[Vignette] Guardian Angel

Guardian Angel

a fanfiction by Joanne Andante

With: Doyoung NCT x OC | Special guest: Jaehyun NCT

Rating: General | Genre: Angst, Sad, Romance

Doyoung mengacak rambutnya dengan gusar sambil menghela napas. Tampak beberapa dokumen memenuhi meja miliknya dengan semena-mena. Akhir-akhir ini, entah bagaimana, pekerjaan Doyoung menumpuk seperti orang gila. Ia tak bisa menikmati tidur delapan jam sehari atau setidaknya pulang ke rumah untuk makan. Terlihat jelas lingkar hitam mata pria itu menebal dan menggelayut di bawah matanya.

Sejenak, Doyoung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menarik napas keras dan membuangnya kuat-kuat. Matanya terpejam di balik kedua tangannya, mencoba untuk beristirahat barangkali sejenak. Namun, suara telepon di atas meja kerjanya mengalihkan segalanya.

Jemari Doyoung menekan tombol putih untuk menjawab panggilan sekretarisnya.

“Selamat malam, Sajangnim. Maaf mengganggu. Ada yang ingin bertemu Sajangnim.”

“Siapa?”

“Nona Andante.”

“Suruh dia masuk. Apa ada hal lain lagi?”

“Itu… ehm, ini sudah jam sembilan malam. Bolehkah-“

“Ini sudah larut. Kau boleh pulang, Sekretaris Jang.”

“Terima kasih Sajangnim.”

Doyoung menutup teleponnya sambil tersenyum sendiri seperti orang gila. Segera, ia berdiri dan merapikan meja kerjanya yang kacau. Tidak terlalu rapi memang, tapi setidaknya tidak terlalu parah. Tidak lupa ia merapikan rambutnya yang agak berantakan dan membersihkan wajahnya dengan tisu. Belum selesai berbenah diri, pintu ruang kerjanya terbuka tiba-tiba, membuat Doyoung kaget.

Ahjusshi!

“Halo, Sayang!”

 Doyoung merentangkan tangannya, menyambut gadis di ambang pintu itu. Seperti harapannya, gadis itu berlari ke arah Doyoung di atas sepatu tingginya dan memeluk Doyoung tanpa ragu.

“Kenapa Ahjusshi tidak kembali ke rumah lagi?”

“Maaf, Andante. Aku tidak sempat.”

Andante bergumam kecewa sembari melirik tumpukan kertas di atas meja kerja Doyoung.

“Kau hampir seminggu tidak pulang ke rumah. Astaga…, aku sangat merindukanmu. Apa kau tahu bahwa aku merindukanmu?” celoteh Andante cepat.

Doyoung tidak menjawab. Ia masih memeluk Andante dengan mata terpejam dan napas yang ditarik kuat-kuat seolah ia sedang menikmati saat-saat bersama Andante. Pria itu mengusap pelan bahu Andante, lalu dengan berat hati melepaskannya.

“Ya, aku tahu. Dan aku juga merindukanmu, Andante.”

Andante tersenyum kecil saat Doyoung mengacak rambut panjangnya perlahan.

“Aku tadi menghadiri pesta ulang tahun Sera. Acaranya selesai sekitar setengah jam lalu. Seusai dari sana, aku langsung ke kantormu.”

“Kenapa kau tidak pulang? Nanti kau lelah.”

“Kenapa Ahjusshi tidak pulang? Apa Ahjusshi tidak lelah?”

“Aku sudah dewasa. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

“Aku juga sudah cukup dewasa. Aku sudah sembilan belas tahun. Beberapa bulan lagi aku bahkan berulang tahun yang ke dua puluh tahun.”

“Dan beberapa bulan lagi, aku tiga puluh tahun.”

Andante terkikik pelan mendengar jawaban singkat Doyoung. “Berarti kau tua,” katanya.

“Kalau aku masih muda, kau tak akan memanggilku dengan sebutan ‘Ahjusshi’.”

