[Ficlet-Mix] Boy’s Affair

mj111

Written by thehunlulu ©2017

—Boy’s Affair—

Starring NCT’s Mark Lee, Huang Renjun, Jung Jaehyun & OC’s Jane Genre Friendship, School-Life, Romance Length 3 Ficlets Rating PG-17

Previous Story : Medical School Room

“Perasaan bersalah itu tidak semena-mena datang tanpa adanya sebuah pemicu yang sangat serius ‘kan?”

[1]

KUCING

Terhitung sudah seperempat jam aku mematut pandang pada sebuah arloji yang melingkar pada pergelangan tanganku. Entah mengapa, pembahasan terakhir mengenai reaksi reduksi, oksidasi, maupun penghitungan bilangan biloks sama sekali tak mampu menyentuh otakku barang sejengkal. Tentu saja menantikan jam istirahat lebih menyenangkan daripada duduk diam di dalam kelas tanpa mengerti topik apa yang sedang dibicarakan.

“Jane Jung! Apa yang sedang kau perhatikan?!”

Oh, sumpah, rasa-rasanya ingin sekali kujejali mulut kelewat pedas guru tersebut saat suara cemprengnya meneriakkan namaku. Sontak kutarik kembali atensiku dari jarum jam yang berotasi, lantas memandang tatapan wanita paruh baya itu dengan penuh tanda tanya.

Aku salah apa?

Tepat, saat kedua katup bibirku hendak menanyakan apa gerangan yang membuat amarahnya melonjak, wanita itu mengarahkan penggaris sepanjang lima puluh sentimeter ke arahku. “Silahkan meninggalkan kelas, Jane.”

Sementara diriku dilempari tatapan heran oleh penghuni kelas, bola mataku bergulir sembari menautkan kedua alis saat wanita tersebut membuka kenop pintu dengan sedikit hentakan. Sekon berikutnya ia mengalihkan pandang, setelah sebelumnya memperbaiki posisi kaca mata ber-frame merah marunnya yang melorot.

Penggaris besi berwarna abu-abu yang senada dengan warna blazer-nya itu masih berada di genggaman. Selagi tatapan intimidasinya mengunci kedua manikku, suara khas high heels miliknya itu beradu dengan ubin, semakin dekat … semakin dekat … kemudian menggamit kasar pergelangan tanganku lalu—

“Sekarang juga cepat keluar!”

tuh, ‘kan!

Aku hanya berjengit tipis saat suara menggelegarnya lolos tanpa permisi. Tanpa embel-embel rengekan maupun penolakan, lantas saja kulesatkan diriku keluar dari kelas. Oh God, tolong ya, tidak elit sekali seorang murid perempuan diusir dari kelas hanya karena menunggu bel istirahat berbunyi.

Karena beberapa argumentasi pembelaan pasti akan dipatahkan oleh wanita itu, lekas saja tanpa sungkan aku bertandang untuk menuruni tangga. Mengambil satu kaleng minuman jeruk dari dalam mesin lalu duduk di tepi lapangan.

Meow!

“Eh?”

Meow! Meow!

Kuurungkan acara menyeruput cairan yang tersisa separuh kaleng di genggamanku. “Kau mau?” tawarku pada seekor kucing yang tengah menempelkan telinganya pada sepatuku.

Namun tampaknya hewan itu sedang mengantuk. Maka sebelum tubuhnya menggeliat, kuulurkan tanganku untuk mengelus puncak kepalanya. “Ayo keliling sekolah bersamaku!”

Akhirnya, setelah kucing berbulu abu-abu dengan kalung merah yang melingkar pada lehernya itu berhasil kugendong, langkahku berderap cepat menyusuri lorong demi lorong guna membunuh rasa bosan. Ketika hendak berbelok menuju lapangan indoor, sebuah kepala menyembul dari balik ring basket dan—

“KAK JANE!!!”

“UWAAA! RENJUN AWAAASS!”

BRUK!

Secara serempak tubuh kami berdua ambruk tepat di bawah ring basket.

“Aduh ….”

“Kak Jane tidak apa-apa? Eh, maafkan Renjun!” Hamburnya setelah sadar ketika bola basket yang ia hantamkan pada ring barusan memantul ke pelipisku.

