[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Taurus (Series)

cover-taurus

Zodiak Love Story

 #Taurus

.

 

Author :: Rijiyo

Cast :: [NCT’s] Jung Jae Hyun & [OC’s] Luisa Im

Genre :: Romance, Lil’ bit sad

Length :: Oneshot

Rating :: Teen

.

 

 “….If the patient Taurus choose to love you, trust that love will always be preserved.” – Taurus

.

Luisa menendang-nendang mesin minuman di hadapannya dengan jengkel. Kalau mesin ini rusak, mending dibuang saja!, batinnya. Sudah hampir sepuluh menit dirinya berkutat dalam keadaan begini. Benar-benar seperti orang yang kurang kerjaan. Apalagi tangan kanannya terpasang selang infus.

“Boleh kubantu?”

Luisa menoleh. Di sebelahnya ada seorang pria lumayan tinggi, tampan, bermata indah dan berambut hitam pekat. Luisa sempat terpana beberapa saat, namun ia segera sadar akan sikapnya dan tersenyum, lalu membiarkan pria itu membantunya.

Pria itu menendang mesin minuman di hadapannya beberapa kali. Saat ini yang ada di pikiran Luisa adalah : mesin itu pasti akan bertambah rusak. Tapi ternyata, sebuah kaleng softdrink tiba-tiba menggelinding dari sana. Luisa di buat takjub.

Thanks.”

You’re welcome.”

Mereka duduk di bangku panjang yang ada di taman rumah sakit.

“Namaku Luisa Im. Siapa namamu?”

Pria itu tampak kaget. “Kamu bisa bahasa Korea?”

Luisa tertawa. “Ya iyalah. Wajahku saja yang bule, tapi aku lahir di Korea, kok.”

Seketika pria itu merasa bodoh. “Namaku Jaehyun. Jung Jaehyun.”

“Senang bertemu denganmu, Jaehyun,” ucap Luisa dengan tulus yang hanya dibalas senyuman oleh Jaehyun. Gadis itu tak henti-hentinya memandangi Jaehyun yang memang sangat tampan. Dan setiap kali Jaehyun tersenyum, ada sebuah getaran aneh yang membuat jantungnya jadi berdegup. Luisa merasa lain, ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.

“Oh iya, kamu sakit apa? Penampilanmu… agak berbeda sama pasien lain?” tanya Luisa setelah mereka terdiam cukup lama.

“Aku bukan pasien. Aku menjenguk ibuku. Kamu sendiri sakit apa?” Jaehyun bertanya balik  sambil memandangi mata Luisa.

“Males bilang. Penyakitku nyebelin soalnya.”

“Penyakit apa? Cacar air?” Jaehyun sedikit melotot yang membuat Luisa serta merta tertawa.

“Itu mah sehari dua hari bisa sembuh. Kalau aku… tiga bulan nggak sembuh-sembuh. Capek.”

“Masa, sih? Kalau bukan cacar air, terus apa?”

Luisa tersenyum tipis. “Cacar air itu nggak ada apa-apanya sama penyakitku. Tiga bulan tinggal di sini itu bikin bosen. Aku sering kangen rumah.” Luisa memandangi rerumputan yang ada di bawah kakinya.

Jaehyun membelalakan matanya. “Tiga bulan? Penyakit sih memangnya?”

Luisa menghela napas panjang. “….Kanker darah, leukemia, yah semacam itulah….”

Hujaman pedang itu serasa menusuk relung hati Jaehyun. Pria itu memandangi Luisa dengan iba. Saat ini, Luisa yang ceria sedang memainkan kakinya di atas rerumputan dengan tatapan yang tidak seberbinar tadi. Menurut Jaehyun, leukimia adalah penyakit yang paling menakutkan.

“Maaf—“

“Ah, nggak apa-apa. Lagian ini masih stadium awal. Mamaku juga bilang kalau aku masih ada harapan besar buat tetap hidup.” Luisa kembali menampakkan wajah berserinya yang tadi sempat hilang. “Oh iya, aku harus memanggilmu Jaehyun atau Oppa? Umurku delapan belas tahun.”

Jaehyun tersenyum kalem. “Kita seumuran, kok.”

“Wah, pantesan. Kamu kelihatan masih ganteng soalnya. Nggak mungkin kan kalau kamu sudah bapak-bapak?”

Jaehyun hanya tersenyum. Luisa benar-benar gadis yang tabah. Baru kali ini Jaehyun bertemu seorang gadis yang begitu ceria di tengah keadaan susah, apalagi Luisa menderita penyakit membahayakan. Diam-diam hati Jaehyun menjerit, membayangkan kalau dirinya berada di posisi Luisa mungkin ia sudah menyerah sejak lama.

“Luisa, ayo main batu-gunting-kertas. Nanti yang kalah harus memenuhi permintaan yang menang.”

