[Ficlet-Mix] Sweven

Sweven

Birthday ficlet-mix by Angela Ranee; babyneukdae_61; BaekMinJi93; iamsayaaa; thehunlulu

[NCT] Renjun

Genre: Comedy, School-life, Slice of Life | Duration: 5 Ficlets | Rating: PG

~~~

[1]

Renjun belum pernah berandai-andai tentang apa yang ingin ia cita-citakan kelak. Menurutnya, memikirkan cita-cita atau profesi di masa depan masihlah terlalu dini. Teman-temannya sering bertanya, mengapa Renjun tidak pernah bercerita tentang keinginannya setelah lulus kuliah nanti, di mana ia ingin bekerja, atau jenis pekerjaan apa yang ia inginkan. Renjun tidak pernah memikirkan itu semua. Bahkan peduli dengan cerita teman-temannya saja terlihat sangat mustahil.

Tapi entah atas dasar apa bocah berumur sepuluh tahun itu tiba-tiba mulai bergabung dengan banyak kelompok di sekolah. Katanya, alasannya sih karena dia ingin pamer cita-cita.

“Cita-citaku ingin jadi penjual batagor, lho.”

Sontak saja seluruh teman-temannya tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ada yang menunjuk-nunjuk wajah Renjun yang sedang melongo, ada yang lari terbirit-birit sambil memegangi perutnya karena tertawa, bahkan ada yang mengajak Renjun selfie kemudian meng-upload-nya di sosial media dengan keterangan: Calon polisi sedang berfoto dengan Mang batagor, nih!

Renjun terdiam cukup lama. Aneh, begitu pikirnya. Mengapa teman-temannya malah menertawakan Renjun saat dirinya—yah, baru saja—memiliki cita-cita? Padahal, Renjun sampai tidak tidur tiga hari gara-gara berimajinasi tentang berwibawanya penjual batagor itu. Eum, ralat, sepertinya sudah hampir seminggu sih dia tidak bisa tidur nyenyak.

Teman laki-laki yang bertubuh gendut berjalan mendekati Renjun kemudian merangkul pundaknya. Renjun tampak tidak nyaman, tetapi ia memilih untuk diam sambil merasakan pundaknya yang terasa sedikit berat.

“Menurutmu dari mana aku mendapatkan ponsel canggih ini, kawan?” kata si gendut, sambil mengarahkan ponsel berwarna hitamnya tepat di depan mata Renjun.

Ugh, masih sekolah dasar sudah dibelikan barang mahal.

Selanjutnya, Renjun menggelengkan kepala tanda tidak tahu.

DUK!

“Aduh! Sakit tahu!”

Si gendut menarik kembali ponsel yang semula ia pukulkan pada dahi Renjun kemudian memasukkannya ke dalam saku. “Aku mendapatkan ponsel mahal ini dari ayah dan ibuku, tentunya! Mereka bekerja keras siang dan malam agar mendapat uang yang banyak, kautahu! Ibuku bekerja sebagai pramugari, sedangkan ayahku adalah dokter bedah paling hebat di antara dokter yang lainnya!”

Mendengar penuturan temannya yang sangat-amat-menjengkelkan-banget-luar-biasa-horas itu, ingin sekali rasanya Renjun berteriak tepat di kuping si gendut. Menjambak-jambak rambutnya sampai botak, menendang tulang keringnya hingga patah, sampai membanting ponsel pintar miliknya hingga titik darah penghabisan.

Oh ayolah, Renjun juga manusia biasa. Seorang anak berumur sepuluh tahun yang terlihat cupu namun memiliki hati yang bisa merasakan dongkol dan sebagainya. Kalau cita-citanya diolok-olok oleh temannya, boleh jadi ia merasa hina, ‘kan?

“Tidak usah mengurusi cita-citaku, dasar gembul!” Renjun berteriak menggelegar, kemudian mendorong tubuh kawannya itu sampai terjerembab dan menimbulkan suara dentuman di tengah lapangan.

