[Mix Party] Phone Cell

mp1

PHONE CELL

Storyline by. Cho Hana

[NCT] Taeil, Winwin, Doyoung, Yuta and Hansol with OC

Slice of Life General || Ficle-Mix

I just have a storyline :))

.

Karena ponsel mereka memiliki kisah masing-masing…

.

 #1. Moon Taeil x Moon Sui

Sudah hampir seminggu ini hati seorang Moon Taeil dirundu perasaan aneh. Pemuda yang nyaris menginjak usia dua puluh empat tahun itu menjadi sangat gelisah. Beberapa hari ini ia tak beda dari seorang idiot yang tak tahu harus melakukan apa. Di kampus ia merasa was-was—begitu juga ketika di rumah.

“Kampr*t!”

Taeil nyaris saja melompat dari tempatnya berdiri ketika adiknya—Sui—menepuk pundaknya. Kini ia tengah berada di ruang tamu. Sejak tadi ia terus mondar-mandir sambil menatap ponselnya dan tentu saja hal itu membuat Sui menjadi bingung.

“Eh ngomong kasar ya? Aku laporin mamah nih,” Ancam Sui yang langsung membuat Taeil mendengus.

“Cih, dasar tukang ngadu!”

Taeil berdecak sebal lalu buru-buru mengempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tanpa menunggu persetujuan dari sang kakak, Sui ikut-ikutan menghempaskan tubuhnya di sofa kosong yang berseberangan dengan Taeil.

“Kenapa kau jadi duduk disini? Pergi sana! Nonton Katakan Putus atau apa kek sana!” Usir Taeil sambil mengibaskan tangannya di depan Sui—persis seperti mengusir kucing kampung yang biasa masuk ke rumah  mereka tanpa izin.

“Ish, Katakan putusnya udah habis! Dasar gak tahu terima kasih. Aku duduk disini karena Kak Taeil terlihat sangat aneh. Kenapa kakak mondar-mandir terus? Kakak ada masalah? Kakak diomelin dosen lagi ya di kampus?” Sui menatap kakaknya penuh kecurigaan.

“Cih, dasar sok tahu!” Taeil berdecak sebal.

Sebenarnya ada sebuah alasan mengapa Taeil jadi gelisah seperti itu. Jawabannya adalah karena Kang Seulgi. Gadis yang baru berstatus sebagai mantannya selama dua hari itu sukses membuatnya jadi seperti orang gila. Bukan rahasia umum lagi jika hubungan percintaan yang dijalin Taeil dan Seulgi selama tiga tahun itu baru saja kandas beberapa hari yang lalu. Masalahnya sepele. Hanya karena Taeil terlalu cemburu dengan hubungan pertemanan yang dijalin Seulgi dengan rekan sejawatnya di kampus.

Ya, anggap saja Taeil adalah tipe pria pecemburu yang mudah terbakar hanya karena sebuah postingan foto Seulgi bersama teman kampusnya di instagram—yang bahkan sekarang sudah dihapus Seulgi dari akunnya— namun sejujurnya Taeil menyesal dengan keputusannya beberapa hari yang lalu. Benar kata orang, seharusnya sebuah keputusan diambil dengan kepala dingin, bukan pada saat sedang emosi. Taeil masih begitu menyayangi Seulgi, namun ia memiliki gengsi yang setinggi langit. Ia menganggap dalam kasus terakhir, Seulgi-lah yang bersalah, oleh karena itu ia enggan untuk memulai rujuk lebih dulu.

“Kalau masih sayang, jangan dimantanin. Kalau udah mantan, jangan disayangin,” Sui bergumam pelan.

Manik gadis itu terarah pada layar ponselnya, namun Taeil jelas tahu jika sang adik tengah menyindirnya.

“Nyindir kakak kamu, Sui?” Taeil menatap sang adik dengan tajam.

“Enggak. Orang Sui lagi baca quote di instragram,” Sui menjulurkan lidahnya pada Taeil.

Taeil hanya mendengus sebal lalu bangkir berdiri, “Capek ngomong sama bocah kayak kamu. Mending kakak tidur aja.”

Ucapan Taeil langsung dihadiahi dengan lemparan bantal dari Sui. Pemuda itu langsung beranjak menuju kamarnya. Ia baru saja akan berniat tidur saat tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.

“Oh iya, ponselku ketinggalan di sofa.” Buru-buru Taeil keluar dari kamar. Ia segera bergerak menuju ruang tamu. Tak ia temui lagi sosok Sui disana, mungkin adiknya juga sudah melarikan diri ke kamar. Tak terlalu mau ambil, Taeil segera menyambar ponselnya yang masih tergeletak di atas sofa, namun sesuatu yang muncul di layar ponsel membuatnya kaget setengah mati.

