[NCTFFI Freelance] Stay With Me (Chapter 1)

photogrid_1486985868864

STAY WITH ME

 BY BABYBO

PG-17

STARTING JENO NCT & OC

AU, SCHOOL LIFE, ROMANCE, SAD

MINI CHAPTER

.

.

Manusia itu makhluk sosial. Semua orang tau itu. Semua orang juga tau arti dari kalimat itu. Dan semua orang-pun merealisasikan kalimat itu. Tapi, kalimat itu tidak berlaku kepadaku. aku tak punya siapapun. Tak ada seorangpun yang berada disisiku.

Aku hanya remaja delapan belas tahun yang hidup seorang diri tanpa siapapun disisi ku. Aku berasal dari keluarga yang berada. sangat berada. Aku juga berasal dari keluarga yang ternama. Dan memiliki keluarga hangat layaknya keluarga yang lain dulu.

Ya. Itu dulu. Tepatnya dua tahun yang lalu sebelum semuanya lenyap dalam sekejap. Orang tuaku meninggal akibat racun yang diberikan oleh musuh ayahku. Ayahku pembisnis yang hebat. Usahanya berjalan dengan lancar.

Namun akibat kesuksesan itu banyak orang yang tidak suka terhadap ayahku. Bisa dibilang kalau ayahku mempunyai banyak musuh yang ingin menjatuhkan usahanya. Namun ayahku bukan orang yang mudah dijatuhkan hanya karna mempunyai banyak musuh.

Perusahaan ayahku memang tidak mudah dijatuhkan, namun ayahku hanya seorang manusia yang mudah dilumpuhkan oleh sebuah racun. Aku tak tau bagaimana kerasnya dunia kerja sampai-sampai ayahku dibunuh oleh musuhnya.

Bahkan bukan hanya ayahku, ibuku pun direngggut oleh musuh biadab ayahku itu. Semenjak kematian ayahku perusahaan dipegang alih oleh sekertaris ayahku. Tangan kanan ayah, yang juga merawatku setelah kedua orang tuaku meninggal.

Tak hanya kesepian dirumah. Aku pun kesepian disekolah. Sekolahku hanya berisi orang-orang yang berteman karena kasta dan derajat.  Aku memang orang yang berada, namun memiliki teman yang hanya memanfaatkan kekayaan keluargaku aku benar-benar membenci itu.

Bahkan teman-temanku tidak tau kalau aku berasal dari keluarga berada. mereka hanya tau kalau aku gadis biasa yang berhasil masuk kesalah satu sekolah ternama dikorea ini melaluli beasiswa yang biasanya diterima oleh siswa berprestasi dengan keadaan ekonomi yang sulit.

Mereka semua mengucilkanku dan tak ada yang ingin berteman denganku. Awalnya aku sama sekali tak masalah dengan itu. Karna aku mempunyai keluarga yang sangat sempurna dirumah yang selalu menyambutku ketika aku pulang sekolah.

Tetapi setelah kedua orang tuaku meninggal aku merasa semua itu masalah sekarang. Tak mempunyai seseorang lagi yang akan mendengarkan keluh kesahku seperti ibu. Tak mempunyai seseorang lagi yang akan menyemangatiku ketika lelah seperti ayah.

Aku merasa hidupku tak ada artinya lagi. aku selalu bertanya kepada tuhan mengapa ia tak mengambilku juga seperti kedua orang tuaku. Aku benar-benar depresi karna tak mempunyai satu orangpun disisiku.

Bunuh diri? Aku sudah pernah melalukan itu. Menyayat pergelangan tanganku sampai berdarah didalam bath up. Aku merasa rencana itu berhasil karna aku merasakan kedua mataku memberat dan akhirnya gelap. Lalu aku melihat cahaya putih yang aku kira jalan menuju kedua orang tuaku. Namun aku salah, aku malah merasakan kelopak mataku bergerak.

Aku merasa tubuhku sedang berbaring dan berada diruangan yang serba putih. Ku angkat tanganku dan terdapat selang disana. Aku sadar aku masih hidup. Rasa sakit aku rasakan diarea tanganku.

Dan aku sadar kalau rencana bunuh diriku gagal akibat lelaki yang sekarang berjalan cepat kearahku.

“kau tak apa-apa yeri-ah?,” Lelaki itu bertanya sekaligus mengusap kepalaku pelan.