Dan lagi, itu berhasil membuat Andante tertawa kecil. “Ahjusshi, berhenti membuatku terlihat seperti anak-anak. Aku sudah dewasa sekarang.”

“Ya, dan itu terlihat dari caramu berpakaian. Apa pakaianmu itu tidak terlalu terbuka?”

“Aku memilihnya bersama Jaehyun Ahjusshi. Dia punya selera yang bagus,” jawab Andante sembari berputar di depan Doyoung.

“Tapi dress itu terlalu pendek. Dan tidak berlengan.”

Dress ini sedang terkenal sekarang. Lagi pula, tidak ada salahnya mengunakan pakaian yang agak terbuka bila memiliki tubuh yang cukup bagus sepertiku.”

“Benar-benar percaya diri yang luar biasa,” Doyoung menggelengkan kepalanya heran. “Apa Jaehyun membelikannya untukmu?”

“Ya. Dia membelikan ini untukku. Harganya sangat fantastis. Bahkan aku melongo ketika melihat Jaehyun Ahjusshi dengan senang hati memberikan kartu kreditnya pada kasir. Ia bahkan menawarkan beberapa potong dress lain untukku.”

“Dan kau tentu tidak menolaknya.”

“Tentu saja aku tidak menolaknya,” Andante mengiyakan sambil tertawa keras.

“Aku sungguh heran. Kenapa semua teman-temanku sangat senang menghamburkan uang mereka untukmu? Terutama Jaehyun, dia selalu menuruti semua yang kau inginkan.”

“Bukankah itu bagus? Aku tidak perlu memboroskan uangmu.”

“Anak nakal,” canda Doyoung sembari menyentuh hidung Andante dengan cepat.

Ahjusshi, jangan berlebihan. Sebaiknya kau menyelesaikan pekerjaanmu ketimbang mengganggu dan mengomentari pakaianku yang keren ini.”

-=-

Doyoung membolak-balik kertas-kertas di hadapannya dengan raut malas. Sementara Andante sudah sekitar setengah jam mondar-mandir di ruangannya dan melihat apa pun yang bisa ia lihat di ruangan itu.

“Apa kau bosan?” tanya Doyoung saat Andante mengamati botol-botol wine yang dipajang Doyoung di sebuah lemari kaca.

“Tidak. Ahjusshi selesaikan saja pekerjaanmu. Aku akan pulang jika kau sudah selesai.”

Doyoung berdiri dari kursinya dan mendekati lemari wine yang sedang diamati Andante. Ia menyentuh sisi lemari itu dan membuka kacanya. Tangan Doyoung meraih salah satu botol wine dan memperlihatkannya pada Andante.

“Aku baru membeli wine ini dari Prancis. Kalau kau mau, kau bisa mencicipinya.”

“Sungguh?”

“Ya, tentu saja. Tapi hanya sedikit.”

Dengan cekatan, Doyoung mengambil dua gelas wine dan memberikannya satu pada Andante. Gadis itu tampak sangat girang bagaikan anak-anak mendapat permen gula. Ia langsung mengadahkan gelasnya tepat di bawah mulut botol wine itu.

-=-

Andante sedikit bersandar di meja kerja Doyoung. Lidahnya menikmati wine yang diberikan Doyoung padanya. Sementara Doyoung menikmati wine di gelasnya sembari sesekali menatap Andante.

“Bagaimana rasanya?”

“Sangat menyenangkan. Ditambah keberadaan Ahjusshi di sini, tidak ada yang lebih nikmat dari wine ini.”

“Kau senang?”

“Aku senang asalkan bersamamu.”

Doyoung diam ketika kalimat itu menerjang telinganya. Ia menghela napas pelan dan meraih gelas wine kosong dari tangan Andante.

“Sepertinya kau sudah terlalu banyak minum. Bicaramu mulai aneh dan melantur. Kau tidak boleh minum lagi, Andante.”

