[Ficlet-Mix] Fortunate Gift

Fortunate Gift

a special white day fic from nctffi staff

Mixed-ficlets by:  Angelina Triaf; babyneukdae_61; Berly; Jane Doe

Featuring
[NCT’s] Moon Taeil, Ji Hansol, Kim Doyoung, Dong Sicheng, Mark Lee, Huang Renjun, Na Jaemin, Zhong Chenle

| Length: 8 Ficlets | Rating: General |

 Genre: Comedy, Family, Hurt/Comfort, Slice of Life

Rules : no plagiarism !

.

_ _ _

[1]

Halo, Ibu Hwang!

Tak terasa, sudah 6 tahun aku tidak tinggal bersamamu lagi. Namun aku masih teringat akan semua kenangan selama aku tinggal di sini. Aku ingat saat kau menemukanku sendirian dan kedinginan di halte 12 tahun yang lalu. Saat kedua orangtua kandungku meninggal dalam sebuah pembunuhan dan hanya aku yang selamat. Hal itu masih membekas dalam ingatanku. Kau tentu masih ingat akan itu kan, Bu?

Aku ingat saat kau membawaku ke panti asuhan yang kau kelola. Saat itu aku takut karena aku belum mengenal orang-orang di sini, selain itu aku masih trauma akan kejadian yang merenggut nyawa orangtua kandungku. Namun, kau tetap membantuku beradaptasi di tempat ini. Kau juga membantuku untuk pulih dari traumaku. Aku sudah mulai menerima apa yang telah terjadi di masa lalu.

Entah apa yang akan terjadi jika kau tidak menemukanku dahulu. Berkat dirimu, aku dapat hidup seperti anak-anak pada umumnya, dapat bersekolah dan bermain. Aku sangat bersyukur dapat bertemu denganmu, Ibu.

Kau tahu, Ibu, diadopsi adalah hal yang membahagiakan bagi anak-anak panti asuhan. Begitu juga denganku, Bu. Saat kau memberitahuku bahwa ada yang hendak mengadopsiku, aku sangat senang. Aku membayangkan bagaimana rasanya punya orangtua lagi, sekalipun orangtua angkat. Namun, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku belum siap meninggalkan panti asuhan ini, juga dengan semua kenangan di dalamnya. Tapi kau meyakinkanku bahwa kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Akhirnya, aku memilih untuk ikut dengan keluarga baruku. Oh iya, aku belum bercerita tentang keluarga baruku, ya? Mereka sangat baik padaku, Bu. Kak Jihoon dan Kak Jimin juga menyayangiku. Ternyata menyenangkan juga mempunyai kakak. Apakah Ibu punya kakak juga?

Ibu, kau tahu? Aku masih ingat persis tanggal berapa aku bertemu denganmu. 14 Maret 2005. Yup! Hari ini adalah peringatan pertemuan kita 12 tahun yang lalu. Kata teman-temanku, tanggal 14 Maret biasanya diperingati sebagai White Day. Hari dimana pria memberi cokelat kepada wanita sebagai balasan dari Valentine Day. Namun kali ini, aku memberikan cokelat dan bunga sebagai bentuk kecil tanda terima kasihku atas kasih sayang yang kau berikan kepadaku.

Ibu, meskipun namaku sekarang adalah Park Jaemin, aku tetap Na Jaemin, putra kecilmu. Thanks to be my guardian angel, Mrs. Hwang.

Na Jaemin

Atensi wanita paruh baya dari surat itu teralihkan oleh suara  pemuda yang memanggilnya. Di depan matanya tampak seorang pemuda berseragam kuning khas SOPA. Pemuda itu tersenyum dan berlari mendekatinya, serta memeluknya.

Happy White Day, Ma’am,” ujar pemuda itu.

I miss you so much, my little boy”

_ _ _

[2]

Renjun sedang tidak enak badan, ditambah atmosfer kelas yang ternyata seakan sangat mendukungnya untuk mengurungkan niat datang ke sekolah. Jika saja sang ayah tidak langsung menariknya ke dalam mobil dengan dalih seorang lelaki keluarga Huang tidak boleh bersikap manja hanya karena pusing biasa.

Ingin sekali ia memelas di hadapan ayahnya bahwa kepalanya sedang tidak mengalami rasa pusing yang biasa―

“Hei sobatku, kau sudah memutuskan ingin membalas cokelat kiriman siapa hari ini?”