Renjun sedikit merasa puas setelah si gendut itu tergeletak tak berdaya. Ia berlari menjauh dan berteriak, “DASAR LEMAH DASAR PAYAH! DASAR CALON PILOT TAK TAHU DIRI KAU!”

Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang membuat Renjun ingin sekali menjadi penjual batagor, ‘kan? Alasannya simpel; ia bisa bertemu dengan para cecan alias cewek-cewek cantik jika ia mangkal di SMP maupun SMA saat pulang sekolah. Dulu, sewaktu Renjun duduk di bangku taman kanak-kanak, ia tinggal di Indonesia selama dua tahun karena tuntutan pekerjaan orang tuanya. Di depan sekolahnya, Renjun sering mendengarkan cerita dari penjual batagor kalau dia—si penjual batagor—paling senang jika berjualan di lingkungan sekolah menengah. Katanya sih pembelinya banyak yang cantik.

Renjun rasa, menjadi penjual batagor bukanlah profesi yang memalukan, karena ia memiliki maksud khusus dari cita-citanya tersebut.

***

“Mas, beli batagornya dong.

“Beli berapa, Mbak? Sepuluh ribu gratis yang jual nih hehehe,” ujar Renjun yang berumur dua puluh enam tahun itu dengan diiringi gelak tawa.

Wah, sepertinya Renjun tidak salah pilih tempat untuk dijadikan spot mangkal-nya. Kalau ia berjualan di sekitar sekolah, akan sangat berbahaya kalau ia tidak bisa menahan nafsu lalu menggoda gadis-gadis cantik langganannya. Duh, bisa dikira pedofil, dong!

“Beli lima ribu saja deh Mas. Omong-omong, tumben penjual batagor mangkal di depan rumah sakit?”

Renjun tersenyum simpul. “Cuma ingin cari suasana baru saja, Mbak.”

“Batagor itu makanan khas Indonesia, ‘kan Mas? Kata suami Saya rasanya enak, padahal dia belum pernah mencoba.”

“Saya pernah tinggal di Indonesia waktu kecil, Mbak. Wah, suaminya juga tahu batagor, ya?” tanya Renjun setelah mengikat plastik berisi batagor itu dengan karet gelang.

“Katanya sih dia pernah diceritakan oleh teman—eh, itu dia suami Saya. Jeno, kemarilah!”

Renjun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pria bertubuh jangkung itu segera menghampiri si wanita kemudian memandang Renjun dengan raut cukup terkejut.

“R-Renjun?”

“Jeno?”

Oh sumpah, adegan saling bersitatap mereka berdua sungguh syahdu namun menegangkan melebihi sinetron-sinetron Indonesia.

“Eh? Mas kenal dengan suami saya?”

Renjun segera mengangguk mantap. “Dia … dia teman SD saya, Mbak.”

Wow, si gendut yang lemah itu sekarang bertubuh atletis sekali ….

“Jun! Kau benar-benar jadi penjual batagor?! Wah, aku tidak menyangka, Bro!

Renjun masih bergeming, sedikit terkejut karena setelah sekian lama akhirnya ia dipertemukan oleh Jeno, anak dari seorang dokter dan pramugari tersebut.

“Batagornya sudah selesai, Mas?”

“Iya—eh, sudah kok Mbak,” ujar Renjun sambil memberikan kantung kresek berwarna putih tersebut. “Saya permisi sebentar ya Mbak, Jen,” lanjut Renjun sambil mengambil ponselnya yang sedang berdering.

“Jun! Mau ke mana kau? Kita bahkan belum bercerita setelah sekian lama tidak bertemu!”

“Ada urusan mendadak,” kata Renjun terburu-buru sambil menunjuk gedung rumah sakit yang sangat megah di depannya. “Asistenku sebentar lagi datang untuk menggantikanku jualan batagor, jadi aku permisi dulu.”

ALAMAK! BAHKAN JENO BARU SADAR KALAU BAJU YANG DIKENAKAN RENJUN TERDAPAT TANDA PENGENAL BAHWA DIA SEORANG DOKTER BEDAH!

“Rasakan, Jeno. Memangnya seorang dokter bedah tidak boleh bekerja sambilan sebagai penjual batagor, hm?” desis Renjun di sela-sela perjalanannya.