Kedua mataku menyipit seraya tangan kanan membalas ulurannya. “Tidak … tidak apa-apa kok—“ ucapanku terhenti saat dwimanikku berkelana mencari keberadaaan kucing tadi yang—naasnya—nihil dari penglihatanku.

“WAAAA KUCING! KAK JANE USIR DIA! CEPAT USIR!!!”

Tubuh jangkung Renjun melompat-lompat layaknya balita yang minta dibelikan balon. Tumitnya berjinjit gusar saat kucing tersebut bermain-main dengan tali sepatunya. Oh Tuhan, lucu sekali saat vokal khas remaja baru puber itu menggema di seisi lapangan.

Sedangkan tanpa berniat memindahkan kucing itu, aku justru terkikik maksimal saat jalan Renjun terseok-seok ketika hendak menghindari kegelian karena hewan tersebut.

“Kak Jane please lepaskan dia!”

“Tidak akan!” elakku kemudian.

Dan tontonan paling menyenangkan hari ini adalah; ketika surai Renjun basah kuyup seperti kehujanan hanya karena ulah seekor kucing. Dengan rileks tanpa memedulikan seorang pemuda yang nyaris menangis di tengah lapangan, atas dasar iseng kuambil bola basket miliknya lantas menyiapkan ancang-ancang untuk melakukan—

Cup.

under … ring.

“Kumohon, singkirkan kucing ini sebelu—“

PLAK!

Astaga—hei! Bukankah sebuah pelecehan jika Renjun tiba-tiba mencium pipiku sekilas? Segera kulayangkan tatapan tak mengerti padanya, kendati ritme jantungku tiba-tiba saja meningkat, pun kedua pipi yang dibuat merah atas tingkahnya.

Pemuda itu tak mengaduh, tetap bergeming pada tempatnya. Kedua irisnya membalas tatapanku tanpa berucap sedikitpun. Wajahnya memerah, aku tahu itu. Ia masih menempelkan telapaknya pada rasa kebas dan panas yang menjalar pada pipi kanannya.

Renjun menggigit bibir bawahnya samar. “Ma … maafkan aku, Kak. Aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba aku—“ ia menggeleng kuat-kuat, enggan melanjutkan perkataannya. “Tapi please, aku fobia kucing, tolong lepaskan hewan ini kumohon ….”

Baiklah, akan kumaafkan perbuatanmu, Renjun!


[2]

TAK ADA TOLERANSI

“KEMARI KAU HUANG RENJUN!”

BUGH!

Tepat di hadapanku—di taman belakang sekolah yang jarang dijamah saat sore hari—pemuda lemah itu terjerembab, setelah punggungnya menghantam tembok berpagar besi setinggi dua meter itu. Napasku menderu, mengikuti kata hati yang kian berkejaran dengan luapan amarah.

Bodoh. Satu kata yang mampu kudeskripsikan untuk diriku sendiri. Konyol sekali saat beberapa waktu lalu aku membiarkan pemuda itu lolos dari konsekuensi yang seharusnya ia terima. Malah aku yang tidak sungkan-sungkan untuk menelan bulat-bulat perkataan Kak Jaehyun waktu itu.

“Percayalah Mark, kau hanya perlu bicarakan hal ini baik-baik dengan Jane.”

Ah! Setan macam apa yang berhasil merasuki tubuh Kak Jaehyun pada saat itu? Sudah pasti aku tidak akan pernah menanyakan hal itu secara langsung pada Jane. Konklusi Kak Jaehyun akan membuat Jane sakit hati jika dipikirkan lebih jauh. Kalau begini keadaannya, sudah pasti aku akan segara turun tangan, daripada beradu mulut dengan Jane dan pada akhirnya melukai perasaan gadis itu.

KREET ….

Renjun berusaha bangkit dengan bertumpu pada terpal besi di belakangnya, setelah otakku dibuat kosong untuk beberapa jemang lantaran pernyataan Kak Jaehyun yang bernilai nol, sama sekali tidak membantu dan tidak bisa dipercaya.

Bunyi derap langkah itu menimbulkan gemuruh di dalam dadaku. Perawakan tak berdaya Renjun karena bogemanku barusan cukup membuatku lebih percaya diri saat ini. Kupicingkan mata ke arahnya yang tengah mengusap kasar ujung bibirnya yang berdarah.

“Ini baru pemanasan, Renjun,” ujarku tidak lupa membubuhi intonasi sarkasme di dalamnya.