―melainkan sakit kepala yang luar biasa, hampir berpotensi membuatnya stres dan ingin mati muda.

*

“Ayolah, Jun, ini hanya perihal memberi balasan kepada salah satu gadis yang sudah susah payah belajar memasak bulan kemarin hanya demi memberimu cokelat, tahu!”

Kalau tadi pagi ia telah ditodong oleh Jeno, sekarang tepat di samping tempat duduknya, bersemayamlah sesosok gadis berambut panjang dengan suara melengking juga aura mistis. Maka dari itu, jangan pernah salahkan Renjun jika ia lebih memilih kosakata ‘bersemayam’ untuk menggambarkan kehadiran teman perempuannya tersebut.

“Ini kan salahmu yang tak mau menerima cokelat pemberianku tadi saat jam istirahat, Siyeon.”

“Uh, kau gila?” sarkas Siyeon, si gadis beraura mistis. “Nanti bagaimana nasibku kalau dicegat di jalan oleh fans gilamu? Lagi pula aku tidak suka padamu, tuh.”

“Apa salahnya memberi cokelat pada sahabat?” balas Renjun, tangannya masih sibuk merapikan buku ke dalam tas. “Kalau bisa pun si Jeno akan kukasih lima bungkus cokelat jika saja ia tak menolak dan malah meneriakiku sebagai manusia homo lalu kabur pulang begitu saja tadi.”

Sudah bisa ditebak bahwa Siyeon kini tengah tertawa binal mengingat kejadian beberapa menit lalu yang hampir saja membuat heboh satu sekolah. Untungnya Haechan segera membungkam mulut Jeno sebelum gosip tak bernalar itu menyebar.

“Sudah tertawanya, Nona? Aku harus pulang, ibuku sudah menunggu di depan.”

“Hahaha, baiklah ….”

Tangan mereka saling dilambaikan, dan Renjun sudah berjalan keluar kelas membelah koridor sampai akhirnya keluar dari gedung sekolah, melanjutkan langkah ke arah parkiran.

Di ujung sana, ia bisa melihat ibunya sedang berdiri menyandar pintu mobil, memainkan ponselnya.

“Ma!”

Renjun seperti anak taman kanak-kanak yang akan langsung berlari dan memeluk ibu mereka. Memang ia selalu begitu, senang bersikap manja pada sang ibu. “Ya ampun, usiamu sekarang berapa, sih, Jun?”

“Hehehe ….” Ia tertawa cukup lama, lalu mengeluarkan suatu bungkusan berukuran sedang dari dalam tas. “Ini, Ma, hadiah White Day untukmu.”

Ternyata sebuah buket bunga mini yang didominasi mawar putih kesukaan ibunya. “Wah, untuk Mama?”

“Iya.”

“Kenapa malah untukku? Lebih baik jika diberikan untuk membalas cokelat-cokelat Valentine milikmu yang masih menumpuk di kulkas sampai sekarang.”

“Ayolah, Ma, jangan seperti Jeno dan Siyeon yang sudah membuatku malu hari ini.”

Ibu muda itu hanya mengangguk, mengalah karena melihat wajah Renjun yang kesal. Ia mencium pipi anaknya lalu menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Mesin mobil mulai dinyalakan dan Renjun pun sudah memakai sabuk pengamannya.

“Omong-omong, Papa memberikanmu hadiah apa hari ini?” Mendengar ucapan ibunya tentang cokelat yang menumpuk di rumah membuat dirinya kembali membuka tas lalu memakan cokelat yang rencananya akan ia berikan pada Jeno. Sayang sekali jika harus dikembalikan lagi ke dalam kulkas.

“Kamu ingin tahu?” tanya sang ibu, nada suaranya membuat Renjun tahu bahwa ada sesuatu yang telah ia lewatkan.

“Memangnya apa?”

“Di sini,” ucapnya sambil menunjuk perut ratanya. “Pria menyebalkan itu meninggalkan hadiahku di dalam sini.”

Tak membalas, Renjun hanya terdiam dengan mata membulat dan mulut terbuka. Ingin sekali ia memuntahkan cokelatnya namun sayang sekali tidak bisa lantaran masih berada di dalam mobil.

