[Chaptered] Introvert Squad (12화)

A Fanfiction by Mingi Kumiko

{ Jaehyun, Taeyong, Sejeong, & Chaeyeon | romance, friendship, school life | PG-13 }

 Menjadi sosok yang berhasil memotivasi Jaehyun untuk keluar dari zona nyaman agaknya tak pernah sekali pun terbesit di pikiran Chaeyeon.

Previous Chapter
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6A | 6B | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Jalanan abu-abu kawasan Shinrim-dong ia lewati dengan raut gelisah. Wajahnya tertunduk muram dan hanya fokus ke jalan tanpa menengok ke kanan dan kiri. Hawa dingin yang diembuskan angin seakan tak berarti apa-apa baginya.

Taeyong pun sampai di depan rumah Keluarga Kim. Segera ia mengetuk pintu tanpa ragu. Nampaknya kekhawatirannya pada Sejeong terlalu besar hingga ia mengesampingkan rasa gugupnya kalau-kalau nanti bertemu dengan Tuan Kim.

Annyeong haseyo,” salamnya tatkala mendapati Nyonya Kim yang membukakan pintu untuknya.

“Taeyongie…, akhirnya kau mampir lagi.” sambut wanita berlesung pipi itu dengan ramah.

“Maaf karena datang tiba-tiba, Bi… apa Sejeong ada di rumah?” tanya Taeyong tanpa menyingkirkan ekspresi getir dari wajahnya.

“Ada, kok. Tapi dari kemarin dia terlihat murung dan tidak bersemangat. Apa terjadi sesuatu padanya?”

“Benarkah? Aku tidak tahu, Bi… dia pun tidak membalas pesanku. Apa aku boleh ketemu dia?”

“Masuklah dulu, akan aku panggilkan.”

“Baiklah, Bi… Terima kasih.”

Nyonya Kim menaiki tangga menuju lantai dua untuk memberitahu putri kesayangannya bahwa Taeyong datang untuk menemuinya. Saat wanita berusia kepala empat itu mengetuk pintu, Sejeong yang tengah menumpukan dagunya pada guling sambil tengkurap di atas kasur pun sontak menoleh.

“Nak, Taeyong ada di luar, dia mencarimu…” ujar Nyonya Kim sambil mengetuk pintu.

Sejeong makin dibuat bimbang, entah mungkin karena pra menstruasi sindrom yang sedang dialaminya—atau rasa cemburu yang sudah tak lagi sanggup ia bendung—yang membuatnya mendadak bertingkah tak acuh terhadap Taeyong. Gadis itu sedang sebal dan tak ingin bertemu dengan Taeyong, apa pun alasannya. Peduli setan dengan undangan Jung Jae Hyun, ia tak memikirkannya. Lagi pula ini juga salah Jaehyun, siapa suruh dekat dengan Taeyong hingga sebegitunya dan membuatnya cemburu?

Katakan saja Sejeong gila dan kekanakan. Dia memang kurang kerjaan karena sudah cemburu pada hubungan persahabatan antara dua laki-laki. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya sudah terlanjur tak bisa mengendalikan emosi.

Di sisi lain ia ingin bertemu dengan Taeyong, Sejeong ingin menceritakan semuanya, mengutarakan seluruh perasaan yang telah ia simpan. Tapi ia tak tahu harus berbuat apa. Sungguh menyebalkan, bahkan mengalahkan egonya sendiri pun ia tak sanggup.

“Suruh saja dia pulang!” sentak gadis Kim itu dengan lantang agar suaranya dapat menembus pintu dan didengar oleh ibunya.

Wanita yang tengah berdiri di depan pintu kayu warna putih itu pun mengembuskan napas kecewa. Mungkin belum saatnya ia tahu apa yang sedang terjadi pada anak gadisnya. Dengan berat hati Nyonya Kim harus kembali turun menuju ruang tamu untuk menemui Taeyong.

“Taeyongie…, maaf karena bibi tidak berhasil membuat Sejeong menemuimu. Sepertinya dia benar-benar tak ingin diganggu. Kau bisa datang lain kali,” Nyonya Kim merasa tak enak hati karena membuat kedatangan Taeyong ke rumahnya jadi sia-sia.

“Sejeong kenapa, ya, Bi? Aku benar-benar khawatir…” cemas Taeyong.

“Aku akan coba bicara dengannya kalau waktunya sudah tepat.”

“Ya sudah, Bi… kalau begitu aku pulang dulu. Salam, ya, untuk Paman…” tandas Taeyong sambil beranjak dari sofa empuk yang ia duduki kemudian menunduk pada ibunya Sejeong.

“Iya, hati-hati di jalan, ya, Nak… terima kasih telah mengkhawatirkan putriku.”

Taeyong keluar dari kediaman keluarga Kim dengan raut tertekuk. Rasanya malam panjang yang menyiksa akan segera menyambutnya. Nampaknya ia harus berlapang dada pergi ke rumah Jaehyun sendirian. Tak seperti rencana awal, di mana ia seharusnya pergi bersama Sejeong.

Setelah berjalan dengan langkah gontai dan wajah tertunduk lesu, Taeyong akhirnya sampai di halte. Ia menduduki bangku panjang yang kosong dengan tangan yang ia kantungi di dalam saku mantel. Sendirian tanpa seorang pun teman, wajahnya tak dihiasi seulas pun senyuman. Membayangkan kondisi Taeyong sekarang, ia benar-benar terlihat layak dikasihani. Untuk pertama kalinya ia dibuat seperti ini karena cinta. Sungguh sebuah hal baru yang mengesankan… atau lebih tepatnya memilukan.

 

“TAE!” sebuah suara memekik menyapa gendang telinga pria berbalut mantel tebal itu, membuat ia tergugah dari lamunan panjangnya yang menguras hati. Taeyong lantas beranjak dari bangku panjang yang ia duduki untuk berdiri dan mencari dari mana suara itu berasal. Setelah beberapa saat mengedarkan pandang, ia pun mendapati seorang gadis tengah berlari ke arahnya.

