[Vignette] Royal Academy

wp-1490197646689.png

Royal Academy

Vignette by Lollilachan

Casts: [NCT’s] Na Jaemin, [OC] Park Geena | Genre: Friendship, Wizard, Fantasy, AU | PG-13

“Dapat masuk dalam pikiran seseorang yang memiliki kemampuan membaca masa depan itu ternyata menyenangkan.”

Langkahnya terinterupsi kala netra sebiru samudra kepemilikan seorang gadis bermarga Park itu menangkap objek seorang laki-laki tengah menyesap cairan hitam pekat di atas meja bundarnya. Perlahan, ia berderap mendekati sang pemuda dengan ragu. Sekali saja ia salah strategi, lelaki itu bisa saja menodongkan tongkat sihirnya tepat di depan batang hidung Park Geena. Sekon berikutnya, mungkin saja Geena telah berubah wujud menjadi marmut sebesar ibu jari tanpa bulu, seperti bayi jelek yang memiliki kulit dengan banyak lipatan. Namun, ia segera membuang segala prasangka buruk terhadap lelaki itu dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti beberapa meter dari meja yang dihadapnya.

Ia maju lagi dengan pasti dan langsung duduk tanpa meminta izin pada lelaki itu. “Maaf memintamu kemari, tetapi ini benar-benar mendadak. Aku mohon padamu untuk menulis surat izin pada Miss Kate dan katakan saja padanya bahwa siswa bernama Na Jaemin akan meninggalkan asrama selama tiga hari.”

Ya ampun, bagaimana seorang keturunan penyihir tersohor abad 21 melantunkan permohonan maaf pada Geena secara terang-terangan? Tidak adakah teman laki-laki yang bisa menyampaikan itu selain Geena? Well, seorang gadis tidak diperkenankan memasuki teritorial asrama laki-laki tanpa surat izin dari Miss Dillenia, guru yang hobi menyindir, menindas, dan tidak pernah ragu menyebarkan peraturan kejam seantero asrama.

“Hei, apa-apaan! Kau pikir aku ini siapa?” semprot Geena dengan tepat meluncurkan serapahannya beberapa selang waktu kemudian. Tidak ada opsi lain untuk Jaemin selain mendengarkan berderet-deret ucapan tak berbobot yang lolos dari mulut mungil gadis itu. “Lalu … apa kau pikir aku akan menyuruhmu tanpa suatu alasan?”

Geena mendadak senyap, mulutnya terkatup rapat, tak berani berucap walau sepatah kata. “Aku tidak mau kau memasuki asrama putra dengan pintu gerbang otomatis! Usahakan tanganmu tidak meminta surat izin apapun. Pokoknya, besok pagi kau sudah harus mengizinkanku. Bawa ini, aku tidak mungkin membiarkanmu pergi tanpa senjata,” Jaemin menggeser tongkat sihirnya tepat di tangan Geena.

Sikap Na Jaemin yang berubah drastis bukan semata-mata karena ingin melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri. Sebesar apapun frekuensi petir yang menggelegar di langit, sederas apapun hujan yang mengguyur Storyland, tidak akan pernah menyangkut sepeser pun keinginan untuknya melakukan ini jika tidak karena suatu alasan yang dapat membinasakan ribuan nyawa. “Aku tahu kau bisa.”

Geena kembali dibuat bingung dengan penuturan terakhir yang berdesing di telinganya. Seakan tak memiliki titik temu dengan logika yang sedang bekerja, perkataan Jaemin belum cukup membuatnya mengerti. Aha, ilham mendadak!

“Maaf, Na Jaemin. Kemarin Mr. Russell sudah menyiapkan seratus mantra yang belum kuhafalkan. Esok pagi aku harus mengulang hafalanku untuk mendapat nilai A. Jadi, aku tidak punya waktu untuk mengantarkan surat penipuanmu pada Miss Kate,” katanya mengedikkan bahu acuh tak acuh. Jaemin tidak merasa alasan klise yang dilontarkan Park Geena adalah kendalanya mengantarkan selembar surat pada Miss Kate.

