[Ficlet-Mix] Ten Things

t0

Ten Things

A belated birthday fic by Angela Ranee & Angelina Triaf

[NCT] Ten

Genre: Fluff, College-life, Slice of Life | Duration: 2 Ficlets | Rating: G

~~~

[1]

Dear Ten,

Ada lima hal yang aku benci tentang kamu dan kebiasaanmu.

Pertama, kebiasaanmu mencuri makananku. Seriously, Ten, tidak bisakah kamu mengeluarkan sedikit saja uang untuk membeli makanan untuk dirimu sendiri?

Kedua, kebiasaanmu tidak mencuci kaki setelah melepas kaos kaki dan sepatu. Ten, pernahkah kau mencoba mencium kakimu sendiri dan menyadari bahwa ikan asin saja aromanya masih jauh lebih wangi ketimbang kakimu?

Ketiga, kebiasaanmu melipat halaman buku alih-alih menggunakan pembatas. Ya, aku masih belum bisa (dan sepertinya tidak akan pernah) memaafkanmu karena melipat halaman 272 di buku Pride and Prejudice-ku.

Keempat, kebiasaanmu meletakkan handuk di atas kasur setelah mandi. Demi surga, Ten, dalam hitungan menit kasur kita terlihat seolah-olah Dozer baru saja kencing di sana.

Kelima, kebiasaanmu memberi makan Dozer secara sembarangan. Jangan bohong, Ten, aku tahu kemarin kamu memberinya Nutella. Berapa kali aku harus bilang padamu kalau anjing tidak boleh mengonsumsi cokelat? Dozer bisa mati muda karenamu.

Sesungguhnya, masih banyak hal-hal yang aku benci darimu, namun aku tidak sampai hati untuk menulis semuanya. Lima hal yang kusebutkan di atas seringkali membuat diriku membencimu setengah mati, namun aku tidak pernah bisa memusuhimu. Karena apa? Because I have five things I hate about you, but there are ten things I love about you.

Mulai dari ketika kamu memujiku cantik di pagi hari, bahkan ketika aku belum mandi dan berwajah masam karena belum meminum kopi pagiku.

Ketika kamu mengantarku ke kantor dan membuatku nyaris terlambat karena kamu mengajakku mampir ke McDonald’s.

Ketika kamu meneleponku di tengah-tengah rapat hanya untuk mengucapkan hal-hal paling tidak penting di dunia, seperti,”Kolega kami benar-benar pembicara yang membosankan jadi aku berpura-pura izin untuk menerima telepon penting supaya aku bisa melihat wajahmu.” Aku akan menjawabnya dengan,”Tapi, Ten, kita sedang bertelepon. Kau tidak bisa melihat wajahku.” Kemudian kau akan membalasnya dengan,”Aku bisa membayangkan wajahmu. Biar kutebak, kau pasti sedang tersenyum seperti orang gila karena membayangkan betapa tampannya diriku.

Ketika kamu menjemputku di sore hari, membiarkanku menguasai music player di mobil dan memutar lagu apa pun yang aku mau.

Ketika kamu membantuku memasak makan malam meski kita berdua sama-sama tahu seberapa payah kemampuan memasakmu. Setidaknya kamu bisa jadi taste tester-ku, sehingga aku selalu tahu apakah masakanku terlalu asin atau kurang merica.

Ketika kita bertengkar karena hal-hal sepele dan kamu memberikanku waktu untuk sendiri, sembari memesan seloyang pizza atau membeli sekotak es krim hanya untukku. Kamu akan bilang bahwa permintaan maaf tidak penting, karena kamu selalu berterima kasih kepadaku setelah kita bertengkar, dengan alasan,”Kamu sudah membantuku untuk menjadi lebih dewasa.”

Ketika kita menonton film bersama di akhir pekan, mengomentari dengan pedas film-film dengan skenario dan pemain yang buruk, atau menangis hingga mata kita sembab ketika menonton film yang sedih.

Ketika kita berolahraga bersama di hari Sabtu pagi. Kamu selalu mengeluh betapa kamu benci berlari, dan aku akan merutuk karena aku benci berkeringat. Kita tidak pernah benar-benar berolahraga, karena setelahnya kamu akan mengajakku mampir untuk makan es krim.

Ketika kita membersihkan rumah dan mencuci pakaian di hari Minggu. Kamu selalu protes karena pakaian kotorku jauh lebih banyak dari milikmu. Tapi kemudian, kamu akan menjerit histeris ketika menemukan uang receh di salah satu saku pakaian, seolah-olah kamu baru saja memenangkan lotre.

Ketika kita berbaring di ranjang sembari bersungut-sungut di Minggu malam, mengungkapkan ketidaksiapan kita menghadapi hari Senin. Kamu bilang aku jadi lebih gampang mengomel di hari Senin, dan aku akan membalasnya dengan fakta bahwa hari Senin membuatmu menjadi jauh lebih malas. Tapi semua itu akan diakhiri dengan pelukan hangat dan kecupan ringan, serta kita yang saling meyakinkan bahwa hari Senin atau hari apa saja akan baik-baik saja selama kita bersama. Benar-benar gombal dan menjijikkan, tapi aku menyukainya.

Ten, seseorang yang bisa membuatku membencinya sebanyak lima kali, tapi mencintainya dua kali lipat lebih banyak, atau bahkan lebih. Maaf aku tidak bisa sepenuhnya mencintaimu, karena terkadang membencimu juga merupakan hal yang menyenangkan. Oke, aku benar-benar aneh, ya? Aku harap kamu bisa memahami betapa anehnya jalan pikiranku.

Selamat ulang tahun, Ten. Jangan pernah berhenti membuatku mencintaimu (dan membencimu). Aku sayang kamu.

With love,

seseorang yang baru akan kau lamar dua tahun lagi

(kamu memang payah, Ten)