Aku melupakan satu hal. Aku masih mempunyai dia. Kakak lelakiku. Lee Taeyong. Aku hampir melupakan fakta bahwa aku masih memiliki seseorang dalam hidupku. Kakakku yang telah kembali dari Jepang. Aku merasakan semangat hidupku bertambah sedikit.

Aku merasakan basah dikepalaku. Kakakku memelukku dan menangis. Aku tak menyangka lelaki dengan wajah sangar ini dapat menangis. Karna dulu sebelum ia memutuskan untuk melanjutkan study-nya ke Jepang, ia selalu menggangguku dan mengerjaiku.

Dan sekarang ia datang kehadapanku tanpa senyum jailnya melainkan senyum penyemangat.

“jangan pernah lakuin itu lagi ya? Kamu buat kakak khawatir tau gak,” ia mengucapkan itu lalu tersenyum kepadaku dan mencium keningku. Aku segara membuang jauh-jauh pikiran tentang bunuh diri. Karna sekarang sudah ada seseorang yang berada disampingku.

Semenjak itu aku tak pernah merasa terbebani lagi, aku tak masalah tak punya teman disekolah karna sekarang sudah ada kakakku yang menyambutku ketika pulang sekolah dan ada kakakku juga yang menyemangatiku ketika aku lelah.

Tapi itu semua berubah beberapa bulan kemudian. Kakakku Lee Taeyong menjadi sibuk akibat pekerjaan. Perusahaan ayah diambil alih oleh kakak. Waktu yang kakak punya pun akhirnya dihabiskan untuk bekerja.

Namun sikap kakak sangat berbeda sejak ia diberi tanggung jawab oleh paman Kim –tangan kanan ayah. Kakak menjadi lekaki yang tak tersentuh, dingin, dan ketus. Pernah suatu hari aku menyajaknya untuk keluar membeli bahan makanan karna sudah habis namun ia menolakku.

Aku tak masalah kalau kakak menolak untuk ikut namun kata-kata yang ia ucapkan kepadaku sangat membuat hatiku hancur.

“Kak Taeyong mau temani aku belanja bahan makanan?,” ucapku. Kulihat kak Taeyong sibuk. Terlihat dari beberapa dokumen yang mengelilinginya.

“kau tak lihat kakak sedang apa eoh?!”, aku sontak kaget mendengar bentakan kakakku itu. Secara ia tak pernah sekalipun membentakku.

Aku akhirnya mengangguk dan pergi menjauhi kamarnya. Aku kira dia hanya lelah karna terlalu banyak pekerjaan jadi aku memakluminya tapi sikap dingin dan ketusya itu berlanjut sampai sekarang dan itu sudah berlangsung hampir dua tahun.

Aku benar-bener merasa kakakku satu-satunya itu jauh. Sangat jauh. Aku kembali merasakan yang namanya kesepian. Tak ada seorangpun disisiku.

Sampai akhirnya iblis membisikkan tepat ditelingaku kata-kata yang dulu sempat terngiang di kepalaku.

Bunuh Diri.

Ya untuk kedua kalinya aku memutuska untuk bunuh diri. Aku memutuskan untuk bunuh diri kali ini tidak ku lakukan dirumah. Walaupun kak Taeyong sudah tak lagi memedulikan keberadaanku lagi tetap saja dia pasti akan merasa heran kalau aku tak keluar kamar lebih dari 5 jam.

Jadi aku memutuskan untuk melakukannya di tempat yang tak ada seorangpun yang mengenalku. Sekolah. Aku akan melakukannya disana.

Aku tak pernah dikenal disana. Mungkin hanya guru-guru dan penjaga perpustakaan saja yang tau karna aku siswa yang cukup pandai.

Tentu saja anak kelasku mengenalku, namun mereka sama sekali tak perduli aku ada atau tidak.

Aku merasa melakukan bunuh diri disekolah akan membuat seisi sekolah mengenalku. Walaupun aku sudah tiada nantinya. Setidaknya mereka akan tau kalau disekolah ini ada siswi benama Lee Yeri.

Hari ini aku berniat melakukan kegiatan yang akan melenyapkan nyawaku itu. Terjun dari lantai tertinggi sekolahku sepertinya cukup untuk membuatku kehilangan nyawaku.

Sekolahku terdiri dari 4 lantai. Cukup tinggi bukan? Belum lagi atapnya sedikit lebih tinggi. Ya. Aku akan melakukan terjun bebas dari atap sekolahku itu.

Atap sekolah tak pernah tersentuh sama sekali dengan siswa-siswi sekolahku. Aku tau itu karna aku sering kesana. Daripada itu anak-anak malas keatas atap karna melihat tangganya saja membuat mereka mual.