~~~

[2]

Kata orang, masa transisi adalah masa yang paling sulit. Begitu pula yang aku alami sekarang. Kau tahu, padahal rasanya baru kemarin aku berkenalan dengan Sanha, ternyata sekarang kami sudah lulus SD. Di satu sisi, aku senang karena akhirnya aku dapat naik ke jenjang yang lebih tinggi. Namun di sisi lain, aku merasa sedih karena aku dan Sanha tidak masuk ke SMP yang sama, Sanha melanjutkan pendidikannya di Filipina.  Padahal dia adalah sahabat terbaikku di SD. Tapi aku percaya, kami akan bertemu suatu saat nanti.

Aku ingat kata-kata terakhirku kepada Sanha saat mengantarnya ke Bandara Incheon minggu lalu.

“Kalau kau punya kenalan gadis Filipina yang cantik, kenalkan padaku,ya,” begitu kataku. Kudengar gadis-gadis Filipina itu cantik, makanya aku minta pada Sanha untuk mengenalkan salah satu teman gadisnya kepada sahabatnya yang tampan ini.

Namun satu hal yang kupikirkan sekarang.

Bagaimana denganku di SMP nanti?

Bagaimana dengan lingkungan pergaulannya? Bagaimana dengan mata pelajarannya, apakah sulit? Bagaimana guru-guru di sekolah baruku? Apakah aku bisa mendapat teman di sana? Apakah aku dapat mempertahankan nilai dan prestasiku di SMP?

Oke, aku rasa bukan hanya satu hal yang kupikirkan, melainkan satu hal yang bercabang menjadi beberapa hal.

***

Masa orientasi sudah selesai. Sekarang kami sudah layak disebut sebagai siswa kelas 1 SMP. Hari ini adalah pembagian kelas. Aku sengaja berangkat lebih awal untuk melihat di kelas mana aku ditempatkan. Aku tidak menemukan namaku di kelas 1-1, 1-3, dan 1-4. Ternyata aku ditempatkan di kelas 1-2. Saat aku melihat daftar nama siswa kelas 1-2, aku melihat 3 nama yang tidak asing.

Na Jaemin, Lee Jeno dan Lee Haechan.

Na Jaemin. Dia adalah orang pertama yang kutemui saat hari pertama masa orientasi. Aku bertemu dengannya saat kami terlambat untuk mengikuti upacara bendera.

Lee Jeno. Teman sekelompokku saat masa orientasi. Saat kami diminta menggambar denah sekolah baru kami, ia merekam seluruh penjuru sekolah dengan ponselnya secara diam-diam, karena kami tidak diperbolehkan untuk membawa ponsel.

Lee Haechan. Adik dari Kak Mark, pengurus OSIS yang membimbing kelompok 4–bukan kelompokku. Juga merupakan sepupu dari Lee Jeno. Saat sesi games, karena melakukan kesalahan, aku dan Haechan dihukum bersama. Hukumannya tidak berat sih, hanya diminta menyatakan perasaan kagum kepada pengurus OSIS lawan jenis. Saat itu aku menyatakan perasaan kagumku kepada Kak Yoojung, sementara Haechan kepada Kak Yeri.

Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk pundakku.

Hey, bro. We are in the same class!” ujar Haechan.

“Akhirnya, Damndumbs berkumpul lagi!” seru Jaemin.

Aku mengerutkan dahi. “Damndumbs?” 

Jeno–yang entah bagaimana caranya bisa muncul– mengangguk. “Itu nama skuad kita. Sekarang, kau adalah bagian dari kami! Welcome, Mr. Huang!” ujar Jeno gembira.

Setidaknya aku punya teman baru di sini. Kukira aku akan kesepian di sekolah ini. Mungkin aku harus menjadi lebih ekstrovert, pikirku.

***

Hari ini kelasku mendapatkan pelajaran PE (Physical Education). Namun karena lapangan dipakai untuk kegiatan belajar outdoor oleh kelas 2-1, hari ini kami belajar di kelas, dan tentu saja pelajarannya adalah teori.

Materi yang dibahas kali ini adalah hubungan antara masa pubertas pada remaja dengan kesehatan jasmani dan rohani.

Kukira Guru Kim hanya menjelaskan tentang tanda-tanda masa pubertas, ternyata ia menjelaskan pula tentang maksud masa pubertas itu dan hubungannya dengan reproduksi manusia, ya meskipun tidak secara rinci. Namun hal itu telah membuat Jeno dan Jaemin yang duduk di depanku berbisik ria sambil terkikik kecil. Haechan ikut menimpali mereka sesekali, sementara aku hanya bisa terdiam karena bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Aku masih terlalu polos untuk itu.

“Kalian berempat! Kalian mau mengikuti pelajaranku atau tidak?”

Aku terkejut saat mendengar pria paruh baya itu sedikit membentak kami.

“Na Jaemin, Lee Jeno, Lee Haechan, Huang Renjun, sekarang kalian ke gudang olahraga, dan bersihkan ruangan itu, karena kalian tidak mengikuti kelasku dengan baik,” ujar Guru Kim.

Aku tertegun, mengapa aku juga?

“Maaf, Pak. Saya kan diam sedari tadi,” protesku.

“Kau juga salah satu dari komplotan mereka. Sudah jangan banyak tanya! Lakukan apa yang kusuruh,” jawab Guru Kim.

Dengan rasa sedikit jengkel, aku menyusul ketiga temanku meninggalkan kelas.

