaehyun sampai adegannya Taeyong. Serius! Apalagi yang terakhir itu…. Arrrggghh si Sejeong bikin frustrasi, main ciyom aja ke cowok :’3 Aku nggak bisa kritik apa-apa, terlalu kebawa suasana soalnya ❤ ❤ ❤ ❤ Saking kebawanya sampe rasanya cepet banget & paling benci kalo udah nemu TBC ~

    Oh iya, headset ku juga ada yang rusak. Minta bantuan Taeyong mau gak, ya? /digampar Sejeong/

    Cieee Jaehyun udah akrab sama temen-temennya :v Yuju jangan judas2 dong, kasian atuh si Jaehyun mah :’3 Tapi its okay its love lah ya, karena menurutku Yuju punya sisi baik ❤ ❤ ❤

    Yasudahlah, sekian komentar dari istrinya Mark, sodaranya Jaemin, sohibnya Hechan & Renjun, tetangganya Chenle, kakaknya Jisung, dan sepupunya Jeno yang selalu gak bermanfaat ini 😀 Cuma menang panjang doang, tapi nggak pernah bermakna :’v *peluk Mark*

    Eh, ada Seokmin, ya? *lambai gaje* *minta nomornya Wonwoo*

    Liked by 1 person

    • FF nya aja ngangenin apalagi authornya ya :3 /digampar
      karena daku tak lupa membubuhkan tropicana slim dan le mineral saat nulis FF ini jadi banyak manis2nya kaaak ^^ iya kak, siapa yang engga benci TBC, harus divaksin tuh biar enggak terjangkit penularan dan paru2 tetap sehat /APA SIH LEL
      waduh silsilah keluarganya udah cocok dijadikan hikayat ya kak wkwkwk
      terima kasih kaaak sudah mampir dan komen, tiada komen yang tak bermanfaat bagiku kak :3

      Like

  3. Omooooo
    Chap ini memurnikan otakku dari bromancenya dua cecunguk kapan hari/?
    Pure bliss terutama taejeongnya uhuhuhu i can’t… Tapi jae sdh mulai dpt temen. Akankah Taeyong terlupakan? Plis jangan T.T
    Keep writing anyway!

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s