Walaupun sebenarnya terdapat lift, namun itu hanya dapat digunakan untuk yg berkepentingan saja. Karna dilantai empat hanya terdapat gudang dan aula yang biasanya digunakan untuk acara mendadak.

Dan untuk menaiki lift pun harus dapat persetujuan dari penjaganya. Maka dari itu aku memilih atap.

Sekarang aku sudah berada ditempat yang akan segera ku rindukan. Tempat semua keluh kesah aku tumpahkan disini. Dan dalam hitungan menit aku akan meyudahi ini semua.

Aku menarik kursi dan menaruhnya didekat pagar pembatas. Aku menaikinya dan melihat kebawah. Aku sangat yakin bahwa aku pasti akan meninggalkan dunia ini setelah jatuh dari tempat ini.

Jujur aku sangat takut. Siapa yang tidak takut dengan kematian? Aku yakin semuanya pasti takut dengan hal itu.

Tetapi aku lebih takut sendirian. Maka dari itu aku memutuskan melakukan hal ini. Sekali lagi aku memantapkan hatiku. Aku berharap setelah jatuh aku langsung bertemu kedua orang tuaku.

Aku meletakkan kakiku di pagar pembatas. Memejamkan mataku dan merentangkan tanganku. Aku menghitung dalam hati.

Satu…Dua…Tiga

Dug

Aku jatuh. Aku merasakan kalau aku sudah jatuh. Tapi jatuh kali ini telalu cepat. Aku langsung mendarat. Dan posisiku berdiri. Aku merasakan kepalaku sedikit terbentur tapi itu sama sekali tidak sakit.

Aku malah merasa sedang di…peluk? Dengan cepat aku membuka mataku. Dan benar aku sedang  berada dipelukan seseorang.

Aku merasa sangat kesal. Aku marah. Kenapa lagi-lagi aku digagalkan untuk bunuh diri? Aku ingin sekali berteriak namun suaraku tercekat ditenggorokanku. Aku hanya bisa memukul dada orang yang sedang ku peluk itu.

Aku meluapkan semuanya. Aku memukul dan juga menangis sekencang-kencangnya. Aku merasa seperti orang bodoh. Aku merasa malu tetapi aku juga kesal dan marah. Aku tak tau apa yang kurasakan sekarang. Namun satu hal yang aku tau aku meluapkan semuanya dipelukan itu.

Sekitar 5 menit aku menagis dipelukan seorang lelaki. Ya orang yang menggagalkan aksiku ternyata seorang lelaki. Karna tak ada tonjolan didadanya.

Setelah 5 menit tangisku cukup reda. Aku bahkan tak sadar kalau lelaki ini meletakkan telapak tangannya dikepalaku. Aku sedikit menjauhkan diriku. Aku juga menundukkan kepalaku.

Aku sangat malu dan takut untuk menatap mata pemilik tubuh yang tadi aku pukul dadanya. Jangankan matanya wajahnya saja aku tak berani untuk menatapnya.

Aku merasa kalau lelaki ini sedang menatapku. Dan sedetik kemudian ia mengucapkan kalimat yang sepertinya ditujukan kepadaku.

“dasar gadis bodoh”, aku sempat kesal karna dia memanggilku bodoh, tapi aku tetap saja malu untuk mengangkat wajahku.

“Lee Yeri tatap wajahku, aku sedang berbicara padamu”, perkataannya datar. Namun karna datar itulan yang membuatku semakin takut.

Tapi aku memutuskan untuk mengangkat kepalaku menatap wajah lelaki ini yang tadi menyebut namaku.

Tunggu, Dia MENYEBUT NAMAKU!

Lantas aku mendongakkan kepalaku dengan cepat dan menatap wajah lelaki ini.

Tampan.

Itu yang terlintas dikepalaku ketika melihat wajah lelaki ini. Wajahnya hampir sempurna seperti wajah kak Taeyong. Aku melihat tangannya mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku.

Aku tidak bengong. Hanya saja aku sedang mengagumi maha karya yang dibuat tuhan ini.

“hei aku tau wajahku memang tampan tapi tak usah berlebihan juga menatapnya” .

Kalimat yang ia lontarkan langsung menghilangkan image baik yang tadi sempat ku pikirkan. Aku kira dia orang yang baik, lemah lembut, penyayang dan rendah hati. Namun dari ucapannya saja aku tau kalau dia orang yang sangat tengil.

