[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Gemini (Series)

gemini

Zodiak Love Story

 #Gemini

.

Author :: Rijiyo

Cast :: [NCT’s] Haechan as Kim Dong Hyuk & [OC’s] Lauren Lee

Genre :: Comedy, Romance

Length :: Vignette

Rating :: Teen

.

“….Gemini volatile attitude often look attractive. And the words he spoke often sounded enchanting.” – Gemini

.

Ini menyebalkan.

Ini sangat-sangat-sangat menyebalkan hingga rasanya ingin kucungkil kedua matanya yang terus menatapku lugu seolah berkata hai-ada-yang-bisa-kubantu.

Aku bersumpah ini merupakan aksi dengan unsur kesengajaan di dalamnya. Mataku lelah dan kuputuskan untuk mengedarkan pandanganku ke sekeliling jalanan yang lumayan ramai, karena (1) isi ponselku terlalu membosankan (2) orang-orang di halte ini juga membosankan dan (3) kenapa bus hijau sialan itu tidak datang-datang, sih?!

Dia berjarak dua puluh sentimeter dariku. Cowok ganteng dengan jaket biru dan mata yang berbinar. Aku akui ada sesuatu yang menarik di matanya sampai aku tak bisa begitu saja melewatkannya. Aku berpikir apakah dia seorang artis, karena rasanya wajah itu pernah mondar-mandir di televisi, tapi… ah, mungkin itu hanya perasaanku. Tatapanku tertahan padanya selama lima detik sebelum dia meluncurkan satu senyuman lembut. Dan aku langsung tersentak. Mungkin dia mau melakukan aksi rayu-merayunya.

“Jangan marah terus dong, Ren.”

Tidak, jawabannya adalah tidak. Kami tidak saling mengenal (oke, aku bohong). Sepanjang aku hidup, belum pernah ada orang seganteng itu merayuku. Dia orang asing, sepenuhnya asing seperti pacar Bibiku yang dia boyong dari Selandia Baru (fyi, baunya seperti percampuran pengharum ruangan dan kardus bekas).

Bedanya yang satu ini tidak beraroma seperti itu. Dia selalu berbau jeruk, kadang-kadang juga lily. Tapi sekarang dia pakai parfum jeruk. Well, aku tidak bilang aku terpesona (oke, aku bohong lagi). Lalu kupikir tak baik rasanya jika mengabaikannya (mengabaikan orang seganteng ini? Hello?), maka aku membalas senyuman itu dengan senyuman simpul namun diam-diam berharap ini cukup mematikan. Tapi itu hanya senyuman tipis nan singkat, tidak lebih dan tidak kurang.

“Tuh, bus hijau sudah datang. Yuk! Berangkat!”

Dia menggenggam tanganku. Aku merasa seperti tersengat listrik jutaan volt dan perutku langsung bergejolak tak keruan. Tapi aku tidak bilang kalau aku terbutakan oleh caranya merayu, karena sampai kapan pun, dia akan selalu membuatku marah. Dia sempat mengalihkan pandangannya sejenak ke arah bus lalu kembali lagi padaku, seolah dia sedang menertawakan dirinya yang hanyut ke dalam akting ambigunya. Aku bertanya-tanya apakah hari ini aku cantik luar biasa atau apakah caraku cemberut bisa begitu menarik perhatian cowok?

Kami naik bus. Di dalam perjalanan, kami duduk bersebelahan. Tidak, tidak, kami tidak pacaran. Well, kak Mark bisa mencekikku dan kak Pameela bisa menggunduliku kalau aku sampai pacaran dengannya. Belum lagi ucapan kak Jaemin yang bilang kalau dia paling nakal dan suka menyontek di kelas, membuatku jadi berpikir dua kali kalau harus menyukainya.

“Udah dong marahnya.” Dia menyenggol bahuku iseng.

Aku berdecak sebal. “Biarin. Ini kan emang salah kakak.”

“Tapi kakak kan lupa.”

“Masa lupa sampai enam kali?”

Dia terkekeh pelan. “Namanya juga orang sibuk. Tapi sekarang kita jadi ke kebun binatang, kan? Kamu sudah ijin sama kakakmu?”