Luisa tampak berpikir. Sudah cukup lama dirinya berada di rumah sakit dengan kegiatan yang sangat monoton; Tidur, bangun, periksa, kemoterapi, radioterapi, makan, tidur lagi, bangun, periksa, kemoterapi, dan seterusnya. Ia pikir bermain batu-gunting-kertas bisa mengembalikan mood-nya yang sempat hilang karena—yah—beberapa pertanyaan Jaehyun tadi membuatnya agak senitif. Akhirnya, Luisa mengangguk antusias.

Batu-gunting-kertas!

“Wah, aku menang!” Luisa berseru sambil bertepuk tangan.

“Serius? Biasanya aku yang menang.” Jaehyun menatap tangannya dengan kecewa. Saat bermain batu-gunting-kertas, Jimin memang selalu menang melawan siapapun. Bahkan Taeyong pernah menangis karena selama empat tahun menjadi sahabat Jaehyun, ia tidak pernah bisa mengalahkannya dalam permainan yang sudah sangat kampungan ini. Tapi—ini sungguh aneh—dirinya langsung bisa dikalahkan Luisa dalam sekali main.

“Oke, berarti kamu harus menuruti permintaanku.” Luisa tersenyum penuh makna. “Sebenarnya aku punya banyak permintaan, sih. Tapi kuharap permintaanku nantinya nggak membuatmu keberatan.”

“Ya, cepat katakana,” pungkas Jaehyun—tetap dengan wajah kecewa. Sebenarnya ia punya rencana; kalau misalnya Luisa kalah, ia akan menjahili gadis itu dengan menyuruhnya menyanyikan lagu Gom Se Ma Ri sambil menari seperti di drama Full House. Tapi ternyata dirinya malah kalah.

“Selama delapan belas tahun, aku nggak pernah tahu rasanya pacaran. Aku pengin di sisa hidupku, aku punya pacar yang baik, ganteng, dan selalu menemaniku bercerita sebelum tidur. Sekaliiiii saja.” Luisa menatap langit, seolah sedang mencari keberadaan Tuhan dan memohon agar doanya dikabulkan, kemudian menatap Jaehyun. “Maksudku, kamu mau nggak jadi pacar pura-puraku? Aku sih maunya sebulan biar puas, tapi kalau kamu maunya cuma seminggu atau sehari juga nggak apa-apa. Yang penting mau.”

Jaehyun agak terkejut dengan permintaan Luisa yang benar-benar diluar dugaannya. Ia pikir Luisa akan menaiki punggungnya dan memintanya bermain kuda-kudaan atau menyuruhnya membelikan sekardus softdrink. Jaehyun perlu memikirkan hal ini. Tapi mengingat Jaehyun yang sudah sering punya pacar, memenuhi permintaan Luisa mungkin tidak masalah. Dirinya juga sudah cukup pengalaman dalam mengurus seorang gadis, karena sejak kecil Jaehyun kerap kali merawat ibunya yang memang sering sakit-sakitan.

“Oke. Sebulan,” kata Jaehyun.

Mata Luisa langsung berbinar. “Serius? Kamu mau sebulan? Nggak apa-apa, nih?”

Jaehyun mengacak rambut Luisa. “Iya, Luisa. Jadi kapan hukumanku berlaku?”

“Sekarang!” sahut Luisa kelewat semangat. Tapi ada satu hal yang baru diingatnya. “Kamu… nggak punya pacar, kan? Kalau punya, langsung beritahu saja biar dia nggak salah paham.”

Jaehyun menyandarkan tubuhnya di kursi, merasa lebih santai. “Nasib orang ganteng itu selalu begini, ya. Dikiranya sudah punya pacar.”

Oke. Luisa menganggap kalau Jung Jaehyun itu jomblo.

.

.

.

“Selamat pagi, Lu.”

Jaehyun mengintip dari balik pintu. Luisa yang sedang membaca buku pun langsung tersenyum saat melihat pacar pura-puranya sudah datang sambil membawa sekantong buah apel. Oh, bahkan Jaehyun sudah membuatkan Luisa panggilan khusus.

Sudah seminggu mereka menjalankan misi pura-pura ini. Tak terasa mereka jadi lebih dekat dengan sendirinya. Jung Jaehyun adalah sosok yang sangat perhatian dan sabar, tak bisa dipungkiri kalau hal itu kerap membuat Luisa merasa nyaman. Bahkan ibunya Luisa sudah mempercayakan Jaehyun untuk menjaga putrinya.

Ibunya Jaehyun sudah pulang tiga hari lalu, tapi karena Jaehyun sedang memenuhi permintaan Luisa, akhirnya pria itu tetap memutuskan untuk menemani Luisa sebulan penuh. Setiap pulang sekolah, Jaehyun langsung pergi ke rumah sakit. Tak jarang pria itu membawa buah tangan seperti makanan atau buku bacaan supaya Luisa tidak kesepian saat dirinya belum datang.