~~~

[2]

Dear diary ….

Jadi, ternyata namanya adalah Ten, mahasiswa semester enam. Jurusan yang ia ambil sungguh misterius, karena―well percaya tidak percaya―ia sering jadi mahasiswa gelap di setiap kelas. Bahkan aku pernah melihatnya mengikuti salah satu kelas filsafat lalu masuk ke dalam ruang kelas matematika beberapa jam setelahnya.

Itu masih misteri, biarkan saja. Tapi yang aku tahu pasti, bahwa ia kini tengah terlibat cinta segi empat yang cukup kompleks bersama dengan tiga teman seangkatannya. Dengar-dengar, sih, Kak Emma yang diperebutkan oleh Kak Doyoung dan Kak Kun ditambah Kak Ten yang seolah memperkeruh suasana. Selalu saja ingin kutertawakan dirinya, tapi tidak jadi karena faktor kasihan.

Maka kuputuskan hari ini, di kafetaria kampus yang entah mengapa sepi sekali padahal sudah saatnya jam makan siang, lebih baik kutuliskan saja hal-hal lain yang kutahu tentang dirinya.

Pertama, nama lengkapnya itu sungguh membuatku pusing. Juga, demi Tuhan, tidak ada unsur Ten sedikit pun di sana. TIDAK ADA. Namanya adalah Chittapon Leechaiyapornkul, jadi, dari mana nama Ten itu? Kenapa tidak dipanggil Chitta saja, atau Lee?

Kedua, ia seperti seorang yang paradoksal. Terkadang tersenyum cerah dan mudah bergaul dengan siapapun. Tapi, aku pernah melihat ia duduk sendiri mengerjakan tugas alih-alih bersama dengan kumpulan teman-temannya yang sepertinya mengerjakan tugas yang sama.

Ketiga. aku pernah sekali lewat persis di belakangnya saat ia tengah menulis. Coba tebak, ia selalu menggunakan pulpen berwarna merah bukannya hitam. Hanya dosen tidak waras yang akan membiarkannya mengisi kuis dengan pulpen itu.

Keempat, ia sering lebih memilih untuk makan roti ketimbang nasi di waktu siang. Tapi jangan salah, pernah kulihat ia sampai menghabiskan lima bungkus roti sendirian, memukul fakta bahwa tubuhnya terhitung kurus padahal dirinya makan seperti orang kerasukan.

Kelima, walaupun ia sedang dalam proses mengejar-ngejar Kak Emma, tapi kuperhatikan dirinya juga sering sekali menggoda mahasiswi lain. Entah yang seangkatan, kakak tingkat bahkan adik tingkat, semuanya tak luput dari senyum manisnya yang menawan itu. Menyebalkan.