Aku tetap diam. Aku kesal. Sangat-sangat-sangat kesal. Apalagi dia juga tidak minta maaf.

“Terserah deh mau ngambek sampai kapan. Yang penting jangan ngamuk di tempat umum, ya. Nggak sopan.”

What the—oke. Aku menghela napas lagi. Aku akan berusaha bersikap dewasa—setidaknya di hadapan cowok pelupa ini. Lagipula aku kan sudah lima belas tahun (oke, ini tidak ada hubungannya).

“Lagian kak Donghyuk tuh sibuk apa, sih? Kakak kan bukan orang kantoran.”

“PR-ku banyak, Dek. Jaemin sama Jeno juga nggak pernah mau bantu. Aku berasa mau mati, apalagi kalau dapat PR fisika.”

“Jangan panggil Dek. Panggil Lauren saja.”

Aku tidak biasa dipanggil ‘Dek’ selain oleh kak Mark dan kak Pameela. Lagian, kalau kak Donghyuk memanggilku Dek, itu akan terdengar aneh.

“Ya nggak apa-apa. Biar so sweet.”

So sweet apanya?!

Lima belas menit kemudian, bus sudah sampai di kebun binatang. Entah kenapa, mood-ku langsung membaik—mungkin karena aku memang suka binatang.

Whoa! Elephant!” seruku agak histeris sambil menarik tangan Kak Donghyuk untuk mendekati hewan besar itu. Aku memberinya rumput. Awalnya aku mengajak kak Donghyuk, tapi dia tidak mau dan lebih suka melihatku saja. Uuuhhh… entah di mana letak keromantisannya, tapi aku salah tingkah. “Lauren suka gajah. Oh iya, dulu kak Mark pernah janji mau beliin gajah. Tapi sampai sekarang belum dibelikan.”

“Kakakmu emang tukang PHP.”

Aku menoleh. “PHP? Apa itu? Program komputer semacam CSS dan HTML, ya?”

Kak Donghyuk tertawa, lalu mengangkat bahu. “Ya gitu, deh. Kalau bahasa gaulnya sih, orang yang nggak pernah menepati janji.”

“Oh.”

Setelah puas melihat gajah, kami berjalan menuju kandang ular kobra. Aku langsung tercengang. Kenapa ular ini besar sekali? Aku jadi merinding.

“Keren! Aku mau coba pegang, ah.” Kak Donghyuk melepaskan genggaman kami dan berlari mendekati penjaganya untuk minta ijin memegang ular itu.

“Kak, nanti kalau digigit, gimana?” tanyaku.

“Enggak, kok. Kan sudah ada pawangnya. Oh iya, tolong fotokan aku, ya. Yang bagus.” Kak Donghyuk memberikan ponselnya padaku. Aku menerimanya dengan tangan agak gemetar. Bagaimana tidak? Kobra itu bahkan lebih besar daripada orangnya. Aku begidik sambil cepat-cepat membuka kamera. Kak Donghyuk terlihat tidak takut sama sekali saat ular itu mengalung di lehernya. Wajah kak Donghyuk dan wajah ular itu sejajar. Dan kalau kulihat-lihat, ular itu jauh lebih ganteng.

Satu… dua… tiga.

Klik!

.

.

.

Ini adalah kali pertama aku dikelilingi tangki-tangki besar dengan ratusan ikan warna-warni berenang bebas di dalamnya. Aku terpana akan pemandangan itu, begitu juga dengan kak Donghyuk yang tak bisa menutup mulutnya. Bahkan aroma amis tak mengganggu kami sama sekali karena saking menikmati pemandangan menakjubkan di sini.

“Ada Domentor!” pekik kak Donghyuk tiba-tiba menarik tanganku untuk pergi ke tangki di mana ada puluhan ikan berwarna hitam itu.

“Hah? Domentor?” tanyaku tak percaya. Bagaimana mungkin ikan ini namanya Domentor?

“Dulu aku punya ikan Domentor. Aku sempat menangis pas dia mati, tapi ayah membelikanku ikan baru,” jelasnya.

“Kok bisa mati?” tanyaku.

“Lupa nggak kuberi makan.” Kak Donghyuk terkekeh, seperti menertawai kecerobohannya sendiri.

