[NCTFFI Freelance] Stupyd Aquarius (Chapter 1)

stupyd-aquarius

STUPYD AQUARIUS

Author : Cafami  || Length : Chapter ||  Genre : Romance, Freindship, School-Life || Rating : Teen ||
Cast : Lee Sae-Ra, Win-Win, Nakamoto Yuta, Ten, Kim Han-Na, Seo Jun-Nil, Jae-Hyun, Member NCT, Other

Judul FF ini tidak bermaksud menyinggung siapapun, atau menjelekkan siapapun. Karena kebutuhan akan cerita, judul ini tercipta.

Stupyd Aquarius bercerita tentang Kehidupan Fangirls pada umumnya. Mungkin bisa jadi sama seperti apa yang dialami para fangirls/fanboy kebanyakan atau bisa jadi juga tidak, mengingat ini cerita fiksi dan alur disesuaikan dengan kebutuhan. Dan setiap karakter menyesuaikan dengan kebutuhan cerita tanpa bermaksud menyinggung atau mengubah keaslian karakter.

Alur Cerita yang disajikan adalah hasil kerja otak Author yang terinspirasi dari beberapa kejadian nyata dikehidupan Author, drama, mv, dan masih banyak lagi. Jika terdapat kesamaan dengan jalan cerita yang dipunya Author lain, adalah murni ketidak sengajaan. Ff ini juga dipost di Wp pribadi Author, jangan lupa berkunjung hehe  www.cafamism.wordpress.com

-0-

Chapter 1

Sentuhan Pertama

– Aku mungkin memang bodoh dengan segala tingkahku. Tapi, aku tidak bodoh untuk menyadari, aku menyukaimu –

It’s 2017, and i am ready for new life. Dari ketinggian 8000 kaki di udara, bangunan-bangunan pencakar langit tak ubahnya seperti miniatur yang sering dijumpai di taman rekreasi, maksudku, dengan ukuran yang 100 kali lipat lebih kecil lagi, mungkin. Hari ini impianku menjadi nyata, 6 jam 24 menit 13 detik 12 detik 11 detik 10 detik 9 detik, ah, mian. Aku akan menginjakan kaki di Korea, menjadi bagian dari masyarakat Korea untuk beberapa waktu, guess what? Yah, benar. Universitas Seoul telah menerimaku menjadi salah satu mahasiswanya. Mulanya kupikir ini hanya mimpi, tapi Tuhan berbaik hati memberikan kesempatan ini padaku. Aku bukan murid pandai dengan nilai nyaris 100 disetiap ujian, atau murid yang sering mengikuti banyak tambahan belajar setelah jam sekolah, tentu saja bukan. Aku hanya murid biasa yang bertekad menjelajah dunia, dengan kadar kenekatan 84% dan kadar tidak realistis 15%. Korea? Aku tidak tahu, mengapa Korea yang menjadi langkah awalku. Sejujurnya dulu mungkin selama 1 atau 2  hari aku pernah berpikir menjadikan Korea sebagai destinasi keberangkatan, hmm, tapi itu tidak berlangsung lama. Apapun itu aku tahu Tuhan selalu miliki rencana indah dan aku sangat senang bisa terbang di udara dengan burung baja ini. Aku harap ini akan menjadi awal yang menyenangkan dan memberikan kesan yang baik. Semoga saja.

           January, 5 2017

“Yash, jurnalku hari ini selesai” Lembaran buku yang sedari tadi terbuka, kini kembali tertutup dengan sebuah pena yang ikut tersemat.

“Segelas kopi nona?”

“Tidak, terimakasih.”

Pramugrari cantik itu, melajukan kembali troli berisi makanan yang dia bawa ke kursi selanjutnya. “Cantik sekali! Apa dengan tubuh seindah itu aku akan mendapat kekasih di Korea? Tidak, aku kesana untuk belajar, jangan berpikir macam – macam.” Tatapan tajam terarah lurus tak terhalang padaku. Tentu saja, bodoh! Sepertinya aku kembali berbicara sendiri. Dengan malu kugerakkan kepalaku keatas dan kebawah secara perlahan, “maaf..” ucapku nyaris berbisik, dia pasti terganggu dengan sikapku tadi- sangat kentara.