Netranya seketika mendelik. Taeyong tak mungkin salah, gadis bersurai sepunggung itu adalah Sejeong. Dan matanya kembali dibuat terbelalak saat menyadari gadis itu menembus dinginnya angin malam hanya dengan kaus tipis dan celana levis.

Secara tiba-tiba Sejeong meraih pinggang Taeyong untuk ia peluk. Membuat aliran darah si pria serasa berhenti beberapa saat saking terkejutnya.

“Sejeong… kenapa keluar malam-malam begini? Udaranya sangat dingin.” ucap Taeyong. Sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Apa ia harus balas rengkuhan Sejeong dengan dekapan yang lebih erat? Namun, apa itu boleh? Dia, kan, belum minta izin pada Tuan Kim. Bisa-bisa kalau ketahuan, Taeyong akan dimarahi habis-habisan dan tak diperkenankan lagi bertemu dengan gadis pujannya itu. Oh, tidak! Taeyong sungguh tidak mau apabila hal itu sampai terjadi.

Sejeong masih tetap memeluk Taeyong, tak ia hiraukan terpaan angin yang menusuk tulang. Yang jelas sekarang Sejeong hanya ingin merasakan keberadaan Taeyong di sisinya.

“Maafkan aku, jujur aku masih enggak tahu salahku apa, tapi aku yakin aku sudah melakukan hal yang buruk hingga membuatmu marah. Aku memang bodoh, tapi aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini… aku jadi tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu.” celoteh pria yang masih menyampirkan kedua tangan di samping tubuh tegapnya.

Sejeong merasa terenyuh mendengar penuturan tulus Taeyong. Sifat polosnya benar-benar sanggup membuat hati Sejeong meluruh dan jatuh cinta padanya. Sekarang gadis itu mulai yakin dengan hatinya sendiri.

Gadis Kim itu mengendurkan rengkuhan eratnya pada pinggang Taeyong. Namun sebelum jarak mereka kembali merenggang, buru-buru lelaki itu menarik pinggang si gadis untuk kembali ia dekap. Ia juga membagi kehangatan mantel tebalnya ke tubuh Sejeong.

Untuk kali ini saja, biarkan Taeyong bersikap acuh tak acuh kalau memeluk anak seorang gadis tanpa izin orang tuanya adalah perbuatan menyalahi aturan. Sejeong tertegun atas tindakan tiba-tiba yang Taeyong lakukan. Bahkan rengkuhannya semakin erat. Ia bisa merasakan dagu Taeyong yang perlahan turun dan bertumpu di samping lehernya.

 

Jadi begini, ya, rasanya memeluk gadis yang kau cintai? Rasanya benar-benar seperti terbang menembus awan dan melintasi galaksi.

Kalau diizinkan, Taeyong ingin sekali mengunci gadis itu dalam dekapannya hingga musim dingin berkahir. Menyalurkan seluruh kehangatan yang bisa ia berikan agar gadis kesayangannya itu tak pernah merasa kedinginan.

“Maafkan aku…” ucap Taeyong lagi sembari berusaha meraih bagian belakang kepala Sejeong agar kepala gadis itu terbenam di dadanya. Gadis itu bisa merasakan degupan jantung Taeyong yang membuncah. Beberapa jenak kemudian, Sejeong pun kembali melingkarkan tangannya pada pinggang Taeyong.

Setelah cukup puas mendengar detak jantung dari pria yang tengah ia peluk itu, Sejeong pun berusaha mendongak untuk menatap paras sempurna lelaki di hadapannya itu.

“Maaf, aku egois… Sungguh aku tak bermaksud begitu, aku cuma enggak suka kalau kau memprioritaskan Jaehyun. Aku tahu kalian memang sahabatan sejak kecil. Aku juga sadar kalau aku cuma orang baru di hidupmu yang aku enggak berhak memperlakukanmu seperti ini.” ucap Sejeong disertai dengan raut penuh sesal di wajahnya.

Taeyong tertegun setelah serebrumnya selesai menelaah ujaran gadis di hadapannya itu. Ia bergeming sejenak, tak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Siapa bilang kau adalah orang baru di hidupku?” tanyanya dengan sebelah alis terangkat.

“Aku sangat menyukaimu dan itu telah berlangsung sejak lama. Kau adalah satu-satunya gadis yang ingin selalu aku lindungi. Dan entah bagaimana caranya, aku akan membuatmu bahagia saat sedang bersamaku.” imbuh Taeyong dengan menyertakan seuluas senyum lembutnya yang meneduhkan.

“Akhirnya kau mengatakannya juga…” kata Sejeong.

“Karena kejadian ini aku harus mengungkapkannya secara spontan. Ah, seharusnya aku menyusun sebuah momen pernyataan cinta yang lebih manis dari ini.” oceh Taeyong.

“Tidak perlu, yang ada nanti Jung Jae Hyun akan ikut campur. Aku lebih suka kau melakukan semuanya dengan caramu sendiri.” Sejeong berujar ketus.

“Kenapa kau selalu marah-marah kalau sudah menyebut nama Jaehyun? Kekeke…” Taeyong terkekeh geli akibat tingkah lucu Sejeong. Diam-diam hatinya menggerutu, mengapa Taeyong terlihat sangat tampan saat sedang tertawa?

 

“Hm, Sejeong…” Taeyong secara tiba-tiba memenggalkan nama gadis di hadapannya itu. Si empunya nama pun mendongak.

“Maaf karena sudah lancang memelukmu, ayahmu enggak akan marah, ‘kan?” pertanyaan Taeyong pun disusul dengan raut tertegun oleh gadis cantik di hadapannya itu. Kenapa dia begitu polos dan kikuk?

Sejeong menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tak habis pikir dengan ujaran yang Taeyong lontarkan barusan.