Jung Jaehyun sangat manis. Hal itu yang membuat Luisa akhirnya benar-benar jatuh cinta.

Kali ini bukan lagi cinta pura-pura.

“Ayo, sekarang saatnya makan.” Jaehyun mengaduk-aduk bubur ayam di mangkuk. Luisa tertawa geli melihat Jaehyun yang tingkahnya mirip ibu-ibu.

Luisa membuka mulutnya, menerima suapan Jaehyun dengan senang hati. Luisa benci bubur, tapi entah kenapa bubur itu jadi sangat enak kalau Jaehyun yang menyuapinya. Karena terlalu semangat mengunyah, Luisa pun terbatuk-batuk.

“Ya Tuhan, kenapa makan bubur pun kamu masih bisa tersedak?” Jaehyun menepuk-nepuk pelan punggung Luisa, lalu memberinya air putih.

Luisa terkikik di sela-sela batuknya. “Aku cuma senang.”

Jaehyun senang melihat Luisa bahagia. Luisa juga senang karena kedatangan Jaehyun membuatnya bersemangat untuk hidup. Kalau bisa seperti ini, Luisa rela kalau harus menderita kanker darah seumur hidupnya. Jaehyun telah memberinya banyak harapan untuk tetap berjuang melawan penyakitnya, dan Luisa semakin percaya kalau dirinya pasti akan sembuh.

Luisa memang tidak tahu seperti apakah perasaan Jaehyun yang sesungguhnya. Tapi Luisa berharap semoga sebulan tidak cepat berlalu.

.

.

.

Sebulan telah berlalu.

Karena hari ini Luisa ada cuci darah, Jaehyun jadi tidak tega meninggalkan gadis itu dan lebih memilih menemaninya lagi—padahal misinya sudah selesai, harapan Luisa sudah terpenuhi untuk menjadi pacar pura-puranya. Tapi, kendati kebersamaan mereka yang hampir mirip dengan pasangan sungguhan, membuat Jaehyun jadi tidak rela kalau harus benar-benar berpisah.

Sesudah cuci darah, Luisa diberi obat tidur dan dibiarkan istirahat selama empat jam.  Berhubung ini akhir pekan, Jaehyun memutuskan untuk tidak pulang dan menginap di rumah sakit. Saat Luisa sudah terbangun, dirinya heran karena melihat Jaehyun di samping ranjangnya yang tengah tidur pulas. Perlahan air matanya tumpah, ia kira Jaehyun sudah pulang dan tidak akan pernah menemuinya lagi.

“Kamu sudah bangun duluan rupanya,” kata Jaehyun dengan suara serak. “Maaf ya aku ketiduran.”

“Kamu nggak pulang?” Sebenarnya, hatinya terasa perih saat menanyakan hal ini.

“Masa aku harus ninggalin kamu?” Jaehyun menggenggam tangan Luisa.

“Tapi ini sudah sebulan lebih. Kamu boleh pulang.” Air mata Luisa semakin membuncah. Ia benci karena waktu terasa cepat berlalu saat dirinya bersama Jaehyun. Ia benci melihat Jaehyun tetap tetap berada di sisinya karena hal itu membuatnya kesulitan merelakannya pergi. “Aku sudah nggak apa-apa, Jaehyun. Menjadi pacar pura-puramu ternyata seru, ya. Terima kasih selama ini kamu sudah baik sama aku.”

Jaehyun menghapus air mata Luisa dan semakin mempererat genggaman tangannya. “Kalau aku nggak mau pergi, gimana?”

“Aku nggak mau buat kamu tambah repot.”

“Aku nggak pernah repot kalau itu menyangkut kamu.”

Luisa terdiam. Hatinya serasa diguyur sebongkah es. Begitu dingin dan sejuk.

“Aku justru senang.” Jaehyun mengelus-elus rambut gadis itu. “Menjadi pacar pura-puramu atau bukan, kayaknya sekarang sudah nggak ada bedanya.”

Seol tertegun. Apa yang dikatakan Jaehyun barusan?

Pria itu mendekatkan tubuhnya. Mempertipis jarak wajah mereka hingga Luisa bisa merasakan napas Jaehyun yang menderu di permukaan pipinya yang mulai terbakar. Jantung Luisa berdebar tak karuan. Tapi entah karena kerasukan apa, Luisa memilih untuk menutup mata saat bibir Jaehyun perlahan menempel di pipinya. Begitu hangat dan lembut. Luisa sampai tidak percaya kalau Jaehyun mencium pipinya.

Lima detik kemudian, Jaehyun menjauhkan bibirnya. Ia menempelkan dahinya di dahi Luisa. “Makanya, kamu harus bertahan demi aku, Luisa Im.”

.

.

.

Kini mereka benar-benar berpacaran.