Sesuatu menjalar didalam perutku, didalam pencernaanku lebih tepatnya. Ku rasa ini sudah waktunya mengunjungi toilet, mulas sekali, panggilan alam ini tak tertahankan. Jalan yang diapit oleh dua sisi kursi penumpang tak memberiku batas untuk berlari, rasanya benar – benar tak terhankan. “Permisi” Ucapku pada salah seoarang pramugari yang mengahalangi jalan. “Ah, iya, silahkan nona.” Balasnya dengan senyuman indah. ‘Tuhaan, andai saja kau anugrahi aku wajah secantik itu, tentu saat ini aku telah memiliki kekasih. Kasihan sekali aku, aku bahkan tak pernah berpacaran sekalipun.’

Seseorang menyentuh bahuku pelan, “nona? Bukankah  anda akan pergi ke toilet?”

“Eh- Maaf.” Langkah kaki kembali ku arahkan ketujuan awal, lagi – lagi melamun, wajah bodohku pasti terlihat jelas tadi. “Astaga..” Kedua tangan mengatup sempurna, menutupi rona merah yang meruam di seluruh permukaan wajah, mengidentifikasi rasa malu yang tak terelakan.

“AW!” Dengan kasar tubuh seseorang menabrakku dari belakang, mengambil alih dengan cepat toilet yang hendak kumasuki. “Nyoya kau bisa memasuki toilet jika memang kau sudah tak bisa menahannya,” Aku mencoba kembali mengatur posisi berdiri tegakku, tentu dengan tangan yang terus menggapai untuk mengelus bagian belakang tubuhku yang berdenyut. “Tapi kau tak perlu menabrakku!” Pungkasku dengan intonasi sepelan mungkin. Aku tak benar – benar berharap dia mendengarnya, hanya saja aku cukup kesal jika harus memendam ucapan itu.

“Mian..” Balas seseorang yang kini tepat berada dihadapanku.

“Kau bukan.. Ku kira kau seorang-” Aku benar-benar terkejut, saat ini aku yakin wajah bodoh itu kembali muncul kepermukaan. Kedua halis terangkat bersamaan dengan mulut membentuk huruf O. ‘Astaga tampan sekali, Tuhan, benarkah dia manusia? Tidak. Tidak ada manusia setampan ini. Omo! Apakah dia malaikat? Apa pesawat ini telah jatuh dan aku telah mati?’ Dua jari kuapitkan sempurna kepermukaan kulit lengan, mencubitnya dengan kesar dan “Ahh… Sakit.”

“Kau baik – baik saja?” Wajahnya mendarat nyaris tak berjarak ke wajahku. Membuatku seketika melompat kecil kebelakang, ‘Jangan, jangan ada lagi kejutan, ini tak sehat untuk jantungku’ gumamku dalam hati. Dengan mata bulat sempurna, tatapannya tepat mengarah ke retina mataku. “Aku baik – baik saja.” Pungkasku, memalingkan wajah.

“Ah, sudah selesai. Kemari sayang.” Tubuhnya membungkuk, dia memangku seekor anjing yang baru saja keluar dari toilet khusus wanita.

“Apa – apaan dia” gerutuku pelan.

“Maafkan aku nona, aku benar – benar minta maaf. Kau tahu? anjingku ingin sekali buang air dan semua toilet penuh, aku harus belari untuk memasukinya, jika tidak aku tak tahu apa yang akan dilakukannya.”

“Guuk, guk..” Anjing dalam pangkuannya menggonggong  seolah mengiyakan ucapan sang majikan.

“Gwencana, lagi pula aku tak merasa mulas lagi.”

“Bibirmu..” Usapan lembut jari tangan mendarat sempurna ditepi bibirku, jarinya, jari lelaki itu mengusap tepian bibirku. Jantungku rasanya hampir meledak, aku benar – benar tak bisa bergerak bahkan hanya untuk sekedar menghalau tangannya dari wajahku. Wajah kami kembali berdekatan, tentu dengan jarak, aroma shampoo yang dia gunakan bahkan bisa kucium dengan jelas dari tempatku berdiri.