 

Bahkan jika kau menciumku sekarang pun tidak masalah.

“Sepertinya kau harus segera pulang…” ucap Taeyong, membuat Sejeong dengan refleks mengendurkan rengkuhan eratnya pada pinggang pria itu.

Omo! Aku lupa izin pada ibuku.” panik gadis itu.

“Apa? Lalu…, bagaimana kau bisa keluar rumah?” tukas Taeyong.

“Aku berlari begitu saja dari kamar ke sini sampai lupa pamit. Habisnya aku takut kau keburu naik bis.”

Aigo… mari kuantar sampai rumah.” ajakan Taeyong itu dibalas dengan anggukan patuh oleh Sejeong.

Mereka menyusuri kawasan Shinrim-dong dengan tangan bergamit. Entah siapa yang mulai menggenggam terlebih dahulu, namun keduanya benar-benar menikmati perjalanannya menuju rumah Sejeong.

“Maaf, ya, aku selalu membuatmu kedinginan…” kata Sejeong yang masih merasa tak enak hati karena Taeyong harus repot-repot melepas jaketnya untuk ia kenakan.

“Seorang laki-laki memang harus selalu berkorban untuk gadisnya, kekeke…”

“Mulai sekarang, kalau mau memeluk atau memegang tanganku, tidak perlu izin segala.”

“Memangnya kau tidak keberatan?”

“Ya, maksudku…, pegang tanganku saat kita sedang berjalan-jalan, peluk aku saat aku sedang sedih atau kau sedang gembira, seperti itu.”

“Maaf, aku benar-benar tidak mahir dalam urusan seperti ini.” Taeyong menyentuh lehernya, hal yang biasa ia lakukan kalau dirinya sedang dihadapkan dengan suasana canggung.

“Tidak apa-apa, aku tetap suka padamu walau begitu…” ucap Sejeong yang langsung dibalas dengan senyuman lega dari seorang Lee Taeyong.

“Terima kasih, Kim Se Jeong. Semoga kau tak pernah lelah memahami aku yang penuh dengan kekurangan ini.”

.

.

Setelah melalui perjalanan yang memakan waktu sekitar dua puluh menit, Jaehyun dan Chaeyeon akhirnya sampai di kediaman keluarga Jung.

“Ini rumahmu, Jae?” Chaeyeon terlongo kala maniknya menerawang tiap jengkal sisi wisma mewah di hadapannya itu. Ia tak menyangka kalau seorang Jaehyun selama ini tinggal di rumah yang bagus dan megah. Pantas saja dia punya kulit mulus dan selalu beraroma wangi, ternyata itu semua karena dia anak orang kaya.

Jaehyun mempersilakan Chaeyeon masuk seusai ia memarkirkan motor di garasi. Gadis itu pun dengan langkah ragu membuntuti Jaehyun dari belakang.

“Permisi…” ujar gadis Jung itu pelan.

“Lo, ayo masuk! Jangan hanya berdiri di depan pintu begitu…” tegur Jaehyun karena heran melihat Chaeyeon nampak ketakutan.

“Benar tak apa-apa, nih, kalau aku masuk?” tanyanya ragu. Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri yang mendadak bersikap aneh setelah melihat rumah kawannya itu.

Omo, temannya Jaehyun sudah datang rupanya? Ayo masuk!” tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah. Suaranya terdengar lembut dan penuh semangat, siapa lagi kalau bukan Nyonya Jung.

Chaeyeon pun menyunggingkan senyum polosnya pada ibunya Jaehyun. Segera ia hampiri wanita itu dan memberinya salam.

Annyeong haseyo…” ucap Chaeyeon seraya membungkuk.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Nyonya Jung.

“Jeong Chae Yeon, Bi…”

“Kau sangat cantik, silakan duduk, Chaeyeonie…” ujar Nyonya Jung ramah sambil menuntun Chaeyeon ke ruang makan.

Eomma…, apa Taeyong belum datang?” Jaehyun celingukan karena sedari tadi tak melihat batang hidung kawannya itu. Aneh, si kerempeng itu tak biasanya terlambat mendatangi acara.

“Oh, iya… aku lupa, barusan Taeyong meneleponku karena kau tak bisa dihubungi. Dia minta maaf karena tak bisa datang. Katanya ada urusan mendadak. Dia akan datang besok untuk menemuiku.” jelas Nyonya Jung.

“APA?!” kedua remaja di hadapannya kompak memekik tertahan.

Urat syaraf Jaehyun menegang saat itu juga. Kalau Taeyong dan Sejeong tak datang malam ini, itu artinya…, Nyonya Jung hanya akan makan bersamanya dan Chaeyeon. Ini bukan hal bagus, pasti Chaeyeon akan merasa sangat canggung dengan suasananya. Buru-buru Jaehyun mengalihkan pandang pada Chaeyeon, kala mata mereka bertemu, raut Jaehyun langsung berubah, seakan bicara, maafkan aku… ini semua di luar rencana.

 

“Oke, mari kita mulai makan malamnya.” ujar Nyonya Jung antusias. Ia pun menarik kursinya dan menatakan piring untuk kedua muda-mudi di hadapannya.

“Kalian makan yang banyak, ya…” imbuhnya.

“Chaeyeon-a, kau suka ayam tepung atau tumis usus babi?” tanya Nyonya Jung pada gadis yang sedari tadi tak henti-hentinya memasang raut penuh harap. Semua hidangan yang tersaji di hadapannya terlihat menggiurkan. Membuatnya ingin melahapnya tanpa sisa.

“Kalau bisa aku akan coba semua masakan Bibi…” ujarnya polos dan langsung mengundang gelakan tawa renyah dari seorang Jung Jae Hyun.

“Hei…, kenapa malah tertawa? Eomma malah suka gadis yang banyak makan!” tegur Nyonya Jung pada anaknya itu.