“Kurasa waktuku sudah habis. Kau membuang waktu makan malamku,” Geena tersenyum miring dan segera pergi sebelum Jaemin melakukan sihirnya di luar jam pelajaran. Tetapi Geena percaya lelaki itu tak akan mengucapkan sebutir mantra di sini, ia pun tahu konsekuensi paling kejam yang akan diterimanya jika berani melakukan itu –menghafal kamus mantra setebal tujuh batu bata yang ditumpuk secara vertikal.

“Aktingmu buruk,” pungkas lelaki itu seraya melimpahkan cairan hitam yang melayang bebas di depan mata Park Geena yang terperangah setengah mati. Tanpa berkata apa-apa lagi, Jaemin sudah berdiri tegak di depan Geena dengan jarak yang sangat dekat. Terpisah hanya sepetak ubin dengan penyihir berbahaya seperti Jaemin membuat tubuhnya gemetaran. Kepanikan menjalari aliran darahnya dalam proporsi pekat. Barangkali Na Jaemin akan membunuhnya kemudian membuang mayatnya di sungai belakang asrama.

“Mana mungkin aku membunuhmu. Aku harus gunakan cara lain kalau sikapmu begitu.” Jaemin mengulum tawanya yang hampir meledak. Melihat reaksi berlebihan dari Geena membuatnya semakin ingin memainkan trik sihirnya lagi. “Ya ampun, aku benci ketika dianggap monster olehmu seperti ini.” Tanpa sempat menjerit, Geena segera berlari meninggalkan Jaemin yang terdiam di pintu kantin sambil menggenggam tongkat sihirnya.

“Pikiranmu … aku bisa menerkanya. Tidak bisakah kau teruskan kegiatanmu membaca masa depan hingga kakimu melangkah ke portal?”

**

Mendengar ucapan si pemuda mengerikan tadi, wajah Geena kontan memucat layaknya mayat. Bukan karena takut atau apa, tetapi karena ia sudah memprediksikan ini akan terjadi. Sudahkah Geena mengatakan kelebihan yang sangat dibencinya itu? Ya, gadis berusia enam belas tahun ini harus melihat satu persatu kematian yang menyedihkan di masa mendatang. Ia juga dapat mengetahui kejadian esok pagi: mengantarkan surat izin dan terjebak dalam portal Wonderland. Alasan Jaemin menyuruhnya untuk itu … Geena sudah mengetahuinya lebih dulu. Kemampuan yang didapatnya ketika nama Park Geena mulai dibisikkan saat menit pertama ia melihat dunia.

Ia segera menyibak selimut dan pergi menuju balkon asrama. Berharap menemukan semacam titik terang untuk dapat lari dari kenyataan yang menikamnya. Bagaimana bisa ia dilimpahkan kelebihan yang sama sekali tidak ia inginkan?

“Walaupun sekarang sudah waktu istirahat, jangan sekali-kali kau menyebut mantra berbahaya, ya,” suara seseorang membuyarkan lamunannya. Tunggu, bukankah itu suaranya–

“Ya, benar.”

-Jaemin?

Hampir saja Geena berteriak histeris saat Na Jaemin muncul di balik tirai dengan tudung kepala yang menambah kesan mengerikan dari dirinya.

“Kenapa kau ada di sini, sih?” gadis itu mengerutkan dahinya, hampir melayangkan pukulan jika saja ia tidak menyadari bahwa Jaemin menggenggam tongkat sihirnya. Karena itu, Geena tak dapat berkutik. Mengingat Jaemin adalah anak pendiri asrama, sedang memegang tongkat sihir, dan wajahnya yang memuakkan seperti itu membuat Geena mati kutu, tak mampu melawan.

“Mau kubocorkan suatu rahasia?” Jaemin menggantung kalimatnya. “Murid tidak boleh menggunakan sihir saat di luar jam pelajaran dan kau tidak boleh ke asrama putri, bodoh!” Geena berharap kata-katanya akan membuat Jaemin pergi dan jika bisa … segera lenyap serta tak kembali lagi.

“Aku tahu, besok kau akan mengantarkan surat lewat lorong penghubung asrama putra dan putri yang menyeramkan itu. Oh, ya … aku juga tahu kalau kau itu gadis indigo dan mampu membaca masa depan. Hebat ‘kan?”

Sial. Geena melupakan satu hal. Na Jaemin adalah penyihir menakutkan yang mengandalkan kemampuan membaca pikiran orang lain lalu kemudian melawannya. Pupus sudah, harapannya kandas, dan tak ada yang pantas untuk ia banggakan lagi.

