[NCTFFI Freelance] Pernyataan (Oneshot)

PERNYATAAN

by Reixmember

Mark (NCT) & Nara (OC)

genre: romance | length: Oneshot | rating: teen and up

Related: JatuhCemburu

.

.

“Saat Mark tampil di atas panggung, entah mengapa tiba-tiba hal itu menarik perhatiannya.”

***

Hembusan nafas berat terdengar oleh Seoyeon, teman dekat Nara, yang otomatis mengubah sorotan pada sahabatnya itu. Hanya ekspresi wajah datar dan tidak bersemangat yang dilihat Seoyeon dari Nara. Seoyeon menyadari sikap yang lain dari biasanya. Ia pun menyentuh bahu Nara sehingga dia menoleh dengan terpaksa.

“Kenapa dengan wajahmu itu? Kau dimarahi ibumu?”

Nara menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu… kau dimarahi guru?” Seoyeon menebak lagi.

Nara menggelengkan kepalanya lagi dan kali ini ia bersuara, “Tidak.”

“Kalau bukan. Kau itu kenapa, Nara? Beritahu aku!” Seoyeon kali ini sedikit kesal karena jawaban pendek Nara.

“Jeno.” Akhirnya Nara menjelaskan. “Ternyata rumor itu benar. Jeno berpacaran dengan Jihyun Sunbae.”

“Oh karena itu.” Rupanya Seoyeon tidak kaget. Ia tahu kalau rumor yang belakangan menyebut Jeno, sang Ketua Osis, berpacaran dengan salah satu kakak kelasnya itu benar.

Nara mendekatkan posisinya pada Seoyeon. “Kenapa kau tidak terkejut?”

“Aku sudah menduganya, Nara. Kita kan sering lihat kalau Jihyun Sunbae sering menemui Jeno kalau ada kegiatan OSIS. Mereka terlihat serasi. Bukankah begitu? Yang satu cantik dan yang satunya tampan. Mereka cocok, kan?”

Nara menatap sinis teman dekatnya itu. Dalam pikirannya, Nara heran kenapa bisa ia menyebut Seoyeon sebagai sahabatnya. Bahkan ia tidak tahu bagaimana perasaan Nara saat ini. Mengatakan kalau pemuda yang disukainya dibilang cocok dengan perempuan lain oleh sahabatnya itu tidak mengenakkan. Namun, bukan salah Seoyeon kalau ia tidak tahu. Semuanya karena Nara terlalu pandai merapatkan perasaanya sehingga dia tidak bilang pada orang lain, bahkan sahabatnya sendiri, tentang orang yang disukainya.

“Kenapa kau menatapku begitu?”

Pertanyaan dari Seoyeon menyadarkan Nara kembali. “Tidak apa-apa.”

Sebelum Seoyeon berbicara lagi, seorang murid dari kelas lain datang pada mereka berdua. Sembari memegang sebuah amplop putih di tangannya, murid itu bertanya.

“Kau Nara, kan?”

Nara mengangguk. “Iya, ada apa?”

“Aku dititipi ini.” Murid itu menyerahkan amplop putih pada Nara. “Dia bilang untuk memberikannya padamu.”

“Dia siapa?”

“Aku juga tidak mengenalnya. Dia dari sekolah lain. Tadi waktu aku mau masuk gerbang, laki-laki itu meminta tolong padaku.”

“Oh begitu ya. Terima kasih sudah memberikannya padaku.” Nara tersenyum.

“Sama-sama. Sekarang aku mau kembali ke kelas.”

Nara mengangguk dan tersenyum lagi pada murid perempuan itu. kemudian, mengamati luaran amplop putih yang dipegangnya kini. Tertulis ‘Untuk Nara. Dari seseorang yang pernah kau obati.

“Cepat buka.” Seoyeon ikut tidak sabar ingin melihat isinya. Apakah benar sebuah surat cinta? seperti yang ditebaknya.