Chaeyeon malu bukan kepalang, bagaimana bisa ia langsung mengutarakan apa yang ada di pikirannya tanpa menyaringnya terlebih dahulu? Tapi syukurlah, Nyonya Jung adalah wanita yang ramah, ia terus saja memuji apapun yang Chaeyeon lakukan.

Neomu masshitta!” seru Chaeyeon setelah ia selesai menelan steak tahu buatan Nyonya Jung.

“Chaeyeon-a, di pipimu ada bekas kecapnya, tuh!” celetuk Jaehyun.

“Oh, ya?” gadis itu pun buru-buru menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan.

“Chaeyeonie…, apa kau cukup dekat dengan anakku di sekolah?” tanya Nyonya Jung tiba-tiba.

Eum, Jaehyun itu pendiam sekali, Bi… dia cuma bergaul dengan Taeyong. Tapi akhir-akhir ini dia bisa mulai membuka dirinya. Waktu itu kami sempat satu kelompok, sih, Bi. Kalau menurutku, andai saja dia mau membuka diri lebih awal, pasti dia akan jadi murid paling populer di sekolah.” oceh Chaeyeon penuh semangat.

“Hei…, kenapa kau bicara yang aneh-aneh, sih?!” sambar Jaehyun menutupi salah tingkahnya. Demi apapun ia malu karena telah dipuji demikian oleh Chaeyeon.

“Sudah, kau lanjutkan saja makannya, eomma masih mau tahu banyak tentang kau di sekolah. Jarang-jarang, kan, eomma bisa ngobrol dengan teman sekelasmu?”

Chaeyeon mulai bisa menikmati obrolannya dengan Nyonya Jung yang begitu terbuka padanya. Ibunya Jung Jae Hyun sangat ramah, membuatnya benar-benar ingin bicara tentang banyak hal dan enggan mengakhiri obrolannya.

“Chaeyeon-a…, kudengar anakku sedang menyukai seseorang, apa kau tahu siapa gadis itu?” tanya Nyonya Jung. Chaeyeon terdiam sejenak untuk berpikir.

Hm…, enggak tahu, ya, Bi? Aku malah baru dengar. Yang paling cantik di kelas itu namanya Jihyo, tapi sepertinya enggak mungkin karena dia punya hubungan khusus dengan seorang alumni. Ah, aku tahu! Sepertinya Jaehyun suka sama Sejeong, mereka belajar menari di sanggar yang sama.” Chaeyeon memaparkan hipotesis konyolnya.

“AKU ENGGAK SUKA SAMA GADIS BAWEL ITU!” yang sedang dibicarakan sontak menampik sambil memekik dengan keras hingga membuat dua perempuan di hadapannya terlonjak kaget.

“Atau Rosé, ya? Dia jago nyanyi dan main gitar. Setiap ikut lomba selalu dapat juara. Omo, apa mungkin… Yuju? Badannya tinggi dan dia sangat tegas!” Chaeyeon lanjut menerka-nerka. Nyonya Jung pun semakin dibuat antusias dengan ciri-ciri gadis yang dekat dengan anak kesayangannya itu.

Nyonya Jung dan Chaeyeon benar-benar terhanyut dalam obrolan seru keduanya sampai tak menganggap eksistensi seorang Jung Jae Hyun yang berada di meja makan yang sama dengan mereka. Hingga akhirnya lelaki itu tak kuasa menahan diri, entah apa gerangan yang merasuki dirinya hingga kini emosinya jadi tak stabil. Kenapa pula ibunya harus bertanya pada Chaeyeon tentang hal aneh macam begitu? Ah, ini semua salah Taeyong, kenapa ia harus berhalangan hadir tanpa memberinya alasan, sih?!

“Ya ampun, jadi Yuju membentak Jaehyun tepat di hadapan seluruh temanmu? Wah, pasti dia sangat pemberani…, mungkin anakku menyukainya gara-gara itu, ya?” oceh Nyonya Jung setelah Chaeyeon menceritakan peristiwa yang sempat terjadi beberapa hari yang lalu.

“HENTIKAAAAN!” Jaehyun lagi-lagi memekik.

“Gadis yang aku suka itu kau, Jung Chae Yeon bodoh!” tandas Jaehyun dan langsung beranjak dari kursinya sambil memasang ekspresi suntuk. Kupingnya telah memerah dan tak lagi sanggup mendengar celotehan dua perempuan berbeda generasi di hadapannya. Seperti biasa, di saat sedang kesal atau memiliki keluh kesah untuk disampaikan, Jaehyun akan langsung masuk ke kamar Bibi Oh.

Chaeyeon dan Nyonya Jung dibuat terlongo dengan ungkapan Jaehyun barusan.

“Maaf, Bi…, aku sungguh tak tahu apa-apa.” Chaeyeon yang awalnya memasang wajah cerah pun seketika menekuk wajahnya karena gugup.

“Oh, ya ampun…, kenapa aku mendadak bahagia? Sekarang semuanya sudah jelas. Jadi kuharap kau sering-sering main ke sini, oke? Dan nampaknya aku harus membuat janji untuk bertemu dengan ibumu.”

Ye?!” pupil gadis Jung itu refleks melebar. Ini sangat aneh, sungguh. Mendapati seorang lelaki pendiam seperti Jaehyun dengan terang-terangan mengungkapkan perasaan dengan cara teramat konyol di hadapan orang tuanya sendiri.

Menjadi sosok yang berhasil memotivasi Jaehyun untuk keluar dari zona nyaman agaknya tak pernah sekali pun terbesit di pikiran Chaeyeon.

 

EPILOGUE

“Jadi kau lebih memilih kencan sama si bawel itu daripada menghadiri undanganku? Kau berubah Taeyong, kau mengecewakanku!” semprot Jaehyun saat ia tengah duduk bersama Sejeong dan Taeyong di kantin untuk menikmati makan siang mereka.

