[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Leo (Series)

Zodiak Love Story

 #Leo

.

Author :: Rijiyo

Cast :: [NCT’s] Lee Tae Yong as Taeyong & [OC’s] Ivy Kim

Genre :: Romance, Comedy

Length :: Oneshot

Rating :: Teen

.

“…. Nobody can resist the charm of Leo. His desire to draw attention to really make it a personal friendly and can easily break your heart.” – Leoner

.

Pagi ini cuacanya cerah sekali. Bahkan gumpalan kapas kehitaman yang biasanya menyelimuti langit Seoul tidak tampak sedikit pun. Sungguh kesempatan emas bagi seluruh siswa kelas tiga SMA Kyunghan karena hari ini mereka akan melaksanakan perjalanan wisata dalam rangka refreshing sehabis ujian kelulusan beberapa hari kemarin. Saat ini, mereka sedang berkumpul di depan gerbang sekolah dengan beberapa jajaran bus yang sudah siap dinaiki.

Di barisan paling belakang, Ivy sedang asik mengotak-atik ponselnya tanpa memperhatikan arahan dari ketua OSIS yang baru saja pensiun dari jabatannya itu. Saat tahu ada anggotanya yang tidak mendengarkan, Si Mantan Ketua OSIS itu pun berdeham. Ivy yang tidak dengar—atau pura-pura tidak dengar—tetap melanjutkan online tentang boyband kesukaannya. Gadis itu bersumpah kalau dia tidak akan pernah melewatkan satu pun berita tentang idolanya sekalipun dirinya harus terbakar di neraka—oke, ini agak hiperbolis.

“Ivy!” teriak pria yang bernama Lee Taeyong itu.

Tapi yang diteriaki sama sekali tidak menghiraukan.

“Hei, Ivy-anak-blesteran-semata-wayang-dari-pengusaha-otomotif-paling-kaya-di-Seoul!”

Ivy yang kaget langsung menoleh ke kanan ke kiri. Gadis itu juga bingung karena kini para siswa menatapnya dengan aneh. Namun beberapa saat kemudian, matanya bersitatap dengan milik Taeyong. “Kenapa kamu melihatku kayak itu?” tanya Ivy dengan ketus dan matanya memicing tidak suka.

“Kamu nggak dengerin aku barusan?”

Ivy tampak berpikir, kemudian menggeleng cuek.

“Sama sekali?” Taeyong tidak percaya.

Ivy menggeleng lagi dengan lebih menyebalkan.

Forget it.” Taeyong menyerah, meski dalam hatinya sedang gemas setengah mati. Pria itu mengalihkan pandangannya menatap siswa-siswi yang lain. “Baiklah, teman-teman, perjalanan wisata kita sudah dimulai.  Kalian bisa mencari tempat duduk di bus dan meletakkan barang-barang kalian di sana. Usahakan yang teratur dan saling membantu.”

Semua peserta bersorak gembira sambil berebut menaiki bus. Begitu pula Ivy Kim. Gadis blesteran Korea-Inggris itu punya misi untuk mendapatkan tempat duduk ternyaman di bus dan ia akan mengambil foto jika ada objek yang bagus. Ivy melihat Taeyong dengan sinis begitu manik mata mereka tidak sengaja bertemu lagi. Ketika Ivy lewat di depan Taeyong, ia menginjak kaki pria itu dengan sengaja, lalu berlari masuk ke bus begitu melihat Taeyong mengaduh kesakitan.

Ivy memilih tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan kota di sepanjang perjalanan nanti. Ivy tersenyum puas seraya memandang langit. Sepertinya wisata dalam rangka penyegaran ini akan menjadi hal yang paling menyenangkan. Tapi, lengkungan di bibir Ivy langsung menciut begitu ia melihat Taeyong yang masih berdiri di luar. Seolah sadar kalau sedang diperhatikan, Taeyong menoleh tepat ke arah Ivy. Gadis itu menyipitkan matanya tidak suka, kemudian menutup korden bus dengan gesit. Di kamusnya, langit cerah bisa berubah jadi mendung ketika ada Lee Taeyong.

Ugh, entahlah. Ivy sangat membenci Mantan Ketua OSIS itu melebihi apa pun. Rasa bencinya terhadap pria itu lebih tinggi daripada rasa benci terhadap kecoa atau cacing yang menggeliat di tanah. Entah apa yang merasuki Ivy hingga melihat wajah Taeyong dari ujung sedotan saja mampu membuatnya mual dan bersumpah kalau ia lebih suka melihat hantu. Rasa benci itu juga tak bisa dijelaskan oleh teori mana pun. Bahkan jika kamu memanggil Isaac Newton atau Einstein atau siapa pun itu, takkan ada satu pun yang bisa mengartikan rasa benci itu muncul dari mana. Ivy bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mencoba mengingat kesalahan apa yang telah Taeyong lakukan padanya sehingga rasa benci itu menumpuk kian tinggi. Dan seberapa pun gadis itu mencoba menghindar darinya, seolah ada saja sesuatu yang mempertemukan mereka bagaimanapun caranya. Walaupun Ivy berusaha keras untuk tidak melihat wajahnya sehari saja, tapi tidak… itu tidak mungkin. Mereka satu sekolah. Satu kelas. Satu organisasi. Dan satu klub. Jadi bagaimana mungkin ia bisa menghindar?