“Selesai..” Dia tersenyum simpul padaku, begitu manis, begitu memikat, begitu- “Di sini..” Tunjuknya pada tepi bibir sebelah kanan miliknya, “Ada sisa coklat yang kau makan.”

“Mwo?” Secepat mungkin kuusap kasar permukaan bibirku- menahan malu.

“Kau sengaja melakukannya?”

Halisku mengerut menatap dia yang sedang berdiri dihadapanku, dengan tangan yang masih tertinggal dibibir.

“Ini..” Tunjuknya kembali pada tepi bibirnya. “Kau sengaja melakukannya, agar seseorang membersihkannya untukmu?” ekspresinya begitu mengintimidasi, seolah aku benar – benar sengaja melalukan kekonyolan itu dan kini wajahnya benar – benar serius terpusat padaku.

“Tentu saja tidak!” Tanpa sadar aku meneriakinya, membuat para pramugari yang sedang bertugas mengalihkan atensi mereka pada kami. “Mana ku tau ada sisa coklat di bibirku! Aku bahkan tak menemukan cermin dari tadi.” Astaga dia membuatku malu, dia memang tampan tapi tak seharusnya dia melakukan ini padaku, menyebalkan.

“Bercanda.”

‘Astaga astaga astaga, dia kembali tersenyum, tapi.. kentara sekali itu senyum penuh kejahilan, dia mempermainkanku dikali pertama kami bertemu? Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya? bagaimana sebenarnya laju pemikiran orang – orang tampan? Apakah orang tampan memang seperti ini saat bertemu dengan seorang gadis? Hm, tentu saja tidak. Aku tahu, aku memang tidak cantik, jadi dia pikir dia bisa mempemainkanku, pasti begitu.’

 “Freak!” Ucapku mengakhiri semua hal yang kupikirkan tentang lelaki tampan dihadapanku ini.

“Mian..” Dia masih tersenyum simpul padaku, menatapku dengan lekat dengan mata yang pula ikut tersenyum ‘kumohon jangan seperti itu, kau membuat jantungku hampir meledak dengan senyumanmu. Tidak. lelaki ini mempermainkanku, lihatlah betapa bahagianya dia, ku harap kesialanku tak berlanjut hingga ke Korea.’ Aku kembali bergumam lagi.

Langkah kaki kuarahkan kembali ke tempat dudukku, melewatinya membuatku berpikir untuk menbarak bahu yang telah menabrakku tadi, sungguh aku ingin melakukannya. “Cih!” Pungkasku meninggalkan lelaki itu dengan anjing miliknya, namun belum 3 langkah kaki hendak beranjak, sebuah sentuhan kembali kurasakan, kali ini berbeda dan ‘astaga’ Tangan lelaki itu berhasil menggapai lenganku, membalikan dengan sempurna seluruh tubuhku menghadapnya.

“Maaf atas perlakuanku padamu,” Ucapnya dengan tubuh yang dia bungkukkan 90 derajat ke arahku. “Senang bertemu denganmu, namaku Win-Win.” Saat tubuhnya kembali tegak berdiri dan senyum simpul itu dia arahkan padaku lagi, iyah benar padaku lagi, aku benar – benar merasa dunia berhenti berputar. Idiot, aku yakin ekspresi itu yang tengah nampak di wajahku.  Dia benar – benar lelaki tertampan yang pernah kutemui di alam semesta.

Segera saat genggamanya melonggar, kesadaranku’pun ikut kembali. Aku tak tahu harus berbuat apa, langkah ku menarik kaki untuk berjalan mundur, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku, aku hanya membisu menatapnya dengan langkah yang semakin menjauh darinya, untuk kemudian berlari benar – benar meninggalkan lelaki itu.