“MOON SUI SIALAN!!!”

Dan yang terdengar berikutnya hanyalah terikan mengumpat dari Taeil. Ya, pasti pelakunya adalah Sui. Siapa lagi yang berani mengirim chat ‘Seulgi, balikan kuyy~’ selain adik kurang ajarnya itu? Hanya Sui yang berani menjahili Taeil seperti itu dan hanya Sui juga yang mampu mengirimkan chat bernada alay semacam itu tanpa rasa malu sedikit pun.

.

 #2. Kim Doyoung x Alodie Jung 

Bukan rahasia umum lagi, jika seorang Kim Doyoung terkenal sebagai sosok yang sangat pelit. Bukan hanya masalah uang, ia juga pelit dalam masalah makanan, tugas dan hal-hal kecil lainnya. Sikapnya itu tentu saja membuat orang-orang enggan untuk dekat dengannya. Namun tidak begitu halnya dengan Alodie Jung—sahabat sekaligus teman satu kelas Doyoung di kampus.

Alodie adalah satu-satunya yang tahan berteman dengan Doyoung. Entahlah—mungkin karena ia sudah mengenal Doyoung sejak kecil, ia jadi sudah terbiasa dan bisa memaklumi sifat kikir Doyoung.

“Sebenarnya aku heran kenapa kau bisa tahan berteman dengan Doyoung. Dia ‘kan pelit sekali,” Ucap Kun di sela-sela aktivitas seminar mereka siang itu.

Alodie hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan atensinya sekilas dari layar ponselnya sendiri, “Sebenarnya Doyoung itu baik kok, cuma yah—dia memang sedikit pelit.”

“Bukan sedikit, tapi sangat pelit, Alodie,” Kun mengoreksi ucapan Alodie. “Kalau aku jadi kau, akan kutinggalkan saja dia. Orang pelit seperti itu cocoknya tinggal sendirian.”

Alodie hanya terkekeh pelan, “Ah, Doyoung tidak separah itu kok.”

Kun hanya menghela panjang lalu ikut mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Hanya selang beberapa menit sebelum akhirnya Kun memekik.

“Sial! Kuotaku habis. Alodie, bagi hotspot dong,” Kun melirik Alodie yang duduk di sebelahnya.

“Kuotaku juga habis. Ini juga aku main games offline aja dari tadi,” Sahut Alodie membuat Kun berdecak sebal.

Padahal Kun sedang serius melakukan ‘war’, namun kuotanya malah habis di tengah jalan. Tatapannya terarah pada sosok pemuda yang baru saja datang. Kim Doyoung.

“Alodie, Doyoung datang,” Kun menyenggol sikut Alodie. “Katakan pada Doyoung untuk berbagi hotspot denganku.”

“Apa?” Alodie menyipitkan matanya. “Kau gila? Mana mungkin Doyoung mau.”

“Kalau begitu, bajak saja. Pinjam ponselnya dan jangan bilang jika kita memakai hotspot-nya.”

“Kau pasti sudah gila, Qian Kun.”

“Oh ayolah, Alodie Jung! Hanya kau satu-satunya orang yang dekat dengannya. Aku benar-benar membutuhkan hotspot, jika tidak aku akan kalah dalam war.”

“Oh terserah kau saja,” Alodie merotasi kedua bola matanya.

Tak lama Doyoung menghampiri mereka. Ia langsung mengambil tempat duduk di sebelah Alodie.

“Apa aku terlambat?” Tanya Doyoung sambil melepaskan ranselnya.

“Oh tidak. Kau hanya melewatkan satu sesi pertama,” Alodie menyahut sambil tersenyum.

Kun kembali menyikut Alodie, seolah memberi isyarat agar gadis itu segera menjalankan misinya.

“Eh Doyoung, boleh pinjam ponselmu sebentar tidak?” Tanya Alodie membuat Doyoung langsung menatapnya lekat.

“Untuk apa?” Tanya Doyoung dengan polos.

“Untuk menelpon ponselku. Aku lupa dimana meletakkan ponselku tadi. Kurasa ponselku terselip di tas,” Alodie berpura-pura membongkar tasnya.

“Baiklah, tapi jangan lama ya.”

Mata Kun langsung berbinar kala Doyoung mulai menyodorkan ponselnya pada Alodie.

“Cepat katakan padaku apa password-nya?” Bisik Kun dengan suara super kecil.

“Sabar,” Alodie mulai menjelajahi ponsel Doyoung, namun detik berikutnya kening Alodie justru berkerut.

“Kenapa?” Tanya Kun heran.