Kami berdua saling bersitatap, lantas kukulum seringaian lebar saat sosoknya dengan cekatan meremas kerah bajuku. “Kaupikir kau siapa, hah?! Pengendalianmu akan seorang gadis cukup buruk dan—HOI MARK LEE JAWAB AKU!”

“DASAR BEDEBAH!” Kuhantam sekali lagi wajah berengsek yang berani-beraninya ia tujukan padaku hingga tubuhnya berdentum keras di atas tanah.

Selanjutnya Renjun berhasil bangkit secepat mungkin saat kepalanku hendak meninju ulu hatinya.

DUAK! BUGH!

“Semudah itukah aku membuatmu lemas, Bung?! Berkaca terlebih dahulu ketika hendak mengintimidasi adik kelasmu sendiri! Adu kekuatan akan kuterima, tapi jangan pernah membawa-bawa nama orang lain di dalamnya! Itu sama saja kau menjatuhkan harga dirimu sendiri sehingga kau terlihat sangat amat menyedihkan. Cih!

Renjun melemparkan batangan kayu yang baru saja mendarat pada kepalaku dengan kasar. Sementara diriku hanya mampu mendongak, menyaksikan aksi sok heroik miliknya dengan mengucapkan seuntai frasa tak berfaedah yang keluar dari mulutnya.

“Kaupikir siapa yang mengundangmu kemari kalau bukan dirimu sendiri?! Sadar diri itu perlu, dasar berengsek!” Tak mengidahkan berapa persen gendang telinganya akan robek karena pekikanku, segera saja kukunci pergerakannya dengan memepetkan tubuh Renjun dengan tembok. “Tolong jaga omonganmu, Tuan Huang ….”

BUGH!

Berhasil. Aku berhasil meninju ulu hatinya hingga Renjun merosot tak berdaya. Kepalan tanganku perlahan mengendur, beralih untuk mendekatkan wajahku dengan miliknya sambil berjongkok. “Sekarang biar kutekankan padamu, aku tidak akan pernah mengajakmu kemari jika kau tidak bermain-main di belakangku, Renjun. Semua ini hanya buang-buang tenaga, Bung!

Renjun merintih tanpa berani menatap wajahku. Jemarinya mencengkeram erat perut bagian atasnya, sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk memijat area wajahnya yang membiru. Terukir jelas ekspresi kesakitannya, tapi peduli setan macam apa aku ini, toh yang terpenting dari sekian ribu kalori yang susah payah kukeluarkan untuk menghajarnya, ada satu tujuan agar ia bisa membatasi diri jika melakukan interaksi dengan kekasih orang.

“Merasa bersalah? Tentu. Aku sangat merasa bersalah padamu, kawan. Tapi perlu kau ingat, perasaan bersalah itu tidak semena-mena datang tanpa adanya sebuah pemicu yang sangat serius ‘kan? Bahkan … untuk yang satu ini bukan serius lagi, tapi sudah sangat fatal. Camkan itu Huang Renjun!”

Alih-alih merespons ataupun melawan, Renjun hanya mampu terpekur di tempatnya. Entah apa yang berkelebat di dalam otaknya, yang jelas semoga saja dia tahu bahwa menyukai kakak kelas itu tidak berdosa, mendekati kekasih orang juga sama tidak berdosanya, tapi yang membuat berdosa adalah saat ia mengundang amarahku untuk meluap kemudian menghajarnya tanpa ampun.

Ah, untung seorang Mark Lee sepertiku memiliki hati nurani. Maka dengan segera, kuraih tubuh lemah Renjun yang terkapar, kemudian membopongnya menuju UKS. Hitung-hitung untuk sedikit mendapatkan maaf darinya, bukan?

Oh, dan satu lagi. Sepertinya setan yang merasuki tubuhku sama seperti yang merasuki tubuh Kak Jaehyun beberapa bulan lalu. Pasalnya, hal yang sama juga dilakukan Kak Jaehyun padaku saat Jane didekati oleh seorang lelaki—dan itu adalah aku sendiri.

“Jangan pernah dekati Jane lagi, Bung!

“Bodoh!” umpatnya di sela-sela perjalanan kami.


[3]

SEGERA PULANG

“Jane ayo pulang!”

“Aku masih menunggu Mark, kau pulang duluan saja Kak.”