“Eh, itu kan Nemo!” Kak Donghyuk memekik lagi sambil menunjuk tangki di depan kami.

Aku mengangguk, lalu melihat papan yang menjelaskan tentang asal-usul hewan ini. “Lihat ini, Kak. Mereka menyebutnya clownfishes atau anemofishes, adalah ikan yang paling populer di akuarium laut.”

Kak Donghyuk mengangguk. “Iya. Mereka memiliki warna yang menarik, menunjukkan perilaku menarik, dan mereka adalah satu di antara ikan laut yang punya sifat tabah.”

“Eh? Tabah?”

Mendegar kata ‘tabah’, aku jadi langsung teringat kakak kelas sekaligus temanku, Huang Ren Jun, yang selalu tabah menghadapi cobaan.

“Eh, ada Sebastian!” Kini kak Donghyuk menunjuk kepiting sambil menggoyangkan tanganku. “Ren, ada Sebastian di sini.”

“Itu kepiting, bukan Sebastian,” koreksiku.

“Tapi itu memang Sebastian.”

“Kok bisa namanya Sebastian?” tanyaku tak mengerti dari mana datangnya nama itu, karena di papan tidak ada nama Sebastian. Kak Donghyuk memang sok tahu. Lagian nama Sebastian itu terlalu keren untuk seekor kepiting.

“Itu lho, yang ada di film Ariel si Putri Duyung. Sebastian itu peliharaannya Ariel. Kamu nggak pernah nonton tivi, ya?”

“Pernah.” Tapi cuma lihat drama dan boyband yang beranggotakan Oppa-oppa ganteng. “Terus mana putri duyungnya? Siapa namanya tadi? Ariel?”

Kak Donghyuk menepuk dahinya. “Ya nggak ada lah. Itu kan cuma di film.”

Ah, benar juga. Aku terkekeh lugu dan kami berjalan menuju jajaran ikan dugong yang lucu-lucu. Saking lucunya, aku jadi ingin menyentuh kulitnya. Tapi sayang sekali dugong-dugong itu berada di akuarium ukuran medium dan hanya bisa menari-nari tanpa boleh disentuh. Kak Donghyuk memperhatikan ikan itu dari jarak sangat dekat dengan mata melebar—hingga bibirnya hampir mencium kaca akuarium. Entah apa yang dia lihat, mungkin dia juga tertarik sama ikan ini. Tapi kayaknya tidak perlu sampai seperti itu, deh.

“Bu, sepertinya dugong itu tertarik pada paman ini.”

Ugh. Aku reflek menutup mulutku tatkala ada anak kecil yang berseru sambil menunjuk wajah kak Donghyuk dan dugong itu bergantian.

Kak Donghyuk langsung menjauhkan wajahnya dan melihat anak itu dengan sinis seolah berkata dugong-jelek-itu-tidak-menyukaiku.

“Ren, pergi, yuk. Mau lihat lumba-lumba?” ajaknya dengan ekspresi kesal.

Aku menggeleng. “Aku mau lihat ikan pari.”

“Ikan pari itu nggak lucu.”

“Mereka lucu kok, apalagi yang masih bayi. Kakak pasti suka.”

Kak Donghyuk menghela napas sebal. “Oke, deh.”

Kim Donghyuk sedang badmood rupanya.

.

.

.

“Wah, lihat, Kak! Itu ikan pari yang baru lahir!” seruku.

Kami melangkah ke kolam nomor dua yang berisi anak-anak ikan pari. Kak Donghyuk kayaknya masih ngambek perkara ikan dugong, tapi ya sudahlah. Nanti dia akan baik-baik sendiri. Kak Donghyuk kan bukan cowok yang lama marahnya.

Aku berjongkok, memandangi anak pari itu dengan berbinar. Mereka berenang ke atas, seolah tahu kalau aku ingin sekali menyentuhnya.

“Jangan memegangnya, nanti kamu digigit,” cegah Kak Donghyuk. Dari mana dia tahu kalau aku mau pegang pari ini?

“Dia nggak punya gigi, kan dia masih bayi,” tangkisku.

“Bayi pari itu beda sama bayi manusia, Ren.”

