[Ficlet] In Your Room

project-26-18

In Your Room

[2nd] Project 26

By : Febby Fatma

Drama, Romance, Fluff, Friendship, Comedy

PG-13

Cast :

Nakamoto Yuta (NCT)

Nikaido Ran (OC)

Disclaimer : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini. Semuanya murni hasil pemikiran saya. Mohon tidak copy-paste atau memplagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat membaca~

0o0o0o0o0o0o0o0

Mencoba tinggal sendiri di umur muda memang bukan masalah. Keluarga juga tidak ada yang keberatan setelah mendengar alasan Ran ingin menyewa sebuah kamar di dekat sekolah. Mengingat sudah mulai masuk musim sibuk sebelum ujian dan untuk menghemat pengeluaran Ran sebelum memasuki Universitas. Itung-itung latihan.

Kamar kecil satu petak dengan dapur dan kamar mandi yang letaknya kurang lebih dua ratus meter dari sekolah menjadi pilihan Ran karena Yuta yang menyarankan. Selain karena dekat dengan stasiun juga karena itu adalah satu-satunya kamar yang masih tersisa.

Tapi semenjak Ran tinggal sendiri, pintu rumahnya jadi tertutup untuk Yuta. Ran selalu menolak untuk dikunjungi Yuta, apapun alasannya. Akira, kakak laki-lakinya, selalu mengingatkan Ran akan peraturan itu setelah memberi ijin Ran tinggal sendiri.

Hanya saja kali ini terpaksa. Hujan tiba-tiba turun deras saat Ran dan Yuta meninggalkan sekolah. Kembali ke sekolah tidak mungkin karena memang tidak membawa payung atau meninggalkannya di sana, sudah begitu sudah terlalu larut untuk tinggal di sekolah. Jadi bermodal kecepatan kaki masing-masing, Ran dan Yuta berlari menuju kamar sewaan Ran. Ran mempersilahkan Yuta untuk berteduh dan meminjakan Yuta baju olahraganya untuk ganti seragam yang basah.

“Sedikit kekecilan, tapi lebih baik dari pada basah, kan?”

Yuta mengangguk sembari mengusap rambut basah dengan handuk yang (untung saja) sudah Ran cuci kemarin. Dia duduk di hadapan Ran, terpisah meja kecil dengan dua cangkir coklat panas.

“Akhirnya bisa masuk kesini juga.”

“Ini terpaksa.”

“Tapi tetap saja.” Yuta mengedarkan pandangannya ke sekeliling memperhatikan setiap detil bagian kamar itu. “Ran, perasaanku saja atau memang kau sedikit lebih berantakan sekarang?”

Sedikit gengsi dan malu, tapi Ran mengakuinya. Dengan alasan, “Karena sedikit sibuk jadi aku kadang tidak sempat membereskan ruangan ini lebih baik lagi. Lagi pula, toh, aku memang tidak terima tamu disini.”

“Tapi sekarang kekasihmu disini.”

“Makanya aku bilang, ini terpaksa. Tidak terduga.”

Yuta hanya berdehem, mengesap coklat panasnya diikuti Ran.

Ran tidak tahu Yuta merasakannya juga atau tidak, tapi saat ini Ran benar-benar gugup. Tinggal berdua dengan Yuta di kamar memang bukan pertama kalinya bagi Ran. Yuta biasa main ke rumahnya dulu, dan mereka pasti menghabiskan waktu di kamar, tapi kali ini berbeda. Ini bukan rumahnya, ini hanya kamar sewa. Tidak ibunya atau Akira yang tinggal di ruangan lain untuk mengawasi keduanya.

Gugup itu wajar.

“Ran, kalau hujannya tetap deras seperti ini kereta bawah tanah pasti tidak akan beroperasi.”

“Mau bagaimana lagi, itu memang sudah ketentuannya.”

“Lalu aku bagaimana?”

Ah ya, lalu Yuta bagaimana? Kalau kereta bawah tanah tidak beroperasi bagaimana cara Yuta pulang? Hujannya teralalu deras, ini sudah jam malam juga karena tadi Ran dan Yuta sempat tinggal lebih lama di perpustakaan setelah kelas tambahan.

“Aku boleh menginap?”

Ran tahu Yuta akan mengatakan itu.