***

“Mengapa aku harus ikut dihukum, huh? Padahal aku tidak melakukan apapun,” gerutuku.

“Ya, memang seperti itulah Guru Kim. Kata Kak Mark, kadang beliau seperti itu. Semaunya sendiri, bahkan kepada anak kelas 1 sekalipun. Apa kau tidak senang kepada kami karena membuatmu ikut dihukum?” ujar Jaemin.

“Eh, tidak seperti itu. Aku tidak menyalahkan kalian, kok. Aku hanya merasa aneh kepada guru itu.”

“Omong-omong, apa kau pernah dihukum saat SD?” tanya Haechan.

“Seingatku sih tidak pernah,” jawabku.

Mereka memasang ekspresi terkejut saat mendengar jawabanku. Namun setelah itu ekspresi mereka kembali seperti semula.

“Oh, pantas saja. Tapi tidak apa, anggap saja kali ini adalah pengalaman pertamamu. Lagi pula dengan kita berempat dihukum seperti ini, kita dapat mengobrol lebih bebas, bukan?” ujar Jeno. “Kata Kak Jaehyun, pengalaman dihukum bersama skuad akan membuat skuad lebih solid, dan kita tidak akan melupakan pengalaman seperti ini saat lulus,” lanjutnya.

“Tapi tenang saja, kita tidak akan terus-terusan dihukum seperti ini. Kita juga harus melakukan hal baik bersama-sama. Damndumbs tidak boleh punya kesan jelek di mata guru,” ujar Jaemin yang lebih terdengar sebagai Leader bagi Damndumbs. Haechan dan Jeno pun mengangguk setuju.

Kami pun melanjutkan hukuman dari Guru Kim, namun diselingi juga dengan senda gurau. Tawa menggema di ruangan berukuran 4×4 itu.

Satu hal yang aku pelajari dari ini.