Nafasku terengah diatas kursi yang sedang kududuki saat ini. Lamunanku kembali menjalar mengambil alih 99% kesadaran otakku ‘Ku akui dia memang tampan, tapi tetap saja dia mempermainkanku. Dia pikir dengan mengusap bibirku dia bisa membuatku jatuh cinta? Tidak akan! Aku tidak akan pernah jatuh hati pada lelaki menyebalkan sepertinya. Tapi bagaimana jika aku akan selalu mengingatnya? dan jantungku akan berlari seperti kuda saat aku mengingatnya. Tidaaaaak. Someone else, setidaknya aku harus jatuh hati pada pria baik – baik, someone else, please!’

“Hey, kau baik – baik saja? Hey!” Sebuah guncangan membuatku nyaris menahan nafas, membuka kedua mata- terkejut. “Wae? Nuguseo?” Ucapku kilat.

“Kau terus berteriak ‘tidaak’ dengan mata tertutup, memegangi kursi begitu erat..” Dia menatapku panik dengan nada bicara yang sama persis. Aku sama sekali tak mengenali perempuan yang kini duduk disampingku. “Benarkah?” Tanyaku mencoba meyakinkan.

“Mm..” Dia mengangguk dengan cepat. Astaga lagi – lagi sikapku seperti ini, dia pasti sangat terkejut-  konyol, “Maaf, kadang – kadang aku memang seperti ini.” Sungguh aku tertunduk malu mengalihkan pandangan, berbicara sepelan mungkin.

“Ku kira ayanmu kambuh, tadinya aku akan memanggil pramugari, jika kau-“

“Aku rasa itu tidak perlu.” Sambar ku, tersenyum semanis mungkin, tidak, aku rasa saat ini justru senyuman terburukku yang tengah nampak.

“Ah, keureu..” Dia balas tersenyum, mengangguk pelan seolah mengiyakan ucapanku. Tentu saja, masalah seperti ini tak perlu di perpanjang.

“Sejak kapan kau duduk disini?” Sebisa mungkin aku mencoba mengakhiri suasana canggung yang tercipta diantara kami, “5 menit yang lalu, lelaki yang duduk disampingmu, tadi memintaku berganti tempat duduk, dia bilang dia ingin mengobrol dengan teman lamanya yang duduk disampingku, begitu.” Ucapnya dengan penuh kehati- hatian. Aku tahu, aku tak akan berhasil memecah suasana canggung ini, lagi pula ini bukan keahlianku.

“Ah, cham, siapa namamu?”

“Eh-” Sekali lagi aku benar – benar terkejut. Aku tak mengira jika percapakan kami akan berlanjut, dia tersenyum ramah padaku. Padahal aku mungkin salah satu spesies manusia aneh yang ditemuinya. “Namaku..” Jujur aku sedikit ragu mengatakannya, mengingat tak ada jaminan aku akan berteman dengan gadis ini.

“Baiklah, kita mulai dariku,” Dia mengambil alih waktuku untuk berbicara, aku rasa dia menyadari aku tak ingin mengatakannya. “Namaku Kim Han-Na, namamu?” Tuntasnya.

“Korean?”

“Mm..” Dia mengangguk mantap. “Siapa namamu?”

“Aku kira kau berasal dari China. Ah, aku Lee… Lee… S..sae-Ra”

“Kau juga orang Korea?”

“Tidak. Ini mungkin terdengar sedikit konyol.. Ibuku sangat mencintai Korea lebih tepatnya drama Korea, dan yah seperti yang kau ketahui namaku memang terdengar seperti aku berasal dari sana.”

“Heol, jinjja?”

‘Lihat itu, gadis ini kegirangan dengan alasan yang kuberikan. Sebenarnya ini memang konyol, namaku selalu jadi bahan lelucon teman – teman saat sekolah dasar atau menengah, jelas saja namaku aneh dan tabu untuk masyarakat tempatku dibesarkan. Tapi, berjayalah aku saat ini, haha, karna aku akan bersekolah di tempat namaku berasal. Tidak ada lagi olok – olok tidak ada lagi keanehan, semua akan terlihat normal dan biasa saja.’