Ini gila, bukankah sudah terlalu tua bagi Renjun untuk ketambahan satu anggota keluarga lagi?

_ _ _

[3]

“Siapa yang paling ingin kau beri hadiah saat white day nanti?”

“Nenekku.”

.

.

Langkah kaki yang beradu dengan aspal jalan menjadi salah satu deru di antara hiruk-pikuk pedestrian. Pakaiannya beriak seiring tungkai cergasnya berlari. Napasnya memburu, sementara mulutnya semakin liar meraup oksigen demi kebutuhan kedua bilik paru-paru. Beberapa kali tubuhnya tak sengaja dihempas lalu lalang para pejalan kaki. Namun ia tidak peduli, asalkan seikat mawar putih dalam genggamannya baik-baik saja, tanpa cacat sedikitpun.

Zhong Chenle sesekali menepi ke pinggir jalan, berlindung di bawah kanopi pertokoan yang tidak seberapa, hanya agar terik matahari tidak benar-benar membuatnya dehidrasi. Sesekali juga bocah lelaki itu—saat berteduh—membenarkan susunan bunga dalam ikatannya, meski pada kenyataan ia hanya memutar-mutar susunan bunga itu kembali ke tempat semula.

Senyum sumringah masih belum hilang dari wajah polos miliknya, sejak ia keluar dari toko bunga. Hari itu, Chenle berniat memberikan hadiah untuk sang nenek—satu-satunya orang yang mendukung si bocah dalam meraih impian menjadi seorang penyanyi.

“Aku belum memberitahu nenek bahwa aku akan menemuinya. Apa aku meneleponnya saja?”

Ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Jemari mungilnya dibiarkan tergiring mencari nomor seseorang yang ingin ia temui. Hanya beberapa detik sejak si bocah menempelkan ponsel pada telinganya, di ujung sana sudah ada yang menjawab.

“Halo? Nenek? Ini Chenle.”

“Chenle? Zhong Chenle?”

Bukan. Chenle mengerutkan dahinya. Ini bukan suara orang yang ingin ia temui. Ini bukan neneknya.

“I-iya. Apa nenek ada?”

“Chenle, ini Paman Huang. Kurasa kau belum mengetahuinya. Nenekmu telah tiada. Ia pergi, satu jam yang lalu…”

Dan setelahnya, Chenle tidak lagi mendengar apapun. Pikirannya lumpuh seketika. Mata beningnya langsung membasah tanpa aba-aba. Tangisnya merebak, raganya dibesuk angin renta yang merangkak kepayahan. Pesan itu ia telan bulat-bulat tanpa proses berpikir terlebih dulu. Bersamaan dengan hadirnya getir dan ketiadaan.

Bocah tersebut memandang sekikat bunga mawar putih dalam genggaman. Ia tidak akan pernah memberikan bunga itu pada neneknya. Ucapan terima kasih yang telah ia siapkan jauh hari takkan pernah sampai.

Chenle membuang bunga itu begitu saja, membiarkannya hancur berbenturan dengan material jalanan. Begitu juga dengan wajah cerianya, hancur ditelan likuid bening yang mengucur dari matanya. Bocah itu tidak tahu ke mana kesedihannya akan bermuara setelah ini. Tuhan terlalu tega membiarkan bocah seusianya mengalami sakit sedalam itu.

_ _ _

[4]

 

“His, sincerity.”

“Kak Emma, apa kau yang membereskan meja belajarku?”

Suara Mackenzie menguar dari arah tangga, presensi gadis remaja yang masih berbalut seragam sekolah itu berhenti di salah satu anak tangga dan memandangi sang kakak sulung di ruang televisi.

“Uh, tidak?”

“Aneh ….”

“Kenapa?”

“Aku mencari kertas yang cukup penting, tapi kelihatannya mejaku sangat rapi, jadi kukira kau yang merapikannya?”

“Kau, ‘kan, tahu kalau aku alergi Miho, jadi mana mungkin aku mau masuk ke kamarmu untuk merapikan barang-barangmu. Mungkin saja Mom. Eh, tapi … yang tadi mencuci piring di dapur itu kau, ‘kan, ya? Apa kau terluka? Karena aku melihat beberapa bercak darah di dapur. Agak seram, deh.”

“Eung … aku sedaritadi sibuk dengan laptop sejak pulang sekolah, tidak turun-turun dari kamar, kak,” jawab Mackenzie berkata jujur.