“Vy, kamu mau satu?” Lamunan Ivy sukses buyar saat Yuta menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna hitam tepat di depan wajahnya dari arah belakang.

Ivy meraup plastik itu dengan tangannya, lalu meremasnya dengan kasar. Ia berdiri dan berbalik ke arah belakang. “Kamu mau mati, ya?!”

Yuta dan Hansol yang duduk di belakang pun tertawa melihat ekspresi jelek Ivy. Gadis itu jadi semakin badmood sekarang.

“Bukan aku!” seru Yuta, lalu kedua jemarinya membentuk huruf V. Hansol juga ikutan membentuk huruf itu dengan tawa yang tak kalah lebar. “Itu dari Doyoung.”

Ivy celingukan mencari keberadaan Doyoung dan aha! Pria itu sekarang sedang membagi-bagikan kantong plastik hitam yang sangat tidak penting ini. Dia tampak bahagia. “Benda ini multifungsi, lho. Kalian bisa memakainya saat bus lag.”

‘Bus lag’? Harusnya kan ‘Jet lag’?

Ivy langsung membelalakkan matanya begitu melihat Taeyong masuk ke dalam bus. Ivy melihat di sekelilingnya dan tidak ada tempat duduk kosong. Gadis itu beharap semoga Taeyong harus berdiri sepanjang perjalanan karena kehabisan tempat duduk.

 Ivy kembali menyandarkan tubuhnya sambil terus menggerutu tidak jelas. Ia sudah tidak mempedulikan Doyoung yang masih sibuk mempromosikan kantong plastik gratisnya. Ia juga tidak peduli ketika Doyoung berkata kalau dia akan memungut biaya jika ada yang meminta kantong plastik lagi ke depannya.

Ivy melihat plastik hitam di tangannya—bekas remasannya tadi. Oh, jadi ini semacam tester? Mungkin lebih tepatnya, ini adalah modus. Sebenarnya Doyoung memang berniat jualan. Ivy pun melempar gumpalan plastik itu ke kursi kosong di sebelahnya.

Tunggu.

Kursi kosong?

Ivy menganga lebar. Dua detik kemudian ia melirik Taeyong lagi yang sedang membantu siswi perempuan meletakkan barang-barangnya. Ivy segera meletakkan tasnya di kursi kosong itu, lalu pura-pura tidur. Taeyong tidak akan memindahkan tasnya dan duduk di sebelahnya, kan? Langit cerah tidak akan berubah jadi mendung jika hal itu terjadi. Mungkin halilintar di sertai hujan badai tornado dengan langit super gelap dan gemuruh sana-sini.

“Ivy?”

Ivy mengintip sedikit di tengah matanya yang terpejam. Tidak! Ia tidak dengar! Ia tidak dengar Taeyong memanggil namanya!

“Ah, kursi ini kosong. Tadi aku dan Hansol juga berpikir akan lebih baik kalau Lee Taeyong duduk di depan kami.” Dengan tanpa dosa, Yuta memindahkan tas Ivy ke pangkuan gadis itu yang sedang ‘tertidur’. Diam-diam Ivy ingin menjambak rambut Yuta, tapi ia menahannya dan tetap melanjutkan aktingnya. Taeyong berterima kasih, lalu duduk di sebelah Ivy dengan lega. Pria itu tersenyum geli melihat gadis di sebelahnya. Ia tahu kalau Ivy hanya  pura-pura tidur.

Sekarang Ivy tidak hanya membenci Lee Taeyong.

Dia juga benci Nakamoto Yuta.

“Aktingmu jelek,” bisik Taeyong di telinga Ivy yang serta-merta membuat gadis itu terbangun dan semakin kesal.

Aarrgghhhh! Cuaca hari ini sungguh berkebalikan dengan suasana hatinya. Ia pun lebih memilih tidur sungguhan sambil menunggu bus sampai di tujuan. Tidak ada pemandangan indah. Tidak ada cuaca cerah. Tidak ada foto. Dan pastinya, tidak ada yang menyenangkan karena Lee Taeyong ada di sebelahnya.

.

.

.

Ivy merentangkan kedua tangannya seolah sedang memeluk alam dengan gembira. Ia menghirup udara segar khas hutan dalam-dalam. Ia dapat melihat pohon mapple yang berjajar dan aneka bunga warna-warni. Inilah surga! Ivy tersenyum dengan sangat lebar dan berlarian ke sana kemari seperti anak kecil.