Nara merobek pelan sisi pendek dari amplop itu. Setelahnya, ia melihat isi yang tampak seperti kertas. Dengan jemari tangannya, Seoyeon menarik kertas di dalamnya.

“Wah… kau diberi tiket itu.” Tiket yang bertuliskan acara ‘Culture and Technology High School Festival’ membuat Seoyeon berseru senang apalagi jumlah tiketnya bukan hanya satu, melainkan ada tiga lembar tiket.

Sekedar informasi, kalau tiket itu merupakan syarat masuk ke acara festival yang setiap tahun diadakan di sana. Terdapat berbagai acara menarik dan selalu jadi pembicaraan banyak orang. Maklum, acara tersebut diselenggarakan oleh sekolah terbaik di wilayah ini. Harga tiketnya cukup mahal dan selalu habis terjual. Tidak semua orang bisa datang ke acara itu karena jumlah tiket yang dijual terbatas.

Mengabaikan perasaan Seoyeon, Nara membaca secarik kertas yang terselip. ‘Aku akan senang kalau kau datang dan melihat penampilanku. Aku juga memberikan tiga tiket agar kau bisa datang bersama teman-temanmu.

Seoyeon yang ikut membaca tiba-tiba berkomentar, “Ya ampun. Sikapnya sangat manis sekali, Nara. Siapa dia? Beritahu aku.”

Nara mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu.”

“Masa kau tidak tahu. Dia pasti sangat menyukaimu, Nara. Dan dia pastinya sangat tampan.”

“Kenapa kau bisa tahu kalau dia tampan atau tidak?”

“Nara, dia bilang dia akan tampil di acara itu. Berarti dia adalah murid di sana dan hanya murid di sanalah yang bisa tampil,” jelas Seoyeon. “Sekolah itu terkenal dengan ketampanan dan kecantikan murid-muridnya,” imbuhnya.

Memang benar apa yang dikatakan Seoyeon. Nara juga setuju kalau orang yang mengiriminya tiket ini dibilang tampan. Namun, untuk bertemu lagi dengannya. Nara harus berpikir berulang kali. Nara asing terhadapnya, bahkan dia sudah melabeli orang itu sebagai ‘pemuda gila’.

Terakhir kali bertemu, pemuda itu berani memeluknya di depan umum.

***

Tangan, kaki, dan tubuhnya bergerak mengikuti irama lagu yang disesuaikan dengan koreografi yang telah dibuat. Latihan yang dijalani Mark bersama yang lain bukan hanya sesekali. Mereka harus rutin dan berlatih keras agar penampilan mereka nanti di acara festival sekolah tidak mengecewakan.

Keringat yang keluar terasa membasahi permukaan kulit dan pakaiannya. Gerakan yang cepat diiringi musik yang kuat memang membuat ia lelah. Namun, hal itu akan sebanding dengan penampilannya nanti jika ia latihan keras sekarang. Apalagi yang dipikirkan Mark sekarang adalah memberikan penampilan terbaik untuk gadis yang disukainya.

Taeyong menepuk pundak Mark ketika latihan selesai. Kakak kelasnya itu memberikan sebotol air minum dingin. Mark segera menyambar botol minum itu dan segera membuka tutupnya. Meminum air seteguk dan kembali mengondisikan nafasnya yang terengah-engah.

“Kau terlihat semangat sekali latihannya, Mark.”

“Iya, Hyung. Aku juga tidak sabar ingin cepat tampil di panggung.” ‘Maksudnya aku tidak sabar bertemu Nara lagi’, Mark melanjutkan ucapannya di dalam hati.

“Bagus kalau begitu. Jangan sampai melewatkan latihan. Lima hari lagi kita akan tampil.” Taeyong menepuk pundak Mark, kemudian pergi darinya.

Mark bangkit dari posisinya. Dia segera pulang. Waktu latihan diadakan setelah jam sekolah sehingga Mark tidak bisa pulang seperti biasanya. Sebenarnya ia ingin menemui Nara. Namun, karena latihan rutin yang harus ia lakukan, membuat Mark harus menahan keinginannya.