Emma terdiam sejenak berpikir, “Mana mungkin Mom? Mom, ‘kan, sudah pergi ke Led Zeppoli tiga jam yang lalu.”

BRUK!

Sebersit suara memecah keheningan, mengalihkan atensi perbincangan antar Mackenzie dan Emerald, mereka sedang menerka-nerka keanehan yang terjadi akhir-akhir ini di rumah.

Entahlah, mana mungkin piring-piring kotor yang menumpuk di dapur mencuci sendiri tanpa ada yang menggerakkannya, bercak darah itu sungguh membuat Emma sangat penasaran, begitu pun kertas-kertas yang berserakan dan belum sempat dirapikan Mackenzie di kamarnya, mana mungkin kertas itu terbang sendiri dan merapikan dirinya sendiri tanpa ada yang menyentuhnya.

Lagi pula, jika hal tersebut adalah ulah ayah mereka, itu bukanlah jawaban yang tepat, karena ayah mereka, ‘kan, selalu pulang saat malam hari. Apakah dengan hal janggal ini, mereka perlu menjadi dua detektif perempuan demi meneliti sebuah kasus di dalam rumah sendiri?

“Mark?”

Kenzie dan Emma menangkap presensi Mark di dekat pintu masuk ruang tamu, bersama dengan kondisi sebongkah kue krim berwarna putih yang tumpah di lantai. Mark masih terkejut di tempat meratapi kuenya, lalu tersadar dari lamunan kala penggal namanya disebut.

“Apa yang kau—”

“Maafkan aku, Kak Emma, Kak Kenzie, kuenya tumpah! Entah kenapa tanganku tidak becus menopang kuenya. Itu padahal untuk kalian, aku yang membuatnya sendiri di dapur Led Zeppoli,” jelas Mark sedikit cemas.

Akhirnya Emma dan Kenzie pun paham, bahwa, itu semua pasti ulah adik bungsu mereka yang paling manis. Adik yang telah repot-repot memberikan kue—yang tampaknya terlihat sangat lezat—untuk sebuah hari yang spesial. Setidaknya, dengan perlakuan atau niat hangat yang Mark berikan tersebut, Mackenzie harus menahan tanyanya, ‘Ke mana Mark membuang surat cinta dari Mingyu untuk Mackenzie?’, atau, Emerald pun harus menahan tanyanya, ‘Piring beling favorite-nya yang biasa ia gunakan sehari-hari untuk makan, pecah atau tidak saat adiknya itu berusaha untuk mencucikannya?’, Karena kala Emma mencari-carinya sejak tadi di rak piring, tak kunjung ketemu juga.

Ya, setidaknya kakak-kakak Mark harus menghargai segala perlakuan manis dari si adik bungsu yang sangat perhatian terhadap mereka. Lihatlah, tangan Mark telah dipenuhi oleh plester berwarna-warni. Tidak, Kenzie dan Emma tidak akan marah, kok … sampai Mark menjelaskan secara jujur tentang detail kejadiannya. Kalau Mark berbohong, mati sajalah anak itu.

_ _ _

[5]

Mahasiswa pada umumnya tentu akan terpesona saat melihat seorang dosen muda yang cantik dan penuh semangat, terutama para pria tentunya.

Sebenarnya bukan hanya mahasiswa saja, anak ingusan seperti Mark dan kelima temannya–Donghyuck, Renjun, Jeno, Chenle dan Jisung– bahkan pernah menyukai salah satu guru di sekolah mereka, namun semua itu berakhir dengan rasa sakit hati karena sang guru sudah menikah dan mempunyai anak. Kasihan anak-anak itu.

Aku pun sama seperti mereka, menyukai dosen dan guru cantik. Namun sekarang tidak lagi.

Mengapa? Karena aku sudah membuat kesan pertama yang buruk baginya saat bertemu denganku. Aku terlambat datang di kelasnya. Selain itu, aku tidak sengaja menumpahkan minumanku ke bajunya saat bertabrakan dengannya, kira-kira 20 menit setelah kelasnya berakhir. Parahnya, teman-teman yang mengikuti kelas Dosen Park juga melihatnya. Sangat memalukan, bukan?

Setelah kejadian itu, aku lebih berhati-hati, namun yang terjadi adalah aku menjadi lebih canggung saat menghadiri kelasnya.