“Kamu nggak ngapa-ngapain?”

Ivy langsung berhenti berlarian. Ia sangat hapal suara itu. Suara yang mengganggu hidupnya setahun belakangan. Tepatnya saat ia resmi menyandang gelar sebagai anggota OSIS terhitung dari tahun kemarin.

“Memangnya aku kudu ngapain?” Ivy balik bertanya. Oh, bahkan ketua OSIS ini sudah resmi pensiun dari masa kinerjanya, namun jiwa penyuruh dan otoriternya masih saja ada.

Taeyong menghela napas—bersabar. “Kayaknya kamu perlu belajar mendengarkan orang lain.”

“Memangnya aku kudu ngapain? Cepetan dong bilang.”

“Aku tadi bilang, kalau sudah sampai di tempat tujuan, seluruh siswa harus segera membangun tenda yang sebelumnya sudah dibawa dari rumah.”

“Tenda? Jadi ini kemah? Kupikir ini cuma perjalanan wisata biasa.” Wajah Ivy sedikit panik. Ia melihat ke sekitarnya dan yang benar saja! Semua teman-temannya memang sedang membangun tenda masing-masing. Sial!

“Jangan bilang kalau kamu nggak bawa tenda.” Taeyong melirik tas kecil yang dibawa Ivy. Dari ukurannya pun Taeyong sudah bisa menebak kalau gadis itu hanya membawa ponsel dan beberapa alat berdandannya. Kalau pun membawa pakaian, paling-paling hanya satu atau dua helai.

“Aku harus gimana, nih? Masa balik ke rumah? Perjalanan ke sini kan empat jam. Sialan! Di sini nggak ada sinyal, lagi!” Ivy gelagapan sendiri.

“Memangnya kamu ke mana pas rapat minggu kemarin? Saat itu kamu ijin, kan? Aku sudah menginstruksikan bahwa paling nggak setiap dua orang bawa satu tenda untuk faktor keamanan.”

“Aku beneran nggak tahu. Lagian juga nggak ada yang memberitahuku.”

“Lalu mana rekan kerjamu yang bawel itu?”

“Saat itu Illa nggak masuk. Um… kukira saat itu sudah rapat final.”

“Ada perubahan jadwal. Kamu ha—“

Stop!” Ivy menginterupsi. “Ini bukan waktunya buat ngomel. Kamu kelihatan kayak nenekku sekarang.”

Ivy melihat di sekelilingnya lagi. Ia memperhatikan Arin dan Luisa yang sedang beradu mulut karena jarak tenda mereka terlalu dekat. Juga ada Yuta dan Taeil yang sedang berebut kayu untuk menopang tenda mereka supaya tidak roboh. Ivy tidak mungkin numpang tidur di tenda salah satu dari mereka, kan? Pasti rasanya sesak kalau harus tidur bertiga di tenda sekecil itu. Bahkan sopir pun membawa tenda yang sama kecilnya. Apa ia sedang dikerjai? Kenapa semua tenda ukurannya sama?!

Taeyong tersenyum jahil. “Kamu bisa merasakan jurit malam atau menjaga kami saat gelap,” ucap Taeyong seraya menepuk bahu Ivy, kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Taeyong hendak membantu Yeri dan Seulgi yang sedari tadi meneriakkan namanya untuk meminta bantuan mendirikan tenda mereka. Ivy tak sengaja melihat ekspresi Taeyong yang tampak senang saat membantu para gadis itu. Ugh, Ivy benar-benar tidak suka melihat Taeyong yang selalu di kerubungi wanita karena menurutnya pria itu tidak terlalu ganteng—setidaknya jika dibandingkan dengan Justin Beiber. Lagipula, siapa sih yang dulu memilihnya jadi ketua OSIS?

“Dasar genit,” gumam Ivy sinis, lalu mengibas-ibaskan bahunya yang sempat dipegang Taeyong tadi. Berusaha menghilangkan jejak tangan Taeyong yang baginya banyak bersarang ‘kuman’ itu.

.

.

.

Ivy menendang-nendang batu kerikil tak bersalah di sepanjang perjalanan yang dilaluinya. Sesekali ia menyentuh daun puteri malu yang mekar dengan sepatunya agar daun-daun itu kembali menguncup. Sedari tadi pandangannya juga tidak fokus. Tak jarang gadis itu menoleh ke arah Taeyong yang berjalan tak jauh di belakangnya sambil memikul setumpuk ranting kering yang akan digunakan untuk api unggun nanti malam.

“Berat, ya? Sini biar kubantu.” Ivy menengadahkan tangannya begitu ia berdiri sejajar dengan Taeyong.

“Ini enteng, kok,” jawab Taeyong sambil tersenyum pada Ivy seraya lanjut berjalan. Ivy mengikutinya di belakang.

“Kamu itu kenapa, sih?” tanya Ivy.