Ahjusshi juga. Kau tidak boleh banyak minum wine. Itu tidak terlalu baik.”

Dengan punggung tangannya, Doyoung mengusap lembut pipi Andante. Lalu diraihnya gelas wine dari tangan Andante dan ditaruhnya di mejanya, tepat di samping gelas kosong miliknya. Doyoung mendekati Andante dengan perlahan. Ia menyentuh pinggir meja dengan tangan kirinya dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Andante, setengah memeluknya. Terakhir, sebagai pelengkap, Doyoung menjatuhkan dagunya di bahu Andante.

“Aku lelah,” bisik Doyoung.

 “Ya, itu terlihat dengan jelas,” kata Andante sambil tersenyum kecil.

“Aku membutuhkanmu.”

“Ya, aku tahu.”

“Aku rindu padamu.”

“Ya, aku juga.”

“Dan aku …” Doyoung berhenti sejenak lalu berbisik, “mencintaimu…”

Kali ini Andante tak berkata apa pun. Ia hanya diam, menikmati deru napas Doyoung.

-=-

Andante duduk di sofa yang terletak di salah satu sisi ruangan Doyoung. Sementara Doyoung merebahkan kepala di pangkuan Andante dan menikmati jemari gadis itu yang bergerak lembut di kepala Doyoung.

“Bagaimana? Nyaman tidak?” tanya Andante.

Doyoung hanya bergumam pelan, pertanda malas menjawab. Pria itu memejamkan matanya dan tampak sangat tenang. Hal itu membuat Andante tersenyum kecil.

Ahjusshi, kau tidak boleh terlalu lelah. Beberapa minggu lagi adalah hari pertunanganmu. Kau harus istirahat dan cukup tidur. Mengerti?”

“Hmmm, mengerti,” Doyoung bergumam pelan.

“Apakah Ahjusshi sudah menyelesaikan urusan pakaiannya?” Andante bertanya lagi. “Seingatku, Jaehyun Ahjusshi mengatakan bahwa kau belum mencoba pakaian yang ia pilihkan.”

“Kalau begitu, tolong katakan padanya bahwa aku akan memakai jas yang ia pilihkan untukku. Jaehyun tahu betul ukuran bajuku. Bahkan, ukuran sepatuku pun diketahuinya.”

“Jaehyun Ahjusshi pasti akan kesal kalau aku mengatakannya.”

“Apa dia selalu mengeluh tentang pertunanganku?”

“Ya, tentu saja. Dia bilang, ‘memangnya ini pertunanganku, hah? Kenapa aku lebih sibuk darinya? Ia bahkan tidak peduli kalau jas yang kupilihkan cocok padanya atau tidak! Lihat saja nanti! Dia akan kuberikan jas bunga-bunga! Biar tahu rasa!’” Andante menirukan ucapan Jaehyun.

“Begitukah?” Doyoung tertawa kecil. “Tidak setia kawan sekali.”

Ahjusshi selalu saja menganggap enteng semuanya. Sejak aku pertama kali mengenalmu, hingga saat ini pun begitu. Kau selalu mengesampingkan semua masalah dan hanya memikirkan pekerjaanmu. Apa Ahjusshi tidak kasihan pada Jaehyun Ahjusshi?”

“Apa aku selalu begitu sejak dulu?” Doyoung balik bertanya.

“Iya. Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Pergi sebelum matahari terbit dan pulang saat matahari terbenam. Kita tinggal serumah tetapi hampir tidak pernah bertemu. Ahjusshi bahkan tidak menanyakan pendapatku saat kita pindah dari Roma ke Seoul.”

Doyoung akhirnya membuka matanya, menatap Andante dari posisi tidurnya. Perlahan, Doyoung menjauhkan tangan Andante yang masih menempel di wajahnya. Hati-hati, Doyoung pun duduk di sofa, menghadap Andante dengan mata indahnya.

“Maaf, aku tidak tahu kalau kau protes saat kita pindah dari Roma ke Seoul. Seandainya waktu itu kau mengatakannya, mungkin aku akan berubah pikiran.”