“kenapa kau mencoba jatuh dari sini tadi?”, pertanyaan dia cukup membuatku terkejut.

Aku menatap wajahnya yang sekarang lumayan serius, aku berpikir siapa nama lelaki ini. Karna diseragam sekolah ku memang tak ada name tag.

“kalau kau tak ingin memberitahuku tak apa”, kali ini dia tersenyum. Dan demi apapun senyumnya sangat manis. Matanya melengkung sempurna layaknya bulan sabit. Aku berani bersumpah kalau dia pasti memiliki banyak penggemar wanita.

Namun ada satu hal yang terlewatkan. Ia tersenyum. Tapi senyum ini sangat berbeda dari senyum biasanya. Aku melihat wajahnya mendekatiku dan berhenti tepat ditelingaku.

Aku dapat merasakan nafasnya mengenai telinga dan leherku. Dan itu sangat geli.

“kalau kau tak ingin memberitahuku maka aku yang akan mencari tau itu sendiri”, aku bergedik takut. Senyum itu senyum yang sangat menakutkan. Dan untuk pertama kalinya aku takut melihat seseorang tersenyum.

~~STAY WITH ME~~

Lelaki ini tak pernah main-main dengan perkataannya. Ia benar-benar mencari tau tentang diriku, dan tentang mengapa aku ingin jatuh dari atap.

Aku-pun baru tau satu hal kalau dia ini ternyata murid baru disekolahku. Entah bagaimana lelaki ini dapat masuk kekelas ku yang mayoritas diisi oleh anak-anak pandai.

Awalnya aku tak perduli ketika lelaki itu memperkenalkan dirinya didepan kelas. Namun tepat setelah ia melakukan perkenalan didepan kelas aku merasa sangat ingin menendangnya ke planet luar.

Bagaimana tidak? lelaki ini yang kuketahui bernama Jeno duduk tepat disampingku. Ia menaruh bokongnya tepat dikursi sebelahku yang terletak dipojok samping kiri. Aku tak masalah kalau ia duduk disebahku karna kursi ini memang bukan hanya disediakan untukku.

Tapi tatapan anak kelas yang membuatku benar-benar risih. Mereka semua menatapku dengan tatapan seakan-akan ingin memakanku hidup-hidup.

Tatapan mereka seakan berkata kalau “mengapa anak baru itu malah duduk bersama wanita aneh itu?” . kalaupun aku benar akan arti tatapan teman sekelasku itu, aku-pun bertanya-tanya juga, kenapa lelaki ini malah duduk disampingku? Secara dikelas ini bangku yang belum ada penghuninya masih tersisa dua.

Satu berada didepan tepat berhadapan dengan meja guru. Dan satunya lagi terletak dibelakang tepat disampingku.

Ketika lelaki itu –Jeno berjalan kearahku aku mulai waspada, karena ketika ia berjalan semua murid dikelasku menatapnya. Dan ketika ia duduk disampingku bukan hanya dia yang ditatap aku pun ikut ditatap oleh mereka.

Aku sungguh ingin lenyap saja dari kelas ini. Aku memang tidak suka sendiri tetapi ditatap seperti itu aku juga tak suka. Akhirnya aku memutuskan untuk menenggelamkan kepala ku diatas meja. Tak memedulikan tatapan membunuh teman-teman sekelasku itu.

Jam pelajaran terus berjalan, guru kimia yang sedang menjelaskan materi yang sudah aku kuasai diluar kepala itu masih saja berdiri mengoceh panjang lebar.

Aku memang siswi yang cukup pandai, namun aku tak menyukai cara belajar yang seperti ini. Mendengarkan guru menjelaskan pelajaran itu sangat membosankan.

Hari berjalan seperti biasanya kecuali tentang si anak baru itu. Berhari-hari aku duduk sebangku dengannya dan itu sangat amat menggangguku. Anak-anak sering kali bertanya padaku tentang si Jeno itu. Padahal aku sama sekali tak mengenalnya.

Aku benar tentang si Jeno itu pasti memiliki banyak penggemar wanita. Bahkan pernah ada sekumpulan wanita yang menjegatku dikamar mandi. Mereka berkata kalau aku tak pantas duduk dengan Jeno.

Lagi pula siapa yang mau duduk dengan lelaki sok kenal dan mengahncurkan rencanaku untuk bunuh diri? Aku-pun amat sangat berharap si Jeno itu tak duduk denganku dan menjauh dari kehidupanku.