“Apanya?”

“Kamu menyuruhku ikut mencari kayu bakar. Tapi kamu malah melarangku membawanya.”

“Aku cuma nyuruh mencari, bukan membawakan.”

Ivy memutar kedua bola matanya dengan malas. “Ada nggak sih kata-katamu yang enak di dengerin?”

“Ranting-ranting ini kasar. Aku nggak mau kulitmu luka.”

Ivy tersenyum tipis. “Benar juga. Well, agak nyebelin sih, tapi itu cukup manis.”

Taeyong sempat terpaku saat melihat senyuman Ivy dari jarak sedekat ini. Detak jantungnya tiba-tiba lepas kendali dan bertabuh dengan sangat kencang. Ups, Taeyong sampai takut kalau saja Ivy bisa mendengar debarannya. “Nggak usah tersenyum kayak gitu. Kamu membuatku merinding ngeri,” pungkas Taeyong, dingin. Pria itu berusaha mengontrol dirinya di depan Ivy. Setelah itu mempercepat langkahnya meninggalkan gadis itu yang mematung.

“Merinding… ngeri…?” Ivy menatap punggung Taeyong dengan sinis. “Aku menyesal sudah menilaimu cukup manis! Gimanapun juga kamu itu emang Lee Taeyong yang nyebelin!”

Ketika Ivy berlari mengejar Taeyong, tanpa sadar kakinya malah tersandung akar pohon hingga membuatnya terjatuh ke tanah. Mirisnya, lututnya ternyata jatuh menghujam bebatuan. Ivy mengaduh kesakitan melihat lututnya yang kini mulai mengeluarkan darah. Perih sekali.

Taeyong yang mendengar jeritan kecil Ivy pun menoleh ke belakang dan menghampirinya. “Ada apa?”

Ivy tidak menjawab. Ia tetap memperhatikan lututnya dengan mata berkaca-kaca. Huhuhu, ia pasti terlihat sangat memalukan sekarang. Ia jadi ingin mengubur dirinya hidup-hidup di bawah laut atau menyamar jadi patung Liberty di atas menara Namsan asalkan bisa membuatnya menghilang dari pandangan Taeyong dalam sekejap.

“Kamu ini ceroboh sekali.” Taeyong meletakkan setumpuk ranting kering yang ia gendong di punggungnya sedari tadi. Matanya sedikit melebar melihat lutut Ivy yang mengalirkan semakin banyak darah. “Kamu juga aneh. Masa ke hutan pakai dress kayak gini?”

Kini Ivy malah menangis tersedu mendengarnya. “Kenapa kamu masih sempat memarahiku, sih?”

“Bukan begitu maksudku,” ujar Taeyong sambil mengacak rambut Ivy. Kemudian pria itu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sapu tangan. “Jenjangkan kakimu, lalu tekuk sedikit ke atas.”

“Kamu mau apa?” Ivy berseru sambil memeluk tubuhnya sendiri. Kalau Taeyong berani berbuat macam-macam, Ivy tidak akan segan-segan memukul kepalanya dengan batu.

“Sudahlah, ikuti saja.”

Dengan waspada, Ivy pun meluruskan kakinya, lalu sedikit menekuknya ke atas. Pipinya agak bersemu saat memperhatikan Taeyong yang sedang meniup-niup luka di lututnya dari pasir yang menempel. Dengan cekatan, Taeyong mengikatkan sapu tangan itu ke lutut Ivy supaya tidak kena infeksi kuman yang beterbangan di udara. Taeyong jadi tampak seperti pahlawan dan anak-anak rambutnya yang basah karena keringat juga membuatnya semakin tampan. Taeyong tersenyum lebar sesudah mengikatkan sapu tangannya di lutut Ivy—dan kini giliran Ivy yang berdebar melihat senyuman itu.

“Terima kasih,” kata Ivy dengan malu-malu tapi tetap terkesan angkuh.

Taeyong mengangguk. “Bukankah itu kewajibanku sebagai Ketua OSIS?”

“Kamu kan sudah pensiun.”

“Ya nggak apa-apa, kan? Memangnya kalau aku sudah nggak jadi ketua OSIS, aku harus biarin teman-temanku kesusahan, gitu?”

Entah mengapa, ada perasaan kecewa saat Ivy mendengar jawaban Taeyong. Di bayangannya adalah, Taeyong akan mengeluarkan gitar yang tersembunyi di dalam kantongnya, lalu dia akan menyanyi dengan konyol mengatakan betapa Taeyong menyukainya—

Eh, apa Ivy baru saja berharap Taeyong menyukainya?