Lebih parah lagi, beliau adalah dosen pembimbingku selama penyusunan skripsi. Mahasiswa lain sepertinya iri kepadaku karena dapat dibimbing oleh dosen pujaan mereka, sementara aku sendiri malah merasa bingung dan ragu. Aku tidak yakin dapat menyelesaikan skripsiku dengan cepat jika aku merasa canggung dengan dosen pembimbingku sendiri.

Namun, ternyata ia tetap mau membimbingku dengan sabar, bahkan ia bersikap ramah kepadaku. Meskipun aku terkadang bermalas-malasan dalam mengerjakan skripsiku, ia tidak lelah membimbingku. Biasanya, aku mengunjungi rumahnya untuk meminta bimbingannya dalam menyusun skripsi setiap hari Selasa dan Jumat, sesuai dengan perjanjian yang kami sepakati.

Tapi untuk Selasa ini, aku hendak menghilangkan rasa canggungku kepada dosen itu.

“Baiklah, bimbingan skripsi kita hari ini berakhir sampai di sini, Kim Doyoung,” ujar Dosen Park. “Ingat pesan-pesanku tadi, Tuan Kim,” lanjutnya.

“Baik, Dosen Park. Terima kasih,” ujarku sambil membungkuk hormat kepadanya.

Beliau hendak melangkah menuju dapur sebelum aku mencegatnya.

“Tunggu, Dosen Park!”

Beliau berbalik dan melihat ke arahku. Aku mengeluarkan cokelat dan sekuntum mawar putih yang sudah kusiapkan.

“Ini untuk Anda,” ujarku sambil menyerahkan cokelat dan bunga di tanganku.

Beliau menerima kedua benda itu, lalu bertanya, ”Dalam rangka apa kau memberi ini kepadaku?”

“Aku memberikannya kepada Anda sebagai ucapan terima kasihku untuk bimbingan Anda, sekaligus sebagai permintaan maaf atas pertemuan pertama kita yang mungkin membuat Anda memiliki kesan buruk kepadaku,” ujarku.

“Dan berhubung hari ini adalah White Day, aku rasa hari ini adalah hari yang tepat,” lanjutku.

Dosen Park tertawa kecil.

“Ternyata kau masih terganggu akan kejadian itu, ya? Tenang saja, Doyoung, aku tidak memiliki kesan buruk terhadapmu. Aku menganggapnya sebagai kecelakaan kecil. Justru aku menyukai bagaimana kau belajar di kelasku,” ujar Dosen Park.

Ternyata, Dosen Park tidak mempermasalahkan kejadian saat pertemuan pertama kami. Tapi tunggu, memangnya bagaimana aku belajar di kelasnya? Entahlah, sepertinya aku kurang memperhatikan diriku.

“Yang pasti, kau harus bisa lebih rajin dari ini, okay? Omong-omong, terima kasih cokelat dan bunganya,” lanjutnya.

Setidaknya, aku dapat mengutarakan rasa terima kasihku kepada dosen pembimbingku, orang yang membantuku mempersiapkan masa depanku setelah kuliah.

_ _ _

[6]

Bukan Hansol namanya jika tidak masuk dalam daftar penunggak uang bayaran kamar kos tiap bulannya. Termasuk juga bulan ini, lagi-lagi Ibu Kim harus mengunjungi kamarnya demi melihat apakah Hansol masih hidup atau jangan-jangan gantung diri karena bosan menunggu kapan pastinya tanggal debut-nya.

“Hansol, buka pintu―”

“Halo, Ibu Kim!”

Tak ada angin tak ada hujan, entah mengapa senyum Hansol hari ini sungguh cerah. Mungkin matahari bisa minder lantaran kalah cerah dengan senyumnya.

Tapi, diberikan senyuman oleh anak muda tampan macam Hansol tentunya sedikit banyak membuat sang ibu kos geli sendiri dan ingin menertawainya kalau saja maksud kedatangan beliau bukanlah untuk menagih uang bulanan. “Tak usah sok menebar pesona padaku, Hansol. Suamiku lebih tampan darimu.”

“Iya, iya, aku tahu. Ih, Ibu jangan galak-galak ah. Ibu tahu, nggak? Salah satu penyebab penuaan dini ialah karena terlalu sering marah-marah.”