Yuta biasa menginap di rumahnya memang, tapi tidak di kamarnya. Biasanya ada Akira dan Yuta akan terkurung di kamar Akira sampai Akira bangun besoknya, jadi jelas Ran aman. Tapi sekarang bagaimana?

Ran bisa saja memberi ijin, tapi…

“Ah, tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku janji.” Dia mengangkat tangannya seolah sedang bersumpah. “Aku tahu batasan, kok. Lagi pula mana mungkin aku berbuat jahat padamu?”

Butuh sekian menit sampai bagi Ran untuk merenungkannya dan memberi ijin untuk menginap. Masalah lainnya…

“Aku hanya punya satu futon. Bagaimana?”

“Ada selimut?”

Ran mengangguk.

“Ada.”

“Kalau begitu aku pinjam selimut saja.”

“Tapi,”

“Tenang saja, aku tidak masalah. Malah sudah terbiasa, kau tahukan kadang Akira itu suka pelit?”

Memang, Ran paham betul kalau kakaknya itu kadang suka berkelakuan aneh pada Yuta, tapi tidur hanya dengan selimut di udara sedingin ini … Ran pikir Akira tidak akan membuat Yuta melakukan hal seperti itu.

Dengan berat hati Ran mengiyakan. Mencarikan selimut untuk Yuta.

“Disini?”

Yuta menujuk satu lemari besar yang kuncinya tergantung. Bersiap akan memutar kuncinya.

“JANGAN DIBUKA!”

Brugg!!

Telat, Yuta terlanjur membukannya. Setengah dari isi lemari itu jatuh keluar dan Ran hanya mendesah malu karenanya.

“Ran, kurasa kau benar-benar harus membereskan kamarmu.”

“Aku tahu.”

“Sekarang.”

Dibantu Yuta, Ran membereskan isi lemari itu dan berhasil menemukan sebuah selimut lain untuk Yuta.

0o0o0o0o0o0o0

Yang terjadi setelahnya justru kecanggungan. Yuta dan Ran sama-sama tidak bisa tidur. Saling memunggungi, tapi saling memikirkan.

“Yuta, kalau dingin kau … bisa bergabung denganku, tapi—”

“Tidak perlu. Aku disini saja.”

“Tapi pasti dingin, kan?”

“Tidak apa-apa.”

Hening.

Baik Ran maupun Yuta sama-sama bergeming.

Detak jantung mereka yangmenggila dan harus segera dinormalkan adalah yang terpenting.

Hatchuu~”

Ran bangun. “Tuh, sudah aku bilangkan? Sangat dingin, kau tidur dekatku saja sini.”

“Aku bisa mati kalau Akira tahu.”

“Akira tidak akan tahu selama kita tutup mulut.” Ran menarik selimut yang membungkus tubuh Yuta. “Sini, aku tidak masalah selama kau tidak berbuat macam-macam. Kau sendiri sudah berjanji tadi.”

Yuta bergeser. Tidur di samping Ran seperti yang perempuan itu inginkan. Tapi yang jadi masalah sekarang, dirianya sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Takut kalau sampai melakukan sesuatu saat tidak sadarkan diri.

“Ran, apa lebih baik aku pulang saja?”

“Tengah malam? Saat hujan deras dan kereta bawah tanah tidak bisa beroprasi?” Yuta tidak menjawab. “Yang benar saja, jangan bercanda, Yuta.”

“Tapi kalau begini terus aku tidak akan bisa tidur.”

“Kau pikir aku bisa?”

Keduanya kembali saling memunggungi.

“Begini lebih baik. Aku tidak mau kau sakit, itu jauh lebih merepotkan ketimbang menahan kantunk semalaman.”

Ah, sekarang Ran dan Yuta mengerti kenapa Akira tidak mengijinkan Yuta main ke kamar sewaan Ran. Setidaknya, Akira pasti tahu kalau Ran dan Yuta akan sama-sama terjebak dalam rasa takut namun membahagiakan ini. Perasaan yang menjebak dalam bingung.

“Ran.”

“Apa?”

“Kau punya ramen? Kita makan ramen saja.”

0o0o0o0o0o0o0

[1] Image Pic : Zutto mae Kara Suki Deshita Character

[2] Aku lupa inspirasinya dari mana, tapi cerita yang ini udah ada di note-ku dari lama dan baru kesampean sekarang untuk dibuat.

[3] Segitu aja dulu, Febby pamit~~

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s