Password-nya—“ Alodie langsung menunjukkan layar ponsel Doyoung pada Kun.

Bola mata Kun nyaris saja melompat keluar saat melihat password yang dipasang Doyoung untuk hotspot-nya.

Uvuvwevwevwe Onyetenvewve Ugwemubwem Ossas 

“Setan! Password macam apa itu?”

Kalau tahu begini, lebih baik Kun relakan saja semuanya. Persetan dengan war-nya, Doyoung takkan pernah rela berbagi apapun dengan siapapun.

.

 #3. Winwin x  Na Rein

Ada yang bilang, jika masa paling indah dalam sebuah hubungan percintaan adalah masa pendekatan. Bahkan keindahannya mengalahkan keindahan semasa hubungan percintaan itu sudah resmi dijalin. Di masa pendekatan, kita—sebagai pihak perempuan terutama—akan mengalami yang namanya diperjuangkan. Seorang pria yang menyukai seseorang pasti akan melakukan banyak hal untuk menarik perhatian gadisnya. Mulai dari hal yang besar sampai hal kecil sekalipun. Mengirimkan pesan-pesan manis misalnya. Seperti yang Winwin lakukan pada Rein.

‘Rein, jangan lupa bawa payung dan shall. Menurut ramalan cuaca, siang ini akan turun hujan.’ 

‘Jangan lupa makan. Minum vitaminnya juga ya.’ 

‘Jangan sampai sakit. Kalau sakit, ntar aku marah loh.’ 

‘Rein, apa kau sakit? Aku akan membawa obat dan datang ke rumahmu.’ 

‘Rein, jika butuh sesuatu hubungi saja aku. Aku pasti akan membantumu.’

Nyatanya semua pesan yang Winwin kirimkan setiap hari pada Rein selalu terdengar sangat manis dan romantis—membuat hampir setiap hari lengkungan garis kurva tak pernah absen tercipta di wajah gadis sembilan belas tahun itu. Rein selalu punya waktu sendiri untuk meresapi segala pesan manis Winwin itu—pun tak lupa men-screenshoot dan menyimpannya di galeri.

Namun, kembali pada pernyataan di awal, masa pendekatan itu jauh lebih indah daripada masa sesudah hubungan cinta itu resmi dijalin.

‘From: Winwin Rein, sebaiknya kita akhiri saja semuanya.’

Karena pada kenyataannya, semudah dulu ia mengirimkan pesan bernada manis, maka semudah itu juga sekarang Winwin mengirimkan pesan bernada miris. Saat itu Rein tidak menangis. Tidak sama sekali. Ia menghargai semua keputusan Winwin. Mereka menjalin hubungan atas dasar kesepakatan bersama dan Winwin mempunyai hak yang sama untuk mengakhiri hubungan mereka.

Namun hari-hari berikutnya, Rein justru menangis. Kala ia menelusuri satu per satu isi galeri ponselnya sendiri—menikmati potret-potret chat-nya bersama Winwin. Rein mengusap air matanya. Ia sadar. Bukan kehilangan Winwin yang membuatnya sedih, namun kehilangan kenangan manis mereka—seperti pesan-pesan manis yang selalu Winwin kirimkan salah satunya. Mulai saat itu Rein mengerti, ia harus menghetikan kebiasaannya melihat screenshoot pesan-pesan manis Winwin di ponsel—ya setidaknya itu yang harus ia lakukan sampai hatinya benar-benar pulih.

.

#4. Nakamoto Yuta x Ri Solla

Yuta masih terus memacuh langkahnya dengan cepat. Saat itu sudah hampir pukul lima sore dan jalanan di kawasan Gangnam dua kali lipat lebih ramai daripada biasanya karena pukul lima sore adalah jam pulang kantor. Yuta terus memburu kakinya—menembus kerumunan orang yang tengah berjalan kaki di sekitarnya. Beruntunglah ia memiliki kaki yang panjang—yang membuatnya jadi bisa melangkah lebih lebar.

Tujuan yang ingin Yuta capai saat ini hanya satu: sampai di apartemen sang kekasih—Ri Solla—sebelum kekasihnya itu mengecek isi ponselnya yang tertinggal. Bukan karena Yuta menyimpan chat atau foto dengan selingkuhan—percayalah jika Yuta adalah pemuda yang sangat setia pada Solla, namun ada sebuah hal yang lebih bahaya jika ketahuan oleh kekasihnya.

“Sial! Apa yang harus kukatakan pada Solla nanti? Apa kukatakan saja itu ‘titipan’ Haechan? Oh tidak! Itu konyol! Oh kukatakan saja itu untuk tugas kampusku. Oh itu malah terdengar lebih gila lagi, Nakamoto Yuta!”