Setiap hari, apa yang dilakukannya, baik itu di sekolah maupun di rumah, Mark selalu teringat pada sosok gadis yang berhasil merebut hatinya itu. Berharap kalau gadis yang disukainya akan datang dan melihat penampilannya nanti, membuat Mark tidak sabar.

***

Lima hari kemudian…

Atas desakan Seoyeon yang terus mengajaknya datang ke acara festival itu, Nara terpaksa mengiyakan. Ia sebenarnya tidak mau, tapi Seoyeon terus berbicara tentang acara itu dan juga menyayangkan kalau tidak menggunakan tiket yang sudah ada di tangan. Seoyeon menjelaskan kalau di acara tersebut selalu ada penampilan-penampilan murid-murid di sana yang bagus dan spesial.

Selain mereka berdua, ada Hyesun yang ikut bersama. Hyesun merupakan teman kelas mereka berdua dan cukup dekat dengan keduanya. Nara, Seoyeon, dan Hayung berangkat ke sekolah Mark dengan menggunakan bis. Menaiki bis satu kali dan sekitar dua puluh menit lebih mereka sampai.

Di depan gerbang besar berada bangunan sekolah megah dengan halaman yang luas. Tempat acara ada di dalam. Orang-orang yang masuk harus memperlihatkan tiket terlebih dahulu.

Nara dengan malas mengekori Seoyeon dan Hyesun yang tampak antusias. Berbeda dengannya. Nara malah sering menengok ke sekitar. Takut-takut kalau Mark akan muncul tiba-tiba. Memastikan Mark tidak mengikutinya, membuat Nara merasa aman.

Pukul 4 sore mereka sudah berada di tempat acara itu. Di dalam sana terdapat stand-stand yang beraneka ragam. Ramai dengan orang-orang yang berkunjung ke sana. Acara penampilan musik dan yang lainnya baru dimulai pukul 6 dan berakhir pukul 8 malam. Sambil menunggu acara utama, Nara, Seoyeon, dan Hyesun berkeliling dari satu stand ke stand lain.

“Pantas saja mereka memberlakukan tiket. Acaranya saja sangat bagus. Terlihat kalau mereka menyiapkannya dengan sangat baik. Bagaimana kalau sekolah kita juga mengadakan acara besar seperti ini?”

Seoyeon melirik Hyesun. “Butuh banyak dana membuat acara seperti ini dan sekolah kita tidak terlalu terkenal. Berbeda dengan sekolah ini yang diketahui banyak orang dengan kualitasnya. Lihat saja bangunan dan area sekolahnya, benar-benar sangat luas dan bagus.”

“Tapi, aku rasa kalau kita berusaha keras. Kita bisa membuat acara seperti ini,” sahut Hyesun.

“Ya mungkin begitu.” Seoyeon melanjutkan lagi makannya.

Sementara Hyesun memperhatikan Nara yang sedari tadi diam. Dia menunduk dan  menutup-nutupi wajah dengan telapak tangan.

“Kau kenapa, Nara?” Hyesun bertanya. Seoyeon ikut melihat Nara.

Khawatir. Nara menempelkan telunjuk di depan bibirnya. Memberitahu kalau Hyesun dan Seoyeon untuk jangan bertanya. Nara menengok ke arah kiri dan mendapati Mark dari jauh seperti sedang mencarinya. Dan tidak sengaja. Pandangan Mark tertuju pada meja yang ditempati Nara dan teman-temannya.

Nara tampak kaget saat Mark ‘menemukannya’. Berbeda dengan Nara, pemuda berwajah tampan itu tersenyum senang. Lalu, menghampiri orang yang dicarinya. Nara jadi sedikit panik. Dia tidak mau bertemu Mark lagi.

