[Ficlet] A Cup of Coffee and Morning News

Mark-jenaa3

Written by iamsayaaa ©2017

—A Cup of Coffee and Morning News—

Casts [NCT] Mark ft [OC] Jenaa

Genre Romance Lenght Ficlet Rating PG-13

Selamat pagi.

Selain secangkir kopi pagi ini, adakah kabar baik untukku hari ini?

.

.

New York, 2 September 2027

Hi. Apa kabar? Lama tak berjumpa.

Sederet kalimat terkesan biasa tapi sebenarnya memiliki banyak arti. Apalagi jika dilontarkan olehku. Bahkan setelah hampir satu dekade berlalu, kupu-kupu di perutku sepertinya masih hidup dan beterbangan dengan bebasnya. Dan yeah, aku hanya ingin menyapamu. Terlebih hari ini tepat sebulan setelah hari lahirku. Satu hal yang kuingat, kau adalah orang pertama yang selalu mengucapkan selamat. Meski tanpa sebuah bingkisan kecil khas seorang pemuja, kau telah memenangkanku.

New York begitu ramai dan penuh. Sebuah kota yang berada di urutan terakhir sebagai tempat yang ingin kau tinggali. Kau benci keramaian, tapi takut kesepian. Dulu, aku mengira kau adalah jenis orang yang membingungkan. Seiring waktu berjalan, perlahan namun pasti, ada derap yang mengirimmu menuju ruang dalam diriku. Berdiam diri di sana, mencoba meraih tempat di sana. Meski akhirnya, pintu itu selalu terkunci untukmu. Dan pada hari kelulusan kita, kulihat kau menyerah.

Ah, sayang sekali. Padahal seminggu setelahnya aku mencarimu kemana-mana. Menanyai Jeno dan Haechan pun tak ada gunanya. Mereka sepakat menyembunyikanmu dariku. Meski aku ragu itulah tujuan mereka. Hanya saja, yeah hanya saja, mungkin kau lah yang tak ingin kutemukan.

Aku tahu, aku memang payah. Kau sudah berusaha keras mengumpulkan keberanian. Tak biasanya kau mengajakku berbicara empat mata. Berjanji akan ketemuan di atap gedung olahraga sepulang sekolah. Kau tampak berbeda, ada keraguan di sana sekaligus tekad yang membulat seperti bola. Satu kalimat terlontar dan demi seluruh isi dunia, aku tak mengerti mengapa aku bego waktu itu—aku  membiarkanmu pergi dengan kekecewaan.

Aku mengatakan ini bukan untuk meminta sesuatu darimu.

Aku mengatakannya karena aku ingin.

Lagi pula aku memberikannya dengan tulus.

Aku harap kau menerimanya seperti anak baik yang akan berterima kasih atas pemberian orang lain.

Dan lagi, aku tak menerima balasan di muka.

Sumpah. Kau adalah manusia terjutek yang pernah kutemui—sekaligus imut. Mana ada orang yang sedang mengalami hal sepertimu tapi masih tak sudi menurunkan harga diri. Kau selalu begitu—akan selalu begitu. Dan meskipun saat itu otakku tidak bisa mencerna dengan benar maksud perkataanmu. Waktu membuatku sadar, kau memang tak suka dibayar di muka. Sebagai balasannya, kau membuatku membayar selama sepuluh tahun terakhir dengan mewariskan sepetak lahan spesial untukmu. Berbangga hatilah, karena bahkan mantan terakhirku tak sanggup menggusurmu dari sana.

Apa kau tahu mengapa semua itu terjadi? Itu karena orang-orang setelahmu sedikit berbeda. Tidak. Sebenarnya mereka jauh berbeda. Mereka mengingingkanku. Mereka ingin aku membalas saat mereka memberi. Kalau lebih jelasnya sih, mereka ingin melegalkanku untuk menjadi ayah dari anak-anak mereka.

Sumpah (lagi). Kau memang bodoh atau bagaimana? Aku jamin bisa memberimu lebih dari yang kau ingin. Hanya butuh sedikit waktu, hanya itu. Dan kuyakin dengan ketegaranmu, kau mampu bertahan. Tapi yeah, mungkin bukan nasibmu—nasibku juga—untuk merombak relasi kita menuju arah yang lebih baik. Sampai hari itu tiba, saat sosok sepupumu yang bermata tersenyum muncul di ruang kerjaku—sepertinya malaikat baru saja turun dari langit.