Masa SMP adalah masa dimana kita mengenal apa itu kompak dan solidaritas.

~~~

[3]

Huang Renjun mungkin adalah seorang remaja yang otaknya di dengkul. Atau kalau bukan di dengkul, minimal otaknya telah bergeser dari letaknya semula. Jadi, saat sinyal daruratnya menyala, bagian yang seharusnya mendengungkan kode minta tolong justru korslet.

“Hai, Kakak yang punya aura dewi, mau gak aku ajak melewatkan malam yang indah bersama?”

“Maaf Ren, aku mau kencan sama Mark.” Itu Jane, gebetannya sejak jaman prasejarah. Jane sudah punya kekasih dan terang saja langsung menolaknya mentah-mentah.

“Hai, kamu yang matanya bak berlian, mau gak….”

Gak mau. Aku mau buntutin Mark-Jane aja.”

Kalau yang ini Jenaa, gadis berwajah mengantuk yang juteknya sudah kelas berat. Jenaa adalah sepupu Jeno yang menaruh hati pada Mark dan demi Bikini Bottom tak berniat sedikit pun mengiyakan ajakannya. Hingga pada gadis kesekian yang didekatinya, tak seorang pun membuka pintu hati mereka untuk mengurangi beban di hati Renjun.

 “Sumpah. Dosa apa yang telah kuperbuat Tuhan? Kok pada gak mau bantuin hamba-Mu yang tengah kesusahan ini?” rengeknya di hadapan Haechan.

“Makanya kalau minta tolong itu yang bener. Jangan malah ngegombal kayak barusan,” sahut Haechan sembari membenahi peralatan lukisnya.

Renjun langsung merengut, apalagi saat melihat kanvas milik Haechan sudah dipatri sosok lelaki berwajah kalem alias Kak Taeil. Pas sekali dengan tema yang Haechan dapat yaitu Lelaki dan Ujian.

Ugh. Rasa-rasanya Renjun ingin mematahkan pensil dalam genggamannya sekarang juga.

“Harusnya mereka seneng dong. Kan sudah kuberi pujian.”

“Pujian gundulmu,” tukas Haechan, “melewatkan malam yang indah bersama, mata berlian. Kalau dipikir lagi kamu lebih mirip maniak daripada orang yang sedang minta tolong, Ren. Untung mereka gak marah.”

Kak Jane sama Jenaa gak marah. Tapi begitu aku bilang kayak gitu ke cewek lain, aku digampar, batin Renjun.

Gak semuanya kamu awali sama gombalan-gombalan, Ren,” ujar Haechan, “bilang aja langsung kalau kamu mau minta tolong mereka untuk dijadikan model lukisanmu. Kamu gak perlu sogok mereka sama kalimat-kalimat puitismu itu.”

Sumpah. Bukan hanya Renjun, penulisnya pun kaget, seorang Kim Haechan entah telah mendapat suntikan akal sehat dari mana. Setidaknya kali ini dia memberikan nasehat yang berarti untuk Renjun.

Gombalan ala iklan mie instan khas Renjun memang layak dimusnahkan. Apalagi gaya bahasanya yang kelewat puitis. Cenderung berbelit-belit dan penuh dengan majas memabukkan yang diragukan ketulusannya. Ingin rasanya orang-orang di sekelilingnya menjejali Renjun dengan pare. Supaya setidaknya mulutnya memiliki rasa pahit, jadi kalau Renjun tiba-tiba berpuisi, ada pare yang akan menetralkan manisnya mulut Renjun.

“Nah, itu ada cewek, Ren. Kejar gih, keburu diduluin Jeno. Dia juga kebagian melukis cewek sama kayak kamu.”

Belum semenit pemuda Kim melontarkan usulnya, Renjun sudah melarikan tungkai kurusnya menghampiri gadis yang ditunjuk Haechan—melewatkan senyum jahil yang terpampang di wajah sang sahabat.

“Hai Kak, mau gak jadi model lukisanku? Aku ada tugas dari Bu Guru nih,” tegur Renjun pada gadis dengan gaun bermotif bunga yang berdiri membelakanginya.

Gigi gingsulnya menampakkan diri begitu Renjun memamerkan senyumnya, lengkap dengan seperangkat alat lukis yang ditentengnya, Renjun menunggu jawaban. Lalu, saat gadis berambut coklat sebahu itu menoleh, Renjun baru sadar kalau tabiat normal yang ditunjukkan Haechan barusan hanyalah kamuflase belaka.

“Lho, kok Bu Guru?”

“Renjun, jadi kamu belum ngerjain PR yang harus dikumpulin besok?”

“Be… belum Bu Guru,” jawab Renjun sambil garuk-garuk kepala.

“Ya ampun tobat kamu nak. Mau jadi apa kamu kalau besar nanti. Kamu itu seharusnya belajar dan mengerjakan tugasmu. Bukannnya malah bla bla bla…”

Renjun cuma bisa meredam hasratnya untuk tidak menjewer Haechan. Kalau begini, sampai lusa pun PR-nya tidak akan selesai. Lantas, sembari mendengar omelan-omelan dari sang Guru, Renjun pun menyiapkan alat lukisnya. Dipandanginya wajah sang Guru yang tengah asyik menceramahinya habis-habisan sampai luput kalau anak didiknya tengah membuat sketsa dirinya di atas kanvas.

Ya Tuhan, Renjun sudah lelah mencari cewek di mana-mana dan gak ada yang mau bantuin. Jadi ampuni Renjun Tuhan kalau jadiin Bu Guru buat model lukisan.

Renjun pun nekat mengerjakan tugasnya, tak peduli meskipun objek lukisannya melenceng jauh dari tema yang diberikan. Bukankah sudah jelas, temanya adalah Remaja Wanita dan Impian, sementara sang Guru berusia lebih dari empat puluh tahun. Renjun hanya bisa berdoa semoga besok gurunya tidak akan mengeluarkannya dari kelas.

Bu Guru yang wajahnya seindah rembulan, maafkan Renjun yang ganteng ini.

~~~

[4]

Pemuda Huang tersebut menguap untuk ke sekian kalinya. Menurut Renjun, semua ini terjadi karena sang surya terlalu berambisi untuk menggantikan posisi sang dewi malam menjaga semesta. Akibatnya, ia harus melapangkan dada untuk berpisah dengan selimut dan bantal yang penuh dengan pulau ciptaannya. Ew.

“Hari yang membosankan untuk Pangeran Tampan sepertiku,” gumamnya sembari menggosok jajaran gigi putihnya.

Meski dengan beban di hati yang terlalu menggumpal, Renjun tetap memilih untuk menimba ilmu ketimbang menerima siraman rohani dari sang ibunda—setidaknya ia dapat bertemu dengan Heera, sang pujaan hati di sekolah.

Oh itu dia!

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sepertinya sang Dewi Fortuna sedang ingin berbaik hati kepada seluruh insan di dunia ini, nyatanya baru saja hatinya sibuk membicarakan sang belahan jiwa, sosok gadis cantik berponi depan tersebut tertangkap di kedua fokus Renjun seorang. Dengan melancarkan jurus rambut jambul khatulistiwanya, kedua tungkainya lantas merajut pelan ke arah sang dara.

“Hai, Cantik!”

Kurva di wajah gadis Jeon tersebut sontak terpatri ramah. “Oh? Halo, Renjun!”