Akan tetapi, Mark sudah hampir sampai ke meja Nara. Seoyeon dan Hyesun terheran melihat kelakuan temannya yang tiba-tiba terlihat cukup panik dan ingin segera pergi. Setelah sampai di meja itu, senyuman dan sapaan dari seorang pemuda, yang mengenakan kaos putih dan celana jeans serta topi merah yang dipakai terbalik,  membuat Seoyeon dan Hyesun terkagum.

“Kalian temannya, Nara?”

Sejenak mereka memandangi wajah tampan Mark sehingga lambat menjawab pertanyaan dari pemuda itu.

“Ah, benar kami temannya,” jawab Seoyeon.

“Iya kami teman sekelasnya.” Hyesun menimpali.

“Aku senang kalian datang. Hmm… Boleh aku ikut duduk?” Mark melihat kursi kosong di sebelah Nara.

“Tentu saja boleh.” Seoyeon menjawab cepat dan Hyesun mengiyakan.

Mark pun duduk di sebelah Nara. Segera Nara menoleh dan melemparkan pandangannya pada Mark. Wajahnya seperti berkata ‘Kenapa kau ada di sini?

“Jangan-jangan kau orang yang memberikan tiket pada Nara?” tebak Seoyeon.

“Ah… iya benar itu aku.” Mark agak malu mengakuinya.

“Terima kasih tiketnya. Kami berdua jadi bisa ikut datang ke acara ini,” ucap Seoyeon.

“Tapi… Nara, kenapa kau tidak pernah cerita kalau punya teman di sekolah ini?” Kali ini Hyesung yang bertanya pada Nara.

Dia bukan temanku.’ Nara menjawab di dalam hati. “Karena kalian tidak pernah menanyakannya.”

“Setengah jam lagi, acara puncaknya dimulai. Tempatnya di gedung besar yang berada dekat dengan area stand luar. Kalian jangan sampai lupa menontonnya.”

“Tentu saja. Kami akan melihatnya. Ngomong-ngomong kau juga akan tampil?” tanya Seoyeon.

“Iya. Aku dan klub dance-ku.” Mark melirik jam tangannya. “Aku harus bersiap-siap. Aku pergi dulu.” Sebelum berdiri, Mark bicara pelan pada Nara, “Kau harus menontonnya.” Diakhiri dengan senyuman dan kedipan mata sebelah kiri. Nara merespon datar hal itu.

Sepeninggal Mark, Seoyeon dan Hyesun langsung heboh bertanya.

“Nara, Sepertinya dia menyukaimu? Kenapa kau tak pernah cerita?”

“Wah lihat dia tadi. Dia sangat tampan dan keren. Aku sampai lupa menanyakan namanya,” timpal Hyesun.

“Ya, benar. Siapa namanya?” Seoyeon ikut ingin tahu.

“Namanya…” Nara juga tahu pasti nama pemuda itu. “Siapa ya… Kalau tidak salah, temannya pernah memanggil namanya. Mark? Aku juga tidak yakin.”

“Kau ini jangan bodoh begitu, Nara. Jangan sampai kau menyia-nyiakan dia. Kalau kau tidak mau, buat aku saja dia.” Hyesun berkomentar.

Sementara Nara menanggapi datar komentar itu. ‘Kau tidak tahu saja bagaimana dia itu.’ batin Nara.

***

Seoyeon dan Hyesun menunggu di luar toilet ketika Nara sedang berada di dalam. Mereka melihat jam yang ada di ponsel. Sudah tiga puluh menit acara puncak sudah di mulai. Keduanya takut banyak kehilangan penampilan karena menunggu Nara.

“Dia lama sekali.” Hyesun berbicara.

“Kita terlambat. Aku tidak sabar ingin menonton acara itu,” sahut Seoyeon.

Mereka berdua pun masuk ke dalam toilet dan mengetuk salah satu pintu di mana Nara berada.

“Nara, kenapa lama sekali?” tanya Seoyeon.

Hmm… Aku tiba-tiba sakit perut.” Nara berbohong. Sebenarnya ia tidak mau menonton.