Ivy mencoba berdiri, namun ia hampir saja terjatuh lagi jika Taeyong tidak cekatan menarik tangannya. Raut wajah pria itu nampak khawatir dengan keadaan Ivy yang terlihat sangat buruk. Tapi, Ivy yang salah tingkah pun berusaha menutupi perasaan malunya itu dengan bertindak keras kepala seakan dia baik-baik saja. Gadis itu tidak ingin terlihat bodoh lagi meskipun kakinya memang masih sakit. Sepertinya apa pun yang ia lakukan memang kacau dan parahnya lagi Taeyong selalu ada di saat-saat seperti itu.

“Ayo, kita ke perkemahan,” ajak Ivy sambil berjalan terpincang. Taeyong hanya mengangguk ragu karena ia menyadari ada yang tidak beres dengan gadis itu.

Taeyong mengambil setumpuk ranting yang sudah diikatnya dengan tali rafia, kemudian meletakkannya di punggungnya lagi bak ransel. Ia berjalan mendahului Ivy. Sedangkan gadis yang didahului itu hanya bisa mengaduh sambil melangkahkan kakinya perlahan. Ia ingin menjerit saking sakitnya. Tapi—sekali lagi—ia tidak mau bertindak memalukan di depan Lee Taeyong. Mungkin kakinya bukan hanya terluka, tapi juga terkilir. Sepertinya karena menghujam batu-batu terjal sekaligus tertimpa tubuhnya sendiri tadi.

Taeyong menoleh, melihat Ivy yang tertinggal jauh di belakang. “Beneran kamu nggak apa-apa?!” teriaknya.

“Iya! Kamu jalan duluan saja!” sahut Ivy.

“Oke!” jawab Taeyong. Sesungguhnya ia tidak semudah itu percaya. Diam-diam Taeyong menunggui Ivy sambil memperhatikan gadis itu dari balik pepohonan.

Pandangan Ivy beralih ke lututnya yang terbalut sapu tangan yang darahnya mulai tembus. Ia kembali menghadap ke depan. Lee Taeyong sudah tidak ada. “Dia beneran jalan duluan? Hell, dasar nggak peka! Harusnya dia menggendongku kek, atau apa gitu,” gumamnya.

Ivy berjalan sempoyongan sambil berpengangan pada pohon demi pohon yang dilaluinya.  Dia terus mengaduh kesakitan dan akhirnya terduduk di bawah pohon rindang karena sudah tidak kuat berjalan lagi. Ivy memijat kakinya sambil sesekali mengumpat kalau lain kali ia tidak akan pernah mau disuruh ke hutan lagi sekalipun di hutan itu ada Justin Beiber atau uang sejuta dolar. Ia tidak akan pernah mau sekalipun di situ ada mantannya dan mengajaknya pacaran lagi. Ia juga tidak akan pernah mau sekalipun di situ ada Lee Taeyong yang sedang memenggal kepalanya sendiri. Pokoknya tidak akan pernah mau!

“Sudah kuduga.” Entah sejak kapan kini Taeyong berdiri tepat di depan Ivy yang langsung membuat gadis itu terkejut. “Kakimu pasti terkilir. Ayo, naik ke punggungku.”

Mata Ivy melebar melihat Taeyong yang meletakkan ranting kayu bakar itu ke tanah. Laki-laki itu berjongkok dan berbalik membelakangi Ivy dan menunggui gadis itu menaiki punggungnya.

“Nggak. Makasih.” Ivy menolak mentah-mentah. Well, akan ditaruh di mana mukanya saat teman-temannya nanti melihatnya digendong Mantan Ketua OSIS Yang Genit ini?

“Kakimu akan semakin terkilir kalau dipaksa jalan. Terus kalau sudah parah, kakimu akan membengkak dan harus diamputasi.”

Ivy tertawa sinis. “Kamu pikir aku anak kecil yang percaya sama cerita picisan kayak gitu?”

Taeyong terkekeh. “Udah deh, naik aja. Malu itu basi,” goda pria itu yang serta-merta membuat wajah Ivy memanas. “Perkemahan masih jauh. Kamu nggak berniat nginap di sini, kan?”

Ivy memandang langit. Yang benar saja! Ia pun akhirnya mengangguk meskipun Taeyong di pastikan tidak dapat melihatnya. “Okelah kalau kamu maksa.” Dengan malas, Ivy naik ke punggung Taeyong dan berpegangan sekenanya.

Taeyong mendengus, lalu melepaskan tangan Ivy. “Posisikan kedua tanganmu di leherku—jangan di kepalaku kayak gini. Atau kalau nggak letakkan di bahuku. Kamu pikir aku ini kuda?” omelnya.

“Iya, iya,” ketus Ivy. Namun diam-diam ia senang juga karena bisa mengerjai Taeyong. Lalu, ia mengalungkan tangannya di leher pria itu dengan malu-malu. “Eh, tapi gimana nasib kayu kering yang sudah kita kumpulin? Kamu mau kalau aku sekalian menggendongnya?”

“Nggak perlu, nanti punggungmu sakit. Taeil dan Doyoung mungkin sudah dapat banyak ranting.”

“Kalau begitu kenapa dari awal nggak mereka saja yang cari?”

