[Oneshot] The Opposite Poles

tumblr_okk1ixmvan1vng20oo1_500

angelaranee©2017

The Opposite Poles

starring

[NCT] Johnny Seo & Lee Taeyong | [OC] Gwen

rating T

Assassins!AU, genre action & family

“This is the life we have to live.”

.

“J-09F95, jarak lima kilometer dari target utama, ganti.”

“T-01J95, tembak target utama dalam jarak kurang lebih satu kilometer, ganti.”

“J-09F95, siap laksanakan.”

Pria jangkung itu merajut langkah perlahan-lahan, loafers legamnya mengetuk-ngetuk permukaan lantai yang berubin. Dwimaniknya tidak lepas dari pemandangan di balik salah satu kaca jendela gedung pencakar langit milik sebuah perusahaan saham terbesar di kawasan Asia Timur. Tidak luput dari penglihatannya, sesosok wanita muda berbalut mini dress merah yang tengah bercumbu dengan seorang pria paruh baya bertubuh tambun di sana.

Kedua tangannya mengangkat sniper rifle, mengarahkan moncongnya ke target, lantas menahan napas ketika jemarinya menarik pelatuk. Peluru itu melesat secepat kilat, menembus permukaan kaca, bersarang tepat di kepala bagian kiri wanita muda di dalam sana, yang seketika ambruk tak berdaya. Pria itu menurunkan senjatanya, berjalan kembali menuju tempat mobilnya diparkir, sembari berbisik,”J-09F95, target sudah tertembak, ganti.”

***

“…and then Mrs. Hwang said I passed the audition! Apakah Dad bisa bayangkan betapa kagetnya aku tadi?!”

Johnny terkekeh seraya mengusap lembut kepala Gwen. “That’s great! You have to practice harder, then! Tapi jangan terlalu menyibukkan diri dengan latihan piano, oke?”

“Tentu saja!” sahut gadis berusia enam tahun itu dengan antusias. “Tapi, Dad, aku mau Dad membantuku latihan.”

“Memangnya ada apa dengan gurumu, Gwen?”

“Tidak ada apa-apa, dia guru piano yang baik, tapi aku tahu Dad juga bisa dan aku ingin sesekali Dad juga membantuku berlatih.”

Johnny terdiam sejenak. Dirinya memang bukan pegawai kantoran yang absen dari rumah dari pukul sembilan pagi hingga lima sore. Bukan pula dokter bedah yang harus siap menerima panggilan darurat kapan saja. Tetapi bukan berarti ia tidak sibuk. Ada kalanya Johnny menghabiskan nyaris seharian di dalam kantor dan ada pula waktu-waktu ketika ia harus siap menerima telepon dari atasannya setiap saat. Menyanggupi permintaan Gwen tentu bukan perkara mudah bagi Johnny.

“Hei, Gwen,” panggil Johnny. “You know, Dad loves you more than anything but—“

“—but Dad has works to do, right?” potong Gwen. Bibir tipisnya mengulas senyum, tetapi dwimanik bulatnya meredup.

“Tidak, Gwen, Dad tidak bermaksud menolak permintaanmu,” ucap Johnny. “Dad ingin sekali mengajarimu bermain piano, apalagi ini akan menjadi resital pianomu untuk yang pertama kalinya.”

“Tapi Dad sibuk, ‘kan?” sahut Gwen. “Tidak apa-apa, Dad. Aku tidak mau Dad dipecat karena tidak bisa bekerja demi melatihku bermain piano.”

Johnny kembali terdiam, sebelum memaksakan senyuman tipis. “Dad tidak bisa janji, Gwen, tapi Dad usahakan Dad bisa melatihmu bermain piano kapan saja Dad ada waktu luang, oke?”

***

Yo, John, where are you going?” Taeyong meninju pelan bahu rekan kerjanya yang tengah bersiap-siap meninggalkan kantor.

“Pulang, menurutmu?” Johnny bertanya balik.

“Kukira kau bakal ikut kami minum-minum malam ini,” ujar Taeyong. “Come on, kau tidak mau merayakan kematian bandar narkoba itu?”

“Terima kasih tawarannya, Dude, tapi tidak kali ini,” Johnny tersenyum. “Aku harus segera pulang. Bulan depan Gwen tampil di resital piano dan aku ingin membantunya berlatih walau hanya sekali.”

“Oh, single dad problem,” Taeyong menyeringai sembari manggut-manggut. “Kau tahu? Mungkin Gwen memang butuh seorang ibu.”

Shut up,” Johnny mendengus sembari memukul bagian belakang kepala Taeyong, membuat pria itu tergelak puas.

But, seriously, John, sekretaris baru bos kita itu benar-benar mempesona,” kata Taeyong sembari menyugar rambutnya menggunakan jari. “Tidak ada salahnya kau ajak dia kencan.”

“Bagaimana kalau kau saja yang ajak dia kencan?” Johnny bertanya dengan nada retorik. “Aku tidak punya waktu untuk itu, oke? Single dad problem, seperti yang kau bilang sebelumnya.”

Aye, aye, Dad.”

“Jangan panggil aku seperti itu. I have to go now, have fun with the others!”

***

You’ve improved a lot,” puji Johnny sembari bertepuk tangan.

Thanks, Dad! You’re such a great teacher!” Gwen tersenyum. “Aku masih tidak menyangka Dad menyempatkan untuk melatihku.”