“Mana mungkin aku mengatakannya. Itu sepuluh tahun yang lalu. Aku masih anak-anak. Yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti Ahjusshi dan segala keputusanmu.”

Wajah bersalah Doyoung pun muncul. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Andante dengan punggung tangannya

“Maafkan aku,” bisik Doyoung pelan. “Aku hanya ingin mengajakmu ke dunia yang baru, Andante. Aku ingin kau melupakan kesedihanmu di Roma. Ayahmu mempercayakanmu padaku. Ia ingin kau bahagia dalam perlindunganku.”

Andante tersenyum, balas memegang jemari Doyoung yang menempel lembut di pipinya. Tangan mereka bertautan, saling memegang dengan hangat. Perlahan-lahan, tangan mereka bergerak turun hingga mendarat ringan di sofa.

“Aku sangat bahagia bersama Ahjusshi,” kata Andante. “Setelah kehilangan ayahku, aku pikir aku akan sendirian untuk selamanya dan hidup menderita sampai mati. Tetapi, Ahjusshi datang seperti seorang malaikat penyelamat dan melindungiku hingga saat ini. Kau memberikan hidup yang layak untukku dan membesarkanku hingga saat ini.”

“Bagiku, kaulah malaikat penyelamatku, Andante. Bersamamu, aku seperti diselamatkan dari hidup yang suram dan gelap. Aku jauh lebih bahagia, Andante.”

“Aku sangat mencintaimu, Ahjusshi.”

“Aku tahu. Aku juga mencintaimu. Tetapi, apa mungkin bisa seperti itu, Andante? Aku orang yang dipercaya oleh ayahmu untuk menjagamu. Kita tidak mungkin bersama. Di kehidupan selanjutnya, jika kita bertemu lagi, percayalah bahwa aku akan bersama denganmu. Takdir kita akan berubah.”

Air mata menetes dari kelopak mata Andante. Doyoung buru-buru menghapusnya, ingin agar Andante tidak menangis. Ia memeluk Andante erat-erat, mengusap kepalanya berulang kali sambil membisikkan kata-kata penuh cinta. Sampai tidak lama kemudian, kata-kata itu menghilang karena Doyoung tertidur nyenyak tanpa disadari Andante.

“Kau sudah tidur? Padahal aku masih ingin bicara denganmu, Doyoung Ahjusshi.”

Sejenak, Andante tersenyum kecil. Ia kembali berbicara sendiri walaupun ia tahu Doyoung sudah tidur dan masuk ke alam mimpi.

-=-

“Andante,” panggil Doyoung pelan ketika perlahan membuka matanya.

Samar-samar, Doyoung merasakan sinar matahari menembus jendela ruang kerjanya dan menerpa matanya. Ia bangun dari sofanya, tak mendapati Andante di ruangan itu. Sambil menahan pusing, Doyoung berjalan tertatih ke arah meja kerjanya dan hendak mengambil handphone. Tetapi, belum sempat melakukan apa-apa, ia mendapati beberapa lembar foto dan selembar kertas putih di atas meja kerjanya.

Ahjusshi, terima kasih untuk segalanya. Aku ingin kembali ke Roma. Jaehyun Ahjusshi sudah tahu tentang hal itu. Maaf karena aku menyuruhnya menyembunyikan hal ini darimu. Aku mencintaimu.

Andante Cavallaro

“Andante,” bisik Doyoung lemas.

Tangan Doyoung mengambil foto-foto di atas meja. Ada foto Andante bersama dirinya sepuluh tahun lalu, hingga foto-foto kebahagiaan mereka tahun demi tahun yang terlewati. Suara handphone Doyoung memecahkan keheningan tiba-tiba.

“Halo?”

Doyoung-ah! Kabar buruk. Andante-

“Aku tahu. Dia kembali ke Roma,” jawab Doyoung pelan.