Detak jantung Renjun mengalun kencang takut-takut sang dara akan mendengarnya. Namun demi mengalihkan hal itu, bibir Renjun terus saja mengumbar kata pada Heera.

“Buku apa yang sedang kau cari, Tuan Putri?”

Mendengarnya, tak pelak semburat merah menghiasi pipi seorang Jeon Heera.

“Ah … kau bisa saja,” sahutnya ringan. Tangan kanan dengan jemari lentik yang menghiasi itu lantas melambai cantik nan feminin.

“Apa kau perlu bantuan, Tuan Putri? Mungkin Pangeran dapat membantumu.”

“Ucapanmu menggelikan, Renjun-ah.”

“Apanya yang menggelikan?” tanya Renjun berlagak bingung. “Kau memang seorang Putri, Jeon Heera. Bahkan aku sudah menyiapkan singgasana yang pas untukmu.”

“Dimana?” tanggap Heera asal.

“Di hatiku.”

Oh Tuhan, siapapun di sana tolong beri Heera kantung muntah sekarang. Perutnya terasa menggelitik akibat perkataan Renjun yang tak ada bedanya dengan tong kosong nyaring bunyinya.

Omong kosong.

Bullshit.

“Tidak tahukah kau, Heera-ya? Hatiku terus berseru kencang merapal namamu seolah setiap sekon ingin bersua dengan rupa cantikmu.”

Huek. Heera benar-benar ingin muntah sekarang.

“Kenapa kau membisu, Heera sayang? Apa kau terlalu terpesona dengan daya tarikku yang begitu memikat bak magnet yang menarik hatiku dan hatimu untuk bersatu, huh?

Apa dia sudah gila? Salah makan kah? Atau mungkin akibat dari sereal paku yang disantapnya? Sial, Huang Renjun memang bodoh!

Benak Heera terus melontarkan berbagai argumen mengenai sosok aneh di hadapannya. Bahkan tanpa sadar ia menempelkan telapak tangannya di dahi sang pemuda.

“Kau sakit, Huang?”

Argh! Siapapun tandu Renjun sekarang!

Degup jantung yang berdetak kencang sontak menggerogoti keseimbangan tubuhnya.

“A-aku … aku tentu saja sehat, Heera-ya,” jawab Renjun tergagap.

Dinginnya telapak tangan Jeon Heera seolah menjadi bumerang ampuh guna menghangatkan hati seorang Huang Renjun.

“Syukurlah jika kau sehat. Setidaknya hanya perkataanmulah yang tidak sehat. Sepertinya kau perlu berkonsultasi dengan Guru Han tentang majas, Huang. Bukannya bersama diriku yang lemah akan jeratan diksi.”

Hah, apa katanya? Aku tidak mengerti.

Kali ini Renjunlah yang menggaruk kepala tanpa ada rasa gatal yang menjalar. Otaknya sulit mencerna ucapan Heera padanya. Seakan tak peduli dengan raut bingung yang kentara jelas di wajah Renjun, Heera lantas membereskan buku paket sejarah dan bersiap meninggalkan perpustakaan.

“Urusanku sudah selesai. Aku pergi dulu, Renjun-ah.”

Seiring kalimat pamit itu terlontar, saat itu pula sosok Heera menghilang ditelan daun pintu. Hati Renjun seketika dirundung mendung yang bersiap menumpahkan tangisnya.

Apakah baru saja Heera menolaknya?

Huh! Bahkan Renjun sudah yakin jika majas yang ia gunakan cukup ampuh untuk meluluhkan hati Heera. Namun haruskah ia merajuk pada Dewi Fortuna akan kegagalannya kali ini? Toh mungkin beliau sudah bosan mendengarnya, jadi hal itu akan terasa percuma.

