[NCTFFI Freelance] Karena Cokelat (Vignette)

mmm

Karena Cokelat

Author by
Rijiyo (Jiyo)

Main Cast:

[NCT’s] Mark Lee, [OC’s] Pameela Lee, [OC’s] Lauren Lee

Sub Cast

[OC’s] Jung Arin

Vignette | Family, Comedy | General

.

Kata Lauren, cokelat buatan Mark bentuknya seperti gundukan tanah

Sedangkan kata Pameela, cokelat buatan Mark rasanya seperti kardus gosong

.

Mark melirik arloji. Hari Valentine tinggal empat puluh delapan jam lagi. Bocah yang baru tujuh belas tahun itu mengumpat dalam hati. Teman spesialnya, Arin, berjanji akan mengunjungi rumahnya bertepatan dengan hari kasih sayang itu.

Mark melangkah ke dapur sambil membawa dua karung cokelat yang baru dibelinya. Di sana, si kakak pertama sudah menunggu dengan celemek pink menempel di tubuh.

“Tumben cuma beli dua?” tanya Pameela sambil mengerutkan alis sembari melihat sang adik meletakkan cokelat di meja.

“Uangku habis, Kak.”

“Sama sekali?”

“Ada, sih. Tapi sudah kubuat beli es krim. Aku tadi kehausan soalnya. Aku mengelilingi pasar kayak anak hilang, untung aku bawa ponsel.”

“Terus?”

“Ya aku pura-pura telepon biar kelihatan sibuk.”

Pameela memutar bola mata malas. “Aku hampir lumutan nunggu kamu di sini, tahu.”

Mark mengendikkan bahu, kemudian mengenakan celemek birunya. Kedua bersaudara itu mengeluarkan cokelat dari karung dan menatanya di meja.

Biasanya, Mark akan beli minimal empat karung cokelat klasik dalam sehari. Tapi, persediaan uangnya semakin menipis—Pameela juga tidak mau menambahkan sepeser pun—dan akhirnya Mark hanya beli dua. Itu pun ukurannya kecil. Selama seminggu itu pula Mark berusaha membuat cokelat untuk Arin di hari Valentine. Tapi sialnya, Pameela dan Lauren selalu mengkritik kalau masakan Mark itu tidak enak dan tidak pernah ada kemajuan.

Mark ingat sekali saat hari pertama yang berjalan tidak mulus bersama Lauren si adik bungsu….

“Kak Mark, cokelat macam apa, tuh?”

 

“Ini bentuk hati, Dek.”

 

“Bentuk hati? Coba deh kakak tanya ke orang gila, ini bentuk hati atau gundukan tanah?”

Hari kedua juga tidak terlalu baik….

“Kak Mark, Dedek nggak mau lihat ini. Kayak kotoran ayam.”

 

Ngaco kamu. Ini wajahnya Arin, tahu. Cantik, kan?”

 

“Kak Arin bisa memenggal kepalamu kalau lihat bentuk wajahnya kayak gini.”

Dan yang paling parah adalah hari ketiga, di mana saat itu ia bersama Pameela….

“Cokelatmu rasanya kayak kardus berminyak.”

 

“Tapi aku sudah mengikuti semua petunjukmu, Kak.”

 

“Oh, bukan. Mungkin lebih tepat seperti… kardus gosong.”

Untuk hari keempat dan seterusnya, Mark sudah tidak ingin mengingatnya lagi. Ia sangat muak sampai rasanya ingin menguliti Pameela dan Lauren hidup-hidup, tapi tentu saja itu hanya ada di pikirannya.

Meski begitu, semua cokelat-cokelat bekas buatannya kemarin masih ia simpan di kulkas dan tidak ada siapa pun yang berani memakannya. Lauren berulang kali menyuruh Mark membuangnya, tapi Mark ngotot kalau hal itu mubadzir. Membuang cokelat sama saja dengan membuang uang. Sedangkan Pameela menyuruhnya untuk memberikannya pada kelinci peliharaan mereka, tapi Mark menolak juga karena—kata Arin—kelinci itu tidak suka cokelat.

Dan ternyata, hari ini juga tidak jauh berbeda.

“Mark, cokelatmu terlalu asin.”

“Hah? Tapi aku kan nggak pakai garam.”

Nah, saat itulah Mark merasa kalau ada yang tidak beres dengan otak Pameela.

**********

Shit, kurang dua puluh dua jam lagi.” Entah sudah berapa kali Mark mengumpat dalam sejam belakangan. Ia mengacak rambutnya frustasi. Arin pasti kecewa kalau Mark tidak membuatkannya cokelat. Tapi mau bagaimana lagi? Sejak dilahirkan, Mark memang tidak dianugerahi bakat memasak.