Sepanjang perjalanan menuju lantai empat apartemen Solla, Yuta tak henti-hentinya meruntuk sendirian. Tak ia pedulikan tatapan beberapa penghuni apartemen lain—yang mungkin saja menganggapnya sudah gila karena berbicara sendirian—Yuta hanya ingin selamat dari amukan Solla. Ya, siapa yang tidak tahu sih kalau Solla itu menyeramkan.

Brak!

Yuta langsung mendobrak pintu apartemen Solla setelah berhasil memasukkan password. Tanpa permisi, ia langsung masuk. Ditemukannya Solla sedang berbaring dengan santai di atas sofa sambil menatap layar ponselnya.

“Solla!” Yuta memekik nyaring.

Solla mengalihkan atensinya dari layar ponsel Yuta, “Yuta?!”

“Uhh ahh uhh ikeh ikeh uhhh ahh~”

Samar-samar suara desahan terdengar dari speaker ponsel Yuta. Kedua mata Yuta langsung membulat sempurna. Buru-buru ia menghampiri kekasihnya itu.

“Sayang, kok kamu balik?” Tanya Solla dengan nada bicara manjanya yang khas.

“Hehehe. Gapapa. Aku kangen sama kamu, terus ponsel aku ketinggalan juga ternyata hehehe,” Yuta mengulas senyum tanpa dosa. Padahal jantungnya nyaris saja melompat keluar sekarang.

Solla nampak baik-baik saja, tapi siapa yang tahu kalau gadis itu akan meledak nanti.

“Oh ponsel kamu ini?”

“Eh iya. Kamu lagi ngapain sih, sayang? Ngecek line aku ya? Aku gak chat-chat-ah sama siapa-siapa kok hehehe.”

Solla semakin memperlebar senyumnya, “Gak kok. Aku cuma ngecek galeri aja. Ternyata video kamu bagus-bagus ya, sayang. Aku suka deh.”

“Hehehehe.”

Yuta hanya bisa tertawa dengan nada datar. Setelah itu, Solla langsung menyerahkan ponsel Yuta kembali.

“Nih,” Ucap Solla sambil menyodorkan ponsel milik Yuta ke tangannya.

“Eh? Kamu gak marah?” Yuta menatap Solla dengan tatapan tak percaya. Ia pikir Solla akan marah karena ia berani menyimpan video mesum di ponselnya.

“Gak kok. ‘Kan aku udah bilang, aku suka videonya.”

Yuta mengerutkan keningnya tak percaya. Solla mengelus lembut kepala Yuta lalu beranjak menuju kamarnya di lantai dua.

“Aku mau mandi dulu. Kalau mau pulang, pintunya jangan lupa ditutup ya,” Teriakan Solla menggema bersamaan dengan tubuhnya yang menghilang di balik pintu kamar.

“Syukur deh kalau gak marah.”

Yuta menghela napas lega. Ia baru saja akan memasukkan ponselnya ke dalam saku, namun—

“Yak, Ri Solla! Kau bilang kau tidak marah, kenapa layar ponselku retak begini hah?” Teriak Yuta—membuat Solla kembali keluar dari kamarnya.

“Kau pilih mana? Layar ponselmu yang retak atau lehermu yang retak hah?”

Ancaman Solla itu cukup untuk membuat Yuta angkat kaki dari apartemennya. Setidaknya Yuta belajar satu hal sekarang. Sebelum pergi ke apartemen Solla, ada baiknya ia memindahkan semua koleksi video dewasanya dari ponsel.

.

#5. Ji Hansol x Yoon Jooeun

“Jangan pernah penasaran dengan privasi kekasihmu, Yoon Jooeun. Mungkin saja kau akan sakit hati jika mengetahui fakta lain tentangnya.”

Ucapan Wendy beberapa hari yang lalu itu masih terus membekas di ingatan Jooeun. Bak sebuah rol film yang tak pernah lelah berputar, ucapan Wendy itu terus saja menganggunya sejak semalam.

“Sial!”

Jooeun memijat-mijat pelipisnya yang terasa sakit. Entah karena faktor migran yang kumat atau karena masalahnya dengan Hansol yang tak kunjung selesai, namun tiba-tiba saja kepalanya mendadak sakit sekarang.

“Kau tidak apa-apa?”

Suara berat itu membuat Jooeun segera mengangkat kepalanya. Di depan mejanya kini berdiri seorang pria jangkung dengan senyumnya yang selalu merekah.

“Ah, Hansol?”

Jooeun sedikit kaget dengan kehadiran sosok itu. Ia pikir semua orang di kantornya kini sudah pulang. Ya, siapa juga yang mau mengurung diri di kantor hingga jam sebelas malam—kecuali sosok yang tengah frustasi seperti Jooeun misalnya.