 “Sae-Ra.. Lee Sae-Ra sshi?” Suara lentikan jari terdengar jelas dikupingku. Dan ah, benar saja itu mengarah padaku. “Hm?” Ucapku bingung.

“Jadi apakah kau juga menyukai Korea? Kau juga menyukai drama Korea? Atau menyukai Idol Korea?”

“Tidak!” Seperti terkena sambaran petir, gadis ini tiba – tiba memajukan bibirnya kedepan pertanda kecewa. Oh, ayolah, aku hanya ingin berkata jujur apa jawabanku menyakitinya? Dia tak nampak girang sama sekali, “Maksudku aku menyukainya tapi sedikit, sedikit sekali.” Benar, sesekali berbohong tak akan membuatmu mati, lihatlah perubahan eskpresi drastis itu. Aku tak sampai hati membuatnya menjadi tak bersemangat di pertemuan pertama kami.

“Benarkah? Apa yang kau sukai? Drama, idol, tempat wisata, film, makanan?” Aku rasa dia seperti handphone yang baru saja terlepas dari chargernya, Korea membuatnya begitu bersemangat.

“I..dol?” Aku benar – benar tak mengerti dengan apa yang sedang ku ucapkan. Bantu aku Tuhan.

“Siapa yang kau suka? Exo, Shinee, fx, snsd, suju, gfreind, 17, atau blackpink, twice, got7, atau NCT-” Astaga dia membuatku nyaris tak bisa bernafas. Bagaimana dia mengucapkan nama – nama itu lebih cepat dari rumus kimia yang biasa kupelajari, amazing! “Siapa.. Siapa yang kau suka, siapa?” Dia kembali menanyaiku seolah aku sedang di interogasinya.

“N..n..n-“

“NCT! kau menyukainya? Aku juga, mereka adalah idol favoritku, wah kita memiliki idol yang sama, daebak!” Sekarang tangannya mengapit sempurna selakyanya orang yang sedang berdoa, dia tersenyum bahagia, manis sekali, tapi aku masih tak mengerti, aku harap ini semua segera berakhir.

“Siapa biasmu?”

“Bias?”

“Aku menyukai Jaehyun Oppa, sangat menyukainya. Dia adalah biasku. Tapi aku juga menyukai Taeyong Oppa, Taeil Oppa, Jhonny Oppa, Dooyoung Oppa, Mark, Haechan, Ten Oppa, Jaemin, Yuta Oppa, Raejun, dan. Ah, mian, aku terlalu bersemangat, Jadi siapa biasmu?”

“Well, sebenarnya.. aku-“

“Aku mengerti.” Dia kembali menyela, apa itu adalah kebiasaannya? Yang benar saja. “Tak apa kau tak perlu mengungkapkannya, beberapa temanku juga kadang masih kebingungan menentukan bias mereka. Kau baru menyukai mereka bukan? Tidak apa – apa itu hal yang biasa.” Tangannya menepuk puggungku keras, rasanya sakit akibat tubrukan tadi bisa kembali kurasa.

“Ah, lihatlah, aku memilki photo fancam terbaru mereka. Ku dengar mereka baru saja akan pulang ke Korea hari ini, tapi aku tak tahu jam persisnya. Aku berharap, bisa satu pesawat dengan mereka. Jika iyah aku berjanji akan menurunkan 20 kg berat badanku.”

“Mwo?” Nafasku tersendat, dia mungkin memang lebih gemuk jika dibanding gadis seusianya, tapi 20 kg? tidakkah dia akan berubah menjadi anorexia?

“Lihatlah!” Tangannya menggapai sebuah smartphone, menggeser – geser layar touch dihadapan kami.

‘Yah ku akui, mereka semua memang tampan, wajar bila mereka digilai para gadis seusiaku. Jumlah mereka juga banyak, membuat mereka mampu memilki banyak fans. Ku harap wajah tampan mereka tak semenyebalkan lelaki tadi. Sebenarnya  itu bukan urusanku, lagipula aku tidak akan pernah bertemu dengan mereka, tentu saja karena mereka adalah artis.’