Sayangnya, Jeno bukan malaikat pembawa kabar baik.

Jadi, di sinilah aku, berdiam diri memandang hamparan hutan beton yang dihuni manusia-manusia yang dipekerjakan uang—berkilauan ditimpa sinar matahari pagi yang keemasan. Dari jendela apartemen di lantai dua puluh tujuh, aku hanya mampu menerawang kira-kira di sebelah mana lokasimu. Sembari menyesap kopi pahit khas seorang bujangan, kupikir akan sangat seru jika kita berjumpa. Meski aku tak tahu caranya. Yeah, selagi ada keinginan, di situ ada jalan. Benar, ‘kan?

Kudengar dari Jeno kau ada di sini—di kotaku. Ah, mungkin esok atau lusa aku bisa bertemu denganmu. Dan kujanjikan bukan dengan cara formal aku akan menyapamu. Bukan juga dengan kode-kode memuakkan yang membuatmu bosan. Aku akan terus terang saja—langsung pada intinya. Sebuah skenario yang akan membuatku malu dan terdengar putus asa.

 Mungkin kita akan kebetulan berjumpa saat sepertiga penduduk New York berhamburan di jalan. Yeah, waktu pagi saat semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing—berkas di tangan kiri dan kopi di tangan kanan. Kemudian dengan rasa ingin tahu sekaligus ketertarikan yang anehnya terasa familiar, aku akan menyapamu—pasti menyapamu.

Hi, Jenaa.

Selamat pagi.

Selain secangkir kopi pagi ini, adakah kabar baik untukku hari ini?

Kabar kamu cerai dengan suamimu misalnya.                                                

Sumpah. Aku memang sudah gila.

Fin

  1. Demi apa aku sampai begadang untuk menyelesaikan ff ini. Untung gak diomelin. Dan yeah, gak tahu kenapa aku lagi kalut aja, tiba-tiba nulis yg mellow2 gini. Wkwkwkwk
  2. Sebenarnya prompt di atas dapet nemu di teel. Dimaksudkan untuk misi ff hukuman yg waktu itu, buat budir sama mbah, tapi sayangnya gagal dieksekusi. XD Plus, aku ubah dikit biar greget. wkwkwkwkwk
  3. Kemudian setelah nonton HSR eps 5, liat separuh jiwa lagi ngerap sambil joget2, langsung timbul niat jahat?????
  4. Inilah saatnya Jenaa bersinar. Biasanya kan Mark yang ninggalin Jenaa/sumpah aku nelangsa sendiri liat nasib OCku/ nah sekarang rasain tuh Mark, lo ditinggal Jenaa. Baru sadar kan lo, nangis deh lo di pojokkan. #evillaugh
  5. Makasih buat mba Taeyeon, amel nulis sambil ditemenin dia nyanyi2 Fine sama 11:11. Mbuh gak tahu artinya, yang penting feelnya mendukung.
  6. Makasih sebelumnya untuk yang berkenan baca dan komen XD
  7. Dadahhhhhh…..
  8. Btw, aku baru sadar kalau di setiap ff-ku, pasti endingnya pake ‘Jadi…”. Berasa lagi buat kesimpulan pas ngerjain ulangan. wkwkwkwkw

 

 

 

 

Advertisements

13 thoughts on “[Ficlet] A Cup of Coffee and Morning News

  1. Mel, aku boleh misuh dulu nggak?

    Btw aku awalnya bingung ini diambil dari sudut pandang siapa. Dan kukira ini bakal Creepy kayak ff-mu biasanya yg ujung-ujungnya tokohnya mati atau menikam diri sendiri :’v *lirik Kiff*

    Sumpah ya, aku nggak suka banget sifat Mark di sini. Rese sekali dia. Sebenernya aku tuh gampang greget sama kisah di mana ada cowok ditaksir cewek tapi cowoknya cuek bebek, eh giliran ditinggal ceweknya pergi baru deh tuh cowok sadar kalau cewek itu berharga banget buat dia :’3 Mampus lu Mark, mampus! Makanya punya cewek itu jangan banyak-banyak, cukup Airish saja /kaboooooooooor/