“Kenapa? Kaget melihatku di sini?” Ucap Hansol seolah bisa membaca arti raut wajah Jooeun.

Jooeun tersenyum tipis, berusaha bersikap normal seperti biasanya, “Kupikir semua orang sudah pulang. Ini sudah jam sebelas malam.”

“Semua orang memang sudah pulang dan karena itu aku heran kenapa kau masih ada di sini. Seingatku Pak Go tidak memberikan karyawannya tugas lembur untuk bulan ini,” Hansol melemperkan tatapan penuh selidik pada Jooeun—membuat gadis itu sedikit salah tingkah sekarang.

“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang malas pulang. Lagipula ada beberapa laporan yang harus segera kuselesaikan.”

Jooeun kembali fokus pada layar komputer yang ada di depannya—berpura-pura membuka beberapa file laporan yang sebenarnya sudah selesai ia kerjakan sejak tadi sore.

“Maaf karena aku menghilang selama beberapa hari ini.”

Ucapan Hansol itu membuat jari Jooeun berhenti menari di atas papan keyboard-nya.

“Dua hari ini aku pergi ke Busan untuk mengunjungi Ibu. Penyakitnya mendadak kambuh dan aku panik, makanya aku langsung pergi tanpa mengabarimu. Maaf.”

Jooeun kembali memasang senyum tipis. Ditatapnya wajah Hansol yang penuh sesal itu dengan lekat, “Tidak apa-apa. Aku mengerti kok.”

Lamat-lamat seulas senyum kembali menghiasi wajah tampan pria itu, “Terima kasih karena sudah mau mengerti diriku. Apa pekerjaanmu masih banyak?”

“Ya sepertinya. Jika kau mau pulang, pulang saja duluan. Ini sudah larut malam.”

“Tidak. Aku akan menemanimu sampai selesai. Sebagai penebus rasa bersalahku, aku akan membuatkanmu kopi. Tunggu sebentar ya.”

Hansol melangkahkan kakinya  meninggalkan Jooeun menuju pantry. Jooeun terdiam saat dilihatnya Hansol pergi tanpa membawa ponselnya. Entah sengaja atau tidak, namun pria itu justru meninggalkan ponselnya di atas meja kerja Jooeun. Padahal biasanya, ia tak pernah lupa membawa ponselnya.

“Hansol tak pernah terbuka denganku, Wendy-ah. Ia bahkan tak mengizinkanku menyentuh ponselnya.”

Beberapa hari yang lalu Jooeun mencurahkan unek-uneknya pada teman sekantornya—Wendy.

“Ini memang bukan masalah yang sepele, Jooeun-ah. Aku tahu keterbukaan itu penting dalam sebuah hubungan, tapi—“ Wendy menjeda kalimatnya sebentar. “—kurasa Hansol punya alasan sendiri mengenai privasinya. Ia tidak  ingin ada yang tersakiti mungkin.”

Dan kini Jooeun memiliki kesempatan untuk mengetahui kebenarannya. Jooeun memiliki kesempatan untuk mengetahui rahasia apa yang Hansol sembunyikan di ponselnya. Apakah selama ini Hansol bermain di belakang Jooeun? Apa selama ini Hansol memiliki selingkuhan? Semuanya akan terjawab saat Jooeun berhasil menyentuh ponsel kekasihnya itu.

Jooeun baru saja akan menyambar ponsel itu, saat tiba-tiba layar ponsel Hansol menyala. Sebuah pesan masuk. Jooeun terdiam. Maniknya mengeja satu per satu rentetan huruf dari pesan yang masuk itu. Seulas senyum tipis tercipta di wajah Jooeun. Ia tertawa, namun matanya justru berair. Jooeun menutup mulutnya sendiri, berusaha membungkam suara tawanya yang nyaris saja meledak bersamaan dengan air matanya. Pelan-pelan Jooeun meraih tasnya lalu beranjak dari sana. Ia pergi—meninggalkan pesan elektronik yang masih mengambang di layar ponsel kekasihnya.  

‘From: Seolhyun

Yeobo, jangan lupa belikan aku mangga ketika kau kembali ke Busan. Kurasa bayi kita sedang ingin makan mangga muda kkkk~’

fin.