Tak terasa sudah hampir dua bulan Luisa merasakan bagimana berpacaran sungguhan. Jaehyun selalu menyuapinya saat makan, menghapus air matanya saat ia menangis, membuat lelucon saat ia sedang bosan, membelikannya begitu banyak oleh-oleh sepulang sekolah, menunggunya sampai selesai melakukan cuci darah, hingga menemaninya sampai  tertidur. Berawal dari pertemuan tidak sengaja mereka di depan sebuah mesin minuman, bermain batu-gunting-kertas, menjadi pacar pura-pura, hingga saat ini mereka sungguhan menjadi sepasang kekasih.

Luisa pikir ia hanya bermimpi. Tapi ia tahu kalau kenyataan ternyata lebih indah daripada mimpinya.

Tapi, lambat laun penyakit Luisa memburuk. Gadis itu terlihat semakin kurus dan rambutnya banyak yang rontok. Jaehyun sering cemas, takut kalau Luisa tidak bisa bertahan melawan penyakitnya yang semakin parah. Di luar sepengetahuan Luisa, ternyata Jaehyun selalu menyempatkan diri pergi ke gereja untuk memohon pada Tuhan supaya gadisnya itu segera diberi kesembuhan.

Saat ini, Jaehyun sedang menemani Luisa yang baru selesai melakukan cuci darah. Hatinya teriris ketika melihat Luisa berulang kali memuntahkan isi perutnya karena efek pengobatan ini. Luisa menggenggam tangan Jaehyun, erat. Matanya sedikit berair karena kontraksi, wajahnya pucat dan terlihat lemas. Setelah selesai muntah, Jaehyun membaringkan Luisa di tempat tidur. Jaehyun juga ikutan berbaring di sampingnya karena ingin memeluk pacarnya itu yang sedang memejamkan mata. Luisa muntah cukup banyak hari ini, dan hal itu membuat Jaehyun sangat khawatir. Jaehyun pun memeluk Luisa lebih erat hingga mereka berdua sama-sama terlelap dalam diam.

.

.

.

“Jaehyun, kira-kira aku masih bisa hidup lama nggak, ya? Soalnya aku pernah lihat di tivi kalau orang kena kanker itu ujung-ujungnya pasti meninggal.” Luisa berkata sambil memandang langit. Mereka berdua sedang tiduran di atas bukit yang terletak tidak jauh dari rumah sakit. Awalnya mereka tidak diijinkan keluar, tapi Jaehyun memohon kepada para petugas hingga akhirnya mereka di beri kesempatan untuk meninggalkan rumah sakit selama dua jam. Luisa senang bisa menghabiskan waktu dengan Jaehyun di tempat setenang ini. Sambil saling menggeggam tangan, mereka memejamkan mata.

“Nggak perlu mikir aneh-aneh. Kalau Tuhan sudah berkehendak, kenapa enggak?”

Seol membuka matanya, lalu menghela napas panjang. “Dulu aku siap mati, tapi sekarang… aku takut. Aku belum—atau lebih tepatnya—nggak siap, terutama kalau harus ninggalin kamu.”

Jaehyun terduduk. Lalu membantu Luisa untuk bangun juga. Mereka berdua duduk berjejer sambil memandang langit senja di atas bukit. “Kira-kira mana ya Luisa Im yang ceria? Aku kangen sama dia. Soalnya di sebelahku ada cewek yang suka ngeluh, bikin bosen.”

Luisa terkikik. Benar juga. Kenapa Luisa jadi mellow begini?

“Kamu benar, Jaehyun. Sebenarnya aku juga takut berpikir sampai ke sana.” Luisa mulai menampakkan senyum lebarnya yang akhir-akhir ini jarang ia pasang.

“Nah, akhirnya Luisa-ku sudah kembali.” Jaehyun mengacak-acak rambut Luisa dengan gemas, setelah itu mengecup pipi gadis itu dengan lembut. Wajah Luisa langsung terbakar. Ini memang sudah bukan pertama kali, tapi entah kenapa setiap perlakukan romantis Jaehyun selalu membuatnya salah tingkah.

“Oh iya, Jaehyun, aku mau bilang sesuat—“

“Jung Jaehyun!”

Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari tempat itu, ada seorang gadis cantik berambut sepinggang, mengenakan dress merah muda, dan tas selempang kecil. Gadis itu berjalan mendekat sambil melambaikan tangan pada Jaehyun. Saat ia sudah mendekat, seketika Luisa terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa karena gadis itu memang cantik. Sangat cantik.

“Jung Chaeyeon?”

Jaehyun bangkit, lalu mereka berdua berpelukan dengan nyaman. Luisa terbelalak sepersekian detik. Sekelebat pertanyaan bergumul di kepalanya. Jaehyun tampak begitu bahagia saat Chaeyeon berkali-kali menyentuh tangan pria itu. Ugh, hati Luisa terasa panas.

“Oh iya, kenalkan. Ini Luisa Im. Dia pacarku.” Jaehyun membantu Luisa untuk bangun.