“Ah, biarin. Paling rasanya kayak digigit semut.” Aku mulai menyentuhnya dengan hati-hati. “Dia lucu sekali. Siapa na—AW!”

Ugh. Pari itu menyetrumku.

Aku menarik tanganku dari kolam itu. Kalau tidak ada kak Donghyuk, aku pasti sudah menyumpahi pari-pari ini. Aduh, mana gigitannya perih, lagi. “Mereka nggak lucu!” ucapku kemudian.

“Baru nyadar?” Kak Donghyuk berkata dengan cuek.

Aku mengelus-elus tanganku yang memerah dengan mata berkaca-kaca. “Kan aku nggak tahu kalau pari itu nyetrum.”

“Itu karena kamu bandel. Makanya, kalau aku ngomong tuh dengerin.”

Dia… bukannya mengobati tanganku atau cemas, malah memarahiku. Tidak, aku tidak berharap dia menelepon ambulans atau membelikan obat merah. Tapi… harusnya dia kan menenangkanku, bukan malah mengomeliku begini. Apa dia masih badmood? Ternyata orang badmood itu begini, ya? Pasti kak Donghyuk tadi sebal pas lihat aku badmood gara-gara dia melupakan janjinya mengajakku ke kebun binatang. Habisnya, siapa yang tidak kesal? Dia sudah janji enam kali, tapi dia lupa terus dengan alasan sibuk ini lah, sibuk itu lah. Kurasa, dialah tukang PHP yang sebenarnya.

“Ayo pergi.”

Dia berkata begitu dengan cueeeeeeek sekali. Bayangkan saja. Ugh, untung aku tidak berniat mengadukan hal ini pada Kak Mark. Mungkin inilah alasan kenapa kak Mark dan Kak Pameela melarangku main sama kak Donghyuk, bukan karena dia paling nakal di kelas atau suka menyontek, tapi karena dia tukang PHP.

Tujuan kami selanjutnya… ah, aku tidak tahu. Aku hanya mengikuti kak Donghyuk di belakang sambil sesekali mengumpat. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Dia terus berjalan dengan langkah tegak dan kedua tangan yang tenggelam di saku. Cih, dia kelihatan tidak keren kalau seperti itu.

“Kamu nanti mau makan apa, Ren?” tanyanya tanpa menoleh. Aku hanya diam.

“Ren? Kok gak jawab?”

Aku tetap diam. Rasain, tuh! Biar dia tahu rasanya dicuekin.

Dia juga belum minta maaf sama sekali padaku. Sebagai cowok sejati, harusnya dia kan minta maaf karena tidak menepati janjinya. Eh, tapi, apa dia memang cowok sejati? Ah, tidak mungkin karena dia kan tukang PHP.

“Kak, Lauren kebelet pipis,” pungkasku kemudian.

Kak Donghyuk berbalik untuk menatapku. “Kamu tahu toiletnya?”

“Nanti aku cari sendiri. Kakak tunggu Lauren di sini, ya? Jangan ke mana-mana.”

Kak Donghyuk mengangguk. Aku melangkah menjauh dengan bengis. Aku tidak tahu di mana letak toiletnya, hingga akhirnya aku bisa menemukan tempat itu setelah bertanya beberapa kali pada penjaga.

Sepuluh menit kemudian, aku kembali ke tempat kak Donghyuk menungguku. Hatiku mencelos saat tak kulihat dia di sana. Aku mengedarkan penglihatanku ke sekeliling. Tetap tidak menemukannya. Ke mana dia?

Aku mulai gelisah, takut, cemas, atau apa pun itu. Kuambil ponselku dan mencari nomornya.

Kak, kamu di mana?

Dua menit kemudian kak Donghyuk membalas.

Aku ada di luar. Di depan gerbang masuk.

Hah? Aku menganga tidak percaya. Dia ke luar… meninggalkanku? Apa susahnya sih menungguku di sini?

