[Vignette] An Essay and Her Memories

as

Angelina Triaf ©2017 Present

An Essay and Her Memories

Taeyong – Yuta – Cheonsa – Irene | College-life, Slice of Life | G | Vignette

Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa harus Lee Taeyong?

0o0

Esai ini ditulis oleh Park Cheonsa, mahasiswi Desain Mode semester enam yang lebih sering jadi murid gelap di kelas Sastra. Biasanya ia akan duduk di sebelah Irene atau Baby, bersembunyi dari pengabsenan sang dosen.

Tapi anehnya, walaupun tidak ingin ketahuan menjadi murid gelap, ia pernah sekali nekat mengumpulkan tugas esai yang diberikan di kelas. Esai ini membahas tentang satu dari berjuta alasan mengapa manusia harus bertemu satu sama lain. Dengan nama, semester, jurusan serta nomor mahasiswa aslinya, ia benar-benar mengumpulkan esai tiga puluh menit itu di atas meja dosen.

.

Park Cheonsa (0109762009)

Desain Mode (6)

 

Pilihan dan Takdir

 

Jika pilihan dapat disamakan dengan takdir, maka para lelaki bisa saja ganti melahirkan anak karena pilihan mereka untuk tak melihat sang istri kesakitan. Itu poin pertama, dari sekian juta poin penting.

Untuk kasus yang sama, mari kita bandingkan arti dari sebuah pertemuan dan apa keterkaitannya dengan pilihan juga takdir.

Bertemu adalah pilihan, berpisah adalah takdir. Sejauh ini dua hal tersebut adalah yang paling logis menurut saya. Karena ketika seseorang lebih memilih untuk melewati jalan setapak yang tak biasanya ia jejaki dalam perjalanan pulang, maka pilihan mulai memegang kendali atas sebuah pertemuan.

Pertemuan yang ia dapatkan berdasarkan pada pilihannya hari itu.

0o0

Musim gugur di Seoul setidaknya tak separah di New York, hanya hal itu yang dapat Cheonsa pikirkan sejauh ini. Dedaunan yang terlihat warnanya lebih bervariasi, cokelat dengan campuran oranye dan beberapa merah muda. Tidak monoton dan sedikit banyak menyegarkan mata. Tidak buruk juga menerima tawaran Miss Jocelyne untuk transfer pertukaran pelajar selama beberapa bulan ke salah satu negara di Asia.

Karena batasan usia dewasa di Korea adalah dua puluh, jadi Cheonsa yang masih enam belas tidak bisa mengendarai mobilnya dengan bebas. Maka dari itu, Yuta menyarankan agar ia sebaiknya naik bus saja jika ingin main ke asrama sekolahnya. Yuta juga murid pertukaran pelajar, omong-omong. Berada di negara yang sama membuat dua saudara itu memutuskan untuk saling tegur sapa setidaknya satu kali.

“Kak Yuta, hari ini dingin sekali, ya ampun. Apa salahnya dengan gadis enam belas tahun yang mengendarai mobil, huh?”

“Sudah, jangan banyak mengeluh dan jalan saja. Hanya beberapa menit jalan kaki dari kampusmu menuju halte bus terdekat―”

Bruk!

“Oh, God ….”

Hey? Are you okay? Sorry … aduh, bagaimana caranya mengatakan maaf telah menabrakmu dalam Bahasa Inggris …?”

Perasaan Cheonsa kini terbagi antara bingung ke mana ponselnya melayang saat tabrakan tadi, rasa sakit pada bokongnya yang mencium langsung dedaunan kering jalanan juga betapa lucunya pemuda di hadapannya yang kini tengah setengah berjongkok sambil garuk kepala merutuki dirinya yang tidak bisa Bahasa Inggris.

Ya, kesan pertama yang gadis itu selalu dapati di negara Asia adalah; “Hello, what’s your name? Sorry for my bad English.”

“Aku tak apa-apa, oke? Dan aku bisa Bahasa Korea, jadi jangan panik begitu.”

Dengan satu tangan menepuk celana bagian belakang dan tangan lainnya merapikan syal yang terlepas dari lilitan, Cheonsa baru menyadari beberapa hal tentang orang yang nyatanya masih juga belum beranjak dari posisinya tersebut.

Seragam kuning, rambut panjang menutupi kening bak idol juga wajah mulus yang seperti boneka. Ia tebak bahwa pemuda ini adalah murid SMA seni yang terkenal di Seoul. Sial, Cheonsa lupa apa nama sekolahnya.

Tambahan lagi. Jika ia masih SMA, kemungkinan bahwa orang itu lebih tua dari Cheonsa.

“Ah … begitu. Maafkan aku karena telah menabrakmu, Kak―”

“Lee … Taeyong? Berapa usiamu?”

“Eh?”

Untuk sejenak, pemuda dengan marga Lee tersebut lupa bahwa papan namanya masih terpajang pada blazer sekolahnya dan mengira bahwa Cheonsa adalah seorang cenayang. Sampai ia tersadar akan pikiran bodohnya lalu tertawa kecil setelah itu. “Oh, iya, namaku Lee Taeyong. Usiaku delapan belas, tingkat dua di SOPA.”

Sudah kuduga. Lalu apa itu tadi? SOPA? Ah … jadi itu nama sekolahnya!