“Luisa, ini Jung Chaeyeon. Dia teman baikku sejak kecil. Tapi kita sempat berpisah saat kelas satu SMP soalnya di pindah ke luar negeri,” jelas Jaehyun.

Seol hanya mengangguk meski hatinya terus meraung. Setelah berjabat tangan sekilas dengan Chaeyeon, Luisa memilih untuk menyingkir dari tempat itu supaya Jaehyun bisa menghabiskan waktu dengan teman lamanya, sekalian biar hatinya tidak bertambah panas melihat kedekatan mereka. Mereka memang sahabat, tapi Luisa sering menonton di televisi kalau sahabat itu bisa berubah jadi cinta.

“Padahal aku ke sini pengin berduaan sama Jaehyun. Tapi kenapa gadis itu musti datang, sih? Untung deh aku masih baik, kalau nggak mah sudah kucakar wajahnya. Pakai peluk-peluk segala. Belum lagi aku mau ngomong sesuatu sama Jaehyun.” Dengan agak sempoyongan—sambil sesekali melirik Jaehyun dan Chaeyeon yang masih berbincang—Luisa akhirnya duduk di bawah pohon rindang di kaki bukit. Hari sudah menjelang malam dan alangkah sedihnya gadis itu karena tidak bisa melihat matahari terbenam bersama Jaehyun. Mungkin dirinya terlihat kekanakan karena berani mencemburui Chaeyeon, tapi Luisa benar-benar tidak suka melihat pacarnya itu dekat dengan gadis lain. Apalagi Chaeyeon sangat cantik, Luisa hanya takut Jaehyun berpaling darinya.

Maafkan Luisa yang terlalu terpengaruh drama.

Jaehyun tak kunjung mencarinya. Luisa menghela napas sambil memandang langit yang sudah gelap hingga ia dapat melihat bintang yang bertaburan di sana. Tinggal beberapa menit lagi dirinya di sini karena setelah ini harus kembali lagi ke rumah sakit untuk operasi. Kalau Luisa terlambat sedikit saja, maka akibatnya akan sangat fatal. Gadis itu masih tidak mau pergi secepat ini meninggalkan Jaehyun.

“Lu? Ternyata kamu di sini. Aku takut kamu balik ke rumah sakit sendirian.” Jaehyun merangkul pinggang Luisa, lalu mencium puncak kepala gadis itu. Kali ini Luisa sudah tidak salah tingkah karena ia jengkel.

“Aku memang mau balik. Untung aku nggak mati di sini,” ketus Luisa.

“Kok bilang gitu?” Jaehyun tampak kaget dengan perubahan sikap pacarnya.

Aduh, kenapa dia malah tanya, sih? Dasar nggak peka!

 

“Habisnya, kamu tadi nggak merhatiin aku. Dia memang teman lamamu, tapi kenapa pakai peluk-pelukan segala? Kenapa nggak ciuman aja sekalian?” omel Luisa.

Jaehyun tersenyum nakal, ia semakin mengeratkan rangkulannya di pinggang Luisa. “Jadi Sayangku yang cantik ini sedang cemburu, ya?”

Ups! Aduh, apa Luisa terlalu gamblang melampiaskan emosinya?

“Cemburu? Ngapain juga cemburu.” Sumpah demi Spongebob, Luisa bisa merasakan kalau kini wajahnya semerah kepiting rebus. Jantungnya mungkin sudah rontok ke mana-mana.

“Di dunia ini nggak ada cewek yang  bisa menggantikan kamu, Lu. Chaeyeon itu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan kamu.”

Uuuh… bagaimana Luisa tidak meleleh? Apalagi baru pertama kali ini ia dirayu.

Ah, Jaehyun memang pandai dalam urusan membujuk.

“Nah, ayo balik. Nanti doktermu marah-marah.”

Jaehyun berjongkok membelakangi Luisa. Gadis itu bangkit perlahan, dan mengalungkan tangannya dengan malu-malu di leher Jaehyun. Pria itu menggendong Luisa menuju rumah sakit, sama persis saat mereka berdua datang ke bukit tadi sore.

“Oh iya, Chaeyeon di mana?”

“Dia sudah pulang.”

“Kamu nggak ngantar? Kasian kan dia pulang sendirian.”

“Buat apa? Dia sudah dijemput pacarnya tadi.”

Aih, seketika Luisa merasa sangat bodoh. Untuk apa dirinya tadi cemburu kalau ternyata Chaeyeon sudah punya pacar?