Sumpah ini idenya random bgt

Bingung mau bikin ficlet-mix tentang apa dan tadaaa jadilah FF abal-abal ini

Buat smua author NCT FFI yang OC-nya kubuat dalam cerita ini, maaf kalo karakternya ga sesuai sama OC yang selama ini kalian ciptakan :”)

With Love,

Cho Hana

Advertisements

10 thoughts on “[Mix Party] Phone Cell

  1. Hai kak Hana, Jiyo hadir *bungkuk*

    Aku bingung mau komen apa, soalnya semua ficlet-nya bangus banget nget nget ❤ ❤ Di sana
    Dimana => Di mana
    Apapun => Apa pun

    Terus tadi juga ada penggunaan dialog tag yang masih pake huruf kapital : Ucap, Teriak, Tanya, Kata, dll. Jadi lebih baik kalo pake dialog tag itu pake huruf kecil.

    Terus untuk kalimat baru habis dialog itu nggak perlu pake koma.

    Tadi ada kalimat : “Sial! Kuotaku habis. Alodie, bagi hotspot dong,” Kun melirik Alodie yang duduk di sebelahnya.

    PB : “Sial! Kuotaku habis. Alodie, bagi hotspot dong.” Kun melirik Alodie yang duduk di sebelahnya.

    (p.s Jadi dikasih koma kalau pake dialog tag. Contoh : “……Aku padamu,” kata Kun. Atau “…..benarkah?” tanya Winwin)

    Aduh maaf ya kak. Jiyo kesannya kayak menggurui aduh :’v Kalo ada yg salah tolong bilang ya kak 😀 Ini juga panjang banget lagi -.,-

    Liked by 1 person

  2. Taeil : Ini nih tipe2 keluarga bahagia. Enaknya punya adek iseng cem Sui & enaknya isengin kakak sok gengsi cem Taeil :v Mana SMS-nya alay banget lagi. Gimana ya reaksi Seulgi?

    Doyoung : INI YANG PALING NYEBELIN. DOYOUNG PELIT BANGET PARAAAAH :’v kak aku menggelinding terhura pas baca passwordnya :’v

    Winwin : Awal yang manis tapi berakhir nyesek. Emangnya kenapa mereka bisa putus?

    Yuta : INI YANG PALING LAWAK SUMPAH! Aku menggelinjang dengan kalimat “Kau pilih mana? Layar ponselmu yang retak atau lehermu yang retak hah?”

    Hansol : INI YANG PALING NYESEK SUMPAH! EMANG HANSOL KAMPRET -.,- Diem2 udah punya anak. Masih belum debut, tapi udah ngehamilin anak orang njir -.,- Aku awalnya nggak tahu loh, kirain cuma selingkuh biasa. Eh ternyata udah punya baby :’v Apa kabar hati Jooeun?

    Liked by 1 person

  3. kak bentar deh mau khatamin ngakak dulu HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA tunggu aku mau komenin satu-satu nih..

    PERTAMA, pembawaan karakternya si Taeil ini ngena bangeeettt, apa karena pengaruh dia di sini mesti kena nista atau yang lainnya, tapi kenapa aku puas kak puasss liat dia merana gara2 Sui HAHAHAHAHA kak ekaaaa, Sui nakal kak! @janedoe319

    KEDUA, yoksiiiiii terimakasih sudah membawa Alodie dan Doyoung kembali ke permukaan, karena sejatinya saya lagi mager nulisin kisah mereka /digebuk/. ASTAGHFIRULLAH KIM DOYOUNG, KALO PELIT ITU SEHARUSNYA PASSWORDNYA SATU HURUF AJA, KAN IRIT HEHE :”) ingin rasanya kunistakan dia biar kapok, duhh…

    KETIGA, ya untuk Rein, jangan macem2 sama orang yang lagi pedekate.. jangan dikit2 di sc, nanti kalo Winwin udah ngilang kan jadi sibuk ngapusin sc-annya dari galeri. pokoknya, ikhlaskan, relakan, Winwin sudah meminangku /ga/

    KEEMPAT, aku ga mau komenin yang ini……………….otakku langsung konek waktu Solla buka hapenya Yuta, tolong kondisikan sekarang otak saya berpikiran aneh2 ketika melihat dia :)) /dihajar

    KELIMA, ih serius deh kak hana tau nda apa yang melintas di pikiranku waktu tau Hansol ini orangnya tertutup banget? aku ngiranya dia ini cewek kak. CEWEK. huahahahahaha udah ketar ketir aja kan kali aja wallpaper hapenya gambar dia pas lagi kencan sama om-om /disambit beneran/

    keep writing kaaaak 🙂

    Liked by 2 people

  4. Halo kak ChoHana! Sebelumnya kenalan dulu ya, Ocha dari garis 02, salam kenal!

    Aku suka fiksinya, kak! Ceritanya related banget sama real-life tapi dikembangin dengan sangat cantik, diksinya kaya, dan suka selipan humor di bagian Taeil sama Doyoung xD

    “Eh ngomong kasar ya? Aku laporin mamah nih,” Ancam Sui yang langsung membuat Taeil mendengus.
    Koreksi sedikit nih kak, huruf ‘A’ dalam kata ‘ancam’ sebaiknya pake huruf kecil karena sebelumnya terdapat tanda koma.