“Ibu tidak sedang marah padamu. Sudahlah, mana sini uang bulananmu? Kau kan sudah janji tak akan menunggak lebih dari satu bulan lagi.”

“Oke, tunggu sebentar!”

Hansol masuk ke dalam kamarnya. Benar-benar ada yang aneh. Tak biasanya ia akan langsung berkata iya saat ditagih uang kos. Tapi, karena tak ingin berburuk sangka, akhirnya wanita paruh baya itu hanya diam saja sembari menunggu Hansol keluar.

“Nah, ini, Bu.”

Demi Tuhan, bukannya memberikan amplop berisi uang, ia justru tengah menyodorkan dua batang cokelat dengan satu tangkai mawar merah yang masih segar. Sangat irit, khas anak kos sekali.

“Ini untuk apa, Hansol? Mana uang bulananmu?”

“Ibu tak tahu? Sekarang itu White Day, hari saat laki-laki memberikan bunga atau cokelat pada perempuan.”

“Maksudnya, kenapa malah Ibu yang dikasih? Kasih pacarmu saja sana―eh iya, Ibu lupa kalau kamu jomblo.”

“Waduh, ngatain jomblonya jangan niat begitu juga, kenapa sih ….”

Lucu juga mengetahui bahwa orang tua sepertinya bisa mengerjai anak muda seperti itu. Sebenarnya Ibu Kim sudah maklum dengan Hansol, karena ia adalah seorang trainee yang tak kunjung debut padahal usianya sudah tidak muda lagi untuk ukuran seorang idol. Tapi, Ibu Kim hanya ingin anak-anak yang kos di rumahnya menjadi disiplin, termasuk dalam waktu pembayaran.

“Bu? Ini cokelat sama bunganya diterima, ya? Saya janji bakalan bayar kos bulan depan sekalian dua bulan. Siapa tahu, kan, bulan depan saya debut?”

“Alah, kamu ini.”

Kali ini bukan wajah garang, melainkan senyum manis keibuan yang Hansol dapati. Melihat hal itu, ia jadi rindu ibunya di rumah. “Ya sudah, Ibu terima, ya? Sama Ibu doakan semoga kamu cepat debut, jadi artis terkenal dan punya banyak uang.”

“AAMIIN, BU!”

“Dan cepat dapat jodoh.”

“AAMII―ah Ibu, mah! Ngungkit jodoh terus astaga saya tuh nggak bisa diginiin ….”

Akhirnya Ibu Kim pergi setelah Hansol berterima kasih padanya. Walaupun terkesan tegas dan sering marah-marah pada anak-anak kos, bagaimanapun juga ia tetap seorang ibu yang memiliki naluri untuk selalu menyayangi, termasuk pada Hansol. Doa yang tadi pun tulus, ia ingin sekali melihat Hansol yang sudah kerja sambilan dan berlatih dengan keras sampai sering pulang malam bisa sukses dan meraih apa yang ia impikan.

_ _ _

[7]

Whoa! Ini kau yang membuatnya, Kak?”

“Tentu saja. Kau suka?”

Sebenarnya tanpa perlu bertanya, Taeil sudah tahu jawaban yang akan diberikan adiknya jika melihat ekspresi wajah serta binar-binar di kedua matanya. Pemuda Moon itu sedikit bisa bernapas lega. Beberapa hari lalu ia terus dirundung gelisah perihal memikirkan hadiah apa yang sekiranya dapat ia berikan kepada adik bungsunya tepat pada perayaan white day. Tadinya, ia hanya berniat memberikan hadiah pada sang kekasih, namun dirasa tak adil mengingat saat valentine dulu sang adik turut membantu dalam mencari hadiah untuk Jisun.

Dan kali ini, saatnya Taeil membalas dengan membuatkan ayam goreng kesukaan sang adik, Moon Sui. Keahlian Taeil dalam hal memasak memang masih dalam tahap rata-rata, namun jika hanya ayam goreng setidaknya itu bukanlah perkara rumit.

“Aku memasaknya sendiri.”

“Benarkan? Bukannya kakak tidak bisa memasak?”

“Jangan pernah meremehkan kakakmu ini, Moon Sui.”

Tanpa menunggu lama, tangan Sui secara impulsif mengambil sepotong ayam goreng di atas meja.

“Enak tidak?”