Kugelengkan kepala kuat-kuat saat Jane berlari menjauh dariku. Jika gadis itu berhasil menemukan di mana Mark berada, sudah kupastikan ia akan mengalami syok berat. Itu artinya, pengorbanan Mark demi melindungi Jane sepenuhnya gagal total. Tidak, sudah sepatutnya Jane tidak mendatangi eksistensi Mark di taman belakang sekolah karena laki-laki itu sedang menyelesaikan urusan mendadaknya dengan Renjun. Juga, adegan membahayakan yang tidak layak untuk dikonsumsi seorang gadis—Mark biasa menyebutnya dengan urusan pribadi laki-laki.

Hah, pribadi apanya? Adik kandung Kenzi dan Emma yang satu itu bahkan melakukan urusannya di taman terbuka yang sewaktu-waktu bisa diketahui oleh siapapun.

“Jangan Jane—hei! Tunggu!”

Aku mengejarnya sesaat setelah Jane menghilang di area laboratorium kimia, kemudian memilih untuk berbelok ke arah kiri dan jangkauanku berhasil menemukan sekelebat tubuhnya.

Gawat kalau Jane berhasil menemukan Mark!

“Jangan ke sana, Jane!”

“Kak Jaehyun kenapa, sih? Kau ‘kan juga tidak tahu di mana Mark berada!” ujarnya setelah menuntaskan jangkahannya, kemudian menatapku yang ada di belakangnya.

Aku sedikit menimbang-nimbang, berusaha tampak mengingat-ingat sesuatu sambil mencegah Jane untuk menyambangi taman belakang sekolah yang berada tak jauh dari tempat kami berada.

“Tadi Mark berpesan padaku kalau dia mengikuti klinik fisika,” celetukku, jelas saja sebuah kebohongan yang sangat besar.

“Hah? Kenapa dia tidak bilang padaku?” tanya Jane sambil memangkas jarak denganku seraya kedua tangan terlipat di depan dada.

“Tadi kami tidak sengaja berpapasan di kantin dan dia bilang kalau ponselnya ketinggalan, jadi dia menitipkan pesan itu padaku. Dia juga minta maaf karena tidak bisa pulang bersama kita hari ini.” Kuacak poni Jane pelan. “Sudah paham, Nona Jung?”

Kini Jane mangangguk-anggukkan kepalanya mantap. Selanjutnya kami berdua merajut langkah untuk pulang, mengesampingkan Mark yang tengah memperjuangkan cintanya sampai babak belur. Semoga Jane tidak rindu Mark untuk beberapa hari ke depan. Pasalnya, tidak lucu ‘kan jika Mark harus berbohong kalau dirinya habis tersungkur ke dalam selokan?

Untuk adikku tersayang, maafkan ulah kakakmu ini ya karena telah memberitahu Mark kalau kau dicium Renjun saat berada di lapangan indoor tadi siang, hehehe.

.

.

-FIN-

  1. Maafkan aku Renjunnnn maafkan akuuuu xD aku nggak bermaksud buat menistakanmu, tapi demi kemaslahatan Mark-Jane, aku menjadikanmu kambing hitam /digiles/
  2. Nggak tau lagi deh, kenapa tiba-tiba Jaehyun punya tabiat licik yang—alhamdulillah—sekongkolan sama Mark buat nyiksa Renjun wooooo!
  3. Jadi kelanjutannya gimana nih enaknya? Jane dibiarin tau tentang urusan antar laki-laki antara Jaehyun-Mark-Renjun, atau dibikin nggak tau apa-apa? xD /lalu buka rikues seperti nasib Emma-Doyoung-Kun/
  4. Terakhir, mind to review? 😉
Advertisements

20 thoughts on “[Ficlet-Mix] Boy’s Affair

  1. wah bener bener ga tega liat Njunn digituin/? tapi, scene tawuran/? itu bener bener mengena :3 baca itu sambil bayangin mereka behh senyum senyum sendiri bacanya. kakkk biarkan Jane tauuu biar seruuu >< yaaa!!!