    Ada typo dikata ‘instagram’ tapi itu nggak membuat kesan ceritanya jadi berkurang koq hehe 🙂

    Maaf kalo komentarku kepanjangan. Keep writing! ❤

    Liked by 1 person

  5. Halo kak hana, aku mau komen(?)

    1. Taeil-sui : ini kocak banget kak, ciyusss. Plus aku lupa kalo taeil sama seulgi seumuran. Aku malah anggepnya taeil itu lebih tua. Wkwkwk maaf y mbah, abis mbah emang sosok mudah dibully dan dihina dina 😂😂 /disambit budir//

    2. Doyoung-alodie
    Entah knp agak nyambung sama persepsiku ke doyoung sie. Mskipun bukan pelit. Tp perhitungan. Wkwkwkwk plus aku baru kali ini baca ff couple ini…. Ini kakdon yukz doyoung-alodie dicomebackin kak wkwkwkw

    3. Winwin-rein
    Rein jgn kurang kerjaan simpen ss-an deh. Jadi kit ati kan wkwkwkw tp gpp, kan jdi ada hikmah di balik semua itu 😁

    4. Yuta-solla
    Aku agak kurang mudeng si, tadinya. Tp ya sudahlah now i know what ikkehhh ikkehhh mean wkwkwkwk kak tanggung jawab kak, skrg aku jd tau apa itu ikkehhh ikkheeh kak 😂

    5. Hansol-joeun
    Hansol yg terbully wkwkwkw pantes ga debut2 kamu mas. SM mana mau debutin bapak2. Plisss dicouplein sama seolhyun lagi wkwkwkw

    Maaf kak komenku random. Dan aku gak komen ttg tanda baca dan sejenisnya. Pengetahuanku jg masih dlm tahap pengembangan wkwkwkwk
    Dadahhh… 😀

    Liked by 1 person

  6. Kyaaa kak @Cho Hana , Ren ikut komen yakan

    1. Taeil-Sui >> Taeilnya marah-marah mulu, lagi dapet? Kan bener kata Sui “Kalau masih sayang, jangan dimantanin. Kalau udah mantan, jangan disayangin,” Siapa suruh cemburuan wkwkwkw

    2. Doyoung-Alodie >> Mas Duyung bisa pelit juga… yyaaa pelit2 kreatif sih yaa xD Passwordnya sepanjang dan sesulit nama lengkap Om Ossas :v Oh iya @thehunlulu please let the Doyoung-Alodie ship sailing again :3

    3. Yuta-Solla >> Yut! Punya video bagi2 napa /plak/ gila aja video gituan ditaroh di HP Yutt Yutt :v
    Parah, pas aku scroll down pas bagian “Solla mengalihkan atensinya dari layar ponsel Yuta, “Yuta?!”” dan menemukan kalimat keramat itu aku ngakak sampe jatoh dari kursi :v Damnit yaa Yut xD makanya biasain back up file dong xD

    4. Winwin-Rein >> Kak, to be honest cerita ini kok menggambarkan kisah kelamku yakk :”) pas baca cerita ini aku jadi keinget “Oh iya ya, gua kan kek gini juga, eh foto gua sama dia udah gua apus belom yakk?” /plakk/

    5. Hansol selama ini main belakang sama Jooeun yaa :”” malah sama mbak Seolhyun lagi :”” ini lagi ternyata di belakang Jooeun udah punya anak gitu :’)

    Oke mungkin segitu dulu kak hehe, keep writing ya kakk xD Maap aku belom bisa ngasih koreksi ttg penulisan, aku masih belajar juga kak hehe 😀

    Liked by 1 person

  7. Halo di sini liana 95line, salam kenal 🙂
    Sbnrnya aku mau komen ini dari lama tapi ga kesampaian juga so yeah.

    Aku ga byk komen utk ide cerita Krn sbnrnya aku krg menikmati ceritanya, agak illfeel waktu baca bagian taeil yg rasa lokal sekali dan penuh dgn bhs tdk baku tapi gpp. Writer’s preference kan beda2

    Yg aku anggap paling keren sih bagian Hansol menurutku itu nyesek sekali. Winwin sama rein itu bagus sbtulnya hanya saja konfliknya tdk terlalu menonjol.