Anything for you, Sweetie,” jawab Johnny. “Mau berlatih untuk lagu yang lain?”

“Tentu saja!”

Tangan Johnny membalik lembar halaman buku partitur Gwen, tatkala ponselnya bergetar di dalam saku celananya, membuat gerakan tangan pria itu lantas berhenti. Sejenak, rahangnya sedikit menegang ketika ia membaca nama yang terpampang di layar. “Tunggu sebentar, Gwen, Dad ada telepon penting,” ucapnya seraya berdiri dan berjalan menjauh dari Gwen.

“Taeyong? Ada apa?”

“John, aku butuh kau untuk segera ke temui aku sekarang.”

“Kau sedang ada di mana, sih?”

“Aku tidak bisa bilang, nanti aku kirimkan lokasiku.”

“Ada sesuatu yang buruk yang terjadi padamu?”

“Tidak buruk-buruk amat, tetapi teramat mendesak.”

Taeyong memutuskan sambungan secara sepihak. Johnny menatap Gwen yang tengah menarikan jemarinya di tuts piano, berdeham untuk mengambil alih atensinya. “Gwen, sepertinya ini waktunya kau singgah ke rumah Bibi Jang, hmm?”

“Dad mau pergi lagi?” Gwen balas bertanya.

“Begini, Sweetie, Dad sama sekali tidak bermaksud mengecewakanmu,” Johnny menghela napas. “Dad harap Dad bisa melatihmu lebih lama.”

“Tidak apa-apa, Dad,” Gwen tersenyum, memamerkan deretan giginya yang tidak lengkap lantaran mulai tanggal satu demi satu. “Good luck! I love you, Dad!”

***

“Kau bahkan belum jelaskan padaku siapa target kita kali ini,” kata Johnny sembari merapikan kemejanya yang terlihat lusuh.

“Chantal,” sahut Taeyong pendek.

“Chantal siapa?”

“Chantal Allen.”

“Apa?!”

Johnny berhenti melangkah, pula Taeyong. Ekspresi terkejut tak bisa lagi ia sembunyikan. “Kau menyuruhku datang kemari untuk membunuh ibu Gwen?!”

“Oh, Johnny…” Taeyong memutar bola mata dengan jengah. “Dia bukan ibunya Gwen. Aku tahu wanita itu tidak pernah menjenguk atau sekadar menanyakan kabar Gwen lagi semenjak kalian berpisah.”

“Aku tahu, aku tahu. Ia memang bukan wanita yang baik, setidaknya dalam standar kita, tetapi bukan berarti aku bisa melakukan ini.”

“John, this is the time when you should use logic more than emotion,” tukas Taeyong. “She’s Gwen’s so-called mom, probably the woman you still don’t know how to move on from, but we have no time to think about that anymore.”

Johnny masih terdiam, sementara Taeyong kembali melanjutkan celotehannya. “Wanita itu sudah jelas terlibat dalam kasus pembunuhan Presdir Lee tiga bulan lalu. We are assassins, John, we kill because we are being paid for that.”

Yes, we are assassins,” gumam Johnny. “But we are not a killing machine.”

I never said that we are killing machines.”

Taeyong memejamkan mata, lantas berbisik lirih kepada sahabatnya. “This is the life we have to live,” ucapnya. “Ingat ketika aku harus membunuh kekasihku sendiri karena ia terlibat sindikat perdagangan senjata ilegal?”

Johnny membalas dengan anggukan pelan. “Kau mungkin akan merasakan hal yang sama denganku sebentar lagi, John,” ujar Taeyong. “Mungkin berat, but I’ve ever walked the same hell as yours.”

“Oke,” jawab Johnny. “Ayo kita lakukan sekarang.”

“Oke,” balas Taeyong. “Jika kita bisa lakukan ini dalam lima belas menit, maka kau masih punya sedikit waktu untuk kembali melatih Gwen sepulang ke rumah nanti.”

Johnny menghela napas, lagi-lagi hanya bisa mengiyakan. Ditatapnya senapan laras panjang di tangannya sembari berjalan mengikuti Taeyong, lantas matanya memandang langit yang mulai petang, berharap siapa saja yang ada di atas sana bisa menyampaikan permintaan maafnya pada Gwen.

.

.

.

-fin.


Notes:

  • First of all, I’m back after a long time. Where’s the red carpet and confetti? Hehehe XD
  • Happy belated birthday to the lovely single dad of NCT, Johnny Seo, may the odds be always in your favor, John!
  • This fiction was supposed to be the parts of NCTFFI’s Johnny’s Birthday Project but guess I couldn’t make it on time so I decided to post it separately. Yet the theme is still the same as the project’s theme.
  • Dropping some comments after reading would be nice, Guys. Thank you for reading, anyway!
Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] The Opposite Poles

  1. Waduh ya gini nih nasib polisi (eh? Polisi kan ini?)

    Gwen, maafkan papamu ya :’3 Apalah daya dia terbawa profesi :’3 Lagian kenapa sih bisa cerai? Oh iya, Gwen, semangat buat resital pianonya ya 🙂

    Like

  2. Wah terus akhirnya ibunya gwen mati gak? Resiko jadi pembunuh bayaran sih gitu ya, mengutamakan logika daripada ego.

    FF oneshotnya keren!! apalagi Castnya Jyani sama Tiwai jadi tambah keren

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s