“Berani-beraninya kau mengataiku bawel, dasar pipi bulat!” sahut Sejeong yang tak terima dikatai bawel oleh Jaehyun.

“Hei! Kenapa kalian selalu bertengkar, sih? Hentikan, kita sedang makan!” seorang Taeyong, yang notabenenya begitu lemah lembut dan selalu menghadapi setiap perselisihan dengan kepala dingin pun jadi ikut tersulut karena kedua kawannya itu sudah kelewat berisik.

“Dia merebutmu dariku, Taeyongie!” hardik Jaehyun.

“Sejak kapan Taeyong jadi milikmu, bodoh?!” Sejeong menimpali.

Aish, kubilang hentikan!” sentak Taeyong sekali lagi dan berhasil membuat Sejeong, sang kekasih, dan Jaehyun, sang sahabat, mengatupkan bibir rapat-rapat.

Taeyong berdehem singkat, setelah suasana sudah terkondisikan, ia pun bersiap memulai suatu ujaran. “Sebelumnya aku minta maaf karena tak bisa ke rumahmu kemarin. Aku sudah berusaha memberimu kabar, namun sepertinya kau masih di perjalanan. Jadi kuputuskan untuk menghubungi ibumu saja untuk menyampaikan permohonan maafku.” jelasnya pelan.

“Dengan berat hati…, aku juga minta maaf. Taeyong tak bisa menepati janjinya padamu karena aku.” imbuh Sejeong.

“Baiklah, tapi kau punya hutang untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin padaku, Tae!” Jaehyun mulai bisa meredam amarahnya dan berujar dengan nada rendah.

“Harusnya kau yang ceritakan padaku bagaimana kencanmu dengan Chaeyeon, Jae…” balas Taeyong.

Seketika otot mata Jaehyun pun diarahkan ke bawah. Mengingat betapa kikuk dirinya malam kemarin hanya menambah beban pikiran. Demi apapun Jaehyun benar-benar tak ingin membahas cara konyolnya mengungkapkan perasaan pada Chaeyeon.

“Gadis yang Jaehyun sukai itu Jung Chae Yeon, kan? Dia ada di sana!” celetuk Sejeong sambil menunjuk seorang gadis yang terlihat sedang celingukan seraya membawa nampan di tangannya.

“Suruh dia bergabung dengan kita!” ucap Taeyong yang membuat Jaehyun sontak tergugah dari lamunan.

“JANGAN!” sergah Jaehyun.

“Jung Chae Yeon!” namun terlambat karena Sejeong sudah terlanjur memanggil nama gadis yang pernah menjadi teman sekelasnya di tahun pertama masuk SMA itu. Si empunya nama pun sontak menoleh ke sumber suara. Tanpa pikir panjang, Chaeyeon melangkahkan tungkainya menuju meja mereka bertiga.

“Hai, aku boleh duduk di sini, kan? Kantinnya sangat ramai dan tidak ada tempat tersisa.” celetuk Chaeyeon yang disambut dengan anggukan serta senyuman tipis oleh Taeyong dan Sejeong. Ia duduk di sebelah pria yang sedari tadi menunduk sambil menggigiti kukunya.

“Jae! Kenapa kau terus menghindariku hari ini?” tegur Chaeyeon pada Jaehyun.

“Kemarin kau datang ke rumahnya, ‘kan?” tanya Taeyong.

“Iya, aku makan banyak sekali. Masakan ibunya sangat enak, serius!” jawab Chaeyeon antusias, namun tak sama sekali melenyapkan rasa canggung yang Jaehyun ciptakan sendiri. Taeyong makin dibuat heran, ia tahu kalau degupan jantung memang kadang dibuat tak normal saat sedang dekat dengan orang yang disukai. Tapi reaksi Jaehyun kali ini sungguh tidak biasa. Seperti ada hal yang ia tutupi.

Eum, apa terjadi sesuatu pada Jaehyun?” tanya Taeyong.

“Entahlah, dia sangat pucat di sepanjang perjalanan saat mengantarku pulang. Bicaranya pun terbata-bata.”

Jaehyun perlahan mengangkat kepalanya yang telah tertunduk lama, memberikan sedikit peregangan pada otot leher yang sedikit nyeri.

“Maafkan aku masalah kemarin, Chaeyeon-a… aku hanya terlalu gugup.” Pemuda Jung itu berceletuk.

Omo, apa yang sudah kau lakukan, Jaehyun-a?!” Sejeong berseru panik, fantasi liar berkecamuk di pikirannya. Well, bukan salah Sejeong kalau pikirannya jadi ke mana-mana. Siapa suruh Jaehyun memenggalkan kalimat yang dapat menimbulkan spekulasi ambigu.

Mwoya…, tak usah dipikirkan, Jae. Tidak masalah,”

“Hei, kalian bicara apa, sih? Apa yang kemarin malam kalian lakukan?” Taeyong coba menutupi pikiran-pikiran anehnya yang sejurus dengan Sejeong.

“Tapi perasaanku itu sungguhan, aku hanya enggak tahan kau mengira kalau gadis yang kusukai itu Yuju atau Sejeong.” bukannya menggubris sepasang kekasih di hadapannya, Jaehyun malah merutuk frustasi pada Chaeyeon.

“Kenapa kau terus mengabaikanku dan malah membawa-bawa nama pacarku, huh?!” Taeyong kembali dibuat naik pitam oleh Jaehyun.

“Kalian berdua diamlah! Aku sedang berusaha memperbaiki situasiku dengan Chaeyeon!” semprot Jaehyun.

“Perlu kau ingat bahwa kamilah yang mengajaknya ke mari!” sahut Sejeong.

Aish, sepertinya keberadaanku di sini malah memperburuk suasana. Ya sudah, aku makan di kelas saja. Selamat makan!” tukas Chaeyeon yang mulai pengang dengan keributan yang dibuat ketiganya. Namun sepasang tangan milik Jaehyun langsung mencegahnya pergi.