Well, aku Cheonsa mahasiswi transfer di―di … astaga, aku lupa untuk menanyakan nama kampusku sendiri!”

Sungguh, Cheonsa adalah gadis seribu satu di dunia ini yang bisa-bisanya belum tahu nama kampus transfernya sendiri. “Ya, pokoknya aku kuliah di kampus dekat sini. Dan aku masih enam belas tahun. Jadi tolong, Kak Taeyong, kamu jangan jadi orang kelima puluh tujuh dalam hari ini yang memanggilku ‘Kak’, oke?”

Tring!

Baru saja Taeyong akan menimpali omongan Cheonsa sebelum dilihatnya mata sang gadis berbinar mendengar suara singkat yang berasal dari ponselnya. Ternyata ponsel itu jatuh tak jauh dari kakinya.

“Iya, Kak Yuta. I’m on my way so please at least let me walking properly. Karena teleponan denganmu Cheon jadi menabrak orang di jalan, tahu!”

Diputusnya sambungan telepon begitu saja. Kini fokus Cheonsa sepenuhnya kembali pada Taeyong―yang demi apa pun, masih juga belum beranjak dari posisi terakhirnya yang setengah berjongkok.

“Maaf, tadi itu kakak sepupuku. By the way, dia seumuran denganmu.”

Melihat Cheonsa yang hendak berdiri, Taeyong refleks mengulurkan tangannya dan mengambil langsung jemari si jelita. “Oh, sini kubantu berdiri.”

Thank you.”

0o0

“Cheon, kutebak kalau kamu sebenarnya ingin mati muda tapi tak bisa.”

“Kak Irene keren! Kenapa bisa tahu?”

“Cheonsa!”

Suara tawa Cheonsa nyatanya masih belum bisa menandingi riuhnya kantin siang ini. Irene langsung saja menariknya ke kantin setelah mendengar kabar burung bahwa hampir semua dosen jurusan Sastra tengah membicarakan mahasiswi gelap yang nekat ikut mengumpulkan esai.

“Kak, kelas Mode itu membosankan. Cheon butuh penyegaran otak di sini sebelum kembali ke kehidupan keras di benua Amerika sana.”

“Kamu ini orang apa, sih? Apa mungkin membaca berbagai macam tumpukan puisi kuno itu disebut penyegaran otak saat dirimu bisa melihat warna-warni bahan pakaian yang cantik? Bahkan aku iri padamu, seandainya saja dulu aku masuk jurusan yang berhubungan dengan fesyen dan bukannya harus berkutat dengan prosa lama tiap harinya.”

Gelengan kepala disertai tawa menyebalkan Irene dapatkan sebagai respons curahan hati terdalamnya.

Tapi, baru saja Cheonsa akan menyendokkan salad ke mulutnya, Irene kembali mengajaknya bicara. “Cheon, melihat dari salinan esai yang kau berikan padaku, sepertinya itu adalah curahan hatimu tentang pemuda yang kau temui hari itu. Jangan-jangan kamu menyukainya karena tampan, ya?”

What? Kak, bahkan dia masih kelas dua SMA.”

“Bukan salahnya masih kelas dua SMA, kamu yang kuliahnya terlalu cepat.”

Malas menanggapi topik yang itu-itu saja tentang usianya yang terlalu muda untuk duduk di bangku perkuliahan, Cheonsa lebih memilih untuk lanjut makan tanpa memedulikan lagi apa hal yang akan Irene bicarakan.

But, honestly your essay is such a great one, Cheon. Teorimu bagus, mau tukar jurusan denganku?”

Teori yang bagus, ya?

Justru yang kini tengah kupikirkan adalah, dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa harus Lee Taeyong?

.

.

“Katanya tadi kamu menabrak seseorang. Siapa?”

“Oh, hanya murid SOPA tingkat dua. Namanya Lee Taeyong.”

“Lee …? Apa?”

“Kenapa?”

“Teman baru yang ingin kukenalkan padamu. Itu dia, Lee Taeyong dari SOPA.”

“Apa?”

FIN

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] An Essay and Her Memories

  1. Awalnya aku kurang mudeng sm ceritanya. Tp aku baca 2 kali, baru ngerti. Jadi ini pertemuan ‘tak sengaja’ Cheonsa sm Taeyong yg diangkat jadi esai? XD pengertianku campur aduk pas Cheonsa jawab telpon dr Yuta. Aku kira Yuta itu siapanya Cheonsa 😂 /plakk/. Sejauh ini, aku cuma bisa bayangin Taeyong doang pas baca ini cerita ._. Satu dr 3 member NCT yg aku tau 😂

    Like

  2. ngga nyadar udah end aja yaampuun seru gitu bacanya, cheon… terus aku suka sama essay nya… pilihan dan takdir, pertemuan dan perpisahan. ngga sengaja ketemu, eh taunya yuta mo ngenalin taeyeong juga ke cheonsa… why dunia ini kecil sekali wkwkwk
    terus ada mbak irene juga 😘 emang suka gitu yaa nyesel ambil jurusan setelah beberapa lama menggeluti. manusia memang sukanya gitu… ngga pernah puas sama pilihannya sendiri 😂😂
    suk cheon suka! alurnya maju mundur tapi paham kok. keep writing yaa!!! ^^

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s