Sambil menahan kekesalan dan amarah, aku berjalan ke luar kebun binatang dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Dasar Kim Donghyuk Tukang PHP. Ternyata aku salah karena selama ini menganggapnya anak baik dan lucu. Aku kecewa padanya. Ah, tidak. Tapi, aku membencinya. Aku sangat membencinya melebihi apa pun. Mulai besok, aku tidak akan pernah mau diajak jalan-jalan lagi. Percuma! Toh, ujung-ujungnya aku pasti akan marah.

Aku jadi ingin pulang, lalu memeluk kak Mark dan kak Pameela sambil bilang kalau aku menyesal karena sudah bandel. Aku ingin menangis kencang sambil bilang kalau KIM DONGHYUK ITU TUKANG PHP. Air mataku semakin memuncak di pelupuk hingga pandanganku kabur. Aku meremas bajuku kuat-kuat. Aku memang kekanakan. Tapi siapa juga yang tidak kekanakan kalau berhadapan sama SI TUKANG PHP? Apalagi TUKANG PHP itu adalah… adalah cowok yang—oke, maafkan aku—kusukai. Tapi kenapa dia malah membuatku begini? Tidak bisakah dia mem—

“Hai, Nona Cantik!”

Aku mematung di depan gerbang. Tepat di depanku saat ini ada manusia berkostum gajah sedang menari-nari. Aku ingin tertawa. Ini hiburan yang cukup lucu. Namun bukan kostumnya yang membuatku tercengang, tapi manusia itu memakai kostum gajah yang kepalanya terbalik. Dia menari-nari tidak jelas sampai banyak orang yang memperhatikannya. Aku jadi ingin bergelinding sambil bilang kalau dia adalah makhluk paling bodoh sedunia.

“Jangan marah lagi, dong.”

Eh? Tunggu.

“Kamu jelek kalau ngambek.”

Suara ini kayaknya tidak asing.

“Maafkan aku, ya.”

Aku memandangnya. Takjub sekaligus tidak percaya. Manusia itu melepas topengnya, kemudian tersenyum lebar padaku. Bagaimana ya perasaanku saat ini? Marah? Kesal? Senang? Ah, aku tidak tahu. Ini terlalu mengejutkan sampai aku tidak bisa berkata apa-apa.

Kak Donghyuk mendekat sambil menyodorkan sebuah boneka gajah yang lucu. “Maafin aku ya, Lauren Lee yang cantik.”

Stupid boy,” desisku. Aku tidak bermaksud mengatainya. Tapi aku benar-benar… oke, lupakan.

“Ya, aku memang stupid. Tapi aku akan jadi lebih stupid kalau lihat kamu kesal.”

You’re an crazy.”

“Ya, aku memang crazy. Tapi aku akan jadi lebih crazy kalau kamu nyuekin aku.”

Oke, aku kalah.

“Nih, hadiah dariku. Katanya kamu suka gajah, kan? Maaf aku masih nggak bisa beliin kamu gajah beneran, jadi sementara ini beli bonekanya dulu, ya?”

Sialan. Kak Donghyuk berhasil memorak porandakan hatiku. Bagaimana aku tidak luluh kalau sudah begini?

Aku menerima boneka itu dengan sadis. “Makasih,” ucapku, judas—padahal hatiku bahagia setengah mati.

Kak Donghyuk meraih tanganku yang tadi habis disetrum pari. Dia mengelus-elusnya dengan lembut. Lalu, yang membuatku langsung pusing adalah, dia mengecup bekas sengatan pari itu beberapa kali. Rasanya kayak ada sesuatu yang jatuh di ujung hatiku—oke, ini alay. Tapi, sungguh, kupikir adegan seperti ini cuma ada di drama. Jantungku seketika berbunyi dag-dig-dug dalam tempo cepat.

“Nah, tanganmu sudah sembuh,” katanya dengan semangat.

“Kakak sudah nggak badmood?”

“Enggak, kok. Habisnya anak kecil tadi ngatain aku paman, sih. Kan rese.”

“Kak Donghyuk emang kelihatan tua.”

“Beneran?”

Aku mengangguk.

Namun dua detik kemudian, dia menatapku dengan jahil. “Nggak apa-apa, deh. Toh, kamu juga bakal tetep suka.”

“Ih, apaan, sih?!”

Aku mencubit lengannya berkali-kali hingga dia mengaduh.

.

.

.