“Kalau begitu kami duluan saja, boleh?” usul Hyesun.

Hmm… iya.”

“Kau yakin? Tidak mau kami tunggu?” tanya Seoyeon lagi.

“Iya, tidak apa-apa.”

“Ok. Kalau begitu kami pergi duluan.”

Setelah suara kedua temannya tidak ada lagi, Nara keluar dari pintu toilet. Ia berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya. Nara melihat dirinya di depan cermin. Kemudian keluar dari tempat itu. Berjalan berlawanan dari tempat yang disebutkan Mark tadi. Nara mencari tempat untuk duduk.

Cukup lama ia duduk sebuah bangku panjang. Nara tenggelam dalam pikirannya.

Dia hanya ingin aku untuk menontonnya. Kenapa aku tidak mau? Hmm… aku tidak boleh jahat pada orang lain dan kelihatannya dia juga baik.’

Pikiran Nara tentang Mark terganggu oleh suara seseorang yang bertanya padanya.

“Oh! Nara? Kenapa kau ada di sini?”

Nara mengingat wajah laki-laki di hadapannya sekarang. Dia adalah Jaemin yang selalu bersama Mark. “Kenapa kau tahu namaku?”

“Mark selalu membicarakan dan sering menyebut namamu. Jadi, aku tahu. Oh iya kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau ada di sini? Acara puncak ada di sana.” Jaemin menunjuk sebuah gedung besar cukup jauh dari tempat mereka berdua sekarang.

Hmm… kau sendiri kenapa di sini?” Nara malah balik bertanya.

“Aku sedang berjalan ke sana. Tapi aku melihatmu. Jadi aku ke sini dulu.” Jaemin menjelaskan.

“Bukannya kau murid di sini. Kenapa tidak ikut tampil?”

“Karena aku sedang cedera.” Jaemin menarik celana panjangnya sehingga terlihat perban membungkus kakinya. “Ayo pergi ke sana. Aku yakin Mark pasti senang kalau kau menontonnya.”

Nara cukup lama berpikir dan memutuskan mengiyakan ajakan Jaemin. Ia pun mengimbangi Jaemin berjalan pelan karena kaki laki-laki itu cedera.

Di dalam gedung yang biasa digunakan berbagai acara besar itu dipadati oleh banyak orang. Jaemin dan Nara tidak mendapatkan kursi sehingga mereka berdua menyaksikan penampilan sambil berdiri.

Kedatangan Nara tepat waktu. Setelah penampilan dari berbagai klub sekolah, kini giliran klub dance Mark yang segera tampil. Riuh tepuk tangan menyambut mereka di atas panggung. Memang klub dance paling terkenal di antara klub-klub lain di sekolah ini. Para penonton tidak sabar menyaksikan penampilan Taeyong dan teman-temannya.

Asap dan lampu bercahaya merah serta into lagu menjadi awal penampilan mereka serta diiringi teriakan para penonton, terutama penonton perempuan. Nara melihat Mark di antara empat laki-laki yang lebih tua darinya. Tidak hanya menari, mereka pun bernyanyi, layaknya boyband.

Nara tidak tahu jika Mark memiliki bakat seperti itu. Baru kali ini pandangan Nara seperti tidak bisa lepas dari sosok yang disebutnya sebagai ‘pemuda gila’. Lihatlah Mark yang menari mengikuti irama lagu. Pakaian yang dikenakan Mark juga membuatnya keren.

Tanpa sadar, Nara tersenyum memperhatikan Mark di atas panggung. Apalagi ketika bagian Mark melakukan rap. Nara berseru takjub. “Wah, hebat!” pujian terlontar begitu saja dari bibir Nara.

“Kau sepertinya menikmati penampilannya, Nara? Bagaimana? Mark keren, kan?” Jaemin mengeraskan suaranya karena riuh teriakan penonton ketika penampilan Mark dan teman-temannya selesai.