Hm … Huang Renjun yang malang.

~~~

[5]

Dulu ketika usiaku masih belum genap lima tahun, aku berandai-andai bagaimana rasanya menjadi setinggi kakak sepupuku, yang kala itu usianya delapan tahun. Ketika aku berusia delapan tahun, aku membayangkan apa jadinya ketika aku remaja nantinya. Di usia dua belas tahun, kupersembahkan seluruh perasaan kagumku kepada mereka yang sudah duduk di bangku SMA, karena mereka tampak begitu keren di mataku. Di tahun terakhirku sebagai pelajar SMA, aku mulai jenuh dan ingin cepat-cepat menjadi orang dewasa.

Kini, aku, Huang Renjun, resmi menjadi sesosok manusia berkepala dua tepat dua puluh menit yang lalu. Dwimanikku menatap seloyang kue ulang tahun yang sudah tidak lagi utuh di atas meja, kemudian beralih pada Chenle yang tidak berhenti menjilati jemarinya yang berlumuran krim.

“Kenapa tidak makan kuenya?” tanyanya ketika menyadari bahwa ia sudah menghabiskan dua potong kue ulang tahunku.

“Aku tidak makan makanan manis di malam hari,” jawabku sekenanya, dan sesuai dugaanku, Chenle merespon dengan cibiran.

“Sejak kapan kau jadi bijaksana perihal pola makanmu? Barusan mendapat diagnosis penyakit diabetes?” ledeknya dengan tampang meremehkan. Aku hanya membalas dengan tawa yang terkesan garing. Tentu saja aku tidak bisa berkata jujur padanya bahwa aku sama sekali tidak bernafsu untuk menyentuh kue ulang tahun yang ia bawakan ke apartemenku tepat pukul dua belas malam ini. Aku tidak sampai hati untuk menyakiti perasaannya.

“Jangan bohong,” ucapnya sembari memindahkan potongan ketiga ke atas piring plastiknya. “Aku tahu ada yang tengah kau sembunyikan dariku.”

“Sejak kapan kau jadi cenayang?” tanyaku.

“Ayolah, Kak, aku sudah kenal kau berapa tahun, sih?” Chenle menyuap kue ke mulutnya. “Aku tahu kau pendiam tapi bukan berarti aku tidak bisa membedakan jenis-jenis diammu.”

“Lalu menurutmu, termasuk jenis diam apakah yang sedang aku lakukan sekarang?”

“Jenis diam di mana kau sedang membebani pikiranmu sendiri dengan berbagai macam hal yang tidak perlu.”

Aku mendengus, bocah ini benar-benar cenayang. “Seperti?” aku kembali melontar tanya.

“Seperti?” ulangnya. “Memikirkan kenapa aku tidak membelikanmu kue blackforest, kenapa aku tidak membawakanmu apa-apa selain kue sialan ini, kenapa kau tidak jadi membeli celana dalam Iron Man yang sedang diskon di toko seminggu yang—“

“Hei, aku tidak sedang memikirkan hal itu!” potongku cepat sembari menoyor kepalanya. “Lagipula aku tidak suka Iron Man!”

“Oke, celana dalam Captain America,” tukasnya sembari mengedikkan bahu, dan aku memilih untuk tidak mempermasalahkan lebih lanjut omongannya yang melantur.

Fine, kau memang benar,” aku menghela napas. “Aku sedang memikirkan sesuatu yang mungkin bagimu terlalu konyol untuk dipikirkan.”

“Apa itu?”

“Aku merasa tidak siap menjadi orang dewasa.”

Hening. Hanya ada suara kunyahan pelan Chenle, dan aku bisa menafsirkan keheningan ini sebagai “Zhong Chenle sedang berusaha memikirkan jawaban yang terdengar serius dan pintar”.

“Kenapa?” tanyanya singkat.

“Karena setelah aku pikir-pikir, menjadi dewasa tidak seindah yang aku bayangkan.”

Aku mendengus, mencibir diriku sendiri. “Aku menyesal kenapa ketika aku masih SMA dulu aku sangat ingin cepat-cepat lulus dan jadi orang dewasa.”

“Tidak, kau tidak seharusnya menyesali hal tersebut,” Chenle menggeleng. “Kalau kala itu kau tidak terinspirasi untuk segera menjadi orang dewasa, mungkin sekarang kau belum juga lulus ujian akhir.”

Aku terkekeh pelan. “Entahlah, Chen, akhir-akhir ini aku merasa ingin kembali ke masa-masa itu, menggunakan waktuku semaksimal mungkin untuk menikmati masa remajaku alih-alih mengeluh akan betapa melelahkannya kehidupan sebagai pelajar SMA.”

“Selepas dari SMA memang aku terbebas dari PR dan ulangan, tetapi kemudian aku sadar bahwa ada beban yang lebih besar yang menungguku.”

“Jadi kau menganggap apa pun yang harus kau hadapi sebagai orang dewasa itu sebagai beban?”