Tiba-tiba, Luisa merasa pening. Seluruh darahnya seolah naik ke ubun-ubun. Lalu ia dapat merasakan kalau ada sesuatu yang mengalir di hidungnya. Luisa tidak ingin menebak, hingga tiba-tiba cairan itu menetes di pundak Jaehyun. Jaehyun yang merasa ada sesuatu yang basah di kaosnya pun bertanya pada Luisa, tapi gadis itu tidak menjawab. Luisa sibuk menahan pusing sekaligus mencegah supaya darahnya bisa berhenti menetes. Lalu, badannya mulai lemas. Penglihatannya tiba-tiba kabur, lalu sangat terang seperti ada beribu-ribu lampu neon, hingga akhirnya sesuatu yang terang itu menghilang dengan cepat dan hanya kegelapan yang dapat ia rasakan.

Jaehyun panik bukan main.

“Bertahanlah, Luisa!”

.

.

.

Luisa terbaring lemah di atas ranjang. Dia pingsan. Dokter bilang gadis itu kelelahan. Bodohnya aku membiarkannya begini, jelas-jelas aku tahu dia dalam keadaan yang nggak baik, Jaehyun mencaci dirinya sendiri. Pria itu merasa bersalah pada orang tua Luisa, mereka terlihat sangat sedih dan khawatir.

“Maafkan aku.”

“Ini bukan salahmu, Jaehyun. Dari kemarin Luisa juga sudah memohon pada kami supaya diperbolehkan ke luar. Katanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Tentang apa?”

“Operasi.”

“Operasi?”

“Apa dia belum memberitahumu?’

Jaehyun menggeleng.

“Kemarin malam saat kamu sudah pulang, Luisa mendapat donor sumsum tulang belakang, dan ia meminta supaya operasi itu dilakukan sekarang. Tapi ada juga kemungkinan besar operasi itu gagal, dan putriku bisa saja tidak selamat,” kata ibu Luisa dengan sedih.

“Apa dia benar-benar yakin mau melakukannya hari ini?” Jaehyun tak habis pikir. Ternyata susah sekali menebak pikiran Luisa.

“Dia bilang tidak ada salahnya mencoba. Padahal dia sendiri tahu apa resikonya.” Ibu Luisa menatap putrinya yang sedang terpejam damai. Sungguh tidak bisa dibayangkan kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Luisa.

Kenapa aku tadi malah mengobrol panjang lebar sama Chaeyeon dan membiarkannya menungguku sendirian? Kenapa aku malah mengabaikannya di saat ia pengin mengatakan sesuatu?, lagi-lagi Jaehyun marah pada dirinya sendiri. Kenapa tadi ia lupa kalau Luisa sedang sakit parah dan tidak boleh sampai kelelahan? Kenapa dia tidak tahu apa-apa tentang operasi itu? Jung Jaehyunn sangat menyesal.

.

.

                                                                              .
Sudah hampir dua jam Jaehyun duduk di samping Luisa yang masih terpejam. Ibu Luisa sedang mengurus masalah biaya dan operasi di ruang dokter, sedangkan suaminya harus kembali bekerja karena ada tugas mendesak yang harus segera di selesaikan di kantor. Namun, perlahan-lahan Jaehyun melihat mata Luisa yang mulai bergerak mencoba terbuka. Dia sudah sadar.

“Lho, aku sudah ada di sini, ya? Apa tadi aku pingsan?” tanyanya bingung sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Dia langsung mencoba bangkit untuk berusaha terduduk di atas ranjang.

“Ya, kamu pingsan,” jawab Jimin. Singkat.

“Serius? Kok bisa? Maaf ya jadi merepotkanmu.”

“Lu, maaf aku membuatmu jadi begini. Maaf aku baru tahu tentang operasi itu.”

“Tentang operasi? Pasti mamaku yang memberitahumu, ya? Mama memang nggak bisa nyimpan rahasia, sih. Sebenarnya aku mau bilang sendiri, tapi aku lupa terus.” Dia meringis. Memperlihatkan giginya yang bersih dan terawat. Matanya menyipit, seolah mencoba memberitahukan kalau ia adalah pemilik senyuman paling manis di dunia. Luisa sudah ceria lagi, padahal ia baru sadar dari pingsan.

“Kamu harus banyak istirahat. Kalau dari awal kamu sudah nggak enak badan, kamu harus bilang padaku,” nasihat Jaehyun.

Seol menunduk. “Justru karena hari ini aku mau operasi, aku pengin menghabiskan waktu sama kamu lebih lama. Aku nggak mau menyesal, meninggal sebelum bisa melihat matahari terbenam bersamamu.” Wajahnya terlihat sendu, tiba-tiba keceriaannya menyurut.

“Ini salahku.” Jaehyun ikutan sendu.

“Rasanya begitu terlambat kalau harus ketemu kamu di ujung hidupku kayak gini. Aku pengin ketemu kamu lebih awal sebelum aku sakit. Aku juga mau berterima kasih, karena kamu sudah membuatku merasakan seperti apa jatuh cinta meski hanya sekali seumur hidup.” Air mata Luisa berjatuhan sedikit demi sedikit. Ingin rasanya Jaehyun memeluk dengan erat pacarnya itu saat ini juga.