Nara agak malu mengakuinya. “Ya, penampilannya bagus.”

“Mark itu sangat hebat dalam dance dan rap. Dia juga bisa bermain gitar,” sahut Jaemin.

Nara mengangguk-angguk. Ketika ia melihat ke panggung lagi, Nara mendapati Mark sedang melihat ke arahnya. Kemudian, tersenyum padanya.

Namun, Nara tidak merespon. Dia malah seperti orang yang kepergok melakukan hal yang salah. Dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Jaemin bingung dengan sikap Nara. Dia memanggil Nara, tapi gadis itu tetap meninggalkannya. Di atas panggung pun Mark berekspresi sama dengan Jaemin. Tidak mengerti kenapa Nara tiba-tiba langsung pergi begitu pandangan mereka bertemu.

Saat di luar gedung, gelap semakin menyelimuti malam. Penerangan yang ada di sekolah itu membuat keadaan tidak seram. Nara berjalan tergesa-gesa. Dia tidak memikirkan Seoyeon dan Hyesun bahwa ia pergi tanpa mereka. Sembari menempelkan telapak tangan kanan ke dadanya. Nara merasakan degup jantungnya tidak karuan, malah semakin cepat.

“Ada apa denganku?” Nara bertanya pada dirinya sendiri.

Langkahnya yang terburu-buru dihentikan oleh pegangan tangan seseorang pada lengannya. Nara refleks menengok ke belakang dan tubuhnya sedikit terhuyung pada seseorang yang ada di hadapannya.

Nara terkejut.

“Kau… mau… ke mana?” Mark bertanya sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tampak wajah cemas dari raut wajahnya. Tadi Mark langsung berlari mencari Nara saat ia tahu kalau gadis itu tiba-tiba pergi.

“Aku… tidak tahu” Nara menjawab jujur.

Huh?” Mark bingung dengan jawaban Nara. Kemudian, dia duduk berjongkok dan kembali mengatur nafasnya. Masih dengan satu tangan memegang lengan baju Nara, Mark mendongkak dan kembali berucap, “Jalanmu cepat sekali. Aku sampai capek berlari menemukanmu.”

Nara melihat keringat membasahi sekitar dahi Mark. Tadi Mark baru selesai menari di panggung dan langsung berlari mencarinya. Tentu saja itu cukup menguras energinya. Seperti paham, Nara mengeluarkan sebuah botol minum dari dalam tasnya. Botol berisi setengah air lagi itu kemudian diberikan pada Mark tanpa berkata apa-apa.

Mark mengambilnya lalu berdiri kembali. Meneguk airnya seteguk dan memberikan kembali botol minum pada Nara.  “Terima kasih,” ucapnya.

“Acaranya belum selesai.” Mark menarik Nara untuk kembali lagi ke gedung pertunjukan. Nara tidak menolak. Dia mengikuti Mark. Sampai kembali di dalam gedung Mark dan Nara berdiri di belakang para penonton. Keduanya menikmati penampilan tiga orang laki-laki yang sedang bernyanyi sangat bagus. Mereka adalah Kyuhyun, Ryeowook, dan Yesung yang menyanyikan lagu berjudul Promise You. Ketiganya merupakan lulusan sekolah ini.

Mark melirik Nara yang terfokus pada penampilan di panggung. Mark diam-diam tersenyum. Pegangannya pada lengan baju Nara belum dilepas. Malah tangan Mark turun lalu berhenti pada telapak tangan Nara. Menyelipkan jemarinya pada jemari gadis itu. Kemudian memegangnya erat. Nara menoleh. Tidak ada ekspresi marah. Yang ada, tampak kegugupan dari diri Nara. Mark mendekatkan wajahnya dan membisikan sesuatu.

“Aku menyukaimu, Nara. Bisakah aku jadi pacarmu?”

***

tamat

Advertisements

One thought on “[NCTFFI Freelance] Pernyataan (Oneshot)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s