Aku mengangkat bahu lantaran merasa tidak memiliki jawaban yang tepat. Chenle menghela napas panjang. “Huang Renjun, aku kira kau lebih tua setahun dariku, tapi sekarang kau membuatku merasa seperti seorang kakek yang tengah menasihati cucunya.”

“Kau tahu apa yang membuatmu merasa tidak siap menjadi orang dewasa?” Chenle bertanya. “You care too much.”

Renjun terdiam sejenak. “Apa yang salah dengan itu?”

“Aku tidak meminta kau untuk cuek dengan apa pun yang terjadi dengan hidupmu, terlebih aku sendiri lebih muda darimu, aku belum pernah mengalami apa yang kau alami sekarang,” celoteh Chenle. “But when you care too much, you become overthinking, and it’s not healthy.”

Renjun tidak menjawab. Lagi-lagi adik sepupunya benar. Ia terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya sepele, tetapi ia anggap sebagai beban.

Sometimes you just need to let everything flows,” Chenle melanjutkan. “Kau tahu kenapa kau ingin cepat-cepat dewasa ketika SMA dulu?”

Renjun menggeleng pelan.

“Karena kau tidak bisa menikmati prosesnya,” ujar Chenle. “Belajarlah menikmati proses yang ada, Kak. If you had enough fun back then on your high school days, sekarang kau mungkin tidak bakal merasa setertekan ini.”

“Benar juga,” Renjun mendesah. “Tapi kita tidak bisa kembali ke masa itu untuk memperbaiki segalanya, ‘kan?”

“Memang tidak,” tukas Chenle. “Tapi setidaknya sekarang kau masih punya sedikit waktu sebelum kau benar-benar menjadi orang tua.”

“Orang dewasa, Chenle, bukan orang tua,” koreksi Renjun dengan sedikit kesal.

Chenle hanya membalas dengan seringaian, seraya mengeluarkan sesuatu dari tas punggungnya yang sukses membuat Renjun melotot.

“Hei, dasar orang gila!” pekik Renjun. “Dari mana kau dapat yang seperti ini?”

“Kau tidak perlu tahu, nanti kau bisa serangan jantung,” jawab Chenle santai.

“Ibumu bakal marah besar kalau tahu putra kesayangannya diam-diam minum alkohol.”

“Hanya sekali ini saja, Kak, lagipula sebenarnya ini hadiah ulang tahun untukmu.”

“Alasan.”

“Kau mau atau tidak?”

Renjun berhenti menggerutu, menimang-nimang keputusan di dalam benaknya. “Setidaknya kalau kau minum, kau sudah cukup umur,” goda Chenle.

“Oke,” jawab Renjun.

“Oke apa?”

Get a little fun, bukan begitu katamu?”

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun hidupnya, Huang Renjun merasa tidak peduli apakah yang ia lakukan benar atau salah, dan apa yang akan terjadi di hari esok.

-fin.

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet-Mix] Sweven

  1. Wah ada ficlet-mix lagi 😀 Kukomen atu-atu ya author-nim ^^

    1. Si Njun pengin jadi tukang batagor? Kalau yg jual dia, beli tiap hari pun nggak masalah. Eh, alamak, aku juga ikut tercengang pas tahu kalau Njun juga jadi tukang bedah!! Rasain tuh si Jeno 😀 Btw, suasananya berasa di Indo ya 😀 Tapi aku rada susah ngebayangin Njun yang udah dua puluh tahunan, malah bayangin gingsulnya yang nggak bisa hilang 😀
    2. Ini nih tipe2 persahabatan sehidup semati. Jjang!
    3. “Bu Guru yang wajahnya seindah rembulan, maafkan Renjun yang ganteng ini.” => Ngakak. Huwaaa nggak tahu ini authornya siapa, tapi aku paling suka bagian ini soalnya ada bau-bau bahasa lokal 😀 Njun, mentang-mentang gingsulmu memikat duniaku, kau jadikan senjata untuk meluluh lantahkan gadis mana pun yang kau temui di depan matamu (njir –“) Jjang banget!!!! ❤ ❤ ❤
    4. Heera, harusnya kamu senang digombalin Njun (meskipun menurutku majas ciptaan Njun rada alay HAHA/dikaplok/) Dan ANJAY APAAN NGAKU-NGAKU PANGERAN? NGGAK NGAKU PUN RENJUN UDAH JADI PANGERAN DI HATIKU /pulang/
    5. Hiks. Entah kenapa aku agak mewek sekaligus geli baca ini. Motivasinya banyak, unsur slice of lice juga dapet banget :’D Kayak baca novelnya Mira Widjaja, serius! KusampaiterhurabayanginRenjundanChenleminumalkhoholpadahalmerekapipisajamasihmintadianter.

    Sebenernya semua ficlet ini bagus (y) Kuacungi sepuluh jempol buat para author-nim yang berhasil bikin Ji terhibur hari ini 😀 Semangat ya !!!

    -Sekian-

    Liked by 2 people

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s