“Doakan aku, Jaehyun. Aku akan berusaha melawan penyakit bodoh ini. Aku mau membuat keajaiban di dunia kedokteran kalau kanker itu juga bisa sembuh.”

Jaehyun mengangguk sambil menggenggam tangan Luisa dengan erat. Matanya memanas. Ia menggigit bagian dalam pipinya untuk mencegah air matanya agar tidak tumpah.

Mereka saling membisu. Hingga kemudian Luisa memberanikan diri mencium dahi Jaehyun.

“Aku sayang kamu, Jaehyun.”

“Aku juga, Lu.”

.

.

                                                                              .
Jadwal operasi Luisa mulai dilakukan. Karena ini akhir pekan, Jaehyun bisa menunggunya di rumah sakit. Ibu dan ayah Luisa juga menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan yang sangat cemas. Khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya. Tapi Jaehyun mencoba membuang pikiran buruk itu, menggantikannya dengan keyakinan kalau Luisa pasti bisa melewati semua ini dengan baik.

Jaehyun sempat menemui Luisa sebentar dan mengatakan sekali lagi bahwa ia harus bertahan, sampai akhirnya Luisa dibawa ke ruang operasi oleh beberapa suster rumah sakit. Keadaan daritadi hening. Ibu Luisa tak henti-hentinya terisak. Jaehyun mengepalkan tangannya, terus berharap dan berdoa supaya operasinya berhasil.

Satu jam.

Dua jam telah berlalu.

Mereka bertiga semakin resah karena belum ada satu pun dokter yang keluar dari ruang operasi. Entah apa yang terjadi di dalam sana. Tidak ada yang terdengar dan tidak ada yang terlihat.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter yang masih lengkap dengan stetoskop di lehernya pun keluar dengan ekspresi yang sulit ditebak. Refleks, mereka bertiga berdiri, menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaannya?” Ayah Luisa bertanya lebih dulu. Dokter itu hanya menghela napas.

“Hei, apa yang terjadi?!” Jaehyun membentak dokter itu karena tidak sabar. Kesal juga melihat seorang dokter yang hanya diam jika ditanya.

“Ditengah operasi, tiba-tiba jantungnya berdetak tidak stabil, lalu sekarang dia mengalami koma. Operasi pendonorannya sudah selesai, kita tinggal menunggu bagaimana hasilnya,” terang dokter itu. “Saat ini kita hanya bisa berharap semoga keajaiban bisa datang.” Dokter itu melengos pergi. Pria paruh baya itu bicara seakan Luisa hanya punya kemungkinan yang sangat kecil untuk hidup. Sontak saja ibu Luisa langsung menangis sejadi-jadinya. Jaehyun juga tak kalah terpukul, hingga diam-diam air matanya ikutan pecah.

.

.

                                                                              .
Jaehyun melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul sebelas malam. Sejak jam delapan tadi Luisa dipindahkan keruang rawatnya. Dia hanya terpejam dengan alat medis yang menutupi hidungnya untuk memberinya oksigen. Gadis itu masih belum sadar. Jaehyun menggenggam tangannya dengan erat sambil terus melantunkan beribu-ribu doa supaya Luisa segera membuka mata dan melihatnya lagi. Ini sungguh konyol. Dirinya bahkan sudah lupa kapan kali pertama ia menyukai Luisa. Yang ia tahu, Luisa begitu istimewa baginya

“Kumohon buka matamu, Luisa….”

“Lu, kamu nggak boleh pergi. Aku nggak mau jomblo lagi.”

“Kalau kamu nggak bagun-bangun, aku bakal pacaran sama Chaeyeon.”

Jung Jaehyun benar-benar takut.

Hingga sesuatu yang tak terduga pun terjadi.

Jaehyun ingin menangis kencang saat ini juga.

.

.

.

Satu tahun kemudian….

Jaehyun berdiri di depan sebuah gundukan tanah, tempat persemayaman terakhir seseorang yang sangat ia sayangi. Rambutnya hitam pekatnya diterpa sinar matahari dan bergoyang lembut karena angin musim semi yang sepoi. Pria itu menaruh sebuah rangkaian bunga di makam itu. Suasana di pemakaman membuat hatinya damai meskipun terselip rasa sedih yang berusaha ia maklumi. Jaehyun menatap makam itu dalam-dalam dan mengingat berbagai hal yang pernah ia lakukan bersama orang yang terbaring di dalam sana. Pikirannya melayang bebas.

“Jung Jaehyun.” Suara seorang gadis membuyarkan lamunannya. Dia menengok ke sumber suara dan mendapati seseorang yang tidak jauh darinya sedang berdiri. Seorang gadis manis  yang sedang tersenyum lebar dengan rok putih sepanjang lutut yang memantulakan sinar matahari dan membuatnya terlihat berkilau.

“Luisa?” kata Jaehyun dengan nada terkejut.