“Ya nggak apa-apa.”

Sialan! Jangan-jangan Taeyong cuma modus biar bisa berdua denganku di hutan?! umpat Ivy dalam hati.

.

.

.

Hangatnya api unggun membuat nyaman seluruh siswa yang sedang berkemah di tengah hutan tersebut. Mereka semua duduk mengitari api unggun, seraya memakan jagung bakar buatan Yuta dan Hansol sambil sesekali bernyanyi. Ivy merapatkan jaketnya yang ia pinjam dari Jaehyun. Ia sendiri memilih duduk di antara Jaehyun dan Ten—setidaknya ia duduk jauh dari Taeyong. Ia benar-benar kesal pada pria itu. Pikirannya melayang pada kejadian tadi sore di tengah hutan hingga menyebabkan lututnya jadi seperti ini.

Jika diingat-ingat, Ivy belum genap 16 tahun saat ia pertama kali bertemu Taeyong. Di tahun pertama memasuki SMA, Ivy sudah membenci pria itu tanpa tahu apa sebabnya. Lalu, rasa benci itu semakin membuncah saat ia terpilih menjadi anggota OSIS yang pasti akan semakin memudahkannya untuk bertemu Taeyong. Sampai sekarang pun Ivy berusaha memikirkan apa yang membuatnya begitu membencinya.

Apa karena dia  tukang  makan?

Jaehyun yang notabene adalah teman dekat Taeyong tentu kehilangan selera makannya saat melihat Taeyong mengunyah daun selada banyak-banyak di mulut. Saus berada di seluruh bagian dagunya dan itu sungguh menjijikan. Yeah, Ivy pernah melihat hal ini dengan mata-kepalanya sendiri saat ia dan Yeri sedang membeli semangkuk bulgogi di kantin beberapa minggu yang lalu.

Apa karena dia sok berwibawa?

Well, Ivy tidak penah beranggapan kalau Taeyong berwibawa. Menurut Ivy, hanya ada satu kepribadian mencolok yang sangat menggambarkan tentang kepribadian pemuda bermata tajam itu; Genit.

Apa karena dia anak NCT band?

Ok, akui saja, semua orang tahu makhluk macam apa anggota band itu yang beranggotakan Winwin, Yuta, Jaehyun, Mark, Haechan, dan Taeil. Mulutnya melontarkan kata-kata manis, otaknya berputar untuk menciptakan nada-nada indah yang harmonis dan hatinya tak pernah menetap pada satu gadis. Jadi, Ivy bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi pacar Lee Taeyong. Pasti setiap hari dibuatkan lagu romantis. Tapi siapa yang tahu kalau Taeyong telah menyanyikan lagu itu untuk gadis selain Ivy?

Tunggu!

Apa dia baru saja membayangkan rasanya menjadi pacar Lee Taeyong?

“Kamu lihat siapa, Vy?” Pertanyaan Jaehyun seketika membuyarkan lamunan Ivy. Gadis itu hanya menggeleng sambil terus menatap Taeyong yang sedang bernyanyi dengan gembira sambil diiringi petikan gitar Mark. Sesekali pria itu bermain mata dengan para gadis yang menatapnya saat ia sedang menyanyikan lagu yang tidak jelas itu.

Ugh. Lee Taeyong itu genit.

“Dasar playboy.”

“Siapa? Aku?” sahut Jaehyun.

“Eh, bukan!” jawab Ivy setengah gemas. Setelah itu, Yuta memberinya satu jagung bakar yang sudah diolesi mentega. Ivy menggigit jagung itu tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun dari Taeyong. Lalu, jantungnya seakan berhenti berdetak saat pria itu tak sengaja membalas tatapannya. Namun, Ivy mencoba menyangkal perasaan itu sambil memasang tatapan seolah berkata ‘apa lihat-lihat?!’.

Tapi setelah itu, Taeyong berpaling. Ivy agak tertegun. Biasanya saat mereka bertatapan, Taeyong akan mengerlingkan matanya atau memberikan pandangan jahil. Tapi kali ini, tidak. Pria itu bahkan dengan mudah berpaling ke gadis yang ada di sebelahnya. Ivy kenal gadis itu. Sangat kenal. Namanya Yiyang—gadis China yang terkenal sangat pintar di kelas. Taeyong mengajak gadis itu bernyanyi, bahkan dia juga berani menyentuh tangan Yiyang. Seketika amarah Ivy naik ke ubun-ubun.

Dasar genit! Genit! GENIIIIIIIIIT! batin Ivy meraung-raung.