“Ehh-“

“Wae?”

“Bisa kau geser ke photo sebelumnya?”

“Tentu saja”

“Bukan kah dia..” Tanpa sadar tanganku mengambil alih smartphone dalam genggam Han-Na sshi, menzoom sebuah wajah yang amat familiar di otakku. “Siapa nama lelaki ini?” Aku ragu, sungguh ragu untuk menanyakannya, lagi pula itu mustahil.

“Ah, jadi kau menyukainya?” Han-Na sshi mulai menggodaku, dia benar – benar berpikir aku menyukai NCT. “Dia Win-Win, salah satu member paling tampan, aku juga menyukainya.”

“EHHH!” Baik, lagi – lagi aku kembali berteriak lengkap dengan wajah jelekku. “Lelaki ini, tadi dia, dia-“

“Waee???”

“Han-Na sshi, aku baru saja bertemu dengan lelaki menyebalkan ini, aku bertemu dengannya!” Seruku histeris, tanpa sadar aku mengoyak tubuh Han-Na sshi dengan kasar, benar – benar kejutan lagi.

“Ei..ei..ei.. Mana mungkin.” Han-Na mengira aku mempermainkannya, meskipun dia terlihat ingin mempercayainya.

Untuk beberapa detik aku mencoba mencerna jawaban Han-Na, “Ah, benar mana mungkin..” Aku kembali tenang, mebetulkan posisi dudukku dengan 100 hal yang melayang di dalam pikiran mengenai lelaki yang membersihkan sisa coklat dibibirku. Memberitahu tentang pertemuanku saja Han-Na tidak percaya, apalagi tentang-

“Kita bahas NCT lain kali saja, kau seorang mahasiwi?” Heol, tebakan Han-Na tepat sekali.

“Betul. Aku mahasiwi teknik kimia di Universitas Seoul, ini tahun pertamaku”

“Astaga, itu terlihat sekali dari wajahmu.”

“Apa wajahku seperti obat – obatan?”

“Kau bercanda? kau terlihat seperti gadis cerdas, sangat mudah mengetahuinya. Dan yah, obat – obatan tidak memilki wajah. Ku harap kita akan berteman baik, ini juga tahun pertamaku di universitas Seoul di sastra prancis, aku baru saja menghabiskan waktu untuk berlibur. Senang bisa bertemu denganmu, selama di Korea kau bisa mengandalkanku.” Tuntasnya dengan senyuman yang begitu ramah.

“Ah, nae, terimakasih.”

‘Dia gadis baik, kurasa. Kami kembali duduk tenang dan beristirahat, perjalanan masih cukup lama. Sepertinya Han-Na sshi sangat buruk dalam memberi penilaian, dilihat dari sisi manapun aku sangat konyol dan bodoh, dan eh,  obat – obatan memilki wajah? Tentu saja tidak. Stupyd! Kenapa aku selalu mengatakan hal yang tak masuk akal. Dan lagi lelaki itu, ah, mungkin nama dan wajah mereka memang sama. Ada milyaran orang di dunia ini, tak mungkin hanya ada satu wajah yang tercipta. Tapi mereka benar – benar mirip. Selesai, aku tak peduli, itu bukan urusanku, sebentar lagi aku akan menapaki kaki ditanah Korea, belajar, belajar, dan belajar. Semangat menempuh kehidupan barumu, Lee Sae-Ra.’

3,2,1 Alam bawah sadar menguasaiku, tertidur menjadi sebab terbesar aku berhenti bergumam. Senang bertemu denganmu juga, tuan menyebalkan.

-0-

Kejutan apa lagi yang sedang menanti Lee Sae-Ra? Siapa saja yang akan ditemuinya di Korea? Akankah sebuah kisah cinta menjadi pemanis hidupnya selama di Korea? Staytuned.

TBC

Terimakasih buat Readers yang udah baca, semoga ff ini menghibur, jangan lupa tinggalin komen yah, btw maafkan segala ketypoan dan kesalahan dalam cerita, aku masih pemula. Sekali lagi makasih buat yang udah baca♡

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s