“Kakak dapat kostum itu dari mana? Lucu, tahu.”

“Tadi aku pinjam di… eh, aku lupa namanya. Pokoknya pinjam. Mumpung gratis.”

“Kok nggak malu sih nari-nari di sana? Kostumnya kebalik lagi, masa muka gajahnya di belakang?”

“Hehehe, apa aja kulakuin biar kamu nggak ngambek.”

“Apaan coba.”

“Oh iya, soal gajah itu aku serius. Aku bakal beliin kamu gajah asli, tapi tunggu dulu, ya.”

“Tunggu apa?”

“Ya aku kan juga harus nyicil buat beli kandangnya. Masa gajahnya mau ditaruh di kamarmu? Kan nggak lucu.”

“Gajahnya bakal aku taruh di kamarnya kak Mark. Jadi kalau kak Mark lagi galau, dia bisa meluk gajah. Kan enak, udah badannya besar, empuk lagi.”

“Pokoknya tunggu aku deh, sepuluh tahun ke depan.”

“Nggak lima puluh tahun sekalian? Biar kayak lagunya Raffi Ahmad sama Yuni Shara.”

“Jangan dong, kelamaan itu mah. Jadi intinya, aku mau beli gajah, kandang, dan….”

“Dan apa?”

“Dan….”

“Dan apa? -_-“

“Dan…. J”

“Dan apaan, sih?”

“…. Dan cincin kawin kita.”

.

.

.

_Fin_

A/N :

Alamakhoy! Si Haechan apaan coba –“ Masih kecil udah tau kawin-kawinan –“ Oke, maafkan aku Haechan, membuatmu jadi cowok yang rada genit tapi cocwit  ^^

Sekian & Terima Jaemin ^^

Oh iya, diwajibkan bagi siapa pun yang sudah baca cerita ini untuk ikut membantu Hechan nyicil buat beli gajah ya ^^

#prayforHaechan

Advertisements

7 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Gemini (Series)

  1. “Aku merasa seperti tersengat listrik jutaan volt dan perutku langsung bergejolak tak keruan” mbak Lauren yakin itu listrik jutaan volt? aku kesetrum 220 volt aja udah menggelinjang loh /ITU DIKSI LEL /ITU HANYA MAJAS /JANGAN SAMAKAN SASTRA DENGAN TEORI ALAM
    “PHP? Apa itu? Program komputer semacam CSS dan HTML, ya?” LAHH ANJAYY INI SI DONGHYUK LAGI NGILU SAMA TUGAS AKHIR DESAIN WEB APA GIMANA????!!

    HAHAHAHAHAHAH WHY INI SO LAWAQUE HINGGA KUTERBAHAQUE
    awal2nya kaya ada feel FF terjemahan gitu bahasanya khas ala orang rese hobi ngatain, tapi makin ke sini………. what apaan tuh ada Raffi sama Yuni LOL

    Ihhh dek haechan sini sama Noona :3 Mark itu antara bego sama sayang adek ya njanjiin beliin gajah, jadi sebenernya yang tukang PHP itu Mark apa Haechan?!

    Sudah ji kulelah, kugemetar, karena tak henti2nya ngakak XD keep writing dan kutunggu zodiac selanjutnya ^^

    Liked by 1 person

    • Biasalah aku kan emang suka alay kalo perkara diksi 😀

      BTW LAUREN KETULARAN PAMEELA YANG SUKA NGATAIN ORANG HAHAHA 😀 YANG PHP ITU SEBENARNYA TAEYONG /dibacok/

      Makasih sudah baca mbalel ❤

      Like

  2. KAK ITU KOBRANYA DIKALUNGIN KE LEHER, BUKANNYA DIBELIT NTAR MALAH DIPATOK KA, WKWKWK BTW, IKAN PARINYA NYETRUM GITU? AKU MALAH BARU TAHU IKAN PARI NYETRUM, WKWKWKWK
    DAN BTW LAGI, RENJUNKU MASIH DIBAWA2 JUGA. EMANG SUSAH JADI ORANG MANIS, MAU NONGOL DIKIT AJA YG PENTING NONGOL. WKWKWKWKWK

    DADAHHH…..

    #capslockmodeon

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s