Aku memang tak mempunyai kawan, dan teman-temanku menjauhiku. Namun bukan berarti aku wanita lemah yang gampang tertindas. Aku akan membalas perbuatan wanita-wanita itu apabila menyerangku.

Seperti sekarang, sekumpulan wanita itu lagi-lagi menemuiku dan menarikku kedalam sebuah gudang. Aku benar-benar tak habis pikir dengan pikiran wanita-wanita ini. Mereka membawa ku kesini hanya untuk memperingatiku agar menjauh dari Jeno.

Hoel. Aku pun menginginkan itu.

Para wanita ini memojokanku dan salah satu diantara mereka menarik rambutku. Aku meringis. Siapa yang tak kesakitan ketika rambut yang kita miliki ditarik dengan kencang?

Aku melihat perkumpulan wanita ini terdiri dari 4 orang. Wanita yang merarikku berambut pendek. Aku melihat salah seorang wanita mendekatiku. Terlihat sekali kalau wanita ini ketua dari perkumpulan para wanita-wanita laknat ini.

Ia datang padaku dengan senyum sinis. Benar-benar membuatku muak. Wajah wanita itu sebenarnya cantik. Namun ia memolesnya dengan make up. Dan itu amat sangat tebal.

“sudah berapa kali aku katakan padamu utuk menjauhi Jeno eoh?!”, ia mencengkram rahangku. Lagi-lagi aku meringis kesakitan. Ini benar-benar sakit dan itu membuatku amat sangat muak.

aku menghempaskan tangan laknat wanita yang mencengkram rahangku dan juga wanita yang menarik rambutku. Aku menatap mereka sinis.

“sudah berapa kali aku katakan pada kalian bukan aku yang mendekatinya tapi dia yang mendekati ku!”, ucapku penuh penekanan.

PLAK

Oh Shit! Wanita bar bar itu menamparku. Sontak aku memegang pipiku dan aku sedikit merasakan cairan kental disudut bibirku.

Aku menatap wanita itu tajam. Aku mengangkat tanganku

PLAK

Aku menampar ia balik. Aku melihat wajah keterkejutan sekumpulan wanita itu. Lantas teman-temannya menatapku dan menjambak rambutku. Mereka menggunting rok dan juga baju seragamku.

Mereka bertiga sedangkan aku sendiri. Aku ingin sekali melawan namun aku hanya seorang diri. Alhasil aku sangat yakin penampilanku amat sangat berantakan. Mereka mendorongku dan meninggalkan ku sendiri disana.

Aku mencoba berdiri namun kaki ku sangat lemas layaknya sebuah jelly. Akhirnya aku berjalan dengan rintih. Untungnya saat ini kelas sudah dimulai. Dan dikelasku saat ini pelajaran olahraga jadi kelasku sepi.

Aku ingin mengambil baju olahragaku dan begegas ke uks. Namun saat aku sampai kelas masih ada satu makhluk disana sedang menelungkupkan kepalanya. Aku merasa sangat sial mengapa si anak baru itu harus ada dikelas saat ini.

Tanpa memperdulikan kehadiran Jeno aku berjalan melenggang ke mejaku. Aku melihatnya mengangkat kepalanya dan matanya membulat sempurna melihatku.

Ia bahkan berdiri dengan sangat terburu-buru sampai membuat kursi yang ia duduki jatuh mengenai lantai.

Aku mengacuhkannya dan tetap mengambil baju olahragaku namun sebuah tangan menghentikan menghentikan aktivitasku. Jeno menarik tubuhku menghadapnya dan menatapku lekat-lekat.

Ia menyentuh sudut bibirku dan aku meringis. Itu sangat sakit. Sekuat apapun aku tapi aku hanyalah seorang wanita. Ia menatapku lembut dan menarikku kedalam pelukannya.

Pelukan hangat yang pernah aku rasakan dan kali ini untuk kedua kalinya aku merasakannya. Entah mengapa aku sangat ingin menangis setiap kali Jeno memelukku.

Aku merasakan kehangatan yang sudah sangat lama tak aku dapatkan. Sampai akhirnya bahuku bergetar aku terisak dalam pelukannya. Aku tak dapat lagi membendung air mataku.

Jeno menarikku lebih dalam kepelukannya, aku tak tau apa yang terjadi namun aku merasa lega. Sangat lega karna saat ini sudah ada seseorang disisiku. Aku merasa tak sendirian lagi. walaupun dulu kehadiran lelaki ini sangat menggangguku namun sekarang kehadirannya membuatku senang. Aku berharap ia selalu disisiku sampai akhir.