Kini Ivy jadi semangat menggigit jagung, Jaehyun sampai takut kalau saja Ivy kebablasan menggigit tusuknya. Setelah jagung itu habis, Ivy melempar tusuknya tepat ke perapian. Gadis itu sudah tidak memperhatikan Taeyong lagi. Ia beranjak pergi dan melangkahkan kakinya yang pincang ke bus. Karena tidak membawa tenda, dengan terpaksa gadis itu memilih tidur di dalam angkutan itu sendirian. Tapi mungkin hal ini lebih baik daripada harus melihat Lee Taeyong yang suka cari perhatian pada semua gadis. Ivy duduk di kursi yang tadi pagi juga ia tempati, lalu memejamkan matanya dengan nyaman. Kemudian….

Ivy membuka matanya dalam seketika. Ia seperti merasa… ada yang meniup telinganya. Tapi gadis itu berusaha menyangkal segala hal buruk. Lagipula untuk apa dirinya takut karena letak bus kan tidak terlalu jauh dari perkemahan. Akhirnya, Ivy pun memejamkan matanya lagi. Tapi….

Gadis itu membuka mata lagi. Sialan! Telinganya daritadi seperti ada yang meniup. Ivy celingukan ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada siapa pun. Bulu kuduknya perlahan meremang. Apa di bus ini ada hantu? Tapi tiba-tiba, rasa takut itu sekejap sirna saat ia melihat ada bayangan seseorang yang sedang bersembunyi di kursi belakang. Ivy mengintip dan ia berani memastikan kalau orang itu adalah Lee Taeyong. Gadis itu mencolek ubun-ubun Taeyong yang sedang berjongkok sambil menundukkan kepalanya. Laki-laki itu mendongak dan menatap Ivy dengan kecewa.

“Padahal aku pengin lihat kamu katakutan.”

“Aku nggak manja,” pungkas Ivy dengan cuek. Gadis itu kembali duduk, lalu memejamkan matanya untuk kesekian kali. Tapi—lagi-lagi—ia harus membuka matanya saat merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya.

“Kamu ngapain, sih? Pergi sana! Tidur di tendamu sendiri!” usir Ivy dengan galak sambil mendorong-dorong Taeyong.

“Aku nggak mungkin biarin kamu sendirian. Aku cuma—woah! Ngapain kamu, Vy?”

Gadis itu dengan sekuat tenaga menarik Taeyong keluar bus. “Wow, Ivy! Kamu ngapain? Di luar dingin.”

“Aku nggak peduli,” desis Ivy. Ia tak peduli jika badannya juga kedinginan meskipun ia sudah memakai jaket. “I hate you, Lee Taeyong.”

“Apa? Kenapa?” Taeyong bingung setengah mati, merentangkan tangannya lebar-lebar. “Apa yang kulakukan sampai kamu benci sama aku, Vy?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku nggak tahu!”

“Kamu nggak tahu?” Wah, apa-apaan ini, batin Taeyong. “Kamu nggak tahu kenapa kamu membenciku? Kamu—”

“Gila? Ya, aku memang sudah gila. Dan aku juga nggak tahu apa yang kulakukan sekarang. Sial!” kata gadis itu setengah menjerit frustrasi.

Taeyong masih berdiri di sana dalam diam. “Aku nggak ngerti, Vy.”

“Nah, aku juga nggak ngerti. Aku muak lihat tingkahmu yang berlebihan, genit, dan sok rajin di kelas. Aku juga benci lihat kamu berkeliaran seolah caper sama semua cewek. Aku benci tiap kali kamu menawarkanku permen atau roti isi karena, kamu tahu, kamu selalu meninggalkan sisa selainya di gigimu, kemudian kamu akan nyengir dan kuberitahu kalau kamu kelihatan jelek saat itu. Tapi herannya banyak sekali cewek yang mendekatimu! Apa mereka nggak sadar kalau sebenarnya kamu itu konyol?”

Taeyong sempat tak bereaksi.

“Memangnya aku kayak gitu, ya?” tanya lelaki itu dengan memasang tampang paling bodoh yang pernah ia punya.

“Ya, iya kamu begitu! Dan aku sangat, sangat membencimu melebihi apa pun. Aku sangat membencimu dan aku pikir aku mulai gila sampai-sampai aku rasa aku suka sama kamu!”

Ups, apa Ivy baru saja mengatakan dia jatuh cinta pada Lee Taeyong?

Lelaki itu pun mengerutkan dahinya. “Hah?” Taeyong menatap mata gadis itu. “Ivy, kepalaku pusing.”

Sial, aku juga pusing, kata Ivy dalam hati. “Sudahlah, Taeyong. Lupakan.”

Gadis itu berbalik menuju pintu bus. Namun tangan Taeyong menahan bahunya, kembali membalik tubuh itu hingga menghadapnya.

Taeyong menyeringai. “Aku nggak heran sih kalau kamu suka sama aku. Aku kan memang ganteng, keren, imut, lagi.”

Ivy memutar bola matanya. “Aku mau tidur.” Ivy kembali melangkahkan kakinya naik ke bus, tapi lagi-lagi Taeyong menarik tangannya, menangkup wajahnya, dan mencium pipinya.