    Liked by 1 person

    • Silahkan Kak ji, mau lempar2 barang juga boleh, asalkan Mark-nya jangan diapa2in XD

      Iya, sudut pandangnya pake sudut pandang Mark, emang sengaja di dalamnya gak aku selipin secuilpun kata “cinta” atau “suka”, jadi dibikin tersirat aja gitu. Dan yeah Mark-nya emang rese tapi belum sampai pada tahap aku pengin matiin wkwkwkwkw Biarin dia merasakan beban emosional aja XD Yang naksir Mark banyak, silakan mba Airish Marknya dikarungin biar tidak merusuh di rumah tangganya Jenaa, tapi sebelum dikarungin mesti lawan kakdon sama Jane dulu///dikeroyok/// wkwkwkwkkw

      Maacih udah mampir dimari 🙂

      Liked by 1 person

  2. LOH ANJIR KUPIKIR NYERAH TUH SI JENA BUNUH DIRI HAHAHA
    WHY AKU MALAH MIKIR MARK ITU IRWANSYAH YG LAGI NYANYI “KUTUNGGU JANDAMU” XD
    hadduuuuhh maafin loh aku bukannya baper malah ngakak, subhanallah Mark…. Tobat kamu, sama Jane sana jangan jadi hello kitty yg menimbulkan huru-hara prahara rumah tangga orang
    Keren as always and absolutely flawless ya mel FFmu :*

    Liked by 1 person

  3. CITRA DIRIKU SUDAH SE-CREEPY ITUKAH KAK LEL? PASTI ORANG NYANGKANYA FF-KU ENDINGNYA BUNUH2AN WKWKWKWKWK
    MARK BUKANN NYANYI KALEL, TAPI NGERAP “KUTUNGGU JANDAMU” XD

    gwenchana saranghaeyooo kak lel, sengaja biar pada nano nano. Aku belum mendapat ilham bikin yg fluff dan manis macem gulali, jadinya romanceku kalau gak creepy ya gini, wkwkwkwkw ih, kak lel kalo muji suka bener ih///mel insyaf mel/// wkwkwkwkwk

    Maacih udah mampir dimari kak lel and sukiya nen lah pokonya XD

    Like

  4. Dendam kesumat detected 😂😂
    Hamdalah enak juga ya nistain bias 😳😳
    Maaf mark, tapi jane lebih pantes dibela karna aku juga cewek 😏😏 //apaan deh

    Liked by 1 person

  5. Sebenarnya ff ini sudah kuliat nongol di TL WP dr 3 hari yang lalu tapi baru keburu baca sekarang (thanks to persiapan USBN). Awalnya nyepot karena ada marklee hahaha… 😄

    Yep, pada awalnya aku pun bingung ini diambil dari sudut pandang siapa… Tapi ketika kubaca, oh ternyata sudut pandang Mark hahaha… Dan to be honest sempet terkejut ketika baca kalimat Mark yang terakhir itu hahaha… Tak kira ini ambil usia teenager gtu taunya 😂

    Anyway, ficnya bagus… Feelnya dapet banget… Kalimatnya pun ngalir 😄 Tak sia2 ya hasil begadang mu hahaha… Koreksi dikit, mungkin itu kata ‘yeah’ bisa dikasih efek italic hahaha becoz itu belom masuk jadi kata baku… Gencana… Aku pun sering bkin kesalahan kek gitu..

    Nice fic, mel! (Bener kan aku manggilnya? 😄) keep writing ya 💜💜

    Liked by 1 person

    • Duhhhh aku seneng banget baca komen kakak, kesannya adem, wkwkwkwk
      Iya kak, ceritanya ini masa depan alias sepuluh tahun yg akan datang, clue-nya udah aku kasih di awal yaitu tahun 2027. Jadi, karena ini FF aku anggep semua pembaca udah tahu umur Mark yg sebenarnya. hehe
      Btw, makasih koreksinya kak dan makasih juga udah berkenan baca dan review. Iya, kak, boleh dipanggil mel, hehe

      ini yg biasa dipanggil kak Gece bukan ya? XD maaf kalo salah, hehehe

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s