Gadis itu mendekat perlahan. “Iya, ini aku, Luisa Im. Kenapa melihatku kayak gitu? Aku kan bukan arwah.”

Jaehyun tersenyum, lalu mengajak Luisa untuk ikut berdoa bersama di makam ayahnya.

Saat ini Luisa sudah sembuh total dan Jaehyun sangat bahagia. Tahu betul dulu Jaehyun sempat menangis tersedu saat melihat kekasihnya itu membuka mata setelah beberapa jam selesai melakukan operasi. Jaehyun seakan tidak percaya kalau Tuhan ternyata begitu memihak dirinya sehingga Luisa kini benar-benar bisa menghabiskan hidupnya bersama Jaehyun.

“Saat aku koma, aku sempat memimpikanmu, lho,” celetuk Luisa disela-sela doanya.

“Oh ya?” balas Jaehyun, masih memejamkan mata.

“Iya. Saat itu aku berjalan di tempat yang sangat luas. Lalu, ada orang berbaju putih yang menyuruhku mengikutinya. Tapi tiba-tiba kamu datang, menarik tanganku, lalu memelukku. Kamu juga bilang kalau kamu sangat mencintaiku dan tidak mau melihatku pergi. Setelah itu aku langsung bangun,” jelas Luisa. Kalau saja Jaehyun tidak datang, mungkin Luisa akan tetap mengikuti pria berbaju putih itu dan tidak akan bisa bertemu Jaehyun untuk selamanya.

Jaehyun tersenyum, masih enggan membuka matanya. “Saat itu aku kelihatan ganteng, nggak?”

“Kamu kan selalu ganteng. Apalagi kamu pakai kaos Linkin Park dan celana jeans. Rambutmu juga wangi. Baumu mengingatkanku sama kue cokelat buatan nenek.” Bukannya fokus berdoa, Luisa malah terus mengoceh seperti anak kecil.

Jaehyun membuka matanya, menggeser posisinya supaya bisa lebih dekat dengan Luisa, lalu mengecup pipi gadis itu dengan lembut tapi singkat. Luisa terlonjak, hingga langsung menatap Jaehyun dengan muka memerah.

Jaehyun kembali tersenyum jahil. “Mau berdoa atau kucium?”

Pipi Seol semakin merona. Ugh, tentu saja ia lebih memilih dicium.

.

.

.

.

.

_Fin_

Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Taurus (Series)

  1. “Maksudku, kamu mau nggak jadi pacar pura-puraku? Aku sih maunya sebulan biar puas, tapi kalau kamu maunya cuma seminggu atau sehari juga nggak apa-apa. Yang penting mau.”
    Aslinya mau respect sama Luisa tapi kok dia savage banget ya di sini 😂

    Liked by 1 person

  2. “Buat apa? Dia sudah dijemput pacarnya tadi.” LOH MBAK, SIAPA PACARMU BARUMU MBAK??? MAS WONWOO??? /LAH NGACO
    TAK KUSANGKA SERIES SETELAH VIRGO AKAN UPDATE SECEPAT INI OH NANANA /nyanyi lagu kard
    ZYALLAN ZYALLAN AKU KENA TRAP DI EPILOG, KUPIKIR LUISA YANG BERPULANG. Tapi ya tetep ga boleh seneng karena pasti sedih kalo orang tua yg meninggal 😥
    Ini ucul sangaaatt :3 tpi kok ada beberapa kesalahan ya kak? Luisa jadi Seol? Seol A wjsn? Seolhyun aoa? Yahh mungkin itu karakter awal yg ga sempat direplace jdi Luisa ya kak eheh
    Alurnya agak kecepetan menurutku. Ya mungkin karena tuntutan cuma hrs sampe oneshot ya, andai aku yg bikin, momen sebulan itu udah jadi 5 chapter sendiri hahaha XD tpi tetep keren kok 🙂
    Kutunggu series selanjutnya ya kak ^^

    Liked by 1 person

    • Btw, Chaeyeon itu aku ikut2an kakak di ff Introvert Squad, sbenernya aku malah nggak tau Chaeyeon itu siapa wkwkwkwk :’3 Sebenernya semua series sudah hampir jadi kak, tinggal beberapa anak NCT yang ntar kubuat zodiak ganda, secara zodiak cuma 12 tapi anak2 NCT seubrek :’3

      Eh iya, aku malah sempet nge replace 3 kali. Awalnya Yejin (tapi nggak jadi soalnya kurang imut), habis itu Seol (tapi nggak jadi juga soalnya berasa kurang ekstrovert), abis itu Luisa HAHA, maaf ya kak kalo sempat mengganggu :’3 Juga karena tuntutan kata, akhirnya cuma sampe segini. Habisnya aku mau buat Luisa mati tapi nggak tega sama Jaehyun :’D (ini author macam apa?)

      Makasih kak sudah baca ^^ ❤ ❤

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s