[Vignette] Ini Soal Perempuan, Jeno dan Dahyun

Hasil gambar

Bikinan imjustagirls

Featuring Mark, Jeno, Jaemin, Haechan | Friendship | Teen | Vignette

maafkan typonya kawan kawan malas aku mengedit HAH

Ada beberapa alasan kenapa aku malas langsung pulang ke rumah usai sekolah selesai; satu, ogah jadi pembantu Matthew. Dua, malas bertengkar dengan Matthew dan tiga, lelah jadi bulan-bulanan Matthew.

Semua disebabkan oleh Matthew.

Setidaknya tidak mulai hari ini, pagi tadi kudapati Matthew tengah mengemasi barang-barang sambil mengoceh penyesalannya untuk pergi selama satu bulan ke luar kota. Aku senang setengah mati sampai tak sadar memeluk Matthew terlalu erat. Dan si pemilik badan mengerang tak terima Minggir! Badanmu bau dosa! begitu katanya.

Aku tak peduli, Senyumku enggan luntur begitu saja mulai dari pagi hari dan sekarang sudah menjelang tengah hari. Jujur saja, ini sangat menyenangkan. Aku tidak munafik.

Tapi, itu hanya berlaku selama kurang lebih dua belas jam. Nyatanya kehidupan kerja rodiku kembali hadir. Malah lebih mengerikan.

“Mark, minumanku habis, ambilkan lagi.”

“Mark, ketikan sandi wifimu.”

“Mark, Matthew sudah putus dari Seulgi belum?”

“Mark”

“Mark.”

“Maark”

“Maaaark”

Karna mereka, berani taruhan tinggal di kerak nerakapun tak akan semenjengkelkan ini.

“ENYAH KALIAN SEMUA!”

.oOo.

Aku tidak bisa menyalahkan Ibu karena membiarkna mereka masuk berkeliaran membinasakan kamarku sesuka mereka. Pada dasarnya oke, kamarku memang berantakan.  Super duper berantakan dan ibu tidak mau repot-repot memberesi karena lebih banyak hal penting dibanding memberesi kamarku yang sudah seperti tempat bekas perang saudara. Aku juga tak masalah, sama sekali.

Lagipula kamar Matthew lebih parah daripada kamarku, ini cuma sekadar informasi random, jangan terlalu pikirkan.

“Kabar baik kabar baik.” Itu Jeno yang bicara.

“Kata Hina, Chanwoo putus dengan Shannon.”

“Bodoh amat.” Jaemin mendorong kursi ke belakang “Lagipula apa untungnya kalau Chanwoo putus dengan Shannon. Nilai biologiku tak akan berubah jadi A plus.”

“Kau bisa, Jaem.” Haechan merauk stik keju banyak banyak. Cowok gempal itu mendekati Jaemin tanpa lupa membawa serta toples snack sementara Jeno bergegas mengamankan toples lain dalam pelukan seerat mungkin. Baik Jeno maupun Haechan memang masih satu spesies, tukang makan kelas kakap—woah, keduanya juga berubah menjadi Vacum cleaner dadakan kalau di rumahku.

“Kencani Mrs. Lea.”

“Pastikan dulu semua nilaimu sempurna nah, kalau bisa nilai kami juga setelah itu campakkan dia.”

“Sumpah, aku bakal pilih membujang seumur hidup dibanding harus mengencani perawan tua macam dia, dih norak.”

“PEGANG JANJI LAKI-LAKI KEREN!” Iya, kami bertiga berteriak secara bersamaan. Yang mana membuat Jaemin merespon dari sebrang, cemberut. lebih detailnya mirip seperti perempuan dalam masa haid. Ganas, kau tak akan bisa melumpuhkannya kalau bukan kemauan dari yang bersangkutan sendiri. Aku serius.

Jaemin kapan saja bisa berkamuflase menjadi perempuan, bahkan lebih parah. Ekhem, lebih mengerikan dari mantan pacarku yang bakal bilang oke, Mark aku baik-baik saja  lima menit kemudian beranda pathku terisi oleh status penuh makian darinya (Bonus, komentar berupa hujatan masal dari tiga cecunguk kurang ajar yang sekarang malah mangkal di rumahku)

Seperti apa yang sudah kubilang tadi. Jaemin lebih ganas dari pada kaum mereka. Tidak, Jaemin memang tak akan memposting makiannya lewat path macam ma—ah, jangan aku tak mau menyebutnya lebih dari tiga kali. Daripada itu, dia lebih memilih untuk meretas akun sosial media siapa saja yang membuatnya marah. Dan mengisinya dengan foto aib sang pemilik akun. Aku beritahu, Jaemin itu tukang peretas website tingkat dewa!