Akhirnya, ia pun menelpon Jaemin untuk meminjam uang guna membeli cokelat yang langsung jadi. Namun Lauren yang baru main tidak sengaja mendengar kakaknya menelpon seseorang untuk pinjam uang. Lauren memegang dadanya seakan tidak percaya. Sejak kapan Kak Mark pintar berhutang?, tanya Lauren dalam hati. Sebagai adik yang baik, Lauren merasa dikhianati. Lauren pikir keluarganya tidak pernah mengajarkan Mark berkelakuan seperti itu. Gadis lima belas tahun itu mendekat dengan langkah ringan.

“Pinjam uang buat apa?” selanya yang membuat Mark reflek melempar ponselnya karena kaget.

Ponselnya jatuh ke lantai.

Dan mati.

“Ya ampun, Dek, bikin kaget.” Mark memegang dadanya dengan wajah mellow.

“Habisnya Kakak telepon kayak maling, pake sembunyi di bawah meja segala.”

Mark hanya terkekeh.

“Dedek tanya, Kakak pinjam uang buat apa?” ulang Lauren sambil berkacak pinggang.

Mark mengelus tengkuknya. “Buat beli cokelat. Aku mau beli yang langsung jadi, biar nggak repot.”

Lauren mengerutkan alis. “Kok nggak pinjam ke kak Pameela?”

“Kak Pameela kan pelit,” jawab Mark, lirih sekali supaya tidak ada yang dengar. “Lagian Jaemin mau pinjemin uangnya, kok. Mumpung orang tuanya baru gajian.”

 “Kakak nggak sopan. Mau Dedek aduin kak Pameela kalau Kakak suka ngutang?”

Mark menghela napas. “Dedek, Kakak nggak ngutang. Cuma pinjam duit.”

“Dengar. Membuat cokelat dengan tangan sendiri itu lebih baik. Lebih sentimental. Lebih berkesan,” sahut seseorang. Mark terkejut karena Pameela berada beberapa meter darinya. Entah sudah berapa lama ia di situ.

Mark gelagapan sendiri. “Eh, kak Pameela? Apa kabar, Kak?”

Pameela mendekat. “Kalau mau bikin kejutan, prosesnya harus pakai tangan sendiri biar lebih sentimental. Arin pasti senang. Dijamin, deh.”

Mark lega sekali saat Pameela tidak membahas masalah utang. Mungkin Pameela memang tidak dengar. “Tapi Kak Ela kan tahu sendiri kalau cokelatku nggak enak. Percuma buat dari tangan sendiri kalau ujung-ujungnya bisa bikin Arin sakit perut.”

“Kalau gitu, ayo kita buat lagi. Sekarang biar aku yang belikan cokelatnya, deh,” Pameela merangkul pundak Mark.

Mark menatap Pameela dengan mata berbinar. “Serius, Kak?”

Pameela mengangguk. “Tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Jangan jadi tukang utang.”

Ugh. Ternyata Pameela mendengar semuanya.

**********

Kurang setengah jam lagi Arin datang.

Mark memperhatikan Pameela yang tengah mencicipi cokelatnya. Wajah Pameela tampak mencurigakan. Mark menelan ludah. Ini untuk yang terakhir kalinya. Kalau ia masih mendapat makian, Mark bersumpah tidak akan mau membuat cokelat lagi seumur hidup. Apalagi ia sudah mengerahkan seluruh hati, tenaga, kesabaran, bahkan uangnya untuk membuat cokelat sialan itu.

It taste like shit.”

Adalah komentar pertama dari Pameela. Gadis itu memuntahkan cokelatnya ke tempat sampah, lalu minum air putih banyak-banyak.

“Masih seburuk itu, Kak?” Wajah Mark memelas.

No, it taste like rubber. Ini bahkan lebih parah dari kardus gosong. Keras. Untung gigiku nggak copot.”

 

Seketika Mark merasa seperti orang tersial di dunia. Usahanya selama seminggu ini sia-sia karena kakak dan adiknya selalu mematahkan semangatnya. Dan demi apa pun, Mark sudah mematuhi setiap petunjuk dari Pameela. Bahkan saat Pameela bilang kalau cokelatnya asin, Mark langsung percaya. Harusnya saat itu Mark berpikir, ‘mana ada cokelat rasanya asin?’

 

“Kalau gitu, aku mau beli saja, Kak. Aku—“

 

“HALO SEMUANYA! AKU DATANG!”

 

Terlambat sudah.