“Kalian bicara saja, kami akan pura-pura tuli.” ucap Taeyong.

“Kenapa jadi terkesan canggung kalau kau harus bicara empat mata denganku di hadapan mereka?” celetuk Chaeyeon yang kembali menempati kursinya.

“Sepertinya kita perlu hang out sekali lagi untuk meluruskan masalah kemarin. Apa kau ada waktu?” tanya Jaehyun yang dibalas dengan kerlingan mata oleh Chaeyeon, sebelah bibirnya tertarik, pertanda gadis itu sedang memikirkan sesuatu.

“Selalu ada, asal kau minta izin ibuku untuk membawaku pergi.” tandas Chaeyeon yang mampu mengulum seulas senyum di kedua sudut bibir Jaehyun.

“Tetap berlagak tuli, Sejeongie… tetap berlagak tuli!” bisik Taeyong seraya menjumput kacang panjang di piringnya untuk ia suapkan pada Sejeong.

– END –

Kalian enggak salah baca. Tulisan ‘END’ pakai penajukan 3 biar jelas sejelas-jelasnya. Kenapa harus end di sini? Karena enggak ada lagi yang perlu dijelasin /SALAH

Jadi, kalian ngerasa shock atau malah seneng karena FF ini berakhir di chapter 12? Hahaha, takdir banget ya FF paling panjang cuma sampe chapter 12 macem “You Look Yummy/ngapa jadi endorse

Enggak ada alasan khusus juga kenapa tiba-tiba END. Aku ngerasa aja kalo semua masalah di sini udah teratasi. Oke, FF ini emang nirfaedah sekali, kurang konflik, dan alur yang biasa aja. Tapi mungkin aku bisa menyampaikan satu hal; setiap orang, apa pun sifat mereka, kita harus tetap menghargai dan enggak boleh seenaknya nge-judge. Kalo kalian punya temen pendiam, jangan malah dijauhin dan dikatain sombong. Bisa aja sebenarnya mereka pengen bersosialisasi tapi enggak tahu caranya /SOK IYE BANGET LU LEL

Makasih banget banget banget untuk yang selama ini udah ngikutin cerita ini. Bahkan ada yang nunggu tiap minggu dan ngecek blog tiap hari untuk liat FF ini udah update apa belom. Masya Allah aku terharu, kalian jjang! Makasih juga untuk semua yang udah ngasih saran :3 SARANGHAEYO GOMAWOYO ~~~

Aku sadar banget FF ini penuh dengan kekurangan. Yuk yuk komenin, apa aja boleh. Segala kritik saran, cacian, makian, hinaa, semuanya bakal aku terima dan aku gunakan sebagai media belajarku untuk jadi lebih baik :’) Enggak menutup kemungkinan juga aku bakalan bikin sekuel. Kalian tunggu aja, kalau idenya ada, pasti langsung aku ketik kok ^^

Oh iya, aku pun punya beberapa project yang rencananya akan aku kerjakan setelah UN. Ya karena aku tahu setelah UN selesai aku ya enggak mungkin full mendedikasikan hari-hariku untuk belajar buat SBMPTN. Pasti ada kalanya aku berkutat dengan hobi :v

Kalau kalian penasaran sama sinopsisnya, bisa klik gambarnya ^^

16296017_1394912560539790_891079080_n tae-soo

Dan ini sedikit kenang-kenangan dariku berapa fanart manipulasi (yang ketahuan banget editannya)

 

Sampai jumpa di FF selanjutnya ~~~ ^^

Advertisements

17 thoughts on “[Chaptered] Introvert Squad (12화)

  1. kak lel why ini superrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr manissss. Ih, udah tamat ya, tapi endingnya manis banget. Aku gak berhenti senyum2 pas baca apalagi yg jaehyun nembak chayeon di depam mamanya. Pliss itu udah kayak lamaran aja, wkwkwkwkwkw

    Dan sampai akhir jae sama sejeong tetep aja berantem. Aku bayangin kalo ini semacem sinetron pasti dibikin kayak jae nanti suka sma sejeong. trus mereka kayak tukeran pacar gitu. ala2 sinetron indo lah wkwkwkwk tapi syukurlah ini ff XD
    ditunggu ff selanjutnya kak lel…

    Dadahhhhhh… 🙂

    Liked by 1 person

    • Superrrrrr sekali seperti Mario Teduh wkwkwk… Huhuhu nggak tau aku kesamber apa kok bikin scene alay begitu
      Lohh anjay skenariomu begitu amat mel jangan dong, forever Jaehyun will belong to Chaeyeon /EMANGNYA LO TUHAN
      makasih ya Amel udah nyempetin baca sampe akhir pdhl ini panjang sekali loh tapi untungnya masih lebih panjang anak jalanan /GAK
      Jangan lupa mampir ke FFku selanjutnya ^^

      Liked by 1 person

    • Iya kak diriku udah stuck, ide bromancenya abis karena baik tae maupun jae Alhamdulillah sudah ketemu jodoh 😂😂😂
      Yeayy, doain aja kak idenya buru2 dateng 🙂 makasih lo kak Minerva sudah istiqomah(?) baca 12 chapter, padahal sumpah itu pasti puuuanjyaaang :’v makasih sekali lagi kak {} ^^

      Like

  2. Ini udah end? Beneran udah end? Yakin ini udah tamat?

    KENAPA INI UDAH END?????????? KENAPA MBALEL? KENAPA????? KENAPA INI UDAH END PADAHAL DI JUDULNYA NGGAK ADA TULISAN END???? KENAPA ENGKAU MENIPUKU? APA SALAHKU? AKU TIDAK MENYANGKA KAU AKAN MENYAKITIKU DENGAN MEMBERI KATA SIALAN YANG RESMI JADI MUSUH BEBUYUTANKU /pulang nak pulang/