Sekarang perasaanku jadi tak karuan, apa iya Jaemin akan marah setelah ini? Aku tak mau ikut-ikut!

“Tapi, kalau Shannon putus berarti dia otomatis sendiri ‘kan?” Aku berbisik pelan, tapi ternyata mereka masih bisa mendengar “Mencari peluang?” Jaemin menaikkan sebelah alis. Fyuh, setidaknya dengan ini bisa aku simpulkan kalau Jaemin tidak naik darah.

“Taruhan lima puluh ribu, aku pilih Mark ditolak!”

“Seratus ribu diterima!”

“AKU BERTARUH SATU JUTA MARK TAK AKAN MELAKUKANNYA!”

“Dan Jeno menang. Makan taruhan kalian para pecundang!”

Setelahnya kami diam. Tak ada satupun manusia di ruangan ini yang berbicara biasanya, Haechan yang bakal mengoceh membicarakan soal nomor sepatu yang kebesaran, saudara kembarnya yang kedapatan menghapus semua game dan mengganginya dengan aplikasi edit foto, atau soal dia yang kelupaan mencuci wajan.

Lama sekali, Ibu sempat masuk untuk menaruh puding dingin (yang langsung diterima Haechan dengan sangat gembira) Mereka berebut, tentu saja. Mengabaikan semua hal demi satu mangkok besar puding lumut. Dimakan bersama, tanpa aku. Sudah biasa.

“Tapi omong-omong, Dahyun itu bagaimana?” Jeno mengelap mulutnya kasar.
“Oke tuh, dia sehat sehat saja kau pikir dia kelainan jiwa?” Komen Haechan. Aku dan Jaemin tertawa, tepatnya menertawai betapa bodohnya jawaban Haechan.

“Kalau kataku Jen, Dahyun itu cantik, baik, dan berkeperibadian bagus—”

“Kemarin aku mendapati Dahyun mencium kotoran jempol kakinya sendiri” Haechan berkomentar lagi, hasilnya aku kembali tergelak lebih keras sampai Jeno memberi plototan aku berhenti, itu sangat seram.
“—Oh? Maksudku berkepribadian setengah bagus.”

“Jadi kau naksir Dahyun?”

“Sayangnya Dahyun yang naksir aku.”

Kami semua terperanjat, kehabisan kata kata.

Jaemin menjatuhkna ponsel.

Haechan gagal menelan potongan puding lumut terakhir yang berakibat tenggorokannya tersumbat, lantas memuntahkannya pelan-pelan seperti adegan dimana sooneok memuntahkan jus jeruk setelah mendengar Bokju menyandang status sebagai pacar  Joonhyung.

Dan aku, cuma bisa membuka mulut lebar.

“JENO KAU BOHONG.” Kami berteriak bersamaan, untuk informasi kami yang aku maksud disini adalah Haechan, Jaemin, dan aku.

“Iya aku bohong Dahyun nggak naksir aku.”

“Sudah aku te—”

“Karna Dahyun suka aku, man! aku ditembak Dahyun dua hari lalu gila!”

“TIDAK MUNGKIN.” Kami berteriak lagi (untuk kedua kalinya)

Masalahnya satu, baik aku, Haechan, maupun Jaemin sama sama menyukai Dahyun. Obrolan kami selalu diselingi dengan bagaimana dengan Dahyun? Pakai parfum apa Dahyun hari ini? Atau apa Dahyun masih sendiri? Dan Jeno bukanlah salah satu dari kami.

Dibanding mengikuti perbincangan kami, Jeno lebih memilih untuk mengakses video game hingga kami mengganti topik perbincangan.

Honestly, ini tidak adil. Sama sekali.

Bagaimana kami yang susah payah menarik perhatian Dahyun demi mendapat id line, bagaimana kami yang rela berpanas-panasan demi menonton Dahyun di perlombaan renang secara diam-diam karena yang boleh menonton hanya kaum perempuan. Pulangnya kami harus menahan malu setelah ketahuan, dan para perempuan malah NYARIS memakaikan kami baju renang.