“Aku takut tidak sempat mengatakannya. Terima kasih sudah mengantar suratku, ya!”

Dalam sekali hitungan, bocah menyebalkan itu sudah lenyap.

“Ya! Na Jaemin! Kau membuatku frustrasi!” Geena segera menutup tirai dan beranjak ke atas kasur untuk menggeliat ganas sebagai pelampiasan rasa kesalnya. “Maaf sudah membuatmu frustrasi kalau begitu,” bisik seseorang memperlihatkan sepotong tangannya yang melayang di udara.

“HENTIKAN, NA JAEMIN!”

**

Geena meraih jaket yang disangkutkan pada sepucuk paku di balik pintu dan menenteng sepatunya menuju lorong penghubung gedung asrama. Di sakunya terdapat sebuah amplop yang tidak lain dan tidak bukan adalah surat izin Na Jaemin. Miss Dillenia berjaga di pintu utama asrama putra yang terletak di dekat gerbang Royal Academy. Jadi, ia bisa leluasa berlari melewati lorong yang jarang digunakan sebagai alternatif menuju asrama putra.

Kakinya menapak lantai berdebu dengan ragu. Tidak ada cahaya di sana dan ini masih terlalu pagi sehingga kegelapan masih cukup mendominasi. Geena mati-matian berusaha untuk tidak takut pada beberapa dugaan yang sempat ia bayangkan semalam.

Lambaian tangan, tawa sinis mereka saat kau tak melihatnya, dan bayangan tanpa sang pemilik yang mengikutimu ke mana-mana … Geena merasakan itu. Wajah konyol Na Jaemin justru memenuhi pikirannya. Ya ampun, bagaimana bisa ia membayangkan hal aneh semacam itu saat dalam keadaan genting seperti ini?

Saat ia sampai di ujung lorong, Geena sudah tahu apa yang akan terjadi.

Portal menuju negeri sihir yang sesungguhnya, Wonderland. Menurut ensiklopedia yang dibacanya saat ke perpustakaan asrama, Wonderland adalah tempat kelahiran Jaemin. Tentu saja tidak disebutkan ‘Na Jaemin’ secara langsung, dalam buku itu Jaemin memiliki nama lahir ‘Hiebermeyer Alexandrovich’. Bayangkan saja bagaimana reaksi Geena saat nama itu disandingkan dengan wajah Jaemin yang tak pernah serius itu, bisa jadi ia tertawa trbahak-bahak di perpustakaan kalau saja tidak ada peraturan di sana.

Geena memasuki portal tanpa banyak bicara.

Tubuhnya yang semula menegang berubah lemas secara spontan. Wonderland yang dikisahkan dalam dongeng-dongeng itu … telah sunyi tanpa penghuni. Bangunan-bangunan ajaib di sana sudah roboh, kendaraan telah saling bertabrakan, dan asap pembakaran menutupi langit birunya.

Ia tidak berpikir tentang Wonderland semalam. Melihat ini dengan netranya sendiri, membuat Geena mengerti mengapa Jaemin memintanya mengunjungi Wonderland. Jaemin meminta bantuannya. Tanpa dilisankan pun Geena mengerti, Jaemin sedang berbisik tepat di telinganya, dan-

“Akhirnya kau datang juga, walaupun terlambat.”

-benar-benar ada di sampingnya.

Fin.

 

Untuk ff selanjutnya, nanti deh Lala jelasin siapa Jaemin, Geena, dan apa itu Royal Academy:v Tapi nggak tau kapan:v /ditendang/

Akhirnyaaaah:v Mbaa Jinaah namanya kesebut juga di sini:v

Udah

Dah

Thanks for reading^^

 

Advertisements

5 thoughts on “[Vignette] Royal Academy

  1. Halo Lollilachan! Sebelumnya kenalan dulu ya, Ocha dari garis 02, salam kenal!

    Fiksinya bagus banget! Topiknya nggak mainstream, tulisannya rapi, diksinya kaya, dan nilai plus plus buat posternya 🙂

    Ada typo dikata ‘terbahak-bahak’ tapi nggak terlalu mengganggu banget koq.

    Maaf kalo komentarku kepanjangan. Keep writing! ❤

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s