Err… iya. Taeyong mencium pipinya.

Rasanya tidak mungkin.

“Aku tetap nggak ngerti kenapa kamu membenciku, Vy. Aku juga nggak mau kamu jadi orang gila. Tapi, aku bersumpah aku pengin kamu juga suka sama aku. Aku sangat memesona, kan?”

Juga jatuh cinta padanya? Memesona? Diam-diam Ivy menyetujui hal itu dalam hati.

Taeyong mencium pipinya lagi sekitar tiga detik dan memberi Ivy kesempatan untuk bicara satu detik.

“Kita sama-sama gila,” gumam Ivy di bibirnya.

Taeyong tertawa dan yeah, oke, dia memang gila. Dia akui itu. Sebagai buktinya, dia mencium pipi Ivy lagi dan lagi dan lagi, membuat gadis itu meleleh jadi sekedar puding lembek, lalu jadi cairan seperti air. Tapi, ugh, apa Taeyong juga melakukan hal ini pada gadis lain? Entahlah. Ia tidak peduli meskipun Taeyong itu genit, konyol, bodoh, dan sok pintar. Ia benar-benar sudah tidak peduli pada apa pun yang terjadi. Faktanya, Ivy sangat menyukai hal ini. Sial! Lee Taeyong memang membuatnya jadi gila!

Dari kejauhan Yuta, Taeil, Jaehyun, dan Winwin merekam kejadian ini menggunakan ponsel Taeil.

Man, ini seperti film No Escape, saling mencium pipi di tengah hutan,” kata Yuta.

“Tolong hapus video itu dari ponselku setelah kalian menyebarkannya di depan teman-teman yang lain,” timpal Taeil  menyesal mengapa dia harus setuju dengan ide Yuta.

“Kupikir mereka musuh,” celetuk Jaehyun. “Bahkan Ivy pernah bilang padaku kalau dia nggak akan pernah mencium Taeyong karena katanya mulutnya itu bau.”

Taeil dan Winwin terkikik.

Yuta nyengir dan menekan tombol save di sana. “Kita akan ditraktir Lee Taeyong setelah ini, guys. Tenang saja.”

Ivy dan Taeyong masih tetap pada posisinya. Membayangkan kejadian itu kembali, Ivy ingin tertawa. Dia menelisik beberapa alasan demi alasan tak masuk akal mengapa dia bisa membenci dan jatuh cinta pada Taeyong di saat bersamaan.

Tapi kata orang-orang, mungkin itu terjadi karena Taeyong adalah cinta yang sesungguhnya dalam hidup Ivy.

Karena, asal kamu tahu, cinta dan benci itu hanya beda tipis. Bahkan lebih tipis dari dompetnya Yuta.

.

.

_FIN_

Advertisements

6 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Leo (Series)

  1. “Entah apa yang merasuki Ivy hingga melihat wajah Taeyong dari ujung sedotan saja mampu membuatnya mual dan bersumpah kalau ia lebih suka melihat hantu”

    Maka sesungguhnya Ivy adalah kaum merugi karena telah menyia2kan ketampanan haqiqi seorang Lee Tae Yong

     “Aku nggak heran sih kalau kamu suka sama aku. Aku kan memang ganteng, keren, imut, lagi.”

    SAVAGE TAPI TRUE!!!!

    sebenarnya alurnya ketebak kalo Taeyong dan Ivy saling suka wkwkwk tapi ya namanya juga fluffy yah, kalo plot twist mah namanya crack XD
    BANGSAT KAMU LEE TAE YONG AKU MEGGELINJANG WHYYY KAMU LAWAK BANGET DI SINI XDDD
    asli ji aku lagi mls komen panjang2. Karena pertama, ff mu selalu bagus. Kedua, aku lagi sumpek karen USBN semakin dekat
    Pokoknya begitu, sama aku juga masih ada utang baca yg jaemin dan ten itu ya… Sabar sabar entar kalo sempat pasti aku mampir :’ aku aslinya sudah penasaran tapi kok ngga ada waktu duhh ingin nangosss
    /INI WORDPRESS LEL BUKAN LAPAK CURHAT

    Liked by 1 person

    • MBALELKU SAYAAAAANG ❤ Taeyong emang kubuat savage di sini, biar… biar apa ya enaknya? /plak/

      Nggak apa-apa mbalel, komen panjang, pendek, tipis, tebal, maju, mundur pun kuterima :'3 /gagitu/ DAN MBALEL, YANG SABAR YA MBAK :'3 Kita sama2 sumpek kok. Kalo aku sumpek ngadepin tugas laporan PSG yang berasa kayak tugas skrispi :v Semangat buat USBN nya ya mbake :* :* :* Kuselalu sabar menunggu kunjunganmu ^^

      Btw, makasih banget loh udah mau nyempetin baca & komen di tengah2 kesumpekan :v :v :v

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s