Sui mengangguk antusias, lantas mengacungkan ibu jarinya pada Taeil sebagai tanda puas.

Moon Taeil mungkin memang bukan kakak yang sempurna, namun setidaknya ia tahu bagaimana cara agar adiknya bahagia. Meski hanya dengan hadiah sederhana.

“Omong-omong, tumben sekali kakak baik padaku. Sampai memberiku hadiah. Walaupun hanya ayam goreng.” Sui berujar di sela-sela kegiatan makannya.

“Karena aku tahu tidak ada yang memberimu hadiah di white day ini. Kau kan jomblo.”

“…”

.

.

Tapi, Moon Taeil tetap saja kakak yang menyebalkan.

_ _ _

[8]

“You are, my only one best friend.”

Dengan lembut senar gitar dipetik lihai oleh jemari Winwin, memadu apik bersama senandung halus yang terkuar dari mulutku. Sangat serasi, hingga mampu menerbangkan rasa imajinasiku dan Winwin kepada sebuah alam asing yang begitu indah, dimana alam itu hanya aku dan dirinyalah yang tahu.

Senyumannya dan senyumanku mengembang, menghiasi satu momen keseharian yang tak pernah sedikitpun ingin aku lupakan. Ia bagaikan siluet sinar mentari indah yang menerangi di setiap jejak hidupku. Bagaikan rasa susu murni sapi yang begitu menjadi candu untuk lidahku. Detik demi detik, hari demi hari, tak ada seorangpun yang pernah bisa menggantikan sahabat terbaikku, Winwin. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan sosoknya. Meski aku agaknya menyadari tentang … ia yang menaruh perasaan kepadaku …

“Bagaimana dengan gebetan-mu, Mingyu? Apakah ia memberikan sesuatu kepadamu di hari ini?”

“O, dia memberikanku cokelat dan bunga yang sangat manis pagi tadi,” ujarku, sedikit terselip nada canggung dan rasa bimbang, “Bagaimana denganmu?”

“Tentunya aku pun punya hadiah spesial yang tak kalah manis untuk seseorang yang juga teramat spesial … seseorang yang sejak pertama kali aku bertemu dengannya, namanya tetap terpatri abadi di dalam hati, hingga sekarang. Hanya dia, orang yang begitu berarti bagiku. Jelas aku sangat menyayanginya.”

Aku sedikit tertegun, lalu melamun kosong kala mendengar berbagai penjabarannya.

“Dan orang itu adalah kau, Mackenzie Lee. Kau sangat berarti bagiku, kau … kau adalah … my only one best friend.”

Tak ada kebohongan dari sorot matanya saat ia mengutarakan perasaannya. Namun aku tahu bahwa lidahnya baru saja bersilat di buntut perkataan, bersama suaranya yang agak melirih.

Entah apakah ia memang tidak akan menjelaskan secara rinci tentang: “apa yang sudah ia utarakan kepadaku”, aku tidak tahu. Dan memang rasanya tidak ingin mengetahuinya, karena … aku tidak ingin ia jauh dariku hanya karena perasaan konyol yang mampu membuat rusak suatu hubungan harmonis di antara kami selama ini. Sekali lagi aku menekankan, aku tidak ingin kehilangannya. Sungguh. Aku menyayanginya lebih dari sekadar teman, lebih dari sekadar rasa suka terhadap lawan jenis. Winwin sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Saudara satu darah yang begitu aku sayangi.

My only one best friend.

Ia berbohong tentang kalimat itu.

Maafkan aku, Winwin, aku masih takut bila aku membuka hati untukmu sebagai seseorang yang berbeda—dari rasa sayang antar sahabat dan keluarga. Bila di suatu hari aku kehilanganmu, aku tidak akan pernah siap mental untuk merindukanmu hadir di setiap hariku lagi.

“Hadiahnya adalah, ini ….” Potret seorang anak balita laki-laki kurus bertelanjang dada pun disodorkannya. Anak balita itu hanya mengenakan celana dalam putih bermotif mobil-mobilan biru, kedua tangannya sedang mengadukan mainan dinosaurusnya dengan satu boneka kelinci berwarna pink, raut wajahnya pun polos menggemaskan dan familiar.