Keenam,

Enam ….

“Hah, ternyata aku hanya tahu lima hal saja.”

Kuhela napas beberapa kali, kembali melihat ulang buku diariku sebelum akhirnya aku tersadar akan sesuatu.

“Milan, ‘kan? Sedang apa sendirian di sini―wah, buku apa itu?”

“Eh, Kak, jangan―”

Milan bodoh.

Aduh, bagaimana ini? Kenapa ia asal saja mengambil bukuku itu dan terlebih lagi membacanya? Mau ditaruh mana wajahku nanti? Ya Tuhan, apakah aku harus pindah kampus lagi, atau mungkin harus pindah negara lagi agar tak perlu bertemu dengannya? Kenapa aku bisa tak menyadari kehadirannya di sampingku? Sudah berapa lama dia duduk di situ?

Karena tak bisa kabur begitu saja dan meninggalkan diariku di tangannya, jadilah aku hanya meletakkan kepala di meja sembari menutup mata. Aku sangat malu, sungguh. Bagaimana kalau nanti dia menganggapku perempuan aneh, atau menganggapku stalker? Astaga bukan seperti itu maksudku!

“I-itu … Kak―”

Memang aneh, tapi begitu aku kembali menaikkan kepalaku untuk bicara dengannya, justru kulihat ia yang tengah menuliskan sesuatu di bukuku dengan pulpen merah yang tidak asing.

“Milan? Hei, jangan melamun.”

Aku tersentak saat ia melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahku. Dengan wajah dan senyum manis itu, tanpa sadar aku mengerutkan kening. Kenapa ia malah terlihat bahagia, ya?

“Ini bukumu. Lain kali jangan makan sendirian dan ajak aku, ya.” Setelah mengucapkan itu, ia mengusap kepalaku sebentar lalu berdiri dan merapikan tasnya. “Sudah, ya, aku ada kelas lima menit lagi. Sampai jumpa!”

Tunggu, bukankah ada hal aneh lainnya di sini? Seingatku, aku belum pernah berkenalan dengannya, tapi kenapa dia ….

Keenam, Kak Ten itu sangat tampan!

Ketujuh, ia benar-benar sangat tampan!

Kedelapan, Emma hanya teman dekatnya. Siapa sudi rebutan Emma dengan Doyoung sang mantan apalagi Kun yang kelewat protektif padanya? Seram!

Kesembilan, nomor teleponnya 010-2402-0270. Bisa dihubungi tiap malam dari jam 7-12. Jangan lupa!

Kesepuluh, kami pernah bertemu di sebuah gereja. Apakah kita ini memang jodoh, ya? Wah, keren!

Aku terdiam cukup lama. Melihat tulisan serba merah dengan tanda seru di tiap paragrafnya mau tak mau membuatku sakit mata. Tapi yang lebih membuatku bingung lagi adalah fakta bahwa kami pernah bertemu sebelumnya.

Di sebuah gereja. Orang yang kutanyai tentang alamat sepupuku itu … adalah dia.

fin.

Advertisements

5 thoughts on “[Ficlet-Mix] Ten Things

  1. AAAAAAAAAAAAAAAAA TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEN SI CABE THAILAND-KU :* DUH INI… INI… INI APA YA? AKU BAPER MULU BACANYA :’3 Ten, ternyata ikan asin jauh lebih wangi daripada kakimu ya :’3 Kebiasaan melipat buku sebagai pembatas? Kok kita punya kebiasaan yang sama? Jangan-jangan kita jodoh? 😀 (amin) Eh btw itu beneran nomernya Ten ya? Hahahahaha kok ngakak pas baca nomernya? Aku gak bakalan lupa telpon dia tiap jam 7-12 malam kok 😀 Si Milan segitu amat sama Chitta :v

    INI SUPER SYEKALEEE KAKAK :* ❤ ❤ ❤

    HBD buat kakak ipar Ten Chittapon :* /plak/

    Like

  2. Wah kereeeen bangetttttt *sungkem* ❤ langsung berasa WAW pas ba2 endingnya :'} yg di 'suara dalam gereja' itu bukan sih? ._. Pokoknya keren banget!

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s