 

Mark tidak berani menggerakan kakinya untuk menemui Arin yang langkah berisiknya terdengar sampai dapur. Gadis itu pasti mencarinya. Tak butuh waktu lama, gadis berambut panjang itu menemukan dua kakak-adik dengan tampang berkebalikan sedang berdiri di depan kulkas. Ternyata Arin tidak sendirian, dia bersama Lauren.

 

“Hai, semuanya. Selamat hari Valentine, ya! Eh, Kak Ela—whoa! Itu cokelat, ya? Buatan siapa?”

 

“Kak Mark!” jawab Lauren.

 

Mark hanya mengangguk lesu.

 

“Ya ampun, kamu romantis sekali.” Arin mengacak rambut Mark. “Aku mau coba, dong!”

 

“Anu, Rin….” Mark gelagapan. Ia khawatir melihat Arin yang dengan gesit menyahut nampan yang barusan dipegang Pameela.

 

Saat Arin sudah merasakan satu gigitan dan mengunyahnya dengan penuh perasaan, hal yang terjadi selanjutnya adalah matanya terbelalak.

 

“Anu, Rin. Itu… aku….”

 

“Mark….”

 

“Itu, aku… kurasa cokelatnya….”

 

“Ini… ini keterlaluan.”

 

Oke. Mark pasrah. Ia akan menerima apa pun perkataan Arin. “Aku tahu. Maafkan aku—“

 

“Sejak kapan kamu bisa masak, Mark?”

.

.

.

.

.

Lima detik kemudian….

 

“Saudara macam apa kalian?! Awas, ya! Nanti kuadukan Mama!”

 

Arin menghabiskan seluruh cokelat buatan Mark di kulkas, sedangkan Mark, Lauren, dan Pameela berlarian di dapur.

 

Arin pikir inilah keluarga. Yah, meskipun pada akhirnya mereka harus bertengkar gara-gara cokelat.

 

Lalu, Arin mengambil cokelat terakhir yang masih ditaruh di loyang. Arin memandangi bentuk cokelat itu dengan bingung.

 

Alisnya mengernyit.

 

“Ya Tuhan, wajah siapa ini? Jelek sekali.”

.

.

.

.

.

_Fin_

 

Annyeong ^^ Mohon kritik dan sarannya ya 😀 Jiyo masih pemula soalnya, jadi harap maklum kalo jelek & banyak typo :v *sungkem

Advertisements

6 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Karena Cokelat (Vignette)

  1. WHYYY INI SO LAWAK WKWKWKWK
    Hmmmm Mark punya sodara cewe? jadi inget emerald dan mckenzie /siapa tuh /lantas kak airly bersin OCnya disebut
    Uggghhh ada gitu ya cowo yang kaya Mark, mati2an ngelakuin apa aja demi bisa nyenengin gebetan. ya tapi setengah ogeb juga sih aslinya hahahaha
    no review deh, udah bagus as always ini kak. tapi baru2 ini aku tahu kalau penulisan kalimat asing di dalam flashback itu enggak perlu dijadikan normal mode, tetep italic aja enggak papa. setahuku sih gitu pas baca novelnya Tere Liye hehehe, itu sih kak ~ kutunggu zodiac selanjutnya /SALAH LAPAK WOYYY

    Liked by 1 person

    • Emerald & Mackenzie ? o.0

      Sempet kaget pas tahu kalau “NO taste it like rubber” itu nyampe bawah di italic :v Padahal di word-ku nggak kayak gitu loh :’3 Mungkin kakak admin keliru ngeditnya HAHA

      Makasih sudah baca & komen mbalel :* Zodiak segera menyusul 😀

      Like

  2. Tolooongg nistakan mark sekali lagi nistakaaaannnn ini kurang nistaaaaaaaa HAHAHAHAHAHAHAHAHA 😂😂😂😂😂
    Tambahin itu sekalian si Arin sama Pameela bilang, “Mark kenapa cokelatmu rasa popok bayi bekas?” 😂 /LALU DIKAMPLENG SATU KAMPUNG/
    Nda papa mark, demi gebetan, utang menghutang pun dihalalkan, asalkan duitnya dikembaliin ehe /krik/

    Keep writing kak! Ceritanya zzuuper sekaliii ❤️❤️

    Liked by 1 person

    • Tunggulah don, Mark akan segera kunistakan lebih barah atas doa simbah /wush/ HAHAHA COKELATMU RASA POPOK BAYI BEKAS :V Ih si Dona jorok :’3 Ntar Mark tambah sedih lho :’3

      Makasih sudah komen dedek pacarnya Mark ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s