Tidak, tidak! Kau tidak tahu. Pesawatnya hilang. Pesawat yang ia tumpangi hilang!

Tubuh Doyoung lemas, merosot ke lantai. Tangannya berusaha meraih surat yang ditinggalkan Andante dan tanpa sengaja meremas surat itu karena tekanan batin yang dialaminya.

Doyoung-ah? Doyoung-ah?!

Suara Jaehyun berseru-seru dari seberang sana menerjang telinga Doyoung. Nada panik Jaehyun menyerang tubuh Doyoung berkali-kali.

“Jaehyun-ah, bagaimana ini? Bagaiaman aku harus hidup sekarang?” Doyoung menangis histeris sampai memegangi dadanya dan terisak.

Doyoung-ah. Tunggu sebentar. Aku akan datang. Kau jangan pergi keluar dulu.

Panik dan kalut menyerang Doyoung, membuatnya berdiri tertatih-tatih. Sambil berusaha menjaga keseimbangannya, Doyoung keluar dari ruangannya. Entah bagaimana, ia berhasil berjalan ke arah lift dan menekan tombol basement. Suara handphone Doyoung pun diabaikannya, tak peduli berapa kali Jaehyun menghubunginya.

“Andante,” bisik Doyoung saat lift membawanya ke parkiran mobil.

Doyoung membuka pintu mobilnya yang terparkir di basement dan menyalakan mesin. Mobil itu berjalan cepat, keluar dari basement dan bergerak menuju jalan raya. Suara dering handphone Doyoung masih terdengar sejak tadi, tetapi masih ia abaikan. Tangan Doyoung bergetar saat memegang kemudi, mengenang kata-kata Andante tadi malam saat bersamanya. Ia tak melihat pertigaan di depan matanya dan lampu merah menyala terang.

Ahjusshi!

Suara teriakan itu seperti muncul di kepala Doyoung saat truk dari arah lain pertigaan menghempas mobilnya ke udara. Kecelakaan tidak bisa dihindari lagi. Mobil Doyoung berguling-guling di jalan raya, hancur dan remuk. Tubuh Doyoung terlempar keluar dari kaca mobilnya, tergeletak di aspal.

“Andante …, kenapa kau pergi terlalu jauh? Dunia ini berbahaya,” bisik Doyoung pelan di sela-sela darah yang mulai mengalir di tubuhnya. “Di kehidupan selanjutnya, jika kita bertemu lagi, percayalah bahwa aku akan bersama denganmu. Takdir kita akan berubah.”

-=-

Ada dua pemakaman yang harus dihadiri Jaehyun dalam waktu bersamaan. Satu, pemakaman sahabat terbaiknya yang mengalami kecelakaan tragis. Dan dua, cinta sejati dari sahabat terbaiknya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat.

“Doyoung,” kata Jaehyun pelan saat hujan rintik-rintik mengguyur tubuhnya di hadapan dua makam yang masih basah itu. “Mungkin Andante memang cinta sejatimu. Karena itu, kau tidak rela jika ia kesepian dan sendirian di tempat dingin itu.”

Jaehyun menghela napas, teringat ucapan-ucapan terakhir Doyoung sebelum tidak bisa dihubungi lagi pada akhirnya.

“Dan kau, Andante,” panggil Jaehyun pelan. “Maaf karena aku tidak bisa menjaga cinta sejatimu itu. Semoga, di kehidupan selanjutnya, kalian akan bersama-sama lagi.”

.

-End-

Save

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette] Guardian Angel

  1. Aih syedih 😥 Miris banget si Doyoung & Adante 😥 Dan Mas Jaehyun kapan beliin dress buat pernikahan kita? (apaan sih Ji –“)

    Btw, ini kenapa cowok ganteng cem Doyoung & Jaehyun dipanggil Ahjussi? Si Adante lawak deh :’D Tapi aku suka ❤ ❤ ❤ Keep writting kak Joanna ^^

    ~Jiyo pamit~

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s