    Mbalel, ku masih shock kalo ini udah end :’v Ku mau nangis karena kisah mereka udah abis :’v Ku terhura karena sepanjang cerita dibuat baper sama bebeb Jaehyun & Akang Taeyong :’v Nggak tahu kenapa malem ini (pas hujan & hawanya dingin banget, plus lagi nggak ada yang ngajak malmingan) aku langsung buka NCTFFI dan langsung nemu Introvert Squad chapter 12 udah apdet. Sumpah loh, aku nggak pernah kepikiran ff ini bakal tamat di chapter ini, sumpah ini aku masih shock :’v *dipeluk Mark*

    Dan itu katanya Jiyo paling cantik di kelas? /itu Jihyo nak, tolong narsisnya dikondisikan/ tapi entah kenapa aku langsung menggelinjang pas Chaeyeon bilang kalau Jaehyun suka sama cewek namanya Jihyo yang notebene adalah siswi paling cantik di kelas :’v Ku merasa terpanggil /krik/

    MBALEL, ITU TOLONG ADEGAN ANTARA TAEYONG DAN SEJEONG DIKONDISIKAN YA. TOLONG. TOLONG SOALNYA AKU NGGAK KUAT HUJAN-HUJAN BACA KEK GINIAN :’v (ketahuan kalo lagi jones stadium 4). KAMAR KUTUTUP, UDAH PAKE PIYAMA & SELIMUTAN CEM ANAK PENYAKITAN, HABIS ITU BACA FF SUPER MANIS KEK GINI AKU MAH BISA APA MBALEL :’v Hatiku gampang luluh lantah apalah-apalah lamboz kemlinti mlinti, apalagi kalo udah menyangkut Jaehyun yawlah kuatkanlah hambamu yang alay ini :’v Mbalel aku nggak mau tahu, tanggung jawab nih. Aku baper daritadi nggak kelar2, ini aja ngetik komen dengan diselingi guncangan jiwa /krik (2)/

    DAN APA JIYO NGGAK SALAH BACA? ADA SEQUELNYA? SERIUS? Yah kudoakan semoga dapet ide, biar bisa nulis sequelnya ehehehe. Insyallah ku akan selalu setia jadi readers-mu mbalel ❤ Tapi ya gitu, kudu sabar2 kalo punya readers kayak aku karena cerewet, sok tahu, heboh, alay (banget), dan selalu ngayal jadi istri sahnya Jaehyun (abaikan yg terakhir plis -.,-)

    Mbalel, kutakbisa komen apa2 lagi. Sayangnya modemku lagi nggak ada kuotanya, alhasil kudu ngetik di hape dan aku males ngetik panjang2. Mungkin kalo modemku ada pulsanya, ku akan komen lebih panjang dari ini *dih curcol* Oh iya, UNBK tinggal ngitung hari loh, cemungud ya mbalel 😀 Moga sukses & bisa aktif nulis lagi ^^

    Dan aku udah baca sinopsismu yang My Lesbian Rommate. Njir, padahal cuma dua kalimat, tapi aku kok langsung menggelinjang ya? Dakuh penasaran syekale mbalel, kenapa dikau selalu membuat DD emesh ini gila karena ff-mu? /krik (3)/ Pokoknya ini SUPER SEKALEEEE ❤ ❤ ❤ ❤ Big laf dari Jiyo ❤ ❤ ❤ Eh, yang manipnya Jaehyun & Chaeyeong itu imut. Berasa real banget deh. Sebenarnya dari dulu aku rada nggak setuju kalo Jaehyun dipasangin sama idol yang nggak kukenal (bahkan dulu aku nggak tahu Sejeong & Chaeyeon ini siapa), tapi nyatanya mbalel bikin aku suka sama ceritanya tanpa bikin aku kudu nge-ship tokohnya dulu ^^ Hebat sekali, soalnya Ji emang kurang suka baca ff Idol x Idol. Apalagi kalo salah satu idolnya itu bias aku 😀

    Btw mbalel, Ji kepo dikit nih. Mbalel lebih suka Jaehyun atau Taeyong sih sebenernya? /Maaf OOT/ lalu pulang sama Jaehyun/

    Like

    • iya jiyoooo ini end… sungguh, no lies
      enggak ngerti why, i just wanna give you all some surprise :v
      emang pas kamu kepikiran enggak tamat, cerita apa yang kamu bayangin selain penjabaran di chapter 12? aku penasaran XD

      sebenernya Jihyo itu anak twice, aku keinger dekgemku yang ngefans berat sama mereka dan selalu heboh kalo ada update-an Jihyo di TL. kadang ya lucu liat dia fanboying over someone gitu wkwkwk tapi ya deh Jiyo kan juga cantik ya huhuuu :3

      apa sihh ji, adegan Taeyong dan Sejeong itu sumpah biasa banget, karena romantis itu kalo udah ciuman /DIHAJAR

      sebenernya kekhawatiran terbesar menghadapi UNBK itu kalo nilainya jelek trs terpampang pas wisuda, selebihnya enggak ngefek apa2. mana matematika enggak paham sama sekali huhuuu 😥 pokoknya pengen banget banget banget keterima PTN jalur undangan, amin XD
      iya ji ~ tunggu sequelnya, makasih lo udah mau nunggu :3