“Kau, ‘kan, sedang menyukai pria-pria bertelanjang dada sambil bertarung di stage WWE. Jadi aku ingin memberikanmu hadiah spesial itu, supaya dirinya menjadi idolamu juga mulai detik ini,” jelasnya sambil menunjuk ke arah foto.

Haruskah aku tertawa, atau sedih, atau wajib menendang bokongnya sekon ini juga, sampai ia masuk ke jurang? Yang benar saja, masih bisa ia bercanda denganku—dengan di satu sisi yang kuyakini ia tengah merasakan sesak luar biasa.

Aku tertawa mendengar kata-katanya sembari melihat potret itu, sungguhan! Ia tahu diriku yang akhir-akhir ini sering mengidolakan pria-pria pemain smackdown! Saking mengertinya, hingga penalaranku tetap di luar dari dugaan—tidak sampai pada ide konyol miliknya tersebut.

“Anak laki-laki di foto ini tidak ada ototnya, dan agak tidak tahu diri, jadi mana mungkin aku akan mengidolakannya?” ujarku dengan nada banyolan sambil mengibas-ibas potret tersebut ke wajah Winwin.

“Anak laki-laki di dalam foto itu juga jago bergulat, kok, sama seperti The Rock, meski tubuhnya kurus. Simpan baik-baik, ya, hadiah dariku ini, Kenz,” katanya lagi sembari tersenyum lebar dan hangat, benar-benar telah sukses mencairkan suasanaku. Sedangkan aku memilih untuk melanjutkan tawaku.

Bagaimanapun juga … aku tetap akan selalu menyayanginya. Itu saja. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi pada potongan cerita ini ….

.

-Fin.

Advertisements

5 thoughts on “[Ficlet-Mix] Fortunate Gift

  1. KYAAAA akhirnya dipost juga Ficlet-Mixnya XD
    1. Itu yg ceritanya Hansol ngingetin aku sama iklan bukal**ak yg “Ibu Linda” [coba cari deh di yutub, cerita ttg ibu kos juga]. Ibu kosnya bisa ae ngerjain mas Hansol :v tau aja anak kosnya jombs :v
    2. Itu Kenzie lakok jadi sama bang Mingyu yaa, Mas John pegimana kabar :v sumpah aku pengen punya sahabat macam Winwin :3
    3. Taeil kok sedikit lucknut gitu yaa jadi kakak xD untung ganteng dan untung sayang :v
    4. Mark sumpah kupengen nyubit dia :3 pengen lah punya ade cem diaaa xD
    5. Jeno lucknut xD Cogan cem Njun dibilang maho –” selamat Njun otw jadi kakak :3 ade Njun calon ade ipar ku :v
    6. Chenle astagaa 😦 sini nuna peluk.. baru mau ngasih tapi takdir berkata lain
    7. Sayangnya bukan keluargaku yang mengadopsi Jaemin yaaa :3 padahal pengen punya ade cowo yg tampan macam dia. Cerita ttg anak panti asuhan ini mengingatkanku akan satu drakor kekeke
    8. Doyung ngatain Mark cs bocah ingusan, ingatlah dirimu pun pernah menjadi bocah ingusan pula /kaburr/

    Liked by 1 person

  2. 1. Sumpah ya aku lebih gampang tersentuh sama kisah-kisah family, apalagi aku lagi kangen-kangennya sama Nana :’3 Tipikal anak panti emang aduhai ya :’3
    2. What???? Njun mau punya dedek?
    3. Sabar ya dek Lele. Ini ujian, nak :’3 Duh kasihan deh, padahal mau ngasih kado, eh neneknya meninggal. Jiyo turut berduka cita :’3
    4. Kujadi pengin kantongin, trus dibawa Pulang, trus kukurung di kamar & nggak boleh keluar biar nggak ada yg ngambil -.,-
    5. Kagum terhadap dosen. Unik banget kisahnya. Arrrrgghhh jadi makin cinta sama duyung ❤ ❤ ❤
    6. Aku kalo baca ff tentang Hansol, mesti deh nyinggung perkara debut :’3 Kan kasihan, eh tapi Jiyo ikut doain lah ya siapa tahu dua bulan ke depan mas Risol beneran debut /amin/ langsung wiritan/
    7. Taeil antara pengin disayang sama dikampleng ya :’3
    8. Dan Winwin adalah sahabat terbaik sepanjang masa. Titik.

    -Sekian-

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s