    Utk kritik, ini maaf ya, tapi di sini byk bgt kesalahan tulis (terutama tanda baca) dan typo. Trs kekurangannya lagi adlh kurang efektifnya penggunaan kata dlm kalimat. Misalnya aku lihat ‘lengkungan garis kurva’. Itu boros ga sih, karena kurva dan garis lengkung itu sama, silakan dipake salah satunya saja tdk perlu dipasang semuanya.

    Demikian, bisa lebih banyak baca eyd atau kbbi utk bantuan ya, dan lebih hati2 lagi dgn typo Krn bertebaran.

    Menurutku sih ide cerita seperti ini akan bagus jika diolah dgn lebih baik, aku krg menikmati Krn krg rapi aja, kamu berusaha memilih kata utk menggambarkan suasana cerita itu saja sdh bagus Krn banyak ff yg isinya 99% dialog n sgt minim penjelasan setting suasana

    Keep writing!

    Liked by 1 person

  8. Halo, Kak Hana! Maaf baru sekarang kesampaian untuk baca dan komen ini.

    1. Taeil x Sui: No offense but ini yang paling kurang sreg, well, in my preference, of course. Sebenernya lucu dan seru, cuma ketika kita melokalkan mereka yang notabene orang Korea, tuh kesannya aneh nggak, sih? Atau mungkin ini aku aja?
    Btw mau sedikit koreksi. Di kalimat pertama ada kata “dirundu”, itu maksudnya dirundung bukan? Terus waktu Sui menyebut,”…Katakan putusnya sudah habis…” itu sebaiknya ditulis “Katakan Putus-nya sudah habis”, karena Katakan Putus merujuk pada judul salah satu acara di TV.

    2. Doyoung x Alodie x Kun: Ini tulisannya DoyoungxAlodie tapi kenapa menurutku lebih sentris ke Kun, ya? Hahaha… Tapi aku suka yang ini. Idenya simple dan ceritanya dibawakan dengan cara yang asyik dan eksekusinya lumayan untuk ukuran cerita yang seperti ini. Cuma di awal kan Kak Hana bilang Doyoung itu pelit, tapi sepanjang jalannya cerita hingga Doyoung muncul dan berinteraksi sama Alodie dan Kun, kok aku nggak melihat karakter pelitnya dia, ya? Maksudnya, kalo cuma karena pakai password hotspot yang ribet, tuh terlalu ambigu kalau dikategorikan sebagai sifat pelit. Bisa jadi, orang lain malah mengkategorikan ini sebagai bagian dari sifat iseng.

    3. Winwin x Rein: Hmm yang ini couldn’t agree more, sih, hahaha… PDKT memang lebih menyenangkan ketimbang masa pacarannya 😄 But this was supposed to be angst nggak sih? Cuma feel-nya kurang kena, jadi kesannya kaya curhatan semata gitu. Btw di sini ada kata “lengkungan garis kurva” yang menurutku kurang efektif karena kurva itu artinya ya lengkungan, begitu pula sebaliknya. Terus aku lihat kata “shall” ini maksudnya syal/scarf bukan? Di akhir juga ada typo “menghetikan”.

    4. Yuta x Solla: Ini juga lucu, but it would be much better kalo Kak Hana “menyensor” suara-suara yang keluar dari video mesum di ponsel Yuta dengan kalimat seperti “Yuta bisa mendengar dengan jelas desahan-desahan dari video yang diputar Solla di ponselnya”. Btw sepertinya “meruntuk” ini juga typo bukan?

    5. Hansol x Jooeun: Ah aku paling suka sama yang ini! Dari awal auranya udah angst, terus diakhiri dengan apik. Di sini aku ketemu typo lagi, yaitu “migran”.

    Sejauh ini, sepertinya EBI dan kesalahan ketik yang perlu jadi catatan buat Kak Hana. Kadang-kadang kita udah bikin cerita yang bagus tapi pembaca malah nggak bisa menikmati karena terlalu banyak typo dan grammar error. Terus karena ini kumpulan ficlet dengan genre dan vibe yang berbeda-beda tiap cerita, mungkin next time kalo Kak Hana mau bikin yang semacam ini lagi bisa diatur ulang susunan ficletnya. Maksudnya, kalo di sini kan pertamanya kita dibuat ketawa sama Taeil-Sui dan Doyoung-Alodie-Kun, terus Winwin-Rein kan ceritanya sedih, abis itu ketawa lagi, terus sedih lagi. Jadi bisa dibikin urutannya mungkin diawali sama yang sedih dulu, terus fic kedua yang lebih sedih, baru deh habis itu dihibur dengan fic yang lucu dan santai.

    Itu aja dariku. Maaf kalo kepanjangan dan terkesan bawel atau menggurui. Jangan berhenti berkarya, Kak Hana!

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s