      ENGGAK MAU TAU JI POKOKNYA KAMU HARUS SUKA SAMA CHAEYEON DAN SEJEONG CUZ THEY BOTH ARE SOOOOO FREAKING BEAUTIFUL GORGEOUS AND ADORABLE!!! aku aslinya juga enggak nge-ship TaeJeong banget2 sih, cuma karakternya Sejeong cocok aja buat cast di FF ini, Kalo JaeYeon beda lagi, pokoknya aku nge-ship banget banget lah hahaha enggak tahu kenapa. padahal mereka kayak hampir momentless. tapi aku gemeeessshh karena Chaeyeon senyum2 sendiri pas Jaehyun nyempein pidato like “yampunn temen sekelas gue ngomong hahaha sok yes banget dia padahal juga di kelas hobi molor” /NGACO. Chaeyeon di belakangnya Jaehyun pas menang award aja aku nggelinding tidak karuan. shipper mereka banyak kok di wattpad sumpah hahaha

      kebalikanku sih, aku akhir2 ini lelah kalo harus bikin FF pake OC. bukan berarti aku nge-ship sih, cuma kan karakter idol tuh lebih terpampang nyata. mana sekarang kan jaman ya OC pake nama kebarat2an trs pijueolnya yang blasteran gitu, haduuuuhh aku paham nama inggris2an tuh ya paling hermione, malfoy, dumbledore gitu2 doang hahaha. aku punya OC satu buat TY aja sekarang tidak pernah kuurus :’v bias cewekku menumpuk dan gatel ingin kubikinin FF, sungguh

      kamu tanya bias mah aku bisa apa ji…, semua anak NCT mah bias. Doyoung, Chenle, Renjun, Mark, gak bisa milihhhhhh. tapi kalo kamu maksa sih, kayaknya ya Jaehyun. Soalnya Taeyong is too perfect to called perfect, a boy who can be an angel or a demon in the same time, LEE FUCKING TAEYONG, LEE GODDAMN TAEYONG, LEE SAVAGE TAEYONG, karena dia terlalu ganteng aku jadi enggak kuat buat biasin dia. beda kaaaaann sama Jaehyun dia itu soooo lovely and pacarable, serasa ingin kumiliki seutuhnya HAHAHAHA AKU GILA, tapi tetap suami idaman kelak adalah Chenle, karena dia konglomerat /KEMUDIAN KABUR

      Liked by 1 person

      • Aku awalnya masih kepikiran kalo ini masih tahap (?) Jaehyun ngedeketin ortunya Chaeyeon cem kisah Taeyong dulu :’v Atau seenggaknya chemistry Jaehyun & Chaeyeon mau dikembangin lagi dengan ‘lebih’ memperbanyak romansa-nya. Who knows? wkwkwkwk

        Iya mbalel, aku tahu itu Jihyo twice, Tapi kata Taeyong aku disuruh pura2 tuli, makanya jadi kayak gini -.,- (emang dasarnya aja kepedean. Dipuji dikit langsung melayang sampe kepalanya kejeduk atap kamar karena melayang ketinggian)

        Iya sih. Ketakutan terbesar pas UN emang nilainya. Apalagi sekarang UNBK, langsung tahu nilainya berapa :’v Miris banget deh, mending ujian pake LJK. Aku sering shock, apalagi pas lihat nilai matematika-ku yang nggak pernah ada kemajuan :’v Mau belajar ke Ten, tapi kejauhan :’3 Nah karena mbalel pengin keterima di PTN Jalur undangan, bakal ji doain sebagai dedek yang baik (amin) /langsung wiritan/

        Tuh kan bener. Sukanya sama Jaehyun. Soalnya introvert squad ini mulai chapter satu udah kurasain kalau yg lebih nge-feel itu pasti yang bagian Jaehyun. Demi apa, apalagi Jaehyun itu bias nomor wahidku. Emang bener kata mbalel, Jaehyun itu soooo lovely and pacarable, serasa ingin kumiliki seutuhnya HAHAHAHA AKU JUGA GILA :’v Padahal aku juga suka Mark, Renjun, Doyoung, Jaemin, dan Ten. Lah ini bias apa bias? Habisnya mereka semua ganteng coeg :’v

        Liked by 1 person

  3. wahahah udah end :’
    akhirnya TaeJeong x JaeYeon berjaya haha :v

    ending manis, ad adegan suap”an *-*
    nice ending lel ><
    ditunggu sequelnya (klo ad) + ff requestku + next project :v

    btw semangat lel ^^
    keep writing (y)
    *sorry late comment T.T

    Liked by 1 person

    • Haii oz~~~😆😆
      Hohooo iya setalah sekian lama Taeyong mesra sama Jaehyun ya XD
      Makasih Oz udah selalu ngikutin dr awal dan nungguin tiap chapternya :3 hehe iya requestmu masih aku pikirin wkwk
      Tunggu aja ya sekuelnya ^^

      Like

  4. Hai kaak…. aku udah baca ff ini dari prolog sampai end dan sukaaaa banget sama ff ini… seriuss. Juga sama cast nya yang comel comel. Apa lagi si tiwai yang polos banget. Pokoknya sukaa… aku selalu mampir ke blog ini untuk baca chapter chapter selanjutnya.
    Oh iya kak… sebelumnya maaf baru bisa comment… hehehehe…
    Sekin dulu ya kaak… ku tunggu ff kakak yg selanjutnya… maaf kalo ada typo :v

    Liked by 1 person

  5. Aaaaaahhh kenapa end ? 😥 T.T
    Annyeong Joy imnida, mian thor baru komen di part akhir. Karna baru nemu sekarang jadi aku putuskan komen di akhir. Cerita menghibur, sampe buat aku tertawa gaje *atau selera humor gua nya aja yang ah lupakan. Kenapa cuma sampe part 12 thor ? Padahal ceritanya kan keren gak bikin suntuk jarang2 lho ada ff kek gini. Di tunggu ff yang lainnya, oiya kalo boleh saran cerita di setiap chap nya harus di panjangin lagi & chap nya juga harus panjang. Mian thor curcol gak jelas 😀

    Like

    • Waduhhhh ini udah 12 + 1 chapter loh masa kurang yassalaaam 😂😂
      Iya enggak papa, kamu baca aku seneng kok :3 hihi, selera humormu bagus berarti kalo sampe ngakak baca ini :v
      Haduuuhh komplimenmu berlebihan ini masih bnyak kekurangan XD tapi makasih looo… Kalo mau yg lebih panjang sok atuh baca “You Look Yummy” castnya Jaehyun /lah promosi/
      Makasih banyak udah mampir 🙂

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s