    Liked by 1 person

    • Samaa ya samaaaa ndak tega sebenernya ngebabak belurin renjun… Duh nanti deh dibikin adegan mark kualat /ga/ 😂😂 jane dibiarin tau aja ya terus nanti mark diputusin :”)

      Makasih sudah mampir yaaa ❤️❤️

      Like

  2. Encuuun sini Noona obatin
    Sumpah markeu markeu ganassss renjun juga sih main ketjup ajah pacar org. Tapi plot twistnya yg terakhir…. Elah jae tega amet O.O
    Bagus ficletnya, cuman tadi ada yg rada boros sih kyk ‘bilangan biloks’ bukannya lebih enak kalo pake ‘biloks’ doang ya?
    Anyway ini sdh nyamleng/? buat dibaca kok, suka2 🙂
    Keep writing!

    Liked by 1 person

  3. Sini, Njun, sama aku aelah. Biarkan Mark-Jane merdeka. Daripada kamu diganggu Mark terus, yang sekarang Mark sekongkol ama mas nya Jane, loh. Tambah syulit berada di posisimu untuk merebut Jane.

    Akhirnya Renjun-Mark berantem terealisasikan juga ya, XD.
    Donna qqq, ficmu makin keren ih.. ❤❤LANJUTKAN!!!

    Liked by 1 person

  4. Kalau kubilang aku merinding–literally merinding–pas baca fic ini boleh ndak?
    DONNA WHAT HAVE U DONE TO MY WEAK HEART???
    Serius astaga I get goosebumps when I read this fic… Apalagi pas adegan berantemnya itu yawlah SERASA LAGI NNTN DRAKOR2 GITUUU…
    Aaaaaaaaaaa

    Liked by 1 person

    • APAKAH AKU TERLALU JAHAT UNTUK MEMBUAT RENJUN NISTA?? APAKAH…….APAKAH…………..AH SUDAHLAH😂😂😂 haruskah jane mengerti segalanya mom? XD

      Btw makasih sudah mampir yaaa kakcee😘😘😘

      Like

  5. Hai (kak) Dona ^^

    Kalo menurut aku nih ya (ehem ehem) lebih baik Jane tau sih, biar seru, biar lebih banyak berantemnya (jiwa rasis), trus ujung-ujungnya Mark & Renjun saling benci. Kan seru HAHA (ini pendapat apaan?-_-). Eh, tapi mending Jane nggak usah tahu (lah?) soalnya… soalnya aku nggak tega sama Renjun fufufufu T_T Demi apa aku nyesek pas bayangin dia digebukin sama Mark perkara cium Jane aduh :’3 Kan kasian suamiku… ntar giginya ompong kebanyakan ditempeleng, trus gingsulnya ilang 😥 *peluk Renjun*

    Itu… itu… kenapa si Jaehyun malah ikutan sekongkol? Bukannya dulu malah benci banget ya sama Mark? Sampe Mark babak belur cuma gegara pejuangin Jane :’3 Eh tapi tapi tapi… duh mending Jane di kasih tau aja, siapa tau ntar Jane malah simpati sama Renjun (SIAPA TAU). Tapi lebih baik nggak usah dibilangin, ntar Mark tambah marah & suamiku jadi bahan kekerasan lagi (trus lo maunya gimana, yo? Labil amat -_-) Tapi… duh terserah (kak) Dona deh, aku mah bisa apa sebagai pembaca 😀

    Ini seru banget, sumpah 😀 Kayaknya Mark-Jane ini pasangan legendaris ya di blog ini :v Hampir setiap main cast Mark, musti OC –nya namanya Jane Jung :’3 Berasa real ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    Sekian. Karena komennya udah kepanjangan, ditambah isinya yang nggak mutu sama sekali, maka lebih baik selingkuhannya Jaemin ini pamit ^^

    Assalamualaikum wr.wb

    Liked by 1 person

    • Halooooo kak aku nggak tau kudu bales gimana tapi aku seneng banget ada yang komen sepanjang ficlet di box komentar :’))

      Daaaaannn huufffftttt sebenernya Don ndak tau mau digimanain nasib mereka bertiga😂 Kemaren abis posting ini langsung nyesel kan “aduh ngapain juga renjun kudu kena gebuk mark..” Atau “kenapa juga jaehyun sekongkol sama mark…” Ndatauuuu😂😂 tapi semua suda terjadi biarkanlah /apasihdon/
      Nanti deh yaa, yang punya OC juga gatau kudu begimana /melipir/ tapi pasti ada kelanjutannya kok ^^ entah Jane tau atau dibikin gatau sampe meganthropus bangkit lagi /ga/

      Makasih suda mampir dimari yaa kak!❤️❤️❤️

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s