Jeno mengantarku ke UKS ia membersihkan luka diwajahku. Aku sesekali meringis kesakitan. Namun Jeno memperlakukanku dengan sangat lembut.

Setelah selesai membersihkan luka aku berbaring dikasur. Jeno duduk dikursi damping kasurku. Ia memegang tanganku dan mengusap kepalaku.

Ia sangat pandai membuatku tenang dengan perlakuannya, sikapnya bahkan senyumnya pun membuatku tenang. Sampai akhirnya aku memejamkan kedua mataku dan terlelap.

***

Aku sudah berada didepan rumahku. Jeno mengantar ku pulang. Awalnya aku sudah menolak karna merasa tak enak. Aku sudah merepotkannya.

gumawo Jeno”, ucapku dengan senyuman.

Ia juga tersenyum dan mengacak-acak rambutku.

“sama-sama, sekarang lebih baik kau masuk”, aku mengangguk dan masuk kedalam gerbang rumahku. Setelah motor Jeno sudah tak terlihat barulah aku menutup gerbangnya dan melangkah menuju rumah.

Saat sudah didalam aku melihat kak Taeyong diruang tamu. Ia menatapku tajam. Seolah-olah ingin mencabik-cabikku dengan tatapannya itu.

“dari mana kamu? Kenapa baru pulang? Kenapa wajahmu banyak lukanya?”, aku sangat tersanjung. Kakakku bertanya seperti itu dengan wajah yang sangat datar.

HAH. Rasanya aku ingin sekali berteriak didepannya. Namun aku sudah sangat lelah akhirnya aku  tak menghiraukan pertanyaan kak Taeyong lalu segera bejalan menuju kamarku.

“jawab kakak Lee Yeri!”, kak Taeyong lagi-lagi membentakku. Aku menatapnya garang.

“bukan urusanmu!”, aku tak mau kalah.

“kau sudah berani berteriak padaku Yeri?”.

“memangnya kenapa?! Apa Cuma kakak yang boleh teriak disini hah?!’’.

PLAK

Ini kedua kalinya aku ditampar hari ini. Aku tak menyangka kak Taeyong akan setega ini bahkan sampai menamparku.

Aku memegang pipiku yang memerah akibat tamparan kak Taeyong dan menatapnya kecewa lalu langsung bergegas kekamarku.

BRAK

“ga ada yang sayang sama aku, ga ada”, aku menutup wajahku dan menenggelamkannya dilututku. Aku menangis tak dapat lagi aku membendung semua ini. Rasanya aku ingin mati.

Ya aku ingin MATI.

TBC

.

.

.

Gimana? Ini FF series kedua yang aku buat. Kecepetankah? Atau ga jelas ceritanya? Aku rencananya Cuma pengen bikin 3-4 chapter doang sih. Jadi aku sangat butuh saran dan masukan kalian yang membaaca ff ini, jadi jangan lupa comment ya ^^

Thank for reading

Big Luv dari istrinya Winwin :* :* :*

P.s.hati-hati liat rating juga ya :p

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Stay With Me (Chapter 1)

  1. Haduh nyesek banget ya kalau jadi Lee Yeri :’3 Nggak punya teman, dibully, kakaknya jahat, orang tuanya sudah meninggal, duh :’3 Untung deh ada Jeno yang mau bantu, kan enak ya dibantu sama cowok ganteng :v

    Oh iya, lebih baik untuk mengawali dialog itu pake huruf kapital kak, biar rapi ^^ Terus aku tadi juga nemu banyak banget kalimat yang nggak pake huruf kapital sesudah titik. Dan harusnya kalau mau buat dialog nggak perlu kayak gini, “Di?,” jadi kalau sudah dikasih tanda tanya, nggak perlu di kasih tanda koma, dan sebaliknya. Dan lagi ada kata-kata yang nggak sesuai EYD, seperti :

    Kearahku => Ke arahku
    Disampingku => Di sampingku
    Di kelas => Di kelas
    Seorangpun => Seorang pun
    dsb.

    (Jadi kata ‘Di’ itu digabung sama kata kerja, bukan kata tempat. Exam kata kerja: Disapu, dilihat, dimainkan, dilempar, dll. Pokoknya sesuatu yang dilakukan. Exam kata tempat : Di kelas, di rumah, di samping, dll)

    Selebihnya sudah bagus menurutku ^^ Aku suka sama penjabaran tentang perasaannya Yeri ❤ Keep writing kak (y)

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s