Jeno tidak ada di sana.

“Ei, come on. Jangan lihat aku seperti itu” Jeno menarik nafas “Aku sudah nolak Dahyun demi kalian, tuh!”

“Cewek kayak dia ditolak, Jen menolak rezeki itu dosa.”

“Kalau aku terima dia aku nggak yakin sama sekali kalau kalian bakal diam tanpa membuat masalah, ya siapa tahu sehari setelah kami jadian tanganku patah sebelah, iya’kan Mark?”

Hehe, dilirik sinis oleh Jeno aku cuma bisa meringis nanggung.

“Daripada Dahyun, jujur saja nih. Ada cewek yang aku taksir, wakil ketua kelas di kelasku, anaknya juga unik sedikit gal—”

“Maksudmu Li-el? Sori sori saja Jen, tapi Li-el sebentar lagi resmi punyaku. Cari cewek lain sana!”

“Semua saja punyamu, Dahyun punyamu, Li-el punyamu, Kang Seulgi punyamu, Suzy punyamu! Dasar maniak!” Teriak Jeno. Dia melempari Haechan dengan remahan coco crunch membabi buta. Yang dilempari malah membuka mulut lebar. Siapa yang tolol di sini?

Saat Jeno melempar remahan terakhir tepat saat itulah Jaemin bangkit menengahi para pejantan labil sambil berkacak pinggang. Melirik Haechan dan Jeno bergantian.

“Cuma sampai di sini pertemanan kita?”

“Apa?! Jangan bilang juga kau suka Li-el? Berengsek apa-apaan kalian!”

Aku baru saja mau melerai ketiganya sebelum kamarku benar-benar berubah menjadi tempat perang antar teman. Sayangnya, bersamaan dengan itu suara ketukan pintu  membuat kami teralih. “Ibu Pesan pizza tadi, mungkin sudah datang.” Pintu kamarku terbuka, sosok perempuan berponi keluar dari sana sambil meneteng keranjang berisi tumpukan baju bukan sekotak pizza.  Dan dia bukan pengantar pizza, aku lupa pengantar pizza tak akan seenak jidatnya masuk ke dalam rumah orang. Pada saat itu juga aku berharap waktu berjalan super cepat. Itu Quinsy, tetanggaku. Perempuan kelas sebelas jauh dari kata anggun dan juga—

“Aku tanya, celana dalam ini punyamu kan?! AKU KAN SUDAH BILANG JANGAN JEMUR CUCIANMU DI JEMURANKU!”

—Jangan tanya pokoknya menyebalkan!

Omong-omong dari sini aku bisa mendengar tawa setan dari ketiganya di belakang, kurang ajar mereka jadi berbaikan karena kesengsaraanku!

FINAL.

ini jujur ya jujur, ini gak jelas banget ): setelah satu tahun aku kembali lagi, tepuk tangan dong!

Advertisements

8 thoughts on “[Vignette] Ini Soal Perempuan, Jeno dan Dahyun

  1. Sumpah ya kak, aku ngakak banget bacanya :v Pagi2 perut udah sakit gegara kebanyakan ketawa yalord :’3 Ini lucu sekali qaqa ❤ ❤ Jadi gini ya kalo real namja lagi ngumpul? Yg diomongi cuma itu2 aja & Jaemin kenapa kamu sensi banget nak? Haechab, PeDe nya tolong dikondisikan ya nak, dan Mark… bego nya tolong dikurangi dikit ya ^^ Tadi aku nemun typo yg lumayan banyak sebenernya, tapi its oke its love, soalnya aku udah terhibur banget, jadinya nggak terlalu pentingin typo cem gituan ❤ ❤ ❤

    Like

    • HALOO MY RIJIYOOO heheeee ini mah jujur aja aku paling males mbenerin ato mriksa tulisanku lagi makanya di awalan selalu di kasih warning banyak typo, tp eeeh? ganggu buat dibaca ga sih? etapi makasih udah mampir ke sini nya wuwuwuwuuuu

      Liked by 1 person

  2. “Cewek kayak dia ditolak, Jen menolak rezeki itu dosa.”
    Omongan gak bermutu banget suwer 😏😏
    Lucu banget percakapannya ashli 😳😳

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s